Yuk Kenali Lebih Dalam: Apakah AMH Bisa Jadi Kunci Baru Diagnosis PCOS?

 

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah salah satu gangguan hormon paling sering dialami perempuan usia reproduktif. Tapi ironisnya, banyak yang baru menyadari kondisinya setelah bertahun-tahun menghadapi haid tidak teratur, jerawat membandel, atau kesulitan hamil.

Masalahnya bukan karena PCOS jarang terjadi, melainkan karena cara kita memahami dan mendiagnosisnya masih penuh tantangan. Di sinilah Anti-Müllerian Hormone (AMH) mulai menarik perhatian.

Mengapa Diagnosis PCOS Sering Terasa “Abu-abu”?

Selama ini, PCOS ditegakkan menggunakan kriteria Rotterdam: gangguan ovulasi, kelebihan hormon androgen, dan gambaran ovarium polikistik di USG. Cukup dua dari tiga, diagnosis bisa ditegakkan. Namun, pendekatan ini membuat PCOS memiliki banyak wajah. Ada perempuan dengan ovarium polikistik di USG tapi siklusnya teratur. Ada pula yang haidnya jarang dan sulit hamil, tapi gambaran USG tampak “normal”.

Akibatnya, PCOS bisa:

  • terdiagnosis terlalu cepat,
  • terdiagnosis terlambat,
  • atau malah terlewat sama sekali.

AMH dan Cerita Tentang Folikel Ovarium

AMH adalah hormon yang diproduksi oleh folikel kecil di ovarium. Ia sering disebut sebagai “cermin cadangan ovarium”, karena kadarnya berkaitan erat dengan jumlah folikel yang tersedia. Pada perempuan dengan PCOS, jumlah folikel kecil ini biasanya jauh lebih banyak. Itulah sebabnya kadar AMH pada PCOS cenderung lebih tinggi dibanding perempuan tanpa PCOS.

Menariknya, AMH:

  • relatif stabil sepanjang siklus haid,
  • tidak bergantung pada hari pemeriksaan,
  • dan tidak subjektif seperti USG yang sangat tergantung alat dan operator.

Inilah alasan mengapa AMH mulai dilirik sebagai alat bantu diagnosis yang lebih objektif.

Ketika AMH Tinggi Tidak Sama dengan Mudah Hamil

Banyak yang mengira AMH tinggi berarti kesuburan tinggi. Pada PCOS, ceritanya tidak sesederhana itu. Meski folikel banyak, lingkungan ovarium pada PCOS sering kali tidak mendukung pematangan sel telur. Folikel berhenti tumbuh, ovulasi jarang terjadi, dan siklus menjadi tidak teratur. Dengan kata lain, AMH tinggi pada PCOS lebih mencerminkan jumlah, bukan kualitas. Cadangan ada, tapi tidak selalu siap digunakan.

Potensi Besar AMH dalam Membantu Diagnosis PCOS

Dalam kondisi tertentu misalnya pada perempuan muda atau saat USG tidak memberikan gambaran yang jelas AMH bisa sangat membantu. Ia dapat menjadi pelengkap yang memperkuat kecurigaan PCOS ketika gejalanya samar.

Namun, AMH belum bisa berdiri sendiri sebagai penentu diagnosis. Nilainya dipengaruhi oleh: usia, berat badan, latar belakang etnis, serta perbedaan metode pemeriksaan laboratorium. Karena itu, sampai saat ini AMH lebih tepat digunakan sebagai alat pendukung, bukan pengganti total kriteria yang sudah ada.

Peran AMH dalam Dunia Fertilitas dan Promil

Di luar diagnosis, AMH sudah lama digunakan dalam praktik fertilitas. Ia membantu dokter:

  • memprediksi respons ovarium terhadap stimulasi,
  • menentukan dosis obat yang lebih aman,
  • dan meminimalkan risiko hiperstimulasi.

Namun penting diingat, AMH tidak menentukan segalanya. Keberhasilan hamil tetap dipengaruhi banyak faktor: kualitas sel telur, sperma, kondisi rahim, hormon, hingga kesehatan metabolik.

PCOS, AMH, dan Cara Baru Memahami Infertilitas

PCOS bukan sekadar masalah ovarium, dan AMH bukan sekadar angka laboratorium. Keduanya adalah potongan puzzle dari sistem tubuh yang bekerja saling terhubung.

Karena itu, infertilitas perlu dipahami sebagai kondisi multifaktorial.
Bukan karena penyebabnya tidak bisa ditemukan, tetapi karena tubuh bekerja sebagai satu sistem. Menemukan dan menangani setiap faktor yang terlibat bukan hanya satu adalah kunci untuk membuka kembali peluang kehamilan.

Referensi

  • Vale-Fernandes, E., Pignatelli, D., & Monteiro, M. P. (2025). Should anti-Müllerian hormone be a diagnosis criterion for polycystic ovary syndrome? An in-depth review of pros and cons. European Journal of Endocrinology, 192(4), R29-R43.