Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Miom atau fibroid merupakan tumor jinak rahim yang sangat umum terjadi pada perempuan. Meski sifatnya non-kanker, miom bisa menyebabkan nyeri, perdarahan berlebih, gangguan kesuburan, dan seringkali mengharuskan tindakan medis. Karena banyak perempuan ingin menghindari operasi dan tetap menjaga peluang kehamilan, para peneliti terus mencari cara yang lebih aman, termasuk dari sisi nutrisi.
Salah satu kandidat paling menjanjikan adalah vitamin D.
Vitamin D: Sekadar Vitamin, atau Pelindung Rahim?
Vitamin D dikenal sebagai nutrisi penting untuk tulang, imun, dan metabolisme. Namun beberapa tahun terakhir, ilmuwan mulai melihat pengaruhnya pada kesehatan reproduksi perempuan, terutama pada mioma. Studi-studi di laboratorium menunjukkan bahwa vitamin D dapat menghambat proliferasi sel mioma, menurunkan ekspresi reseptor estrogen/progesteron, dan mengurangi pembentukan jaringan mioma.
Ada sebuah penelitian yang dipublikasikan di Fertility and Sterility dengan melibatkan 1.610 perempuan Afrika-Amerika usia 23–35 tahun yang belum memiliki diagnosis mioma sebelumnya. Mereka menjalani empat kali pemeriksaan USG selama lima tahun, sambil dicek kadar vitamin D-nya secara berkala.
Hasil awalnya mengejutkan dimana 73% peserta mengalami defisiensi vitamin D (<20 ng/mL) Hanya 7% yang kadar vitamin D-nya cukup (≥30 ng/mL) Ini menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D adalah masalah besar dan bisa jadi salah satu alasan mioma berkembang lebih cepat pada kelompok tertentu.
Vitamin D Menurunkan Pertumbuhan Mioma
Ketika dibandingkan, perempuan dengan kadar vitamin D ≥20 ng/mL mengalami: 9,7% penurunan pertumbuhan mioma dibandingkan yang defisiensi, Tren perlambatan ini konsisten bahkan setelah penyesuaian berbagai faktor seperti BMI, kebiasaan merokok, dan riwayat reproduksi
Sedangkan pada kelompok dengan kadar vitamin D ≥30 ng/mL, hasilnya juga menarik: Risiko munculnya mioma lebih rendah 22%, Kemungkinan mioma mengecil atau hilang lebih tinggi 32%
Bagaimana Vitamin D Menghambat Mioma?
Secara biologis, vitamin D bekerja di banyak jalur penting:
- Mengurangi proliferasi sel mioma
- Menghambat produksi kolagen berlebih (komponen utama massa mioma)
- Menurunkan aktivitas hormon yang memicu pertumbuhan mioma
- Mengatur ekspresi gen terkait pertumbuhan dan apoptosis (kematian sel terprogram)
Dengan kata lain, vitamin D mengubah lingkungan sel mioma menjadi kurang “nyaman” untuk tumbuh.
Apa Artinya untuk Perempuan yang Sedang Promil?
Untuk sister yang sedang promil, vitamin D punya peran ganda:
- Mendukung kualitas ovulasi dan kesehatan endometrium
- Potensial menurunkan risiko pertumbuhan mioma yang bisa mengganggu proses kehamilan
Walaupun vitamin D bukan terapi tunggal untuk mioma, menjaga kadar vitamin D dalam rentang cukup dapat menjadi langkah sederhana yang berdampak besar, terutama bagi perempuan yang ingin promil tanpa banyak intervensi.
Sister yang memiliki miom jadi tau bahwa kadar vitamin D yang lebih tinggi berkaitan dengan pertumbuhan mioma yang lebih lambat dan risiko munculnya mioma yang lebih rendah. Untuk itu bagi sister terutama yang sedang merencanakan kehamilan menjaga kadar vitamin D adalah langkah penting dan aman untuk kesehatan reproduksi. Tapi tentu saja tetap harus dikomunikasikan dengan dokter ya! Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
Harmon, Q. E., Patchel, S. A., Denslow, S., LaPorte, F., Cooper, T., Wise, L. A., … & Baird, D. D. (2022). Vitamin D and uterine fibroid growth, incidence, and loss: a prospective ultrasound study. Fertility and sterility, 118(6), 1127-1136.

Mioma atau uterine fibroid adalah tumor jinak yang sangat sering dialami perempuan. Bahkan, diperkirakan 70–80% perempuan usia 50 tahun pernah mengalami kondisi ini. Gejalanya tidak main-main: nyeri, perdarahan berlebih, perasaan penuh atau tertekan di panggul semuanya bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup.
Karena itu, semakin banyak perempuan mencari terapi yang efektif tetapi juga lebih aman, minim sayatan, dan masa pemulihan lebih cepat. Nah, disinilah pendekatan minimal invasif mulai jadi andalan.
Apa Itu Pendekatan Minimal Invasif untuk Mioma?
Secara sederhana, prosedur minimal invasif bekerja dengan cara seperti:
- “mematikan” suplai darah ke mioma,
- “memanaskan” atau menghancurkan jaringan tertentu,
- atau membantu mioma mengecil tanpa operasi besar.
Metode ini meliputi:
- Uterine Artery Embolization (UAE)
- High-Intensity Focused Ultrasound (HIFU / MR-HIFU / US-HIFU)
- Radiofrequency Ablation (RFA)
- Ultrasound-guided procedures (USGS)
- Percutaneous Microwave Ablation (PMWA)
Yang menarik, penelitian menggunakan alat ukur standar seperti UFS-QoL, jadi hasil antar-metode bisa dibandingkan dengan lebih objektif.
Apa Hasil Penelitiannya? Gejala seperti nyeri, perdarahan berlebih dan tekanan panggul turun secara nyata. Bahkan, hasil perbaikan ini mendekati operasi miomektomi, tetapi dengan proses pemulihan yang jauh lebih cepat dan risiko yang lebih rendah.
Dengan kata lain, kalau dengar istilah “minimal invasif”, bayangkan versi “lebih ringan tapi tetap manjur” untuk mengatasi mioma.
Tingkat Nyeri & Kenyamanan Pasien
Beberapa prosedur seperti MR-HIFU dan US-HIFU dikenal memiliki tingkat kenyamanan yang lebih baik karena:
- tidak membutuhkan sayatan,
- tidak perlu anestesi umum,
- pasien bisa pulang dan beraktivitas lebih cepat.
Buat banyak perempuan, faktor kenyamanan ini jadi nilai plus yang sangat besar.
Tidak Ada yang “Paling Unggul”: Semua Sama Efektif
Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah tidak ada satu pun prosedur yang terbukti paling unggul dibanding yang lain.
Artinya, pilihan terapi sangat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan:
- ukuran mioma,
- jumlah dan lokasi,
- ketersediaan alat di fasilitas kesehatan,
- preferensi pasien,
- serta rencana kehamilan ke depan.
Pendekatan personal seperti ini membuat perempuan punya kendali lebih besar atas tubuh dan pilihan terapinya.
Apa Artinya untuk Perempuan dan Tenaga Medis?
Prosedur minimal invasif kini menjadi alternatif kuat bagi perempuan yang ingin:
- mengurangi gejala tanpa operasi besar,
- mempertahankan rahim,
- meminimalkan risiko pembedahan,
- dan kembali cepat ke aktivitas sehari-hari.
Kualitas hidup meningkat, gejala mereda, dan perempuan punya lebih banyak opsi yang benar-benar sesuai kebutuhan mereka. Metode minimal invasif seperti UAE, HIFU, RFA, USGS, dan PMWA terbukti:
- meningkatkan kualitas hidup,
- menurunkan gejala mioma,
- memberikan rasa nyaman lebih baik,
- serta memungkinkan pemulihan lebih cepat.
Dengan efektivitas yang mirip operasi tetapi risiko lebih kecil, pendekatan ini membawa harapan besar bagi perempuan yang ingin menangani mioma tanpa harus menjalani pembedahan besar. Sister dan paksu untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Morris, J. M., Liang, A., Fleckenstein, K., Singh, B., & Segars, J. (2023). A systematic review of minimally invasive approaches to uterine fibroid treatment for improving quality of life and fibroid-associated symptoms. Reproductive Sciences, 30(5), 1495–1505.

Endometriosis bukan hanya soal nyeri haid atau kista di ovarium. Bagi banyak perempuan, kondisi ini datang bersama tantangan lain yang jauh lebih berat infertilitas. Perjalanan ini tidak hanya dirasakan oleh perempuan sebagai individu, tetapi juga oleh pasangan yang mendampinginya. Sebuah tinjauan kualitatif terbaru merangkum pengalaman puluhan pasangan dari berbagai negara, dan hasilnya menunjukkan satu hal penting: infertilitas akibat endometriosis mengubah cara seseorang melihat hidup, hubungan, dan masa depannya.
Guncangan Emosional Setelah Diagnosis
Begitu perempuan diberi tahu bahwa endometriosis mereka berkaitan dengan infertilitas, reaksi pertama yang muncul sering kali campur aduk: sedih, kaget, marah, tidak percaya, sampai rasa kehilangan sesuatu yang belum terjadi.
Bagi sebagian perempuan, diagnosis ini terasa seperti “hilangnya masa depan” yang sudah mereka rencanakan sejak lama. Sementara itu, pasangan mereka juga merasakan ketakutan yang sama, meski sering kali mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikannya.
Perubahan Rencana Keluarga
Bagi banyak pasangan, endometriosis membuat rencana punya anak harus diatur ulang dari awal. Proses yang sebelumnya dianggap sederhana menikah, punya anak, membangun keluarga tiba-tiba terasa rumit dan penuh ketidakpastian.
Pertanyaan yang muncul di benak mereka:
- Haruskah mencoba hamil segera?
- Perlukah operasi dulu?
- Mampukah kami secara mental dan finansial menghadapi IVF?
Semua keputusan ini menjadi sangat membebani, terutama ketika pasangan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dari Putus Asa ke Penerimaan
Perjalanan menuju kehamilan bagi perempuan dengan endometriosis sering kali dipenuhi rasa frustasi. Siklus harapan dan kekecewaan yang terus berulang membuat banyak perempuan merasa terjebak dalam lingkaran tanpa akhir.
Namun, studi menunjukkan bahwa sebagian pasangan akhirnya sampai pada fase penerimaan meski jalannya tidak mudah. Ada yang memutuskan terus melanjutkan program hamil, ada yang memilih berhenti sementara demi kesehatan mental, dan sebagian lagi menerima kemungkinan hidup tanpa anak kandung.
Beberapa bahkan memutuskan menjalani histerektomi demi mengakhiri rasa sakit kronis yang sudah bertahun-tahun menghantui.
Hidup yang Berubah Arah
Infertilitas akibat endometriosis tidak hanya mengubah rencana keluarga; ia memengaruhi bagaimana perempuan dan pasangan memandang masa depan. Ada yang merasa “dicabut identitasnya” sebagai calon ibu. Ada pula yang akhirnya membangun ulang mimpi—bukan menghapus, tetapi menyesuaikan dengan kondisi baru.
Banyak pasangan akhirnya belajar untuk menemukan arti kehidupan di luar konsep keluarga tradisional. Meskipun menyakitkan, proses ini sering kali membuka jalan bagi kedewasaan emosional yang lebih kuat.
Dampak pada Hubungan
Tidak bisa dipungkiri, perjuangan ini sangat memengaruhi dinamika dalam hubungan. Sebagian pasangan merasa semakin dekat karena saling mendukung dalam masa sulit. Tapi sebagian lain merasa hubungan diuji dengan berat mulai dari komunikasi yang renggang, menurunnya intimasi, hingga rasa bersalah yang dipikul salah satu pihak.
Namun satu hal jelas: pasangan yang saling terbuka dan mendapat dukungan profesional cenderung bertahan dan tumbuh bersama.
Temuan review ini menegaskan bahwa perempuan dengan endometriosis dan pasangan mereka tidak hanya membutuhkan perawatan medis, tapi juga:
- Konseling kesuburan yang jelas dan jujur
- Dukungan psikologis
- Pendekatan terapi berbasis pasangan
- Ruang aman untuk membicarakan rasa takut, kehilangan, dan harapan
Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya tentang berusaha memiliki anak tetapi tentang bagaimana perempuan dan pasangannya memahami tubuh, mengolah emosi, dan merawat hubungan. Jangan lupa informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Heng, F. W., & Shorey, S. (2022). Experiences of endometriosis‐associated infertility among women and their partners: A qualitative systematic review. Journal of Clinical Nursing, 31(19-20), 2706-2715.

Selama ini banyak orang melihat endometriosis sebagai penyakit yang hanya berkaitan dengan nyeri haid atau tumbuhnya jaringan di luar rahim. Padahal, ada satu faktor penting yang sering tidak disadari: oxidative stress. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian menunjukkan bahwa oxidative stress (OS) bisa menjadi salah satu penyebab utama munculnya endometriosis sekaligus faktor yang membuat penderitanya lebih sulit hamil.
Apa itu oxidative stress?
Oxidative stress terjadi ketika jumlah radikal bebas (ROS) di dalam tubuh jauh lebih tinggi daripada kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya. Radikal bebas ini sangat reaktif mereka bisa merusak lemak, protein, hingga DNA sel. Dalam kondisi normal, ROS sebenarnya berperan penting dalam berbagai proses reproduksi seperti pematangan sel telur, ovulasi, bahkan perkembangan embrio. Tapi ketika jumlahnya berlebihan, dampaknya berubah menjadi merusak.
Kenapa OS penting dalam kesuburan?
ROS yang terlalu tinggi bisa membuat sel telur menua lebih cepat, merusak materi genetiknya, dan mengganggu proses fertilisasi. Selain itu, OS bisa memengaruhi lingkungan di sekitar ovarium, tuba, dan rongga peritoneum semua ini sangat menentukan kualitas oosit dan keberhasilan implantasi. Bahkan, stres psikologis dan penuaan ovarium pun ikut berperan dalam meningkatkan ROS.
Hubungan OS dengan endometriosis
Satu hal menarik dari penelitian terbaru adalah temuan bahwa OS bisa menjadi pemicu terbentuknya endometriosis. Ketika endometriosis sudah muncul, jaringan tersebut justru meningkatkan produksi ROS lagi. Artinya, ada lingkaran setan yang terjadi:
ROS tinggi → endometriosis berkembang → produksi ROS makin meningkat → kondisi tambah kompleks
Yang lebih mengejutkan, bahkan endometriosis derajat minimal atau ringan—yang dulu dianggap “tidak berpengaruh besar” pada kesuburan—sekarang dipahami sebagai tanda bahwa tubuh sedang berada dalam kondisi oxidative stress yang tinggi. Jadi bukan lesinya yang menjadi masalah utama, melainkan lingkungan biologis yang tidak seimbang.
Bagaimana OS mengganggu peluang hamil?
Oxidative stress dapat mengganggu banyak tahapan penting dalam proses reproduksi, seperti:
- mempercepat penuaan dan kematian sel telur,
- merusak DNA oosit sehingga fertilisasi terganggu,
- mengganggu pembentukan embrio awal,
- menciptakan lingkungan peritoneum yang tidak ideal,
- membuat ovulasi tidak optimal.
Semua proses ini bisa terjadi bahkan pada perempuan dengan endometriosis minimal atau ringan.
Implikasi pada perawatan
Kalau OS adalah akar masalahnya, ini menjelaskan kenapa pasien minimal/mild endometriosis tidak selalu perlu tindakan invasif. Pendekatan yang lebih lembut bisa menjadi pilihan, seperti menurunkan inflamasi, memperbaiki keseimbangan oksidatif tubuh, terapi hormonal tertentu, perbaikan gaya hidup, hingga perencanaan fertilitas bila dibutuhkan. Tujuannya adalah memutus siklus OS endometriosis OS agar kondisi tidak berlanjut.
Paksi dan sister melalui tulisan ini MDG mengingatkan bahwa dalam banyak kasus, endometriosis bukan hanya soal lesi yang terlihat. Ada proses biokimia yang lebih dalam terutama peran oxidative stress yang memengaruhi kualitas sel telur, lingkungan reproduksi, dan akhirnya peluang kehamilan. Memahami hubungan ini bisa membantu pasien dan tenaga medis melihat penanganan endometriosis secara lebih komprehensif, terutama ketika berhubungan dengan infertilitas. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Didziokaite, G., Biliute, G., Gudaite, J., & Kvedariene, V. (2023). Oxidative stress as a potential underlying cause of minimal and mild endometriosis-related infertility. International Journal of Molecular Sciences, 24(4), 3809.

Selama ini, banyak yang mengira endometriosis muncul karena gaya hidup tertentu, termasuk kebiasaan merokok. Padahal, secara ilmiah, rokok bukan penyebab endometriosis. Penyakit ini dipengaruhi faktor genetik, imunologi, hormon, dan biologi tubuh yang kompleks.
Tapi… meski bukan penyebab, rokok bukan berarti aman bagi perempuan dengan endometriosis. Justru sebaliknya: rokok bisa memperburuk kondisi peradangan, membuat gejala lebih parah, dan memengaruhi kesuburan.
Rokok Bukan Penyebab Endometriosis ini Faktanya
Fakta pertama, bahwa tidak ada hubungan langsung antara kebiasaan merokok dan risiko terbentuknya endometriosis. Fakta selanjutnya perempuan perokok tidak otomatis memiliki risiko lebih tinggi terkena endo dibanding non-perokok. Fakta terakhir faktor paling dominan tetap imunologi, genetik, estrogen, dan lingkungan biologis dalam tubuh.
Jadi, kalau ada yang bilang endometriosis muncul karena “gaya hidup”, itu mitos.
Tapi Rokok Bisa Memperparah Gejala Endometriosis
Walau bukan penyebab, rokok bisa membuat kondisi endometriosis terasa jauh lebih berat karena efeknya pada tubuh:
Rokok memperkuat inflamasi, Endometriosis sendiri sudah merupakan kondisi peradangan kronis. Rokok mengandung zat pro-inflamasi seperti nikotin, tar, dan radikal bebas… yang semuanya memperburuk peradangan dalam tubuh.
Hasilnya:
- Nyeri bisa lebih intens
- Gejala makin sering kambuh
- Respons tubuh terhadap terapi bisa lebih lambat
Rokok mengganggu hormon, Endometriosis tumbuh subur oleh estrogen. Rokok dapat mengganggu regulasi hormon, mempengaruhi metabolisme estrogen, dan menciptakan ketidakseimbangan yang dapat memengaruhi gejala.
Rokok berdampak buruk pada kesuburan
Buat sister yang ingin program hamil, penting untuk tahu bahwa rokok bisa:
- Menurunkan cadangan ovarium
- Mengganggu kualitas sel telur
- Mengurangi aliran darah ke organ reproduksi
- Mengganggu implantasi embrio
Pada pasien endometriosis, kondisi ini bisa membuat perjuangan semakin berat.
Kenapa Rokok Perlu Dihindari oleh Perempuan dengan Endometriosis?
Bukan karena rokok menyebabkan endometriosis but because:
- Endometriosis = peradangan
- Rokok = pemicu peradangan
Jika dua-duanya ada dalam tubuh, hasilnya bisa lebih buruk dibanding salah satunya saja. Itulah sebabnya guidelines global sering menyarankan pasien endometriosis untuk menghindari rokok, baik aktif maupun pasif. Tapi buat sister yang sudah punya endo, rokok bisa membuat peradangan lebih berat, gejala makin terasa, dan perjalanan kesuburan jadi lebih sulit.
Memahami ini penting supaya kita tidak menyalahkan diri sendiri sekaligus tahu langkah realistis untuk menjaga tubuh tetap kuat menghadapi penyakit yang sifatnya kronis. Jangan lupa informasi menarik follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Kim, H. J., Lee, H. S., Kazmi, S. Z., Hann, H. J., Kang, T., Cha, J., … & Ahn, H. S. (2021). Familial risk for endometriosis and its interaction with smoking, age at menarche and body mass index: a population‐based cohort study among siblings. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology, 128(12), 1938-1948.

Selama bertahun-tahun, operasi hampir selalu dianggap sebagai “jalan utama” untuk menangani kista coklat (endometrioma). Banyak pasien datang ke klinik dengan pikiran bahwa kista harus segera diangkat, dibersihkan, atau “disikat habis” agar lekas hamil.
Namun, penelitian beberapa tahun terakhir memberi angin segar: operasi bukan satu-satunya jalan, dan dalam beberapa kasus, justru lebih aman menunda atau menghindarinya.
Kenapa Tidak Semua Kista Coklat Perlu Operasi?
Beberapa penelitian besar menunjukkan bahwa keputusan operasi harus mempertimbangkan manfaat versus risiko. Endometrioma memang bisa menyebabkan nyeri, mengganggu kualitas hidup, dan kadang memengaruhi kesuburan. Tetapi operasi pengangkatan kista juga membawa efek samping yang sering tidak dibicarakan: penurunan cadangan ovarium (AMH turun).
Bagaimana itu bisa terjadi?
Dalam review komprehensif mereka, Falcone menekankan bahwa operasi endometrioma sebaiknya tidak otomatis dilakukan pada setiap pasien. Mereka menyoroti bahwa:
- Ablasi maupun eksisi dapat mengurangi volume ovarium sehat.
- Penurunan AMH setelah operasi bisa memengaruhi peluang kehamilan.
- Pada pasien yang berencana IVF, operasi justru tidak meningkatkan hasil IVF, kecuali kistanya mengganggu akses pengambilan sel telur.
Pendekatan untuk menangani kista endometriosis sebaiknya disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Operasi biasanya bermanfaat ketika kista menimbulkan nyeri hebat atau ada kecurigaan mengarah ke keganasan. Namun, pada perempuan yang sedang berjuang untuk hamil, mengangkat kista berukuran 3–6 cm tidak selalu meningkatkan peluang kehamilan, baik secara alami maupun melalui IVF. Karena itu, jika gejala masih ringan, pilihan untuk tidak langsung operasi dan melakukan pemantauan bisa menjadi langkah yang aman.
Endometriosis sendiri merupakan kondisi kronis, sehingga terlalu sering melakukan operasi bukanlah solusi jangka panjang. Penanganan yang paling tepat adalah yang berfokus pada kebutuhan utama pasien: apakah ingin mengurangi nyeri, atau sedang menargetkan kehamilan. Pada pasien dengan infertilitas, operasi kista tidak otomatis memberikan keuntungan lebih besar dibanding pendekatan konservatif yang dipadukan dengan perencanaan fertilitas yang tepat.
Jadi… kapan operasi memang dibutuhkan?
Operasi tetap penting, terutama ketika:
- Kista mencurigakan keganasan
- Nyeri berat dan tidak merespons obat
- Kista besar (≥5–7 cm) dan mengganggu anatomi
- Menghambat proses IVF (misalnya sulit akses OPU)
Jika tidak memenuhi kondisi di atas, observasi + manajemen medis sering lebih aman dan cukup.
Kista coklat bukan musuh yang harus selalu “dibersihkan” dengan pisau bedah. Banyak pasien justru mendapatkan hasil lebih baik dengan pendekatan yang lebih konservatif, sambil meminimalkan risiko hilangnya cadangan ovarium. Ilmu sekarang bergerak ke arah: lebih hati-hati, lebih personal, dan lebih mempertimbangkan masa depan kesuburan.
Bicarakan tujuan dan rencanamu dengan dokter yang paham endometriosis dan kesuburan karena tubuhmu berharga, dan tidak semua yang “kelihatan perlu diangkat” harus benar-benar diangkat.
Referensi
- García-Tejedor, A., Castellarnau, M., Ponce, J., Fernández, M., & Burdio, F. (2015). Ethanol sclerotherapy of ovarian endometrioma: a safe and effective minimal invasive procedure. Preliminary results. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 187, 25-29.

Bagi banyak perempuan, hasil AMH sering menjadi angka yang menegangkan. Apalagi ketika usianya sudah memasuki 40 tahun. AMH yang rendah sering dianggap sebagai tanda bahwa peluang kehamilan ikut menurun. Namun, apakah benar demikian? Tidak selalu.
Sebuah studi besar dari Taiwan justru menunjukkan bahwa AMH rendah tidak selalu berarti IVF akan gagal, dan temuan ini sangat melegakan bagi banyak perempuan.
AMH Menggambarkan Jumlah, Bukan Kualitas
AMH adalah indikator seberapa banyak cadangan sel telur yang masih dimiliki. Jika angkanya rendah, itu artinya jumlah telur memang sudah berkurang—hal yang sangat wajar seiring bertambahnya usia.
Tetapi, banyak yang salah paham dan mengira AMH rendah berarti kualitas telurnya juga buruk.
Padahal, penelitian ini menemukan bahwa:
Jumlah boleh sedikit, tapi kualitasnya belum tentu menurun.
Apa yang Ditemukan Penelitian Ini?
Dalam studi tersebut, para peneliti mengikuti ribuan perempuan usia 40 tahun yang menjalani IVF. Mereka dikelompokkan menjadi AMH rendah dan AMH normal untuk melihat perbedaannya.
Hasilnya cukup jelas: AMH rendah membuat jumlah telur yang didapat lebih sedikit.
Ini memang fungsi utama AMH: menilai kuantitas. Namun kualitas telurnya tetap sama antara kedua kelompok. Peluang embrio menempel, berkembang, hingga menjadi kehamilan tidak berbeda secara signifikan.
Hasil akhir IVF termasuk kelahiran hidup juga sama. Artinya, AMH bukan penentu keberhasilan IVF pada usia 40. Karena faktor Utama Tetap Usia, Bukan AMH
Pada usia 40, kualitas oosit memang secara alami menurun karena faktor biologis. Namun AMH tidak mengukur kualitas ini. Ia hanya mengukur berapa banyak sel telur yang bisa direkrut dalam satu siklus.
Temuan ini menegaskan bahwa: AMH rendah = jumlah telur sedikit, Tetapi peluang keberhasilan IVF tetap sama, selama kualitas telur masih memungkinkan
Apa Artinya untuk Perempuan yang Sedang Menjalani IVF?
Data ini membawa perspektif baru: AMH rendah bukan alasan untuk menyerah. Banyak perempuan tetap berhasil hamil lewat IVF meskipun angka AMH mereka sangat kecil.
Hal yang perlu dipahami adalah:
- AMH membantu dokter menentukan strategi stimulasi hormon
- Namun bukan patokan untuk menilai kualitas telur
- Dan bukan juga penentu apakah IVF akan gagal atau berhasil
Akhirnya, yang paling penting adalah kualitas embrio yang terbentuk dan bagaimana tubuh merespons proses IVF.
Kesimpulan: AMH Rendah Bukan Akhir dari Peluang Kehamilan
AMH adalah angka yang memberi informasi penting, tetapi tidak menentukan segalanya. Meski jumlah sel telur menurun, kualitasnya masih bisa tetap baik. Itu sebabnya banyak perempuan dengan AMH rendah justru berhasil melalui IVF. Jadi, kalau sister melihat hasil AMH rendah tenang. Peluangmu tetap ada, dan tetap nyata. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Wang, M. J., Lin, M. H., Yang, J. H., Lee, R. K. K., & Lee, K. S. (2025). Low antimüllerian hormone (< 1.2 ng/ml) does not impact oocyte quality and IVF/ICSI outcomes in women≤ 40 years old. Taiwanese Journal of Obstetrics and Gynecology, 64(2), 248-252.

Bagi banyak perempuan, mendengar kata “kista coklat” sering kali membuat jantung berdebar. Diagnosis ini identik dengan rasa nyeri yang mengganggu, siklus haid yang tidak teratur, dan kekhawatiran tentang kesuburan. Selama bertahun-tahun, solusi yang paling sering ditawarkan adalah operasi.
Tujuannya sederhana mengangkat kista agar gejala berkurang dan mencegah kista tumbuh kembali. Namun, dunia medis kini mulai menyadari bahwa penyembuhan tidak sesederhana “angkat lalu sembuh”. Di balik tindakan itu, ada sesuatu yang lebih berharga yang perlu dijaga: kesuburan.
Risiko yang Tidak Terlihat
Operasi endometrioma memang efektif untuk mengangkat jaringan yang bermasalah, tapi resikonya tak bisa diabaikan. Ketika kista diangkat, sering kali jaringan sehat ovarium ikut terambil, karena batas antara kista dan jaringan normal sangat tipis.
Penelitian oleh Llarena dkk. (2019) menunjukkan, tindakan pembedahan semacam ini dapat menurunkan kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) penanda cadangan sel telur hingga 30–44%.
Penurunan ini berarti jumlah sel telur yang tersisa di ovarium ikut berkurang, dan peluang hamil di masa depan bisa menurun, terutama bagi perempuan yang menjalani operasi di kedua ovarium.
Selain itu, beberapa pasien juga melaporkan bahwa setelah operasi, fungsi ovarium menurun lebih cepat dari yang diperkirakan, meski gejala nyeri sempat berkurang.
Inilah dilema besar yang dihadapi banyak perempuan: sembuh dari nyeri, tapi kehilangan potensi kehidupan.
Dari Operasi ke Pelestarian Kesuburan
Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan pendekatan baru dalam dunia kedokteran: fertility-sparing approach atau pendekatan pelestarian kesuburan.
Pendekatan ini bukan hanya soal menghindari operasi, tapi tentang bagaimana mengobati dengan tetap mempertahankan potensi reproduksi.
Menurut Daniilidis dkk. (2023), berbagai teknik kini dikembangkan untuk meminimalkan kerusakan jaringan ovarium.
Beberapa di antaranya termasuk:
- Ablasi atau koagulasi dinding kista, di mana bagian dalam kista “dinonaktifkan” tanpa mengangkat seluruh dindingnya.
- Ethanol sclerotherapy, yaitu prosedur minimal invasif dengan menyuntikkan etanol medis ke dalam kista untuk membuat dindingnya kolaps dan tidak menampung cairan lagi.
- Cryopreservation (pembekuan sel telur), bagi pasien yang berisiko kehilangan fungsi ovarium setelah tindakan medis.
Pendekatan-pendekatan ini dinilai lebih lembut terhadap ovarium dan memberikan hasil yang menjanjikan dalam mempertahankan cadangan sel telur.
Pergeseran Paradigma di Dunia Medis
Dulu, keberhasilan pengobatan sering diukur dari seberapa “bersih” kista bisa diangkat.
Kini, ukuran keberhasilan mulai bergeser bukan hanya dari kondisi organ, tapi juga dari kemampuan pasien untuk tetap memiliki peluang hamil di masa depan.
Para dokter dan peneliti mulai menyadari bahwa kesembuhan sejati bukan hanya tentang menghapus penyakit, tetapi tentang mempertahankan fungsi dan harapan hidup pasien.
Pendekatan ini juga selaras dengan nilai-nilai patient-centered care, di mana setiap tindakan medis mempertimbangkan tujuan hidup pasien, bukan hanya aspek klinisnya.
Menyembuhkan Tanpa Menghapus Harapan
Kini, dokter tidak lagi berfokus pada “mengangkat kistanya sampai habis,” tetapi lebih pada bagaimana mengobati tanpa mengorbankan kesuburan.
Dunia medis pun perlahan bergeser, sister dari tindakan yang invasif menuju pendekatan yang lebih lembut, personal, dan pro-kesuburan.
Karena tujuan akhir dari pengobatan bukan hanya menyembuhkan penyakit,
tetapi menjaga potensi kehidupan memberi ruang bagi harapan, dan kesempatan untuk masa depan yang baru. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya
Referensi
- Llarena N.C., Falcone T., & Flyckt R.L. (2019). Fertility preservation in women with endometriosis. Reproductive Biology and Endocrinology, 17(1):92.
- Daniilidis A., Grigoriadis G., Kalaitzopoulos D.R., et al. (2023). Surgical management of ovarian endometrioma: Impact on ovarian reserve parameters and reproductive outcomes. Journal of Clinical Medicine, 12(15):4934.