Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Selama bertahun-tahun, pemahaman tentang kesuburan perempuan banyak bertumpu pada pengamatan langsung terhadap interaksi sperma dan sistem reproduksi perempuan. Salah satu metode klasik yang pernah populer adalah post-coital test (PCT)—sebuah prosedur yang dianggap mampu “mendeteksi kecocokan biologis” antara pasangan. Namun, kini, dunia medis beralih ke arah yang lebih dalam dan mikro: studi tentang mikrobiota reproduksi. Wah seperti apa ini? yuk pahami lebih lanjut sister!
Metode Lama: Post-Coital Test dan Logika Mekanis
Pada masa sebelum tahun 2000-an, PCT sering dijadikan alat untuk menilai apakah lendir serviks mendukung pergerakan sperma. Pemeriksaan dilakukan beberapa jam setelah hubungan seksual; lendir diambil dari serviks lalu diamati di bawah mikroskop. Sperma yang aktif menandakan kondisi yang “subur”.
Namun, seiring berkembangnya bukti ilmiah, keandalan PCT mulai dipertanyakan. Beberapa kelemahannya antara lain:
- Hasil yang tidak konsisten dan sangat operator-dependent, karena bergantung pada teknik pengambilan serta waktu pemeriksaan.
- Kurang mencerminkan kondisi fisiologis sebenarnya, sebab hanya menggambarkan interaksi sesaat, bukan kualitas lingkungan reproduksi secara keseluruhan.
- Tidak memiliki nilai prediktif yang kuat terhadap keberhasilan kehamilan alami maupun IVF.
Akhirnya, banyak panduan klinis (termasuk dari NICE dan ASRM) merekomendasikan untuk tidak lagi menggunakan PCT dalam evaluasi infertilitas.
Pergeseran Paradigma: Dari Mekanistik ke Ekologis
Jika paradigma lama menilai kesuburan secara mekanistik—apakah sperma bisa “menembus” lendir—maka paradigma baru memandang sistem reproduksi sebagai ekosistem biologis yang kompleks. Karena tubuh perempuan tidak lagi dilihat sebagai “ruang pasif” tempat sperma berjuang, melainkan sebagai lingkungan aktif yang memiliki keseimbangan biologis sendiri.
Keseimbangan ini salah satunya diatur oleh mikrobiota vagina dan endometrium, yaitu komunitas mikroorganisme yang hidup secara simbiotik.
Pendekatan Baru: Mikrobiota dan Keseimbangan Reproduksi
Penelitian dekade terakhir menemukan bahwa dominasi bakteri Lactobacillus di vagina berperan penting dalam menjaga pH optimal (sekitar 3,8–4,5) serta mencegah kolonisasi patogen. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi sperma maupun implantasi embrio.
Sebaliknya, jika terjadi dysbiosis yakni ketidakseimbangan mikrobiota maka risiko terjadinya infertilitas, implantation failure, bahkan keguguran berulang meningkat.
Sebuah riset oleh Moreno dkk. (2016) menunjukkan bahwa endometrium dengan komposisi non-Lactobacillus-dominated memiliki tingkat keberhasilan implantasi yang jauh lebih rendah dibanding yang seimbang.
Menuju Era Diagnostik Reproduksi Presisi
Pendekatan mikrobiota membawa arah baru dalam evaluasi kesuburan: dari sekadar menilai fungsi mekanik menjadi memahami ekologi tubuh. Di masa depan, profil mikrobiota mungkin akan menjadi bagian rutin dari pemeriksaan infertilitas, berdampingan dengan analisis hormonal dan genetik.
Dengan memahami bahwa kesuburan bukan hanya soal “bertemunya sperma dan sel telur”, tetapi juga tentang lingkungan mikro yang sehat dan seimbang, kita sedang melangkah menuju pendekatan yang lebih personal, presisi, dan manusiawi. Bagaimana menarik bukan? sister jadi banyak mendapatkan harapan dari semua kemajuan ini. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Vitale, S. G., Ferrari, F., Ciebiera, M., Zgliczyńska, M., Rapisarda, A. M. C., Vecchio, G. M., … & Cianci, S. (2021). The role of genital tract microbiome in fertility: a systematic review. International journal of molecular sciences, 23(1), 180.

Surabaya, 12 Oktober 2025 — Menuju Dua Garis bersama Thomson Fertility Centre menghadirkan talkshow edukatif bertajuk “Terobosan Baru IVF dan Endometriosis”, menghadirkan narasumber Prof. Dr. Prasanna Supramaniam, Fertility Specialist internasional yang juga terlibat dalam penyusunan Endometriosis Guideline ESHRE (European Society of Human Reproduction and Embryology) — standar perawatan endometriosis yang diakui di seluruh dunia.
Acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai hubungan antara endometriosis dan kesuburan, serta bagaimana penanganan yang tepat dapat meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung (IVF).
Prof. Prasanna menjelaskan bahwa endometriosis tidak hanya menimbulkan nyeri, tetapi juga dapat menurunkan kualitas sel telur dan mempercepat penurunan cadangan ovarium, terutama pada perempuan usia reproduktif lanjut.
“Pendekatan pengobatan untuk pasien dengan endometriosis tidak bisa disamaratakan. Setiap pasien memiliki kondisi berbeda, sehingga protokol IVF dan dosis obat perlu disesuaikan secara individual,” ujar Prof. Prasanna.
Selain IVF, laparoskopi menjadi salah satu tindakan penting pada pasien dengan kista endometriosis berukuran besar (7–9 cm) atau yang mengganggu struktur reproduksi. Pada kasus tertentu, kista endometriosis juga dapat ditangani dengan metode skleroterapi etanol (pemberian cairan alkohol) untuk menghancurkan isi kista tanpa operasi besar—terutama jika kualitas sel telur perlu dipertahankan.
Dalam sesi diskusi, Prof. Prasanna juga menyoroti perbedaan mendasar antara endometriosis, mioma uteri, dan polip rahim. Perbedaan utama adalah lokasi dan dampaknya: endometriosis terjadi ketika jaringan mirip endometrium tumbuh di luar rahim (misalnya di ovarium), menyebabkan nyeri dan bisa memengaruhi kualitas sel telur; mioma uteri adalah pertumbuhan non-kanker di otot dinding rahim; dan polip rahim adalah pertumbuhan jaringan abnormal di lapisan dalam rahim (endometrium). .
Selain faktor medis, gaya hidup dan kesehatan umum juga menjadi penentu penting. Kondisi seperti berat badan berlebih, tekanan darah tinggi, stres kronis, hingga gangguan ereksi pada pria dapat memengaruhi keberhasilan program hamil.
“Pemahaman yang fasih tentang endometriosis sangat penting. Penanganan yang kurang tepat justru bisa membahayakan, baik bagi kesuburan maupun keselamatan pasien,” tambahnya.
Melalui talkshow ini, para peserta diharapkan lebih memahami bahwa penanganan endometriosis memerlukan kolaborasi antara keilmuan, ketelitian diagnosis, dan pendekatan personal.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi menujuduagaris.id atau Intagagram @menujuduagaris.id

Sister mungkin sering dengar kalau endometriosis menyebabkan nyeri haid hebat, kista ovarium, atau gangguan kesuburan. Tapi tahukah kamu, kondisi ini juga bisa menyebabkan sumbatan usus (intestinal obstruction) meski sangat jarang terjadi?
Sebuah comprehensive literature review yang diterbitkan di Journal of Clinical Medicine telah mengungkapkan fakta menarik tentang hal ini. Yuk, kita bahas dengan bahasa yang lebih ringan!
Seberapa Sering Endometriosis Menyerang Usus?
Peneliti menemukan bahwa 3–37% kasus endometriosis melibatkan saluran pencernaan, terutama di bagian usus besar dan kecil. Namun, kasus yang sampai menyebabkan sumbatan usus total (intestinal occlusion) sangat jarang, hanya sekitar 0,1–0,7% dari semua kasus endometriosis.
Artinya, dari seratus perempuan dengan endometriosis, hanya satu atau bahkan kurang yang mengalami sumbatan usus akibat kondisi ini.
Bagaimana Endometriosis Bisa Menyumbat Usus? Dalam tinjauan ini, tercatat 107 pasien dengan sumbatan usus akibat endometriosis. Lokasi yang paling sering terkena antara lain:
- Ileum (38,3%) – bagian akhir usus halus
- Rektosigmoid (34,5%) – bagian bawah usus besar
- Ileocecal junction & usus buntu (14,9%)
- Rektum (10,2%)
Bahkan ada satu kasus unik di mana sumbatan terjadi di lekukan hati usus besar (hepatic flexure) dan satu lagi akibat kista endometrioid besar di omentum yang menekan usus dari luar.
Apa Penyebab Mekanismenya?
Endometriosis bisa menghambat aliran usus lewat beberapa mekanisme:
- Massa di dalam atau dinding usus – jaringan endometriosis tumbuh dan menutup sebagian lumen.
- Tekanan dari luar (ekstrinsik) – lesi menekan usus dari jaringan sekitarnya.
- Adhesi atau perlengketan – membuat bagian usus saling menempel.
- Intususepsi – kondisi saat satu bagian usus masuk ke bagian lain.
Uniknya, ada juga kasus pada perempuan pascamenopause, yang menunjukkan bahwa endometriosis tidak sepenuhnya berhenti setelah menstruasi berakhir. Meski begitu ada risiko yang lebih serius.
Risiko yang Lebih Serius: Transformasi Maligna
Dalam beberapa kasus langka, jaringan endometriosis bisa berubah menjadi kanker dan menyebabkan sumbatan usus. Kondisi ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan penanganan tepat pada endometriosis yang melibatkan organ pencernaan.
Kapan Harus Waspada? Gejala sumbatan usus akibat endometriosis sering kali mirip dengan gangguan pencernaan biasa, seperti: Nyeri perut parah, Mual dan muntah, Perut kembung atau terasa penuh dan tidak bisa buang gas atau buang air besar
Meskipun jarang, endometriosis dapat menjadi penyebab sumbatan usus yang serius.
Kasus-kasus ini menunjukkan betapa luas dan kompleks dampak endometriosis terhadap tubuh, bukan hanya pada sistem reproduksi, tapi juga organ lain seperti saluran pencernaan.
Jadi, jangan remehkan gejala yang terasa “tidak bisanya, sister! Deteksi dini dan konsultasi rutin dengan dokter bisa membantu menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh
- Referensi:
Mușat, F., Păduraru, D. N., Bolocan, A., Constantinescu, A., Ion, D., & Andronic, O. (2023). Endometriosis as an Uncommon Cause of Intestinal Obstruction—A Comprehensive Literature Review. Journal of Clinical Medicine, 12(19), 6376. https://doi.org/10.3390/jcm12196376

Bagi banyak perempuan, endometriosis bukan hanya sekadar “penyakit haid yang nyeri”. Kondisi ini jauh lebih kompleks dan sering kali baru benar-benar terasa dampaknya ketika mereka mencoba untuk hamil. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: haruskah dilakukan operasi laparoskopi terlebih dahulu untuk membersihkan endometriosis, atau langsung memulai program bayi tabung (IVF)?
Dilema ini sangat relevan, karena baik laparoskopi maupun IVF sama-sama memiliki peran penting, namun keputusan yang tepat sangat tergantung pada kondisi masing-masing pasien.
Endometriosis dan Hubungannya dengan Kesuburan
Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan mirip endometrium dimana lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, tuba falopi, atau bahkan rongga panggul. Penyakit ini bersifat estrogen-dependent, artinya pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen.
Menariknya, penelitian terbaru menemukan adanya kondisi yang disebut local hypoestrogenism, yaitu kadar estrogen yang lebih rendah di jaringan endometriosis dibandingkan jaringan sehat di sekitarnya. Akibat ketidakseimbangan ini, muncul beberapa masalah:
- Peradangan kronis: jaringan endometriosis memicu reaksi imun yang berlebihan, menimbulkan nyeri yang persisten.
- Fibrosis (jaringan parut): proses penyembuhan yang berulang membuat organ menjadi kaku.
- Adhesi: organ-organ di panggul dapat saling menempel, sehingga anatomi normal terganggu.
- Gangguan kesuburan: tuba falopi bisa tersumbat, pelepasan sel telur terganggu, dan pertemuan sperma dengan sel telur jadi semakin sulit.
Selain itu, endometriosis juga berdampak langsung pada ovarium. Cairan dari kista endometriosis kaya akan zat besi yang dapat memicu stres oksidatif, yaitu ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh. Kondisi ini merusak sel-sel folikel, sehingga kualitas dan jumlah sel telur menurun. Pada akhirnya, cadangan ovarium (ovarian reserve) menjadi lebih cepat berkurang dibandingkan perempuan tanpa endometriosis. Jika sudah begitu penanganan apa yang dapat pilih?
Laparoskopi atau IVF?
Dalam konteks program hamil, ada dua jalur utama yang bisa dipilih: laparoskopi atau IVF.
Laparoskopi adalah prosedur bedah minimal invasif yang dilakukan dengan memasukkan kamera kecil melalui sayatan kecil di perut. Tujuannya antara lain Mengangkat jaringan endometriosis, Membersihkan kista endometriosis, Memperbaiki anatomi panggul dengan memutus adhesi dan Mengurangi nyeri yang mengganggu kualitas hidup.
laparoskopi, anatomi organ reproduksi bisa kembali lebih normal, sehingga peluang hamil secara alami bisa meningkat. Namun, laparoskopi juga membawa risiko: semakin sering ovarium dioperasi, cadangan sel telur justru bisa semakin berkurang.
Sedangkan In Vitro Fertilization (IVF) atau program bayi tabung bekerja dengan cara “melewati” hambatan yang ditimbulkan oleh endometriosis. Proses pembuahan dilakukan di laboratorium, sehingga masalah adhesi atau kerusakan tuba tidak lagi menjadi halangan utama.
IVF biasanya lebih disarankan untuk perempuan Berusia di atas 35 tahun. Karena kualitas dan cadangan sel telur menurun secara alami seiring usia. Memiliki cadangan ovarium rendah. IVF bisa membantu memaksimalkan sel telur yang tersisa. Dan Tidak mengalami nyeri hebat. Karena tujuan utama langsung difokuskan ke kehamilan, bukan perbaikan kualitas hidup.
Lalu, Mana yang Harus Dipilih Lebih Dulu?
Jawabannya: tidak ada satu pilihan yang berlaku untuk semua orang.
- Jika nyeri akibat endometriosis sangat parah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, laparoskopi sering kali menjadi langkah awal yang bijak.
- Jika usia sudah tidak lagi muda dan cadangan sel telur menurun, IVF bisa menjadi jalan yang lebih efisien.
- Dalam beberapa kasus, kombinasi keduanya juga dilakukan—laparoskopi untuk memperbaiki anatomi, kemudian dilanjutkan IVF untuk memaksimalkan peluang kehamilan.
Memutuskan apakah harus melakukan laparoskopi dulu atau langsung IVF pada promil dengan endometriosis bukanlah keputusan yang sederhana. Faktor usia, tingkat nyeri, kondisi ovarium, dan derajat keparahan endometriosis semuanya perlu dipertimbangkan.
Yang pasti, setiap strategi harus disesuaikan secara personal, karena apa yang tepat untuk satu orang belum tentu sama untuk orang lain. Konsultasi mendalam dengan dokter kandungan yang berpengalaman dalam menangani endometriosis adalah kunci utama sebelum memutuskan langkah.
Nah, kalau sister sedang menghadapi kondisi ini, lebih condong ke mana: laparoskopi dulu atau langsung IVF? Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Colombi, I., Ginetti, A., Cannoni, A., Cimino, G., d’Abate, C., Schettini, G., … & Centini, G. (2024). Combine surgery and in vitro fertilization (IVF) in endometriosis-related infertility: when and why. Journal of Clinical Medicine, 13(23), 7349.

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) hadir sebagai salah satu gangguan hormonal yang paling sering dialami wanita usia subur. Gejalanya bisa bermacam-macam, mulai dari haid tidak teratur, jerawat, pertumbuhan rambut berlebih, sampai sulit hamil. Tapi ada satu hal yang sering terlupakan yaitu dampak PCOS terhadap kesehatan mental.
Banyak sister dengan PCOS yang merasa khawatir berlebihan, cemas, bahkan sampai kualitas hidupnya menurun. Nah, sebuah penelitian terbaru memberikan angin segar. Ternyata, latihan Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) bisa membantu mengurangi kekhawatiran pada wanita dengan PCOS. Yuk kita bahas lebih dalam!
Apa Itu Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR)?
MBSR adalah metode yang mengajarkan seseorang untuk lebih sadar penuh terhadap apa yang sedang dirasakan, tanpa menghakimi. Teknik ini biasanya menggabungkan meditasi, latihan pernapasan, dan kesadaran tubuh.
Tujuannya sederhana yaitu membantu seseorang menghadapi stres, kecemasan, dan rasa khawatir dengan cara yang lebih sehat.
Kenapa Penting untuk Wanita dengan PCOS?
Hidup dengan PCOS nggak hanya soal gejala fisik. Banyak wanita melaporkan kekhawatiran yang muncul di berbagai aspek hidup, seperti:
- Masalah mental: rasa cemas, sedih, bahkan depresi.
- Hubungan sosial: merasa berbeda atau kurang percaya diri.
- Komplikasi fisik: takut dengan efek jangka panjang seperti diabetes atau obesitas.
- Kesuburan & kehamilan: khawatir sulit hamil atau ada risiko saat hamil.
- Kehidupan seksual: menurunnya kepuasan atau rasa percaya diri.
- Aspek religius: merasa terbebani secara spiritual karena kondisi ini.
Semua ini bisa bikin beban mental jadi semakin berat dan mindfulness tidak menggantikan pengobatan medis, tapi bisa menjadi pelengkap yang membantu tubuh dan pikiran lebih seimbang.
Kalau kamu punya PCOS, mungkin kamu bisa coba mulai dari hal kecil, seperti:
- Melatih pernapasan sadar 5–10 menit sehari.
- Meditasi ringan dengan panduan audio.
- Yoga atau gerakan lembut sambil memperhatikan napas.
- Menulis jurnal rasa syukur setiap malam.
PCOS bukan hanya urusan hormon atau kesuburan, tapi juga menyangkut kualitas hidup secara menyeluruh. Mindfulness terbukti bisa mengurangi rasa khawatir dan membantu wanita dengan PCOS menjalani hidup dengan lebih tenang dan penuh kontrol.
Jadi sister, jangan ragu untuk menjadikan mindfulness sebagai salah satu cara mendukung perjalananmu menghadapi PCOS. Karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Referensi
- Salajegheh, Z., Ahmadi, A., Shahrahmani, H., Jahani, Y., Alidousti, K., Nasiri Amiri, F., & Salari, Z. (2023). Mindfulness-based stress reduction (MBSR) effects on the worries of women with poly cystic ovary syndrome (PCOS). BMC psychiatry, 23(1), 185.

Infertilitas hadir sebagai hal yang makin banyak ditemui. Data menunjukkan 12,1% wanita menikah usia 15–49 tahun mengalami infertilitas. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun, begitu juga dengan biaya pengobatan yang melonjak tajam. Sayangnya, meskipun banyak usaha medis dilakukan, tingkat kelahiran tetap rendah.
Di balik angka‑angka itu, ada sisi lain yang sering terabaikan yaitu beban emosional. Wanita yang menjalani perawatan infertil sering menghadapi depresi, kecemasan, dan stres yang berat. Bahkan, banyak yang menggambarkan pengalaman ini setara dengan kehilangan orang terdekat atau perceraian. Jika perawatan gagal, kondisi psikologis bisa makin memburuk dan bertahan lama. Parahnya lagi, stres berlebihan juga dapat menurunkan peluang hamil setelah terapi. Jadi perlu adanya program untuk mengatasi ini, pahami lebih lanjut yuk!
Apa Itu Program Mind‑Body?
Untuk membantu mengatasi sisi emosional infertilitas, muncul pendekatan non‑medis yang dikenal sebagai mind‑body program. Intinya, program ini berfokus pada hubungan antara pikiran, tubuh, dan perilaku, dengan tujuan menenangkan sistem tubuh lewat teknik relaksasi.
Beberapa contoh yang termasuk dalam program mind‑body adalah:
- Meditasi
- Yoga
- Tai chi atau qigong
- Hipnosis
- Biofeedback
- Teknik pernapasan dan relaksasi
- Guided imagery (latihan imajinasi terarah)
Semua teknik ini dirancang untuk menciptakan ketenangan, menurunkan stres, dan membantu tubuh bekerja lebih seimbang.
Infertilitas bukan sekadar persoalan medis, tapi juga perjalanan emosional yang berat. Program mind‑body hadir sebagai pendamping bukan pengganti terapi medis, tapi pelengkap yang bisa meningkatkan kualitas hidup sekaligus memperbesar peluang keberhasilan. Jadi tentu saja program ini bukan menjadi pengganti, tapi pendukung dari medis.
Untuk itu bagi sister maupun paksu juga orang terdekat sedang berjuang dengan infertilitas, jangan hanya fokus pada aspek medis. Menjaga kesehatan mental dan emosional sama pentingnya. Jadi sangat bisa dicoba program mind‑body seperti yoga, meditasi, atau latihan relaksasi. Selain lebih menenangkan, ada kemungkinan program ini juga membantu memperbesar peluang hamil. Dengan usaha yang maksimal diharapkan dapat membantu secara signifikan program hamil yang sister jalani. Informasi menarik lainnya jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Ha, J. Y., & Ban, S. H. Effects of mind-body programs on infertile women: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Asian Nurs Res (Korean Soc Nurs Sci). 2021; 15 (2): 77–88.

Menghadapi infertilitas itu nggak cuma soal tubuh, tapi juga pikiran dan emosi. Proses perawatan seperti IVF bisa bikin stres, cemas, bahkan depresi, karena prosedurnya panjang, melelahkan, dan sering memicu rasa nggak berdaya. Banyak wanita merasa tekanan psikologis ini berat, sementara dukungan emosional kadang masih kurang.
Salah satu cara untuk membantu mengatasi tekanan ini adalah mindfulness, yaitu teknik yang membantu seseorang fokus pada saat ini dengan sikap menerima dan tidak menghakimi diri sendiri. Belakangan, mindfulness juga dikembangkan dalam bentuk aplikasi mobile, sehingga lebih mudah diterapkan kapan saja.
Dalam sebuah penelitian terbaru, 34 wanita yang akan menjalani IVF dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menggunakan aplikasi IVFmind, yang dirancang khusus untuk mendukung praktik mindfulness selama perawatan infertilitas. Kelompok lainnya tidak menggunakan aplikasi ini. Para peneliti kemudian mengukur berbagai aspek psikologis, seperti tingkat mindfulness, kepercayaan diri terkait infertilitas, kemampuan menyesuaikan diri, serta stres dan kecemasan.
Hasilnya Mengejutkan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah menggunakan aplikasi mindfulness:
- Tingkat mindfulness meningkat secara signifikan.
- Kepercayaan diri dalam menghadapi infertilitas naik.
- Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi infertil meningkat.
- Stres, kecemasan, dan depresi menurun dibanding kelompok yang tidak menggunakan aplikasi.
Dengan kata lain, aplikasi ini membantu wanita lebih tenang, lebih percaya diri, dan lebih mampu menghadapi perjalanan IVF mereka.
Kenapa Ini Penting?
Mindfulness bukan hanya soal relaksasi sesaat, tapi juga membantu wanita membangun ketahanan emosional di tengah ketidakpastian infertilitas. Dukungan semacam ini bisa diberikan lewat perawat atau konselor, atau melalui aplikasi digital yang mudah diakses. Dengan rutin berlatih, wanita bisa merasa lebih siap secara mental untuk menghadapi prosedur yang menantang dan tetap menjaga kualitas hidup mereka.
Tips Memulai Mindfulness Selama IVF
- Sisihkan waktu 5–10 menit setiap hari untuk latihan mindfulness.
- Gunakan aplikasi yang sudah terbukti mendukung mindfulness untuk infertilitas.
- Fokus pada napas, tubuh, dan perasaan tanpa menilai diri sendiri.
- Jika perlu, dikombinasikan dengan teknik relaksasi lain seperti yoga atau guided imagery.
Dengan latihan yang konsisten, sister bisa merasa lebih tenang, lebih percaya diri, dan lebih siap menghadapi perjalanan IVF. Ingat, kesehatan mental sama pentingnya dengan perawatan fisik dalam program hamil. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- İnam, Ö., & Satılmış, İ. G. (2025). The effect of mindfulness-based nursing support on the psychosocial status of women receiving infertility treatment: a randomized controlled trial. BMC women’s health, 25(1), 127.

Sister dan paksu kalian pasti sudah tahu jika Infertilitas nggak cuma soal fisik, tapi juga beban emosional yang bisa bikin stres dan cemas meningkat. Banyak wanita merasa tekanan psikologis ini berat, apalagi ketika harus menjalani berbagai tes dan prosedur kesuburan. Stres yang tinggi nggak cuma bikin hati nggak tenang, tapi juga bisa mempengaruhi kualitas hidup dan hasil program hamil. KIra-kira ada tidak teknik yang dapat dicoba? baca lebih lanjut yuk!
Teknik Relaksasi yang Bisa Dicoba
Beberapa teknik relaksasi terbukti membantu wanita infertil menenangkan pikiran dan tubuh:
- Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR)
MBSR adalah teknik yang melatih kita untuk benar-benar hadir di momen sekarang, tanpa menghakimi diri sendiri. Fokusnya pada kesadaran penuh—terhadap pikiran, perasaan, maupun tubuh.
Bagi wanita yang sedang menjalani promil, metode ini terbukti membantu meredakan kecemasan karena mereka jadi lebih tenang menghadapi ketidakpastian. Dengan kata lain, MBSR bisa bikin pikiran lebih jernih dan hati lebih stabil. - Yoga
Yoga bukan cuma olahraga fisik, tapi juga menyatukan postur tubuh, teknik pernapasan, dan meditasi. Pendekatan ini holistik, artinya bekerja dari berbagai sisi: fisik, emosional, hingga mental.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa yoga efektif menurunkan stres, memperbaiki kualitas tidur, sekaligus meningkatkan rasa kontrol terhadap diri sendiri. - Progressive Muscle Relaxation (PMR)
PMR adalah latihan relaksasi dengan cara menegangkan lalu melemaskan otot-otot tubuh secara bertahap. Misalnya, mengepalkan tangan erat-erat, lalu melepaskannya sambil menarik napas dalam.
Tujuannya adalah untuk mengenali perbedaan antara kondisi tegang dan rileks, sehingga tubuh jadi lebih ringan. Kalau dilakukan rutin, PMR bisa jadi “alat praktis” untuk menghadapi kecemasan sehari-hari. - Guided Imagery
Teknik ini menggunakan visualisasi atau imajinasi terpandu. Misalnya, membayangkan berada di pantai yang tenang, di tengah hutan yang sejuk, atau ruang aman yang nyaman.
Dengan membayangkan situasi yang menenangkan, pikiran dan tubuh bisa ikut merasa rileks. Guided imagery sangat membantu ketika rasa cemas muncul tiba-tiba karena bisa langsung menurunkan ketegangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik-teknik ini menurunkan tingkat stres dan kecemasan, sekaligus meningkatkan kemampuan coping dalam menghadapi infertilitas. Selain mengikuti saran medis, sisihkan waktu beberapa menit setiap hari untuk latihan relaksasi. Sedikit tapi rutin, bisa bikin hati lebih tenang dan pikiran lebih fokus. Karena sister, urusan hati yang tenang itu juga bagian dari perawatan, lho!
Referensi
- Chaudhary, P., & Garg, R. K. (2024). Effects of relaxation techniques in reducing stress and anxiety among infertile women: A systematic review. Indian Journal of Obstetrics and Gynecology Research, 11(4), 521-529.