Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) sering dianggap sebagai masalah perempuan dewasa. Padahal, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa PCOS bisa mulai “menampakkan diri” sejak usia remaja. Bahkan, sekitar 3–11% remaja perempuan diperkirakan sudah mengalami PCOS, meski banyak yang belum menyadarinya.
Jadi kira-kira apa penyebab terjadinya PCOS terutama pada usia remaja? Yuk pahami temuan termutakhir tentang prevalensi, penyebab, dan tantangan diagnosis PCOS pada remaja.
Masa Pubertas Bukan Hal yang Sederhana
Masalah utama dalam mendiagnosis PCOS pada remaja adalah satu hal: pubertas itu sendiri penuh dengan perubahan yang “mirip PCOS”.
Haid yang belum teratur, jerawat, atau rambut tumbuh lebih lebat sering kali masih dianggap wajar di masa pubertas. Beberapa panduan terbaru justru menyederhanakan pendekatan:
- fokus pada haid yang benar-benar tidak teratur, dan
- adanya tanda kelebihan hormon androgen, baik secara klinis (misalnya hirsutisme berat) maupun dari pemeriksaan darah.
USG ovarium, yang sering dipakai pada orang dewasa, tidak direkomendasikan sebagai penentu utama pada remaja, karena ovarium remaja secara alami memang bisa tampak “polikistik”.
Seberapa Sering PCOS Terjadi pada Remaja?
Fakta bahwa angka PCOS pada remaja sangat bervariasi, tergantung: usia, latar etnis, dan kriteria diagnosis yang digunakan. Jika berbicara tentang etnis memang seperti apa PCOS di negara lain? untuk di Korea, kejadian PCOS meningkat di usia akhir remaja dan memuncak sekitar usia 20 tahun; sedangkan di India Selatan, sekitar 6–7% remaja perempuan terdiagnosis PCOS, dan mayoritas sebelumnya tidak tahu mereka punya kondisi ini.
Dan disaat kemarin kita terpapar pandemi COVID-19, angka gangguan siklus haid dan PCOS pada remaja meningkat, diduga berkaitan dengan stres, insomnia, dan perubahan gaya hidup; belum lagi pada remaja dengan obesitas, risiko PCOS jauh lebih tinggi dibandingkan remaja dengan berat badan normal.
Tapi yang kita sadari bahwa kesadaran tentang PCOS pada remaja masih rendah. Banyak remaja baru mengenal PCOS dari guru atau internet, bukan dari layanan kesehatan. Ini menegaskan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi sejak dini. Padahal mereka diusia yang rentang karena mereka sedang mengalami masa pertumbuhan.
Remaja dengan Risiko Lebih Tinggi
Dikutip dari hasil penelitian terbaru menemukan bahwa ada kelompok remaja yang perlu perhatian khusus, misalnya:
- remaja dengan obesitas,
- remaja dengan diabetes tipe 2,
- remaja dengan kondisi kulit tertentu seperti hidradenitis suppurativa,
- dan remaja yang memiliki ibu dengan PCOS.
Belum ada faktor psikososial juga ikut berperan. stres berat dan trauma masa kecil dengan munculnya gejala PCOS di kemudian hari. Artinya, PCOS bukan hanya soal hormon, tapi juga soal perjalanan hidup. Dilain sisi pencegahan dan intervensi gaya hidup sejak remaja sangat krusial, bukan semata demi bentuk tubuh, tapi demi kesehatan hormon jangka panjang.
Mendiagnosis PCOS pada remaja ibarat berjalan di garis tipis antara tidak ingin terlambat mendiagnosis, tapi juga tidak ingin memberi label medis terlalu dini.
PCOS pada Remaja Tidak Selalu Sama
PCOS punya beberapa “wajah” atau fenotipe. Pada remaja, bentuk yang paling sering ditemukan justru PCOS tanpa tanda kelebihan androgen yang jelas. Namun, remaja dengan PCOS yang disertai hiperandrogenisme cenderung memiliki gangguan metabolik lebih berat, dan risiko jangka panjang yang lebih tinggi.
PCOS pada remaja harus menjadi perhatian, karena diagnosis memang tidak mudah, tapi menunda pengakuan justru bisa membawa dampak jangka panjang baik secara fisik, mental, maupun reproduktif.
Pendekatan terbaik bukan sekadar angka dan kriteria, melainkan observasi yang cermat, edukasi yang empatik, dan pendampingan jangka panjang.
Karena memahami PCOS sejak remaja bukan soal menakut-nakuti, melainkan memberi bekal agar perempuan bisa tumbuh dengan tubuh yang lebih dipahami, dihargai, dan dirawat. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya
Referensi
- Jakubowska-Kowal, K. M., Skrzynska, K. J., & Gawlik-Starzyk, A. M. (2024). Prevalence and diagnosis of polycystic ovary syndrome (PCOS) in adolescents—what’s new in 2023? Systematic review. Ginekologia Polska, 95(8), 643-649.

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dikenal sebagai salah satu gangguan hormon paling sering dialami perempuan usia reproduksi. Dampaknya tidak main-main: mulai dari gangguan haid, kesulitan hamil, hingga peningkatan risiko diabetes, penyakit jantung, dan kanker endometrium.
Masalahnya, meski PCOS cukup umum, banyak perempuan dengan PCOS justru “tidak terlihat” dalam data kesehatan resmi. Inilah yang menjadi sorotan utama sebuah studi terbaru tahun 2024 yang dipublikasikan di International Journal of Environmental Research and Public Health.
Penelitian ini mencoba menjawab satu pertanyaan besar:
seberapa akurat data rekam medis elektronik (Electronic Health Records/EHR) dalam mengenali PCOS?
Mengapa Data PCOS Sulit Ditangkap?
Idealnya, diagnosis PCOS tidak bisa ditegakkan dari satu pemeriksaan saja. Ada beberapa kriteria yang biasa digunakan dokter, seperti:
- siklus haid tidak teratur,
- tanda kelebihan hormon androgen (misalnya jerawat berat atau rambut berlebih),
- dan gambaran ovarium polikistik di USG.
Masalahnya, tidak semua perempuan menjalani semua pemeriksaan ini. Ada yang datang hanya karena haid tidak teratur. Ada yang fokus ke jerawat. Ada juga yang baru diperiksa saat program hamil. Di sisi lain, data kesehatan modern banyak mengandalkan kode diagnosis di sistem komputer rumah sakit. Nah, disinilah celahnya.
Kenapa Banyak Perempuan PCOS Tapi Tidak Tercatat?
Banyak perempuan baru sadar punya PCOS setelah bertahun-tahun bertanya ke tubuhnya sendiri. Haid berantakan. Jerawat tak kunjung reda. Berat badan mudah naik. Sulit hamil. Tapi di rekam medis? Namanya belum tentu tertulis. Faktanya, PCOS adalah salah satu kondisi hormonal yang paling sering dialami perempuan, tapi justru sering “tidak terlihat” dalam data resmi.
Kenapa bisa begitu? Di sistem rekam medis digital, jumlah perempuan dengan PCOS terlihat sedikit. Padahal di kehidupan nyata, PCOS bisa dialami oleh sekitar 1 dari 5 perempuan. Ini bukan karena PCOS jarang. Tapi karena banyak perempuan belum pernah benar-benar tercatat sebagai PCOS, meski gejalanya ada. Artinya, yang muncul di data hanyalah sebagian kecil dari cerita yang sebenarnya terjadi.
PCOS Tidak Selalu Datang dengan Satu Kunjungan
PCOS bukan kondisi yang langsung bisa disimpulkan dalam sekali periksa. Kadang datang ke dokter karena haid tidak teratur. Kadang karena jerawat atau rambut rontok. Kadang karena sulit hamil. Setiap keluhan datang terpisah. Setiap kunjungan punya fokus berbeda. Akibatnya, gambaran utuh PCOS sering tidak langsung terlihat baik oleh sistem, maupun oleh pasien itu sendiri. Bukan karena salah. Tapi karena PCOS itu kompleks dan bertahap dikenali.
Label di Sistem Belum Tentu Mewakili Kondisi Sebenarnya
Menariknya, ada perempuan yang tercatat punya PCOS, tapi sebenarnya tidak memenuhi ciri khasnya. Ada juga yang jelas-jelas mengalami tanda PCOS, tapi tidak pernah mendapat label PCOS. Ini menunjukkan satu hal penting: PCOS tidak selalu bisa disederhanakan jadi satu kode atau satu nama.
Tubuh manusia tidak bekerja seperti tabel data.
Kenapa Ini Penting untuk Kita?
Karena data kesehatan sering jadi dasar keputusan besar:
- layanan kesehatan apa yang diprioritaskan,
- edukasi apa yang disediakan,
- sampai kebijakan yang memengaruhi perempuan.
Kalau PCOS terlihat “sedikit” di data, maka kebutuhannya bisa dianggap tidak mendesak.
Padahal dampaknya nyata bukan hanya soal haid atau kesuburan, tapi juga metabolik dan kesehatan mental.
Kalau sister merasa:
- tubuhmu “tidak seperti seharusnya”,
- gejala datang silih berganti,
- atau jawaban terasa setengah-setengah,
itu bukan karena kamu berlebihan.
PCOS bukan satu wajah. Ia bisa muncul pelan-pelan, dengan bentuk yang berbeda pada tiap perempuan. Bertanya itu penting. Menyimpan hasil pemeriksaan itu perlu. Dan memahami tubuh sendiri adalah bagian dari ikhtiar. Pada dasarnya data digital membantu. Tapi ia tidak bisa menggantikan cerita tubuh perempuan. PCOS bukan hanya soal catatan medis. Ia adalah pengalaman hidup tentang tubuh, harapan, dan proses memahami diri sendiri.
Referensi
- Atiomo, W., Rizwan, M. N. H., Bajwa, M. H., Furniturewala, H. J., Hazari, K. S., Harab, D., … & Mirza, F. G. (2024). Prevalence and diagnosis of PCOS using electronic health records: a scoping review and a database analysis. International journal of environmental research and public health, 21(3), 354.

Ketika pasangan sulit hamil, perhatian sering langsung tertuju pada perempuan. Padahal, hampir setengah dari kasus infertilitas melibatkan faktor pria. Salah satu penyebab yang paling sering luput dibicarakan adalah oxidative stress kondisi ketika tubuh kewalahan menghadapi radikal bebas.
Radikal bebas ini, yang dalam dunia medis dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS), sebenarnya bukan musuh sepenuhnya. Dalam jumlah kecil, ROS justru dibutuhkan sperma untuk matang dan berfungsi. Masalah muncul ketika jumlahnya berlebihan.
Dan disitulah cerita infertilitas pria sering dimulai.
ROS: Dibutuhkan, Tapi Mudah Berubah Jadi Masalah, ROS terbentuk secara alami dari proses metabolisme tubuh, terutama di mitokondria “pembangkit listrik” sel. Pada sperma, ROS berperan penting dalam: pematangan sperma, pergerakan sperma dan proses sperma menembus sel telur
Namun, ketika produksi ROS tidak seimbang dengan pertahanan antioksidan tubuh, terjadilah oxidative stress.
Dari Mana Radikal Bebas Berasal? Radikal bebas di sistem reproduksi pria tidak hanya datang dari dalam tubuh, tapi juga dari gaya hidup dan lingkungan.
Beberapa sumber utamanya:
- sperma itu sendiri (saat proses pematangan)
- sel darah putih akibat infeksi atau peradangan
- kelenjar prostat dan vesikula seminalis
- rokok, polusi, alkohol
- stres kronis dan kurang tidur
- paparan panas berlebih (laptop di pangkuan, sauna, dll)
Kalau dibayangkan, sperma ini seperti harus berenang di lingkungan yang kadang “terlalu berisik” secara kimiawi.
Apa yang Terjadi Saat Oxidative Stress Tidak Terkontrol?
Ketika radikal bebas terlalu banyak, efeknya tidak main-main.
- Sperma Jadi “Lelah” Membran sperma sangat kaya lemak. Radikal bebas mudah merusaknya, membuat sperma: bergerak lebih lambat, cepat mati dan sulit mencapai sel telur
- DNA Sperma Bisa Rusak, Oxidative stress bisa menyebabkan DNA sperma terfragmentasi. Ini bukan hanya soal bisa atau tidaknya membuahi, tapi juga soal: kualitas embrio, risiko keguguran dan kesehatan anak di masa depan
- Energi Sperma Menurun, Mitokondria yang rusak berarti produksi energi turun. Akibatnya, sperma kehilangan “tenaga” untuk bergerak optimal.
- Risiko Dampak ke Pasangan, Menariknya, stres oksidatif pada pria tidak berhenti di tubuh pria saja. Penelitian menunjukkan kaitannya dengan keguguran berulang pada pasangan, gangguan perkembangan embrio dan peningkatan risiko kelainan genetik
Artinya, kualitas sperma memengaruhi perjalanan reproduksi pasangan secara keseluruhan, bukan hanya saat pembuahan.
Tubuh sendiri sebenarnya punya sistem pertahanan alami berupa antioksidan. Masalahnya, gaya hidup modern sering membuat pertahanan ini kalah jumlah.
Antioksidan bekerja dengan: menetralkan radikal bebas, melindungi membran sperma, menjaga DNA tetap utuh dan mendukung kerja mitokondria. Antioksidan ini bisa berasal dari tubuh sendiri atau dari makanan dan suplemen.
Beberapa Antioksidan diantaranya adalah
Vitamin E: Melindungi membran sperma dari kerusakan. Banyak studi menunjukkan perbaikan motilitas dan penurunan kerusakan DNA.
Vitamin C: Kadar vitamin C dalam cairan sperma bahkan jauh lebih tinggi dibanding darah. Ia berperan penting menjaga DNA sperma tetap stabil.
Vitamin B12 & Asam Folat: Berhubungan dengan pembentukan DNA dan kualitas sperma, terutama bila dikombinasikan dengan nutrisi lain.
Vitamin D: Defisiensinya dikaitkan dengan motilitas sperma yang buruk dan hasil promil yang kurang optimal.
Zinc & Selenium: Mineral kecil dengan peran besar. Terlibat dalam pembentukan sperma, stabilitas DNA, dan produksi hormon testosteron.
Coenzyme Q10: Bintang utama di mitokondria. Membantu produksi energi sperma sekaligus bertindak sebagai antioksidan kuat.
L-Carnitine: Mendukung metabolisme energi sperma dan terbukti meningkatkan motilitas pada beberapa studi klinis.
Tapi… Terlalu Banyak Juga Tidak Baik, Ini bagian penting yang sering terlewat. Antioksidan harus seimbang. Karena konsumsi antioksidan berlebihan justru bisa menyebabkan reductive stress, kondisi di mana sistem biologis menjadi “terlalu ditekan”.
Akibatnya fungsi sperma bisa menurun dan proses fisiologis yang butuh ROS justru terganggu. Karena itu, suplementasi sebaiknya: sesuai kebutuhan, berbasis evaluasi da tidak asal “semakin banyak semakin baik”
Infertilitas pria bukan sekadar soal jumlah sperma. Ia adalah cerminan dari keseimbangan radikal bebas dan antioksidan, gaya hidup, kesehatan metabolik dan kualitas lingkungan biologis tempat sperma berkembang
Antioksidan bukan solusi tunggal, tapi bagian penting dari pendekatan yang lebih utuh dan manusiawi dalam melihat masalah reproduksi pria. Dan yang terpenting: masalah sperma bukan masalah pria saja, tapi perjalanan bersama pasangan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Kaltsas, A. (2023). Oxidative stress and male infertility: the protective role of antioxidants. Medicina, 59(10), 1769.

Selama ini, saat bicara soal kualitas sperma, fokus kita hampir selalu tertuju pada angka: jumlahnya berapa, geraknya cepat atau lambat, bentuknya normal atau tidak. Seolah-olah sperma berdiri sendiri, bekerja sendirian.
Padahal, sperma hidup di sebuah “lingkungan”. Dan seperti manusia, lingkungan ini sangat menentukan apakah ia bisa bekerja optimal atau justru kelelahan sebelum sampai tujuan.
Sister dan paksu pahami lebih lanjut yuk tentang bagaimana DNA mitokondria bebas di cairan sperma mulai terasa relevan.
Mitokondria, Sumber Energi yang Jarang Disadari
Mitokondria adalah sumber energi utama sperma. Dari sanalah ATP diproduksi energi yang memungkinkan sperma bergerak, berenang melawan arus, dan bertahan cukup lama untuk membuahi sel telur. Kalau mitokondria bermasalah, sperma bisa tetap ada, tapi tidak benar-benar “berfungsi”. Ia ada, tapi lemah.
DNA Mitokondria yang Mengapung di Cairan Sperma
Cell-free mitochondrial DNA, yaitu DNA mitokondria yang tidak berada di dalam sperma, tetapi mengapung di cairan semen. Awalnya terdengar seperti sisa biologis biasa. Tapi justru di sanalah petunjuk penting muncul.
Faktanya pada pria dengan kualitas sperma yang baik ternyata memiliki jumlah cell-free mtDNA yang lebih tinggi. Sebaliknya, pada pria dengan gangguan sperma, jumlah mtDNA bebas ini justru menurun. Semakin baik gerak, jumlah, dan bentuk sperma, semakin tinggi pula mtDNA bebas di cairan sperma.
Ini memberi pesan menarik masalah kualitas sperma tidak selalu berarti “terlalu banyak kerusakan”, tapi bisa juga mencerminkan lingkungan biologis yang tidak sehat.
Stres Oksidatif, Musuh yang Diam-Diam Bekerja
Penelitian ini juga menyoroti peran stres oksidatif kondisi ketika radikal bebas terlalu banyak dan tubuh kewalahan menyeimbangkannya.
Saat stres oksidatif meningkat:
- pergerakan sperma menurun
- konsentrasi sperma berkurang
- dan jumlah mtDNA bebas ikut menurun
Stres oksidatif dan mtDNA seperti dua sisi mata uang: ketika yang satu naik, yang lain jatuh. Ini menegaskan bahwa kualitas sperma bukan cuma soal selnya, tapi juga tentang seberapa aman lingkungan tempat ia berada.
Lebih dari Sekadar Angka di Hasil Lab
Temuan ini mengingatkan kita bahwa analisis sperma konvensional belum tentu menangkap keseluruhan cerita. Ada proses biologis yang lebih halus, lebih dalam, yang ikut menentukan apakah sperma benar-benar siap menjalankan fungsinya.
Cell-free mtDNA mungkin bukan pemeriksaan rutin hari ini, tapi ia membuka jendela baru untuk memahami infertilitas pria terutama pada kasus yang selama ini terasa “tidak jelas penyebabnya”.
Kenapa Ini Penting untuk Perempuan Juga?
Karena sperma yang datang ke rahim membawa lebih dari sekadar DNA. Ia membawa jejak stres, kualitas energi, dan kondisi biologis yang akan memengaruhi:
- kualitas pembuahan
- perkembangan embrio awal
- dan lingkungan implantasi
Masalah reproduksi tidak pernah sepenuhnya berdiri di satu sisi saja. Kadang, sperma tidak gagal karena jumlahnya kurang atau bentuknya salah, tapi karena ia berangkat dari lingkungan yang sudah kelelahan lebih dulu. Dan memahami lingkungan ini termasuk mitokondria dan stres oksidatif membantu kita melihat infertilitas dengan cara yang lebih utuh, lebih adil, dan lebih manusiawi. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya
Referensi
- Chen, Y., Liao, T., Zhu, L., Lin, X., Wu, R., & Jin, L. (2018). Seminal plasma cell-free mitochondrial DNA copy number is associated with human semen quality. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 231, 164-168.

Selama ini, antioksidan sering dipandang sebagai “penyelamat” dalam masalah infertilitas pria. Salah satu yang paling populer adalah resveratrol, senyawa alami yang banyak ditemukan pada anggur merah dan buah beri. Ia dikenal punya sifat antiinflamasi dan antioksidan yang kuat, bahkan sering direkomendasikan sebagai suplemen pendukung kualitas sperma.
Namun, ada sebuah studi yang temuannya mengingatkan kita bahwa dalam dunia reproduksi, terlalu banyak hal baik pun bisa berbalik arah.
Asthenozoospermia dan Peran Stres Oksidatif
Asthenozoospermia sendiri hadir sebagai salah satu kondisi ketika sperma sulit bergerak dengan baik. Masalah ini menjadi salah satu penyebab utama infertilitas pria. Pada banyak kasus, penyebab pastinya tidak jelas dan disebut sebagai idiopathic asthenozoospermia.
Salah satu faktor yang sering dicurigai adalah stres oksidatif kondisi ketika radikal bebas terlalu banyak dan sistem pertahanan tubuh kewalahan. Dalam kadar normal, radikal bebas justru dibutuhkan sperma untuk proses penting seperti pematangan dan kemampuan membuahi sel telur. Tapi ketika berlebihan, ia bisa merusak membran sperma, DNA, dan mesin energinya. Di sinilah antioksidan seperti resveratrol mulai dilirik sebagai solusi. Tapi… apakah selalu aman?
Resveratrol Langsung pada Sperma
Ada sebuah penelitian yang menemukan bagaimana resveratrol memang menunjukkan efek yang relatif netral hingga sedikit positif. Gerak sperma progresif tampak sedikit membaik, dan stres oksidatif menurun.
Namun, ketika dosisnya lebih tinggi, ceritanya berubah. Alih-alih makin sehat, sperma justru mengalami penurunan kemampuan bergerak. Padahal, indikator stres oksidatif juga turun cukup signifikan. Dengan kata lain: radikal bebas ditekan terlalu jauh, dan sperma justru “kehilangan keseimbangan”.
Saat Antioksidan Berlebihan Jadi Masalah
Fenomena tersebut menunjukkan apa antioxidant paradox. Sperma ternyata tidak hanya butuh perlindungan dari radikal bebas, tetapi juga membutuhkan kadar radikal bebas yang pas untuk menjalankan fungsinya.
Jika radikal bebas ditekan berlebihan, sperma bisa masuk ke kondisi yang disebut redox stress. Kondisi ini sama berbahayanya dengan stres oksidatif karena:
- mengganggu produksi energi sperma
- memengaruhi fungsi mitokondria
- mengacaukan proses biologis yang penting untuk pergerakan dan pembuahan
Singkatnya, sperma jadi “terlalu steril secara kimia” untuk bekerja optimal. Pelajaran Penting untuk Dunia Fertilitas
Pada dasarnya meski resveratrol dikenal aman dan bermanfaat dalam banyak kondisi, pada konteks sperma terutama dengan dosis tinggi ia justru bisa berdampak sebaliknya. Ini menjelaskan mengapa tidak semua pria dengan infertilitas merespons suplemen antioksidan dengan hasil yang sama.
Tubuh, termasuk sistem reproduksi, bekerja dengan prinsip keseimbangan. Mengganggu satu sisi terlalu jauh, bahkan dengan niat baik, bisa menimbulkan masalah baru.
Jadi, Perlu atau Tidak Antioksidan?
Bukan soal “perlu atau tidak”, tapi berapa dosisnya, kapan, dan untuk siapa. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih personal dan berbasis evaluasi medis, bukan sekadar mengikuti tren suplemen.
Dalam urusan reproduksi, lebih banyak tidak selalu lebih baik. Kadang, yang dibutuhkan sperma bukan tambahan berlebihan, tapi lingkungan yang seimbang agar ia bisa bekerja sebagaimana mestinya.
Referensi
- Muti, N. D., Di Paolo, A., Salvio, G., Membrino, V., Ciarloni, A., Alia, S., … & Balercia, G. (2025). Effect of resveratrol on sperm motility in subjects affected by idiopathic asthenozoospermia: An in vitro study. Tissue and Cell, 95, 102857.

Endometriosis dan adenomiosis merupakan gangguan ginekologis yang sering dikaitkan dengan nyeri panggul kronis dan infertilitas. Selama ini, pembahasan penyebab infertilitas pada kondisi ini kerap berfokus pada faktor hormonal, anatomi pelvis, dan inflamasi. Namun, ada yang harus kalian pahami yaitu tentang lapisan lain yang tidak kalah penting, yaitu mikrobiota saluran reproduksi.
Mikrobiota bukan sekadar “bakteri yang lewat”, melainkan bagian aktif dari lingkungan biologis rahim yang dapat memengaruhi fungsi sel endometrium, reseptivitas implantasi, hingga keberhasilan program kehamilan (promil).
Mikrobiota Normal Saluran Reproduksi
Pada kondisi sehat, saluran reproduksi perempuan terutama vagina dan endometrium umumnya didominasi oleh Lactobacillus. Bakteri ini berperan menjaga keseimbangan lingkungan dengan:
- mempertahankan pH optimal
- menekan pertumbuhan bakteri patogen
- mendukung fungsi imun lokal
Lingkungan mikroba yang stabil membantu menciptakan kondisi rahim yang kondusif bagi implantasi embrio.
Dysbiosis Mikrobiota pada Endometriosis dan Adenomiosis
Penelitian tahun 2025 yang dipublikasikan di BMC Microbiology menunjukkan bahwa perempuan dengan ovarian endometrioma (kista cokelat) dan adenomiosis mengalami perubahan signifikan pada mikrobiota saluran reproduksi.
Perubahan ini ditemukan di berbagai lokasi, meliputi kanalis servikalis, forniks posterior, endometrium dan cairan panggul
Kondisi tersebut ditandai oleh:
- penurunan dominasi Lactobacillus
- peningkatan bakteri oportunistik seperti Enterococcus dan anggota Enterobacteriaceae
- peningkatan keragaman mikroba yang tidak selalu menguntungkan
Fenomena ini dikenal sebagai dysbiosis, yaitu ketidakseimbangan mikrobiota yang dapat memicu inflamasi kronis.
Dampak Langsung Mikrobiota terhadap Sel Endometrium
Menariknya, pembahasan ini tidak berhenti pada soal jenis bakteri saja. Bakteri tertentu yang sering ditemukan pada endometriosis dan adenomiosis ternyata bisa berdampak langsung pada sel endometrium. Kehadirannya membuat sel menjadi kurang sehat, memengaruhi cara kerja gen-gen penting, dan memicu peradangan serta stres di tingkat sel. Perubahan ini berkaitan dengan sistem pertahanan tubuh, cara sel menghasilkan energi, hingga mekanisme pertumbuhan dan perbaikan jaringan. Dalam kondisi seperti ini, endometrium bisa kehilangan “lingkungan idealnya”, sehingga fungsinya sebagai tempat menempelnya embrio menjadi tidak optimal.
Implikasi terhadap Fertilitas dan Program Kehamilan
Pemahaman baru bahwa gangguan fertilitas pada endometriosis tidak selalu disebabkan oleh kelainan anatomi yang terlihat jelas. Lingkungan mikro di dalam rahim termasuk komposisi mikrobiota memegang peran penting. Pada konteks promil, disbiosis mikrobiota dapat berkontribusi pada: penurunan reseptivitas endometrium, kegagalan implantasi, respon yang kurang optimal terhadap program IUI atau IVF. Inilah mengapa sebagian kasus infertilitas pada endometriosis kerap disebut “unexplained”, padahal penyebabnya tersembunyi di tingkat seluler dan mikrobiologis.
Endometriosis bukan hanya penyakit hormon atau struktur, tetapi juga berkaitan erat dengan lingkungan biologis rahim, termasuk mikrobiota. Bagi sister dan paksu yang sedang menjalani promil, kalian juga harus memahami bahwa kehamilan tidak hanya ditentukan oleh embrio dan hormon, tetapi juga oleh kualitas lingkungan rahim yang sering luput diperhatikan.
Referensi
- Li, J., Zhang, Y., Zhang, J., Yue, C., Guo, L., Yang, G., … & Yu, T. (2025). Reproductive tract microbiota dysbiosis in ovarian endometrioma and adenomyosis: multi-site 16S rRNA profiling and functional impact of key bacterial species on human endometrial stromal cells. BMC microbiology, 25(1), 717.

Endometriosis adalah penyakit ginekologis kronis yang dialami sekitar 10% perempuan usia reproduksi. Jaringan yang mirip endometrium tumbuh di luar rahim bisa di ovarium, peritoneum, bahkan di lokasi yang jauh dari organ reproduksi. Dampaknya bukan cuma nyeri, tapi juga inflamasi kronis, gangguan haid, hingga infertilitas.
Selama ini, endometriosis sering dijelaskan lewat hormon, menstruasi retrograd, atau faktor genetik. Tapi beberapa tahun terakhir, muncul satu pertanyaan baru yang menarik perhatian banyak peneliti.
Bagaimana kalau lingkungan mikro di tubuh juga ikut berperan?
Vagina bukan ruang steril. Di sana hidup komunitas bakteri disebut mikrobiota yang berinteraksi dengan hormon, sistem imun, dan kondisi anatomi vagina itu sendiri.
Dalam kondisi seimbang, mikrobiota vagina biasanya didominasi oleh Lactobacillus. Bakteri ini membantu menjaga keasaman vagina, menekan bakteri patogen, dan mendukung pertahanan imun lokal.
Masalah muncul ketika keseimbangan ini terganggu. Disbiosis ketidakseimbangan mikrobiota diketahui bisa memicu inflamasi, mengacaukan respon imun, dan secara teori ikut menciptakan lingkungan yang “ramah” bagi perkembangan endometriosis.
Kenapa Mikrobiota Dikaitkan dengan Endometriosis?
Endometriosis adalah penyakit inflamatorik. Artinya, sistem imun berperan besar dalam pembentukannya. Ketika mikrobiota tidak seimbang, tubuh bisa memproduksi lebih banyak sitokin proinflamasi, meningkatkan pembentukan pembuluh darah baru, dan memperkuat adhesi semua ini adalah ciri khas endometriosis.
Selain itu, beberapa bakteri punya kemampuan memengaruhi metabolisme estrogen. Mereka bisa meningkatkan kadar estrogen bebas di tubuh, menciptakan kondisi hiperestrogenik yang mendukung pertumbuhan jaringan endometriotik.
Dengan kata lain, mikrobiota tidak sekadar “penumpang”, tapi bisa ikut membentuk lingkungan biologis tempat endometriosis berkembang.
Apakah Mikrobiota Vagina Berbeda pada Endometriosis?
Sebuah penelitian yang meneliti perempuan dengan endometriosis dan tanpa endometriosis dibandingkan untuk melihat profil mikrobiota vaginanya, Hasilnya menarik. Bahwa secara umum, jenis bakteri yang ditemukan memang bervariasi. Ada perbedaan komposisi di tingkat kelompok besar bakteri maupun di tingkat genus. Namun, ketika dilihat dari jumlah dan kelimpahannya secara keseluruhan, perbedaannya tidak signifikan.
Artinya, perempuan dengan endometriosis tidak selalu menunjukkan “bakteri yang benar-benar berbeda” dibandingkan perempuan tanpa endometriosis. Di kedua kelompok, Lactobacillus tetap menjadi bakteri dominan. Ini menunjukkan bahwa ekosistem dasar vagina bisa saja tetap terlihat “normal”, bahkan pada perempuan dengan endometriosis.
Namun, temuan ini justru membuka pemahaman baru: mungkin yang penting bukan sekadar siapa bakterinya, tapi apa yang mereka lakukan. Interaksi mikrobiota dengan sistem imun, aktivitas metaboliknya, serta pengaruhnya terhadap hormon kemungkinan jauh lebih menentukan dibanding sekadar perbedaan jumlah bakteri.
Pada intinya endometriosis bukan penyakit dengan satu penyebab sederhana. Mikrobiota vagina mungkin tidak selalu menunjukkan perbedaan mencolok secara kuantitas, tapi tetap berpotensi berperan lewat mekanisme yang lebih halus melalui inflamasi, imun, dan regulasi hormon.
Ini juga menjelaskan kenapa pendekatan pada endometriosis tidak bisa satu arah. Bukan cuma soal struktur rahim atau kadar hormon, tapi juga tentang lingkungan biologis yang lebih luas. Jangan lupa follow Instagram @menujudiagaris.id ya!
Referensi
- Mostafavi, S. R. S., Kor, E., Sakhaei, S. M., & Kor, A. (2024). The correlation between ultrasonographic findings and clinical symptoms of pelvic endometriosis. BMC Research Notes, 17(1), 108.

Endometriosis bukan kondisi langka. Sekitar satu dari sepuluh perempuan usia reproduktif hidup dengan penyakit kronis ini. Jaringan yang seharusnya berada di dalam rahim tumbuh di luar rongganya, memicu nyeri hebat, haid bermasalah, nyeri saat berhubungan, hingga gangguan kesuburan.
Namun dampaknya tidak berhenti di tubuh. Endometriosis ikut menyentuh sisi emosional, relasi sosial, dan yang sering luput dibicarakan kehidupan profesional perempuan.
Masalah menjadi semakin rumit ketika endometriosis berjalan beriringan dengan infertilitas. Banyak perempuan harus menjalani IVF atau terapi reproduksi lain justru di fase hidup ketika karier sedang dibangun, dipertaruhkan, atau berada di titik krusial.
Sayangnya, cerita panjang perempuan tentang bagaimana penyakit ini memengaruhi pekerjaan mereka jarang benar-benar didengar.
Bekerja Sambil Menahan Nyeri
Bagi banyak perempuan dengan endometriosis berat, nyeri panggul datang tanpa kompromi. Bisa muncul tiba-tiba, disertai gangguan pencernaan atau perdarahan hebat, dan tidak peduli apakah ada rapat penting atau tenggat waktu.
Sebagian perempuan tetap bekerja sambil menahan sakit. Sebagian lain mengembangkan “strategi bertahan”: membawa kompres panas, mengatur cuti mengikuti siklus haid, atau menyesuaikan jam kerja sebisanya.
Di saat yang sama, terapi infertilitas menambah lapisan beban baru. Efek hormon, kelelahan, mual, dan tekanan mental karena menunggu hasil medis membuat hari-hari terasa seperti menjalani dua peran sekaligus: sebagai pekerja profesional dan sebagai pasien.
Banyak perempuan menggambarkan fase ini sebagai menjalani dua pekerjaan dalam satu tubuh.
Penyakit yang Terlalu “Pribadi” untuk Dibicarakan
Endometriosis sering dianggap terlalu sensitif, terlalu pribadi, bahkan memalukan untuk dibicarakan di tempat kerja. Terutama di lingkungan yang masih didominasi laki-laki, perempuan khawatir dicap lemah, tidak profesional, atau tidak kompeten.
Akibatnya, banyak yang memilih diam. Ketidakhadiran disamarkan dengan alasan lain yang lebih “diterima”. Nyeri dianggap urusan pribadi yang tidak layak masuk ruang profesional.
Menariknya, infertilitas dan IVF justru lebih mudah diterima untuk dibicarakan. Karena dianggap “medis”, terstruktur, dan jelas protokolnya. Sementara nyeri endometriosis yang nyata dan melelahkan sering dianggap samar dan sulit dijelaskan.
Saat Dukungan Mengubah Segalanya
Tidak semua pengalaman berakhir buruk. Perempuan yang berani terbuka tentang kondisinya, terutama di lingkungan kerja yang aman, justru merasakan perbedaan besar.
Komunikasi yang jujur dengan atasan dan rekan kerja membuka ruang untuk pengertian, fleksibilitas, dan dukungan emosional. Jam kerja yang bisa disesuaikan, kesempatan bekerja dari rumah, serta kolega yang memahami kondisi tubuh membuat beban terasa lebih ringan.
Bahkan, bagi sebagian perempuan, sistem kerja jarak jauh yang berkembang sejak pandemi menjadi titik balik. Bekerja dari rumah memberi ruang untuk mengelola nyeri tanpa harus kehilangan produktivitas.
Ketika Penyakit Membentuk Arah Karier
Lebih dari sekadar gangguan sementara, endometriosis dan infertilitas sering membentuk jalur karier perempuan. Ada yang menunda promosi, mengubah profesi, atau bahkan mengundurkan diri demi fokus pada kesehatan dan program kehamilan.
Dilema yang muncul berulang kali terdengar sama: bertahan di karier atau memperjuangkan kehamilan. Bagi sebagian perempuan, masa pengobatan infertilitas menjadi periode pengorbanan besar. Bagi yang lain, justru menjadi titik awal untuk bersuara dan menuntut pengakuan.
Yang paling kuat dari kisah-kisah ini adalah satu permintaan sederhana: pengakuan.
Pengakuan bahwa endometriosis adalah kondisi kesehatan nyata. Pengakuan bahwa nyeri kronis dan infertilitas layak dipahami di dunia kerja. Pengakuan bahwa perempuan tidak seharusnya dipaksa memilih antara kesehatan, keinginan memiliki anak, dan masa depan profesional. Masih panjang jalan menuju tempat kerja yang benar-benar ramah bagi perempuan dengan endometriosis. Tapi setiap cerita yang dibagikan, setiap ruang dialog yang dibuka, adalah langkah kecil menuju perubahan.
Karena perempuan berhak memiliki tubuh yang dirawat, mimpi yang diperjuangkan, dan karier yang tidak harus dikorbankan. Untuk sister dengan infertilitas endometriosis semoga kalian dikuatkan dan diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan ini selain menjadi pejuang dua garis, kalian juga harus meningkatkan kualitas kehidupan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Referensi Gremillet, L., Netter, A., Sari-Minodier, I., Miquel, L., Lacan, A., & Courbiere, B. (2023). Endometriosis, infertility and occupational life: women’s plea for recognition. BMC women’s health, 23(1), 29.