Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Banyak pasien dengan Premature Ovarian Insufficiency (POI) bertanya, “Kalau saya tidak ingin donor sel telur, apakah masih ada harapan menggunakan sel telur sendiri?”
POI adalah kondisi ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun. Ditandai dengan haid yang jarang atau berhenti, kadar FSH tinggi, dan cadangan ovarium yang sangat rendah. Selain infertilitas, POI juga berdampak pada kesehatan tulang, jantung, dan kondisi psikologis.
Selama ini, terapi lini pertama adalah Hormone Replacement Therapy (HRT). Namun penting dipahami, HRT hanya menggantikan hormon bukan mengembalikan fungsi ovarium atau kesuburan.
Lalu bagaimana dengan pilihan lain?
- In Vitro Activation (IVA), Sekitar 75% pasien POI masih memiliki folikel primordial “tertidur” di ovarium. IVA bertujuan membangunkan folikel tersebut agar bisa berkembang menjadi sel telur matang. Prosedurnya melibatkan pengambilan jaringan ovarium, Fragmentasi jaringan untuk mengganggu jalur Hippo, Aktivasi jalur PI3K/Akt dan transplantasi kembali ke tubuh
- Terapi Aktivasi Mitokondria, Kualitas sel telur sangat bergantung pada fungsi mitokondria, yaitu “pembangkit energi” sel. Pada POI, sering ditemukan penurunan jumlah mtDNA, peningkatan stres oksidatif dan gangguan produksi energi.
- Stem Cell Therapy, Terapi sel punca (stem cell) menjadi salah satu pendekatan yang paling banyak diteliti. Cara kerjanya melalui anti-inflamasi, anti-apoptosis, perbaikan vaskularisasi dan regulasi imun
- Platelet-Rich Plasma (PRP), PRP adalah plasma kaya faktor pertumbuhan yang diinjeksi ke ovarium dengan tujuan merangsang aktivitas jaringan.
Terapi-terapi seperti IVA, stem cell, PRP, dan aktivasi mitokondria adalah pendekatan inovatif yang menjanjikan, tetapi masih dalam tahap perkembangan dan penelitian. Artinya, keputusan terapi harus sangat individual dan didiskusikan dengan dokter fertilitas yang berpengalaman.
Jadi Apa yang Perlu Sister dan Paksu Pahami
Dunia fertilitas sedang berkembang cepat. POI bukan lagi kondisi tanpa pilihan.
Namun tidak semua pilihan sudah matang secara klinis.Harapan itu ada.
Tapi harus berbasis ilmu, bukan sekadar tren. Setiap pasien punya kondisi biologis yang berbeda. Dan setiap keputusan harus mempertimbangkan keamanan, peluang keberhasilan, serta kesiapan emosional.
Karena pada akhirnya, program kesuburan bukan hanya tentang teknologi. Tetapi tentang strategi yang paling sesuai untuk tubuh dan kehidupan kalian.
Referensi
-
- Huang, Q. Y., Chen, S. R., Chen, J. M., Shi, Q. Y., & Lin, S. (2022). Therapeutic options for premature ovarian insufficiency: an updated review. Reproductive Biology and Endocrinology, 20(1), 28.

Banyak pasien IVF bertanya, “Selain suntik hormon, apa ada cara lain yang bisa membantu tubuh lebih siap?” Salah satu terapi yang mulai banyak digunakan sebagai pendamping program bayi tabung adalah Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation (TEAS).
Tapi kira-kira apa Itu TEAS? TEAS adalah terapi stimulasi titik akupuntur menggunakan aliran listrik ringan yang ditempelkan di permukaan kulit. Tidak menggunakan jarum seperti akupuntur tradisional.
Cara kerjanya yaitu, menggunakan alat kecil ditempel di beberapa titik tubuh yang berhubungan dengan organ reproduksi seperti area bawah perut dan pergelangan kaki bagian dalam lalu diberikan stimulasi lembut selama kurang lebih 30 menit. Biasanya dilakukan selama masa stimulasi ovarium dalam program IVF.
Kenapa Terapi Ini Menarik untuk IVF?
Harus sister dan paksu pahami bahwa dalam program bayi tabung, ada dua hal penting sebelum embrio ditransfer Ovarium merespons dengan baik (menghasilkan cukup sel telur) dan lapisan rahim cukup tebal dan siap menerima embrio. Nah fungsi dari TEAS adalah untuk membantu memperbaiki dua hal tersebut.
Penggunaan TEAS berhasil membuat lapisan rahim lebih optimal dan jumlah sel telur yang lebih banyak saat pengambilan (OPU) terutama ketika intensitas stimulasi cukup kuat namun tetap dalam batas aman dan nyaman.
Apakah Bisa Langsung Meningkatkan Angka Kehamilan?
Kehadiran terapi ini membantu memperbaiki “kondisi tubuh” seperti respons ovarium dan kesiapan endometrium. Namun keberhasilan kehamilan tetap dipengaruhi banyak faktor lain, seperti:
- Kualitas embrio
- Faktor genetik
- Kondisi hormonal
- Usia
Jadi TEAS bukan “jaminan hamil”, melainkan terapi pendamping untuk mengoptimalkan kondisi. Lalu siapa yang kira-kira cocok untuk menerapkan terapi ini? Terapi ini bisa dipertimbangkan pada pasien yang respons ovarium kurang optimal, pernah mendapatkan jumlah sel telur sedikit, memiliki riwayat endometrium tipis dan ingin pendekatan yang lebih holistik dalam program IVF. Tentunya tetap harus dikonsultasikan dengan dokter yang menangani programnya.
Dunia fertilitas sekarang tidak hanya berbicara tentang hormon dan prosedur medis saja. Pendekatan modern mulai menggabungkan terapi medis, pengaturan gaya hidup, dukungan nutrisi dan terapi komplementer seperti TEAS. Karena pada akhirnya, IVF bukan hanya soal laboratorium tetapi juga tentang bagaimana tubuh merespons secara keseluruhan. Dan setiap tubuh punya ceritanya sendiri, jadi dengarkan dan diskusikan dengan ahlinya ya sister dan paksu! jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya!
Referensi
- Zhai, Z. J., Liu, J. E., Lei, L. L., & Wang, S. Y. (2022). Effects of transcutaneous electrical acupoint stimulation on ovarian responses and pregnancy outcomes in patients undergoing IVF-ET: a randomized controlled trial. Chinese journal of integrative medicine, 28(5), 434-439.

Di dalam ovarium perempuan, terdapat ribuan folikel kecil yang menyimpan sel telur. Setiap bulan, sebagian folikel ini tumbuh dan satu di antaranya akan matang untuk dilepaskan saat ovulasi.
Namun pada beberapa kondisi seperti Primary Ovarian Insufficiency (POI) ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun jumlah folikel yang aktif sangat sedikit. Selama ini, banyak pasien POI hanya memiliki satu pilihan realistis untuk hamil: menggunakan donor sel telur.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Ovarium?
Penelitian menemukan bahwa pertumbuhan folikel ternyata diatur oleh jalur sinyal biologis di dalam sel, salah satunya disebut Hippo signaling pathway.
Secara sederhana, jalur Hippo ini berfungsi seperti “rem” yang menjaga agar pertumbuhan jaringan tetap terkendali. Jika jalur ini terlalu aktif, folikel bisa tetap berada dalam kondisi “tidur”.
Di sisi lain, ada jalur lain bernama Akt signaling, yang berperan seperti “tombol gas” untuk merangsang pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel. Keseimbangan antara “rem” dan “gas” inilah yang menentukan apakah folikel akan tumbuh atau tetap dorman.
Bagaimana Cara Mengaktifkan Folikel yang Tersisa?
Para peneliti mencoba pendekatan yang disebut in vitro activation (IVA).
Langkahnya secara garis besar seperti ini:
- Ovarium (atau sebagian jaringan ovarium) diambil melalui prosedur bedah minimal invasif.
- Jaringan tersebut dipotong menjadi fragmen kecil proses ini ternyata dapat “mengganggu” jalur Hippo.
- Jaringan kemudian diberikan stimulasi obat untuk mengaktifkan jalur Akt.
- Setelah itu, jaringan ovarium ditanam kembali ke tubuh pasien (autograft).
Mengapa Ini Penting? Pendekatan ini membuka kemungkinan baru untuk Pasien dengan Primary Ovarian Insufficiency (POI), Wanita dengan cadangan ovarium rendah, Pasien kanker yang berisiko kehilangan fungsi ovarium akibat terapi. Perempuan usia matang dengan respons ovarium yang sangat terbatas
Artinya, pada kondisi tertentu, ovarium yang “terlihat tidak aktif” mungkin masih menyimpan potensi hanya saja perlu pendekatan yang tepat untuk membangunkannya. Tentu saja, terapi ini tidak cocok untuk semua pasien dan masih memerlukan seleksi serta evaluasi ketat. Namun konsep bahwa folikel “tidur” bisa diaktifkan kembali mengubah cara kita memandang infertilitas akibat cadangan ovarium rendah. Dulu, pilihannya hampir selalu donor sel telur. Kini, ada kemungkinan menggunakan sel telur sendiri pada kondisi yang tepat. Ilmu reproduksi terus berkembang. Dan setiap perkembangan baru memberi satu hal yang sangat berarti bagi banyak pasangan harapan.
Referensi
- Kawamura, K., Cheng, Y., Suzuki, N., Deguchi, M., Sato, Y., Takae, S., … & Hsueh, A. J. (2013). Hippo signaling disruption and Akt stimulation of ovarian follicles for infertility treatment. Proceedings of the National Academy of Sciences, 110(43), 17474-17479.

Perlengketan di dalam rahim atau intrauterine adhesions (IUA) dapat menjadi salah satu penyebab infertilitas yang sering terlewat. Kondisi ini terjadi ketika dinding rahim saling menempel akibat jaringan parut, biasanya setelah kuretase, infeksi, atau tindakan bedah sebelumnya.
Kabar baiknya, prosedur histeroskopi untuk melepaskan perlengketan dapat membuka kembali peluang kehamilan. Namun, bagaimana hasil reproduksi setelah tindakan ini?
Apa yang sebenarnya terjadi setelah operasi pelepasan perlengketan rahim (adhesi) melalui histeroskopi?
Kabar baiknya, peluang kehamilan setelah tindakan ini cukup menjanjikan. Lebih dari separuh pasien berhasil hamil setelah menjalani prosedur, dan sebagian besar kehamilan terjadi dalam dua tahun pertama pascaoperasi. Artinya, tindakan ini memang memberikan kesempatan nyata bagi pasangan yang sebelumnya mengalami kesulitan karena perlengketan di dalam rahim.
Namun ada satu tanda penting yang sering kali menjadi indikator keberhasilan pemulihan: perubahan pola menstruasi.
Setelah operasi, dokter biasanya memperhatikan apakah haid menjadi lebih teratur atau volumenya membaik. Pasien yang mengalami perbaikan pola menstruasi umumnya memiliki peluang hamil yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami perubahan. Mengapa? Karena haid yang membaik sering mencerminkan bahwa lapisan dalam rahim (endometrium) telah pulih dan lebih siap menerima embrio untuk implantasi.
Meski peluang hamil cukup baik, kehamilan setelah riwayat intrauterine adhesions (IUA) tetap perlu pengawasan lebih ketat. Risiko keguguran bisa lebih tinggi dibandingkan populasi umum, dan ada kemungkinan komplikasi selama kehamilan. Karena itu, kontrol rutin dan pemantauan sejak awal kehamilan sangat dianjurkan agar kondisi ibu dan janin tetap terjaga.
Jadi, apa artinya bagi pasien dengan IUA?
Operasi histeroskopi dapat membuka kembali peluang untuk hamil. Perbaikan pola haid menjadi tanda prognosis yang baik. Kebanyakan kehamilan terjadi dalam dua tahun pertama setelah tindakan. Namun ketika kehamilan sudah tercapai, pemantauan tetap menjadi kunci.
Perlengketan rahim bukanlah akhir dari harapan memiliki anak. Dengan penanganan yang tepat dan evaluasi menyeluruh, kesempatan itu tetap ada. Karena dalam dunia fertilitas, pemulihan bukan hanya soal memperbaiki struktur rahim, tetapi juga memastikan fungsinya kembali optimal siap menyambut kehidupan baru dengan aman dan sehat. Jangan lupa juga untuk follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Weng, X. L., Xie, X., Liu, C. B., & Yi, J. S. (2022). Postoperative reproductive results of infertile patients with intrauterine adhesions: A retrospe

Infertilitas dialami sekitar 8–12% pasangan di seluruh dunia. Namun, sering kali fokus hanya tertuju pada hormon atau kualitas sel telur dan sperma. Padahal, ada faktor lain yang bekerja lebih “halus” tetapi sangat menentukan: epigenetik mekanisme yang mengatur bagaimana gen bekerja tanpa mengubah susunan DNA itu sendiri. Pahami lebih dalam yuk sister dan paksu!
Apa Itu Epigenetik dan Mengapa Penting?
Epigenetik adalah sistem “pengatur sakelar” gen. Gen kita mungkin sama, tetapi cara gen tersebut diekspresikan bisa berbeda tergantung usia, lingkungan, stres, dan yang paling penting nutrisi. Perubahan epigenetik bisa diwariskan, tidak mengubah struktur DNA, sangat dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup
Pada kasus infertilitas, pola epigenetik pada pria dan wanita sering kali berbeda dibandingkan individu yang subur. Artinya, bukan hanya gen yang berperan, tetapi juga bagaimana gen tersebut “diaktifkan” atau “dimatikan”.
Peran Nutrisi dalam Kesuburan
Tubuh membutuhkan energi dan zat gizi dalam jumlah yang seimbang. Terlalu sedikit atau terlalu banyak asupan bisa berdampak pada kesuburan.
Beberapa nutrisi yang berperan penting dalam regulasi epigenetik dan fertilitas antara lain:
- Folat & Vitamin B12 → mendukung proses metilasi gen
- Vitamin B6 & Biotin → membantu metabolisme hormon
- Vitamin D → berperan dalam fungsi ovarium dan spermatogenesis
- Zinc & Selenium → penting untuk kualitas sperma
- Choline → mendukung perkembangan sel
- CoQ10 → membantu produksi energi sel
- Resveratrol & Quercetin → senyawa bioaktif dengan efek antioksidan
Selain itu, asupan metionin dan keseimbangan energi juga memengaruhi proses metilasi DNA, salah satu mekanisme epigenetik utama.
Berat Badan, Insulin, dan Kesuburan
Berat badan yang berlebihan atau terlalu rendah dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi.Penurunan berat badan sekitar 5–10%, aktivitas fisik moderat, dan pola makan yang membantu meningkatkan sensitivitas insulin terbukti membantu memperbaiki fungsi reproduksi, terutama pada kondisi seperti PCOS. Tubuh yang metaboliknya stabil menciptakan lingkungan epigenetik yang lebih sehat untuk sel telur dan sperma.
Infertilitas pada Pria: Lebih dari Sekadar Jumlah Sperma
Pada pria, perubahan epigenetik dapat memengaruhi:
- Rasio histon-protamin pada sperma
- Regulasi gen yang terlibat dalam perkembangan embrio
- Kualitas DNA sperma
Stres oksidatif (ROS), defisiensi nutrisi tertentu, dan faktor lingkungan dapat mengubah pola epigenetik sperma dan berdampak pada keberhasilan pembuahan maupun perkembangan embrio.
Infertilitas pada Wanita: Regulasi Gen dan Lingkungan Rahim
Pada wanita, epigenetik berperan dalam fungsi ovarium, kualitas oosit, respons hormon seperti FSH dan AMH dan reseptivitas endometrium. Gangguan regulasi gen dapat memengaruhi kesiapan rahim menerima embrio serta kualitas sel telur itu sendiri.
Kesuburan Adalah Kombinasi Gen, Lingkungan, dan Gaya Hidup
Untuk memahami infertilitas secara menyeluruh, kita perlu melihat gambaran besar:
- Usia
- Kondisi kesehatan
- Pola makan
- Aktivitas fisik
- Paparan lingkungan
- Status metabolik
Semua faktor ini saling berinteraksi dan memengaruhi epigenetik tubuh. Hal tersebut dapat membantu menciptakan kondisi epigenetik yang lebih mendukung kesuburan. Karena pada akhirnya, kesuburan bukan hanya tentang DNA yang kita miliki tetapi tentang bagaimana tubuh kita menggunakannya. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya!
Referensi
- Erdoğan, K., Sanlier, N. T., & Sanlier, N. (2023). Are epigenetic mechanisms and nutrition effective in male and female infertility?. Journal of Nutritional Science, 12, e103.

Kesuburan pria tidak hanya ditentukan oleh jumlah sperma. Kualitas sperma termasuk motilitas, morfologi, dan integritas DNA sangat dipengaruhi oleh kondisi metabolik dan gaya hidup. Obesitas, resistensi insulin, inflamasi kronis ringan, serta stres oksidatif diketahui dapat menurunkan kualitas sperma. Karena itu, pendekatan nutrisi seperti fasting (puasa terkontrol) mulai dieksplorasi sebagai strategi untuk memperbaiki kesehatan reproduksi pria.
Mengapa Metabolisme Penting bagi Sperma?
Produksi sperma (spermatogenesis) membutuhkan:
- Keseimbangan hormon testosteron
- Regulasi insulin yang baik
- Lingkungan tubuh dengan inflamasi rendah
- Stres oksidatif yang terkendali
Gangguan metabolik dapat meningkatkan radikal bebas yang merusak DNA sperma dan menurunkan motilitasnya.
Apa yang Diamati pada Pria yang Menjalani Fasting?
Pendekatan fasting yang terkontrol menunjukkan beberapa potensi manfaat:
- Penurunan berat badan
- Perbaikan sensitivitas insulin
- Penurunan inflamasi sistemik
- Stabilitas metabolisme yang lebih baik
Artinya, dampak fasting tidak hanya fisiologis, tetapi juga berkaitan dengan perilaku dan konsistensi gaya hidup.
Apakah Fasting Langsung Meningkatkan Kualitas Sperma?
Hasil awal menunjukkan potensi perbaikan parameter metabolik yang relevan dengan kesehatan reproduksi pria. Namun:
- Respons setiap individu bisa berbeda
- Durasi dan jenis fasting memengaruhi hasil
- Bukti jangka panjang masih perlu diperkuat
Fasting bukan “terapi tunggal” untuk infertilitas pria, tetapi dapat menjadi bagian dari pendekatan komprehensif yang mencakup nutrisi, aktivitas fisik, manajemen stres, dan evaluasi medis.
Kesehatan sperma sangat dipengaruhi oleh kondisi metabolik tubuh.
Pendekatan fasting yang terkontrol berpotensi memperbaiki faktor-faktor yang mendukung produksi sperma yang sehat.
Namun, perubahan gaya hidup tetap perlu direncanakan secara individual dan dipantau secara medis terutama pada pria yang sedang menjalani program hamil. Karena dalam fertilitas, kesehatan metabolik adalah fondasi dari kualitas reproduksi. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya untuk informasi menarik lainnya!
Referensi
- May KT, Behling J, Sochiera-Plegniere K, Batschari K, Kessler CS, Michalsen A, Kandil FI, Blakeslee SB, Jeitler M, Stritter W and Koppold DA (2025) Fasting for male fertility—a mixed methods study. Front. Nutr. 11:1529466. doi: 10.3389/fnut.2024.1529466

Pada wanita dengan PCOS yang disertai infertilitas, tantangannya tidak hanya pada ovulasi yang jarang terjadi. Sering kali ditemukan kombinasi masalah seperti:
- Resistensi insulin
- Gangguan metabolisme lemak (kolesterol & trigliserida meningkat)
- Kelebihan berat badan
- Ketidakseimbangan hormon reproduksi
Semua faktor ini saling berkaitan dan memperburuk peluang kehamilan. Karena itu, intervensi gaya hidup terutama pola makan menjadi bagian penting dalam penanganan.
Apa yang Dimaksud dengan Light Fasting?
Light fasting adalah pembatasan asupan kalori secara ringan dan terkontrol dalam periode tertentu, tanpa puasa ekstrem atau restriksi berlebihan.
Program ini dirancang untuk mengurangi beban metabolik, memperbaiki sensitivitas insulin, membantu penurunan berat badan secara bertahap dan menstabilkan keseimbangan hormon. Dalam praktiknya, pola ini dapat dikombinasikan dengan flaxseed (biji rami), yang kaya akan:
- Serat larut
- Asam lemak omega-3
- Lignan (senyawa fitoestrogen alami)
Kombinasi ini bertujuan memberikan efek metabolik sekaligus hormonal.
Pada PCOS, gangguan keseimbangan LH dan androgen sering memicu gangguan pematangan folikel. Perbaikan hormonal ini dapat membantu menciptakan pola ovulasi yang lebih teratur. Perbaikan metabolisme lemak ini penting karena gangguan lipid sering ditemukan pada PCOS dan berkaitan dengan inflamasi kronis ringan yang dapat memengaruhi fungsi ovarium.
Mengapa Ini Penting untuk Kesuburan?
PCOS bukan hanya gangguan reproduksi, tetapi juga gangguan metabolik.
Ketika metabolisme membaik:
- Produksi androgen dapat menurun
- Sinyal hormon menjadi lebih seimbang
- Proses pematangan folikel lebih optimal
- Peluang ovulasi meningkat
Artinya, pendekatan nutrisi seperti light fasting berpotensi menjadi bagian dari strategi komprehensif untuk meningkatkan peluang hamil pada PCOS dengan infertilitas.
Light fasting dan suplementasi flaxseed menunjukkan potensi sebagai intervensi pendukung. Namun yang perlu diingat kalau tidak semua pasien PCOS memiliki profil metabolik yang sama, ada perubahan pola makan perlu disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing dan pendekatan ini tidak menggantikan evaluasi dan terapi fertilitas yang diperlukan
Pendekatan terbaik pada PCOS adalah kombinasi antara terapi medis, modifikasi gaya hidup, dan pemantauan klinis yang tepat. Perbaikan metabolik dapat membuka jalan bagi perbaikan reproduksi. Pada PCOS dengan infertilitas, mengelola insulin, lemak darah, dan keseimbangan hormon adalah langkah strategis dan nutrisi bisa menjadi bagian penting dari solusi tersebut.
Referensi
- Jiang X, Wang Y, Tang H, Ma J, Li H. Effect of light fasting diet therapy on lipid metabolism and sex hormone levels in patients with polycystic ovary syndrome combined with infertility. Gynecol Endocrinol. 2025 Dec;41(1):2458084. doi: 10.1080/09513590.2025.2458084. Epub 2025 Jan 29. PMID: 39878338.

Infertilitas memengaruhi sekitar 15–20% pasangan di dunia. Selain faktor medis, kini semakin disadari bahwa gaya hidup dan nutrisi merupakan faktor yang dapat dimodifikasi dan berpotensi memengaruhi kesuburan termasuk keberhasilan program bayi tabung (IVF).
Berat badan yang terlalu rendah maupun berlebih telah lama diketahui berdampak pada fungsi reproduksi. Namun lebih jauh dari itu, komposisi makanan sehari-hari juga diduga memainkan peran penting.
Mengapa Nutrisi Penting dalam Reproduksi?
Fungsi reproduksi perempuan bergantung pada:
- Keseimbangan hormon
- Sensitivitas insulin
- Kesehatan sel telur
- Kualitas endometrium
- Regulasi inflamasi dan stres oksidatif
Asupan makronutrien karbohidrat, protein, dan lemak dapat memengaruhi seluruh sistem ini.
Karena itu, perhatian kini tidak hanya tertuju pada terapi hormonal atau prosedur IVF, tetapi juga pada pola makan yang dijalani sebelum dan selama program.
Karbohidrat: Tidak Hanya Soal Energi
Karbohidrat adalah sumber energi utama tubuh. Namun jenis dan jumlahnya sangat menentukan dampaknya terhadap metabolisme.
Bahkan dalam penelitian menemukan bahwa pengurangan asupan karbohidrat sederhana dapat membantu wanita dengan obesitas atau PCOS, indeks glikemik yang lebih rendah berpotensi membantu stabilitas insulin dan resistensi insulin yang lebih terkendali dapat mendukung fungsi ovarium.
Protein: Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas
Beberapa pola makan yang menekankan protein nabati dibanding protein hewani tertentu menunjukkan potensi manfaat terhadap fungsi ovulasi. Meski demikian, bukti yang tersedia masih bervariasi dan belum menghasilkan rekomendasi universal.
Lemak: Omega-3 dan Omega-6, asupan omega-3 polyunsaturated fatty acids (PUFAs), yang banyak ditemukan pada ikan berlemak, kacang-kacangan, dan biji-bijian, dikaitkan dengan lingkungan inflamasi yang lebih terkendali, potensi perbaikan kualitas oosit dan dukungan terhadap implantasi embrio
Sebaliknya, konsumsi omega-6 berlebihan dan beberapa produk susu menunjukkan hasil yang masih kontroversial sebagian studi menemukan manfaat, sementara lainnya tidak menunjukkan perbedaan signifikan.
Pola Makan dan Hasil IVF
Beberapa pola makan, termasuk pendekatan mirip diet Mediterania yang kaya Whole grain, sayuran, buah dan lemak sehat (terutama omega-3) menunjukkan kecenderungan hasil reproduksi yang lebih baik. Apa Artinya bagi Pasien IVF? Nutrisi adalah faktor yang bisa dimodifikasi. Artinya, berbeda dengan usia atau cadangan ovarium, pola makan masih bisa diperbaiki.
Namun penting untuk dipahami bahwa nutrisi bukan “jaminan keberhasilan IVF”, melainkan bagian dari strategi menyeluruh yang mencakup evaluasi medis, protokol stimulasi yang tepat, dan kondisi metabolik yang optimal.
Pola makan memiliki potensi untuk memengaruhi fertilitas perempuan dan hasil IVF. Whole grain, sayuran, dan omega-3 tampak menjanjikan, sementara beberapa aspek lain masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Untuk sister dan paksu perlu diketahui bahwasanya dalam konteks program hamil, memperbaiki nutrisi bukan sekadar tren gaya hidup tetapi bagian dari upaya menciptakan lingkungan biologis yang lebih mendukung terjadinya kehamilan.
Referensi
- Budani, M. C., & Tiboni, G. M. (2023). Nutrition, female fertility and in vitro fertilization outcomes. Reproductive Toxicology, 118, 108370.