Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah salah satu kondisi paling sering ditemui pada perempuan usia reproduktif dan juga salah satu yang paling sering disalahpahami. Banyak sister baru “kenal” PCOS saat promil terasa berat, siklus haid tak teratur, atau dua garis terasa makin jauh. Padahal, PCOS bukan hanya soal ovarium, melainkan kondisi kompleks yang melibatkan hormon, metabolisme, dan sistem tubuh secara menyeluruh.
PCOS diperkirakan memengaruhi sekitar 4–20% perempuan usia subur, tergantung kriteria diagnosis yang digunakan. Variasi angka ini sendiri sudah menggambarkan satu hal penting: PCOS bukan kondisi tunggal dengan wajah yang sama pada setiap perempuan.
PCOS dan Tantangan Diagnosis
Salah satu alasan PCOS sering membingungkan adalah karena kriteria diagnosisnya terus berkembang. Hingga kini, kriteria yang paling banyak digunakan secara global adalah kriteria Rotterdam (2003).
Menurut kriteria ini, PCOS ditegakkan bila minimal dua dari tiga kondisi berikut terpenuhi:
- Siklus haid tidak teratur atau tidak ovulasi
- Tanda kelebihan hormon androgen (secara klinis atau laboratorium)
- Gambaran ovarium polikistik pada USG
Artinya, tidak semua perempuan PCOS memiliki kista, dan tidak semua yang ovariumnya tampak polikistik pasti PCOS. Inilah yang sering membuat banyak sister merasa “hasilnya abu-abu” atau bolak-balik ganti diagnosis.
Pada remaja, diagnosis bahkan lebih menantang. Karena itu, hiperandrogenisme dan gangguan siklus haid menjadi penanda yang lebih penting dibandingkan hasil USG semata.
Akar Masalah PCOS: Lebih dari Satu Pintu
Hiperandrogenisme
PCOS sangat lekat dengan kondisi kelebihan hormon androgen. Secara klinis, ini bisa muncul sebagai:
- pertumbuhan rambut berlebih (hirsutisme),
- jerawat androgenik,
- atau kerontokan rambut pola laki-laki.
Namun tidak semua perempuan menunjukkan gejala yang jelas. Di sinilah pemeriksaan laboratorium menjadi penting meski sayangnya, standarisasi pemeriksaan hormon androgen pada perempuan masih menjadi tantangan besar.
Resistensi Insulin
Sekitar 12–60% perempuan dengan PCOS mengalami resistensi insulin, bahkan pada mereka yang tidak obesitas. Kondisi ini membuat tubuh membutuhkan insulin lebih banyak untuk mengontrol gula darah.
Insulin berlebih tidak hanya berdampak pada metabolisme, tapi juga:
- merangsang pelepasan hormon LH,
- meningkatkan produksi androgen,
- mengganggu pematangan folikel dan ovulasi.
Inilah sebabnya PCOS sering berjalan beriringan dengan hiperglikemia, obesitas sentral, dan sindrom metabolik.
Peran Anti-Müllerian Hormone (AMH)
AMH dikenal luas sebagai penanda cadangan ovarium, namun pada PCOS, ceritanya berbeda. Perempuan dengan PCOS umumnya memiliki kadar AMH yang lebih tinggi, bukan karena cadangan “lebih subur”, tetapi karena banyaknya folikel kecil yang berhenti tumbuh.
Saat ini, AMH mulai dilirik sebagai alternatif penanda PCOS, namun penggunaannya masih dibatasi oleh:
- variasi metode pemeriksaan,
- belum adanya cut-off yang benar-benar baku,
- dan perbedaan kadar berdasarkan usia.
Artinya, AMH tinggi bukan vonis, dan AMH bukan satu-satunya kunci diagnosis.
PCOS dan Dampaknya pada Kesuburan
Dalam konteks promil, PCOS memang menjadi salah satu penyebab utama infertilitas perempuan. Gangguan ovulasi, kualitas sel telur, hingga peningkatan risiko keguguran membuat perjalanan dua garis terasa lebih panjang.
Studi menunjukkan:
- sekitar 72% perempuan dengan PCOS mengalami infertilitas,
- risiko keguguran, preeklamsia, dan diabetes gestasional juga lebih tinggi.
Namun penting digarisbawahi: PCOS bukan berarti tidak bisa hamil. Banyak perempuan dengan PCOS tetap mencapai kehamilan, baik secara alami maupun dengan bantuan, ketika pendekatan yang digunakan menyentuh akar masalahnya, bukan hanya memaksa ovulasi.
PCOS Bukan Hanya Masalah Reproduksi
PCOS juga berkaitan erat dengan:
- sindrom metabolik,
- tekanan darah tinggi,
- dislipidemia,
- dan risiko jangka panjang penyakit kardiovaskular.
Karena itu, PCOS seharusnya tidak dipandang hanya sebagai “masalah rahim”, melainkan kondisi kesehatan jangka panjang yang perlu dipahami secara utuh.
Masa Depan Diagnosis PCOS
Menariknya, penelitian terbaru mulai menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam membantu deteksi dan prediksi PCOS. Dengan memanfaatkan data besar dan machine learning, AI berpotensi:
- meningkatkan akurasi diagnosis,
- membantu klasifikasi fenotipe PCOS,
- dan mendukung pengambilan keputusan klinis lebih awal.
Namun tetap, teknologi hanyalah alat. Pemahaman klinis dan pendekatan yang manusiawi tetap menjadi kunci.
Untuk sister pejuang dua garis dengan PCOS, satu hal penting untuk diingat:
PCOS bukan satu cerita, dan bukan akhir cerita.
Ia adalah kondisi kompleks yang menuntut pendekatan personal, sabar, dan menyeluruh bukan sekadar mengejar ovulasi, tapi merawat tubuh secara utuh agar siap menjalani kehamilan yang sehat dan bertahan. Jagan lupa informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Dar, M. A., Maqbool, M., Qadrie, Z., Ara, I., & Qadir, A. (2024). Unraveling PCOS: Exploring its causes and diagnostic challenges. Open Health, 5(1), 20230026.

Selama ini, hipertensi dalam kehamilan sering dipandang sebagai masalah yang “selesai” begitu persalinan berakhir. Tekanan darah menurun, ibu dipulangkan, dan fokus perawatan bergeser sepenuhnya ke bayi. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa anggapan ini keliru. Kehamilan, khususnya yang disertai gangguan hipertensi, merupakan sebuah “uji stres vaskular” yang dapat membuka jalan menuju penyakit kardiovaskular dalam waktu relatif singkat setelah melahirkan.
Setelah Melahirkan, Tubuh Ibu Belum Selesai Bekerja
Banyak orang mengira, begitu bayi lahir dan ibu pulang dari rumah sakit, fase paling berat sudah terlewati. Padahal bagi sebagian perempuan terutama yang mengalami hipertensi saat hamil cerita tubuh justru belum selesai.
Sebuah studi besar yang mengikuti ribuan perempuan selama dua tahun setelah melahirkan menunjukkan satu hal penting: risiko penyakit jantung bisa muncul jauh lebih cepat dari yang selama ini kita bayangkan.
Kenapa Dua Tahun Pertama Itu Penting?
Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu pada perempuan. Dan sejak lama, dunia medis sudah tahu bahwa gangguan tekanan darah saat hamil seperti preeklampsia atau hipertensi gestasional meninggalkan “jejak” pada jantung dan pembuluh darah.
Masalahnya, sebagian besar perhatian medis hanya tertuju pada dua periode ekstrem:
- masa nifas singkat (6 minggu–1 tahun), atau
- risiko jangka panjang puluhan tahun kemudian.
Padahal ada satu fase di tengah-tengah yang sering luput: tahun pertama hingga kedua setelah melahirkan. Inilah masa transisi, ketika tubuh sedang mencoba kembali “normal”, tapi justru menjadi sangat rentan.
Risiko yang Datang Lebih Cepat dari Dugaan
Dalam dua tahun pertama pascapersalinan, perempuan dengan riwayat hipertensi saat hamil terbukti lebih berisiko mengalami:
- gagal jantung
- kardiomiopati (gangguan otot jantung)
- stroke
- hipertensi kronis yang baru muncul
Bulan Pertama: Masa Paling Rapuh
Hampir setengah kasus gangguan jantung berat pada ibu dengan riwayat hipertensi kehamilan muncul dalam bulan pertama setelah melahirkan.
Artinya, saat seorang ibu:
- masih belajar menyusui
- kurang tidur
- sedang memulihkan luka fisik dan mental
di saat yang sama, jantungnya bisa sedang berada dalam kondisi paling rentan.
Ini menegaskan satu hal penting: risiko jantung bukan hanya cerita masa depan ia bisa hadir segera setelah persalinan.
Bukan Semua Penyakit Jantung Muncul Sekaligus
Menariknya, tidak semua jenis penyakit jantung meningkat pada fase ini. Gangguan seperti penyakit jantung iskemik atau henti jantung belum menunjukkan lonjakan signifikan dalam dua tahun pertama. Ini menunjukkan bahwa setiap jenis penyakit punya “waktu muncul” yang berbeda dan karena itu, pendekatan pencegahannya juga tidak bisa disamaratakan.
Tantangan Nyata di Dunia Nyata
Meski risiko ini nyata, praktik di lapangan masih punya banyak celah.
Tidak semua ibu mendapat pemantauan jantung lanjutan setelah melahirkan. Beberapa kendala yang sering terjadi:
- asuransi kesehatan berhenti setelah masa nifas
- belum ada jadwal skrining jantung postpartum yang jelas
- fokus layanan kesehatan lebih cepat bergeser ke bayi
Padahal, justru ibu dengan riwayat hipertensi kehamilan membutuhkan perhatian ekstra di fase ini.
Hipertensi Saat Hamil Bukan Cerita yang Selesai di Ruang Bersalin
Pesan besarnya sederhana tapi penting: hipertensi dalam kehamilan bukan sekadar “masalah sementara”. Ia adalah tanda awal bahwa tubuh khususnya sistem kardiovaskular perlu dipantau lebih serius setelah melahirkan.
Dengan memahami kapan risiko paling tinggi dan jenis gangguan apa yang paling mungkin muncul, tenaga kesehatan dan sistem layanan punya peluang besar untuk:
- mendeteksi lebih awal
- mencegah komplikasi berat
- melindungi kesehatan ibu untuk jangka panjang
Karena melahirkan bukan garis akhir. Bagi tubuh perempuan, itu sering kali adalah awal dari fase baru yang sama pentingnya untuk dijaga. Untuk sister yang sampai berhasil di tahap ini jangan lupa untuk tetap melakukan perawatan dan mendeteksi jika ada yang dirasa menyakitkan ya! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Ackerman-Banks, C. M., Lipkind, H. S., Palmsten, K., & Ahrens, K. A. (2023). Association between hypertensive disorders of pregnancy and cardiovascular diseases within 24 months after delivery. American journal of obstetrics and gynecology, 229(1), 65-e1.

Selama ini, ketika bicara soal infertilitas pria, fokus kita hampir selalu berhenti pada tiga hal: jumlah sperma, pergerakannya, dan bentuknya. Kalau hasil analisis sperma terlihat “normal”, sering kali kesimpulan cepatnya adalah tidak ada masalah berarti. Padahal, penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sperma membawa sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar DNA.
Infertilitas Pria: Lebih Umum dari yang Kita Kira
Secara global, sekitar 8–12% pasangan mengalami infertilitas, dan hampir separuh kasus melibatkan faktor pria. Namun menariknya, riset genetik klasik baru mampu menjelaskan sebagian kecil penyebab infertilitas pria. Artinya, ada “lapisan lain” yang selama ini luput dari perhatian.
Epigenetik menawarkan penjelasan tersebut. lalu apa itu Epigenetik Sperma?
Epigenetik merujuk pada cara gen “diatur” tanpa mengubah urutan DNA. Pada sperma manusia, regulasi ini sangat spesifik dan berperan besar dalam:
- pematangan sperma
- kualitas sperma
- perkembangan embrio awal setelah pembuahan
Dengan kata lain, sperma bukan hanya membawa kode genetik, tapi juga instruksi tambahan tentang bagaimana gen tersebut akan bekerja.
Saat epigenetik sperma terganggu
berbagai penelitian pada pria infertil menunjukkan pola yang relatif konsisten. Ditemukan adanya perubahan metilasi DNA pada gen-gen kunci yang berperan dalam pembentukan dan pematangan sperma, seperti DAZL, MTHFR, H19, dan RHOX. Selain itu, terjadi ketidakseimbangan rasio protamine PRM1/PRM2 yang seharusnya berfungsi memadatkan DNA sperma secara optimal, sehingga materi genetik menjadi lebih rentan terhadap kerusakan. Perubahan lain juga terlihat pada penanda histon, yang berperan penting dalam menjaga stabilitas dan regulasi materi genetik sperma. Menariknya, gangguan epigenetik ini tidak hanya ditemukan pada kondisi infertilitas berat, tetapi juga pada pria dengan jumlah sperma rendah, gerak sperma yang buruk, bentuk sperma abnormal, hingga kasus infertilitas dengan penyebab yang selama ini dianggap “tidak jelas”.
Menariknya, gangguan epigenetik ini bisa terjadi meski hasil spermiogram tampak normal.
Dampaknya Tidak Berhenti di Sperma
Epigenetik sperma tidak hanya berpengaruh pada kemampuan membuahi sel telur, tetapi juga:
- kualitas embrio
- keberhasilan implantasi
- hasil program IVF dan ICSI
Bagaimana dengan IVF dan ICSI?
Teknologi reproduksi berbantu seperti IVF dan ICSI memang membuka peluang besar bagi pasangan infertil. Namun penelitian juga menunjukkan bahwa:
- sebagian pria yang menjalani ART memiliki pola epigenetik sperma yang menyimpang
- perubahan epigenetik tertentu berkaitan dengan hasil ART yang kurang optimal
Ini tidak berarti ART berbahaya, tetapi menegaskan bahwa kualitas biologis sperma tetap berperan besar, bahkan dalam teknologi secanggih apa pun.
Tujuan dari pembahasan epigenetik sperma adalah setidaknya mengubah cara kita memandang infertilitas pria. Masalahnya tidak selalu terlihat di permukaan, dan tidak selalu bisa dijawab dengan satu angka hasil lab.
Infertilitas pria bukan soal “kurang jantan” atau “sperma sedikit” semata, tapi tentang bagaimana informasi biologis di dalam sperma disiapkan dan diwariskan.
Dengan pemahaman yang lebih utuh, pendekatan terhadap infertilitas pria bisa menjadi lebih adil, lebih presisi dan lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, sperma bukan sekadar sel kecil ia membawa cerita biologis panjang yang ikut menentukan awal sebuah kehidupan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujduagaris.id ya!
Referensi
- Hosseini, M., Khalafiyan, A., Zare, M., Karimzadeh, H., Bahrami, B., Hammami, B., & Kazemi, M. (2024). Sperm epigenetics and male infertility: unraveling the molecular puzzle. Human genomics, 18(1), 57.

Dalam dua dekade terakhir, dunia fertilitas mengalami banyak perubahan. Salah satu yang paling berpengaruh namun jarang dipertanyakan ulang adalah praktik elective single embryo transfer (eSET), atau transfer satu embrio saja dalam program IVF.
Kebijakan ini pertama kali diperkenalkan pada akhir 1990-an dengan niat baik: mengurangi kehamilan kembar dan risiko komplikasi kehamilan. Namun, seiring waktu, eSET berkembang dari sebuah opsi menjadi standar praktik di banyak klinik IVF di seluruh dunia. Pertanyaannya kini:
Apakah satu embrio benar-benar selalu pilihan terbaik untuk semua pasien? Pahami lebih lanjut yuk sister!
Bagaimana Kata Temuan?
Dalam dunia medis, setiap tindakan seharusnya didasarkan pada keseimbangan antara manfaat dan risiko. Pada eSET justru memperpanjang waktu untuk hamil dan menurunkan peluang kelahiran hidup, terutama pada siklus IVF segar non-donor.
Meski begitu banyak yang beredar, disaat eSET dipromosikan sebagai praktik yang “lebih aman”, data global justru menunjukkan penurunan signifikan angka kehamilan dan kelahiran hidup selama periode adopsi luas kebijakan ini.
Artinya, yang dikorbankan bukan hanya angka statistik, tetapi juga waktu, energi emosional, dan biaya yang harus ditanggung pasien.
IVF dan Hak Pasien untuk Menentukan Pilihan
Untuk itu dalam segala proses, semuanya harus disesuaikan dengan hak pasien untuk menentukan pilihan. Bagi banyak perempuan infertil, terutama yang usianya tidak lagi muda atau telah menjalani banyak siklus IVF gagal, tujuan utama bukan sekadar menghindari kehamilan kembar tetapi hamil secepat mungkin dengan peluang terbaik.
Namun dalam praktiknya, eSET seringkali dipaksakan sebagai “pilihan paling benar”, tanpa ruang diskusi yang seimbang. Preferensi pasien termasuk keinginan memiliki anak kembar kerap dianggap sebagai sesuatu yang keliru, padahal itu adalah bagian dari hak reproduksi dan otonomi tubuh.
Dalam artikel ini bumin mengingatkan bahwa kehamilan kembar tidak bisa serta-merta dicap sebagai “hasil buruk”, tanpa melihat konteks klinis dan nilai yang dianut pasien.
Meski begitu tentu saja eSET tidak harus ditinggalkan sepenuhnya. Pada kelompok pasien tertentu dengan prognosis sangat baik, eSET memang dapat menjadi pilihan yang masuk akal. Yang bermasalah disini adalah menjadikannya aturan umum untuk semua pasien adalah masalah besar.
Setiap perempuan datang ke klinik fertilitas dengan cerita biologis, emosional, dan sosial yang berbeda. Pendekatan “satu protokol untuk semua” tidak hanya mengabaikan kompleksitas tubuh perempuan, tetapi juga berisiko menurunkan peluang keberhasilan yang sebenarnya masih bisa diperjuangkan.
Pada artikel ini bumin mengajak sister dan paksu untuk bersikap lebih kritis terhadap praktik yang sudah telanjur dianggap “standar”. Dalam dunia IVF, lebih sedikit intervensi tidak selalu berarti lebih baik, dan lebih aman tidak selalu berarti lebih efektif.
Transfer satu embrio mungkin tepat untuk sebagian pasien, tetapi transfer lebih dari satu embrio masih dapat dibenarkan pada banyak pasien lainnya, selama dilakukan dengan pertimbangan medis yang matang dan diskusi terbuka dengan pasien.
Pada akhirnya, tujuan utama program hamil bukan hanya mengikuti tren praktik global, tetapi membantu perempuan dan pasangan mencapai kehamilan dengan cara yang paling masuk akal, manusiawi, dan sesuai dengan kondisi mereka. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya
Referensi
- Gleicher, N., & Orvieto, R. (2022). Transferring more than one embryo simultaneously is justifiable in most patients. Reproductive BioMedicine Online, 44(1), 1-4.

Sejak diperkenalkan pada awal 1990-an, intracytoplasmic sperm injection (ICSI) menjadi salah satu prosedur paling sering digunakan dalam teknologi reproduksi berbantu. Awalnya, teknik ini diciptakan untuk membantu pasangan dengan infertilitas pria berat, ketika sperma sangat sedikit atau sulit membuahi sel telur secara alami.
Namun, dalam praktik klinis modern, penggunaan ICSI meluas jauh dari tujuan awalnya. Saat ini, ICSI kerap digunakan hampir secara rutin dalam prosedur IVF, termasuk pada kasus infertilitas perempuan atau bahkan tanpa faktor infertilitas pria yang jelas. Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah penggunaan ICSI selalu aman bagi anak yang dilahirkan?
Infertilitas atau Prosedurnya?
Secara biologis, sperma bukan hanya pembawa DNA, tetapi juga membawa informasi epigenetik yang berperan dalam perkembangan embrio. Prosedur ICSI melewati proses seleksi alami sperma dan melibatkan manipulasi langsung terhadap sel telur. Secara teori, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan awal embrio, termasuk sistem saraf.
Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, sebuah studi besar berbasis populasi dilakukan di Taiwan, menggunakan data nasional yang sangat komprehensif.
Ketika Data Besar Membantu Menjernihkan Kekhawatiran
Dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran tentang dampak teknologi reproduksi berbantu terhadap kesehatan anak semakin sering muncul. Banyak pasangan bertanya-tanya: apakah masalah kesuburan orang tua bisa memengaruhi perkembangan anak di masa depan.
Salah satu temuan terpenting dari penelitian ini justru cukup menenangkan. Masalah kesuburan, baik pada perempuan maupun laki-laki, ternyata tidak secara otomatis meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada anak.
Anak-anak yang lahir dari pasangan infertil dan menjalani program hamil tanpa prosedur tertentu yang lebih invasif menunjukkan pola tumbuh kembang yang serupa dengan anak-anak dari kehamilan alami. Dengan kata lain, memiliki riwayat infertilitas bukan berarti masa depan anak akan dibayangi oleh risiko perkembangan yang lebih buruk.
Temuan ini membantu meluruskan anggapan yang selama ini sering muncul di tengah masyarakat, bahwa kesulitan hamil identik dengan risiko jangka panjang pada anak. Kenyataannya, tubuh manusia dan proses kehamilan jauh lebih kompleks, dan tidak semua intervensi atau kondisi membawa dampak yang sama.
ICSI dan Risiko yang Perlu Diperhatikan
Berbeda dengan ART tanpa ICSI, penggunaan ICSI menunjukkan hasil yang konsisten. Anak yang dikandung melalui ART dengan ICSI memiliki:
- risiko ASD sekitar 2,5 kali lebih tinggi,
- risiko developmental delay hampir 2 kali lebih tinggi.
Peningkatan risiko ini ditemukan baik pada pasangan dengan infertilitas pria maupun perempuan. Menariknya, risiko ADHD tidak meningkat secara signifikan, menunjukkan bahwa dampak ICSI mungkin lebih spesifik pada aspek tertentu dari perkembangan saraf.
Mengapa ICSI Bisa Berpengaruh? diantaranya dikarenakan oleh:
- sperma dipilih dan disuntikkan secara manual, tanpa seleksi alami,
- sperma dengan kualitas genetik atau epigenetik yang kurang optimal tetap dapat membuahi sel telur,
- sel telur mengalami stres selama proses manipulasi,
- serta kemungkinan perubahan regulasi epigenetik yang penting bagi perkembangan otak embrio.
Hal menarik lainnya adalah: ICSI tidak selalu meningkatkan angka keberhasilan kehamilan. Dalam studi ini, penggunaan ICSI tidak secara konsisten meningkatkan angka fertilisasi, kehamilan klinis, maupun kelahiran hidup dibandingkan ART tanpa ICSI baik pada infertilitas pria maupun perempuan. Ini menantang anggapan bahwa ICSI selalu menjadi pilihan “lebih aman dan lebih efektif”.
ICSI tetap sangat penting pada kondisi tertentu, seperti:
- azoospermia,
- oligozoospermia berat,
- kegagalan fertilisasi berulang pada IVF konvensional.
Namun, penggunaan rutin ICSI tanpa indikasi yang jelas perlu dievaluasi kembali. Bagi pasangan, studi ini menegaskan bahwa informasi adalah hak. Risiko yang dilaporkan memang relatif kecil secara absolut, tetapi cukup bermakna secara ilmiah. Karena itu, keputusan promil idealnya dibuat melalui diskusi terbuka mengenai manfaat, risiko jangka panjang, dan alternatif prosedur yang tersedia.
Dalam dunia reproduksi berbantu, lebih invasif tidak selalu berarti lebih baik. Bukan hanya keberhasilan hamil yang perlu dipertimbangkan, tetapi juga kesehatan anak di masa depan.
ICSI adalah alat yang sangat membantu bila digunakan pada kondisi yang tepat. Seperti semua intervensi medis, kuncinya adalah penggunaan yang proporsional, bertanggung jawab, dan berpusat pada kebutuhan pasien. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
- Lo, H., Weng, S. F., & Tsai, E. M. (2022). Neurodevelopmental disorders in offspring conceived via in vitro fertilization vs intracytoplasmic sperm injection. JAMA Network Open, 5(12), e2248141.

Selama ini, pembicaraan tentang usia dan kesuburan hampir selalu berfokus pada perempuan. Padahal, semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa usia ayah juga berperan penting baik terhadap peluang hamil maupun kesehatan anak yang dilahirkan.
Dalam beberapa dekade terakhir, usia ayah saat pertama kali memiliki anak terus meningkat. Faktor sosial seperti pendidikan lebih panjang, pernikahan yang ditunda, stabilitas ekonomi, hingga kemajuan teknologi reproduksi membuat banyak pria baru merencanakan kehamilan di usia yang lebih matang. Namun, pilihan ini bukan tanpa konsekuensi biologis.
Usia Ayah dan Penurunan Kualitas Sperma
Seiring bertambahnya usia, fungsi testis perlahan mengalami penurunan. Testis bukan hanya tempat produksi sperma, tetapi juga pusat pengaturan hormon reproduksi pria. Studi menunjukkan bahwa pria usia lanjut cenderung mengalami:
- penurunan volume testis,
- berkurangnya jumlah sel Leydig (penghasil testosteron),
- serta gangguan sel Sertoli yang berperan penting dalam proses pembentukan sperma.
Perubahan ini berdampak langsung pada kadar hormon, terutama testosteron, yang berhubungan dengan libido, energi, dan fungsi seksual. Tak jarang, pria usia lanjut juga mengalami gejala andropause seperti penurunan gairah seksual dan kelelahan, yang secara tidak langsung memengaruhi peluang kehamilan.
Perubahan Parameter Sperma Seiring Usia
Analisis semen menjadi pemeriksaan awal penting dalam infertilitas pria. Sejumlah penelitian besar menunjukkan bahwa dengan bertambahnya usia ayah:
- volume semen cenderung menurun,
- pergerakan sperma (motilitas) melemah,
- dan persentase bentuk sperma normal semakin berkurang.
Menariknya, konsentrasi sperma tidak selalu menurun secara signifikan, tetapi kualitas fungsional sperma yang menentukan keberhasilan pembuahan jelas terdampak. Penurunan ini mulai terlihat lebih nyata setelah usia 35–40 tahun, dan semakin jelas setelah usia 45 tahun.
Kapan Kesuburan Pria Mulai Menurun?
Berbeda dengan perempuan yang memiliki batas usia reproduksi yang relatif jelas, penurunan kesuburan pria bersifat lebih gradual. Namun, data menunjukkan bahwa perubahan kualitas sperma mulai terlihat setelah usia 34–35 tahun,motilitas dan morfologi sperma menurun signifikan setelah usia 40, dan risiko infertilitas meningkat nyata di atas usia 45 tahun. Artinya, meski pria masih bisa menghasilkan sperma hingga usia lanjut, kemampuan sperma tersebut untuk membuahi dan menghasilkan kehamilan sehat tidak lagi sama.
Kerusakan DNA Sperma: Faktor Kunci yang Sering Terlewat
Salah satu dampak paling penting dari usia ayah adalah meningkatnya kerusakan DNA sperma. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh stres oksidatif dan kegagalan mekanisme perlindungan DNA dalam sperma.
Penelitian menunjukkan bahwa pria di atas usia 45 tahun memiliki tingkat fragmentasi DNA sperma hampir dua kali lipat dibandingkan pria di bawah 30 tahun. Kerusakan DNA sperma ini berhubungan dengan:
- waktu hamil yang lebih lama,
- risiko kegagalan kehamilan,
- serta keberhasilan yang lebih rendah pada program seperti IUI, IVF, dan ICSI.
Bahkan, kualitas DNA sperma dianggap sebagai indikator yang lebih akurat untuk memprediksi kehamilan dibandingkan parameter sperma konvensional.
Telomer: Paradoks Usia Ayah dan Anak
Menariknya, usia ayah tidak selalu berdampak negatif dalam semua aspek. Telomer struktur pelindung di ujung kromosom justru cenderung lebih panjang pada sperma pria yang lebih tua, dan panjang telomer ini dapat diwariskan ke anak.
Anak dari ayah berusia lanjut sering memiliki telomer leukosit yang lebih panjang, yang dikaitkan dengan harapan hidup lebih baik dan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. Namun, efek ini juga memiliki sisi lain, karena telomer yang lebih panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker.
Risiko Gangguan Genetik dan Psikiatrik pada Anak
Bertambahnya usia ayah juga meningkatkan risiko mutasi genetik baru (de novo mutations) dan kelainan kromosom. Sejumlah kondisi yang dikaitkan dengan usia ayah lanjut meliputi:
- gangguan spektrum autisme,
- skizofrenia dan gangguan bipolar,
- leukemia anak,
- serta kelainan tulang tertentu seperti achondroplasia.
Risiko ini tidak berarti anak pasti mengalami gangguan, tetapi probabilitasnya meningkat secara statistik, terutama pada ayah berusia lanjut.
Apa artinya untuk sister dan paksu? tentu saja edukasi yang jujur dan berbasis data membantu pasangan:
- membuat keputusan promil yang lebih realistis,
- memahami risiko sejak awal,
- dan memilih strategi yang sesuai, termasuk pemeriksaan lanjutan seperti tes fragmentasi DNA sperma.
Kesuburan bukan sekadar soal “masih bisa atau tidak”, tetapi soal kualitas biologis yang berubah seiring waktu. Semakin baik kita memahami perubahan ini, semakin bijak keputusan yang bisa diambil bukan dengan rasa takut, tetapi dengan pengetahuan. Jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Kaltsas, A., Moustakli, E., Zikopoulos, A., Georgiou, I., Dimitriadis, F., Symeonidis, E. N., … & Zachariou, A. (2023). Impact of advanced paternal age on fertility and risks of genetic disorders in offspring. Genes, 14(2), 486.

Banyak perempuan bertanya diam-diam:
“Kalau ibu saya susah hamil, apakah saya juga akan begitu?”
Atau, “Kalau di keluarga saya banyak yang keguguran, apakah risikonya lebih besar?”
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak berlebihan. Dalam beberapa dekade terakhir, ilmu reproduksi mulai menelusuri pola antargenerasi (intergenerational trends) dalam infertilitas dan kehilangan kehamilan. Bukan untuk menyimpulkan bahwa semuanya ditentukan oleh keturunan, tetapi untuk memahami apakah ada jejak biologis, lingkungan, atau perilaku yang ikut diwariskan.
Apa yang Dimaksud Pola Antargenerasi?
Pola antargenerasi berarti kecenderungan suatu kondisi muncul pada beberapa generasi dalam satu keluarga. Dalam konteks reproduksi, ini bisa terjadi melalui:
- Faktor genetik atau epigenetik
- Paparan lingkungan dan gaya hidup yang serupa dalam keluarga
- Paparan saat dalam kandungan (in utero exposure)
Ketiganya sering kali saling berkelindan, sehingga sulit dipisahkan secara tegas.
Secara global, infertilitas dialami sekitar 1 dari 7 pasangan. Menariknya, sejumlah studi menunjukkan bahwa beberapa komponen infertilitas tampak memiliki pola keluarga.
Ovulatory Dysfunction dan Cadangan Ovarium
Cadangan oosit perempuan ditentukan sejak dalam kandungan. Karena itu, kondisi ibu saat hamil berpotensi memengaruhi kesuburan anak perempuannya di masa depan.
Penelitian menunjukkan bahwa:
- Usia menopause ibu berkaitan dengan cadangan ovarium anak perempuan
- Ibu yang mengalami menopause dini lebih mungkin memiliki anak perempuan dengan cadangan ovarium lebih rendah
- Premature ovarian insufficiency (POI) dapat muncul pada beberapa anggota keluarga
Namun, bukti ilmiahnya masih terbatas dan banyak studi berukuran kecil. Artinya, ada sinyal biologis, tetapi belum cukup kuat untuk dijadikan alat prediksi individual.
PCOS dan Endometriosis: Jejak Keluarga yang Lebih Konsisten
Dibandingkan kondisi lain, PCOS dan endometriosis menunjukkan pola antargenerasi yang relatif lebih jelas. Datanya sekitar 40% perempuan dengan PCOS memiliki riwayat keluarga tingkat pertama. Daughters dari ibu dengan endometriosis memiliki risiko dua kali lipat mengalami kondisi yang sama
Meski belum ditemukan satu gen tunggal penyebab, kombinasi faktor genetik, hormonal, metabolik, dan lingkungan diduga berperan. Ini menjelaskan mengapa dua perempuan dalam satu keluarga bisa sama-sama mengalami gangguan ovulasi atau nyeri haid berat, tetapi dengan manifestasi yang berbeda.
Lalu bagaimana dengan laki-laki?
Selama bertahun-tahun, pembahasan pola keluarga dalam infertilitas lebih fokus pada perempuan. Padahal, data awal menunjukkan bahwa infertilitas faktor pria juga bisa muncul dalam pola keluarga. Hal ini dipengaruhi oleh:
- Paparan rokok ibu saat hamil berhubungan dengan jumlah sperma anak laki-laki di usia dewasa
- Paparan ini tampaknya terjadi sangat dini, bahkan sebelum ibu sadar hamil
- Ada indikasi bahwa infertilitas faktor pria lebih sering dilaporkan pada keluarga tertentu, meski datanya masih terbatas
Pengetahuan kita tentang transmisi risiko melalui jalur ayah masih sangat minim, terutama terkait epigenetik sperma.
Keguguran: Lebih dari Sekadar “Nasib Buruk”
Sekitar 15% kehamilan berakhir dengan keguguran, dan sebagian kecil pasangan mengalami keguguran berulang.
Studi epidemiologi menunjukkan:
- Perempuan dengan ibu atau saudara perempuan yang mengalami keguguran memiliki risiko sedikit lebih tinggi
- Pola ini lebih sering terlihat melalui jalur perempuan dibandingkan laki-laki
- Faktor imun, trombofilia, dan fungsi endometrium diduga berperan
Namun, penting dicatat: risikonya meningkat sedikit, bukan pasti terjadi. Sebagian besar keguguran tetap disebabkan oleh kelainan kromosom yang bersifat sporadik, bukan diwariskan.
Tidak Semua Kehilangan Kehamilan Bersifat Turun-Temurun
Menariknya, untuk stillbirth, bukti ilmiah saat ini relatif menenangkan. Studi besar berbasis registri menunjukkan tidak ada pola antargenerasi yang kuat antara ibu dan anak perempuan terkait stillbirth.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua komplikasi kehamilan mengikuti pola keluarga dan beberapa kondisi lebih dipengaruhi oleh faktor kehamilan saat itu, bukan riwayat keluarga
Peran Epigenetik dan Lingkungan
Salah satu temuan paling relevan adalah bahwa apa yang dialami orang tua sebelum dan selama kehamilan bisa meninggalkan jejak biologis, tanpa harus mengubah gen.
Contohnya adalah merokok, paparan bahan kimia, obesitas dan stres kronis
Jejak ini dapat memengaruhi fungsi reproduksi anak di masa depan. Namun, bidang ini masih berkembang dan belum cukup matang untuk diterjemahkan menjadi rekomendasi klinis spesifik.
Ilmu reproduksi mulai memahami bahwa kesuburan dan kehamilan bukan hanya peristiwa satu generasi. Ada jejak biologis, lingkungan, dan pengalaman hidup yang saling berkelindan lintas waktu. Namun, sains juga mengingatkan kita untuk tidak menyederhanakan masalah kompleks ini. Riwayat keluarga adalah bagian dari cerita, bukan keseluruhan takdir. Pendekatan promil yang sehat bukanlah mencari siapa yang “menurunkan masalah”, tetapi memahami tubuh secara utuh, dengan empati, data, dan harapan yang realistis. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya
Referensi
- Woolner, A. M., & Bhattacharya, S. (2023). Intergenerational trends in reproduction: infertility and pregnancy loss. Best Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology, 86, 102305.

Selama ini, isu penuaan reproduksi lebih sering dilekatkan pada perempuan. Padahal, sains modern menunjukkan bahwa tubuh pria juga mengalami proses penuaan reproduksi yang kompleks, dan salah satu kuncinya ada pada epigenetik.
Epigenetik tidak mengubah urutan gen, tetapi mengatur bagaimana gen diekspresikan. Ia bekerja seperti saklar: gen yang sama bisa “menyala” atau “mati” tergantung kondisi tubuh, lingkungan, dan gaya hidup. Dalam konteks reproduksi pria, perubahan epigenetik ini menjadi semakin relevan seiring bertambahnya usia. Pahami lebih lanjut yuk!
Apa yang Terjadi pada Sperma Seiring Bertambahnya Usia?
Penuaan reproduksi pria tidak hanya ditandai oleh penurunan jumlah sperma. Penelitian menunjukkan adanya perubahan bertahap pada:
- kualitas pergerakan sperma
- morfologi (bentuk sperma)
- integritas DNA
- serta stabilitas epigenetik sperma
Perubahan ini berkaitan erat dengan DNA methylation dan modifikasi histon, dua mekanisme epigenetik utama yang mengatur ekspresi gen dalam sperma. Ketika regulasi ini terganggu, informasi genetik yang dibawa sperma menjadi kurang optimal, meskipun secara kasat mata sperma masih terlihat “ada”.
Inilah alasan mengapa pada sebagian pasangan, kehamilan tetap sulit terjadi meski jumlah sperma tidak nol.
Lingkungan dan Gaya Hidup: Faktor yang Tidak Netral
Epigenetik menjembatani tubuh dengan lingkungan. Artinya, apa yang dialami pria setiap hari bisa meninggalkan “jejak biologis” pada spermanya.
Berbagai faktor terbukti memengaruhi epigenetik sperma, antara lain:
- merokok
- konsumsi alkohol
- paparan polusi dan zat kimia
- stres kronis
- pola makan yang buruk
Paparan ini tidak hanya berdampak jangka pendek. Perubahan epigenetik pada sperma dapat bertahan lama, bahkan memengaruhi proses awal pembentukan embrio.
Dengan kata lain, sperma bukan sekadar “pembawa gen”, tetapi juga pembawa informasi biologis tentang kondisi tubuh ayahnya.
Dampaknya Tidak Berhenti pada Kehamilan
Salah satu temuan penting dalam kajian epigenetik adalah bahwa perubahan epigenetik pada sperma dapat berdampak hingga ke generasi berikutnya.
Beberapa penelitian mengaitkan penuaan reproduksi pria dan perubahan epigenetik sperma dengan:
- peningkatan risiko gangguan perkembangan
- perubahan regulasi gen pada embrio
- potensi meningkatnya risiko penyakit tertentu pada anak
Ini tidak berarti semua anak dari ayah usia lanjut akan bermasalah. Namun, risiko biologisnya tidak nol, dan dipengaruhi oleh kualitas epigenetik sperma saat pembuahan terjadi
Kebutuhan Pendekatan yang Lebih Menyeluruh
Pemahaman tentang epigenetik menegaskan bahwa kesehatan reproduksi pria adalah proses jangka panjang, bukan sesuatu yang bisa “dibetulkan instan”.
Pendekatan ke depan perlu lebih komprehensif, meliputi:
- perbaikan gaya hidup sebelum promil
- edukasi tentang usia reproduksi pria
- pertimbangan waktu yang realistis dalam perencanaan kehamilan
- serta integrasi aspek epigenetik dalam evaluasi infertilitas
Karena pada akhirnya, sperma membawa lebih dari sekadar kromosom. Ia membawa cerita tentang usia, lingkungan, dan bagaimana tubuh seorang pria menjalani hidupnya. Epigenetik mengubah cara sister memandang penuaan reproduksi paksu. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengajak melihat kesuburan secara lebih adil dan menyeluruh.
Kesuburan bukan hanya urusan rahim dan usia perempuan. Ia adalah hasil interaksi dua tubuh, dua riwayat hidup, dan dua sistem biologis yang sama-sama kompleks. Dan disitulah epigenetik mengambil peran penting. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya ya!
Referensi
- Ajayi, A. F., Oyovwi, M. O., Olatinwo, G., & Phillips, A. O. (2024). Unfolding the complexity of epigenetics in male reproductive aging: a review of therapeutic implications. Molecular Biology Reports, 51(1), 881.