• Skip to main content
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Infertilitas Laki-laki: Ketika Penyebabnya Masih Misterius, Tapi Bukan Berarti Tak Bisa Dicari

April 10, 2025

Infertilitas bukan hanya persoalan perempuan. Faktanya, sekitar 40% kasus infertilitas pada pasangan berasal dari faktor laki-laki. Namun, banyak dari kasus ini tidak memiliki penyebab yang jelas. Kondisi ini disebut sebagai infertilitas idiopatik, yaitu ketika laki-laki mengalami infertilitas tetapi hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya kelainan yang spesifik.

Apa Kata Sebuah Temuan dari Penelitian?

Sebuah studi besar dari Eropa mencoba memecahkan misteri ini. Studi tersebut melibatkan 1.174 laki-laki Eropa dengan infertilitas primer (belum pernah memiliki anak sebelumnya), dan menjalani pemeriksaan yang sangat menyeluruh bukan sekadar analisis sperma.

Hasilnya, 81% laki-laki dalam studi ini ternyata memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi. Artinya, hanya sekitar 19% yang benar-benar tergolong idiopatik. Temuannya diantaranya adalah : hipogonadisme (gangguan hormon) – 37%, varikokel (pelebaran pembuluh darah di testis) – 27% dan kelainan genetik – 5%

Menariknya, semakin berat gangguan kesuburan yang dialami, semakin besar kemungkinan penyebabnya bisa ditemukan. Misalnya, laki-laki dengan kondisi azoospermia (tidak ada sel sperma sama sekali) cenderung lebih mudah ditemukan penyebabnya dibandingkan laki-laki dengan gangguan yang lebih ringan.

Mengapa Penting Mendeteksi Infertilitas pada Laki-laki? 

Selama ini, banyak laki-laki yang langsung diberi label “idiopatik” karena hasil pemeriksaannya terlihat normal di permukaan. Padahal, dengan evaluasi yang lebih komprehensif, penyebab sebenarnya bisa terungkap. Hal ini penting karena:

  • Membuka peluang untuk terapi yang lebih tepat. Paksu jika sudah mengetahui kebenaran yang terjadi pada kalian, maka akan benar juga terapi yang dapat diambil karena sesuai dengan permasalahan

  • Membantu memahami kondisi kesehatan reproduksi secara menyeluruh. JIka pengukuran dilakukan maka akan memberi manfaat pada kondisi kesehatan secara keseluruhan

  • Mengurangi beban psikologis akibat ketidakjelasan. Yang paling penting terutama berkaitan dengan mental yang sudah banyak terombang-ambing, sehingga pengetahuan ini membantu paksu tidak hanya fisik tapi juga mental.

Meski begitu, laki-laki dengan gangguan ringan masih menjadi tantangan tersendiri dalam penentuan diagnosis. Tidak semua kasus bisa dijelaskan, bahkan dengan pemeriksaan lanjutan. Oleh karena itu, masih dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui subkelompok infertilitas paksu dikategorikan.

Meski begitu berkat pemeriksaan yang lebih menyeluruh, laki-laki dengan infertilitas dapat ditemukan penyebabnya. Ini menjadi harapan baru bagi banyak pasangan. Infertilitas idiopatik ternyata tidak selalu benar-benar tanpa sebab. Jika sister dan paksu sedang dalam proses mencari tahu penyebab infertilitas dan belum mendapat jawaban yang jelas, evaluasi lanjutan bisa menjadi langkah penting untuk mendapatkan kejelasan dan rencana terapi yang lebih tepat. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram kami di @menujuduagaris.id

Referensi

Ventimiglia, E., Pozzi, E., Capogrosso, P., Boeri, L., Alfano, M., Cazzaniga, W., … & Salonia, A. (2021). Extensive assessment of underlying etiological factors in primary infertile men reduces the proportion of men with idiopathic infertility. Frontiers in endocrinology, 12, 801125.

Belum Berhasil Hamil Tapi Hasil Tes Normal Semua? Mungkin Ini Jawabannya

April 10, 2025

 

Sister dan paksu adakah diantara kalian yang sedang berjuang dua garis, dan sudah mencoba periksa tapi tetap saja belum ditemukan penyebabnya apa? hal ini pasti membuat kalian berpikir lebih kompleks dan juga bertanya-tanya, kira-kira apa penyebabnya. Yuk bahas lebih lanjut.

Kok Bisa Infertilitas Tapi Gak Ketahuan Penyebabnya?

Buat sebagian pasangan, usaha punya anak bisa jadi perjuangan yang panjang. Yang bikin bingung, kadang semua hasil tes menunjukkan kondisi normal, mulai dari ovulasi, sperma juga bagus, tuba tidak tersumbat. Tapi tetap saja, kehamilan belum terjadi. Nah, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah infertilitas yang tidak dapat dijelaskan (unexplained infertility).

Faktanya, sekitar 15–30% pasangan dengan infertilitas masuk dalam kategori ini. Artinya, nggak ada kelainan yang ditemukan dari pemeriksaan awal, padahal mereka sudah mencoba lebih dari 12 bulan. Tapi apakah benar tidak ada penyebab yang tersembunyi?

Endometriosis Diam-diam Sering Terjadi

Sebuah tinjauan sistematis terbaru mencoba menjawab pertanyaan ini dengan melihat data dari ribuan pasangan yang didiagnosis UI. Fokus utamanya? Pemeriksaan yang dilakukan melalui laparoskopi yaitu sebuah prosedur untuk melihat kondisi panggul secara langsung dan mendeteksi hal-hal yang tidak terlihat lewat USG atau pemeriksaan biasa.

Hasilnya cukup mencengangkan: dari 1.707 wanita yang menjalani laparoskopi, 44% ternyata memiliki endometriosis, meskipun sebelumnya tidak terdeteksi. Dan sebagian besar kasusnya tergolong ringan (minimal hingga stadium 2). Selain itu, ditemukan juga faktor tuba (20%) dan perlengketan (16%) yang sebelumnya tidak teridentifikasi melalui pencitraan.

Bahkan, tingkat deteksi masalah panggul ini lebih tinggi pada wanita yang pernah menjalani perawatan kesuburan sebelumnya (75%), dibandingkan yang belum (53%). Ini nunjukin bahwa teknologi saat ini belum tentu bisa mendeteksi semua hal secara akurat. Wah lalu bagaimana metode yang dapat dipilih? haruskah invasif apa tidak?

Jadi, Perlu Laparoskopi Nggak?

Pertanyaannya sekarang, apakah semua pasien dengan UI harus langsung menjalani laparoskopi?

Well, nggak selalu. Tapi mempertimbangkan laparoskopi jadi penting terutama bagi pasien yang juga mengalami gejala nyeri panggul atau menstruasi yang menyakitkan, karena bisa jadi itu tanda-tanda endometriosis tersembunyi. Karena dengan laparoskopi bisa membantu mendeteksi kondisi yang selama ini tersembunyi, dan membantu menentukan pengobatan yang lebih tepat.

Meskipun teknologi pencitraan dan program bayi tabung semakin canggih, laparoskopi tetap punya peran yang penting untuk mengungkap penyebab tersembunyi dari infertilitas. Jadi, buat sister dan paksu yang sedang mengalami UI dan punya gejala khas endometriosis, mungkin sudah waktunya ngobrol lebih lanjut sama dokter tentang opsi ini. Informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa buat follow Instagram kami di @menujuduagaris.id

Referensi

Van Gestel, H., Bafort, C., Meuleman, C., Tomassetti, C., & Vanhie, A. (2024). The prevalence of endometriosis in unexplained infertility: A systematic review. Reproductive biomedicine online, 49(3), 103848.

Penyebab Ketidaksuburan Nggak Jelas? Hati-Hati, Mungkin Kamu Alami Unexplained Infertility!

April 10, 2025

 

Kalau sister dan paksu sudah rutin berusaha punya anak tapi hasilnya masih belum juga positif, dan semua hasil tes menunjukkan kondisi reproduksi normal, kalian mungkin termasuk dalam kondisi yang disebut Unexplained Infertility (UI) alias infertilitas yang belum diketahui penyebab pastinya.

Nah, kabar baiknya, sekarang ada panduan baru dari ESHRE (European Society of Human Reproduction and Embryology) yang bantu kalian dalam menentukan langkah terbaik untuk pasangan dengan UI. Yuk bersama dengan MDG kita bahas lebih lanjut!

Apa Itu Unexplained Infertility?

Unexplained Infertility adalah kondisi di mana pasangan tidak kunjung hamil, padahal hasil pemeriksaan semuanya normal mulai dari ovulasi, saluran tuba, sampai kualitas sperma.

Masalahnya, belum ada standar global yang benar-benar seragam soal tes apa saja yang wajib dilakukan sebelum menyimpulkan diagnosis UI. Makanya, selama ini pendekatannya cenderung bersifat empiris, alias berdasarkan pengalaman, bukan pada bukti ilmiah yang kuat.

Karena UI adalah diagnosis “pengecualian”, penting banget untuk memastikan bahwa semua pemeriksaan dasar sudah dijalani sebelum benar-benar menyimpulkan “nggak ada penyebabnya”.

Rekomendasi ESHRE: Dari Diagnosis Sampai Pengobatan

Melihat banyaknya pasangan yang mengalami infertilitas tanpa sebab yang jelas, ESHRE akhirnya menyusun panduan khusus untuk menangani kasus unexplained infertility ini. Tujuannya jelas: memberikan arahan berbasis bukti terbaik agar dokter nggak lagi hanya mengandalkan intuisi atau “kebiasaan lama” dalam menangani UI.

Panduan ini disusun dengan proses yang ketat—mulai dari merumuskan pertanyaan kunci, menelusuri literatur ilmiah terbaru, sampai menyaring bukti-bukti yang ada. Hasilnya? Terbitlah total 52 rekomendasi yang mencakup dari definisi, diagnosis, hingga pengobatan.

Tapi menariknya, meskipun jumlah rekomendasinya banyak, sebagian besar masih belum ditopang oleh bukti yang benar-benar kuat. Dari semua itu, hanya satu yang didukung bukti kualitas sedang. Sisanya? Banyak yang berasal dari penelitian dengan kualitas rendah, bahkan sangat rendah. Ini menunjukkan kalau UI masih jadi “misteri” yang butuh lebih banyak riset di masa depan.

Lalu, kalau belum banyak bukti kuat, gimana dong pengobatannya?

ESHRE tetap menyusun panduan langkah-langkah yang bisa diambil dokter. Untuk perawatan tahap awal, pasangan dengan UI direkomendasikan menjalani inseminasi intrauterin (IUI) yang dikombinasikan dengan stimulasi ovarium. Pendekatan ini dinilai sebagai opsi paling masuk akal karena relatif sederhana, terjangkau, dan minim resiko dibandingkan prosedur yang lebih invasif seperti IVF.

Namun tentu, keputusan pengobatan harus dipersonalisasi. Nggak semua pasangan cocok dengan pendekatan yang sama. Karena itu, sister dan paksu diarahkan untuk tetap melakukan komunikasi terbuka terutama pada dokter. Panduan ini bukan “aturan kaku” atau menjadi satu-satunya yang sister dan paksu harus jalani, tapi lebih ke arah petunjuk yang bisa jadi bahan diskusi antara sister dan paksu dan dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Guideline Group on Unexplained Infertility, Romualdi, D., Ata, B., Bhattacharya, S., Bosch, E., Costello, M., … & Le Clef, N. (2023). Evidence-based guideline: unexplained infertility. Human Reproduction, 38(10), 1881-1890.

FSH untuk Infertilitas Laki-laki: Harapan Baru untuk Pasangan Pejuang Dua Garis

April 7, 2025

 

 

Infertilitas pria masih menjadi tantangan besar dalam dunia reproduksi. Faktanya, sekitar 50% dari semua kasus infertilitas pada pasangan disebabkan oleh faktor pria. Namun, dalam sepertiga dari kasus ini, penyebab pastinya sulit diketahui, yang disebut sebagai infertilitas idiopatik pria. Dalam kondisi seperti ini, pilihan pengobatan yang jelas dan efektif pun sering kali tidak tersedia.

Nah, dalam situasi inilah hormon perangsang folikel atau FSH (Follicle Stimulating Hormone) mulai dilirik sebagai solusi. Wah bagaimana bisa? yuk bahas lebih lanjut!

Apa itu FSH dan Kenapa Penting?

Secara alami, FSH diproduksi oleh tubuh dan berperan penting dalam proses pembentukan sperma. Hormon ini bekerja langsung pada sel Sertoli di testis untuk mendukung perkembangan sperma dari awal hingga matang. Pada kondisi tertentu seperti hipogonadisme hipogonadotropik (ketika tubuh tidak menghasilkan cukup hormon), FSH sudah dikenal luas sebagai terapi standar.

Tapi bagaimana kalau FSH diberikan kepada pria dengan infertilitas idiopatik yang penyebabnya tidak jelas?

Sebuah Studi memberikan Harapan Nyata

Sebuah studi retrospektif dilakukan di Unit Andrologi Modena, Italia, yang meneliti pria infertil yang mendapat terapi FSH dari tahun 2015 hingga 2022. Dari 362 pria, sebanyak 194 memenuhi syarat untuk mendapatkan FSH berdasarkan ketentuan sistem kesehatan nasional. Rata-rata usia mereka 37,9 tahun.

Hasilnya? Sebanyak 43 kehamilan tercatat (27,6%) setelah terapi FSH 22 kehamilan terjadi secara alami. 21 lainnya melalui teknologi reproduksi berbantuan (ART). Tak hanya itu, ada peningkatan signifikan dalam konsentrasi sperma, dari rata-rata 9,9 juta/mL menjadi 18,9 juta/mL. Bahkan, jumlah pria dengan sperma normal (normozoospermia) juga meningkat, sementara yang mengalami azoospermia (tidak ada sperma) menurun. Kelompok pria yang berhasil mencapai kehamilan ternyata memiliki sperma dengan konsentrasi dan motilitas (pergerakan) yang lebih baik dibanding yang tidak.

Meskipun belum menjadi pengobatan utama dan masih dianggap sebagai terapi empiris (berdasarkan pengalaman klinis), studi ini menunjukkan bahwa FSH bisa membantu satu dari empat pria dengan infertilitas idiopatik untuk memiliki anak. Ini angka yang cukup menggembirakan, terutama bila dibandingkan dengan data sebelumnya yang menyebutkan bahwa paling tidak 10 pria harus diobati untuk menghasilkan satu kehamilan.

Kapan Penggunaan FSH Bisa Dipertimbangkan?

Terapi FSH bisa dipertimbangkan untuk pria dengan diagnosa infertilitas idiopatik, juga ketika parameter sperma yang rendah tanpa penyebab yang jelas, dan dilakukan untuk meningkatkan peluang kehamilan baik secara alami maupun melalui ART.

Bagaimana sister dan paksu, ternyata terapi FSH menawarkan harapan baru dalam dunia pengobatan infertilitas pria, terutama bagi mereka yang belum menemukan penyebab pasti dari masalah kesuburannya. Meski belum menjadi solusi untuk semua, FSH bisa jadi peluang yang layak dipertimbangkan dalam strategi perencanaan keluarga bagi pasangan yang sedang berjuang. Tapi penting untuk dicatat bahwa terapi ini hanya boleh dilakukan setelah konsultasi dan evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis andrologi atau reproduksi. Untuk informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Romeo, M., Spaggiari, G., Nuzzo, F., Granata, A. R., Simoni, M., & Santi, D. (2023). Follicle‐stimulating hormone effectiveness in male idiopathic infertility: What happens in daily practice?. Andrology, 11(3), 478-488.

Growth Hormone (GH) dan Kesehatan Reproduksi Perempuan

April 6, 2025

 

Growth hormone (GH) yang diproduksi oleh kelenjar pituitari punya peran besar dalam mengatur pertumbuhan, perkembangan, dan metabolisme sel di berbagai jaringan tubuh. Tapi ternyata, hormon ini juga berperan penting dalam sistem reproduksi perempuan, lho, penasaran penjelasan lebih lanjutnya ngga? Yuk baca sampai habis ya!

Peran GH dalam Sistem Reproduksi

Bayangin sistem reproduksi perempuan itu kayak sebuah orkestra. Nah, GH (hormon pertumbuhan) adalah konduktornya. Dia nggak main alat musik secara langsung, tapi dia ngatur irama dan tempo semua pemain biar selaras. IGF-1 itu kayak asisten konduktor yang bantu menjaga ritme. Pemain musiknya? Ya itu tadi folikel, sel telur, hormon-hormon kayak FSH dan LH, sampai rahim. Kalau GH dan IGF-1 bekerja dengan baik, maka orkestra ini bisa menghasilkan simfoni yang indah: yaitu peluang kehamilan yang sehat.

Penelitian menunjukkan bahwa GH dan reseptornya ditemukan dalam ovarium dan rahim. GH bekerja sama dengan IGF-1 (Insulin-like Growth Factor 1), yang juga dihasilkan karena aktivitas GH. Keduanya bantu proses-proses penting seperti aktivasi folikel yang masih tidur, pematangan sel telur, produksi hormon dari ovarium, sampai membantu rahim agar siap menerima embrio.

GH juga bantu sel-sel di ovarium (sel granulosa) supaya lebih responsif terhadap hormon reproduksi utama seperti FSH dan LH. Artinya, GH ini ikut memperkuat kerja hormon-hormon lain yang mempersiapkan tubuh untuk kehamilan.

Dampak Kekurangan GH terhadap Kesuburan

Ketika kadar GH menurun karena faktor usia atau karena mutasi genetik, fungsi reproduksi bisa ikut terganggu. Akibatnya, bisa muncul masalah seperti cadangan ovarium yang rendah, respon ovarium yang kurang saat menjalani program bayi tabung (ART), sampai kegagalan implantasi.

GH ini juga ditemukan dalam cairan folikel di ovarium perempuan, dan jumlahnya berkaitan dengan kualitas sel telur, bentuk embrio, dan kemampuan embrio untuk berkembang. Melihat hal ini tidak jarang jika diantara kita membutuhkan solusi untuk melakukan suntik hormon. Seperti prosedur yang dilakukan saat melakukan program bayi tabung. 

GH sebagai Terapi Tambahan untuk Infertilitas

Karena faktanya pemberian GH di laboratorium terbukti bisa meningkatkan produksi hormon, mencegah kematian sel, membantu pematangan sel telur, dan memperbaiki kualitas embrio. Bahkan GH juga berperan penting di rahim, karena membantu proses implantasi dengan membuat rahim lebih “ramah” untuk kehamilan.

Meski masih butuh pengamatan lebih lanjut, ternyata sudah ada banyak harapan bahwa pemberian GH bisa bantu perempuan dengan masalah kesuburan, terutama yang mengalami kegagalan implantasi berulang atau respon ovarium yang buruk dalam program bayi tabung. Tapi tentu saja sister dan paksu tidak akan sembarangan menerima suntik hormon, karena akan disesuaikan dengan kondisi kalian dan seberapa membutuhkannya suntik ini. Dan semua prosedur ini akan sister dan paksu lalui sesuai dengan arahan dokter. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Chang, C. W., Sung, Y. W., Hsueh, Y. W., Chen, Y. Y., Ho, M., Hsu, H. C., … & Chang, H. M. (2022). Growth hormone in fertility and infertility: mechanisms of action and clinical applications. Frontiers in Endocrinology, 13, 1040503.

 

Obesitas dan Kesuburan: Apa Hubungannya?

April 5, 2025

 

Sekarang ini, dengan arus modern banyak makanan yang mengandung bahan-bahan kimia, seperti junk food dan berbagai macam olahan fast food. Hal ini mengakibatkan banyaknya orang mengalami kelebihan berat badan. Tapi yang sering luput dari perhatian, ternyata obesitas nggak cuma soal penampilan atau kesehatan jantung aja tapi juga bisa berdampak pada kasus infertilitas atau kesuburan.

Masalah kesuburan nggak hanya berasal dari perempuan. Laki-laki juga punya peran penting. Dan faktanya, kondisi tubuh seperti obesitas bisa mempengaruhi kualitas sperma. Pelajari lebih lanjut yuk!

Laki-laki dan Obesitas

Pada laki-laki, lemak berlebih bisa mengganggu keseimbangan hormon yang berperan dalam produksi sperma. Hal ini berkaitan dengan hormon testosteron (yang penting buat produksi sperma) bisa menurun, sedangkan hormon estrogen malah meningkat. Nah, kondisi ini bikin proses pembentukan sperma jadi kurang optimal.

Akibatnya, jumlah sperma bisa berkurang, geraknya jadi lambat, bahkan bentuknya nggak normal. Semua ini bisa menurunkan peluang untuk membuahi sel telur.

Obesitas Bisa Mengganggu Hormon Laki-laki

Laki-laki dalam penelitian yang kelebihan berat badan atau obesitas menghasilkan volume air mani yang lebih rendah daripada mereka yang memiliki berat badan sehat. Laki-laki dengan lingkar pinggang yang berukuran 102 sentimeter atau lebih memiliki jumlah sperma total 22 persen lebih rendah daripada laki-laki yang lingkar pinggangnya kurang dari 94 sentimeter. Bahkan kondisi tubuh ayah saat program hamil bisa berpengaruh ke generasi berikutnya. Obesitas nggak cuma bikin proses kehamilan jadi lebih sulit dimana beberapa ahli juga mulai menyoroti kemungkinan dampaknya terhadap kesehatan dan kesuburan anak di masa depan. Meski demikian tiap tubuh memiliki kondisi yang berbeda-beda.

Kenapa Hasilnya Bisa Beda-Beda?

Tidak semua orang obesitas pasti punya masalah sperma. Ada juga yang hasilnya normal-normal aja. Bisa jadi karena perbedaan usia, gaya hidup, atau penyakit lain yang menyertai misalnya diabetes atau tekanan darah tinggi. Sehingga diperlukan untuk melihat kondisi tubuh secara menyeluruh, bukan cuma fokus pada berat badan aja.

Obesitas Sering Datang Bareng Penyakit Lain

Mengapa penting menjaga pola hidup? yang sister dan paksu harus ketahui bahwasanya obesitas ini sering muncul bersama kondisi lain, seperti gula darah tinggi, kolesterol, atau tekanan darah tinggi. Jadi tidak hanya berkaitan dengan infertilitas tetapi juga penyakit-penyakit lain. Jadi, efek obesitas pada kesuburan bukan cuma karena berat badannya aja, tapi juga karena kondisi lain yang ikut menyertainya.

Obesitas bisa berdampak besar pada peluang untuk punya anak, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Kalau sister dan paksu sedang merencanakan kehamilan, menjaga pola makan, olahraga rutin, dan mengatur berat badan bisa jadi langkah penting untuk meningkatkan peluang kehamilan.

Nggak harus langsung kurus, kok. Tapi mulai dari perubahan kecil bisa bawa dampak besar untuk masa depan. Semoga berhasil ya, untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ramaraju, G. A., Teppala, S., Prathigudupu, K., Kalagara, M., Thota, S., Kota, M., & Cheemakurthi, R. (2018). Association between obesity and sperm quality. Andrologia, 50(3), e12888.
  • https://www.halodoc.com/artikel/hubungan-berat-badan-dengan-tingkat-kesuburan-pria?srsltid=AfmBOoqAqKStMJTRrfriysXYPvFIxoXt9yUUciJy9CwniXpQ88UxOOxu

Kenali Kehamilan Ektopik Sebagai Ancaman di Awal Kehamilan

April 4, 2025

 

Kehamilan ektopik (ectopic pregnancy/EP) merupakan salah satu kondisi serius yang bisa terjadi di awal kehamilan, terutama pada trimester pertama. Penjelasannya ini bahwa EP terjadi saat sel telur yang telah dibuahi tidak menempel di dalam rahim, melainkan tumbuh di lokasi yang tidak semestinya. Yang paling umum adalah di saluran tuba falopi, tapi ternyata ada juga yang terjadi di tempat lain seperti isthmus, bekas luka operasi caesar, serviks, kornua, ovarium, bahkan di rongga perut. Yuk pelajari lebih lanjut, baca sampai habis ya!

Kehamilan Ektopik pada ART dan Faktor yang Mempengaruhinya

Beberapa faktor teknis yang dapat mempengaruhi kehamilan ektopik adalah tahap embrio saat transfer (pembelahan vs blastokista), jenis siklus transfer (segar vs beku)
frekuensi kontraksi uterus selama siklus segar, penggunaan progesteron untuk dukungan fase luteal, dan kesulitan teknis saat transfer embrio 

Dalam hal ini, sebuah studi retrospektif yang dilakukan di salah satu pusat fertilitas di Milan, Italia, menyertakan data dari 27.376 siklus ART dan IUI selama 10 tahun (2009–2018), mencatat faktor-faktor lain ini seperti usia pasien, BMI, riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, cadangan ovarium (FSH, AMH, AFC), dan kondisi seperti infeksi panggul atau endometriosis. 

Faktor Risiko Tambahan: Siapa yang Lebih Rentan?

Selain faktor teknis ART, ada pula sejumlah faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya EP, seperti riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, Infeksi panggul, endometriosis, atau perlengketan di area reproduksi, usia wanita, kebiasaan merokok, dan lama infertilitas, kualitas cadangan ovarium yang rendah dan prosedur transfer embrio yang sulit atau traumatis.

Yang perlu dicatat, banyak faktor risiko EP juga tumpang tindih dengan faktor risiko infertilitas. Dengan semakin banyaknya pasangan yang mengandalkan teknologi reproduksi berbantu untuk mendapatkan keturunan, penting untuk bagi sister dan paksu untuk mengenali dan memahami risiko kehamilan ektopik. 

Deteksi dini dan pendekatan yang tepat dapat menyelamatkan nyawa serta meningkatkan peluang kehamilan yang sehat dan berkelanjutan. Pencegahan lainnya adalah dengan edukasi, yaitu memahami informasi yang jelas tentang kondisi yang dialami.

Selain itu, pengawasan ketat selama prosedur ART serta pengembangan protokol yang lebih aman dan personalisasi kasus menjadi langkah penting dalam mengurangi angka kejadian kehamilan ektopik (EP).

Untuk informasi menarik lainnya, jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id!

Referensi

Ramaraju, G. A., Teppala, S., Prathigudupu, K., Kalagara, M., Thota, S., Kota, M., & Cheemakurthi, R. (2018). Association between obesity and sperm quality. Andrologia, 50(3), e12888.

Dampak Penurunan Berat Badan Sebelum IVF: Benarkah Berpengaruh pada Keberhasilan Kehamilan?

April 3, 2025

 

Fertilisasi in vitro (IVF) sudah banyak dipilih oleh pasangan pejuang dua garis. Proses ini meski sudah menggunakan teknologi yang canggih pada prosesnya masih dihadapkan oleh banyak tantangan. MDG akan mencoba membahas bagaimana berat badan juga berpengaruh, baca sampai akhir ya!

Mengapa Penurunan Berat Badan Sebelum IVF Menjadi Perdebatan?

Banyak perempuan dengan obesitas atau kelebihan berat badan disarankan untuk menurunkan berat badan sebelum menjalani prosedur fertilisasi in vitro (IVF). Mengapa demikian? Berat badan berlebih sering dikaitkan dengan gangguan kesuburan. Namun, apakah benar penurunan berat badan sebelum IVF dapat meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan? 

Kebijakan dan Pandangan Medis

Banyak penyedia layanan kesuburan, termasuk NHS, menetapkan batas indeks massa tubuh (BMI) sebelum pasien dapat menjalani IVF. Biasanya, BMI yang disarankan berada di kisaran 19-30, meskipun beberapa penyedia memiliki batas lebih ketat, yaitu 19-25. Hal ini bergantung dengan perseorangan.

Walaupun penelitian tentang hubungan antara berat badan dan kesuburan masih berlangsung, dampak obesitas terhadap hasil IVF semakin banyak diakui. Misalnya, sebuah studi tahun 2021 terhadap lebih dari 7.300 wanita menemukan bahwa meskipun tingkat kehamilan tidak berbeda secara signifikan antar kategori BMI, wanita dengan BMI lebih tinggi memiliki angka kelahiran hidup lebih rendah dan risiko keguguran lebih tinggi. Studi tersebut juga mencatat bahwa wanita dengan obesitas cenderung memiliki lebih sedikit sel telur matang dan embrio yang berkembang ke tahap blastokista.

Jika BMI Saya Tidak Ideal untuk IVF, Apa yang Harus Dilakukan?

Jika BMI  terlalu tinggi untuk menjalani IVF, dokter mungkin menyarankan untuk menurunkan 5-10% dari berat badan. Namun, menurunkan berat badan bukan satu-satunya solusi. Konsultasi dengan dokter akan membantu menentukan langkah terbaik berdasarkan kondisi kesehatan dan riwayat medis Anda.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menguji kadar Hormon Anti-Mullerian (AMH) untuk mengetahui cadangan ovarium. Tes darah sederhana ini dapat membantu dokter menilai peluang kehamilan dan memahami apakah BMI mempengaruhi kesuburan Anda.

Berdasarkan artikel hari ini, ternyata menurunkan berat badan sebelum IVF memang dapat mengurangi berat badan secara signifikan, tetapi tidak selalu meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan. Oleh karena itu, keputusan untuk menurunkan berat badan sebelum IVF sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing dan didiskusikan dengan dokter yang menangani sister dan paksu. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jeong, H. G., Cho, S., Ryu, K. J., Kim, T., & Park, H. (2024). Effect of weight loss before in vitro fertilization in women with obesity or overweight and infertility: a systematic review and meta-analysis. Scientific Reports, 14(1), 6153.
  • https://www.alodokter.com/ketahui-tingkat-keberhasilan-dan-kegagalan-ivf-atau-bayi-tabung-sebelum-melakukannya
  • https://www.ivi.uk/blog/why-your-bmi-matters-when-trying-to-get-pregnant/
  • « Previous
  • 1
  • …
  • 41
  • 42
  • 43
  • 44
  • 45
  • …
  • 72
  • Next »
ayo-gabung-mdg

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.