• Skip to main content
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Yuk Pahami Infertilitas Dilihat dari Sisi Faktor Anatomi

March 9, 2025

 

 

Sister, memang banyak penyebab infertilitas, seperti yang sister tau bahkan dari jenis saja ada primer skunder atau yang tidak dapat dijelaskan, MDG kali ini ngin membahas lebih lanjut mana sih infertilitas yang dapat dilihat dari segi anatomi tubuh. Nah, yuk kita bahas lebih lanjut!

Infertilitas dilihat dari sisi Faktor Anatomi

Banyak penyebab infertilitas, tidak juga dari faktor laki-laki, tapi juga bisa jadi dari perempuan. Pada perempuan penyebab utama infertilitas yang berkaitan dengan anatomi wanita meliputi kerusakan tuba pasca infeksi, endometriosis, serta anomali uterus. Misalnya, uterus bersepta (kelainan bawaan) dan mioma atau sinekia (kelainan yang didapat) infertilitas ini tentu saja bisa mengganggu kesuburan, meningkatkan risiko keguguran, bahkan yang lebih parah ketika memicu komplikasi selama kehamilan. Lebih lanjut kita akan membahas beberapa infertilitas yang paling banyak menyerang sister. Diantaranya adalah:  

Kerusakan Tuba Pasca Infeksi

Mengapa MDG membahas ini untuk sister? karena tuba falopi punya peran penting dalam proses kehamilan, yaitu sebagai jalur pertemuan sel telur dan sperma. Kalau tuba mengalami kerusakan akibat infeksi, peluang kehamilan bisa menurun drastis. Bayangkan saja bagaimana menjadi embrio jika jalur saja di hambat? nah kira-kira penyebabnya karena apa?

Salah satu penyebabnya diantaranya adalah penyakit radang panggul (PID) yang menjadi penyebab paling umum dari kerusakan tuba ini. Untuk mengatasinya, pembedahan masih menjadi pilihan utama, dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik, bahkan sebanding dengan fertilisasi in vitro (IVF). Sedangkan infertilitas selanjutnya adalah endometriosis

Endometriosis: Penyakit yang Masih Misterius

Endometriosis adalah kondisi ginekologi yang cukup sering terjadi pada wanita usia subur. Penyakit ini bisa menyebabkan nyeri luar biasa dan infertilitas, namun penyebab pastinya masih menjadi misteri. Faktor imunologis, genetik, dan lingkungan diduga berperan dalam mekanisme yang kompleks ini. Meskipun prevalensinya tinggi, belum ada satu teori pun yang bisa menjelaskan dengan pasti bagaimana penyakit ini berkembang.

Tapi tenang, sister! Kombinasi perawatan medis, bedah, dan psikologis bisa membantu meningkatkan kualitas hidup penderita endometriosis. Bahkan, dalam banyak kasus, pembedahan terbukti mampu meningkatkan tingkat fertilisasi secara signifikan. Nah, hubungan erat antara endometriosis dan sistem imun membuka peluang besar untuk strategi pengobatan baru di masa depan, yang mungkin akan berfokus pada konsep imunologi.

Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?

Jika sister atau orang terdekat mengalami gejala seperti nyeri panggul kronis, haid yang sangat menyakitkan, atau kesulitan hamil, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis. Mengetahui kondisi anatomi sistem reproduksi dengan pemeriksaan seperti histerosalpingografi atau laparoskopi diagnostik bisa menjadi langkah awal untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Kesuburan itu kompleks, tetapi dengan ilmu dan teknologi yang semakin berkembang, selalu ada harapan untuk mendapatkan solusi terbaik. Jadi setidaknya sister jadi paham dulu sebelum memutuskan langkah apa yang harus dilakukan.

Salah satunya dengan memahami anatomi tubuh, fungsinya sebagai bagian dari reproduksi. Jika terjadi penyumbatan misalnya pada tuba falopi nah tentu saja sister dan paksu dapat melakukan pembedahan agar tidak terjadi hambatan. Meski demikian solusi seperti IVF juga kerap kali disarankan. Tapi semua ini bisa dipelajari lanjut ya sister! jangan ragu untuk belajar dan berkonsultasi. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Abrao, M. S., Muzii, L., & Marana, R. (2013). Anatomical causes of female infertility and their management. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 123, S18-S24.
  • https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1016/j.ijgo.2013.09.008

Faktor Uterus dalam Infertilitas: Yuk, Kenali Penyebabnya

March 8, 2025

Sister, kita semua tahu kalau uterus alias rahim punya peran super penting dalam perjalanan menuju kehamilan. Makanya, kalau ada masalah di uterus, bisa berpengaruh ke kesuburan. Beberapa kondisi yang bisa mempengaruhi kesuburan ini antara lain malformasi bawaan, miom, polip endometrium, perlengketan (sinekia intrauterin), benda asing, hingga infeksi kronis alias endometritis.

Tapi tenang, sister! Masalah pada rahim ini sebenarnya relatif jarang terjadi dibandingkan dengan gangguan ovulasi atau masalah pada tuba falopi. Tapi, tetap penting buat tahu dan waspada bukan? Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Pengaruh Kondisi Uterus terhadap Kesuburan

Gangguan pada rahim bisa menyebabkan pertumbuhan atau pematangan endometrium terganggu, yang akhirnya bisa berujung pada gagalnya implantasi embrio. Untuk mendeteksi kondisi ini, sister dan paksu diberikan beberapa rekomendasi pemeriksaan yang bisa dilakukan, seperti:

  • USG panggul & HSG untuk melihat kondisi rahim dan saluran tuba
  • Sonohysterography (SIS) yang menggunakan cairan garam untuk gambaran endometrium yang lebih jelas
  • Histeroskopi, prosedur paling akurat buat melihat langsung rongga rahim dan bisa sekaligus mengatasi masalah seperti massa atau perlengketan

Lalu, kondisi apa saja sih yang bisa bikin uterus berpengaruh pada kesuburan? Yuk, kita ulas satu per satu!

Macam-Macam Gangguan Uterus yang Bisa Mempengaruhi Kesuburan

Mioma Uteri (Fibroid Rahim)

Sister pernah dengar mioma alias fibroid rahim? Ini adalah tumor jinak yang bisa tumbuh di berbagai bagian rahim. Yang jadi pertanyaan, apakah miom bikin susah hamil? Jawabannya tentu bergantung pada lokasi dan ukurannya.

Mioma submukosa atau yang dekat dengan lapisan dalam rahim lebih berpengaruh terhadap kesuburan dibandingkan dengan mioma di tempat lain. Sementara itu, mioma intramural (di dalam dinding rahim) dan mioma subserosa (di bagian luar rahim) efeknya terhadap kesuburan masih menjadi perdebatan. Selain bentuknya, mioma juga bisa mengeluarkan zat proinflamasi seperti prostaglandin dan TGF-beta, yang bisa mengganggu proses implantasi embrio. 

Polip Endometrium

Selain mioma, polip endometrium juga bisa mengganggu implantasi embrio. Kenapa? Karena polip ini bikin embrio susah menempel di lapisan rahim yang sehat. Makanya, kalau ada polip, sebaiknya segera diangkat supaya peluang hamil semakin besar

Anomali Uterus (Kelainan Bawaan Rahim)

Kalau dari lahir rahim punya bentuk yang tidak biasa, seperti:

  • Uterus bikornis (rahim bercabang dua)
  • Uterus septum (ada sekat di tengah rahim)
  • Uterus bikornis (rahim hanya berkembang di satu sisi)

Sebagian besar anomali ini lebih sering berhubungan dengan keguguran berulang atau kelahiran prematur, bukan infertilitas langsung. Tapi kalau memang bikin sulit hamil atau sering keguguran, dokter bisa menyarankan tindakan medis seperti septoplasty buat memperbaiki bentuk rahim

Sindrom Asherman (Sinekia Intrauterin)

Sister pernah dengar istilah sinekia intrauterin atau sindrom Asherman? Ini adalah kondisi di mana ada jaringan parut di dalam rahim akibat operasi atau infeksi. Masalahnya, jaringan parut ini bisa menyebabkan:

  • Rongga rahim menyempit
  • Tuba falopi tersumbat
  • Embrio susah menempel dan tumbuh dengan baik

Cara mengatasinya? Bisa dengan histeroskopi adhesiolisis, yaitu prosedur buat menghilangkan jaringan parut di dalam rahim. Jadi, kalau sister atau paksu lagi berjuang buat punya momongan, jangan ragu buat cek kondisi rahim, ya!

Nah, sister setidaknya ada faktor-faktor dari uterus yang sister ketahui dan bisa mempengaruhi kesuburan. Kalau lagi program hamil dan curiga ada masalah di rahim, sister dan paksu tidak ada salahnya untuk berkonsultasi ke dokter. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/ca.22188
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17738-uterine-factor-infertility
  • https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9410422/

 

Ketahui Bagaimana Pejuang Dua Garis Merespons Diagnosis Infertilitas Berdasarkan Penyebab Anatomis dan Non-anatomis

March 7, 2025

 

Infertilitas bukan hanya soal kondisi medis, tapi juga berdampak besar pada emosi dan kualitas hidup seseorang. Ketika pasangan didiagnosis mengalami masalah kesuburan, respons emosional mereka bisa sangat berbeda, tergantung pada gender maupun penyebab infertilitas itu sendiri. 

MDG ingin menjelaskan lebih lanjut ada sebuah temuan yang mencoba menjelaskan tentang bagaimana pria dan wanita menghadapi diagnosis ini serta faktor-faktor yang mempengaruhi cara mereka menghadapinya.

Reaksi Emosional Perempuan Lebih Terbebani?

Sebuah penelitian yang turut melibatkan 133 orang dewasa yang menjalani perawatan di Unit IVF dan Infertilitas di sebuah rumah sakit di Bologna. Dari jumlah tersebut, 107 pasien ikut serta dan dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan penyebab infertilitas: anatomis (kelainan pada organ reproduksi) dan non-anatomis (seperti gangguan hormon).

Dalam proses penelitian itu sister dan paksu harus tahu bahwasanya perempuan lebih rentan mengalami tekanan emosional dibanding pria. Mereka merasa kurang percaya diri dalam menghadapi infertilitas dan melaporkan kualitas hidup yang lebih rendah, terutama dalam aspek emosional dan keseimbangan pikiran-tubuh. Sementara itu, pria cenderung lebih percaya diri dan tidak terlalu terpengaruh secara emosional.

Penyebab Infertilitas Berpengaruh pada Cara Pasien Menghadapinya

Ternyata, jenis infertilitas juga berpengaruh pada bagaimana seseorang merespons kondisinya. Pasien dengan penyebab infertilitas non-anatomi lebih merasa tertekan dalam aspek hubungan sosial dan lebih cenderung menghindari permasalahan dibandingkan mereka yang mengalami infertilitas akibat faktor anatomis.

Lalu, apa yang bisa memprediksi kualitas hidup seseorang saat menghadapi infertilitas? Dalam hal ini ternyata bahwa orang yang memiliki tingkat efikasi diri lebih tinggi (alias lebih percaya diri dalam menghadapi masalah) dan tidak terlalu sering menghindari kenyataan cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Ini berarti cara seseorang menghadapi diagnosis sangat berpengaruh terhadap bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari meskipun menghadapi tantangan infertilitas.

Wah bagaimana sister dan paksu apakah kalian juga merasakan hal yang sama? bahwa ternyata pria dan wanita memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi infertilitas. Wanita lebih cenderung merasakan tekanan emosional yang lebih besar, sedangkan pria umumnya memiliki efikasi diri yang lebih tinggi. Selain itu, pasien dengan infertilitas non-anatomi lebih rentan terhadap dampak psikologis dibanding mereka yang memiliki masalah kesuburan karena faktor anatomis.

Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita menghadapi situasi ini. Kepercayaan diri dan strategi managemen yang baik dapat membantu meningkatkan kualitas hidup meskipun berada dalam kondisi sulit. Jadi, untuk sister dan paksu yang sedang berjuang dengan masalah kesuburan, cobalah untuk mencari dukungan emosional dan menjaga mindset positif bisa menjadi langkah penting untuk tetap kuat dalam perjalanan ini. Informasi menarik lainnya bisa follow akun Instagram @menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Andrei, F., Salvatori, P., Cipriani, L., Damiano, G., Dirodi, M., Trombini, E., … & Porcu, E. (2021). Self-efficacy, coping strategies and quality of life in women and men requiring assisted reproductive technology treatments for anatomical or non-anatomical infertility. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 264, 241-246.

Memilih Embrio Berkualitas untuk Keberhasilan Program Bayi Tabung

March 6, 2025

 

 

Saat menjalani program bayi tabung, memilih embrio yang berkualitas baik adalah kunci utama untuk meningkatkan peluang kehamilan. Tapi, bagaimana cara memilih embrio yang terbaik? Nah, sister dan paksu, dari banyaknya teknik yang ada, kali ini kenalan yuk sama teknik baru, dimana ada penelitian terbaru yang mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kehamilan dalam satu siklus transfer menggunakan teknik Single Vitrified-Warmed Blastocyst Transfer (VBT). Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Apa Itu VBT dan Kenapa Penting?

Single Vitrified-Warmed Blastocyst Transfer (VBT) atau transfer blastokista vitrifikasi-hangat adalah proses di mana embrio yang telah dibekukan (vitrifikasi) dipanaskan kembali sebelum ditanamkan ke dalam rahim. Proses ini memungkinkan dokter untuk memilih embrio yang paling potensial untuk berkembang menjadi kehamilan yang sehat. Meski begitu tentu teknik ini ga akan berhasil jika tidak mempertimbangkan faktor-faktor tertentu. 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Kehamilan

Mengapa VBT dapat meningkatkan tingkat keberhasilan IVF? Tentu saja, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan, di antaranya:

  1. Tingkat Ekspansi Blastocoel
    Semakin besar tingkat ekspansi blastocoel sebelum pembekuan, semakin tinggi peluang kehamilan.
  2. Kualitas Inner Cell Mass (ICM) Setelah Pemanasan
    Embrio dengan ICM berkualitas lebih baik setelah pemanasan memiliki peluang kehamilan yang lebih tinggi.
  3. Hari Ke-5 vs Hari Ke-6
    Embrio yang berkembang pada hari ke-5 lebih disarankan karena peluang keberhasilannya lebih tinggi dibandingkan hari ke-6.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan peluang kehamilan yang sukses, beberapa faktor yang harus diperhatikan saat memilih blastokista yang telah dibekukan adalah:

  • Pilih blastokista dengan tingkat ekspansi blastocoel yang lebih tinggi sebelum pembekuan.
  • Pastikan kualitas ICM tetap baik setelah proses pemanasan.
  • Jika memungkinkan, prioritaskan blastokista yang berkembang pada hari ke-5.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, harapannya program bayi tabung bisa memberikan hasil yang lebih optimal. Semoga bermanfaat, sister! informasi menarik lainnya dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kim, H. J., Park, J. K., Eum, J. H., Song, H., Lee, W. S., & Lyu, S. W. (2021). Embryo selection based on morphological parameters in a single vitrified-warmed blastocyst transfer cycle. Reproductive Sciences, 28, 1060-1068.
  • https://www.volusonclub.net/empowered-womens-health/3-factors-that-may-affect-the-success-of-an-embryo-transfer/

 

Multinukleasi pada Embrio: Pengaruhnya terhadap Keberhasilan IVF-ET dan Kehamilan Klinis

March 5, 2025

Sister, pernah dengar tentang embrio yang punya lebih dari satu inti sel alias multinukleasi? Nah, MDG dalam artikel kali ini mau ngulik lebih dalam apakah fenomena ini berpengaruh terhadap perkembangan embrio dan peluang keberhasilan kehamilan klinis. Yuk, kita bahas!

Kenapa Multinukleasi Itu Penting?

Sister pasti sudah tahu bahwa dalam dunia bayi tabung alias in vitro fertilization-embryo transfer (IVF-ET), kualitas embrio yang ditransfer itu punya peran besar dalam keberhasilan program. Semakin bagus kualitasnya, semakin tinggi peluang implantasi dan kehamilan klinis. Biasanya, dokter menilai embrio berdasarkan tahap perkembangan, tingkat fragmentasi, dan simetris atau tidaknya sel-selnya. Tapi nih, satu hal yang sering luput dari perhatian adalah kondisi inti selnya apakah normal (satu inti) atau malah ada lebih dari satu inti (multinukleasi)? Yuk pahami lebih lanjut! 

Apa Kata Penelitian?

Penelitian ini menemukan bahwa kalau lebih dari 50% embrio yang ditransfer punya blastomer multinukleasi, angka implantasi, kehamilan klinis, maka hal ini akan memperlihatkan prediksi kelahiran hidup jadi lebih rendah dibandingkan embrio dengan inti sel normal. Jadi, jelas ya, multinukleasi ini bukan hal sepele. Karena kehadirannya bisa jadi tanda embrio punya potensi perkembangan yang lebih rendah. Trus kapan bisa mengecek kalau embrio ini multinukleasi?

Nah embrio disebut multinukleus jika lebih dari satu nukleus dapat terlihat dalam setiap sel pada hari ke-2 atau ke-3. Setelah hari ke-3, sangat sulit untuk mengidentifikasi keberadaan multinukleus. Sebagian besar embrio multinukleus telah terbukti memiliki kelainan kromosom.

Namun, terkadang embrio berinti banyak tertanam dan menghasilkan kehamilan yang sehat serta kelahiran bayi yang normal. Embrio ini umumnya hanya ditransfer ke rahim jika hanya embrio tersebut yang tersedia.

Apa Kaitannya dengan Induksi Ovulasi?

Ternyata, multinukleasi ini sering muncul pada siklus yang punya respons lebih agresif terhadap terapi gonadotropin. Beberapa faktor yang ditemukan dalam siklus dengan embrio multinukleasi adalah:

  • Kadar estrogen (E2) lebih tinggi saat pemberian hCG.
  • Jumlah folikel lebih banyak pada hari pemberian hCG.
  • Jumlah oosit yang diambil lebih banyak.
  • Tingkat fertilisasi lebih tinggi.
  • Jumlah embrio yang ditransfer lebih banyak.

Artinya, respons ovarium yang terlalu agresif bisa meningkatkan risiko munculnya embrio multinukleasi. Ini jadi pertimbangan penting buat paksu dan sister yang lagi menjalani program bayi tabung!

Yang lebih menarik, kalau dalam satu siklus ada embrio multinukleasi (meskipun tidak ditransfer), saudara kembarnya alias sibling embryo ternyata juga cenderung punya potensi perkembangan yang lebih rendah. Ini makin menguatkan bahwa multinukleasi itu memang bukan tanda yang baik dalam perkembangan embrio.

Evaluasi status inti sel dengan mikroskop cahaya sederhana bisa jadi alat prediksi yang berguna untuk menilai kapasitas perkembangan embrio. Jadi, dalam pemilihan embrio untuk transfer, nggak cukup hanya lihat bentuk luar saja, tapi juga harus perhatiin ada atau nggaknya multinukleasi. Selain itu, perlu lebih berhati-hati dalam pemberian terapi gonadotropin agar respons ovarium tetap optimal dan nggak berlebihan.

So, sister dan paksu yang lagi berjuang dalam program bayi tabung, yuk lebih aware sama kualitas embrio! Jangan ragu diskusi sama dokter soal ini ya. Semoga programnya lancar dan segera dapat garis dua. Semangat! Untuk informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jackson, K. V., Ginsburg, E. S., Hornstein, M. D., Rein, M. S., & Clarke, R. N. (1998). Multinucleation in normally fertilized embryos is associated with an accelerated ovulation induction response and lower implantation and pregnancy rates in in vitro fertilization-embryo transfer cycles. Fertility and sterility, 70(1), 60-66.
  • https://www.advancedfertility.com/fertility-gallery/embryo-quality
  • https://fertilitysolutions.com.au/multinucleated-embryos/

Sister, Yuk Kenali Pengaruh Single-step dan Sequential Embryo Culture Systems pada Kehamilan!

March 4, 2025

Sister, kalau sedang menjalani program bayi tabung atau tertarik dengan teknologi reproduksi berbantuan (TRB), pasti pernah dengar tentang media kultur embrio, kan? Nah, media kultur ini ternyata punya pengaruh, lho, terhadap hasil kehamilan dan kesehatan bayi! Yuk, kita bahas lebih dalam!

Media Kultur Langkah Single-step atau Tunggal vs. Sequential atau Berurutan

Dalam TRB, ada dua jenis media kultur yang biasa digunakan, yaitu langkah tunggal dan berurutan. Perbedaannya apa, sih?

  • Media Kultur Langkah Tunggal → Embrio dibiakkan dalam satu jenis media yang sama dari awal hingga siap untuk ditransfer.
  • Media Kultur Berurutan → Embrio dipindahkan ke media yang berbeda sesuai dengan tahap perkembangannya.

Tapi, apakah pilihan media ini berpengaruh pada hasil kehamilan? Let’s find out!

Apa Pengaruhnya terhadap Kehamilan dan Bayi?

Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang dikandung dengan embrio dari media kultur langkah tunggal memiliki kemungkinan lebih besar untuk lahir dengan ukuran lebih besar atau large-for-gestational-age (LGA) dibandingkan dengan media kultur berurutan.

Tapi, sister nggak perlu khawatir berlebihan! Soalnya, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam aspek lain seperti:  Kelainan plasenta, Hipertensi akibat kehamilan, Diabetes gestasional, Prematuritas, Berat badan lahir rendah

Kenapa Bisa Terjadi?

Karena ada banyak faktor yang bisa jadi menjadi salah satu faktor diantaranya adalah:

  • Komposisi nutrisi dalam media kultur
  • Pengaruh lingkungan kultur terhadap perkembangan embrio
  • Faktor metabolisme embrio yang berbeda dalam setiap media

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Sebenarnya, setiap metode punya kelebihan dan kekurangan. Media kultur langkah tunggal menjadi lebih praktis karena embrio tetap dalam satu lingkungan yang stabil. Sedangkan media kultur berurutan lebih menyerupai kondisi alami rahim.

Untuk sister yang sedang menjalani program bayi tabung, konsultasikan dulu dengan dokter spesialis agar bisa memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhan!

Setidaknya dengan memahami teknologi reproduksi berbantuan itu penting banget supaya sister dan paksu bisa mengambil keputusan yang tepat. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kesuburan agar mendapatkan hasil terbaik. Informasi menarik lainnya bisa sister dan paksu temukan di @menujuduagaris.id

Referensi

  • Sacha, C. R., Gopal, D., Liu, C. L., Cabral, H. R., Stern, J. E., Carusi, D. A., … & Bormann, C. L. (2022). The impact of single-step and sequential embryo culture systems on obstetric and perinatal outcomes in singleton pregnancies: the Massachusetts Outcomes Study of Assisted Reproductive Technology. Fertility and sterility, 117(6), 1246-1254.
  • https://txfertility.com/in-vitro-fertilization-ivf/embryo-culture/

Ternyata ada hormon yang digadang-gadang Mendorong suksesi IVF

March 3, 2025

Sister, kalau lagi menjalani program bayi tabung atau ingin tahu info lebih banyak mengenai ada nggak sih faktor yang mempengaruhi keberhasilannya, yuk bahas soal Hormon Pelepas Kortisol (CRH)! Kenapa membahas ini, karena hormon CRH yang digadang-gadang menjadi suksesi IVF

CRH dan Hormon dalam Cairan Folikel

CRH adalah hormon yang ditemukan dalam cairan folikel, yaitu cairan yang mengelilingi sel telur di dalam ovarium. Folikel ovarium sendiri adalah kantong kecil berisi cairan yang berfungsi sebagai tempat perkembangan sel telur. Selain itu, folikel juga menghasilkan hormon seperti estrogen dan progesteron, yang berperan dalam mengatur siklus menstruasi.

Saat seorang wanita mencapai pubertas, ia memiliki sekitar 300.000 hingga 400.000 folikel, masing-masing berpotensi melepaskan sel telur yang siap dibuahi. Jumlah dan ukuran folikel menjadi faktor penting dalam penilaian serta pengobatan gangguan kesuburan.

Lalu, bagaimana proses perkembangan folikel ini?

Setiap siklus menstruasi, beberapa folikel mulai berkembang dari ukuran awal sekitar 0,025 mm. Biasanya, seorang wanita akan mengembangkan sekitar lima hingga enam folikel dalam satu siklus. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh berbagai hormon, terutama hormon perangsang folikel (FSH) yang diproduksi oleh kelenjar pituitari. FSH berperan dalam mematangkan folikel serta menghambat pertumbuhan folikel yang lebih kecil, sehingga hanya folikel yang lebih kuat yang dapat berkembang dengan baik.

Seiring pertumbuhannya, folikel mulai melepaskan lebih banyak estrogen. Peningkatan kadar estrogen ini kemudian memberi sinyal kepada kelenjar pituitari untuk mengurangi produksi FSH. Akibatnya, folikel yang lebih kecil berhenti tumbuh, sementara folikel yang lebih besar dan matang terus berkembang, hingga akhirnya siap untuk melepaskan sel telur dalam proses ovulasi.

Studi terbaru menunjukkan bahwa kadar CRH dalam cairan folikel bisa berhubungan dengan peluang keberhasilan siklus perawatan reproduksi berbantuan (ART), seperti fertilisasi in vitro (IVF) dan injeksi sperma intra-sitoplasma (ICSI).

Penelitian Menarik Tentang CRH dan ART oleh  Supramaniam, 2017 yang melalukan penelusuran prospektif terhadap 50 wanita yang menjalani IVF/ICSI, para peneliti menemukan bahwa kadar rata-rata CRH dalam cairan folikel adalah 173 ± 9 pg/mL. Nah, yang menarik adalah kadar CRH lebih dari 145 pg/mL ternyata berhubungan dengan keberhasilan ART yang lebih tinggi. Artinya, semakin tinggi kadar CRH dalam cairan folikel, peluang keberhasilannya juga lebih besar!

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Studi ini jadi pengingat kalau hormon dalam cairan folikel bisa berperan dalam menentukan keberhasilan ART. Meskipun masih butuh penelitian lebih lanjut, temuan ini bisa membuka wawasan baru tentang bagaimana kita bisa meningkatkan peluang keberhasilan bayi tabung di masa depan.

Kalau sister lagi menjalani program IVF atau ICSI, memahami faktor-faktor seperti kadar CRH dalam cairan folikel bisa membantu untuk lebih siap menghadapi prosesnya. Tapi jangan khawatir, faktor kesuksesan ART itu banyak banget, jadi tetap konsultasi dengan dokter dan jangan lupa jaga kesehatan fisik serta mental ya!  Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Lim, L. N., Supramaniam, P. R., Mittal, M., Linton, E. A., & McVeigh, E. (2017). Follicular Fluid Cortisol Releasing Hormone (CRH) Levels and Assisted Reproductive Treatment (ART) Outcomes. Open Journal of Obstetrics and Gynecology, 7(13), 1271.
  • https://bocahindonesia.com/folikel-pada-sistem-reproduksi-wanita/
  • https://www.ivi.uk/blog/what-are-ovarian-follicles/

 

Sister, Paksu, Yuk Kenali Dampak Kelebihan Zat Besi pada Kesuburan!

March 2, 2025

 

Sister dan paksu pasti sudah tahu bahwa beberapa asupan seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan kandungan lainnya sangat penting untuk dicukupi. Salah satu yang tidak dapat dilupakan adalah zat besi. Seseorang yang mengalami kekurangan zat besi dapat terserang anemia, sehingga tubuhnya sering merasa lemas. Meski begitu, kelebihan zat besi di dalam tubuh juga tidak baik untuk kesehatan, lho.

Tapi pernah ngga sister dengar tentang hemoglobinopati? Ini adalah gangguan darah yang bisa mempengaruhi banyak aspek kesehatan, termasuk sistem endokrin dan, tentu saja, kesuburan! Salah satu efek yang sering terjadi adalah kelebihan zat besi dalam tubuh, yang bisa mengganggu fungsi organ vital, termasuk ovarium dan testis. Nah MDG akan membahas lebih lanjut terutama dalam konteks infertilitas atau kesuburan, baca sampai habis ya!

Mengapa terjadi Kelebihan Zat Besi

Pertama yang paling rentang mengalami ini adalah faktor keluarga atau gen, keluarga yang memiliki sejarah kelebihan zat besi akan semakin mudah terserang. Selanjutnya adalah Faktor keturunan atau ras tertentu juga dapat meningkatkan risiko untuk mengalami kelebihan zat besi. Contohnya, orang keturunan Eropa Utara juga lebih rentan terhadap hemokromatosis herediter dibandingkan orang-orang dengan etnis lainnya. Terakhir adalah kelebihan zat besi ini bisa berdampak pada pria yang mungkin untuk mengembangkan tanda dan gejala dari kelebihan zat besi dibandingkan wanita. Pasalnya, wanita rutin kehilangan zat besi melalui menstruasi dan kehamilan, sehingga cenderung menyimpan lebih sedikit mineral dibandingkan pria

Kelebihan Zat besi dan Fungsi Reproduksi

Jadi, gimana caranya kita bisa tahu apakah fungsi reproduksi terpengaruh? Ada beberapa modalitas penilaian yang bisa digunakan untuk mengukur fungsi ovarium dan testis. Ini penting banget buat sister yang sedang merencanakan kehamilan atau paksu yang ingin memastikan kualitas sperma tetap optimal.

Pilihan Manajemen untuk Mengatasi Hipogonadisme Hipogonadotropik Kalau kadar zat besi dalam tubuh sudah berlebihan dan menyebabkan gangguan hormonal, ada beberapa pilihan manajemen yang bisa dilakukan:

  1. Terapi kelasi sejak usia dini – Ini bertujuan untuk mengurangi kadar zat besi dalam tubuh supaya nggak sampai merusak fungsi organ penting.
  2. Gonadotropin menopause manusia (hMG) – Terapi ini bisa membantu menginduksi ovulasi pada sister dan meningkatkan produksi sperma pada paksu.
  3. Donasi sel telur, sperma, atau embrio – Kalau terapi hormonal nggak memberikan hasil yang optimal, opsi ini bisa jadi alternatif bagi pasangan yang ingin memiliki keturunan.
  4. Kriopreservasi – Nah, ini cocok buat sister dan paksu yang ingin menyimpan sel telur atau sperma untuk program kehamilan di masa depan. Tapi perlu diingat, metode ini belum menjadi perawatan standar ya!

Yuk, Pahami dan Kelola dengan Baik! Tujuan utama dari memahami kondisi ini adalah supaya sister dan paksu bisa mendapatkan informasi yang tepat soal dampak kelebihan zat besi pada kesuburan. Dengan pengetahuan yang cukup, kita bisa mengevaluasi pilihan pengobatan terbaik dan menentukan langkah yang paling sesuai untuk menjaga kesehatan reproduksi.

Jadi, kalau sister atau paksu memiliki kondisi ini atau sekadar ingin tahu lebih dalam, jangan ragu untuk konsultasi dengan tenaga medis ya! Sehat reproduksi, sehat mental, happy life! Informasi menarik lainnya sister dan paksu juga dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Supramaniam, P. R., Mittal, M., Hay, D., Narvekar, N., Lim, L. N., & Becker, C. M. (2018). Haemoglobinopathy: Considerations for reproductive health. The Obstetrician & Gynaecologist, 20(4), 253-259.
  • https://www.halodoc.com/artikel/siapa-saja-yang-rentan-alami-kelebihan-zat-besi-dalam-tubuh
  • « Previous
  • 1
  • …
  • 45
  • 46
  • 47
  • 48
  • 49
  • …
  • 72
  • Next »
ayo-gabung-mdg

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.