Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Infertilitas faktanya hadir sebagai salah satu isu kesehatan reproduksi yang sering diabaikan dalam penelitian dan kebijakan global, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Sementara ini banyak yang menyoroti angka fertilitas yang tinggi, akses terbatas terhadap kontrasepsi, serta kebutuhan keluarga berencana yang belum terpenuhi, infertilitas justru sering dikesampingkan dari diskusi kesehatan reproduksi. Padahal, diperkirakan ada sekitar 48 juta pasangan dan 186 juta individu di seluruh dunia yang mengalami infertilitas. Wah mengapa begitu ya?
Infertilitas dalam Kebijakan Kesehatan Reproduksi
Infertilitas bukanlah isu baru dalam kesehatan global. Pada Konferensi International Conference on Population and Development (ICPD) tahun 1994 di Kairo, infertilitas diakui sebagai bagian dari program aksi kesehatan reproduksi yang komprehensif. Namun, dalam pertemuan ICPD25 tahun 2019 di Nairobi dan laporan Komisi tingkat tinggi tahun 2021, infertilitas tidak lagi disebutkan secara eksplisit.
Kemajuan dalam teknik reproduksi berbantuan, seperti fertilisasi in-vitro (IVF) yang pertama kali berhasil pada tahun 1978, masih belum dapat diakses secara luas. Bahkan di negara berpenghasilan tinggi, teknologi ini masih tergolong mahal dan sulit dijangkau. Upaya untuk memperluas akses terhadap teknologi ini di negara berkembang juga masih sangat terbatas.
Hambatan dalam Perhatian dan Kebijakan
Minimnya perhatian terhadap infertilitas dalam kebijakan nasional dan internasional disebabkan oleh beberapa faktor utama, di antaranya:
- Prioritas Kesehatan Lainnya – Fokus utama banyak negara adalah mengatasi kelebihan populasi, pengendalian kelahiran, serta masalah kesehatan lain seperti penyakit menular dan tingginya angka kematian ibu.
- Keterbatasan Sumber Daya – Investasi dalam perawatan fertilitas dianggap mahal dan sulit dibenarkan dalam konteks kesehatan masyarakat yang lebih luas.
- Dampak Sosial dan Psikologis – Ketidaksuburan dapat menyebabkan stigma sosial, pengucilan, kecemasan, depresi, serta rendahnya harga diri, terutama dalam budaya yang sangat menekankan peran perempuan sebagai ibu.
Infertilitas dan Kekerasan Terhadap Perempuan
Ketidaksuburan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memiliki konsekuensi sosial yang serius. Sebuah studi oleh Yuanyuan Wang dkk. dalam The Lancet Global Health menunjukkan bahwa wanita infertil di negara berpenghasilan rendah dan menengah lebih rentan mengalami kekerasan pasangan intim (KDRT). Setidaknya satu dari tiga wanita infertil mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir, sementara hampir setengahnya mengalami kekerasan sepanjang hidup mereka. Bentuk kekerasan yang paling umum adalah kekerasan psikologis, diikuti oleh kekerasan fisik, seksual, dan pemaksaan ekonomi.
Infertilitas bukan hanya masalah kesehatan reproduksi, tetapi juga isu sosial yang mempengaruhi kesejahteraan individu dan hubungan keluarga. Sudah saatnya dunia memberikan perhatian lebih terhadap kondisi ini dan mencari solusi yang inklusif serta berkelanjutan bagi mereka yang terkena dampaknya. Untuk informasi menarik lainnya sister dapat akses di Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
- Wang, Y. (2022). Infertility—why the silence. Lancet Global Health, 10(6)
- https://www.who.int/publications/i/item/978920068315

Dalam proses IVF akan ada banyak prosedur salah satunya adalah Controlled Ovarian Stimulation (COS) ia hadir sebagai prosedur medis yang digunakan untuk merangsang ovarium agar menghasilkan lebih dari satu sel telur dalam satu siklus menstruasi. Proses ini biasanya dilakukan dalam program bayi tabung (IVF – In Vitro Fertilization) atau inseminasi buatan (IUI – Intrauterine Insemination). MDG akan menjelaskan lebih lanjut tentang prosedur ini, baca sampai akhir ya!
Apa itu Prosedur controlled ovarian stimulation (COS)
Dalam stimulasi ovarium terkendali (COS) terdiri dari tiga elemen dasar diantaranya adalah Gonadotropin eksogen untuk merangsang perkembangan multi folikel. Pengobatan bersamaan dengan agonis atau antagonis hormon pelepas gonadotropin (GnRH) untuk menekan fungsi hipofisis dan mencegah ovulasi dini. Memicu pematangan oosit akhir 36 hingga 38 jam sebelum pengambilan oosit.
COS dalam IVF
Seiring berkembangnya teknologi IVF, pendekatan dalam stimulasi ovarium terkendali (COS) juga semakin berkembang. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang biologi reproduksi, muncul minat lebih besar terhadap bagaimana COS mempengaruhi keberhasilan IVF dan apakah setiap pasien memerlukan pendekatan yang dipersonalisasi.
Sebuah penelitian dengan judul “Best practices for controlled ovarian stimulation in in vitro fertilization” menemukan bahwasanya Tujuan utama COS adalah mencapai kelahiran yang sehat dalam satu siklus IVF, tetapi strategi yang digunakan bisa berbeda-beda di tiap pusat medis. Banyak dokter mendasarkan keputusan mereka pada pengalaman dan studi observasional, bukan hanya uji coba terkontrol. Secara umum, COS tidak bisa diterapkan secara seragam pada semua pasien, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi individu berdasarkan bukti ilmiah yang ada. Bagian selanjutnya akan membahas praktik terbaik dalam COS yang berfokus pada pendekatan yang berpusat pada pasien.
Stimulasi ovarium terkontrol (COS) adalah bagian penting dari proses fertilisasi in vitro (IVF-ET). Salah satu tantangan utama dalam COS adalah menentukan dosis awal gonadotropin yang tepat. Meskipun sudah ada metode perhitungan untuk protokol agonis GnRH, belum ada yang sesuai untuk protokol antagonis GnRH.
Dengan berkembangnya teknologi dan pemahaman tentang biologi reproduksi, stimulasi ovarium terkontrol (COS) terus mengalami penyempurnaan untuk meningkatkan keberhasilan program IVF. Prosedur ini memainkan peran penting dalam menghasilkan sel telur yang optimal, namun setiap pasien memerlukan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi tubuhnya. Oleh karena itu, pemilihan strategi COS yang tepat, berdasarkan bukti ilmiah dan faktor individu, menjadi kunci dalam mencapai hasil terbaik. Jika sister dan paksu sedang mempertimbangkan program IVF, berkonsultasilah dengan dokter spesialis untuk mendapatkan perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan sister.
Daftar Isi
- Gallos, I. D., Eapen, A., Price, M. J., Sunkara, S. K., Macklon, N. S., Bhattacharya, S., … & Coomarasamy, A. (2017). Controlled ovarian stimulation protocols for assisted reproduction: a network meta‐analysis. The Cochrane Database of Systematic Reviews, 2017(3).
- Jungheim, E. S., Meyer, M. F., & Broughton, D. E. (2015, March). Best practices for controlled ovarian stimulation in in vitro fertilization. In Seminars in reproductive medicine (Vol. 33, No. 02, pp. 077-082). Thieme Medical Publishers.

Siapa dari sister yang sedang berjuang melawan infertilitas, dari banyaknya proses pasti sister banyak dihadapkan dengan banyak rintangan. Baik dari pola makan hingga segalanya perlu diubah. MDG pada kesempatan kali ini akan membicarakan tentang pola makanan yang lebih spesifik membahas tentang superfood yang ada di Indonesia terutama dan banyak di ditemui di sekitar sister dan paksu. Baca sampai habis ya!
Inflamasi dan Hubungannya dengan Infertilitas
Makanan punya peran penting dalam mencegah peradangan. Peradangan sendiri adalah respons alami tubuh untuk melindungi diri dari infeksi virus, bakteri, atau jamur. Dalam proses ini, sel darah putih dan zat yang dihasilkannya bekerja melawan mikroorganisme asing.
Tapi, bagaimana jika peradangan terjadi di organ reproduksi?
Pada penderita endometriosis, misalnya, kadar peradangan dalam tubuh meningkat, menandakan adanya perubahan pada sistem imun. Ketidakseimbangan antara zat anti-peradangan dan pemicu peradangan juga ditemukan pada kasus kegagalan ovarium. Inilah sebabnya peradangan sangat berkaitan dengan insufisiensi ovarium prematur. Nah sebenarnya ada tidak ya jenis makanan yang dapat mencegah terjadinya inflamasi atau peradangan?
Hubungannya Kunyit dengan Infertilitas
Kurkumin sebagai senyawa polifenol berwarna kuning yang terdapat pada kunyit dan temulawak dapat bertindak sebagai penangkap radikal bebas dengan memutus reaksi berantai produksi radikal bebas. Dan akibatnya meningkatkan kualitas jaringan reproduksi dengan meningkatkan ekspresi gen antioksidan
Penelitian telah menunjukkan bahwa kurkumin menghambat produksi oksida nitrat dan radikal bebas oleh makrofag. Telah ditentukan bahwa efek antioksidan Kurkumin adalah menghambat masuknya kalsium dan menghambat protein kinase C. Efek antioksidan Kurkumin sama dengan efek vitamin C dan E. Kurkumin juga merangsang aktivitas enzim yang berperan dalam sintesis dan perubahan asam lemak tak jenuh menjadi asam lemak jenuh. Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa kurkumin memodulasi fluiditas alami membran sel.
Kunyit dapat membantu meredakan peradangan karena mengandung kurkumin yang memiliki efek anti-inflamasi. Kurkumin bekerja dengan cara memblokir sitokin dan enzim yang menyebabkan peradangan. Bagaimana sister setelah mengetahui informasi tersebut apakah akan menggunakan kunyit sebagai salah satu makanan yang dikonsumsi? tentu saja tetap disesuaikan sama kasus sister dan paksu ya! informasi menarik lainnya dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Izadpanah, M., & Vahidinia, Z. (2024). Exploring the Role of Curcumin in Supporting Reproductive Health and Infertility-Focus on ROS Scavenging Activity. Tabari Biomedical Student Research Journal, 6(1), 25-34.
- https://www.alodokter.com/melawan-inflamasi-dengan-nutrisi-dari-makanan-ini
- https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/makanan-antiinflamasi

Program IUI nyatanya sudah banyak dipilih oleh sister dan paksu. Tapi ta gak sih sister ada loh metode yang dapat meningkatkan keberhasilan kehamilan. Sister, tahu nggak sih, kalau luteal phase support (LPS) dengan progesteron oral ternyata bisa meningkatkan peluang kelahiran hidup pada program Inseminasi Intrauterin (IUI)? MDG akan membahas lebih lanjut baca sampai habis ya!
Fungsi luteal Phase Support (LPS)
luteal phase support (LPS) merupakan bagian penting dari teknologi reproduksi berbantuan. Fungsi LPS adalah untuk menginduksi proliferasi endometrium, mencegah ovulasi prematur spontan, membantu menebalkan lapisan rahim, mempersiapkan rahim untuk menerima sel telur yang telah dibuahi.
Dalam studi yang melibatkan hampir 1200 siklus IUI, yang dilakukan antara Januari 2017 hingga Desember 2021, ditemukan fakta menarik. Ternyata, kelompok yang menerima progesteron oral di fase luteal punya angka kelahiran hidup yang lebih tinggi (19,7%) dibandingkan kelompok yang tidak (14,5%)! Bahkan, angka kehamilan klinis dan kehamilan yang berlanjut juga lebih tinggi pada kelompok LPS, loh.
Temuan lainnya dengan tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Casarramona dkk dengan judul penelitian “The efficacy and safety of luteal phase support with progesterone following ovarian stimulation and intrauterine insemination: A systematic review and meta-analysis” yang bertujuan untuk memperbarui bukti terbaru mengenai efektivitas dan keamanan penggunaan progesteron dalam fase luteal (LPS) setelah stimulasi ovarium dan inseminasi intrauterin (OS-IUI) pada kasus infertilitas pria ringan atau yang tidak dapat dijelaskan.
Memiliki temuan diantaranya adalah
- Dari total 12 uji klinis acak (RCT) yang melibatkan 2.631 pasien dan 3.262 siklus OS-IUI, ditemukan bahwa pemberian LPS progesteron meningkatkan peluang kelahiran hidup dan kehamilan klinis dibandingkan tanpa LPS atau plasebo.
- Efek positif ini lebih jelas terlihat pada protokol OS-IUI yang menggunakan gonadotropin dibandingkan dengan yang menggunakan klomifen sitrat.
- LPS progesteron tidak berpengaruh terhadap tingkat kehamilan ganda atau risiko keguguran.
- Tidak ditemukan hubungan antara dosis atau durasi penggunaan progesteron dengan tingkat keberhasilan kehamilan.
Dari pemaparan diatas menunjukkan metode ini bisa jadi berhasil untuk sister dan paksu pilih, namun tentu saja tetap harus disesuaikan dengan kasus yang sister hadapi, jadi buat sister dan paksu yang sedang mempertimbangkan IUI, penting untuk berdiskusi dengan dokter mengenai kemungkinan menimbang intervensi ini ke dalam protokol perawatan kalian. Setiap pasangan memiliki kondisi unik, jadi konsultasi dengan profesional kesehatan. Untuk informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
Xi, Q., Liao, M., Wang, Y., Wang, B., Wang, Y., & Kuang, Y. (2024). Luteal phase support with oral progesterone improves the live birth rate in patients undergoing IUI cycles using letrozole with or without HMG. Reproductive BioMedicine Online, 104077.
Greenbaum, S., Athavale, A., Hershko Klement, A., & Bentov, Y. (2022). Luteal phase support in fresh and frozen embryo transfers. Frontiers in Reproductive Health, 4, 919948.
Casarramona, G., Lalmahomed, T., Lemmen, C. H. C., Eijkemans, M. J. C., Broekmans, F. J. M., Cantineau, A. E. P., & Drechsel, K. C. E. (2022). The efficacy and safety of luteal phase support with progesterone following ovarian stimulation and intrauterine insemination: A systematic review and meta-analysis. Frontiers in endocrinology, 13, 960393.

Sister, kamu pasti tahu kalau program inseminasi intrauterin (IUI) bisa jadi hadir sebagai pilihan pertama buat pasangan yang mengalami masalah kesuburan. Tapi, apakah kamu tahu kalau tingkat keberhasilan IUI bisa lebih tinggi dengan menggunakan metode inseminasi lepas lambat (SRI) yang dimodifikasi?
Apa itu Metode inseminasi lepas lambat (Slow-Release Insemination/SRI)?
SRI merupakan sebuah pompa kecil sekali pakai yang secara perlahan-lahan melepaskan sperma ke dalam uterus dalam jangka waktu 4 jam melalui kateter balon dan alat suntik inseminasi.
Tidak seperti Intrauterine Insemination (IUI) Inseminasi Intra-Uterus yang biasa, yang mendorong cairan sperma ke dalam uterus secara langsung, EVIE meniru secara alami yang melepaskan sperma secara perlahan dan lembut sehingga memaksimalkan keberhasilan sel sperma mencapai sel telur serta meningkatkan kesuburan.
Mengapa SRI Meningkatkan Kehamilan?
Metode ini dapat digadang-gadang dapat meningkatkan kehamilan, diantaranya karena dapat
- Meningkatkan durasi hubungan potensial antara sel sperma dengan sel telur
- Mengurangi resiko terjadinya sperma kembali ke vagina
- Mengurangi resiko keluarnya sperma ke dalam perut melalui tabung falopi
- Menghindari resiko kemungkinan terjadinya polispermi (ketika ovum telah dibuahi oleh lebih dari 1 sperma, yang mengakibatkan terjadinya zigot non-viabel). Hal ini terjadi karena adanya persaingan yang lebih kuat antara sel sperma IUI bolus karena sel spermanya terlalu efisien saat mencapai dan membuahi ovumnya.
- Menghindari resiko terjadinya reaksi imun
Apa kata Studi?
Sebuah studi menemukan bahwa metode inseminasi lepas lambat (Slow-Release Insemination/SRI) yang dimodifikasi bisa meningkatkan clinical pregnancy rate (CPR) setelah IUI. Hasilnya? Tingkat kehamilan naik dari 9,03% menjadi 13,52%! Faktor lain seperti usia pasangan, kebiasaan merokok, BMI, dan stimulasi ovarium tentunya juga berpengaruh pada keberhasilan IUI.
Jadi, buat sister dan paksu yang masih ingin mencoba IUI sebelum melangkah ke IVF, metode ini bisa jadi pertimbangan. Tentu saja, setiap kasus berbeda, jadi buat sister dan paksu bisa banget untuk mulai mencari tahu dengan berdiskusi pada dokter. Untuk informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Ombelet, W., Van der Auwera, I., Bijnens, H., Onofre, J., Kremer, C., Bruckers, L., … & Dhont, N. (2021). Improving IUI success by performing modified slow-release insemination and a patient-centred approach in an insemination programme with partner semen: a prospective cohort study. Facts, Views & Vision in Obgyn, 13(4), 359.
- https://www.sengclinic.com/ind/Slow-Release-Intra-Uterine-Insemination-EVIE-Seng-Clinic-Services#:~:text=APA%20ITU%20SLOW%20RELEASE%20INSEMINATION,balon%20dan%20alat%20suntik%20inseminasi.

Sister, dari kalian yang sedang berproses melawan infertilitas, pasti sering dengar soal berbagai protokol IVF, kan? Salah satunya adalah protokol ultra-panjang, yang katanya bisa meningkatkan peluang kehamilan lebih baik dibanding protokol panjang biasa. Tapi, bener nggak sih? MDG akan menjelaskan lebih lanjut dalam artikel kali ini.
Apa itu Ultra-long protocol IVF dan Bagaimana Prosedurnya?
Protokol IVF jangka panjang, yang juga dikenal sebagai protokol agonis, adalah protokol IVF tradisional yang telah digunakan sejak awal mula IVF. Seluruh proses biasanya memakan waktu sekitar 4-6 minggu, lebih lama dari protokol jangka pendek.
Prosedur Protokol IVF jangka panjang meliputi konsultasi awal melibatkan proses konsultasi menyeluruh dan personal untuk merencanakan tindakan terbaik bagi perjalanan kesuburan unik Anda.
Langkah-langkahnya diantaranya adalah Down-Regulation, dalam protokol IVF jangka panjang, langkah pertama adalah down-regulation. Di sini, sister akan mengonsumsi obat untuk menekan siklus menstruasi alami, yang biasanya berlangsung sekitar dua minggu. Ini memberi spesialis kesuburan terkontrol lebih besar atas waktu pengambilan sel telur.
Tahap selanjutnya adalah stimulasi ovarium, setelah down-regulation, sister akan mulai mengonsumsi suntikan hormon selama sekitar 10-12 hari untuk merangsang ovarium agar menghasilkan lebih banyak sel telur. Perkembangan sel telur ini dipantau secara ketat dengan pemindaian ultrasonografi rutin.
Tahap berikutnya adalah Trigger Shot, “Trigger shot” diberikan untuk menginduksi pematangan sel telur akhir setelah folikel mencapai ukuran yang sesuai. Setelah proses tersebut selesai langkah selanjutnya adalah pengambilan sel telur, Sel telur kemudian diambil dengan sedasi ringan melalui prosedur bedah minor.
Dan di tahap sebelum akhir yaitu fertilisasi & kultur embrio, dimana setelah diambil, sel telur dibuahi dengan sperma di laboratorium, dan embrio yang dihasilkan dikulturkan hingga siap untuk dipindahkan. HIngga tahap akhir yaitu transfer embrio, satu atau lebih embrio dipindahkan ke rahim. Embrio berkualitas tinggi yang tidak dipindahkan dapat dibekukan untuk digunakan di masa mendatang.
Apa kata Studi Terbaru?
Sebuah meta-analisis dari Shuai Liu dkk. (2021) menemukan bahwa protokol ultra-panjang dengan down regulasi 3 bulan ternyata dapat meningkatkan angka kehamilan klinis pada wanita infertil. Dibandingkan protokol panjang biasa, hasilnya menunjukkan peningkatan 31% dalam peluang kehamilan! Wah, cukup menjanjikan ya?
Temuan tersebut dilakukan pada kasus endometriosis, meskipun protokol ini bisa meningkatkan peluang kehamilan, hasil akhirnya tetap bisa bervariasi tergantung kondisi masing-masing pasien. Jadi yang paling penting tentu disesuaikan dengan kasus infertilitas yang sister dan paksu miliki. Informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Liu, S., Xie, Y., Li, F., & Jin, L. (2021). Effectiveness of ultra‐long protocol on in vitro fertilization/intracytoplasmic sperm injection‐embryo transfer outcome in infertile women with endometriosis: A systematic review and meta‐analysis of randomized controlled trials. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 47(4), 1232-1242.
- https://www.indiaivf.in/blog/short-or-long-ivf-protocol-which-is-better/?srsltid=AfmBOoqmW85pi7pZQb2XTRO9irOChl0zyA-BXHkabXPqkREmVFBwE81u

Hai sister adakah dari kalian yang sedang melakukan proses IVF? apa yang dominan kalian rasakan? adakah perasaan takut dan kecemasan lain? sangat masuk akal jika kalian mengalami pergulatan emosi. Bahkan melihat sebuah data Faktanya wanita mengalami kecemasan mengalami depresi saat menjalani IVF. Wah kenapa bisa begitu ya? MDG akan membahas lebih lanjut, Baca sampai habis ya?
Mengapa Proses IVF berpengaruh pada mental
Melalui sebuah penelitian yang dilakukan oleh yan dkk menemukan “Sebanyak 42% peserta mengalami kecemasan dan 46,4% mengalami depresi. Rata-rata skor skala dukungan sosial yang dirasakan (PSSS) menunjukkan tingkat dukungan sedang hingga tinggi, sementara skor Skala ketahanan Connor-Davidson (CD-RISC) menunjukkan ketahanan psikologis yang sedang. Dukungan sosial yang tinggi berhubungan dengan ketahanan psikologis yang lebih baik, dan keduanya berkorelasi negatif dengan kecemasan serta depresi”. Kira-kira kenapa sih proses IVF ini sangat berpengaruh pada kesehatan mental?
Potensi stress secara psikologis dan kecemasan tentu saja sangat masuk akal dimana hal ini berkaitan dengan masa depan yang tidak diketahui, stres yang melekat dalam hubungan dengan pasangan, keluarga, dan kolega; dan biaya finansial. Bagaimana tidak membuat seseorang tertekan semua proses yang ada program hamil tidaklah mudah. Banyak ketidakpastian sedangkan segala usaha harus dikerahkan, baik pola hidup sehat, pemeriksaaan yang ketat, hingga perasaan sendiri karena kasus-kasus ini tidak banyak yang memiliki. Lalu kira ada tidak ya cara untuk mengurangi rasa stress itu?
Aktivitas apa yang Dapat Membantu?
Sangat banyak sekali cara untuk mengurangi stress ini, MDG akan mencoba mengutip dari saran salah satu dokter, Dr Samantha Wild salah seorang dokter perempuan untuk kesehatan perempuan. Setidaknya ada enam dimulai dari yang paling dasar sister dan paksu dapat mengetahui apa yang diharapkan. Jika seseorang baru menjalani IVF, sebagian stres dan kekhawatiran dapat dikaitkan dengan ketidakpastian karena tidak mengetahui apa yang diharapkan. Proses ini dapat dilakukan dengan mulai membiasakan diri dengan proses IVF karena dapat membantu mengurangi beberapa kekhawatiran.
Selanjutnya adalah jaga kesehatan fisik, merawat diri sendiri secara fisik dapat membantu mengatasi IVF secara mental. Meskipun mungkin lelah karena perawatan dan prosedur hormonal, gerakan lembut dapat membantu meningkatkan suasana hati sister. Contohnya dengan melakukan gerakan selama 30 menit setidaknya 5 hari seminggu. Seperti aktivitas berenang, yoga, joging/jalan cepat
dan jangan lupa untuk di imbangi dengan makan dengan baik. Makan makanan seimbang yang mengandung protein, serat, dan lemak sehat. Menghindari alkohol dan kafein dapat membantu mengatasi kecemasan dan dapat meningkatkan kualitas tidur.
Selanjutnya adalah luangkan waktu, saat menjalani IVF, sister mungkin kesulitan untuk fokus pada kehidupan sehari-hari. Pekerjaan dan tuntutan lainnya dapat terasa sangat membebani. Jadi, cobalah untuk mengurangi tekanan tambahan selama masa ini.
Sister juga dapat berbagi perasaan, IVF dapat membuat sister merasa terasing – mungkin merasa sendirian, atau tidak ada yang mengerti apa yang sedang dialami. Cobalah untuk berbicara dengan teman atau anggota keluarga terpercaya yang dapat mendengarkan pengalaman sister dan membantu mendukung. Ada juga banyak grup dan forum daring yang bermanfaat dan dapat berbagi perasaan dengan orang lain yang menjalani IVF.
Dapat juga dengan Pertimbangkan untuk melakukan mindfulness, Menemukan cara untuk bersantai dapat membantu sister untuk menghadapi pasang surut IVF. Ini dapat dilakukan dengan melakukan latihan atau aktivitas yang disukai, bersosialisasi dengan orang lain, atau menghabiskan waktu sendirian.
Terakhir adalah cari dukungan profesional, IVF membawa banyak tantangan, dan mungkin ingin mencari dukungan profesional. Berbicara dengan dokter umum adalah tempat yang baik untuk memulai. Mereka dapat menyarankan bentuk bantuan yang sesuai, seperti terapi bicara atau kelompok pendukung.
Bagaimana, apakah sister salah satu yang sedang merasakan itu semua? atau sedang mendapatkan ruang untuk dapat berbagi? MDG harap sister mendapatkan ruang yang tepat untuk dapat berbagi dan menguatkan sister yang sedang menjalani IVF. Informasi menarik lainnya dapat di akses di Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Yan, Y., Ma, Y., Xu, L., & Lv, Y. (2024). Impact of perceived social support on anxiety and depression in women undergoing in vitro fertilization-embryo transfer: the role of psychological resilience. Journal of Assisted Reproduction and Genetics, 1-12.
- https://www.nature.com/articles/s41598-024-55097-3
- https://www.bupa.co.uk/newsroom/ourviews/cope-mentally-ivf#:~:text=jogging/brisk%20walking,health%20support%20via%20your%20work

Surabaya, 7 Februari 2025 – Fertility Bootcamp 2025 telah sukses menyelenggarakan sesi kedua pada tanggal 7 Februari 2025 pukul 19.00 WIB. Acara ini kembali menghadirkan suasana yang interaktif dan penuh kehangatan, tak kalah seru dari sesi pertama. Sesi ini dibuka oleh MC, Bu Min dari Menuju Dua Garis (MDG), dan dilanjutkan dengan sambutan dari Mizz Rosie selaku Founder MDG.
Selama 85 menit, peserta terbagi dalam breakout room berdasarkan cabang Morula IVF, yang meliputi Bandung, Ciputat, Denpasar, Jakarta, Margonda Depok, Padang, Pontianak, Surabaya, Tangerang, dan Yogyakarta. Setiap breakout room dipandu oleh dokter ahli dari masing-masing cabang Morula IVF, yang dengan antusias memberikan edukasi dan menjawab pertanyaan dari para peserta.
Antusiasme peserta sangat tinggi, terlihat dari banyaknya peserta yang berebut untuk mengangkat tangan dan bertanya langsung kepada dokter. Para pejuang dua garis (PDG) berbagi kisah perjalanan mereka, dari durasi perjuangan menghadapi infertilitas hingga berbagai program kehamilan yang telah dicoba. Para dokter menjelaskan setiap kasus dengan detail dan menggunakan pendekatan unik masing-masing. Salah satu dokter bahkan menciptakan momen penuh tawa dengan menyatakan, “Ya nggak apa-apa kalau stres saat promil, itu wajar! Kami yang dokter aja stres.” Ucapan ini disambut gelak tawa dari peserta, menciptakan suasana yang lebih rileks dan penuh semangat.
Menjadi pejuang dua garis bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi merupakan bagian dari takdir terbaik yang mempertemukan para sister dan paksu dalam komunitas yang saling mendukung. Sesi kedua ini pun ditutup dengan penuh haru, terlebih saat diputarnya lagu “Batas Senja – Nanti Kita Seperti Ini” yang menyentuh hati para peserta. Beberapa peserta bahkan meneteskan air mata, merasakan kedekatan yang semakin erat dalam komunitas ini.
Sayangnya, waktu yang terbatas membuat beberapa peserta belum sempat mengajukan pertanyaan mereka. Namun, Fertility Bootcamp 2025 masih akan berlanjut ke sesi ketiga, yang diharapkan dapat kembali memberikan ruang diskusi yang lebih luas bagi para pejuang dua garis.
Nantikan informasi lebih lanjut tentang sesi selanjutnya dengan mengikuti Instagram resmi kami di @menujuduagaris.id. Sampai jumpa di sesi berikutnya!
Tentang Menuju Dua Garis (MDG)
Menuju Dua Garis (MDG) adalah komunitas yang berkomitmen untuk memberikan edukasi, dukungan, dan ruang berbagi bagi para pejuang dua garis dalam perjalanan mereka menuju kehamilan. Melalui berbagai kegiatan seperti Fertility Bootcamp, MDG terus berupaya menghadirkan informasi yang terpercaya dan membangun solidaritas antar anggota komunitas.