Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah salah satu gangguan hormon paling sering dialami perempuan usia reproduktif. Tapi ironisnya, banyak yang baru menyadari kondisinya setelah bertahun-tahun menghadapi haid tidak teratur, jerawat membandel, atau kesulitan hamil.
Masalahnya bukan karena PCOS jarang terjadi, melainkan karena cara kita memahami dan mendiagnosisnya masih penuh tantangan. Di sinilah Anti-Müllerian Hormone (AMH) mulai menarik perhatian.
Mengapa Diagnosis PCOS Sering Terasa “Abu-abu”?
Selama ini, PCOS ditegakkan menggunakan kriteria Rotterdam: gangguan ovulasi, kelebihan hormon androgen, dan gambaran ovarium polikistik di USG. Cukup dua dari tiga, diagnosis bisa ditegakkan. Namun, pendekatan ini membuat PCOS memiliki banyak wajah. Ada perempuan dengan ovarium polikistik di USG tapi siklusnya teratur. Ada pula yang haidnya jarang dan sulit hamil, tapi gambaran USG tampak “normal”.
Akibatnya, PCOS bisa:
- terdiagnosis terlalu cepat,
- terdiagnosis terlambat,
- atau malah terlewat sama sekali.
AMH dan Cerita Tentang Folikel Ovarium
AMH adalah hormon yang diproduksi oleh folikel kecil di ovarium. Ia sering disebut sebagai “cermin cadangan ovarium”, karena kadarnya berkaitan erat dengan jumlah folikel yang tersedia. Pada perempuan dengan PCOS, jumlah folikel kecil ini biasanya jauh lebih banyak. Itulah sebabnya kadar AMH pada PCOS cenderung lebih tinggi dibanding perempuan tanpa PCOS.
Menariknya, AMH:
- relatif stabil sepanjang siklus haid,
- tidak bergantung pada hari pemeriksaan,
- dan tidak subjektif seperti USG yang sangat tergantung alat dan operator.
Inilah alasan mengapa AMH mulai dilirik sebagai alat bantu diagnosis yang lebih objektif.
Ketika AMH Tinggi Tidak Sama dengan Mudah Hamil
Banyak yang mengira AMH tinggi berarti kesuburan tinggi. Pada PCOS, ceritanya tidak sesederhana itu. Meski folikel banyak, lingkungan ovarium pada PCOS sering kali tidak mendukung pematangan sel telur. Folikel berhenti tumbuh, ovulasi jarang terjadi, dan siklus menjadi tidak teratur. Dengan kata lain, AMH tinggi pada PCOS lebih mencerminkan jumlah, bukan kualitas. Cadangan ada, tapi tidak selalu siap digunakan.
Potensi Besar AMH dalam Membantu Diagnosis PCOS
Dalam kondisi tertentu misalnya pada perempuan muda atau saat USG tidak memberikan gambaran yang jelas AMH bisa sangat membantu. Ia dapat menjadi pelengkap yang memperkuat kecurigaan PCOS ketika gejalanya samar.
Namun, AMH belum bisa berdiri sendiri sebagai penentu diagnosis. Nilainya dipengaruhi oleh: usia, berat badan, latar belakang etnis, serta perbedaan metode pemeriksaan laboratorium. Karena itu, sampai saat ini AMH lebih tepat digunakan sebagai alat pendukung, bukan pengganti total kriteria yang sudah ada.
Peran AMH dalam Dunia Fertilitas dan Promil
Di luar diagnosis, AMH sudah lama digunakan dalam praktik fertilitas. Ia membantu dokter:
- memprediksi respons ovarium terhadap stimulasi,
- menentukan dosis obat yang lebih aman,
- dan meminimalkan risiko hiperstimulasi.
Namun penting diingat, AMH tidak menentukan segalanya. Keberhasilan hamil tetap dipengaruhi banyak faktor: kualitas sel telur, sperma, kondisi rahim, hormon, hingga kesehatan metabolik.
PCOS, AMH, dan Cara Baru Memahami Infertilitas
PCOS bukan sekadar masalah ovarium, dan AMH bukan sekadar angka laboratorium. Keduanya adalah potongan puzzle dari sistem tubuh yang bekerja saling terhubung.
Karena itu, infertilitas perlu dipahami sebagai kondisi multifaktorial.
Bukan karena penyebabnya tidak bisa ditemukan, tetapi karena tubuh bekerja sebagai satu sistem. Menemukan dan menangani setiap faktor yang terlibat bukan hanya satu adalah kunci untuk membuka kembali peluang kehamilan.
Referensi
- Vale-Fernandes, E., Pignatelli, D., & Monteiro, M. P. (2025). Should anti-Müllerian hormone be a diagnosis criterion for polycystic ovary syndrome? An in-depth review of pros and cons. European Journal of Endocrinology, 192(4), R29-R43.

Selama ini, keguguran sering dibahas dari sisi hormon, genetik, atau kondisi rahim.
Tapi ada satu faktor yang jarang kita sadari, padahal makin hari makin nyata dampaknya: suhu lingkungan yang semakin panas.
Perubahan iklim bukan cuma soal cuaca ekstrem atau gelombang panas.
Bagi perempuan hamil, terutama di awal kehamilan, panas berlebih bisa menjadi tekanan biologis yang serius dan sayangnya sering tak terlihat.
Cuaca Panas dan dampaknya pada Infertilitas
Tubuh perempuan hamil bekerja ekstra keras. Sehingga aliran darah meningkat, metabolisme berubah, dan sistem hormon berada dalam fase yang sangat sensitif.
Ketika suhu lingkungan terlalu tinggi, tubuh harus berjuang menjaga keseimbangan suhu internal.
Masalahnya, pada kehamilan awal, mekanisme ini belum stabil.
Panas berlebih dapat mengganggu aliran darah ke rahim dan plasenta, mengurangi suplai oksigen, dan menciptakan kondisi yang kurang ideal bagi embrio yang sedang berkembang.
Bukan karena tubuh “lemah”, tapi karena fase awal kehamilan memang sangat rentan terhadap stres lingkungan. Menariknya, dampak panas tidak dirasakan sama oleh semua perempuan. Mereka yang tinggal di daerah beriklim panas cenderung menghadapi risiko lebih besar, apalagi jika akses terhadap pendingin ruangan, air bersih, nutrisi, dan layanan kesehatan terbatas.
Di wilayah dengan sumber daya lebih baik, tubuh mungkin terbantu oleh adaptasi seperti pendingin ruangan atau istirahat yang cukup.Namun di banyak tempat lain, panas adalah paparan harian yang tidak bisa dihindari. Artinya, iklim dan kondisi sosial berjalan beriringan, membentuk risiko kehamilan secara perlahan.
Mengapa Awal Kehamilan Paling Sensitif?
Awal kehamilan adalah masa pembentukan sistem vital embrio. Perubahan kecil dalam lingkungan termasuk suhu bisa berdampak besar.
Panas berlebih dapat:
- Mengganggu regulasi hormon kehamilan
- Meningkatkan stres fisiologis pada ibu
- Mengubah aliran darah ke rahim
- Memicu respons inflamasi yang tidak ideal
Semua ini bisa meningkatkan risiko kehamilan berhenti sebelum waktunya, bahkan tanpa gejala yang jelas sebelumnya. Lingkungan tempat kita hidup baik udara, suhu, kondisi sosial ikut membentuk hasil kehamilan. Dan di era perubahan iklim, faktor ini tidak bisa lagi dianggap sepele. Sehingga memahami peran iklim bukan untuk menambah rasa takut,
tetapi untuk membuka ruang empati, pencegahan, dan kebijakan yang lebih ramah pada perempuan hamil.
Kehamilan bukan hanya urusan rahim, hormon, atau genetika. Ia adalah proses biologis yang hidup di dalam konteks lingkungan. Saat suhu bumi terus meningkat, perhatian pada kesehatan ibu hamil harus ikut berkembang. Karena menjaga kehamilan, pada akhirnya, juga berarti menjaga lingkungan tempat kehidupan itu tumbuh. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Xu, J., Xu, H., Zhao, X., Guo, Z., Zhao, S., & Xu, Q. (2025). Association between high ambient temperature and spontaneous abortion: A systematic review and meta-analysis. Ecotoxicology and Environmental Safety, 297, 118234.

Infertilitas sering diperlakukan seolah hanya ada satu sumber masalah yang harus dicari dan diperbaiki. Padahal, proses terjadinya kehamilan melibatkan banyak sistem yang bekerja bersamaan. Rahim, ovarium, tuba, hormon, sistem imun, metabolisme, hingga kondisi mental saling terhubung dan saling memengaruhi. Ketika satu bagian terganggu, keseimbangan keseluruhan ikut berubah.
Ketika Tubuh Menyimpan Lebih dari Satu Cerita
Banyak perempuan datang dengan kondisi yang terlihat “baik-baik saja”. Siklus menstruasi teratur, hasil pemeriksaan awal normal, dan tidak ada nyeri yang mencolok. Namun, pemeriksaan lanjutan sering membuka cerita lain: peradangan tersembunyi, perubahan struktur rahim, gangguan pada tuba, atau kondisi hormonal yang tampak ringan tapi berdampak besar.
Infertilitas jarang hadir sendirian. Ia sering muncul sebagai gabungan beberapa gangguan kecil yang saling memperkuat.
Fokus Terlalu Sempit, Masalah Tetap Tinggal
Pendekatan yang hanya mengejar satu target misalnya ovulasi atau kualitas sel telur sering lupa bertanya hal yang lebih mendasar. Apakah rahim siap menerima embrio? Apakah lingkungan di dalamnya mendukung implantasi? Apakah tubuh berada dalam kondisi aman untuk mempertahankan kehamilan?
Ketika hanya satu aspek yang diperbaiki, sementara yang lain dibiarkan, hasilnya sering tidak sesuai harapan.
Tidak Selalu Nyeri, Tapi Bisa Merusak
Salah satu tantangan terbesar dalam infertilitas adalah banyaknya kondisi yang berjalan tanpa gejala jelas. Tidak semua gangguan reproduksi menimbulkan nyeri hebat atau tanda yang mudah dikenali. Ada masalah yang berkembang perlahan, diam-diam, dan baru terdeteksi ketika kehamilan sulit terjadi atau terus berulang gagal.
Ketidakhadiran gejala sering membuat masalah yang sebenarnya serius menjadi terlambat ditangani.
Infertilitas bukan hanya soal organ reproduksi. Ia berkaitan dengan bagaimana tubuh merespons stres, peradangan, perubahan hormon, hingga adaptasi terhadap lingkungan dan gaya hidup. Setiap sistem memberi kontribusi, sekecil apa pun.
Karena itu, memahami infertilitas berarti memahami tubuh sebagai satu kesatuan, bukan kumpulan bagian yang berdiri sendiri.
Mengapa Pendekatan Menyeluruh Lebih Masuk Akal
Pendekatan yang melihat infertilitas secara menyeluruh membantu mengungkap keterkaitan antar masalah. Bukan sekadar mencari penyebab, tetapi memahami pola. Bukan hanya memperbaiki satu fungsi, tetapi membangun kembali keseimbangan tubuh.
Dalam banyak kasus, perubahan besar justru terjadi ketika perhatian diberikan pada hal-hal yang sebelumnya dianggap “tidak terlalu penting”.
Kegagalan pendekatan satu arah bukan berarti tubuh tidak mampu. Sering kali, itu hanya tanda bahwa tubuh belum didengarkan secara utuh. Infertilitas bukan tentang siapa yang salah, melainkan tentang memahami sinyal-sinyal halus yang dikirim tubuh selama ini.
Ketika tubuh dipahami sebagai sistem yang saling terhubung, perjalanan menuju kehamilan pun menjadi lebih manusiawi dan bermakna. Jadi sister dan paksu jangan lupa untuk konsultaskan ke dokter ya! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Popescu, C. D., Hamoud, B. H., Sima, R. M., Bobirca, A., Balalau, O. D., Amza, M., … & Ples, L. (2024). Infertility as a possible multifactorial condition; The experience of a single center. Journal of Mind and Medical Sciences, 11(2), 59.

Banyak perempuan merasa lega setelah kista ovarium diangkat. Nyeri berkurang, aktivitas lebih nyaman, dan secara kasat mata masalahnya terasa “sudah selesai”. Tapi setelah itu, sering muncul satu pertanyaan yang pelan-pelan mengganggu pikiran: kalau operasi kista dilakukan, apalagi lebih dari sekali, apakah peluang hamil bisa ikut terdampak? Pertanyaan ini wajar, karena ovarium bukan sekadar organ biasa di sanalah sel telur disimpan. Yuk sister pahami lebih dalam!
Kista Ovarium dan Operasi yang Terlihat Aman
Kista ovarium jinak termasuk kondisi yang cukup sering dialami perempuan usia reproduksi. Dalam banyak kasus, dokter memilih operasi pengangkatan kista dengan tetap mempertahankan ovarium. Artinya, hanya kistanya yang diangkat, bukan seluruh organ.
Secara teori, ini terdengar aman dan “ramah kesuburan”. Namun dalam praktiknya, operasi tetap melibatkan sayatan, manipulasi jaringan, dan proses penyembuhan yang tidak selalu sempurna.
Apa yang Terjadi pada Ovarium Setelah Operasi?
Saat kista diangkat, ada kemungkinan jaringan ovarium sehat ikut terambil atau mengalami trauma. Ovarium sangat sensitif, dan setiap luka kecil bisa memengaruhi cara ia bekerja kedepannya.
Jika operasi dilakukan berulang kali, risiko ini bisa bertambah. Bukan berarti semua perempuan yang pernah operasi kista pasti sulit hamil, tapi tubuh bisa menyimpan “jejak” dari tindakan tersebut.
Kenapa Ada yang Tetap Sulit Hamil Meski Hasil Lab Baik?
Banyak sister bingung karena hasil hormon, seperti AMH, terlihat masih normal setelah operasi. Tapi kenyataannya, kesuburan bukan cuma soal angka di hasil lab.
Hormon bisa terlihat baik, tapi kualitas jaringan ovarium, aliran darah, dan lingkungan tempat sel telur berkembang bisa berubah setelah operasi. Inilah alasan mengapa sebagian perempuan tetap mengalami kesulitan hamil meski hasil pemeriksaannya tampak aman.
Bukan Hanya Operasinya, Tapi Juga Penyebab Kistanya
Hal penting lain yang sering luput adalah: kenapa kista itu muncul sejak awal?
Kondisi seperti endometriosis atau gangguan hormon tertentu tidak hanya memicu kista, tapi juga bisa memengaruhi kesuburan secara langsung. Jadi, dalam banyak kasus, bukan hanya operasinya yang berperan, melainkan juga kondisi tubuh yang mendasarinya.
Jadi, Haruskah Operasi Kista Dihindari?
Operasi kista tidak selalu salah dan kadang memang diperlukan misalnya jika kista menimbulkan nyeri berat, berisiko pecah, atau menekan organ lain. Namun, operasi sebaiknya menjadi keputusan yang benar-benar dipertimbangkan, terutama jika sister masih merencanakan kehamilan.
Diskusi yang terbuka dengan dokter tentang:
- manfaat dan risiko operasi
- kemungkinan alternatif non-operasi
- serta rencana kehamilan ke depan
Operasi kista ovarium, terutama jika dilakukan berulang, berpotensi memengaruhi peluang hamil di masa depan, meski dampaknya tidak selalu langsung terlihat. Karena itu, setiap keputusan medis sebaiknya diambil dengan pemahaman utuh bukan sekadar ingin “menghilangkan kista”, tapi juga menjaga masa depan reproduksi.
Tubuh perempuan itu kompleks, dan setiap sister berhak mengambil keputusan dengan informasi yang lengkap dan penuh kesadaran
Referensi
- Shandley, L. M., Spencer, J. B., Kipling, L. M., Hussain, B., Mertens, A. C., & Howards, P. P. (2023). The risk of infertility after surgery for benign ovarian cysts. Journal of Women’s Health, 32(5), 574-582.

Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan. Hari ini, ia menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia, termasuk kesehatan reproduksi perempuan dan laki-laki. Kenaikan suhu bumi, kekeringan, kebakaran hutan, polusi udara, hingga banjir ekstrim semuanya menciptakan kondisi yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi peluang memiliki keturunan dan kesehatan ibu hamil.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 250.000 kematian tambahan setiap tahun antara 2030–2050 akibat penyakit yang sensitif terhadap perubahan iklim. Angka ini mencerminkan besarnya beban kesehatan yang muncul seiring perubahan iklim yang kian cepat.
Di tengah berbagai dampak tersebut, kelompok yang paling rentan adalah ibu hamil, janin yang sedang berkembang, dan pasangan yang sedang berjuang mendapatkan keturunan.
Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kehidupan Sehari-hari
Perubahan iklim memengaruhi kehidupan dengan banyak cara:
- Suhu yang meningkat → gelombang panas, heat stress
- Kualitas udara yang memburuk → polusi partikulat PM2.5 dan gas berbahaya
- Bencana alam makin sering → banjir, badai, kekeringan
- Kebakaran hutan → paparan asap yang merusak paru dan sistem reproduksi
- Perubahan ekosistem → peningkatan penyakit akibat vektor seperti Zika dan COVID-19
Pada tahun 2020 saja, lebih dari seratus bencana iklim terjadi dan dampaknya dirasakan oleh puluhan juta orang di seluruh dunia. Yang sering luput dibicarakan bukan hanya banjir, panas ekstrem, atau badai melainkan efek jangka panjangnya pada tubuh manusia, termasuk kesuburan dan kehamilan.
Perubahan iklim perlahan mengubah kualitas udara yang kita hirup setiap hari. Polusi dari kendaraan, industri, dan bahan kimia di lingkungan tidak berhenti di paru-paru. Ia ikut masuk ke sistem hormon dan reproduksi. Pada perempuan, paparan udara yang tercemar dapat membuat cadangan sel telur menurun, siklus haid menjadi tidak teratur, dan peluang hamil secara alami ikut turun. Pada laki-laki, kualitas dan pergerakan sperma juga bisa terdampak.
Lingkungan dengan polusi tinggi membuat proses kehamilan menjadi lebih rapuh. Risiko keguguran meningkat, kualitas embrio bisa menurun, dan pada pasangan yang menjalani program hamil berbantu, peluang implantasi menjadi lebih rendah. Bahkan tinggal dekat jalan raya yang padat kendaraan pun dikaitkan dengan meningkatnya risiko infertilitas.
Yang membuat situasi ini mengkhawatirkan, dampaknya tetap terlihat meskipun faktor usia dan kondisi sosial ekonomi sudah diperhitungkan. Artinya, lingkungan benar-benar ikut menentukan kesehatan reproduksi, bukan sekadar gaya hidup pribadi.
Perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan atau masa depan yang jauh. Ia hadir di tubuh kita hari ini pelan, tidak terasa, tapi nyata dan memengaruhi keputusan paling dasar manusia: kemampuan untuk menciptakan kehidupan.
Kebakaran Hutan dan Kesehatan Reproduksi
Asap kebakaran hutan mengandung partikel ultrahalus yang dengan mudah masuk ke aliran darah. Efeknya mirip polusi udara ekstrem namun bisa jauh lebih toksik.
Paparan asap kebakaran dikaitkan dengan:
- Kelahiran prematur
- Pembentukan plasenta yang terganggu
- Penurunan kualitas sperma
- Peningkatan risiko keguguran
Dengan frekuensi kebakaran hutan yang makin sering, risiko ini diperkirakan akan terus meningkat.
Heat Stress: Suhu Panas dan Risiko Kehamilan
Gelombang panas yang berulang dapat menyebabkan:
- Penurunan jumlah dan kualitas sperma
- Gangguan ovulasi
- Dehidrasi ibu hamil
- Peningkatan risiko kelahiran prematur
- Kematian janin
- Gangguan perkembangan plasenta
Bayi yang terpapar suhu ekstrem saat dalam kandungan juga berisiko mengalami gangguan perkembangan saraf.
Bencana alam juga menyebabkan pemindahan tempat tinggal, kurangnya akses makanan sehat, dan paparan penyakit infeksi semuanya berkontribusi pada gangguan reproduksi.
Perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan tetapi juga isu kesetaraan kesehatan dan kelangsungan generasi mendatang. Dampaknya terlihat pada:
- Fertilitas perempuan dan laki-laki
- Kesehatan sperma dan ovarium
- Risiko keguguran
- Kelahiran prematur
- Perkembangan janin
- Kesehatan bayi di masa depan
Tenaga kesehatan perlu memahami bukti ini untuk memberikan edukasi yang tepat, mendorong strategi mitigasi, dan mengadvokasi kebijakan yang lebih melindungi kesehatan reproduksi.
Referensi
Segal, T. R., & Giudice, L. C. (2022). Systematic review of climate change effects on reproductive health. Fertility and sterility, 118(2), 215-223.

Endometriosis selama ini dikenal sebagai kondisi ketika jaringan mirip endometrium tumbuh di luar rahim. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa penyakit ini bukan hanya masalah panggul. Pada sebagian perempuan, jaringan endometriosis dapat mencapai area paru, pleura, hingga diafragma, memicu keluhan yang sering salah dikenali sebagai gangguan pernapasan biasa. Kondisi ini disebut Thoracic Endometriosis Syndrome (TES).
Walaupun TES tergolong langka, pemahamannya sangat penting karena gejalanya bisa membingungkan, sering terlambat dikenali, dan berpotensi menimbulkan kekambuhan berulang jika tidak ditangani dengan tepat. Yuk pahami lebih lanjut!
Apa itu Thoracic Endometriosis Syndrome (TES)?
TES adalah kondisi ketika jaringan mirip endometrium ditemukan di rongga dada termasuk di paru-paru, pleura (lapisan paru), atau diafragma. Jaringan ini merespons hormon layaknya endometrium di rahim, sehingga gejalanya sering muncul berkaitan dengan siklus menstruasi.
TES dapat muncul dalam bentuk:
- Catamenial pneumothorax – paru tiba-tiba kolaps saat atau menjelang haid
- Catamenial hemothorax – darah mengisi rongga dada saat haid
- Hemoptysis – batuk darah
- Nyeri bahu atau dada siklik
- Nodul paru yang kadang ditemukan secara tidak sengaja
Mengapa Endometriosis Bisa Sampai ke Paru dan Diafragma?
Para peneliti belum menemukan satu teori tunggal yang dapat menjelaskan seluruh mekanisme TES. Namun, ada beberapa penjelasan yang paling mungkin:
- Retrograde menstruation (menstruasi balik) Sel endometrium mengalir ke rongga peritoneum, lalu terbawa arus cairan ke arah kanan hingga mencapai diafragma.
Selanjutnya, ia dapat menembus diafragma melalui celah kecil, lalu masuk ke rongga dada. - Penyebaran melalui pembuluh darah atau limfatik, Sel endometrium dapat ikut “terbawa” melalui aliran darah atau sistem limfatik, lalu tumbuh di paru.
- Metaplasia sel, Sel pleura dan diafragma yang berasal dari jaringan embrional yang sama dengan endometrium dapat berubah menjadi jaringan mirip endometrium di kondisi tertentu. Kemungkinan besar TES adalah hasil kombinasi beberapa mekanisme tersebut.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
TES dapat bersifat asimtomatik pada sebagian perempuan, namun pada kasus yang bergejala, keluhannya bisa sangat khas:
- Sesak napas yang muncul tiba-tiba saat haid
- Nyeri dada atau nyeri bahu kanan berulang
- Batuk darah hanya saat menstruasi
- Pneumothorax yang terus berulang setiap bulan
- Nyeri perut bagian atas yang menjalar ke bahu
Beberapa pasien bahkan mengalami pneumothorax berulang bertahun-tahun tanpa curiga bahwa penyebabnya terkait siklus haid.
Mengapa TES Sering Terlambat Didiagnosis? TES termasuk salah satu bentuk endometriosis yang paling sering “terlewat”, karena:
- Gejalanya mirip penyakit paru lain: TB, asma, pneumonia, pneumothorax spontan.
- Pemeriksaan awal seperti rontgen atau CT-scan sering tidak menunjukkan kelainan yang jelas.
- Banyak tenaga kesehatan yang belum familiar dengan hubungan antara gejala pernapasan dan siklus haid.
Diagnosis yang paling akurat biasanya melibatkan:
- MRI dada–abdomen
- VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery)
- Laparoskopi untuk mengevaluasi endometriosis panggul
TES sebagai Indikator Endometriosis yang Lebih Luas
Sekitar 80% pasien TES juga memiliki endometriosis panggul. Bahkan, gejala pernapasan sering muncul 5–7 tahun setelah keluhan endometriosis panggul pertama kali muncul. Karena itu, TES dipandang sebagai penanda endometriosis yang lebih berat dan lebih luas. Semakin dini dikenali, semakin besar peluang mencegah komplikasi yang lebih serius.
Lalu, Bagaimana Memahami TES Lebih Dalam?
TES perlu pendekatan multidisiplin, karena melibatkan organ yang berbeda paru, diafragma, hingga rongga perut. Namun sebelum berbicara tentang penanganan, penting bagi perempuan untuk memahami:
- bagaimana endometriosis bisa menyebar ke organ lain
- apa saja komplikasi berat yang bisa muncul
- kapan harus curiga gejala yang dirasakan bukan “masuk angin biasa”
- dan bagaimana mencegah kondisi seperti adhesi berat hingga risiko gangguan ginjal dari endometriosis panggul
Referensi
- Nezhat, C., Amirlatifi, N., Najmi, Z., & Tsuei, A. (2024). Thoracic Endometriosis Syndrome: A Comprehensive Review and Multidisciplinary Approach to Management. Journal of Clinical Medicine, 13(24), 7602.

Infertilitas sebenarnya jauh lebih umum daripada yang kita bayangkan. Secara global, sekitar 1 dari 6 perempuan mengalami kesulitan untuk hamil. Bahkan di Amerika Serikat, penelitian terbaru menunjukkan bahwa 12% perempuan usia 20–44 tahun pernah mengalami masalah infertilitas. Dengan angka sebesar ini, hampir setiap orang pasti mengenal seseorang yang sedang berjuang untuk memiliki anak atau mungkin mengalaminya sendiri.
Menariknya, sekitar 70% perempuan yang mengalami infertilitas sebenarnya sadar bahwa mereka memiliki masalah kesuburan. Mereka tahu ada yang tidak berjalan semestinya dan memahami bahwa tubuh mereka membutuhkan bantuan. Namun, kesadaran ini tidak otomatis berujung pada pengobatan atau keberhasilan kehamilan. Ada jurang besar yang oleh para ahli disebut sebagai “fertility care cascade” kesenjangan antara kesadaran untuk mencari bantuan, mendapatkan layanan medis, dan akhirnya berhasil melahirkan.
Ketimpangan Akses: Ketika Identitas Sosial Ikut Menentukan Peluang Memiliki Anak
Keberhasilan program hamil ternyata bukan hanya soal kondisi medis. Faktor-faktor sosial seperti pendapatan, pendidikan, jenis asuransi, dan bahkan ras diam-diam memainkan peran besar dalam menentukan siapa yang memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan anak melalui bantuan teknologi reproduksi.
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan kulit putih dan Asia memiliki kemungkinan tertinggi untuk mencapai kelahiran hidup melalui pengobatan infertilitas. Sebaliknya, perempuan kulit hitam dan Hispanik menghadapi angka keberhasilan yang jauh lebih rendah, hanya sekitar 3–4% yang akhirnya berhasil memiliki bayi melalui perawatan kesuburan.
Bukan karena tubuh mereka kurang mampu atau kurang sehat. Tantangan terbesar justru berasal dari faktor eksternal, seperti:
- biaya pengobatan fertilitas yang sangat mahal,
- tidak adanya jaminan asuransi untuk prosedur seperti IVF,
- akses klinik fertilitas yang terbatas,
- lokasi fasilitas kesehatan yang jauh,
- stigma sosial yang membuat mereka enggan mencari pertolongan,
- kurangnya informasi tentang infertilitas,
- serta regulasi negara bagian yang semakin membatasi penggunaan teknologi reproduksi.
Semua ini menciptakan hambatan besar banyak perempuan tahu mereka membutuhkan bantuan, tetapi sistem tidak menyediakan jalannya. Ketimpangan ini membuat keberhasilan pengobatan infertilitas tidak hanya ditentukan oleh biologi, melainkan juga oleh lingkungan sosial dan ekonomi yang melingkupi mereka.
Semakin Restriktif Aturan Negara, Semakin Sempit Peluang Perempuan untuk Punya Anak
Kebijakan yang Membentuk Akses: Ketika Regulasi Memperlebar Kesenjangan
Penelitian ini muncul pada momen yang sensitif, ketika sejumlah negara bagian di Amerika Serikat mulai memperketat regulasi terkait teknologi reproduksi, termasuk IVF, bahkan untuk alasan non-medis. Kebijakan seperti ini tidak hanya mengubah lanskap layanan kesehatan reproduksi, tetapi juga memperlebar kesenjangan yang sudah besar sejak awal.
Perempuan dengan pendapatan tinggi, tingkat pendidikan yang baik, dan akses terhadap asuransi pribadi masih memiliki peluang relatif besar untuk mendapatkan perawatan kesuburan. Namun bagi perempuan dari kelompok minoritas baik ras maupun ekonomi akses itu semakin menjauh. Ironisnya, keinginan untuk menjadi orang tua sama kuatnya, tetapi peluangnya tidak sama.
Jika dilihat dari gambaran besar, penelitian ini menyampaikan pesan yang tegas:
- banyak perempuan menyadari bahwa mereka infertil,
- hanya sebagian yang bisa mengakses layanan promil,
- dan hanya sebagian kecil dari kelompok ini yang akhirnya berhasil melahirkan.
Pada akhirnya, faktor sosial, ekonomi, dan kebijakan negara ikut menentukan siapa yang dapat memiliki anak. Infertilitas bukan hanya persoalan medis, tetapi juga cermin ketidaksetaraan sosial.
Relevansi Global: Ketimpangan Akses yang Juga Nyata di Indonesia
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Indonesia, tantangan serupa juga dirasakan banyak pasangan yang mengalami infertilitas. Layanan kesehatan reproduksi masih terkonsentrasi di kota-kota besar, membuat akses geografis menjadi masalah utama bagi masyarakat di wilayah lain. Biaya prosedur yang tinggi juga menjadi hambatan signifikan, terutama bagi keluarga berpendapatan rendah.
Selain itu, edukasi publik tentang infertilitas masih minim, sementara stigma sosial bahwa infertilitas adalah sesuatu yang memalukan atau harus disembunyikan membuat banyak pasangan enggan mencari bantuan lebih awal. Di sisi lain, dukungan emosional dan sosial sering kali terbatas, sementara fasilitas yang terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah masih sangat sedikit.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan fertilitas bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga isu keadilan sosial. Dan jika negara maju saja menghadapi disparitas sebesar itu, maka negara berkembang seperti Indonesia memiliki tantangan yang jauh lebih besar untuk memastikan bahwa setiap pasangan, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi orang tua.
Referensi
- Ulnicane I, Eke DO, Knight W, Ogoh G, Stahl BC. Good governance as a response to discontents? Déjà vu, or lessons for AI from other emerging technologies. Interdisciplinary Science Reviews. 2021;46(1-2):71-93. doi:10.1080/03080188.2020.1840220

Selama ini kita mengenal folat sebagai vitamin penting sebelum hamil wajib diminum karena melindungi bayi dari cacat tabung saraf. Tapi siapa sangka, folat ternyata punya peran lain yang jarang dibahas: ia ikut menyentuh kesehatan ovarium, bahkan bisa berhubungan dengan jumlah folikel kecil yang menjadi “calon-calon sel telur” kita.
Folikel ini dikenal sebagai antral follicle count atau AFC. Kalau AFC banyak, ovarium punya cadangan yang lebih baik dan biasanya lebih responsif terhadap program hamil seperti IVF.
Kalau sedikit, tubuh cenderung bekerja lebih keras untuk mendapatkan hasil yang sama.
Nah, pertanyaannya: apakah asupan folat benar-benar bisa membantu menjaga atau meningkatkan AFC? Ternyata, ada petunjuk ke arah sana.
Folat yang Cukup: Lingkungan Ovarium yang Lebih Sehat
Dalam penelitian besar yang dilakukan di sebuah klinik fertilitas akademik, para peneliti melihat pola sederhana: semakin cukup asupan folatnya, jumlah folikel antral perempuan cenderung sedikit lebih tinggi. Bukan lonjakan besar, tapi ada peningkatan nyata sekitar satu sampai satu setengah folikel tambahan jika asupan folatnya lebih tinggi.
Tentu, angka ini kecil. Tapi dalam dunia kesuburan, satu folikel tambahan sering kali bisa membawa perbedaan besar. Satu folikel berarti satu kesempatan lagi untuk mendapatkan sel telur. Satu sel telur berarti satu peluang ekstra bagi embrio terbentuk.
Ternyata Suplemen Memberikan Efek Terkuat
Yang menarik, folat dari makanan memang baik untuk kesehatan umum, tapi efeknya terhadap ovarium tidak terlalu terlihat. Justru folat dari suplemen yang terlihat paling konsisten memberikan manfaat.
Ada pola jelas: Sampai sekitar 800 mikrogram folat dari suplemen per hari, AFC terlihat meningkat. Tapi setelah lewat angka itu, manfaatnya seperti “mentok” tidak terus naik walaupun dosis ditambah.
Ini memberi gambaran bahwa ovarium kita merespons folat sampai titik tertentu. Lebih dari itu tidak membuat ovarium bekerja lebih baik, tapi juga tidak berbahaya.
Kenapa Folat Bisa Memengaruhi Cadangan Ovarium?
Kalau kita lihat dari sisi tubuh, semuanya masuk akal. Folat adalah vitamin yang sangat penting dalam pembentukan DNA dan pembelahan sel dua proses utama dalam pertumbuhan folikel. Ketika tubuh kekurangan folat, beberapa hal bisa terjadi: pembelahan sel tidak optimal, sel menjadi lebih mudah stres, proses metilasi terganggu, muncul lebih banyak peradangan, dan sel granulosa (yang menjaga folikel) jadi lebih rentan rusak.
Gabungan hal-hal inilah yang membuat folikel lebih cepat mengalami kematian atau gagal berkembang.
Sebaliknya, saat folat cukup, ovarium memiliki lingkungan yang lebih tenang, lebih stabil, dan lebih siap mendukung pertumbuhan folikel. Karena itu, wajar jika AFC terlihat sedikit lebih tinggi pada perempuan yang folatnya mencukupi.
Folat Bukan Pengubah Takdir, Tapi Ia Memberi “Support Kecil yang Berarti”
Walau begitu, folat bukanlah vitamin ajaib yang langsung menaikkan AMH atau membuat ovarium kembali muda. Tidak. Efeknya bukan sebesar itu.
Folat lebih seperti teman baik yang selalu hadir: tidak mengubah semuanya sendirian, tapi memberi dukungan kecil yang membuat proses dalam tubuh berjalan lebih mulus. Ia membantu menjaga lingkungan ovarium tetap sehat, menjaga siklus menstruasi lebih stabil, dan mendukung proses pembentukan sel telur berlangsung sebagaimana mestinya.
Dan yang terpenting: folat aman, murah, dan memiliki manfaat besar untuk kehamilan itu sendiri. Jadi memperbaiki asupan folat baik dari makanan maupun suplemen adalah langkah sederhana yang benar-benar masuk akal, terutama kalau sedang merencanakan kehamilan. Folat memang tidak membuat AFC melejit, tapi ia terlihat memberikan sedikit dorongan positif kecil namun berarti.
Kalau sister sedang promil atau sedang menjaga kesehatan reproduksi, pastikan asupan folatmu cukup setiap hari. Tidak perlu dosis berlebihan, karena manfaat terbaik justru ada pada dosis yang moderat dan konsisten.
Intinya, folat membantu ovarium bekerja di kondisi terbaiknya. Dan di perjalanan menuju dua garis, kadang dukungan kecil seperti inilah yang membuat perbedaan besar. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Kadir, M., Hood, R. B., Mínguez-Alarcón, L., Maldonado-Cárceles, A. B., Ford, J. B., Souter, I., … & EARTH Study Team. (2022). Folate intake and ovarian reserve among women attending a fertility center. Fertility and sterility, 117(1), 171-180.