Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Sister dan paksu harus tahu jika adenomiosis terjadi ketika jaringan endometrium yang seharusnya ada di dalam rongga rahim malah masuk ke dalam otot rahim. Kondisi ini bisa membuat ukuran rahim membesar, menyebabkan perdarahan haid yang lebih berat, nyeri panggul, atau terkadang tidak menimbulkan gejala sama sekali. Meski sering tidak disadari, adenomiosis cukup sering ditemukan pada perempuan yang sedang menjalani pemeriksaan infertilitas, terutama mereka yang mengalami keguguran berulang atau kegagalan implantasi berulang saat menjalani program hamil.
Kenapa Adenomiosis Diduga Mengganggu Kesuburan?
Pada tingkat jaringan, adenomiosis mengubah struktur dan fungsi rahim. Kontraksi otot rahim bisa menjadi tidak teratur, sehingga mengganggu perjalanan sperma dan pergerakan embrio. Lingkungan endometrium pun bisa mengalami peradangan kronis, peningkatan radikal bebas, perubahan reseptor hormon, serta penurunan molekul penting seperti integrin, LIF, dan HOXA10 semuanya berperan kunci dalam proses implantasi. Ketika “jendela implantasi” tidak sinkron, embrio berkualitas baik sekalipun bisa kesulitan menempel di dinding rahim.
Bagaimana Dampaknya pada Program IVF?
Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Ada studi yang tidak menemukan penurunan peluang kehamilan pada pasien adenomiosis, tetapi banyak penelitian lain justru menunjukkan pola negatif: angka implantasi lebih rendah, risiko keguguran lebih tinggi, dan angka kelahiran hidup yang turun. Sebuah meta-analisis besar bahkan mencatat bahwa adenomiosis dapat menurunkan peluang hamil klinis hingga sekitar 28% serta menggandakan risiko keguguran. Penelitian yang hanya menggunakan embrio euploid pun tetap menunjukkan peningkatan risiko keguguran menegaskan bahwa masalahnya berasal dari lingkungan rahim itu sendiri.
Tingkat Keparahan Berhubungan dengan Risiko IVF
Hasil studi terkini menunjukkan bahwa semakin banyak ciri adenomiosis yang ditemukan pada USG atau MRI, semakin besar penurunan peluang keberhasilan IVF. Pada kasus dengan empat atau lebih karakteristik adenomiosis, peluang hamil dapat turun hingga separuhnya. Variasi kriteria diagnosis antar studi (USG 2D/3D vs MRI, jumlah kriteria yang digunakan, dan perbedaan interpretasi) menjadi salah satu penyebab hasil penelitian sebelumnya saling bertentangan.
Perlukah Terapi Sebelum IVF?
Untuk itu diperlukan penggunaan agonis GnRH selama beberapa bulan sebelum IVF untuk membantu mengecilkan lesi dan mengurangi peradangan. Pendekatan ini tampak bermanfaat terutama pada siklus transfer embrio beku. Namun, hasilnya belum konsisten di semua penelitian. Operasi untuk mengangkat adenomiosis pun memiliki risiko khusus, termasuk risiko robekan rahim di masa kehamilan, sehingga harus dipertimbangkan dengan matang sesuai kondisi pasien.
Hampir separuh perempuan dengan adenomiosis memiliki kondisi lain seperti endometriosis atau mioma. Karena endometriosis sendiri dapat menurunkan peluang hamil, penelitian sering kesulitan memisahkan dampak masing-masing penyakit. Ini membuat interpretasi hasil IVF pada pasien adenomiosis menjadi lebih kompleks.
Mengapa Diperlukan Standarisasi Diagnosis?
Perbedaan cara diagnosis antar penelitian membuat hasil studi sulit dibandingkan. Penggunaan USG transvaginal sering lebih praktis untuk skrining, sementara MRI lebih akurat untuk kasus tertentu. Namun hingga kini belum ada standar global mengenai berapa banyak ciri USG/MRI yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis adenomiosis. Tanpa standarisasi ini, sulit membuat panduan klinis yang benar-benar akurat untuk meningkatkan peluang IVF.
Berdasarkan bukti ilmiah saat ini, adenomiosis tampaknya dapat menurunkan peluang keberhasilan IVF, meningkatkan risiko keguguran, dan memengaruhi angka kelahiran hidup. Meski begitu, banyak faktor yang belum terstandarisasi mulai dari metode diagnosis, perbedaan derajat keparahan, hingga keberadaan penyakit lain yang menyertai. Karena itu, penanganan adenomiosis perlu sangat individual, mempertimbangkan usia, gejala, tingkat keparahan, dan rencana reproduksi jangka panjang pasien. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Squillace, A. L. A., Simonian, D. S., Allegro, M. C., Júnior, E. B., de Mello Bianchi, P. H., & Bibancos, M. (2021). Adenomyosis and in vitro fertilization impacts-a literature review. JBRA Assisted Reproduction, 25(2), 303.

Sister, kadang perjalanan dua garis bukan cuma tentang sel telur. Di banyak kasus, kualitas sperma punya peran besar apalagi kalau sudah menyangkut sperm DNA fragmentation (SDF). Ini kondisi ketika DNA di dalam sperma rusak, retak, atau tidak stabil. Dampaknya? Susah membuahi, embrio tidak berkembang optimal, hingga risiko keguguran meningkat.
Biasanya dokter akan menyarankan antioksidan, operasi varikokel, atau teknik seleksi sperma. Tapi ada satu pendekatan yang mulai banyak dilirik pasangan: Ayurveda.
Dan menariknya, ada satu kasus yang cukup “wah” seorang pria 44 tahun yang mengalami SDF berat dan kelainan kromosom, tapi setelah terapi Ayurveda intensif… hasil DNA-nya kembali normal dalam empat bulan. Kok bisa? Yuk kita bahas pelan-pelan.
Sperm DNA Fragmentation Penting Banget?
Kalau kualitas sperma diibaratkan “paket”, DNA sperma adalah isi paketnya.
Kalau isinya rusak, ya susah “membuat kehidupan” yang stabil.
SDF tinggi bisa terjadi karena: varikokel, stres oksidatif, kelainan genetik, penyakit kronis, gaya hidup, paparan toksin, infeksi
Dan sayangnya, bahkan setelah antioksidan dan operasi, kadang hasil SDF tetap tinggi.
Makanya orang mulai mencari pendekatan tambahan yang lebih menyeluruh termasuk Ayurveda Rasayana Therapy.
Fungsi Ayurveda Rasayana Therapy, yaitu terapi untuk: memulihkan jaringan tubuh, meningkatkan kualitas Shukra Dhatu (jaringan reproduksi), mengurangi stres oksidatif, menstabilkan hormon dan memperbaiki kualitas sperma sampai level genetik
Terapi ini bukan herbal biasa, tapi kombinasi intensif:
Herbal dan formulasi utama:
- Heerak Bhasma (mikropartikel dari diamond ash) → punya aktivitas memperbaiki kerusakan DNA
- Brahma Rasayana → menurunkan kerusakan kromosom akibat stres
- Kaunch Beej (Mucuna) → meningkatkan testosteron
- Ashwagandha → adaptogen, menurunkan stres → memperbaiki HPG axis
- Tribulus (Gokshura) → meningkatkan kualitas sperma
- Ghrita (ghee yang diproses herbal) → meningkatkan nutrisi jaringan reproduksi
Dalam pendekatan Ayurveda, terapi seperti Panchakarma—yang mencakup detoks dan rejuvenation melalui basti (enema herbal) serta nasya (terapi melalui hidung)—sering digunakan untuk mendukung kesehatan reproduksi. Terapi ini bisa dijalankan bersamaan dengan pengobatan modern, tanpa menghentikan obat-obatan medis seperti hipertensi atau tiroid.
Beberapa laporan menunjukkan bahwa setelah menjalani rangkaian terapi Ayurveda, kualitas sperma dapat mengalami peningkatan, mulai dari motilitas yang lebih baik, konsentrasi yang meningkat, hingga perbaikan parameter umum lainnya. Namun, ketika perbaikan sperma belum berbanding lurus dengan keberhasilan kehamilan, pemeriksaan lanjutan seperti SDF (FISH test) kadang mengungkapkan adanya kerusakan DNA atau kromosom.
Pada kondisi seperti ini, Ayurveda biasanya melanjutkan dengan terapi Rasayana, yaitu kelompok terapi dan herbal yang difokuskan untuk memperbaiki jaringan dan mendukung regenerasi sel. Pendekatan ini diyakini mampu bekerja hingga ke level lebih dalam—termasuk menargetkan fragmentasi DNA dan stabilitas kromosom.
Karena sifatnya yang menyasar akar masalah, Ayurveda menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan dalam menangani infertilitas pria yang kompleks. Pendekatan integratif, yaitu menggabungkan pengobatan modern dengan terapi tradisional, sering kali memberikan manfaat tambahan dan memungkinkan penyembuhan yang lebih menyeluruh.”
Terapi Ayurveda, terutama Rasayana yang fokus pada perbaikan jaringan reproduksi, menunjukkan potensi untuk memperbaiki SDF bahkan pada kasus berat dengan kelainan kromosom.
Namun, meski hasilnya menjanjikan, kita tetap butuh bukti ilmiah yang lebih kuat lewat uji klinis lebih besar sebelum bisa menjadikannya rekomendasi standar. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Bendale, V., Chaganti, S., Pandav, R., & Pawar, D. (2024). Successful Treatment of Sperm DNA Fragmentation Through Ayurveda Rasayana Therapy: A Case Study. Journal of Reproduction & Infertility, 25(1), 60.

Buat banyak perempuan, mendengar kata “low AMH” rasanya seperti alarm besar soal kesuburan. AMH memang sering dipakai sebagai gambaran cadangan ovarium, dan ketika angkanya rendah, kekhawatiran itu wajar. Tapi ada satu hal yang sering luput: status vitamin D. MDG akan mengungkapkan insight menarik dan mungkin jadi secercah harapan untuk perempuan dengan cadangan ovarium rendah.
Ketika Vitamin D Jadi Lebih dari Sekadar Vitamin Tulang
Vitamin D biasanya dikenal sebagai vitamin buat tulang. Padahal, tubuh punya reseptor vitamin D di banyak tempat lain, termasuk… ovarium. Artinya: ovarium kita menerima sinyal dari vitamin D, dan itu bisa memengaruhi proses pematangan folikel, respons hormon, sampai kualitas oosit.
Jadi wajar kalau para peneliti ingin tahu: kalau perempuan dengan low AMH juga kekurangan vitamin D, apa yang terjadi kalau vitamin D-nya diperbaiki?
Sebuah studi yang mengamati perempuan yang sedang berjuang untuk hamil, khususnya mereka yang menunjukkan tanda-tanda diminished ovarian reserve seperti AMH rendah, jumlah folikel sedikit, atau respons stimulasi yang kurang optimal. Para peserta ini juga memiliki kadar vitamin D yang rendah dan apa yang terjadi setelah dalam dua bulan, mereka diberi vitamin D dosis tinggi untuk menaikkan kadar vitamin D ke level normal. AMH Naik Pelan-Pelan, Dalam kelompok perempuan ini, AMH awalnya berada di angka yang relatif rendah. Setelah dua bulan konsumsi vitamin D, AMH mereka meningkat.
Bukan perubahan drastis, memang. Tapi pada perempuan dengan low AMH, naik sedikit saja sering dianggap perkembangan besar, karena AMH biasanya cenderung stabil atau bahkan turun seiring waktu.
Selain AMH, para peneliti juga menghitung jumlah antral folikel (AFC). Hasilnya? Jumlah folikel kecil di ovarium bertambah setelah kadar vitamin D diperbaiki.
Artinya, ovarium mulai menunjukkan tanda-tanda “lebih responsif” dibanding sebelum suplementasi.
FSH Turun: Pertanda Ovarium Lebih Terbantu
FSH yang tinggi sering jadi tanda kalau tubuh sedang “memaksa” ovarium untuk bekerja lebih keras. Setelah vitamin D dinaikkan, angka FSH justru membaik (turun), seolah tubuh tidak lagi perlu menekan ovarium terlalu keras.
Ini kabar baik, karena FSH yang stabil biasanya berhubungan dengan siklus yang lebih sehat.
Lalu, Apakah Artinya Vitamin D Adalah Solusi?
Nggak sesederhana itu. Meskipun AMH naik, AFC naik, dan FSH turun, peneliti menemukan satu hal yang menarik: perubahan ini tidak berbanding lurus dengan angka vitamin D itu sendiri. Artinya bukan semakin tinggi vitamin D = semakin tinggi AMH.
Namun, satu hal yang jelas: Ketika perempuan dengan low AMH juga mengalami kekurangan vitamin D, memperbaiki vitamin D-nya bisa membantu ovarium bekerja lebih baik. Bukan sebagai “pengganti obat”, tapi sebagai support system untuk lingkungan folikel yang lebih sehat.
Manfaat Vitamin D untuk Infertilitas
- Vitamin D bukan obat ajaib, tapi bisa menjadi bagian penting dari perawatan kesuburan, terutama pada perempuan yang memang defisiensi vitamin D.
- Meningkatkan kadar vitamin D bisa memberi “dorongan kecil” pada AMH, jumlah folikel, dan hormon yang terlibat dalam pematangan sel telur.
- Efeknya tidak sama pada semua orang, tapi studi ini memberi harapan bahwa memperbaiki vitamin D bisa jadi langkah sederhana yang memberi perubahan nyata.
Kesimpulan: Layak Dicoba, Aman, dan Penting untuk DOR
Untuk perempuan dengan low AMH atau DOR, langkah-langkah kecil seperti memperbaiki vitamin D bisa memberikan keuntungan tambahan. Studi ini menunjukkan bahwa vitamin D yang cukup mampu memberi sinyal positif pada ovarium bukan untuk mengubah kondisi secara drastis, tapi untuk membantu tubuh bekerja lebih optimal.
Kadang, perjalanan menuju kehamilan memang bukan soal mencari “satu solusi besar”, tetapi mengumpulkan banyak perbaikan kecil yang akhirnya memberi dampak besar. Jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id untuk informasi menarik lainnya ya!
Referensi
- Bacanakgil, B. H., İlhan, G., & Ohanoğlu, K. (2022). Effects of vitamin D supplementation on ovarian reserve markers in infertile women with diminished ovarian reserve. Medicine, 101(6), e28796.

Hiperandrogen atau kelebihan hormon androgen adalah salah satu ciri paling khas dari Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Kondisi ini bukan hanya soal kadar hormon yang tinggi, tetapi efeknya bisa terasa dari ujung rambut sampai kulit wajah: jerawat membandel, rambut rontok pola laki-laki, sampai tumbuh rambut kasar di area yang biasanya halus pada perempuan.
Yuk ketahui bagaimana hiperandrogenisme terjadi, bagaimana ia memicu gejala-gejala tersebut, dan apa peran genetik khususnya gen CYP dalam memperberat kondisi PCOS. Artikel ini merangkum temuan tersebut dalam bahasa yang lebih hangat dan mudah dipahami.
Mengapa PCOS Memicu Androgen Berlebih?
PCOS adalah gangguan hormonal kompleks yang memengaruhi sekitar 6–20% perempuan usia reproduksi. Ciri utamanya meliputi:
- gangguan ovulasi,
- ovarium polikistik, dan
- hiperandrogenisme.
Sumber utama androgen berlebih pada PCOS berasal dari: Ovarium, terutama sel teka yang memproduksi androgen secara berlebihan. Dan Kelenjar adrenal, yang pada sebagian perempuan juga ikut meningkatkan produksi androgen.
Pada PCOS, terjadi gangguan pada sumbu hipotalamus–pituitari–ovarium. Tubuh memproduksi gonadotropin-releasing hormone (GnRH) secara lebih cepat, sehingga merangsang kelenjar pituitari menghasilkan LH lebih banyak daripada FSH. Ketidakseimbangan LH : FSH ini menyebabkan:
- sel teka terstimulasi berlebihan → produksi androgen meningkat
- sel granulosa kurang stimulasi → konversi androgen ke estrogen terhambat
- folikel tidak matang dan akhirnya “terkunci” di fase awal
Hasil akhirnya: akumulasi folikel kecil (cysts), anovulasi, dan kelebihan androgen.
Bagaimana Androgen Berlebih Muncul Sebagai Gejala di Tubuh?
Hiperandrogenisme dapat muncul dalam bentuk:
Hirsutisme (tumbuh rambut pola laki-laki) Muncul rambut tebal/kasar di area seperti dagu, bibir atas, dada, perut, punggung. Ini terjadi karena meningkatnya testosteron bebas,
dan meningkatnya konversi testosteron menjadi DHT (dihidrotestosteron) melalui enzim 5α-reduktase di kulit.
Hirsutisme muncul pada 60–80% perempuan dengan PCOS, dan merupakan tanda klinis paling konsisten dari hiperandrogenisme.
Jerawat (acne vulgaris) Testosteron tinggi → lebih banyak DHT → produksi sebum meningkat → pori tersumbat → bakteri Cutibacterium acnes berkembang → muncul inflamasi dan jerawat. Prevalensi acne pada PCOS bervariasi luas: 10–48%, tergantung populasi.
Androgenic Alopecia (rambut rontok pola laki-laki)
Ini terjadi karena folikel rambut di kulit kepala miniaturisasi akibat paparan androgen. Rambut: semakin halus, lebih pendek dan menipis di area tengah kepala. Kerontokan ini bisa menjadi beban emosional besar bagi banyak perempuan dengan PCOS.
Meskipun banyak studi menunjukkan hubungan yang signifikan, belum ada kesimpulan final karena faktor etnis, lingkungan, dan perbedaan metode penelitian. Namun, gambaran besar sudah jelas:
Jika sister mengalami gejala hiperandrogen (kumisan, jerawatan, rambut rontok) PCOS dan faktor genetik dalam steroidogenesis perlu dipertimbangkan sebagai penyebab utama. Untuk diagnosa pastinya jangan lupa ya periksa ke dokter, informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Ashraf, S., Nabi, M., Rashid, F., & Amin, S. (2019). Hyperandrogenism in polycystic ovarian syndrome and role of CYP gene variants: a review. Egyptian Journal of Medical Human Genetics, 20(1), 1-10.

Polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah salah satu gangguan hormonal paling umum pada perempuan usia reproduksi, dengan prevalensi global antara 4–20%. Kondisi ini biasanya ditandai oleh tiga hal: menstruasi tidak teratur, kadar androgen berlebih, dan indung telur yang tampak polikistik. Selain memengaruhi kesuburan, PCOS juga erat kaitannya dengan masalah metabolik seperti resistensi insulin, obesitas viseral, hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak penelitian yang menyoroti satu faktor penting yang sering luput diperhatikan: Vitamin D. Defisiensi Vitamin D ternyata sangat umum pada perempuan dengan PCOS dan dapat memperburuk gangguan hormonal maupun metabolik yang menyertainya.
Wah kenapa bisa begitu, yuk ketahui hubungan antara Vitamin D, metabolisme, dan kesehatan reproduksi perempuan dengan PCOS.
Vitamin D: Lebih dari Sekadar Vitamin Tulang
Vitamin D ternyata berperan sangat besar dalam mengatur kadar kalsium dan fosfat untuk menjaga kesehatan tulang, gigi, dan otot. Namun, fungsinya ternyata jauh melampaui itu. Kok bisa begitu? karena Receptor Vitamin D (VDR) ditemukan di ovarium, endometrium, dan plasenta. Vitamin D berperan dalam produksi hormon penting, termasuk progesteron, estradiol, estron, serta human chorionic gonadotropin (hCG). Vitamin D membantu proses decidualization endometrium, yakni persiapan rahim untuk menerima kehamilan. Vitamin D memengaruhi kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) yang sangat penting dalam proses folikulogenesis.
Dengan kata lain, Vitamin D tidak hanya mendukung tulang karena ia ikut mengatur siklus reproduksi perempuan.
Bagaimana Vitamin D Mempengaruhi PCOS?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika perempuan dengan PCOS diberikan suplementasi vitamin D seringkali dikombinasikan dengan kalsium hasilnya cukup menjanjikan. Dalam 2–3 bulan, banyak peserta mulai kembali mengalami siklus menstruasi yang lebih teratur, ovulasi lebih sering muncul, dan bahkan sebagian di antaranya berhasil hamil hanya dari perbaikan kadar vitamin D. Temuan ini membuka gambaran bahwa vitamin D memainkan peran penting dalam kestabilan siklus dan fungsi ovarium.
Salah satu alasan vitamin D begitu berdampak adalah karena PCOS sangat identik dengan resistensi insulin. Vitamin D membantu meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin, memperkuat ekspresi reseptor insulin, dan menurunkan peradangan yang ikut memperburuk kondisi ini. Studi-studi menunjukkan bahwa dosis kurang dari 4000 IU per hari sudah cukup untuk membantu memperbaiki metabolisme glukosa, menurunkan resistensi insulin, mengurangi gejala hiperandrogenisme, serta membuat menstruasi lebih sering muncul dengan ritme yang lebih teratur. Selain faktor metabolik, ada juga aspek genetik: variasi pada gen Vitamin D Receptor (seperti Apa-I, Taq-I, Bsm-I, dan Cdx2) ditemukan lebih banyak pada perempuan dengan PCOS. Polimorfisme ini diduga berhubungan dengan kadar LH, SHBG, testosteron, dan bahkan resistensi insulin, sehingga respons setiap perempuan terhadap vitamin D bisa berbeda-beda.
Dampak vitamin D juga terlihat pada risiko metabolik dan kardiovaskular yang sering menyertai PCOS. Kadar vitamin D yang rendah berhubungan dengan tekanan darah lebih tinggi, kolesterol yang tidak stabil, peningkatan inflamasi, dan metabolisme yang melambat. Banyak perempuan PCOS juga mengalami dislipidemia: trigliserida yang tinggi, HDL rendah, atau kolesterol total yang meningkat. Suplementasi vitamin D terbukti berpotensi menurunkan trigliserida, memperbaiki profil lipid tertentu, mengurangi proses inflamasi, serta mendukung folikulogenesis, menurunkan testosteron, membantu regulasi menstruasi, bahkan meningkatkan peluang kehamilan. Dalam studi tertentu, pemberian 50.000 IU vitamin D setiap dua minggu selama delapan minggu pada perempuan PCOS kandidat IVF mampu menurunkan insulin, menurunkan AMH yang terlalu tinggi, serta memperbaiki metabolisme lipid. Ketika dikombinasikan dengan kalsium atau metformin, efeknya pada ovulasi dan ketereguleran siklus menjadi lebih kuat lagi.
Dengan kata lain: Vitamin D bukan “obat utama” PCOS, tetapi merupakan bagian penting dari manajemen komprehensif, terutama pada pasien dengan defisiensi. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
Mohan, Anmol MBBSa; Haider, Ramsha MBBSa; Fakhor, Hajar MBBSe; Hina, Fnu MBBSd; Kumar, Vikash MDf; Jawed, Aleeza MBBSb; Majumder, Koushik MBBSh; Ayaz, Aliza MBBSa; Lal, Priyanka Mohan MBBSb; Tejwaney, Usha Pharm. Dg; Ram, Nanik FCPSc; Kazeem, Saka MDf. Vitamin D and polycystic ovary syndrome (PCOS): a review. Annals of Medicine & Surgery 85(7):p 3506-3511, July 2023. | DOI: 10.1097/MS9.0000000000000879

Poor ovarian response (POR) masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia fertilitas. Meski teknologi reproduksi berbantu seperti IVF sudah berkembang pesat, kenyataannya tidak semua perempuan memberikan respons optimal terhadap stimulasi ovarium. Bagi sebagian perempuan, jumlah sel telur yang dihasilkan tetap sedikit, kualitasnya pun seringkali tidak ideal. Kondisi inilah yang dikenal sebagai poor ovarian response dan hingga hari ini, belum ada “obat ajaib” yang benar-benar bisa mengubahnya secara dramatis.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai terapi tambahan (adjuvant therapy) mulai banyak dibahas mulai dari CoQ10, DHEA, growth hormone (GH), hingga TEAS. Empat pendekatan ini cukup populer digunakan dokter-dokter fertilitas di berbagai negara, meski bukti ilmiahnya tidak selalu sejalan. Karena itu, muncul pertanyaan besar: adakah terapi adjuvan yang benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pasien POR?
Sebuah studi besar yang dipublikasikan pada 2023 mencoba menjawabnya. Penelitian ini adalah systematic review dan network meta-analysis jenis riset paling kuat untuk membandingkan berbagai terapi sekaligus. Total ada 16 uji klinis acak (RCT) dengan 2323 perempuan POR yang disertakan. Semua peserta didefinisikan menggunakan kriteria Bologna, sehingga hasilnya cukup solid. Yuk cek apa kata penelitian!
CoQ10 dan DHEA: Bintang Utama dalam Meningkatkan Peluang Hamil
CoQ10 adalah antioksidan penting yang terlibat dalam produksi energi sel. Pada POR, kualitas sel telur sering dipengaruhi oleh stres oksidatif dan penurunan fungsi mitokondria.
Studi ini menunjukkan bahwa CoQ10:
- Meningkatkan peluang kehamilan klinis (OR 2.22)
- Menjadi terapi paling unggul untuk meningkatkan angka kelahiran hidup
- Memberikan manfaat paling seimbang antara kualitas dan outcome jangka panjang
CoQ10 dan Energi yang Menjaga Kehamilan
CoQ10 bukan sekadar suplemen yang membantu sel telur “siap berangkat”. Ia bekerja jauh lebih dalam memberi energi pada sel telur, menjaga kualitasnya, dan membuatnya lebih kuat menjalani perjalanan panjang menuju kehamilan yang sehat. Studi menunjukkan bahwa CoQ10 tidak hanya meningkatkan peluang pembuahan, tetapi juga membuat sel telur lebih “tahan banting” hingga kehamilan bertahan dan berakhir dengan persalinan. Ibaratnya, CoQ10 membantu membangun fondasi kokoh sejak dari tahap paling awal.
DHEA dan Perannya dalam Menguatkan Ovarium
Di sisi lain, DHEA sudah lama dikenal sebagai sahabat bagi pasien dengan poor ovarian response (POR). Perannya sebagai pendukung produksi androgen membuat folikel berkembang lebih sehatdan itu berdampak langsung pada kualitas sel telur. Dalam studi ini, DHEA menunjukkan peningkatan peluang kehamilan klinis hampir dua kali lipat (OR 1.92), meningkatkan angka implantasi, menambah jumlah sel telur yang berhasil diambil, serta memperbanyak embrio berkualitas tinggi. Yang paling mencolok, DHEA memberikan dorongan kuat pada kualitas faktor yang sering menjadi kunci keberhasilan pada pasien dengan respons ovarium yang lemah.
Growth Hormone (GH): Bukan yang Terbaik, Tapi Punya Potensi
GH tidak sekuat CoQ10 atau DHEA dalam meningkatkan peluang hamil, tetapi menurut analisis, terapi ini tetap memberikan manfaat. GH menduduki posisi kedua setelah DHEA dalam meningkatkan jumlah sel telur yang diperoleh.
Artinya, GH mungkin cocok untuk pasien tertentu misalnya yang membutuhkan peningkatan jumlah oosit tetapi bukan pilihan utama jika tujuannya adalah meningkatkan angka kelahiran hidup.
TEAS: Menarik, Tapi Paling Lemah
TEAS (Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation) adalah akupuntur listrik non-invasif. Meski beberapa klinik menggunakannya untuk meningkatkan aliran darah ke ovarium atau uterus, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:
- TEAS adalah yang paling lemah dibanding tiga terapi lain
- Efek peningkatan kehamilan tidak signifikan
- Meski demikian, TEAS tetap lebih baik daripada tidak mendapatkan adjuvant therapy sama sekali
Kesimpulannya, TEAS bisa menjadi pelengkap, namun tidak ideal sebagai terapi utama untuk POR.
Apa Artinya Temuan Ini Bagi Pasien POR?
Dari empat terapi yang dibandingkan, CoQ10 dan DHEA adalah yang paling menonjol dalam meningkatkan berbagai aspek penting IVF: kualitas oosit, kualitas embrio, peluang implantasi, hingga angka kelahiran hidup.
GH memberikan manfaat tetapi tidak sekuat dua terapi utama, sedangkan TEAS membutuhkan evaluasi lebih lanjut sebelum bisa direkomendasikan secara luas.
Penelitian ini juga menekankan bahwa bukti ilmiah untuk terapi-terapi ini baru berkembang, dan masih dibutuhkan RCT berskala besar yang langsung membandingkan satu terapi dengan terapi lainnya.
Namun untuk saat ini, jika berbicara tentang evidence-based adjuvant therapy untuk pasien poor ovarian response, CoQ10 dan DHEA adalah kandidat paling kuat.
Poor ovarian response adalah tantangan besar dalam dunia IVF, tetapi terapi adjuvan dapat memberikan peluang tambahan untuk memperbaiki outcome. Berdasarkan penelitian besar ini:
- CoQ10 – terbaik untuk peluang hamil dan kelahiran hidup
- DHEA – unggul dalam meningkatkan kualitas oosit dan embrio
- GH – memberi efek tetapi tidak sekuat CoQ10/DHEA
- TEAS – aman, tetapi bukan pilihan utama
Untuk perempuan yang sedang mempersiapkan IVF dengan kondisi POR, temuan ini bisa menjadi bahan diskusi penting dengan dokter. Tidak ada terapi yang cocok untuk semua orang, tetapi memahami opsi berbasis bukti memungkinkan pasien membuat keputusan yang lebih matang dan personal. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
- Zhu, F., Yin, S., Yang, B., Li, S., Feng, X., Wang, T., & Che, D. (2023). TEAS, DHEA, CoQ10, and GH for poor ovarian response undergoing IVF-ET: a systematic review and network meta-analysis. Reproductive Biology and Endocrinology, 21(1), 64.

Dalam dunia fertilitas, salah satu pertanyaan besar yang sering muncul adalah: lebih baik menggunakan sperma testis atau sperma ejakulasi untuk ICSI terutama pada pria dengan severe oligozoospermia (konsentrasi sperma sangat rendah) atau cryptozoospermia (sperma hanya muncul setelah pencarian intensif).
Sebuah studi terbaru dari Iran (2024–2025), yang dipublikasikan oleh The Korean Society for Reproductive Medicine, mencoba menjawab hal ini dengan pendekatan yang sangat menarik: menggunakan oosit saudara (sibling oocytes) dan membandingkan langsung hasil ICSI antara sperma testis dan sperma ejakulasi pada pasien yang sama.
Hasilnya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kapan sebaiknya dilakukan testicular sperm retrieval (TESA/FNA).
Mengapa Hal Ini Penting?
Pada pasien dengan sperma sangat sedikit, embriolog dan klinisi sering berada pada dilema:
- Di satu sisi, sperma testis dianggap lebih “segar” dan mungkin memiliki kerusakan DNA yang lebih sedikit karena belum melewati saluran epididimis.
- Di sisi lain, prosedur pengambilan sperma testis itu invasif, berbiaya lebih tinggi, dan punya risiko (hematoma, nyeri, fibrosis, infeksi, bahkan hipogonadisme).
Karena itu, membuat prediksi kapan sperma testis akan memberikan hasil lebih baik sangat penting.
Dari Mana Kita Tahu Mana Sperma yang Lebih Baik?
Kadang pasangan datang ke klinik dengan kondisi sperma yang sangat rendah, dan dokter harus menentukan satu hal penting: lebih baik pakai sperma ejakulasi atau sperma testis untuk ICSI? Nah, ada studi menarik yang mencoba menjawab pertanyaan ini dengan cara yang cukup simpel tapi relevan banget untuk kehidupan nyata. Para peneliti membagi pasien berdasarkan seberapa rendah jumlah spermanya, lalu mencoba kedua jenis sperma itu pada proses pembuahan yang sama. Dengan begitu, mereka bisa melihat langsung mana yang bekerja lebih optimal dalam membantu pembuahan dan pembentukan embrio. Hasilnya terasa seperti panduan praktis buat tenaga medis maupun pasangan yang lagi berjuang.
Jadi, Kapan Pakai Sperma Testis dan Kapan Pakai Sperma Ejakulasi?
Ternyata tidak semua orang perlu tindakan seperti TESA atau FNA. Jika jumlah sperma sangat rendah di bawah 1 juta/mL atau bahkan sampai tahap cryptozoospermia sperma testis cenderung memberikan hasil yang lebih baik dalam pembuahan dan kualitas embrio. Tapi ketika jumlah sperma sudah berada di kisaran 1–5 juta/mL, sperma ejakulasi justru bekerja lebih baik dan membuat proses jadi lebih sederhana tanpa perlu tindakan invasif. Intinya, angka konsentrasi sperma bisa menjadi kompas yang membantu menentukan langkah yang paling aman, efektif, dan efisien. Pasangan bisa menghindari prosedur yang tidak perlu, mengurangi biaya, dan tetap fokus pada tujuan utama: peluang terbaik untuk mendapatkan embrio yang sehat.
Kedepannya, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan terutama untuk mencari biomarker lain seperti DNA fragmentation index (DFI), tingkat ROS, atau kualitas motilitas spesifik yang dapat menjadi prediktor keputusan. Tetapi untuk saat ini, data ini menjadi panduan praktis dan evidence-based bagi klinisi dalam menentukan strategi terbaik bagi setiap pasien. Jangan lupa informasi lebih lanjut follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Derakhshan, M., Salehi, P., Derakhshan, M., Naghshineh, E., Movahedi, M., Tehrani, H. G., & Salehi, E. (2024). Should testicular sperm retrieval be implemented for intracytoplasmic sperm injection in all patients with severe oligozoospermia or cryptozoospermia?. Korean Journal of Fertility and Sterility.

Alpha Story with Mizz Rosie Surabaya, 23 November 2025
Komunitas Menuju Dua Garis, bekerja sama dengan Alpha Women’s Specialists Indonesia dan Alpha IVF, sukses menggelar acara Gathering at Surabaya pada Minggu, 23 November 2025. Acara ini menghadirkan edukasi kesuburan berbasis bukti ilmiah yang dikemas hangat, personal, dan mudah dipahami untuk para pasangan yang sedang berjuang menuju dua garis.
Dalam acara ini, hadir para dokter Alpha yang siap memberikan edukasi komprehensif seputar kesehatan reproduksi. Di antaranya dr. Glenn Ega Budi Tanoyo, Sp.OG, serta Dr. Tan Chong Seong, Consultant O&G & Fertility Specialist dari Alpha IVF Kuala Lumpur, Malaysia, yang hadir langsung untuk memberikan wawasan terkini tentang kemajuan teknologi IVF, peran AI, hingga tes genetik dalam memaksimalkan peluang kehamilan
Acara yang dipandu langsung oleh Mizz Rosie, Founder dari Menuju Dua Garis, dibuka dengan cerita perjalanan pribadinya menjalani program hamil dari IVF 1 hingga IVF ke-6. Sharing ini menjadi momen yang paling ditunggu karena menyalakan harapan baru sekaligus memperkuat solidaritas antar peserta. Untuk mendukung para pasangan yang hadir, Alpha juga memberikan doorprize berupa paket pemeriksaan kesuburan.
Sesi Edukasi: Tanya Dokter Tanpa Basa-Basi
Acara ini menghadirkan dua pembicara dari Alpha:
- Seorang dokter spesialis obstetri, ginekologi, dan fertilitas dari Alpha Women’s Specialists Indonesia
- Seorang konsultan IVF & fertility dari Alpha IVF Kuala Lumpur
Dalam sesi edukasi, para dokter menjawab berbagai pertanyaan penting seputar kesuburan perempuan maupun laki-laki, termasuk:
Topik Kesuburan Perempuan
- Protokol IVF untuk PCOS Tidak semua PCOS harus langsung IVF; usia dan kondisi hormonal menjadi faktor penentu.
- Endometriosis & AMH rendah Penanganan bergantung pada riwayat laparoskopi, cadangan ovarium, dan strategi stimulasi yang tepat.
- Blastokista & risiko kelainan kromosom Peserta menanyakan cara meningkatkan kualitas blastokista, termasuk gaya hidup, suplementasi, dan manajemen OAT serta mikrodeletion Y pada pasangan.
- Repeated Implantation Failure (RIF) – Meski blastokista sudah euploid dan endometrium optimal, pemeriksaan tambahan seperti immunology, ERA/Trio Test, atau evaluasi inflamasi tetap relevan.
- Mioma & kehamilan alami/IVF – Pada kasus mioma 4 cm, penentuan perlu-tidaknya operasi bergantung lokasi, gejala, dan rencana IVF.
- PRP ovarium untuk low AMH usia >38 tahun – Dibahas efektivitas, kandidat ideal, dan batasan.
- Protokol IVF untuk AMH sangat rendah (0,1–0,05) – Penjelasan mengenai strategi stimulasi, harapan realistis, serta kapan mempertimbangkan donor sel telur.
Topik Kesuburan Laki-Laki
- Azoospermia Non-Obstruktif – Alpha IVF menjelaskan bahwa stimulasi hormonal seperti HCG sering menjadi langkah awal sebelum mikro-TESE.
- Obstructive Azoospermia – Pada kondisi ini peluang memperoleh sperma umumnya lebih baik, termasuk opsi tindakan bedah.
- DFI tinggi (41%) – Masih bisa diperbaiki dengan penanganan inflamasi, antioksidan, perubahan gaya hidup, dan menyesuaikan strategi IVF.
- Asthenoteratozoospermia – Dibahas apakah bisa sembuh dan kapan harus menggunakan tindakan medis dibanding suplementasi.
- Criptozoospermia & peluang IVF – Peserta mendapat penjelasan tentang estimasi keberhasilan dan pilihan penanganan.
- CoQ10 & DHEA – Penjelasan mengenai dosis aman serta siapa yang sebaiknya mengonsumsi.
Pertanyaan umum lainnya
- “Tes kesuburan di Surabaya dan KL sama atau berbeda?”
- “Jika sudah pernah hamil tapi belum berhasil lagi selama 16 tahun, apa yang harus diperiksa?” Dokter menjelaskan bahwa pendekatannya sama-sama berbasis standar internasional, namun KL memiliki keunggulan teknologi tertentu untuk kasus kompleks.
Acara ini menjadi ruang aman bagi para pasangan untuk bertanya tanpa rasa malu. Suasana hangat, interaktif, dan penuh empati membuat banyak peserta merasa lebih dipahami dan lebih siap melanjutkan perjalanan program hamil mereka.
Menuju Dua Garis berharap acara seperti ini dapat diteruskan di kota-kota lain agar semakin banyak pasangan mendapat edukasi kesuburan yang akurat, praktis, dan berempati.