
Endometriosis sering dipahami sebagai jaringan yang tumbuh di tempat yang salah. Maka ketika lesi sudah diangkat melalui operasi atau ditekan dengan terapi hormonal, harapannya masalah selesai. Namun pada banyak perempuan, nyeri tetap datang kembali. Di titik ini kita mulai memahami bahwa endometriosis bukan hanya soal jaringan melainkan soal lingkungan biologis tempat jaringan itu hidup.
Ia adalah kondisi inflamasi kronis. Di dalam tubuh terjadi peningkatan sitokin pro-inflamasi, stres oksidatif, serta aktivitas estrogen yang relatif dominan. Sistem imun pun tidak sepenuhnya efektif membersihkan sel-sel endometrium di luar rahim. Jadi terapi bukan sekadar membuang lesi, tetapi juga menenangkan “ekosistem” yang memungkinkan lesi bertahan.
Yuk Ketahui Bagaimana Peran Nutrisi dalam Lingkungan Inflamasi
Sebuah ulasan ilmiah besar yang dipublikasikan di Journal of Clinical Medicine pada 2025 menyoroti ratusan studi tentang hubungan nutrisi dan endometriosis. Temuannya menunjukkan bahwa pola makan dapat memengaruhi banyak jalur biologis yang relevan dengan penyakit ini mulai dari produksi prostaglandin pemicu nyeri, metabolisme estrogen, kadar SHBG, hingga aktivitas molekul inflamasi seperti TNF-α dan IL-6.
Artinya, makanan bukan hanya sumber energi. Ia ikut membentuk lingkungan hormonal dan inflamasi di dalam tubuh.
Pola Makan yang Mendukung Keseimbangan
Pola makan yang kaya sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, dan minyak zaitun seperti pola Mediterania dikaitkan dengan penurunan mediator inflamasi dan peningkatan antioksidan alami. Omega-3 dari ikan berlemak membantu menyeimbangkan prostaglandin sehingga respons nyeri bisa lebih terkendali.
Antioksidan seperti vitamin C dan E membantu menekan stres oksidatif, sementara vitamin D memiliki efek imunomodulator yang berperan dalam regulasi inflamasi. Pada sebagian pasien, perbaikan kadar vitamin D berkaitan dengan perbaikan gejala.
Sebaliknya, pola makan tinggi daging merah berlebihan, lemak trans, makanan ultra-proses, dan gula tambahan cenderung memperkuat kondisi pro-inflamasi. Gula berlebih meningkatkan pembentukan advanced glycation end products (AGEs), yang dapat memperburuk stres oksidatif dan inflamasi kronis.
Sumbu Usus–Estrogen: Hubungan yang Sering Terlewat
Banyak pasien endometriosis juga mengalami gangguan pencernaan seperti kembung, nyeri perut, atau perubahan pola BAB. Ini bukan kebetulan. Mikrobiota usus berperan dalam metabolisme estrogen melalui apa yang disebut estrobolome. Ketidakseimbangan mikrobiota dapat meningkatkan kadar estrogen sirkulasi dan mempertahankan pertumbuhan lesi.
Karena itu, pendekatan nutrisi bukan hanya soal anti-inflamasi, tetapi juga tentang menjaga kesehatan usus sebagai bagian dari regulasi hormonal.
Nutrisi sebagai Strategi Jangka Panjang
Apakah diet bisa menyembuhkan endometriosis? Tidak. Operasi dan terapi hormonal tetap menjadi pilar utama dalam banyak kasus. Namun nutrisi dapat menjadi strategi komplementer yang membantu menstabilkan inflamasi dan mendukung keseimbangan hormonal terutama pada pasien yang ingin hamil, tidak toleran terhadap hormon, atau membutuhkan pendekatan jangka panjang pascaoperasi.
Pada akhirnya, endometriosis bekerja sebagai sistem. Dan sistem tidak cukup “diangkat” ia perlu dikelola dan diseimbangkan. Mungkin pertanyaannya bukan diet apa yang paling populer, tetapi bagaimana mempersonalisasi pola makan sesuai profil inflamasi dan kebutuhan reproduksi tiap individu. Jangan lupa follow juga Instagram @menujuduagaris.id ya!
Referensi
- Martire, F. G., Costantini, E., d’Abate, C., Capria, G., Piccione, E., & Andreoli, A. (2025). Endometriosis and nutrition: therapeutic perspectives. Journal of clinical medicine, 14(11), 3987.