Harapan Baru untuk Cadangan Ovarium Rendah: Mengaktifkan Folikel “Tertidur”

 

Di dalam ovarium perempuan, terdapat ribuan folikel kecil yang menyimpan sel telur. Setiap bulan, sebagian folikel ini tumbuh dan satu di antaranya akan matang untuk dilepaskan saat ovulasi.

Namun pada beberapa kondisi seperti Primary Ovarian Insufficiency (POI)  ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun  jumlah folikel yang aktif sangat sedikit. Selama ini, banyak pasien POI hanya memiliki satu pilihan realistis untuk hamil: menggunakan donor sel telur.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Ovarium?

Penelitian menemukan bahwa pertumbuhan folikel ternyata diatur oleh jalur sinyal biologis di dalam sel, salah satunya disebut Hippo signaling pathway.

Secara sederhana, jalur Hippo ini berfungsi seperti “rem” yang menjaga agar pertumbuhan jaringan tetap terkendali. Jika jalur ini terlalu aktif, folikel bisa tetap berada dalam kondisi “tidur”.

Di sisi lain, ada jalur lain bernama Akt signaling, yang berperan seperti “tombol gas” untuk merangsang pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel. Keseimbangan antara “rem” dan “gas” inilah yang menentukan apakah folikel akan tumbuh atau tetap dorman.

Bagaimana Cara Mengaktifkan Folikel yang Tersisa?

Para peneliti mencoba pendekatan yang disebut in vitro activation (IVA).

Langkahnya secara garis besar seperti ini:

  1. Ovarium (atau sebagian jaringan ovarium) diambil melalui prosedur bedah minimal invasif.
  2. Jaringan tersebut dipotong menjadi fragmen kecil proses ini ternyata dapat “mengganggu” jalur Hippo.
  3. Jaringan kemudian diberikan stimulasi obat untuk mengaktifkan jalur Akt.
  4. Setelah itu, jaringan ovarium ditanam kembali ke tubuh pasien (autograft).

Mengapa Ini Penting? Pendekatan ini membuka kemungkinan baru untuk Pasien dengan Primary Ovarian Insufficiency (POI), Wanita dengan cadangan ovarium rendah, Pasien kanker yang berisiko kehilangan fungsi ovarium akibat terapi. Perempuan usia matang dengan respons ovarium yang sangat terbatas

Artinya, pada kondisi tertentu, ovarium yang “terlihat tidak aktif” mungkin masih menyimpan potensi hanya saja perlu pendekatan yang tepat untuk membangunkannya. Tentu saja, terapi ini tidak cocok untuk semua pasien dan masih memerlukan seleksi serta evaluasi ketat. Namun konsep bahwa folikel “tidur” bisa diaktifkan kembali mengubah cara kita memandang infertilitas akibat cadangan ovarium rendah. Dulu, pilihannya hampir selalu donor sel telur. Kini, ada kemungkinan menggunakan sel telur sendiri pada kondisi yang tepat. Ilmu reproduksi terus berkembang. Dan setiap perkembangan baru memberi satu hal yang sangat berarti bagi banyak pasangan harapan. 

Referensi

  • Kawamura, K., Cheng, Y., Suzuki, N., Deguchi, M., Sato, Y., Takae, S., … & Hsueh, A. J. (2013). Hippo signaling disruption and Akt stimulation of ovarian follicles for infertility treatment. Proceedings of the National Academy of Sciences, 110(43), 17474-17479.