Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mencapai kehamilan spontan dalam waktu satu tahun setelah berhubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi. Kondisi ini memengaruhi sekitar 48 juta pasangan dan 186 juta individu di seluruh dunia. Diperkirakan satu dari delapan pasangan usia reproduksi mengalami infertilitas, dengan faktor pria sebagai penyebab tunggal pada 20% kasus dan berkontribusi pada 30% kasus lainnya. Artinya, faktor pria berperan dalam hampir 50% pasangan infertil.
Dalam beberapa dekade terakhir, kekhawatiran meningkat terhadap penurunan konsentrasi sperma secara global. Faktor gaya hidup seperti obesitas, paparan bahan kimia lingkungan, dan radiasi turut dianggap berkontribusi. Oleh karena itu, analisis semen menjadi pemeriksaan dasar yang sangat penting dalam evaluasi infertilitas pria.
Sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1980, WHO Laboratory Manual for the Examination and Processing of Human Semen telah menjadi acuan global dalam standarisasi prosedur analisis semen. Setelah melewati lima edisi, edisi keenam akhirnya dirilis pada Juli 2021. Artikel ini meninjau perubahan kunci dalam edisi terbaru, serta menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) dari implementasinya di praktik klinis.
Perkembangan Historis Manual WHO
Edisi kelima yang terbit pada tahun 2010 berfokus pada standarisasi prosedur analisis semen melalui panduan langkah demi langkah, termasuk tes dasar dan opsional. Manual ini juga memperkenalkan pedoman tentang kriopreservasi, pemrosesan sperma testikular dan epididimal, serta protokol jaminan kualitas.
Salah satu kontribusi penting edisi kelima adalah penetapan nilai rujukan (reference values) berdasarkan data pria subur dari delapan negara. Namun, edisi ini menuai kritik karena dianggap tidak merepresentasikan populasi global secara memadai. Variasi biologis antarindividu dan keterbatasan laboratorium dalam menerapkan kontrol kualitas menimbulkan keraguan terhadap validitas nilai rujukan tersebut.
Edisi keenam hadir sebagai respons terhadap berbagai kritik sebelumnya sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan terbaru dalam ilmu reproduksi. Dibanding edisi sebelumnya, panduan ini menawarkan standar prosedur yang lebih detail dan ketat, menambahkan biomarker baru seperti sperm DNA fragmentation (SDF) dan oxidative stress (OS), serta didukung oleh data populasi yang jauh lebih luas dan representatif. Meski begitu, masih ada beberapa kelemahan, seperti keterwakilan wilayah dunia yang belum merata, ketiadaan angka pasti dalam konsep decision limits yang bisa membingungkan klinisi dalam praktik sehari-hari, serta variasi antar laboratorium yang tetap menjadi tantangan dalam penerapan.
Di sisi lain, edisi terbaru ini membuka peluang besar, mulai dari pengembangan tes fertilitas pria berbasis biomarker molekuler, penelitian lebih lanjut di bidang genetika dan epigenetika sperma, hingga penguatan sistem jaminan kualitas laboratorium secara global. Namun, ancaman juga perlu diperhatikan, misalnya risiko kebingungan akibat hilangnya ambang rujukan yang jelas, kesenjangan akses di negara berkembang karena keterbatasan fasilitas, serta resistensi dari praktisi yang sudah terbiasa dengan metode lama.
Secara keseluruhan, WHO Laboratory Manual edisi keenam menjadi langkah penting dalam evolusi analisis semen dengan metodologi yang diperkuat, cakupan data global yang lebih luas, dan penambahan parameter baru seperti SDF dan OS. Perubahan yang paling menonjol adalah pergeseran dari konsep reference values ke decision limits, meski konsep ini masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut. Analisis SWOT menunjukkan potensi besar manual ini dalam meningkatkan kualitas evaluasi infertilitas pria di seluruh dunia, tetapi tanpa kejelasan batas keputusan dan peningkatan akses laboratorium, penerapannya belum bisa optimal.
Referensi
- Boitrelle, F., Shah, R., Saleh, R., Henkel, R., Kandil, H., Chung, E., … & Agarwal, A. (2021). The sixth edition of the WHO manual for human semen analysis: a critical review and SWOT analysis. Life, 11(12), 1368.

Infertilitas tidak hanya menjadi masalah perempuan, tetapi juga pria. Diperkirakan sekitar 50% kasus infertilitas pada pasangan disebabkan oleh faktor dari pihak pria, terutama akibat gangguan pada proses spermatogenesis atau pembentukan sperma.
Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli mulai memberi perhatian lebih pada faktor gaya hidup yang dapat diubah (modifiable lifestyle factors) karena terbukti berperan besar dalam menurunkan kualitas sperma. Yuk pelajari lebih lanjut!
Faktor Infertilitas pada Pria
- Penuaan yang memengaruhi fungsi reproduksi
- Stres psikologis baik dari pekerjaan, kehidupan sehari-hari, maupun peristiwa besar seperti bencana atau konflik
- Pola makan yang tidak sehat
- Kurangnya aktivitas fisik atau olahraga berlebihan
- Konsumsi kafein berlebihan
- Paparan panas berlebih di area skrotum (misalnya penggunaan air panas terlalu sering atau pakaian terlalu ketat)
- Paparan radiasi dari telepon genggam
Stres dan Kualitas Sperma
Bahkan dalam sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres psikologis memiliki dampak langsung pada kualitas sperma. Tekanan mental yang dialami seorang pria, baik karena masalah pribadi maupun pasangan, dapat memengaruhi hormon reproduksi dan akhirnya menurunkan kemampuan sperma untuk membuahi sel telur.
Selain stres, gaya hidup sehari-hari juga sangat menentukan. Pola makan yang tidak seimbang, kurang tidur, aktivitas fisik yang minim, hingga kebiasaan seperti merokok dan minum alkohol dapat memperburuk kondisi infertilitas. Bahkan, suhu skrotum yang terlalu tinggi misalnya karena sering berendam air panas atau penggunaan laptop di pangkuan dalam waktu lama diketahui dapat menurunkan jumlah dan kualitas sperma.
Pentingnya Perubahan Gaya Hidup
Penurunan kesuburan pria akibat gaya hidup dan faktor lingkungan kini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang serius di abad ini. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya komprehensif untuk mencegah infertilitas, misalnya melalui:
- Edukasi dan peningkatan kesadaran tentang pentingnya kesehatan reproduksi
- Perbaikan pola makan dengan nutrisi seimbang
- Aktivitas fisik yang teratur dan sesuai
- Dukungan psikologis untuk mengurangi stres
- Penggunaan nutraseutikal atau antioksidan yang terbukti dapat membantu kualitas sperma
Infertilitas pria bukanlah takdir semata, tetapi sering kali berhubungan erat dengan gaya hidup yang bisa diubah. Dengan menerapkan pola hidup sehat, menjaga kesehatan mental, serta menghindari faktor risiko yang merugikan, pasangan dapat meningkatkan peluang untuk hamil secara alami maupun melalui program medis. Lebih dari sekadar kehamilan, perubahan gaya hidup ini juga akan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasangan di masa depan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Ilacqua, A., Izzo, G., Emerenziani, G. P., Baldari, C., & Aversa, A. (2018). Lifestyle and fertility: the influence of stress and quality of life on male fertility. Reproductive Biology and Endocrinology, 16(1), 115.

Kadang, baik paksu maupun sister yang sudah mencoba berbagai cara untuk hamil, hasil pemeriksaannya normal, tapi kehamilan tetap belum terjadi. Kondisi ini dikenal dengan istilah infertilitas tak terjelaskan (unexplained infertility). Diperkirakan sekitar 1 dari 4 kasus infertilitas termasuk kategori ini.
Saat mendengar diagnosis ini, wajar jika pasangan langsung mencari tahu pilihan pengobatan yang bisa membantu, mulai dari inseminasi buatan (IUI) hingga bayi tabung (IVF). Namun, muncul satu pertanyaan penting: mana yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu, IUI atau IVF?
Di dunia medis, ternyata belum ada pandangan yang seragam. Misalnya, panduan dari National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris lebih cenderung merekomendasikan IVF sebagai langkah awal. Sebaliknya, panduan terbaru dari European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE, 2023) justru menempatkan IUI sebagai pilihan pertama sebelum beralih ke IVF.
Perbedaan pandangan ini bikin banyak pasangan bingung: sebaiknya mulai dari IUI atau langsung IVF?
Melihat Kelebihan dan Kekurangannya
IUI (Intrauterine Insemination)
- Prosedurnya lebih sederhana dibanding IVF.
- Biayanya lebih terjangkau.
- Bisa meningkatkan peluang hamil dibanding hanya menunggu alami, terutama jika dikombinasikan dengan stimulasi ovarium.
- Namun, tingkat keberhasilannya biasanya lebih rendah daripada IVF, terutama pada perempuan dengan usia di atas 38 tahun.
IVF (In Vitro Fertilisation)
- Prosesnya lebih kompleks: sel telur diambil, dibuahi di laboratorium, lalu embrio ditanam kembali ke rahim.
- Tingkat keberhasilannya lebih tinggi, khususnya pada perempuan yang usianya lebih matang.
- Biayanya jauh lebih besar dan prosesnya lebih melelahkan secara fisik maupun emosional.
Jadi, Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Tidak ada jawaban tunggal, karena semua kembali pada kondisi tiap pasangan.
- Usia <38 tahun dan kondisi baik: IUI bisa jadi langkah pertama yang masuk akal. Lebih ringan, lebih murah, dan tetap memberikan peluang.
- Usia >38 tahun atau faktor risiko lain: IVF mungkin lebih bijak dipertimbangkan lebih awal agar peluang kehamilan lebih besar.
Yang paling penting, setiap pasangan perlu konseling menyeluruh dengan dokter, supaya paham kelebihan, kekurangan, serta peluang dari masing-masing metode sebelum mengambil keputusan.
Infertilitas tak terjelaskan memang sering membuat pasangan merasa “bingung tanpa jawaban pasti”. Tapi kabar baiknya, ada beberapa pilihan intervensi medis yang bisa membantu. Apakah memulai dengan IUI atau langsung ke IVF, semuanya harus disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, serta kesiapan mental dan finansial pasangan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Man, J. K. Y., Parker, A. E., Broughton, S., Ikhlaq, H., & Das, M. (2023). Should IUI replace IVF as first-line treatment for unexplained infertility? A literature review. BMC Women’s Health, 23(1), 557.

Dalam program inseminasi intrauterin (IUI), keberhasilan sangat dipengaruhi oleh waktu yang tepat. Salah satu indikator utama adalah ukuran folikel, yaitu kantung kecil berisi sel telur di dalam ovarium. Folikel yang matang akan melepaskan sel telur (ovulasi), dan momen inilah yang menjadi target saat inseminasi dilakukan. Lalu apa yang dapat dilakukan? yuk pelajari lebih lanjut!
Suntikan HCG vs Ovulasi Alami
Dalam praktiknya, ada dua cara memicu ovulasi diantaranya adalah dengan suntikan HCG (human chorionic gonadotropin), yang berfungsi merangsang pelepasan sel telur. yang ke-dua adalah Dengan ovulasi alami, ketika tubuh sendiri yang menghasilkan lonjakan hormon LH untuk memicu ovulasi.
Ada sebuah penelitian membandingkan kedua kondisi ini untuk melihat ukuran folikel yang paling pas saat inseminasi
Temuan penelitian menunjukkan:
- Folikel dengan ukuran 16–18 mm justru memberikan peluang terbaik untuk kehamilan, bukan folikel yang lebih besar.
- Kehadiran lebih dari satu folikel matang juga meningkatkan peluang berhasil dibandingkan hanya satu folikel saja.
- Faktor lain, seperti lama infertilitas pasangan, tetap memengaruhi hasil program.
Apa Artinya untuk Pasangan Promil?
Kalau folikel sudah berada di ukuran 14–18 mm dan terjadi lonjakan LH alami, siklus IUI tidak perlu dibatalkan. Justru, ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk melanjutkan program. Jadi, jangan terlalu terpaku menunggu folikel terlihat sangat besar, karena kualitas dan timing lebih penting daripada sekadar ukuran.
Setiap tubuh punya respons berbeda terhadap obat kesuburan maupun ovulasi alami. Karena itu, diskusi dengan dokter tetap menjadi kunci agar strategi IUI bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan.
Dari hasil pembahasan, bisa disimpulkan bahwa ukuran folikel ternyata punya peran penting dalam menentukan peluang kehamilan lewat IUI dengan bantuan obat letrozole dan HMG. Folikel yang terlalu besar justru tidak selalu memberi hasil terbaik, sementara ukuran yang lebih ideal justru ada di kisaran 16–18 mm. Bahkan, ketika terjadi lonjakan hormon LH secara alami, folikel yang ukurannya sedikit lebih kecil tetap bisa memberi peluang baik untuk hamil.
Artinya, untuk sister dan paksu yang sedang menjalani program IUI tidak perlu khawatir jika ukuran folikel belum terlalu besar, karena yang terpenting adalah menemukan waktu yang paling tepat untuk proses inseminasi. Jangan lupa untuk follow Instagram @menujudugaris.id
Referensi
- Chen, L., Jiang, S., Xi, Q., Li, W., Lyu, Q., & Kuang, Y. (2023). Optimal lead follicle size in letrozole human menopausal gonadotrophin intrauterine insemination cycles with and without spontaneous LH surge. Reproductive BioMedicine Online, 46(3), 566-576.

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah gangguan hormonal yang paling sering dialami perempuan usia reproduktif, dengan prevalensi sekitar 5–10%. Salah satu dampak paling umum dari PCOS adalah anovulasi, yaitu kondisi ketika sel telur tidak dilepaskan secara teratur. Tidak heran, sekitar 70–80% perempuan dengan anovulasi ditemukan mengalami PCOS.
Namun, PCOS bukan hanya soal kesuburan. Banyak perempuan dengan PCOS juga menghadapi masalah lain, seperti obesitas, sindrom metabolik, gangguan kesehatan mental, hingga penurunan kualitas hidup. Oleh karena itu, penanganan PCOS terutama yang terkait dengan subfertilitas idealnya dilakukan dengan pendekatan multidisipliner.
MDG kali ini akan membahas lebih detail apa saja sih opsi terapi kesuburan pada PCOS, mulai dari intervensi gaya hidup, terapi obat, hingga teknologi reproduksi berbantu.
Pendekatan untuk PCOS ada Apa Saja Sih?
PCOS tidak hanya memengaruhi kesuburan, tetapi juga meningkatkan risiko jangka panjang seperti diabetes, penyakit jantung, dan gangguan psikologis. Untuk itu tidak hanya pendekatan yang praktis karena pendekatannya harus multidisplin. Karena dengan pendekatan multidisipliner, dokter sister dan paksu dapat:
- Melakukan penilaian risiko pra-kehamilan.
- Mengoptimalkan kesehatan sebelum terapi.
- Meningkatkan kualitas hidup (HQoL).
- Meminimalkan komplikasi jangka panjang.
Nah langkah tersebut dapat melalui dokter umum atau obgyn, lalu pasien bisa dirujuk ke spesialis gizi, psikolog, atau endokrinolog sesuai kebutuhan.
Intervensi Non-Farmakologis
Manajemen Berat Badan Sekitar 40–60% perempuan dengan PCOS mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Kondisi ini memperburuk resistensi insulin dan hiperandrogenisme ovarium, yang akhirnya memperparah gejala seperti haid tidak teratur, hirsutisme (pertumbuhan rambut berlebih), hingga infertilitas. Manfaat penurunan berat badan pada PCOS:
- Penurunan kadar testosteron dan indeks androgen bebas.
- Peningkatan SHBG (sex hormone-binding globulin).
- Perbaikan profil lipid dan metabolik.
- Peningkatan kesehatan mental.
Strateginya bisa melalui diet, olahraga, dan terapi perilaku, langkah selanjutnya adalah modifikasi gaya hidup, dimana riset menunjukkan olahraga intensitas sedang selama 150 menit/minggu dapat memperbaiki siklus haid, meningkatkan ovulasi, serta menurunkan resistensi insulin 9–30%.
Untuk menurunkan berat badan, direkomendasikan 250 menit/minggu aktivitas sedang atau 150 menit/minggu intensitas tinggi, ditambah latihan kekuatan 2 kali/minggu. Caranya bagaimana salah satunya melalui diet, diantaranya ada:
- Pola makan rendah kalori, rendah indeks glikemik, tinggi serat, dan kaya protein membantu meningkatkan sensitivitas insulin.
- Diet rendah karbohidrat terbukti memperbaiki siklus haid, kadar lipid, serta menurunkan risiko diabetes dan penyakit jantung.
- Defisit energi sekitar 500–750 kkal/hari (setara 1200–1500 kkal/hari) direkomendasikan untuk penurunan berat badan.
Terapi Perilaku & Kesehatan Mental
Selain itu sister yang menghadapi PCOS dapat aware jika kesehatan metal itu sangat penting salah satunya dapat melalukan:
- PCOS sering berdampak pada citra tubuh dan kesehatan mental. Prevalensi depresi pada PCOS 3–8 kali lebih tinggi dibanding populasi umum.
- Terapi kognitif-perilaku (CBT), psikoterapi, dan pengobatan dapat membantu memperbaiki kualitas hidup.
- Studi juga menunjukkan olahraga rutin, seperti brisk walking, dapat mengurangi distress terkait citra tubuh, bahkan tanpa penurunan BMI yang signifikan.
Pemilihan terapi dilakukan secara bertahap (stepwise), mulai dari yang paling sederhana hingga intervensi yang lebih kompleks, sesuai kondisi pasien.
PCOS adalah penyebab utama anovulasi dan infertilitas pada perempuan. Namun, terapi kesuburan tidak bisa hanya fokus pada ovulasi. Diperlukan pendekatan yang lebih luas, mencakup manajemen berat badan, perbaikan pola hidup, dukungan psikologis, hingga penggunaan teknologi reproduksi jika diperlukan.
Dengan perawatan multidisipliner yang tepat, perempuan dengan PCOS tidak hanya berpeluang lebih besar untuk hamil, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas hidup serta mencegah komplikasi jangka panjang.
Referensi
- Sawant, S., & Bhide, P. (2019). Fertility treatment options for women with polycystic ovary syndrome. Clinical Medicine Insights: Reproductive Health, 13, 1179558119890867.

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan aplikasi kesehatan medis meningkat pesat. Saat ini, lebih dari 40.000 aplikasi medis tersedia di pasaran, dan hampir 100 di antaranya didesain khusus untuk melacak kesuburan serta siklus menstruasi. Aplikasi-aplikasi ini memungkinkan perempuan memantau biomarker kesuburan mereka, baik untuk tujuan mencapai kehamilan maupun menghindarinya.
Namun, pertanyaan pentingnya: apakah aplikasi-aplikasi ini benar-benar akurat dan berbasis bukti ilmiah? yuk ketahui lebih lanjut!
Fertility Awareness-Based Methods (FABMs)
Sebagian aplikasi memang menggunakan fertility awareness-based methods (FABMs). Dengan penggunaan ideal, metode ini memiliki tingkat efektivitas yang sebanding dengan kontrasepsi hormonal yang umum digunakan. Artinya, jika diaplikasikan dengan benar, FABMs dapat menjadi pilihan kontrasepsi alami yang efektif.
Aplikasi program hamil bisa membantu pasangan memahami siklus menstruasi, masa subur, hingga waktu ovulasi agar peluang kehamilan lebih besar. Banyak di antaranya tersedia gratis dan mudah digunakan.
Rekomendasi Aplikasi
- My Calendar → Melacak siklus haid, ovulasi, dan waktu terbaik berhubungan.
- Flo Period & Ovulation → Memantau siklus dengan teknologi machine learning untuk prediksi lebih akurat.
- Ovulation Calendar & Fertility → Menggunakan metode symptothermal (suhu tubuh & lendir serviks) untuk prediksi masa subur.
- Pregnancy Due Date Calculator → Menghitung perkiraan tanggal konsepsi dan trimester kehamilan berdasarkan haid terakhir.
- Clue Period & Ovulation Tracker → Membantu catat suhu basal tubuh serta memprediksi ovulasi.
- Natural Cycles → Aplikasi berbasis suhu basal tubuh untuk deteksi masa subur dan ovulasi.
Tanda-Tanda Masa Subur
Selain aplikasi, tubuh juga memberi sinyal alami seperti Nyeri payudara, Lendir serviks lebih encer/elastis, Suhu basal tubuh meningkat, Perubahan posisi leher rahim dan Nyeri di perut bagian bawah.
Aplikasi pelacak kesuburan memang menawarkan kemudahan dalam memantau siklus, masa subur, hingga peluang kehamilan. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua aplikasi memiliki akurasi yang sama. Prediksi berbasis kalender saja sering kali meleset, terutama pada perempuan dengan siklus tidak teratur.
Karena itu, aplikasi sebaiknya digunakan sebagai alat bantu awal, bukan satu-satunya pegangan. Perhatikan juga tanda-tanda alami tubuh dan, jika diperlukan, lengkapi dengan pemeriksaan medis untuk hasil yang lebih akurat.
Bagi sister dan paksu yang sedang promil, kombinasi antara teknologi, kesadaran akan sinyal tubuh, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan akan jauh lebih efektif dibanding mengandalkan aplikasi semata. Dengan begitu, perjalanan menuju kehamilan bisa dijalani dengan lebih terarah, sehat, dan penuh harapan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
-
- Duane, M., Contreras, A., Jensen, E. T., & White, A. (2016). The performance of fertility awareness-based method apps marketed to avoid pregnancy. The Journal of the American Board of Family Medicine, 29(4), 508-511.
7 Rekomendasi Aplikasi Kesehatan yang Bisa Bantu Program Hamil Anda

Dalam beberapa dekade terakhir, minat wanita untuk mempelajari cara melacak siklus menstruasi atau siklus reproduksi meningkat pesat. Tidak hanya untuk pemantauan kesehatan, tetapi juga untuk tujuan perencanaan keluarga. Perkembangan teknologi mendukung tren ini: kini tersedia lebih dari 500 aplikasi kesehatan yang berfokus pada pelacakan siklus, jumlahnya meningkat tiga kali lipat dibandingkan lima tahun lalu.
Dengan bimbingan tenaga terlatih atau melalui program edukasi, wanita dapat belajar mengenali tanda-tanda eksternal yang mencerminkan pola hormonal normal maupun abnormal. Informasi ini bermanfaat baik untuk memahami kondisi kesehatan reproduksi maupun untuk perencanaan kehamilan.
Dari Natural Family Planning ke FABMs
Secara historis, metode ini dikenal sebagai Natural Family Planning (NFP), yaitu cara menghindari atau merencanakan kehamilan dengan mengamati tanda-tanda alami fase subur dan tidak subur. Kini, istilah Fertility Awareness-Based Methods (FABMs) lebih sering digunakan. Alasannya, FABMs tidak hanya berfungsi untuk perencanaan keluarga, tetapi juga sebagai alat penting untuk evaluasi dan perawatan medis terkait kesehatan reproduksi wanita.
Siklus Menstruasi sebagai Tanda Vital
Siklus menstruasi kini diakui sebagai salah satu tanda vital kesehatan wanita. Sama seperti tekanan darah atau denyut jantung, variasi dalam pola menstruasi bisa menjadi indikator dini adanya masalah kesehatan.
Dengan FABMs, wanita dapat melacak perdarahan menstruasi, perubahan lendir serviks, suhu basal tubuh (basal body temperature/BBT), hingga kadar hormon urin. Catatan harian, baik manual maupun aplikasi digital, menjadi “peta tubuh” yang mencerminkan kondisi reproduksi. Sayangnya, hanya sekitar 4% dokter yang menerima pelatihan formal terkait FABMs, sehingga banyak informasi penting dari catatan siklus yang terlewatkan dalam praktik klinis.
Dasar Fisiologi FABMs
FABMs berangkat dari pemahaman bahwa organ reproduksi wanita menghasilkan tanda-tanda biologis yang dapat diamati. Misalnya:
- Lendir serviks: berubah sesuai kadar estrogen, dari kental menjadi bening dan licin saat mendekati ovulasi.
- Hormon luteinizing (LH): lonjakan hormon ini memicu ovulasi.
- Suhu basal tubuh (BBT): meningkat setelah ovulasi akibat pengaruh progesteron.
Puncak kesuburan biasanya ditandai dengan cairan serviks yang bening, licin, dan elastis. Ovulasi terjadi dalam 2–3 hari setelah tanda ini muncul. Jika tidak terjadi pembuahan, kadar progesteron menurun, endometrium luruh, dan menstruasi dimulai kembali.
Jenis-jenis FABMs
Secara umum, ada enam kategori FABMs yang digunakan untuk mengidentifikasi masa subur, yaitu:
- Metode lendir serviks
- Metode suhu basal tubuh (BBT)
- Metode hormon urin
- Metode sympto-thermal (gabungan gejala tubuh + suhu)
- Metode sympto-hormonal (gabungan gejala tubuh + hormon urin)
- Metode kalender (cycle length-based)
FABMs dan Kesehatan Wanita
Fungsi ovulasi dapat bervariasi sepanjang fase kehidupan wanita: menarke, kehamilan, menyusui, hingga menopause. Dengan melacak indikator kesuburan, FABMs membantu mendeteksi gangguan ovulasi yang sering berkaitan dengan masalah hormonal.
Beberapa kondisi yang bisa terdeteksi melalui pola siklus antara lain:
- Gangguan hipotalamus akibat olahraga berlebihan, pola makan tidak sehat, atau stres.
- PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), dialami sekitar 10% wanita usia reproduksi.
- Endometriosis, juga mengenai sekitar 10% wanita usia reproduksi dan menjadi penyebab umum subfertilitas.
FABMs bukan sekadar metode untuk merencanakan atau menghindari kehamilan, tetapi juga merupakan alat penting dalam menjaga kesehatan reproduksi wanita. Dengan pemahaman dan pemantauan yang tepat, FABMs dapat membantu deteksi dini gangguan hormonal, mendukung diagnosis, dan menjadi panduan perawatan. Informasi menarik lainnya jangan lupa buat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Duane, M., Stanford, J. B., Porucznik, C. A., & Vigil, P. (2022). Fertility awareness-based methods for women’s health and family planning. Frontiers in Medicine, 9, 858977.

Bagi pasangan yang sedang menjalani program hamil, pemeriksaan kesuburan merupakan langkah penting. Salah satu hal yang diperiksa adalah tuba falopi (apakah saluran indung telur tersumbat atau tidak), karena gangguan pada tuba menjadi penyebab umum sulit hamil.
Selama ini, pemeriksaan yang paling sering digunakan adalah Hysterosalpingography (HSG). Namun, ada metode lain yang semakin dilirik, yaitu Transvaginal Hydrolaparoscopy (THL). Pertanyaannya, mana yang lebih efektif dan efisien?
Apa itu HSG dan THL?
HSG adalah pemeriksaan menggunakan sinar-X dengan bantuan cairan kontras untuk melihat kondisi rahim dan saluran tuba. Prosedur ini sudah lama dipakai, tapi bisa menimbulkan rasa nyeri dan risiko paparan radiasi. Sedangkan THL adalah prosedur minimal invasif yang dilakukan dengan memasukkan kamera kecil melalui vagina ke arah rongga panggul, sehingga bisa melihat langsung kondisi saluran tuba, rahim, dan organ reproduksi lainnya.
Keduanya Aman, Namun Pendekatannya Berbeda.
Kalau dibandingkan dengan HSG, peluang hamil setelah pemeriksaan ternyata sama aja. Bedanya, THL justru lebih hemat di kantong. Kok bisa? Karena pasien yang pakai HSG seringkali butuh pemeriksaan tambahan, sementara THL biasanya cukup sekali jalan. Jadi, kalau ngomongin efisiensi, THL bisa dibilang pilihan yang lebih ramah buat promil bareng paksu.
Apa Artinya untuk Pasangan yang Ingin Punya Anak?
THL bisa menjadi pilihan yang lebih efisien dalam pemeriksaan kesuburan, terutama bagi pasangan dengan risiko rendah adanya sumbatan tuba. Namun, perlu dicatat bahwa tentu Masih dibutuhkan riset tambahan untuk melihat faktor lain, seperti kenyamanan pasien dan penerimaan prosedur.
Baik HSG maupun THL sama-sama dapat memberikan gambaran kondisi saluran tuba. Tapi dari sisi biaya keseluruhan dan hasil kehamilan, THL cenderung lebih unggul.
Meski begitu, setiap pasien punya kondisi berbeda. Karena itu, diskusi dengan dokter kandungan adalah langkah terbaik untuk menentukan pemeriksaan mana yang paling sesuai.
Buat sister dan paksu yang lagi berjuang menuju dua garis, ingat bahwa setiap perjalanan promil itu unik. Baik HSG maupun THL punya kelebihan masing-masing, dan yang terpenting adalah menemukan metode yang paling pas dengan kondisi kalian. Jadi, jangan ragu buat ngobrol terbuka dengan dokter, tanyakan opsi terbaik, dan pilih jalan yang bikin sister dan paksu merasa lebih tenang. Karena pada akhirnya, tujuan kita sama: menghadirkan kebahagiaan kecil di tengah keluarga. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujudagaris.id
Referensi
- Van Kessel, M. A., Pham, C. T., Tros, R., Oosterhuis, G. J. E., Kuchenbecker, W. K. H., Bongers, M. Y., … & Koks, C. A. M. (2022). The cost-effectiveness of transvaginal hydrolaparoscopy versus hysterosalpingography in the work-up for subfertility. Human Reproduction, 37(12), 2768-2776.