• Skip to main content
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Perlu Nggak Sih Cek AMH Kalau Masih Muda?

August 9, 2025

Infertilitas baik bagi laki-laki maupun perempuan bisa diketahui sejak mereka muda, bisa dilihat bagaimana frekuensi haid dan gaya hidup laki-laki. Pada perempuan yang dapat  sama cadangan sel telur, nah salah satu tes yang dapat dilakukan adalah Anti-Müllerian Hormone (AMH). Tes ini makin populer karena katanya bisa jadi “tes kesuburan”. Tapi apakah benar AMH bisa memprediksi peluang hamil? Yuk kita kupas!

Apa itu AMH?

AMH adalah hormon yang diproduksi oleh sel di dalam folikel (calon sel telur) di ovarium. Kadar AMH menggambarkan jumlah sel telur yang masih tersisa, tapi ingat ya tidak berhubungan dengan tes kualitasnya. Jadi, AMH bisa memberi gambaran kuantitas, tapi tidak bisa menilai kesehatan sel telur atau peluang sukses hamil.

Dalam dunia medis, AMH sering digunakan untuk:

Memperkirakan cadangan ovarium (berapa banyak sel telur yang tersisa)
Menentukan dosis obat stimulasi pada program bayi tabung (IVF)
Memprediksi respons tubuh terhadap stimulasi ovarium.

Kalau kadarnya rendah, itu bisa jadi sinyal bahwa jendela reproduksi mungkin lebih pendek. Tapi penting diingat, AMH rendah bukan berarti nggak bisa hamil. Karena itu bukan satu satunya yang menjadi fokus utama dengan teknologi yang tentunya semakin canggih. Jadi apa aja sih faktor yang bisa mengubah hasil AMH

Kadar AMH bisa dipengaruhi beberapa hal, seperti:

  • Penggunaan kontrasepsi hormonal – Bisa menurunkan AMH sementara
  • Kondisi hormon tertentu seperti hipogonadotropik hipogonadisme
  • Indeks massa tubuh (IMT) tinggi – AMH bisa terlihat lebih rendah, tapi ini tidak selalu mencerminkan kemampuan ovarium yang sebenarnya

Itu sebabnya, hasil AMH harus dilihat bersama informasi medis lainnya, bukan dijadikan satu-satunya patokan. Kenapa karena AMH menjadi salah satu tolak ukur yang berguna untuk dokter dalam mengevaluasi kesuburan, terutama jika sister sedang atau akan menjalani perawatan. Tapi, tes ini bukan “ramalan masa depan” kesuburan kamu. Karena faktor kesuburan sangatlah banyak diantaranya adalah usia yang menjadi salah satu  faktor paling penting dalam peluang keberhasilan program hamil.

Kalau kamu masih muda, sehat, dan belum punya rencana hamil dalam waktu dekat, cek AMH bisa jadi opsional. Namun, kalau ingin menunda kehamilan atau punya riwayat keluarga menopause dini, tes ini bisa membantu untuk perencanaan.

Referensi

  • Cedars, M. I. (2022). Evaluation of female fertility—AMH and ovarian reserve testing. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 107(6), 1510-1519.

 

Unexplained Infertility: Harapan Tetap Ada Meski Awalnya Gagal Program

August 7, 2025

 

 

Infertilitas yang tidak jelas penyebabnya bisa terasa sangat membingungkan. Bagaimana tidak? Segala pemeriksaan sudah dilakukan, hasilnya normal, tapi kehamilan tak kunjung datang. Situasi ini bisa membuat sister dan paksu merasa frustasi, bingung harus mulai dari mana, dan tidak jarang merasa kehabisan harapan. Tapi tentu hal ini tetap ada solusinya karena beberapa diantara pejuang dia garis akhirnya berhasil hamil setelah melakukan program hamil. Meski begitu tentu sister dan paksu harus tahu bahwa itu tidaklah instan

Program Hamil Tak Selalu Instan

Sebuah penelitian dengan ratusan pasangan yang menjalani program kehamilan untuk kasus infertilitas tanpa sebab jelas diikuti selama beberapa tahun. Mereka menjalani beberapa tahapan program ada yang memulai dari tahapan ringan lalu bertahap ke prosedur seperti bayi tabung, ada juga yang langsung mencoba metode yang lebih intensif.

Di akhir program, sebagian pasangan memang berhasil memiliki anak. Tapi sebagian lainnya belum. Pertanyaannya: bagaimana kondisi mereka setelah program selesai?

Lima belas tahun setelah program selesai, para peneliti menghubungi kembali para perempuan yang dulu ikut program. Hasilnya mengejutkan banyak dari mereka ternyata berhasil hamil setelah program selesai, bahkan secara alami tanpa bantuan medis. Sebagian lainnya berhasil lewat prosedur seperti inseminasi atau bayi tabung.

Yang lebih menggembirakan, sebagian besar merasa puas dengan keluarga yang akhirnya mereka miliki. Beberapa pasangan bahkan bisa memiliki lebih dari satu anak. Ini menunjukkan bahwa hasil program hamil tidak harus langsung terlihat saat itu juga karena ada pasangan yang memang butuh waktu lebih panjang untuk berhasil.

Bagaimana bisa berhasil?

Kegagal di satu siklus program hamil bukan berarti kamu tidak bisa hamil selamanya. Karena banyak pasangan tetap bisa membangun keluarga, bahkan ketika mereka tidak berhasil dalam program awal. Untuk itu semakin cepat mendapatkan perawatan yang tepat, semakin besar peluang untuk mencoba lebih dari sekali. Pada akhirnya program hamil membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan dukungan sangat berperan dalam proses ini.

Bagi sister dan paksu yang sedang menjalani promil dan merasa jalan masih panjang, dalam artikel ini membawa satu pesan kuat: bahwa harapan itu masih ada. Bahkan ketika hasil tidak langsung terlihat, bukan berarti usaha sister maupun paksu sia-sia. Bisa jadi tubuhmu hanya butuh waktu. Bisa jadi jalanmu memang sedikit berbeda dari orang lain.

Yang penting, tetap bergerak. Tetap mencari bantuan dan dukungan yang tepat. Dan tetap percaya bahwa tubuhmu punya potensi luar biasa untuk menciptakan kehidupan meski kadang tidak terlihat secepat yang kamu harapkan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Vaughan, D. A., Goldman, M. B., Koniares, K. G., Nesbit, C. B., Toth, T. L., Fung, J. L., & Reindollar, R. H. (2022). Long-term reproductive outcomes in patients with unexplained infertility: follow-up of the Fast Track and Standard Treatment Trial participants. Fertility and Sterility, 117(1), 193-201.

Ketika Bentuk Rahim Bisa Mempengaruhi Kehamilan

August 6, 2025

 

 

Hai sister apakah kalian tahu bahwa bentuk rahim ternyata bisa berdampak besar pada keberhasilan kehamilan. Bagi sebagian perempuan, rahim yang tidak terbentuk sempurna sejak lahir dikenal sebagai Congenital Uterine Anomalies (CUA) atau kelainan rahim bawaan hal tersebut dapat memengaruhi kesuburan, meningkatkan risiko keguguran, hingga menimbulkan tantangan saat melahirkan.

Yuk kenalan apa itu Congenital Uterine Anomalies (CUA)?

CUA adalah kondisi bawaan yang menyebabkan bentuk atau struktur rahim berbeda dari biasanya. Contohnya bisa berupa:

Rahim yang terbagi dua,
Rahim hanya setengah sisi,
Atau bentuk rahim yang menyerupai hati.

Sayangnya banyak perempuan baru mengetahui kondisi ini saat kesulitan hamil atau mengalami komplikasi kehamilan.

Apa Dampaknya bagi Kehamilan?

Sebuah studi yang menggabungkan hasil dari banyak penelitian internasional menemukan bahwa perempuan dengan CUA cenderung mengalami tantangan berikut:

  • Lebih sedikit peluang melahirkan bayi hidup
    Perempuan dengan kelainan rahim punya kemungkinan lebih rendah untuk mencapai persalinan yang sukses dibandingkan perempuan dengan rahim normal.
  • Risiko keguguran lebih tinggi
    Baik di trimester pertama maupun kedua, kemungkinan keguguran meningkat signifikan.
  • Risiko kelahiran prematur dan bayi sungsang
    Bayi bisa lahir sebelum waktunya atau dalam posisi yang menyulitkan proses persalinan.
  • Lebih sering menjalani operasi caesar
    Karena bentuk rahim yang tidak ideal, banyak perempuan dengan CUA harus melahirkan lewat prosedur operasi.
  • Komplikasi serius seperti lepasnya plasenta sebelum waktunya
    Ini kondisi yang bisa membahayakan ibu dan bayi, dan lebih sering terjadi pada perempuan dengan CUA.

Jenis kelainan rahim juga berpengaruh pada jenis risiko Kelainan pembentukan saluran rahim (canalization defects): cenderung menyebabkan keguguran di awal kehamilan. Kelainan penyatuan rahim (unification defects): lebih sering dikaitkan dengan komplikasi di trimester akhir atau saat melahirkan.

Jadi apa yang Dapat Dilakukan?

Kalau sister atau seseorang yang kamu kenal memiliki CUA, bukan berarti tidak bisa hamil atau melahirkan dengan sehat. Yang penting adalah Mengenali kondisi ini sejak awal, mendapat pemantauan medis yang tepat, berkonsultasi secara rutin dengan dokter kandungan, serta menyusun rencana kehamilan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Congenital Uterine Anomalies memang bisa membawa tantangan dalam perjalanan menjadi ibu. Tapi dengan penanganan yang baik dan informasi yang cukup, banyak perempuan tetap bisa menjalani kehamilan yang aman dan bahagia. Mengenali bentuk rahim bukan cuma soal medis tapi soal memahami tubuh sendiri dan mengambil langkah tepat untuk masa depan yang sehat. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kim, M. A., Kim, H. S., & Kim, Y. H. (2021). Reproductive, obstetric and neonatal outcomes in women with congenital uterine anomalies: a systematic review and meta-analysis. Journal of clinical medicine, 10(21), 4797.

 

Jangan Tunggu Nanti: Kenali Cadangan Sel Telur dari Sekarang

August 5, 2025

Anti-Müllerian Hormone (AMH) sekarang sering banget jadi bahan obrolan waktu perempuan mau periksa kesuburan. Katanya, kalau AMH rendah, berarti cadangan sel telur menipis, peluang hamil kecil, dan masa subur udah mau habis.

Tapi… ternyata nggak sesederhana itu.

Karena penurunan AMH itu beda-beda tiap orang, dan satu kali tes AMH belum tentu cukup buat meramal masa subur seseorang. 

AMH Itu Apa, Sih?

AMH adalah hormon yang diproduksi oleh sel-sel kecil di ovarium (folikel). Semakin banyak folikel yang kamu punya, semakin tinggi kadar AMH-mu. Karena itu, AMH dianggap bisa jadi cerminan cadangan sel telur alias ovarian reserve.

Makanya, sekarang banyak klinik menggunakan tes AMH buat: Perencanaan program hamil, konsultasi fertilitas dan menentukan langkah bayi tabung atau pembekuan sel telur

Faktanya, Penurunan AMH Itu Nggak Sama Tiap Orang

Fakta ini ditemukan oleh sebuah penelitian diantaranya adalah: penurunan AMH makin cepat setelah usia 40 tahun selain itu laju penurunannya nggak sama antara satu perempuan dengan yang lain ada yang AMH-nya menurun pelan-pelan, ada juga yang drastis walau cenderung tetap tinggi/rendah seiring waktu, perbedaan antara perempuan jadi makin tipis di usia lebih tua

Dengan kata lain: nggak semua perempuan dengan AMH rendah akan cepat menopause, dan nggak semua yang tinggi pasti subur lebih lama.

Jadi, Tes AMH Bisa Diandalkan Nggak?

Tes AMH tetap penting, tapi fungsinya lebih ke Mengetahui kondisi saat ini (bukan memprediksi masa depan secara pasti), Memberi gambaran kasar tentang jumlah folikel yang masih aktif dan membantu dokter dalam menentukan strategi promil

Tapi tes ini nggak bisa berdiri sendiri. Hasilnya harus dilihat bareng faktor lain seperti usia, siklus haid, hasil USG, dan kondisi pasangan.

Kalau kamu pernah dites dan hasil AMH-mu rendah, itu bukan akhir segalanya. Sebaliknya, kalau tinggi pun bukan jaminan bisa menunda program hamil seenaknya.

Setiap perempuan punya jalur kesuburan yang unik. Yang penting, kenali tubuh sendiri dan jangan ragu untuk konsultasi dengan dokter yang paham konteks keseluruhan hal ini akan mempermudah sister dan paksu untuk menentukan langkah terbaik apa yang dapat diambil ketika akan melaksanakan program hamil. 

Referensi 

de Kat, A.C., van der Schouw, Y.T., Eijkemans, M.J.C. et al. Back to the basics of ovarian aging: a population-based study on longitudinal anti-Müllerian hormone decline. BMC Med 14, 151 (2016). https://doi.org/10.1186/s12916-016-0699-y

 

Bentuk Rahim Bisa Beda, dan Itu Bisa Pengaruhi Kesuburan

August 4, 2025

 

 

“Kok belum hamil-hamil, padahal haid lancar dan hasil lab bagus?”
Kadang jawabannya bukan di hormon atau sel telur tapi bisa jadi dari bentuk rahim. Banyak perempuan nggak menyadari kalau mereka punya anomali rahim alias kelainan bentuk rahim bawaan yang bisa menghambat kehamilan. Misalnya rahim terbagi dua (septate), rahim ganda (didelphys), atau rahim dengan bentuk tidak normal lainnya.

Masalahnya, kondisi ini sering luput terdeteksi karena gejalanya minim dan pemeriksaannya belum jadi standar di banyak tempat. Padahal, anomali rahim termasuk salah satu penyebab infertilitas yang bisa diatasi kalau dideteksi sejak awal.

Kenapa Sering Terlewat?

Sebelumnya, proses diagnosis anomali rahim masih punya banyak celah mulai dari klasifikasi bentuk rahim yang kurang jelas, Metode pemeriksaan yang bervariasi dan alat yang digunakan tidak selalu akurat

Karena itu, sering terjadi salah diagnosis baik overdiagnosis, underdiagnosis, maupun misdiagnosis. Dan ini berpengaruh langsung pada strategi program hamil.

Rekomendasi Pemeriksaan yang Lebih Akurat

Kini, sudah ada pendekatan yang lebih sistematis dan disepakati secara luas. Panduan ini menekankan pentingnya memilih jenis pemeriksaan berdasarkan kondisi pasien:

  1. Untuk perempuan tanpa keluhan: Pemeriksaan awal cukup dengan USG 2D dan pemeriksaan ginekologi rutin.
  2. Untuk yang punya riwayat infertilitas, keguguran berulang, atau menstruasi yang tidak normal: USG 3D direkomendasikan karena bisa menampilkan bentuk rahim secara lebih detail dan akurat.
  3. Untuk kasus yang kompleks atau hasil yang belum jelas: MRI dan endoskopi (seperti histeroskopi atau laparoskopi) digunakan untuk memastikan diagnosis.
  4. Untuk remaja yang sejak awal mengalami gejala mencurigakan: Disarankan kombinasi USG 2D, USG 3D, MRI, dan pemeriksaan endoskopi.

Cara Mengukur Bentuk Rahim dengan Benar

Salah satu penilaian penting dalam mendeteksi kelainan rahim adalah mengukur ketebalan dinding rahim. Titik ukurnya dihitung dari garis antara dua saluran tuba (interostial line) ke dinding luar rahim, dalam potongan gambar dari arah depan (koronal). Jika gambar ini tidak tersedia, bisa digunakan rata-rata ketebalan dinding depan dan belakang dari arah longitudinal.

Kenapa Ini Penting untuk Program Hamil

Beberapa bentuk rahim, seperti rahim septate, memang bisa diatasi lewat tindakan bedah kecil yang memperbaiki bentuk rahim dan secara signifikan meningkatkan peluang hamil. Tapi itu hanya bisa dilakukan kalau diagnosisnya tepat. Karena itu, deteksi anomali rahim tidak boleh diabaikan dalam evaluasi awal infertilitas.

Tidak semua masalah kesuburan berasal dari hormon atau sperma. Struktur rahim juga memegang peran penting dalam keberhasilan kehamilan. Deteksi dini kelainan bentuk rahim bisa jadi kunci penting dalam program hamil, terutama bagi pasangan yang sudah lama menunggu tanpa hasil yang jelas. Jadi jangan sampai luput dan lakukan pemeriksaan untuk kasus ini ya sister! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:
Grigoris F. Grimbizis, Attilio Di Spiezio Sardo, Sotirios H. Saravelos, Stephan Gordts, Caterina Exacoustos, Dominique Van Schoubroeck, Carmina Bermejo, Nazar N. Amso, Geeta Nargund, Dirk Timmerman, Apostolos Athanasiadis, Sara Brucker, Carlo De Angelis, Marco Gergolet, Tin Chiu Li, Vasilios Tanos, Basil Tarlatzis, Roy Farquharson, Luca Gianaroli, Rudi Campo, The Thessaloniki ESHRE/ESGE consensus on diagnosis of female genital anomalies, Human Reproduction, Volume 31, Issue 1, January 2016, Pages 2–7, https://doi.org/10.1093/humrep/dev264

Panduan Program Hamil untuk Pasien PCOS: Tanya Jawab Lengkap Bersama Dokter Spesialis

August 3, 2025

 

Takeover MDG Channel bersama dr. Ali Mahmud, Sp.OG(K) FER

PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome merupakan salah satu kondisi yang cukup sering ditemui pada pasien yang sedang menjalani program hamil. Tapi banyak yang masih bingung apakah bisa hamil secara alami? Harus IVF? Atau menunggu siklus tertentu?

Dalam sesi tanya-jawab bersama dr. Ali Mahmud, Sp.OG(K) FER, berikut rangkuman jawaban dari berbagai pertanyaan yang sering diajukan para pejuang dua garis:

Apakah PCOS Berpengaruh Terhadap Keberhasilan FET (Frozen Embryo Transfer)?

Jawabannya: ya, sangat berpengaruh, terutama jika disertai obesitas atau masalah metabolik lainnya. Karena itu, sebelum FET disarankan:

  • Menurunkan berat badan (jika overweight)
  • Rutin berolahraga
  • Menjalani pola hidup sehat
  • Mendapatkan terapi medis yang sesuai

Langkah-langkah ini dapat meningkatkan keberhasilan implantasi embrio pada pasien PCOS.

Kalau BMI Normal, Masih Perlu Turunkan Berat Badan?

“BB saya 53 kg, TB 156 cm (BMI 21.8 – normal), tapi saya PCOS. Apa tetap harus turunkan berat badan 5%?”

Penjelasan dokter:

  • Jika BMI sudah ideal, tidak perlu turunkan berat badan lagi.
  • Namun tetap penting untuk menjaga agar IMT tidak naik.
  • Lakukan pemeriksaan AMH untuk mengetahui cadangan sel telur.
  • Ajak pasangan untuk konsultasi juga ke dokter andrologi, karena faktor kesuburan pria juga penting dalam promil.

Bagaimana Menebalkan Dinding Rahim pada Pasien PCOS?

“Saya sedang promil alami. Ada sel telur besar, tapi dinding rahim masih tipis. Apa yang harus dilakukan?”

Biasanya dokter akan memberikan obat hormonal tertentu untuk membantu menebalkan endometrium (dinding rahim).
Jika waktunya tidak memungkinkan, siklus akan diulang dengan penyesuaian obat yang lebih tepat.

PCOS Sudah Menikah Lama Tapi Belum Punya Anak Sehat—Apa Langkah Selanjutnya?

“Saya PCOS, menikah 9 tahun. Anak pertama meninggal karena kelainan, kehamilan kedua BO. Kenapa bisa begitu?”

Pasien PCOS memang bisa hamil, tapi kualitas kehamilan bisa terganggu. Risiko seperti keguguran atau kelainan janin bisa lebih tinggi.

Sebaiknya segera konsultasi ke dokter fertilitas. Bila memungkinkan secara finansial, program IVF sangat direkomendasikan, mengingat usia pernikahan sudah cukup lama dan belum mendapatkan keturunan yang sehat.

Program Apa yang Paling Efektif untuk Pasien PCOS?

Program dengan tingkat keberhasilan paling tinggi adalah IVF (bayi tabung).

Namun, promil lain seperti program alami atau inseminasi (IUI) masih memungkinkan, tergantung berat ringannya PCOS dan hasil evaluasi medis. Konsultasi menyeluruh sangat penting untuk menentukan langkah terbaik.

Artikel ini merupakan rangkuman dari sesi tanya-jawab di MDG Channel bersama dr. Ali Mahmud, Sp.OG(K) FER. Untuk rekomendasi dan penanganan sesuai kondisi pribadi, silahkan konsultasi langsung ke klinik fertilitas terpercaya.

 

MDG Channel Take Over: Sperma Abnormal 99%, Harus IVF Sekarang atau Perbaiki Dulu? Ini Jawaban Dokter!

August 3, 2025

Pertanyaan:

Halo dokter, saya mau tanya. Kalau suami saya spermanya 99% abnormal, apakah sebaiknya kami memperbaiki sperma dulu sebelum menjalani IVF, atau langsung IVF saja?

Jawaban dr. Uning Marlina, MHSM, Sp.OG:

Sebelum saya jawab, saya mau tanya balik dulu ya, sister
Tujuan programnya ini untuk punya anak, atau ingin memperbaiki kualitas sperma?

Karena, meskipun 99% sperma suami tidak normal dan hanya 1% yang normal, tetap ada kemungkinan untuk hamil, lho! Bahkan pasien yang azoospermia (tidak ditemukan sperma dalam pemeriksaan biasa) pun masih bisa punya anak.

Jadi kalau ada gangguan sperma, fokus utamanya adalah ingin program hamil, bukan sekadar menormalkan sperma.

Langkahnya nanti akan disesuaikan dengan kondisi sperma—mau lewat inseminasi (inseminasi intrauterin) atau IVF (bayi tabung). Tetap perlu kerja sama juga dengan dokter andrologi untuk mengoptimalkan sperma yang ada. Tapi tujuannya jelas: untuk mendukung program hamil, bukan sekadar mengejar hasil sperma yang “sempurna”.

Banyak pasangan yang terlalu fokus memperbaiki sperma hingga habis banyak biaya, tapi belum masuk ke program hamil sama sekali. Padahal, inseminasi atau IVF adalah langkah yang lebih tepat untuk menangani masalah sperma.

Jadi, saran saya: segera ke klinik IVF. Di sana, tim dokter akan membantu mengelola kondisi suami dan mempersiapkan IVF dengan optimalisasi sperma yang ada.

Semoga segera dipertemukan dengan dua garis birunya ya, sister dan paksu!

Kalau Embrio Gagal Menempel Setelah FET, Apa Penyebabnya?

Pertanyaan:

Bagaimana cara embrio bisa menempel setelah FET (frozen embryo transfer) pada pasien dengan unexplained infertility? Apakah banyak kasus seperti ini?

Jawaban dr. Uning Marlina, MHSM, Sp.OG:

Pertanyaan ini bagus sekali dan sering mewakili kegelisahan para pejuang dua garis yang sudah menjalani IVF, tapi belum berhasil juga.

Ibarat menanam biji mangga kadang tumbuh, kadang tidak. Kenapa bisa gagal menempel? Bisa dari bibit (embrio) atau dari tanahnya (rahim).

Kalau dari embrionya, kualitas menjadi faktor penting. Untuk pasien yang sudah berulang kali gagal IVF, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan PGTA untuk mengecek apakah embrionya benar-benar layak tanam atau tidak.

Kalau dari sisi rahim, banyak faktor juga:

  • Kondisi hormon
  • Aliran darah
  • Adanya penyakit atau gangguan imunologi
  • Status gizi
  • Dan faktor “kegemburan” rahim lainnya yang kadang tidak kasatmata

Biasanya, sebelum siklus IVF berikutnya, dokter akan lakukan evaluasi dulu:
“Kenapa ya kira-kira kemarin belum berhasil?”
Lalu, akan dicoba pendekatan atau metode lain pada siklus berikutnya.

Memang, unexplained infertility adalah salah satu tantangan terbesar, karena kita tidak tahu pasti penyebab kegagalannya. Tapi jangan putus harapan. Meski sudah usaha maksimal dan mencoba berbagai cara, ingat ada bagian yang tetap menjadi rahasia Tuhan.

Materi ini disadur dari sesi tanya jawab bersama dr. Uning Marlina, MHSM, Sp.OG. Untuk penilaian kondisi secara spesifik, silakan konsultasikan langsung ke klinik fertilitas terpercaya. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

 

Day One or One Day: Jadi Pejuang Dua Garis Bareng Mizz Rosie dan Chef Ken di Ideafest Surabaya 2025

August 2, 2025

 

Surabaya, 2025 Dalam ajang Ideafest Surabaya 2025, kisah penuh makna dari para pejuang dua garis hadir menyentuh hati. Mizz Rosie dan Chef Ken, dua sosok di balik komunitas Menuju Dua Garis (MDG), berbagi cerita perjuangan mereka dalam menghadapi infertilitas dan stigma sosial yang menyertainya. Mereka tidak sendiri hadir pula Astrid Regina Sapiie (psikolog klinis & CEO DearAstrid), serta Chitra Astriana (entrepreneur) sebagai moderator dalam sesi ini.

Cerita Dimulai di Titik Nol

Mizz Rosie dan Chef Ken berbagi tentang hari pertama mereka menyandang identitas sebagai pasangan pejuang dua garis. Di tengah perjuangan untuk memiliki keturunan, mereka juga harus menghadapi pandangan miring dari masyarakat. Chef Ken, yang kala itu menjadi finalis sebuah acara, bahkan sempat mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat berada di rumah sakit dicap, dinilai, tanpa empati.

Di sinilah “day one” mereka dimulai. Sebuah hari yang penuh emosi, marah, kecewa, namun justru menjadi batu loncatan menuju kedewasaan dan ketangguhan.

Proses yang Membentuk

Melalui waktu dan rasa saling percaya, Mizz Rosie akhirnya meminta izin kepada Chef Ken untuk membuka kisah mereka ke publik. “Ibarat seorang ayah melihat istri sebagai anak yang akhirnya tumbuh menjadi dewasa,” ungkapnya menyentuh.

Tak ada dokter, tak ada protokol medis rumit di sesi ini. Hanya kisah nyata, tentang bagaimana sebuah pasangan belajar untuk bertahan, mendewasa bersama, dan saling menopang satu sama lain. Bahwa menjadi pejuang dua garis bukan hanya tentang hamil tapi tentang harapan dan pilihan untuk tidak menyerah.

Psikologi Tentang Dibalik Ketangguhan

Bu Astrid, sebagai psikolog, menyampaikan bahwa ada tiga sisi penting yang membentuk resiliensi pasangan:

  1. Budaya dan stigma masyarakat: Ketimpangan gender yang melekatkan makna “perempuan sempurna” dengan keharusan punya anak.
  2. Resiliensi bukan bawaan lahir: Tapi kemampuan yang bisa dibangun. Seperti bola makin dibanting, makin keras pantulannya.
  3. Stress coping dan kepedulian: Resiliensi terlihat ketika seseorang masih bisa peduli pada orang lain, bahkan dalam masa sulit.

 

Belajar Bertahan dan Menjadi Lebih Baik

Selain dari sisi psikologi, hal tersebut juga berdampak pada pernikahan, pernikahan memang tak selalu mulus. Tapi, seperti kata Mizz Rosie: “Kisah pernikahan berbeda-beda, tapi Tuhan punya rencana untuk masing-masing kita. Kita belajar untuk bertahan, menjadi versi terbaik diri, dekat dengan pasangan dan Tuhan. Karena ujungnya, kita akan menghadapi semuanya berdua.”

Bu Astrid menutup sesi dengan mengingatkan bahwa kita tidak pernah punya hak untuk menghakimi pasangan mana pun, karena setiap orang punya cerita dan nilai hidup masing-masing.

Menuju Harapan yang Indah

MDG, yang awalnya lahir dari pengalaman pribadi, kini tumbuh menjadi simbol harapan. Sebuah ruang untuk para pejuang dua garis yang ingin terus belajar, berproses, dan saling menguatkan. “Kalau kamu ingin kebahagiaan, ya ambil dan perjuangkan. Happiness is something you learn,” pesan terakhir dari Chef Ken.

Sesi ini bukan hanya tentang infertilitas. Tapi tentang keberanian, tentang perubahan, dan tentang peran kita semua untuk saling mendukung mimpi satu sama lain.

 

  • « Previous
  • 1
  • …
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  • …
  • 74
  • Next »
ayo-gabung-mdg

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.