Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Surabaya, 16 Juli 2025 – Komunitas Menuju Dua Garis (MDG) bekerja sama dengan Asha IVF Indonesia menggelar bootcamp bertema “Mengenal Lebih Dekat Kesehatan Rahim dan Peluang Kehamilan di Usia 30+”. Acara ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan berhasil menarik lebih dari 230 peserta yang hadir dari seluruh Indonesia.
Bootcamp dibuka oleh Bumin Tivani dan dilanjutkan dengan sambutan hangat dari founder MDG, Mizz Rosie, yang menyapa para Pejuang Dua Garis (PDG) dan mengajak mereka untuk merenungkan pentingnya rahim sebagai ruang kehidupan yang tumbuh selama sembilan bulan. “Kita semua pasti punya kesempatan. Maka, penting untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa saya lakukan untuk menjaga kesehatan rahim saya?” ujarnya.
Materi utama disampaikan oleh Dr. dr. Amang Surya P., SpOG., F-MAS., yang memaparkan struktur sistem reproduksi perempuan dan bagaimana proses kehamilan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk usia. Ia menegaskan bahwa perempuan perlu waspada terhadap kondisi rahim mereka, terutama jika ada kelainan organik seperti polip atau mioma. Tidak semua kondisi harus dioperasi, terutama jika tidak mengganggu peluang kehamilan. Dr. Amang juga menyoroti bahwa kompleksitas reproduksi perempuan jauh lebih tinggi dibanding laki-laki, karena pada laki-laki fokus utamanya hanya pada kualitas sperma.
Diskusi semakin hidup ketika peserta mulai mengajukan berbagai pertanyaan. Salah satu peserta bercerita bahwa ia berusia 33 tahun, telah menikah selama 4 tahun, dengan suami yang didiagnosis oligozoospermia. Ia sendiri memiliki jumlah sel telur yang sedikit dan berukuran kecil, meski siklus menstruasinya normal. Ia bertanya, masihkah ada peluang untuk hamil secara alami, dan langkah apa yang sebaiknya diambil selanjutnya?
Ada juga peserta yang ingin tahu apakah hasil HSG yang menunjukkan pembengkakan pada saluran tuba bisa berubah jika tes diulang setelah satu tahun. Pertanyaan lain datang dari peserta yang memiliki kista 4 cm tanpa adenomiosis, dan ingin tahu apakah kondisi ini akan mengganggu proses implantasi embrio.
Beberapa PDG juga berbagi kondisi yang lebih kompleks. Seorang peserta berusia 36 tahun mengalami adenomiosis di dinding luar rahim, kista coklat di ovarium, dan low AMH, sementara suaminya mengalami OAT. Setelah tiga kali IVF, mereka mendapatkan embrio berkualitas baik pada hari kelima dan bertanya mengenai peluang keberhasilan untuk IVF keempat.
Menanggapi semua pertanyaan tersebut, Dr. Amang menekankan pentingnya mengetahui kondisi diri sendiri sedini mungkin. “Jangan menunda-nunda untuk tahu kondisi kalian. Keputusan yang diambil hari ini adalah langkah berani. Jangan khawatir berlebihan kalau belum tahu kondisinya, karena bagaimana kalian bisa menentukan langkah kalau belum tahu harus dari mana memulainya?” pesannya.
Untuk informasi menarik dan edukasi seputar program kehamilan, MDG mengajak para PDG untuk mengikuti Instagram @menujuduagaris.id. Sampai jumpa di bootcamp selanjutnya.

Buat sebagian perempuan, endometriosis bukan sekadar nyeri haid biasa. Kondisi ini bisa menyerang ovarium, bikin cadangan sel telur menipis, dan memperbesar risiko infertilitas bahkan pada usia muda. Dilain sisi sekarang sudah ada solusi yang makin dikenal dan makin realistis seperti fertility preservation atau peliharaan kesuburan. Yuk, kita bahas kenapa ini penting banget buat kamu yang punya endometriosis!
Kenapa Endometriosis Bisa Ganggu Kesuburan?
Endometriosis dengan kadar berat bisa menyebabkan kerusakan pada jaringan ovarium. Kalau sampai muncul kista di kedua ovarium (bilateral endometrioma), atau kamu pernah operasi berulang, maka risiko menurunnya cadangan sel telur (ovarian reserve) makin besar.
Bahkan tanpa operasi pun, peradangan akibat endometriosis bisa berdampak ke cadangan sel telur yang kamu punya. Kondisi ini nggak selalu langsung kelihatan, tapi bisa berujung pada:
- Respons hormon yang makin rendah saat stimulasi IVF
- Sulit hamil secara alami
- Bahkan risiko menopause dini (premature ovarian failure)
Operasi Bukan Solusi Satu-Satunya (dan Bisa Berdampak ke Ovarium)
Saat kista endometriosis diangkat, cadangan sel telur juga bisa ikut terangkat. Data menunjukkan, kadar hormon AMH bisa turun hingga 30% setelah pengangkatan satu sisi endometrioma, dan sampai 44% kalau kedua sisi ovarium terlibat. Ini alasan kenapa pasien endometriosis wajib dikasih informasi soal pelestarian kesuburan sebelum tindakan apa pun dilakukan.
Apa Itu Fertility Preservation?
Fertility preservation (FP) adalah upaya menyimpan potensi kesuburan untuk masa depan. Beberapa pilihan FP antara lain:
- Pembekuan sel telur (oocyte freezing)
Direkomendasikan menyimpan 10–15 sel telur untuk usia ≤35 tahun, dan lebih dari 20 sel telur untuk yang >35 tahun. - Pembekuan embrio (kalau sudah punya pasangan atau pakai donor sperma)
- Pembekuan jaringan ovarium (biasanya untuk kasus khusus dan bisa dilakukan sebelum terapi medis ekstrem).
Meski demikian konsultasi ke dokter kandungan yang paham masalah endometriosis dan infertilitas adalah langkah pertama. Sister bisa cek kadar AMH dan USG antral follicle count untuk tahu seberapa besar cadangan sel telur saat ini. Kalau kamu memang butuh operasi, pastikan dilakukan dengan teknik fertility-sparing alias yang meminimalkan kerusakan jaringan ovarium yang sehat.
Meski endometriosis bisa menggerus kesuburan tapi dengan persiapan dan pengetahuan yang tepat, sister tetap punya kendali atas pilihan reproduksimu. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Carrillo, L., Seidman, D. S., Cittadini, E., & Meirow, D. (2016). The role of fertility preservation in patients with endometriosis. Journal of assisted reproduction and genetics, 33(3), 317-323.
- Rangi, S., Hur, C., Richards, E., & Falcone, T. (2023). Fertility preservation in women with endometriosis. Journal of Clinical Medicine, 12(13), 4331.
Endometriosis bukan hanya penyakit fisik. Di balik nyeri panggul kronis, menstruasi yang menyakitkan, dan tantangan kehamilan, ada luka yang tak kalah berat ini berkaitan dengan identitas diri, tekanan emosional, dan perasaan terasing dalam hubungan sosial.
Sebuah penelitian berkaitan dengan “endometriosis” mengungkap hal yang sering terabaikan bagaimana penyakit ini mengubah cara perempuan memandang dirinya sendiri dan menjalani hidup sehari-hari di tengah ekspektasi sosial untuk selalu ‘kuat’ dan tetap memenuhi peran sebagai perempuan yang ‘baik’.
Mempertanyakan Identitas Diri
Banyak perempuan menggambarkan hidup dengan endometriosis sebagai pengalaman yang menggerus identitas pribadi. Mengapa seperti itu? bagaimana tidak jika setiap hari aktivitas harian terganggu, peran sosial berubah, dan tubuh sendiri terasa seperti musuh. Hal ini yang kemudian membuat mereka merasa terpisah dari versi diri mereka yang “normal”, seolah kehilangan jati diri karena terus-menerus bergulat dengan rasa sakit dan kelelahan.
Sedihnya ketika respons dari orang sekitar termasuk tenaga medis sering kali memicu perasaan tidak valid, bahkan seakan-akan mereka “bermasalah” secara mental. Para perempuan bercerita pernah merasa seperti “akan menjadi gila” karena keluhan mereka dianggap sepele atau dicurigai bersumber dari psikologis, bukan kondisi medis yang nyata.
Tak Ingin Jadi Beban: Memilih Diam
Dilain sisi ada perasaan menjadi beban bagi pasangan, keluarga, atau teman-teman yang muncul berulang. Alih-alih terus menjelaskan dan ditolak pemahamannya, banyak perempuan memilih menyembunyikan rasa sakit mereka. Strategi ini disebut self-silencing diam untuk menjaga hubungan, meski mengorbankan kesejahteraan pribadi.
Banyak perempuan mengaku bahwa prioritas mereka dalam pengobatan adalah mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kualitas hidup. Namun, di mata tenaga kesehatan, prioritas seringkali diarahkan pada dua hal: fungsi seksual dan kehamilan. Ketika fokus terus diarahkan ke kesuburan, perempuan yang belum atau tidak bisa hamil merasa gagal sebagai perempuan, bahkan kehilangan makna identitas kewanitaannya.
Realitas Sosial yang Memperparah
Di masyarakat, perempuan sering dituntut untuk tetap “kuat”, tetap merawat, tetap tersenyum, meskipun dalam kondisi tidak baik. Ketika endometriosis menyerang, ekspektasi ini bisa menjadi tekanan tambahan. Menjadi perempuan sakit berarti harus menderita secara diam-diam tidak mengeluh terlalu keras agar tidak dianggap lemah, histeris, atau “bermasalah”.
Praktik self-silencing ini pada faktanya berdampak buruk bagi kesehatan mental dan kemampuan seseorang untuk merawat dirinya sendiri. Perempuan yang terus menyembunyikan rasa sakitnya berisiko mengalami depresi, kehilangan jati diri, dan semakin menjauh dari perawatan yang sebenarnya mereka butuhkan.
Dampak psikologis dari endometriosis tidak bisa dianggap remeh. Identitas diri yang terganggu, relasi yang renggang, dan beban emosional yang berat bisa membuat penderita endometriosis mengalami tekanan yang lebih besar dibanding kondisi kronis lainnya. Sayangnya, aspek ini masih kurang diperhatikan dalam layanan kesehatan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
- Validasi pengalaman mereka. Jangan langsung menyepelekan keluhan atau memberi nasihat kosong.
- Ubah cara pandang medis dan sosial: Fokus bukan hanya pada rahim dan reproduksi, tapi pada kualitas hidup dan kesehatan mental secara menyeluruh.
- Dorong ruang aman untuk bersuara. Baik di rumah, tempat kerja, atau pelayanan kesehatan.
Endometriosis adalah kondisi fisik dan emosional. Memahami sisi emosionalnya bukan berarti melebih-lebihkan tapi justru langkah penting menuju empati, perawatan yang tepat, dan pemulihan yang lebih holistik. Apakah dari sister ada yang juga mengalami hal tersebut? yuk jadi bagian yang paham dan berempati! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Cole, J. M., Grogan, S., & Turley, E. (2021). “The most lonely condition I can imagine”: Psychosocial impacts of endometriosis on women’s identity. Feminism & Psychology, 31(2), 171-191.

Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) menjadi salah satu gangguan hormon yang sering dialami perempuan usia subur. PCOS ditandai dengan ketidakseimbangan hormon, resistensi insulin, dan masalah metabolisme. Gejalanya bisa sangat mengganggu, mulai dari menstruasi tidak teratur, sulit hamil, jerawat, tumbuhnya rambut berlebih, hingga kenaikan berat badan.
Selama ini, pengobatan PCOS biasanya menggunakan obat-obatan seperti pil KB atau insulin sensitizer. Sayangnya, obat-obatan ini kadang hanya mengatasi gejala, bukan akar masalahnya, dan bisa menimbulkan efek samping. Lalu bagaimana dengan program hamil alami? baca lebih lanjut yuk!
Program Hamil Alami Untuk PCOS
Banyak diantara sister yang kini mulai melirik cara alami untuk mengelola PCOS. Selain minim efek samping, cara ini juga bisa membantu memperbaiki kesehatan secara menyeluruh. Berikut beberapa strategi alami yang terbukti efektif:
- Perubahan Pola Makan
Mengatur pola makan adalah kunci utama. Diet rendah gula dan tinggi serat, seperti pola makan Mediterania atau DASH, terbukti membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi peradangan. Pilih makanan utuh, perbanyak sayuran, buah, biji-bijian, dan kurangi makanan olahan.
- Aktif Bergerak
Olahraga rutin, baik kardio maupun latihan kekuatan, sangat baik untuk PCOS. Aktivitas fisik membantu menyeimbangkan hormon, menurunkan berat badan, dan memperbaiki siklus haid. Tidak perlu ekstrem, cukup jalan kaki cepat, yoga, atau bersepeda secara teratur.
- Herbal dan Suplemen
Beberapa herbal seperti inositol, teh spearmint, dan kayu manis mulai populer karena manfaatnya dalam membantu menyeimbangkan hormon dan metabolisme. Namun, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mengonsumsinya, ya!
- Perbaiki Gaya Hidup
Jangan remehkan pentingnya tidur cukup dan manajemen stres. Tidur berkualitas dan pikiran tenang turut membantu menstabilkan hormon. Cobalah teknik relaksasi seperti meditasi atau journaling untuk mengurangi stres sehari-hari.
Pendekatan alami cenderung lebih aman dan bisa memperbaiki kondisi tubuh secara menyeluruh. Namun, hasilnya mungkin tidak instan dan butuh komitmen jangka panjang. Sementara itu, obat-obatan bisa memberikan hasil lebih cepat, tetapi seringkali hanya mengatasi gejala.
Kombinasi antara pengobatan medis dan perubahan gaya hidup alami seringkali menjadi pilihan terbaik. Yang terpenting, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan strategi yang paling sesuai dengan kondisi sister
PCOS memang kompleks dan bisa sangat memengaruhi kualitas hidup. Namun, dengan pengetahuan yang tepat dan perubahan gaya hidup sehat, sister bisa lebih berdaya dalam mengelola PCOS. Yuk, mulai langkah kecil hari ini untuk tubuh yang lebih sehat dan bahagia! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Soni, P., Jain, D., Bhatti, M., Bhatia, D., & Sharma, C. (2024). Exploring the Intricacies of Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS): A Comprehensive Review-from Prevalence to Natural Solutions. New Emirates Medical Journal, 5(1), e02506882339236.

Bersama dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG., Subsp F.E.R, MIGS
Dalam sesi spesial Channel Take Over kali ini, kita kedatangan tamu istimewa, yaitu dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG., Subsp F.E.R, MIGS dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang juga mendalami bidang fertilitas dan endoskopi ginekologi.
Salah satu pertanyaan yang cukup sering diajukan oleh pejuang dua garis adalah:
“Dok, saya ada kista kanan kiri dan juga adenomiosis. Kalau dibersihkan, apakah masih bisa hamil alami, sedangkan suami saya teratozoospermia?”
Jawaban dr. Aerul:
“Kasusnya cukup kompleks, tapi tetap semangat ya!”
Menurut dr. Aerul, kista endometriosis bilateral (di kedua ovarium) yang disertai dengan adenomiosis memang memerlukan pertimbangan yang matang sebelum dilakukan tindakan operasi. Ada beberapa faktor penting yang harus diperhitungkan, antara lain:
- Usia pasien
- Cadangan sel telur (ovarian reserve)
- Lokasi dan luas lesi endometriosis
Terkait kemungkinan hamil alami setelah operasi, hal ini sangat bergantung pada derajat endometriosis.
Jika derajatnya ringan hingga sedang, peluang hamil pascaoperasi masih cukup baik.
Namun, jika derajatnya berat, maka peluang hamil alami biasanya menjadi lebih kecil.
Perlu diingat, tindakan pengangkatan kista juga memiliki risiko:
- Penurunan cadangan sel telur
- Kemungkinan kekambuhan yang tinggi
Jika ditemukan kista di kedua ovarium dan adenomiosis secara bersamaan, kondisi ini sangat mungkin mengarah pada endometriosis derajat berat.
Apa yang Harus Dilakukan?
Dr. Aerul menyarankan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terlebih dahulu, yang meliputi:
- Pemeriksaan cadangan sel telur
- Penilaian lengkap kondisi endometriosis
Dari hasil evaluasi ini, barulah bisa diputuskan apakah tindakan operasi menjadi pilihan terbaik atau justru lebih disarankan langsung ke program bayi tabung (IVF).
Semua penjelasan tersebut disampaikan langsung oleh:
dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG., Subsp F.E.R, MIGS
Ikuti terus MDG Channel Take Over untuk membahas lebih banyak pertanyaan seputar infertilitas dan kesehatan reproduksi bersama para ahli! Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Bagi wanita usia 30-an ke atas yang sedang merencanakan kehamilan, penting untuk lebih mengenal kondisi rahim, termasuk kemungkinan adanya miom atau fibroid, yaitu tumor jinak yang tumbuh di otot rahim. Memahami keberadaan dan jenis miom sangat penting karena dapat memengaruhi peluang kehamilan. Pahami lebih lanjut yuk mulai dari jenis hingga penangannya!
Jenis-Jenis Mioma dan Dampaknya pada Kesuburan
Mioma dibedakan berdasarkan lokasinya di rahim, dan masing-masing memiliki dampak yang berbeda terhadap kesuburan:
- Submukosa: Tumbuh ke arah rongga rahim. Jenis ini paling sering mengganggu kesuburan karena dapat menghambat implantasi embrio.
- Intramural: Berada di tengah dinding rahim. Dampaknya terhadap kesuburan masih menjadi perdebatan, tergantung ukuran dan posisinya.
- Subserosa: Tumbuh ke arah luar rahim. Umumnya tidak mengganggu program hamil karena tidak memengaruhi rongga rahim secara langsung.
Apakah Semua Mioma Perlu Dioperasi?
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa fibroid kecil dan tanpa gejala yang tidak mengganggu rongga rahim, seperti intramural atau subserosa, umumnya tidak secara signifikan menurunkan peluang hamil. Artinya, jika kamu memiliki fibroid tipe ini, belum tentu perlu operasi dan masih bisa mencoba program hamil alami.
Sebaliknya, submukosa fibroid terbukti dapat menurunkan peluang kehamilan dan meningkatkan risiko keguguran. Namun, tindakan medis seperti histeroskopi (pengangkatan fibroid melalui rahim) telah terbukti dapat meningkatkan angka kehamilan pada kasus ini.
Hubungan Usia, Miom, dan Kesuburan
Seiring bertambahnya usia, terutama di atas 30–35 tahun, perubahan hormon estrogen dan penurunan aliran darah rahim dapat memicu pertumbuhan miom dan menurunkan kualitas endometrium
Penelitian di Indonesia juga menemukan bahwa mioma uteri paling banyak terjadi pada wanita usia di atas 30 tahun. Oleh karena itu, program hamil di usia 30+ memang memerlukan perhatian ekstra terhadap kondisi rahim.
Kabar Baik: Mioma Bukan Akhir dari Segalanya
Jika fibroid tidak mengganggu rongga rahim, dokter biasanya hanya akan melakukan observasi sambil membantu mengoptimalkan kesehatan rahim dan hormon. Bila diperlukan, terdapat banyak opsi medis yang aman dan telah terbukti meningkatkan peluang kehamilan, seperti histeroskopi atau tindakan lain yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Tips untuk Sister yang Sedang Promil dan Punya Fibroid
- Jangan panik! Kenali dulu jenis dan lokasi fibroid.
- Diskusikan dengan dokter mengenai opsi terbaik, baik observasi maupun tindakan medis.
- Fokus pada optimasi kesehatan rahim dan hormon.
- Ikuti edukasi atau webinar untuk menambah wawasan seputar kesehatan rahim dan peluang kehamilan.
Bagaimana sudah lebih paham bukan? yang terpenting disini adalah kalian harus mengetahui keadaan mioma agar dapat segera diketahui bagaimana penanganannya, informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Freytag, D., Günther, V., Maass, N., & Alkatout, I. (2021). Uterine fibroids and infertility. Diagnostics, 11(8), 1455.
- Bonanni, V., Reschini, M., La Vecchia, I., Castiglioni, M., Muzii, L., Vercellini, P., & Somigliana, E. (2023). The impact of small and asymptomatic intramural and subserosal fibroids on female fertility: a case–control study. Human Reproduction Open, 2023(1), hoac056.
- Meilani, N. S., Mansoer, F. A. F., Nur, I. M., Argadireja, D. S., & Widjajanegara, H. (2017). Hubungan usia dan paritas dengan kejadian mioma uteri di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat tahun 2017. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains (JIKS), Universitas Islam Bandung.

MDG akan membahas salah satunya adalah pada program hamil berbantuan seperti program bayi tabung, baik dengan transfer embrio segar maupun embrio beku (FET), Lapisan dalam rahim ini ternyata punya peran penting dalam menentukan keberhasilan kehamilan hingga kelahiran hidup.
Ketebalan Endometrium dan Peluang Kehamilan
Ketebalan lapisan dalam rahim (endometrium) ternyata punya peran penting dalam keberhasilan program bayi tabung, terutama saat transfer embrio beku (FET). Berdasarkan data dari ribuan siklus FET, peluang kehamilan cenderung lebih tinggi jika ketebalan endometrium melebihi 8 mm. Selain itu, lapisan yang lebih tebal juga bisa mendukung pertumbuhan awal janin yang lebih baik.
Menariknya, efek ketebalan endometrium ini bisa berbeda tergantung pada jenis transfer embrio. Pada transfer embrio segar, angka keberhasilan meningkat hingga ketebalan sekitar 10–12 mm. Sementara itu, pada transfer embrio beku, peluang kehamilan optimal ditemukan saat ketebalan berada di kisaran 7–10 mm.
Namun, satu hal yang konsisten dari berbagai studi: jika endometrium terlalu tipis (kurang dari 6 mm), maka peluang kehamilan dan kelahiran hidup menurun drastis—baik untuk transfer embrio segar maupun beku.
Ketebalan Endometrium Ideal Untuk IVF
Ketebalan Endometrium Ideal untuk Keberhasilan IVF Embrio Segar 10–12 mm Peningkatan angka kehamilan dan kelahiran hidup, Embrio Beku (FET) 7–10 mm Angka kelahiran hidup cenderung stabil setelah 10 mm < 6 mm Tidak ideal Risiko penurunan drastis peluang hamil di kedua jenis siklus
Ketebalan endometrium sebelum transfer embrio adalah indikator penting dalam program bayi tabung. Baik jenis protokol yang digunakan maupun waktu transfer harus disesuaikan dengan kondisi endometrium pasien. Oleh karena itu, sangat penting untuk memantau ketebalan endometrium secara saksama sebelum prosedur dilakukan.
Kenalan Sama Endometrium, si Lapisan Penting di Rahim
Sister, kamu tahu nggak kalau dinding rahim kita tuh punya tiga lapisan? Nah, salah satunya yang paling penting buat program hamil adalah endometrium. Lapisan ini terdiri dari dua bagian, dan dia tuh peka banget sama hormon terutama estrogen.
Menjelang masa subur (ovulasi), hormon estrogen bakal naik, dan bikin endometrium menebal. Kenapa harus tebal? Karena disitulah nanti embrio bakal menempel dan tumbuh. Kalau terlalu tipis, si embrio bisa kesulitan nempel karena lapisannya kurang “subur”.
Endometrium yang tipis bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya hormon estrogen yang rendah, pernah operasi rahim, infeksi, atau efek samping dari alat kontrasepsi. Kalau kamu lagi promil atau khawatir soal ketebalan rahim, ada sebaiknya cek ke dokter kandungan. Biasanya di cek pakai USG transvaginal dan tes hormon biar ketahuan penyebabnya. Dari situ baru deh ditentukan terapinya.
Selain periksa ke dokter, sister juga bisa bantu tubuh lewat pola makan sehat: konsumsi daging merah, minyak zaitun, sayuran hijau tua, dan suplemen seperti zat besi, vitamin E, serta omega-3. Jangan lupa juga untuk aktif bergerak dan olahraga rutin yaa. Semangat selalu untuk kamu yang sedang berjuang, sister! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi:
- Mahutte, N., Hartman, M., Meng, L., Lanes, A., Luo, Z. C., & Liu, K. E. (2022). Optimal endometrial thickness in fresh and frozen-thaw in vitro fertilization cycles: an analysis of live birth rates from 96,000 autologous embryo transfers. Fertility and sterility, 117(4), 792-800.
- Shalom-Paz, E., Atia, N., Atzmon, Y., Hallak, M., & Shrim, A. (2021). The effect of endometrial thickness and pattern on the success of frozen embryo transfer cycles and gestational age accuracy. Gynecological Endocrinology, 37(5), 428-432.
- https://www.alodokter.com/komunitas/topic/makanan-apa-yang-harus-dikonsumsi-untuk-mengatasi-rahim-tipis-

Channel Take Over bareng dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER
Masalah kesuburan pada pria sering kali masih jadi topik yang jarang dibahas secara terbuka. Lewat program Channel Take Over di Instagram Broadcast @menujuduagaris.id, dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER hadir secara khusus untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar masalah sperma dari para pejuang dua garis.
Dalam sesi ini, dr. Maitra memberikan penjelasan yang lugas dan berbasis medis mengenai kondisi Pejuang Dua Garis (PDG) Simak beberapa pertanyaan yang dibahas bersama jawabannya berikut ini:
Masalah kesuburan pada pria sering kali masih jadi topik yang jarang dibahas secara terbuka. Tapi kali ini, lewat program Channel Take Over, kita mengulik lebih dalam beberapa pertanyaan dari para pejuang dua garis bersama dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER, seorang androlog berpengalaman.
Pertanyaan 1
Apa penyebab dan penanganan yang tepat untuk kasus oligoteratozoospermia?
(Usia 28 tahun, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, tinggi badan 173 cm, berat badan 86 kg). Apakah masih bisa melakukan program hamil alami?
Jawaban dr. Maitra:
Oligoteratozoospermia (OAT) bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti gangguan produksi sperma, infeksi, faktor genetik, atau paparan obat-obatan yang bersifat toksik terhadap sperma. Untuk pengobatan, perlu diketahui terlebih dahulu penyebab pastinya. Namun, beberapa langkah pencegahan mandiri bisa dilakukan, seperti:
- Menghindari pemakaian celana dalam yang terlalu ketat
- Tidak menggunakan laptop langsung di paha
- Menghindari berendam air panas dalam waktu lama
Langkah-langkah ini bisa membantu menjaga kualitas sperma, dan dalam beberapa kasus, program hamil alami masih memungkinkan, tergantung tingkat keparahan kondisi.
Pertanyaan 2
Suami saya didiagnosis dengan extreme OAT. Apakah pemeriksaan DFI diperlukan?
Jawaban dr. Maitra:
Pemeriksaan DNA Fragmentation Index (DFI) cukup penting pada kondisi OAT, terutama bila disertai faktor risiko lain seperti:
- Usia pria di atas 40 tahun
- Gaya hidup yang tidak sehat (merokok, konsumsi alkohol, dsb.)
- Riwayat penyakit metabolik seperti hipertensi, kolesterol tinggi, asam urat, atau gangguan fungsi ginjal dan hati.
DFI membantu menilai kualitas DNA sperma yang bisa memengaruhi keberhasilan program hamil, termasuk IVF.
Pertanyaan 3
Dok, jika hormon LH dan testosteron dalam batas normal, tetapi FSH cukup tinggi (21,8 mIU/mL), apakah sebaiknya langsung tindakan PESA atau terapi hormon dulu?
Jawaban dr. Maitra:
Jika kasusnya adalah azoospermia dengan FSH tinggi (non-obstructive azoospermia) dan tidak sedang dalam pengaruh obat-obatan yang bisa meningkatkan FSH, maka kemungkinan besar tindakan pencarian sperma langsung dari testis perlu dilakukan. Teknik yang disarankan adalah micro-TESE (Microsurgical Testicular Sperm Extraction), bukan PESA, karena ini lebih tepat untuk kasus gangguan produksi. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Semua jawaban dijelaskan langsung oleh:
dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER