Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perempuan yang memilih untuk menunda kehamilan karena alasan non-medis, seperti belum menemukan pasangan yang tepat atau tuntutan karier. Nah melalui kemajuan zaman salah satu opsi yang mulai banyak dilirik adalah egg freezing atau pembekuan sel telur, yang memungkinkan perempuan untuk menyimpan oosit (sel telur) mereka di usia lebih muda untuk digunakan di kemudian hari melalui prosedur fertilisasi in vitro (IVF). Yuk bahas lebih lanjut!
Apa Itu Social Egg Freezing?
Social egg freezing adalah pembekuan sel telur yang dilakukan bukan karena indikasi medis, melainkan untuk alasan pribadi atau sosial. Ini berbeda dengan pembekuan sel telur karena kondisi medis seperti kanker yang mengharuskan pengobatan yang bisa merusak kesuburan. Dalam konteks sosial, tujuan utamanya adalah menjaga peluang untuk memiliki anak biologis di usia yang lebih tua.
Berdasarkan tinjauan literatur dari berbagai sumber medis, termasuk PubMed dan UptoDate, alasan utama perempuan menunda kehamilan bukan karena gangguan kesuburan, melainkan karena faktor sosial, terutama belum adanya pasangan hidup yang dianggap tepat untuk membangun keluarga. Faktor lain termasuk stabilitas keuangan, pendidikan, dan pencapaian karir. Lalu bagaimana ini mempengaruhi kehidupan perempuan dan apakah ada risiko? yuk baca lebih lanjut!
Efektivitas dan Risiko
Yang perlu sister dan paksu ketahui jika keberhasilan program egg freezing sangat bergantung pada usia perempuan saat oosit dibekukan, jumlah sel telur yang berhasil dibekukan, dan kualitasnya. Makin muda usia perempuan saat proses dilakukan, makin tinggi tingkat keberhasilannya di masa depan.
Namun, seperti prosedur medis lainnya, metode ini tidak bebas risiko. Risiko bisa muncul dari proses IVF, usia ibu yang lebih tua saat kehamilan, hingga kemungkinan komplikasi pada embrio. Oleh karena itu, keputusan untuk menjalani egg freezing sebaiknya melalui proses konsultasi yang matang dengan tenaga medis yang kompeten.
Kebijakan tentang pembekuan sel telur untuk alasan sosial sangat bervariasi antar negara, dipengaruhi oleh norma budaya, agama, hingga kondisi ekonomi. Negara seperti Amerika Serikat dan Israel menjadi pionir dalam penerapan dan popularitas metode ini. Sayangnya, belum semua negara memiliki data resmi atau registri nasional yang mencatat angka dan efektivitas metode ini secara sistematis, termasuk Yunani yang menjadi fokus dalam artikel sumber.
Dilain sisi egg freezing untuk alasan sosial adalah fenomena yang semakin mendapat perhatian, seiring bertambahnya jumlah perempuan yang mempertimbangkan opsi ini untuk menjaga peluang menjadi ibu. Namun, agar metode ini benar-benar inklusif dan etis, dibutuhkan kerangka hukum yang universal dan sensitif terhadap konteks sosial-budaya tiap negara. Selain itu, masih diperlukan lebih banyak data dan kajian mengenai efektivitas serta dampaknya dari sudut pandang sosial dan moral. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Lockwood, G. M. (2011). Social egg freezing: the prospect of reproductive ‘immortality or a dangerous delusion?. Reproductive biomedicine online, 23(3), 334-340.

Bagi sister dan paksu yang sedang melakukan program hamil, ada banyak hal yang bisa dilakukan secara alami sebelum memutuskan berkonsultasi ke dokter spesialis fertilitas. Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), peluang terbesar untuk hamil secara alami terjadi dalam tiga bulan pertama masa mencoba, yaitu sekitar 20–37 persen. Namun, belum berhasil dalam waktu tersebut bukan berarti tidak subur. Faktanya, sekitar 80 persen pasangan yang subur akan hamil dalam 1 tahun mencoba, dan 90 persen dalam 2 tahun.
Kehamilan alami terjadi ketika hubungan seksual menghasilkan pertemuan antara sperma dan sel telur, lalu membentuk embrio yang berhasil menempel di rahim. Agar peluang ini semakin besar, ada sejumlah strategi yang bisa diterapkan. Wah apa saja? pahami lebih lanjut yuk!
Turunkan Berat Badan, Tingkatkan Peluang Hamil Secara Alami
Sebelum membahas peluang hamil secara alami, sister dan dan paksu harus tau berbagai studi menunjukkan bahwa kelebihan berat badan dapat menurunkan kesuburan alami sekaligus meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan. Kabar baiknya, perubahan gaya hidup seperti diet sehat dan olahraga teratur terbukti efektif meningkatkan peluang hamil secara alami.
Meta-analisis terbaru yang menggabungkan 15 uji klinis acak, ditambah satu penelitian besar pada 2022, menunjukkan bahwa perempuan dengan obesitas yang menjalani intervensi gaya hidup sebelum program hamil mengalami peningkatan signifikan dalam angka kehamilan klinis, kelahiran hidup, dan konsepsi alami. Artinya, langkah sederhana seperti menurunkan berat badan bisa menjadi kunci sebelum mencoba teknologi reproduksi berbantu.
Tips Meningkatkan Peluang Hamil Secara Alami
Pantau ovulasi dan waktu berhubungan
Mengetahui kapan ovulasi terjadi adalah kunci. Sel telur hanya bertahan selama 12–24 jam, sehingga hubungan seksual sebaiknya dilakukan tepat sebelum atau saat ovulasi. Untuk siklus haid 28 hari, ovulasi umumnya terjadi di hari ke-13 hingga ke-15. Bila siklus haid tidak teratur, ada baiknya berkonsultasi ke dokter untuk memastikan waktu ovulasi.
Frekuensi berhubungan
Tidak ada aturan pasti, namun sebuah penelitian menunjukkan bahwa berhubungan setidaknya dua kali seminggu dapat meningkatkan peluang hamil. Terlalu jarang berhubungan justru bisa menurunkan kualitas sperma.
Posisi seksual tidak terbukti berpengaruh
Mitos bahwa posisi tertentu dapat meningkatkan peluang hamil belum terbukti secara ilmiah. Sperma dapat mencapai tuba falopi dalam hitungan menit, terlepas dari posisi atau lamanya berbaring setelah berhubungan.
Pilih pelumas yang tepat
Beberapa pelumas bisa mengganggu pergerakan sperma. Hindari pelumas komersial biasa, air liur, atau minyak zaitun. Jika diperlukan, gunakan pelumas yang aman seperti minyak canola, minyak mineral, atau pelumas berbasis hydroxyethylcellulose.
Perbaiki gaya hidup
Menjaga berat badan ideal, pola makan sehat, olahraga teratur, serta menghindari rokok dan alkohol dapat meningkatkan kesuburan pada pria maupun wanita.
Strategi Alami untuk Meningkatkan Kesuburan
Perubahan gaya hidup dan pola makan berikut ini juga terbukti membantu meningkatkan kesuburan diantaranya adalah perbanyak makanan kaya antioksidan (buah, sayur, kacang, biji-bijian), Sarapan besar, terutama bagi penderita PCOS, Konsumsi lemak sehat seperti omega-3 dari ikan, chia seed, flaxseed, kenari, Kurangi karbohidrat jika memiliki PCOS, Batasi karbohidrat olahan (nasi putih, roti putih, makanan tinggi gula), Perbanyak serat (target 25 gram per hari), Pilih protein dari ikan dan kurangi daging merah atau olahan, Konsumsi produk susu sesuai kebutuhan (tidak terbukti buruk bagi perempuan), Mulai konsumsi vitamin prenatal (asam folat dan vitamin B kompleks), Kelola stres yang bisa mengganggu ovulasi, Batasi kafein (maksimal 1–2 cangkir per hari), Jaga berat badan sehat
dan hindari konsumsi alkohol berlebihan
Jika sister dan paksu sedang dalam masa mencoba hamil, fokuslah pada hal-hal yang dapat dikendalikan seperti pantau ovulasi, atur waktu hubungan seksual, dan perbaiki pola hidup. Banyak pasangan membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk berhasil. Namun, jika setelah 12 bulan (atau 6 bulan jika usia di atas 35 tahun) belum juga hamil, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan spesialis kesuburan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Hoek, A., Wang, Z., van Oers, A. M., Groen, H., & Cantineau, A. E. (2022). Effects of preconception weight loss after lifestyle intervention on fertility outcomes and pregnancy complications. Fertility and Sterility, 118(3), 456–462.
- https://www.reproductivefacts.org/news-and-publications/patient-fact-sheets-and-booklets/documents/fact-sheets-and-info-booklets/optimizing-natural-fertility/
- https://www.healthline.com/nutrition/16-fertility-tips-to-get-pregnant
- https://fertility.womenandinfants.org/treatment/pregnancy-labor-delivery/how-to-get-pregnant-naturally

Channel Take Over bareng dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER
Pertanyaan dari PDG:
Dok, apakah benar day 1–3 itu hanya peran telur, dan day 4–5 hanya peran sperma?
Lalu, apakah ada perbedaan besar antara embrio yang berkembang menjadi blastosis di day 5 dan day 6?
Jawaban dari dr. Maitra:
Tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak 100% benar.
Tahapan perkembangan embrio hingga fase 8 sel (sekitar day 3) memang masih sangat bergantung pada “energi” atau faktor dari sel telur. Oleh karena itu, kondisi embrio pada hari ke-3 bisa menjadi gambaran kualitas telur.
Setelah itu, memasuki fase Embryonic Genome Activation (EGA)—yang pada manusia terjadi setelah hari ke-3—embrio mulai mandiri. Artinya, ia mulai menggunakan materi genetiknya sendiri dan mengambil nutrisi dari lingkungan sekitarnya.
Nah, disinilah peran sperma mulai lebih tampak. Jika embrio day 3 terlihat bagus, tapi di day 5 kualitasnya menurun (misalnya tidak berkembang menjadi blastokista yang optimal), maka besar kemungkinan penyebabnya berasal dari faktor sperma, bukan telur.
Jadi, blastokista yang terbentuk di day 5 atau day 6 sama-sama bisa digunakan, tapi perbedaan waktu ini juga bisa menjadi indikator tambahan dalam menilai kualitas sperma dan embrio secara keseluruhan.
Dijawab Oleh: dr. Maitra Djiang Wen, ApAnd-KFER

Gangguan hipertensi dalam kehamilan atau bisa disebut dengan Hypertensive Disorders of Pregnancy/HDP, seperti preeklampsia atau hipertensi gestasional, menjadi salah satu kondisi serius yang bisa membahayakan ibu dan bayi. Kondisi ini rawan menyasar pada ibu hamil terutama jika berumur lanjut, mengapa demikian? Yuk pahami lebih lanjut!
Bagaimana HDP di Seluruh Dunia
Secara global, jumlah kasus HDP meningkat dari 16,30 juta menjadi 18,08 juta dari tahun 1990 hingga 2019, menunjukkan total kenaikan sekitar 10,92%. Kelompok Usia Paling Terdampak Berdasarkan insiden dan prevalensi, jumlah kematian serta tahun hidup dengan disabilitas tertinggi ditemukan pada kelompok usia 25–29 tahun, diikuti oleh kelompok usia 30–34 tahun dan 20–24 tahun. Menariknya, tingkat insiden terendah ditemukan pada kelompok usia 25–29 tahun, sedangkan tingkat insiden yang lebih tinggi diamati pada kelompok usia termuda dan tertua. Ini menunjukkan bahwa wanita di usia sangat muda atau sangat tua memiliki risiko relatif yang lebih tinggi terkena HDP. Lalu kira-kira apa hubungannya dengan usia?
Tekanan Darah Tinggi Saat Hamil: Apa Hubungannya dengan Usia?
Bagi sister yang akan melakukan program hamil, harus mulai aware jika gangguan hipertensi dalam kehamilan (HDP), seperti preeklampsia dan hipertensi gestasional, lebih berisiko terjadi pada perempuan hamil usia 30 tahun ke atas. Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah dan fungsi organ tubuh mengalami penurunan elastisitas, sehingga tubuh lebih rentan terhadap lonjakan tekanan darah saat hamil. Risiko ini makin meningkat pada usia 35 tahun ke atas, di mana komplikasi seperti gangguan pertumbuhan janin, solusio plasenta, persalinan prematur, hingga kebutuhan operasi caesar juga lebih mungkin terjadi.
Karena itu, skrining sejak awal kehamilan sangat penting, terutama bagi yang memiliki riwayat hipertensi, kehamilan pertama, preeklampsia sebelumnya, obesitas, atau diabetes. Deteksi dini dan pencegahan dengan aspirin dosis rendah yang tepat sasaran bisa membantu mengurangi risiko HDP dan dampaknya bagi ibu dan janin.
Kemajuan Global dan HDP
Tapi jangan jangan khawatir karena Kemajuan Global turut menurunkan angka kematian dan insiden HDP dikarenakan para calon ibu hamil sudah rutin melakukan pengecekan dan menjadi perhatian terhadap pemeriksaan prenatal dan edukasi kesehatan.
Artikel ini memberikan gambaran gangguan hipertensi dalam kehamilan. Meskipun angka kematian dan insiden menurun di sebagian besar tempat, masih ada tantangan besar di negara-negara berpenghasilan rendah. Untuk itu bagi sister dan paksu yang akan melakukan program hamil sebaiknya melakukan pengecekan agar tidak terjadi hal yang tidak diharapkan nantinya. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
- Wang, W., Xie, X., Yuan, T., Wang, Y., Zhao, F., Zhou, Z., & Zhang, H. (2021). Epidemiological trends of maternal hypertensive disorders of pregnancy at the global, regional, and national levels: a population‐based study. BMC pregnancy and childbirth, 21(1), 364.
- Leeman, L., & Fontaine, P. (2008). Hypertensive disorders of pregnancy. American family physician, 78(1), 93-100.

Belakangan ini, beberapa wanita memutuskan untuk menunda kehamilan hingga usia 30-an, bahkan 40-an. Ada banyak alasan di baliknya, mulai dari fokus pada pendidikan dan karier, perubahan sosial seperti perceraian yang lebih umum, hingga kemajuan dalam pengobatan kesuburan.
Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa usia ibu lanjut (Advanced Maternal Age/AMA), atau pada wanita hamil berusia 35 tahun ke atas dalam konteks kesehatan reproduksi kehamilan di usia ini memiliki tantangan tersendiri yang perlu dipahami dengan baik. Apa saja tantangannya? pahami lebih lanjut yuk!
Risiko yang Lebih Tinggi dalam Kehamilan di Usia Lanjut
Usia ibu yang lebih tua dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kehamilan. Beberapa di antaranya meliputi:
- Komplikasi Kehamilan Awal: Seperti kehamilan di luar kandungan (ektopik) dan keguguran.
- Masalah Janin: Peningkatan risiko kelainan kromosom pada janin dan cacat bawaan.
- Masalah Plasenta: Seperti plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir) dan solusio plasenta (plasenta lepas sebelum waktunya).
- Kondisi Medis Selama Kehamilan: Lebih rentan terhadap diabetes gestasional (diabetes saat hamil) dan preeklampsia (tekanan darah tinggi saat hamil).
- Kebutuhan Operasi Caesar: Kemungkinan melahirkan secara operasi caesar lebih tinggi.
- Risiko Persalinan Prematur dan Kematian Perinatal: Komplikasi di atas bisa menyebabkan bayi lahir prematur dan meningkatkan risiko kematian bayi.
Selain itu, jika seorang wanita sudah memiliki penyakit kronis, kehamilan dapat menambah risiko dan menuntut pemantauan yang lebih ketat. Lalu adakah dampak lain selain berdampak pada susahnya hamil?
Dampak Jangka Panjang pada Kesehatan Ibu
Kehamilan di usia lanjut memang bukan hal yang mustahil, tapi tetap ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan. Selain tantangan selama kehamilan, ada juga dampak jangka panjang yang bisa memengaruhi kesehatan ibu di kemudian hari.
Secara fisik, perubahan tubuh akibat kehamilan dan meningkatnya risiko komplikasi bisa berdampak seiring bertambahnya usia. Tapi bukan cuma soal fisik, sister karena dampak non-fisik juga perlu jadi perhatian. Misalnya, risiko depresi pasca persalinan cenderung lebih tinggi pada wanita yang hamil di usia lanjut.
Walau begitu, kehamilan di usia lanjut tetap bisa menjadi pilihan yang valid. Yang penting, sister dan paksu perlu mendapat pemahaman yang utuh dari berbagai pihak terutama dari tenaga medis dan support system terdekat.
Beberapa wanita mungkin memilih untuk tetap menjalani kehamilan meski ada risiko, dengan harapan besar dan kepercayaan diri yang kuat. Apalagi dengan adanya pengalaman positif sebelumnya atau bantuan teknologi reproduksi, banyak yang merasa lebih siap dan yakin.
Intinya, dengan edukasi yang cukup dan dukungan holistik, sister yang hamil di usia lanjut tetap bisa mengambil keputusan klinis yang tepat, menjalani kehamilan yang aman, dan menjaga kualitas hidup jangka panjang baik selama masa hamil, maupun ketika menua nanti. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Correa-de-Araujo, R., & Yoon, S. S. (2021). Clinical outcomes in high-risk pregnancies due to advanced maternal age. Journal of women’s health, 30(2), 160-167.
- Bisri, D. Y., & Bisri, T. (2025). Preeklampsia dan Risiko Penyakit Kardiovaskuler di Masa Depan. Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia, 8(1), 61-68.
- https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22438-advanced-maternal-age

Sister secara biologis wanita usia produktif, terhitung sekitar umur 15 hingga 44 tahun, untuk itu menjaga kesehatan adalah kunci untuk menjalani hidup yang aktif dan berkualitas. Ini bukan hanya tentang mengobati penyakit saat sudah muncul, tetapi juga tentang pencegahan dan deteksi dini. Karena perawatan ini juga berdampak pada kesehatan wanita terutama pada kesehatan reproduksi.
Pemeriksaan Rutin dan Konseling yang Penting bagi Kesehatan Reproduksi Wanita
Menjaga kesehatan reproduksi bukan hanya soal kehamilan. Ada banyak aspek yang perlu diperhatikan secara menyeluruh melalui pemeriksaan rutin dan konseling dengan tenaga medis. Beberapa poin penting yang sebaiknya dibicarakan dan dilakukan secara berkala antara lain:
Konseling Kesehatan Reproduksi
Diskusi tentang pilihan kontrasepsi, perencanaan kehamilan (preconception care), hingga kesiapan menjadi orang tua merupakan bagian penting dari kunjungan ke dokter. Tenaga kesehatan juga sebaiknya secara aktif menanyakan rencana kehamilan kepada pasien wanita usia reproduktif, untuk memastikan dukungan dan intervensi yang tepat sejak awal.
Pemeriksaan Panggul Rutin
Terkait pemeriksaan panggul pada wanita tanpa gejala, masih terdapat perbedaan pandangan. Beberapa organisasi medis tidak merekomendasikannya secara rutin karena belum ada bukti yang cukup kuat, sementara yang lain tetap menyarankannya dalam konteks tertentu. Maka, penting bagi setiap wanita untuk berdiskusi dengan dokternya terkait kebutuhan dan manfaat pemeriksaan ini secara individual.
Pemeriksaan Skrining yang Direkomendasikan
Sebagai bagian dari perawatan kesehatan primer, berikut beberapa jenis skrining yang penting dilakukan secara rutin oleh wanita usia produktif:
- Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah: Skrining terhadap obesitas dan faktor risiko lain seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol sangat krusial.
- Kesehatan Mental: Pemeriksaan rutin untuk mendeteksi gejala depresi perlu dilakukan karena gangguan mental sering tidak terlihat tapi berdampak besar.
- Kekerasan dalam Rumah Tangga: Skrining terhadap kekerasan pasangan intim dapat membantu deteksi dini dan penyediaan dukungan yang dibutuhkan.
- Kanker Serviks: Pemeriksaan Pap smear dan/atau tes HPV sangat dianjurkan untuk mendeteksi dini risiko kanker serviks.
- Penyakit Infeksi: Tes skrining untuk HIV dan Hepatitis C direkomendasikan, terutama bagi individu dengan faktor risiko tertentu.
- Gaya Hidup: Evaluasi kebiasaan seperti merokok, konsumsi alkohol, dan penggunaan obat-obatan terlarang perlu dilakukan sebagai bagian dari promosi gaya hidup sehat.
Pemeriksaan dan konseling yang dilakukan secara rutin dapat membantu deteksi dini berbagai masalah kesehatan dan memberi kesempatan intervensi lebih cepat. Jangan ragu untuk berdiskusi terbuka dengan dokter agar perawatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pribadi dan kondisi kesehatan masing-masing.
Menjaga kesehatan di usia produktif adalah investasi untuk masa depan. Dengan melakukan skrining dan konseling yang tepat, wanita dapat mencegah penyakit, mendeteksi masalah lebih awal, dan menjalani hidup yang lebih sehat dan bahagia.
Referensi
Paladine, H. L., Ekanadham, H., & Diaz, D. C. (2021). Health maintenance for women of reproductive age. American Family Physician, 103(4), 209-217.

Ketika kita berbicara tentang kesuburan wanita, usia ovarium atau usia indung telur sering dianggap sebagai penyebab utama masalah kesuburan. Secara tradisional, kita tahu bahwa kemampuan reproduksi wanita mulai menurun di pertengahan usia 30-an, menstruasi mulai tidak teratur di pertengahan 40-an, dan akhirnya kesuburan berhenti sama sekali sebelum mencapai menopause di awal 50-an. Semua ini dikaitkan dengan penurunan jumlah dan kualitas sel telur (oosit) seiring bertambahnya usia.
Pada artikel kali ini MDG akan membahas lebih lanjut bagaimana proses ini terjadi, dan bagaimana peran yang dimiliki. Baca sampai akhir ya
Ketahui Apa saja Faktor-faktor Penuaan Ovarium
Kenapa Peluang Kehamilan Bisa Menurun Seiring Usia?
Sister, pernah nggak sih kepikiran… kenapa makin bertambah usia, peluang untuk hamil jadi makin kecil?
Ternyata jawabannya nggak cuma soal jumlah sel telur yang berkurang. Di balik itu, ada proses biologis yang kompleks yang secara perlahan memengaruhi fungsi ovarium kita.
Setidaknya ada beberapa proses penting yang perlu sister pahami:
Mitokondria dan Stres Oksidatif
Mitokondria dikenal sebagai “pembangkit energi” dalam sel. Tapi seiring bertambahnya usia, fungsi mitokondria di sel-sel ovarium bisa menurun. Akibatnya, sel ovarium jadi kurang optimal dalam menjalankan tugasnya.
Selain itu, tubuh kita juga bisa mengalami stres oksidatif, yaitu kondisi saat radikal bebas dalam tubuh lebih banyak daripada antioksidan. Ketidakseimbangan ini yang juga bisa dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup dapat merusak sel-sel ovarium dan mempercepat penuaan.
Perubahan di Lingkungan Seluler
Indung telur nggak cuma terdiri dari sel telur, tapi juga dikelilingi oleh jaringan pendukung yang disebut matriks ekstraseluler.
Bayangkan ini seperti “lantai dan tembok” yang menopang dan mengatur lingkungan kerja sel-sel ovarium. Nah, seiring bertambahnya usia, bagian pendukung ini juga bisa mengalami perubahan. Kalau struktur pendukungnya terganggu, maka sel-sel ovarium pun jadi nggak bekerja seefisien dulu dan itu bisa berdampak pada kesuburan.
Peran Sel Imun
Jaringan pendukung utama di indung telur yang disebut stroma ovarium juga dihuni oleh sel-sel imun. Baik dari sistem kekebalan bawaan maupun adaptif, sel-sel ini ikut berperan dalam proses penuaan ovarium. Jadi, sistem imun kita bukan cuma bertugas melawan penyakit, tapi juga bisa memengaruhi bagaimana organ reproduksi menua.
Memahami semua proses ini sangat krusial, sister. Karena kalau kita tahu apa yang terjadi di dalam tubuh, kita bisa lebih siap dalam merancang strategi pengobatan atau perawatan yang tepat terutama untuk memperlambat penuaan ovarium.
Mengapa Penting Menjaga Kesehatan Ovarium?
Menjaga kesehatan ovarium, terutama dengan memperlambat proses penuaannya, bukan cuma soal memperpanjang masa subur. Lebih dari itu, dampaknya bisa sangat luas.
Kalau fungsi ovarium tetap optimal, kita juga bisa meringankan berbagai efek samping menopause yang sering bikin tidak nyaman seperti masalah pada tulang dan otot (sistem muskuloskeletal), gangguan jantung dan pembuluh darah (sistem kardiovaskular), hingga keluhan pada sistem saraf.
Jadi, menjaga ovarium bukan cuma soal “bisa punya anak atau tidak”, tapi soal menjaga kualitas hidup perempuan di usia yang lebih matang. Supaya tetap sehat, aktif, dan bisa menikmati hidup dengan lebih baik di masa-masa penting kedepannya. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Camaioni, A., Ucci, M. A., Campagnolo, L., De Felici, M., Klinger, F. G., & Italian Society of Embryology, Reproduction and Research (SIERR). (2022). The process of ovarian aging: it is not just about oocytes and granulosa cells. Journal of assisted reproduction and genetics, 39(4), 783-792.

Masalah kesuburan seringkali dikira cuma urusan perempuan. Padahal, kenyataannya, hampir setengah dari kasus infertilitas juga melibatkan pihak pria. Meski laki-laki seringkali dibebankan sebagai pencari nafkah sehingga seringkali tidak terlihat jika mentalnya juga terganggu!
Padahal ternyata ketika seorang pria dinyatakan mengalami masalah kesuburan, ini bukan cuma soal hasil pemeriksaan medis tapi juga bisa mengguncang sisi emosional dan mental mereka. Artikel kali ini akan membahas tentang ini jadi baca sampai akhir ya!
Bagaimana Laki-laki yang Terdampak dengan Stigma Infertilitas
Laki-laki yang terserang infertilitas, mereka juga banyak yang merasakan kekecewaan yang mendalam hal ini disebabkan oleh tubuh sendiri nggak berfungsi seperti yang diharapkan. Banyak pria yang kemudian merasa gagal, minder, bahkan mempertanyakan harga dirinya sebagai laki-laki.
Perasaan seperti sedih, kecewa, cemas, atau marah bisa muncul begitu saja. Tapi sayangnya, nggak semua pria merasa nyaman untuk mengungkapkan itu. Budaya kita cenderung menuntut laki-laki untuk “kuat” dan “tegar”, padahal di dalam hati mereka bisa saja sedang goyah.
Lalu Sikap Apa yang Sebaiknya diAmbil?
Mengetahui penyebab infertilitas memang penting untuk pengobatan, tapi dalam prosesnya, menyalahkan salah satu pihak justru memperburuk keadaan. Karena nyatanya, baik pria yang punya gangguan kesuburan maupun pria yang pasangannya mengalami gangguan serupa, sama-sama bisa merasakan tekanan mental yang besar.
Infertilitas bukan hanya masalah fisik tapi juga pengalaman emosional yang kompleks. Dan siapa pun bisa merasa terbebani oleh hal ini, apapun penyebabnya.
Sering kali, pria merasa harus menyembunyikan emosi demi menjaga pasangan. Tapi justru di situlah letak bahayanya. Emosi yang dipendam bisa berubah jadi stres berkepanjangan, bahkan gangguan mental seperti depresi atau kecemasan.
Itulah kenapa penting bagi kita semua untuk lebih peka dan terbuka. Pasangan, keluarga, bahkan tenaga medis sebaiknya memberi ruang bagi pria untuk bercerita. Menyediakan dukungan emosional, bukan hanya fokus pada solusi medis.
Yang tidak kalah penting paksu juga membutuhkan Konseling, komunitas, atau sekadar percakapan yang hangat bisa jadi bentuk dukungan yang berarti. Karena mereka juga butuh tahu bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Menghadapi masalah kesuburan memang tidak mudah. Tapi dengan dukungan yang tepat, proses ini bisa dilalui dengan lebih kuat secara fisik maupun mental. Karena pada akhirnya, perjuangan untuk punya anak bukan hanya soal tubuh, tapi juga soal keberanian untuk terus berharap… dan saling menguatkan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Biggs, S. N., Halliday, J., & Hammarberg, K. (2024). Psychological consequences of a diagnosis of infertility in men: a systematic analysis. Asian journal of andrology, 26(1), 10-19.