• Skip to main content
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Aspirasi Sperma Vasal: Prosedur Minim Invasif untuk Paksu dengan Ejakulasi Kering

June 7, 2025

 

Buat paksu yang mengalami masalah ejakulasi kering baik karena ejakulasi retrograde bisa jadi pernah merasa frustrasi. Kedua kondisi ini bukan hanya mengganggu kehidupan seksual, tapi juga berdampak besar pada program kehamilan. Tapi apa sih perbedaan antara dua masalah itu? yuk MDG akan membahas lebih lanjut

Apa itu Ejakulasi Retrograde

Jadi Ejakulasi retrograde adalah kondisi di mana sperma yang seharusnya dikeluarkan melalui uretra saat ejakulasi, justru masuk ke dalam kandung kemih. Pada paksu yang menderita retrograde ejaculation tetap bisa merasakan klimaks saat berhubungan seksual, namun hanya mengeluarkan sperma dalam jumlah sedikit atau tidak ada sama sekali (orgasme kering).

Keadaan ini dimana seorang pria hanya mengeluarkan sperma dalam jumlah yang sangat sedikit, lebih lanjut akan berpengaruh terhadap kesuburan karena kemungkinan sperma untuk bisa membuahi sel telur berada dalam jumlah yang terlalu rendah.

Tapi tenang, ada kabar baik. Karena ada sebuah metode yang mulai banyak diperbincangkan karena keberhasilannya adalah aspirasi sperma vasal, sebuah teknik pengambilan sperma yang sederhana, efektif, dan minim risiko.

Apa Itu Aspirasi Sperma Vasal?

Aspirasi sperma vasal adalah prosedur medis di mana sperma diambil langsung dari vas deferens saluran yang membawa sperma dari testis menuju uretra. Prosedur ini dilakukan menggunakan kaca pembesar untuk akurasi, dan biasanya dilakukan oleh dokter urologi atau andrologi berpengalaman.

Metode ini sangat bermanfaat bagi pria yang tidak dapat mengeluarkan sperma secara normal akibat gangguan ejakulasi, seperti Anejakulasi tubuh tidak mampu memulai proses ejakulasi sama sekali dan ejakulasi retrograde dimana sperma justru mengalir ke kandung kemih, bukan keluar melalui penis.

Biasanya, aspirasi sperma vasal dipertimbangkan ketika metode non-invasif seperti Pengambilan sperma dari urin pasca-ejakulasi, Pijat prostat, Stimulasi getaran penis (penile vibratory stimulation) dan Elektroejakulasi tidak berhasil.

Selain itu, dibanding metode invasif lain seperti ekstraksi dari testis (TESE) atau epididimis (MESA), prosedur ini tergolong lebih ringan dan mempertahankan struktur reproduksi pria dengan lebih baik.

Masih banyak yang mengira infertilitas pria hanya soal “jumlah sperma.” Padahal, mekanisme keluarnya sperma pun sangat penting. Saat ini aspirasi sperma vasal menjadi opsi yang efisien, tidak terlalu rumit, dan bisa menjadi langkah awal sebelum tindakan yang lebih berat dilakukan.

Untuk paksu yang terkendala program hamil karena ejakulasi kering, jangan menyerah dulu. Ada metode seperti aspirasi vasal yang patut dipertimbangkan. Tentu, semuanya harus melalui pemeriksaan menyeluruh dan diskusi dengan dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Fan, L. W., Shao, I. H., & Hsieh, M. L. (2020). The simple solution for infertile patients with aspermia in the modern era of assisted reproductive technique. Urological Science, 31(6), 277-281.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-ejakulasi-retrograde

 

Apakah Aspermia pada Pria Muda Penderita Diabetes Berdampak pada Infertilitas?

June 6, 2025

 

Aspermia sendiri merupakan kondisi ketika paksu mengalami orgasme tanpa mengeluarkan sperma. Kondisi ini disebut juga sebagai orgasme kering (dry orgasm). Aspermia dapat terjadi sesekali dan hilang dengan sendirinya, tetapi bisa juga terjadi dalam jangka panjang dan berdampak pada kesuburan pria.

Aspermia dapat terjadi ketika air mani atau sperma berkurang. Bisa juga akibat adanya sumbatan pada saluran sperma sehingga air mani dan sperma tidak dapat dikeluarkan saat ejakulasi.

Beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab aspermia adalah Operasi prostat (prostatektomi), Operasi kandung kemih, Vasektomi, Radioterapi pada organ reproduksi pria misalnya testis dan prostat, Kelainan genetik yang mengganggu fungsi organ reproduksi, Kadar hormon testosteron yang terlalu rendah, Ejakulasi terbalik Infeksi, misalnya orchitis dan epididimitis, Varikokel, Sumbatan di saluran sperma atau saluran kemih dan Multiple sclerosis dan Cedera tulang belakang. Sekarang bagaimana jika kondisi ini jika terjadi pada laki-laki dengan diabetes? Yuk ketahui lebih lanjut!

Aspermia dan Diabetes

Diabetes melitus bukan hanya soal gula darah, karena kondisi kronik ini juga bisa menyentuh aspek kehidupan yang lebih dalam dan personal, termasuk kesuburan. Salah satu komplikasi yang jarang dibicarakan tapi nyata terjadi adalah aspermia. Fakta bahwa kondisi saat pria tidak bisa mengeluarkan air mani saat ejakulasi. Sekitar 40% pria penderita diabetes bisa mengalami kondisi ini, dan dampaknya tidak main-main terhadap peluang mereka menjadi seorang ayah. Lalu bagaimana jika pada paksu yang memiliki kondisi ini ingin melakukan program hamil?

Penanganan Melalui Kombinasi Bedah dan Terapi Obat

Masalah ejakulasi seperti ejakulasi kering atau gagal emisi pada pria dengan diabetes bukan hal yang bisa dianggap sepele. Ini bisa menjadi bagian dari komplikasi diabetes jangka panjang, khususnya yang memengaruhi pembuluh darah dan sistem saraf otonom yang mengatur fungsi seksual dan reproduksi.

Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah kombinasi antara tindakan bedah dan terapi medis. Misalnya, bila ditemukan kondisi varikokel (pelebaran pembuluh darah di skrotum), prosedur varikokelektomi dapat dilakukan untuk memperbaiki aliran darah di sekitar testis. Dalam beberapa kasus, bisa juga dilakukan tindakan ekstraksi sperma dari testis (TESE) untuk mengetahui kondisi spermatogenesis secara langsung.

Selain itu, terapi obat juga bisa menjadi bagian penting dalam pemulihan fungsi ejakulasi. Salah satu pilihan yang digunakan adalah Imipramine, yaitu obat antidepresan trisiklik yang telah ditemukan memiliki efek positif terhadap ejakulasi, terutama pada pria dengan diabetes. Obat ini bekerja dengan memengaruhi saraf dan otot yang terlibat dalam proses ejakulasi.

Dengan pendekatan yang tepat dan dilakukan secara bertahap, kemungkinan pemulihan fungsi ejakulasi tetap terbuka. Jika kualitas sperma setelah terapi membaik, prosedur seperti inseminasi intrauterin (IUI) bisa menjadi langkah selanjutnya dalam program kehamilan.

Yang penting untuk diingat paksu, infertilitas bukan hanya soal jumlah sperma tetapi juga bagaimana tubuh bekerja untuk mengeluarkannya. Dan ya diabetes memang bisa memengaruhi proses ini. Tapi kabar baiknya, penanganan tetap bisa dilakukan dengan pendekatan menyeluruh, bukan hanya fokus pada satu aspek saja. Jangan lupa tetap melakukan pemeriksaan ke dokter kalian yaa! Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Aghajani, M. M. R., Golsorkhtabaramiri, M., & Mirabi, P. (2021). Treatment of aspermia (anejaculation) in a diabetic infertile man (a case report). Journal of Clinical and Translational Endocrinology: Case Reports, 20, 100083.
  • https://www.alodokter.com/aspermia

Bukan Cuma Rahim dan Hormon, Mikrobiota Juga Punya Peran!

June 5, 2025

 

 

Kalau selama ini kita mikir soal kesuburan cuma sebatas rahim, ovarium, atau hormon ternyata ada bagian lain dari tubuh yang diam-diam punya peran penting ini berkaitan dengan mikrobiota! Yuk bahas lebih lanjut!

Jadi apa Itu Mikrobiota
Sebelum itu pahami dulu yuk apa itu mikrobiota, jadi ia adalah kumpulan bakteri baik (dan kadang jahat juga) yang hidup di berbagai bagian tubuh, termasuk usus dan area kewanitaan. Mereka punya tugas masing-masing, mulai dari bantu pencernaan sampai jaga sistem imun.

Jadi kehadirannya sangat penting, lalu bagaimana jika keseimbangan bakteri ini juga bisa ngaruh ke kesuburan perempuan.

Fungsi Mikrobiota dan Kesehatan Reproduksi

Pada proses reproduksi jika mikroba di usus atau vagina terganggu, misalnya karena stres, pola makan nggak sehat, atau infeksi bisa muncul berbagai masalah. Nggak cuma gangguan pencernaan, tapi juga masalah di area reproduksi seperti:

  • Endometriosis

  • PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)

  • Nyeri panggul yang nggak jelas penyebabnya

  • Bahkan infertilitas alias susah hamil

Nah, disinilah probiotik dapat menjadi solusi dari kasus ini. Probiotik adalah bakteri baik yang bisa bantu “menyeimbangkan” mikrobiota dalam tubuh. Banyak yang percaya, kalau mikrobiota kembali sehat, tubuh pun jadi lebih siap untuk hamil.

Tapi bukan berarti semua langsung cocok ya. Efek probiotik bisa beda-beda tergantung kondisi tubuh, jenis bakteri yang dikonsumsi, dan cara mengkonsumsinya ada dua baik oral atau langsung ke area vagina.

Apa yang dapat kita Lakukan untuk Menjaga Pencernaan

Meskipun dunia medis masih terus belajar soal ini, satu hal sudah jelas: menjaga kesehatan usus dan vagina itu penting. Beberapa hal simpel yang bisa dilakukan antara lain dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan rendah gula, mengurangi stres, menjaga kebersihan area kewanitaan tanpa produk yang berlebihan, dan tentu saja, pada langkah yang lebih lanjut, berkonsultasi dengan dokter. Karena masalah kesuburan itu kadang dimulai dari hal-hal yang kita anggap sepele seperti urusan bakteri di usus dan vagina. Informasi lebih lanjut follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Favaron, A., Turkgeldi, E., Elbadawi, M., Gaisford, S., Basit, A. W., & Orlu, M. (2024). Do probiotic interventions improve female unexplained infertility? A critical commentary. Reproductive BioMedicine Online, 48(4), 103734.

Apakah LH dan FSH Benar-benar Penting dalam Spermatogenesis pada Pria?

June 4, 2025

 

Sister dan paksu sudah tahu jika LH dan FSH itu penting buat kesuburan pria. Tapi, seberapa penting, sih, sebenarnya? Apakah tanpa salah satunya sperma tetap bisa diproduksi? Nah, yuk bahas bareng dengan MDG karena ini akan sangat penting untuk infertilitas paksu, baca sampai habis ya!

FSHR Rusak Tapi Masih Bisa Punya Anak?

Ada kasus menarik dari Finlandia di mana beberapa pria ditemukan memiliki mutasi inaktif pada gen reseptor FSH (FSHR). Mutasi ini menyebabkan protein reseptor FSH mereka tidak muncul dengan sempurna di permukaan sel, sehingga reseptor tidak bisa menerima sinyal hormon FSH dengan baik.

Yang unik, dari lima pria dengan mutasi ini, tidak ada yang benar-benar mengalami azoospermia (tanpa sperma sama sekali). Sebagian memiliki sperma normal (normozoospermia), dan sebagian lain mengalami oligozoospermia parah (jumlah sperma sangat sedikit). Empat dari mereka mengalami subfertilitas atau gangguan kesuburan, tetapi dua di antaranya tetap berhasil menjadi ayah dari dua anak!

Mereka memang memiliki kadar FSH yang tinggi dalam darah — kemungkinan sebagai respons tubuh yang berusaha ‘mengimbangi’ kerusakan pada reseptor. Studi laboratorium menunjukkan bahwa meski reseptor rusak, sebagian kecil dari reseptor mutan ini masih mampu menangkap sinyal FSH jika kadar hormon sangat tinggi.

Jadi, bagaimana ini bisa terjadi? Dengan kadar FSH yang sangat tinggi, ada sedikit aktivasi yang tetap bisa terjadi pada reseptor yang rusak. Ibaratnya, meski antenanya rusak, kalau sinyalnya sangat kuat, tetap ada kemungkinan nyambung sedikit. Ini mirip dengan kasus wanita yang punya mutasi reseptor LH inaktif, tapi tetap bisa merespons hormon hCG dalam dosis tinggi.

Kesimpulannya, reseptor FSH yang rusak total memang bisa mengganggu proses pembentukan sperma, tapi belum tentu menyebabkan infertilitas total. Semua tergantung seberapa parah kerusakannya dan seberapa tinggi kadar FSH di tubuh.

Gimana Kalau Permasalahan Ada di FSH-nya?

Nah, beda cerita kalau masalahnya bukan di reseptornya, tapi justru di hormon FSH-nya sendiri, tepatnya di bagian subunit beta FSH. Kerna laki-laki dengan permasalahan hormon FSH mereka cenderung mengalami azoospermia total, alias nggak ada sperma sama sekali, dan tentu saja jadi infertil.

Dapat kita lihat ternyata fungsi FSH ini krusial sejak masa perkembangan awal—bahkan sejak masa pubertas. Jadi kalau baru diobati pas dewasa, kerusakan atau “ketinggalannya” udah nggak bisa diperbaiki. Artinya, FSH nggak bisa ‘mengejar ketertinggalan’ kalau sistem pembentuk spermanya udah telanjur nggak berkembang sejak awal.

Fakta yang dapat sister dan paksu pahami bahwa:

  1. FSH itu penting banget untuk spermatogenesis manusia.
    Buktinya, mutasi pada gen FSH atau reseptornya berhubungan dengan gangguan produksi sperma.

  2. Mutasi FSHβ = infertil total.
    Mutasi di hormon itu sendiri berdampak lebih fatal dibandingkan mutasi di reseptornya.

  3. Reseptor FSH rusak belum tentu bikin mandul.
    Masih ada kemungkinan spermatogenesis jalan meski terganggu, tergantung tingkat kerusakan dan adaptasi tubuh.

  4. Waktu itu krusial.
    FSH kemungkinan punya peran penting saat masa perkembangan, yang nggak bisa digantikan kalau baru diintervensi saat dewasa.

Dari kasus-kasus langka ini, kita belajar bahwa sistem hormonal dalam tubuh manusia jauh dari kata sederhana. FSH dan reseptornya bekerja seperti kunci dan gembok karena jika salah satu rusak, bisa saja masih ada celah untuk “membuka”, tapi nggak akan seefektif versi normalnya. Sister dan paksu juga harus aware bahwa kesuburan pria itu nggak hanya soal jumlah sperma, tapi juga melibatkan kerjasama kompleks antara gen, hormon, dan waktu perkembangan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Siegel, E.T.; Kim, H.-G.; Nishimoto, H.K.; Layman, L.C. The Molecular Basis of Impaired Follicle-Stimulating Hormone Action: Evidence from Human Mutations and Mouse Models. Reprod. Sci. 2013, 20, 211–233. [Google Scholar] [CrossRef] [Green Version]
  • Tapanainen, J.S.; Aittomäki, K.; Min, J.; Vaskivuo, T.; Huhtaniemi, I.T. Men Homozygous for an Inactivating Mutation of the Follicle-Stimulating Hormone (FSH) Receptor Gene Present Variable Suppression of Spermatogenesis and Fertility. Nat. Genet. 1997, 15, 205–206. [Google Scholar] [CrossRef]

 

Terapi Testosteron: Solusi untuk Hipogonadisme, Tapi Bagaimana Dampaknya ke Kesuburan?

June 2, 2025

 

Pada kasus infertiltas paksu, salah satu terapi penggantian testosteron (testosterone replacement therapy atau TRT) telah menjadi andalan dalam mengobati pria dengan kadar testosteron rendah dan gejala hipogonadisme, seperti kelelahan, penurunan libido, dan gangguan mood. Seiring berkembangnya ilmu medis, kini tersedia berbagai bentuk TRT: dari sediaan oral, bukal, injeksi intramuskular, hingga patch transdermal, implan subdermal, dan semprotan nasal.

MDG saat ini ingin membahas lebih lanjut bagaimana terapi ini bukan tanpa risiko. Karena TRT eksogen berpotensi menekan kesuburan pria. Kok bisa?

Bagaimana TRT Bisa Mengganggu Kesuburan?

Kesuburan berupa hipogonadisme sendiri merupakan kondisi medis dimana kelenjar seks (gonad) pria (testis) atau wanita (ovarium) memproduksi hormon seks dalam jumlah yang kurang atau bahkan tidak memproduksi sama sekali. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan reproduksi, perubahan karakteristik seksual, dan masalah metabolisme. 

Tubuh pria memiliki sistem pengatur hormonal yang disebut sumbu hipotalamus–hipofisis–gonad (HPG). Sistem ini menjaga keseimbangan hormon, termasuk memicu produksi testosteron oleh sel Leydig di testis melalui sinyal hormon LH (luteinizing hormone).

Nah, ketika tubuh menerima testosteron dari luar (TRT eksogen), sumbu HPG “mengira” kadar testosteron sudah cukup — akibatnya, produksi LH ditekan. Ini menyebabkan testis berhenti memproduksi testosteron alami, dan kadar testosteron di dalam testis pun ikut turun drastis. Padahal, testosteron intratestikular ini krusial untuk proses pembentukan sperma (spermatogenesis). Akibatnya? Risiko infertilitas meningkat. Lalu kira-kira ada tidak alternatif untuk menyelesaikan masalah ini?

Alternatif Terapi dalam Meningkatkan Testosteron Tanpa Merusak Kesuburan

Bagi pria yang ingin menaikkan kadar testosteron tanpa mengorbankan kesuburan, terapi alternatif sedang dikembangkan dan sebagian sudah digunakan. Pendekatan ini bertujuan untuk merangsang produksi testosteron alami, bukan menggantikannya dari luar.

Beberapa opsi yang sedang digunakan atau diteliti antara lain:

  • Modulator reseptor estrogen selektif (SERM) seperti clomiphene citrate

  • Gonadotropin, termasuk hCG dan FSH

  • Inhibitor aromatase, yang mengurangi konversi testosteron menjadi estrogen

Meski demikian TRT bisa jadi solusi yang sangat membantu bagi pria dengan defisiensi testosteron. Tapi untuk sister dan paksu yang yang ingin melakukan program hamil, penting untuk berpikir dua kali dan berdiskusi dengan dokter. Terutama berkaitan dengan terapi yang meningkatkan testosteron alami sambil menjaga fungsi testis yang menjadi jalan tengah yang ideal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Khodamoradi, K., Khosravizadeh, Z., Parmar, M., Kuchakulla, M., Ramasamy, R., & Arora, H. (2021). Exogenous testosterone replacement therapy versus raising endogenous testosterone levels: current and future prospects. F&S Reviews, 2(1), 32-42.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-hipogonadisme

SERM untuk Endometriosis: Harapan Baru atau Masih Sekadar Wacana?

June 1, 2025

Sister dan paksu pasti pernah dengar salah satu penyebab infertilitas yaitu endometriosis. Infertilitas ini tentu lebih tidak asing buat banyak perempuan, apalagi yang sering mengalami nyeri haid hebat atau dispareunia (nyeri saat berhubungan intim). 

Penyakit ini terjadi saat jaringan yang seharusnya tumbuh di dalam rahim malah tumbuh di luar rahim. Kondisi ini kronis, berulang, dan bisa jadi biang masalah kesuburan. Nah kira-kira ada tidak ya penanganan yang tepat? Yuk pahami lebih lanjut!

SERM untuk Endometriosis

Kita tahu bahwa selama ini, pengobatan endometriosis umumnya fokus pada penekanan siklus menstruasi untuk meredakan gejala. Tapi, seiring berkembangnya penelitian, muncullah harapan baru seperti selective oestrogen receptor modulators  (SERM). Obat ini digadang-gadang bisa menargetkan hormon estrogen biang keladi utama dalam pertumbuhan jaringan endometriosis.

Nah karena endometriosis bergantung pada estrogen, para peneliti ingin tahu: bisakah SERM bekerja efektif untuk mengontrol gejala dan perkembangan endometriosis? 

Hasil studi menunjukkan bahwa raloxifene belum memberikan harapan yang meyakinkan dalam penanganan endometriosis; nyeri panggul justru lebih cepat kambuh dibanding plasebo, tidak ada bukti kuat terkait penurunan gejala lain seperti kista ovarium, sakit kepala, atau depresi, dan kualitas hidup mental malah lebih baik pada kelompok plasebo. Selain itu, tingkat kekambuhan endometriosis dan dampak terhadap kesuburan maupun biaya pengobatan masih belum jelas karena keterbatasan data dan hanya berasal dari satu studi kecil dengan kualitas bukti sangat rendah.

Jadi SERM faktanya belum bisa digunakan sebagai pengobatan efektif, lalu apa yang dapat dilakukan?

Penanganan endometriosis 

Saran seperti yang kutip oleh aladokter.com pengobatan bisa meliputi obat pereda nyeri seperti ibuprofen dan diklofenak, serta terapi hormon yang bekerja dengan menekan produksi estrogen, seperti pil KB, Gn-RH analog, progestogen, hingga danazol. 

Terapi ini efektif mengontrol gejala, namun bisa menimbulkan efek samping seperti perubahan suasana hati dan berat badan. Bila gejala tak membaik, dokter dapat menyarankan operasi, mulai dari laparoskopi (operasi minimal invasif), laparotomi (sayatan besar), hingga histerektomi (pengangkatan rahim), tergantung pada tingkat keparahan dan rencana kesuburan pasien. 

Catatan buat sister yang sedang berjuang dengan endometriosis, setiap tubuh itu unik. Apa yang berhasil untuk satu orang belum tentu cocok untuk yang lain. Diskusikan semua pilihan pengobatan dengan dokter dan jangan ragu untuk mencari second opinion. Baca informasi menarik lainnya di Instagram kami @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Van Hoesel, M. H., Chen, Y. L., Zheng, A., Wan, Q., & Mourad, S. M. (2021). Selective oestrogen receptor modulators (SERMs) for endometriosis. Cochrane Database of Systematic Reviews, (5).
  • https://www.alodokter.com/endometriosis/pengobatan

 

Kok Bisa, Gula Darah Menjadi salah satu Penyebab Infertilitas? Ini Penjelasannya

May 31, 2025

Banyak yang mengira infertilitas (susah hamil) banyak disebabkan hormon atau kondisi rahim. Tapi ternyata, masalah metabolik seperti resistensi insulin juga bisa jadi biang kerok yang sering terlewat.

Yup, resistensi insulin yang biasanya dikaitkan dengan diabetes atau sindrom metabolik. Lebih jauh ternyata punya dampak besar ke kesehatan reproduksi wanita. Tapi apa itu resistensi insulin?

Apa Itu Resistensi Insulin?

Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel di  otot , lemak , dan  hati  tidak merespons insulin sebagaimana mestinya. Kondisi ini juga dikenal sebagai gangguan sensitivitas insulin. Dimana insulin sangat penting untuk kehidupan dan mengatur  kadar glukosa (gula) darah. 

Jadi sister dan paksu harus tahu dulu bahwa insulin itu semacam “kunci” untuk membuka pintu sel supaya gula darah bisa masuk dan diubah jadi energi. Nah, pada orang dengan resistensi insulin, pintu selnya jadi ‘ngambek’ alias susah dibuka. Akibatnya, tubuh harus produksi insulin lebih banyak dari biasanya buat nyimbangin gula darah. Lalu mengapa kira-kira ini terjadi?

Penyebab Resistensi Insulin

Resistensi insulin bisa disebabkan oleh gabungan faktor genetik, gaya hidup, dan kondisi medis tertentu. Beberapa orang mungkin memiliki gen bawaan yang membuat mereka lebih rentan, sementara penyebab yang didapat mencakup obesitas (terutama lemak perut), kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi karbohidrat olahan, dan penggunaan obat-obatan tertentu seperti steroid atau obat tekanan darah. Selain itu, gangguan hormonal seperti sindrom Cushing, hipotiroidisme, dan akromegali juga dapat memicu kondisi ini. 

Ada juga kondisi genetik langka seperti sindrom Donohue, Werner, dan lipodistrofi bawaan yang berkaitan dengan resistensi insulin. Karena tidak selalu menunjukkan gejala, diagnosis biasanya didasarkan pada riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan faktor risiko yang dimiliki seseorang. Masalahnya, kondisi ini nggak cuma ngaruh ke metabolisme, tapi juga bisa ganggu kerja organ reproduksi.

Apa Dampaknya ke Kesuburan?

Resistensi insulin bisa bikin banyak hal kacau di sistem reproduksi, misalnya:

  1. Mengganggu kualitas sel telur dan embrio
  2. Menurunkan daya “lengket” rahim buat menempelkan embrio (implantasi)
  3. Mengacaukan keseimbangan hormon penting buat ovulasi
  4. Bikin risiko gagal program bayi tabung makin tinggi

Dan parahnya lagi, resistensi insulin bisa muncul nggak cuma pada penderita PCOS, tapi juga pada wanita yang terlihat sehat tapi punya pola menstruasi nggak teratur atau kelebihan berat badan.

Hal ini juga berdampak berkelanjutan terutama pasca kehamilan, seperti adanya risiko keguguran lebih tinggi, potensi kena diabetes selama hamil, masalah tumbuh kembang janin dan efek jangka panjang ke anak, seperti risiko obesitas dan penyakit metabolik. 

Jadi alangkah baiknya sister lebih skeptis dan segera dikonsultasikan pada dokter, agar mendapatkan penanganannya yang baik obat seperti metformin juga gaya hidup sehat, diet rendah gula, olahraga rutin. 

Karena masalah kesuburan itu bisa datang dari hal-hal yang nggak disangka. Jadi, bukan cuma soal hormon atau rahim, tapi juga metabolisme tubuh secara keseluruhan. Yuk, lebih aware sama kondisi tubuh sendiri dan jangan ragu cek ke dokter kalau ada yang terasa ‘nggak biasa’. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

  • Sertorio, M. N., César, H., de Souza, E. A., Mennitti, L. V., Santamarina, A. B., De Souza Mesquita, L. M., … & Pisani, L. P. (2022). Parental high-fat high-sugar diet intake programming inflammatory and oxidative parameters of reproductive health in male offspring. Frontiers in Cell and Developmental Biology, 10, 867127.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/22206-insulin-resistance?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true

Bagaimana Menentukan Pilihan Terbaik untuk ICSI pada Pria dengan Sperma Sangat Sedikit

May 30, 2025

Dalam dunia fertilitas, pria dengan jumlah sperma yang sangat rendah seperti oligozoospermia atau bahkan kriptozoospermia seringkali dihadapkan pada pertanyaan penting, lebih baik menggunakan sperma dari ejakulasi atau langsung dari testis untuk prosedur ICSI (Injeksi Sperma Intrasitoplasma)? Sebelum itu apakah kalian tahu perbedaan antara dua infertilitas itu?

Oligozoospermia dan Kriptozoospermia

Oligozoospermia adalah kondisi ketika jumlah sperma dalam air mani lebih sedikit dari jumlah normal. WHO (2021) menetapkan batas normalnya yaitu sekitar 16 juta sperma per mililiter. Kalau di bawah angka itu, bisa disebut oligozoospermia.

Nah, kondisi ini kadang dikategorikan jadi ringan, sedang, atau berat, tapi sebenarnya pembagian ini nggak menunjukkan penyebab pastinya. Artinya, meski jumlahnya sedikit, belum tentu tahu langsung apa penyebabnya.

Yang penting diingat, diagnosis oligozoospermia harus berdasarkan analisis laboratorium air mani yang dilakukan dengan prosedur ketat sesuai panduan WHO. Jadi, bukan asal tebak-tebakan atau satu kali tes aja.

Sedangkan berdasarkan standar WHO, kriptozoospermia didefinisikan sebagai tidak adanya sperma dalam air mani yang diejakulasi melalui pemeriksaan mikroskopis, tetapi ada dalam sedimen sentrifus. Kriptozoospermia, yang juga dikenal sebagai kriptozoospermia, adalah jenis khusus oligospermia ekstrem, dengan insidensi sekitar 8,73%.4 Karena manifestasi klinisnya yang unik, kondisi ini mudah salah didiagnosis sebagai azoospermia. Lalu kira-kira bagaimana program hamil yang dapat dipilih, salah satunya adalah melalui ICSI dengan metode pengambilan sperma.

ICSI Sebagai Program Hamil

Pada sebuah penelitian dengan pasangan yang menjalani prosedur ICSI, di mana sel telur dibuahi menggunakan sperma dari ejakulasi atau sperma testis yang diambil lewat aspirasi jarum halus. Peneliti kemudian membandingkan beberapa parameter penting: tingkat pembuahan, pembelahan sel, kualitas embrio, dan pembentukan blastokista (embrio tahap lanjut).

Hasilnya menunjukkan bahwa:

  • Pada pria dengan sperma dibawah 1 juta/mL, sperma testis memberikan hasil yang jauh lebih baik. Tingkat pembuahan, pembelahan embrio, dan jumlah embrio berkualitas tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan sperma dari ejakulasi.

  • Pada kasus kriptozoospermia, sperma testis juga lebih unggul secara signifikan dalam hal pembuahan, meskipun keunggulan kualitas embrio tidak terlalu mencolok.

  • Namun, pada pria dengan sperma di atas 1 juta/mL, sperma dari ejakulasi justru menunjukkan hasil yang lebih baik.

Dari temuan di atas sister dan paksu dapat tahu bahwa tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua. Tapi setidaknya konsentrasi sperma bisa menjadi kunci dalam menentukan dari mana sperma sebaiknya diambil untuk prosedur ICSI. Dengan berfokus pada hal ini, nantinya dokter dapat memberikan rekomendasi yang lebih tepat dan personal bagi sister dan paksu yang sedang berjuang menghadapi infertilitas terutama pada paksu. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi  

  • Derakhshan, M., Salehi, P., Derakhshan, M., Naghshineh, E., Movahedi, M., Tehrani, H. G., & Salehi, E. (2024). Should testicular sperm retrieval be implemented for intracytoplasmic sperm injection in all patients with severe oligozoospermia or cryptozoospermia?. Korean Journal of Fertility and Sterility.
  • Liu, H., Luo, Z., Chen, J., Zheng, H., & Zeng, Q. (2023). Treatment progress of cryptozoospermia with Western Medicine and traditional Chinese medicine: A literature review. Health Science Reports, 6(1), e1019.
  • « Previous
  • 1
  • …
  • 35
  • 36
  • 37
  • 38
  • 39
  • …
  • 74
  • Next »
ayo-gabung-mdg

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.