Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Dalam dunia fertilitas, seringkali perhatian tertuju pada kualitas sel telur dan rahim perempuan dan membuat kesimpulan ketidaksuburan adalah faktor perempuan. Padahal, satu faktor penting lainnya justru datang dari sisi laki-laki, yaitu kualitas DNA sperma. Salah satu penyebab penting yang harus dilihat adalah DNA Fragmentation Index (DFI) atau indeks fragmentasi DNA sperma. Yuk ketahui apa itu DFI? terutama bagaimana hal ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan program hamil seperti IVF dan ICSI.
Apa Itu DFI dan Mengapa Penting?
DFI merupakan indikator yang mengukur seberapa besar kerusakan DNA dalam sperma. Meskipun jumlah sperma dan bentuknya tampak normal, jika DNA di dalamnya rusak, kemampuan sperma untuk membuahi sel telur dan menghasilkan embrio sehat bisa terganggu.
Dengan meningkatnya penggunaan teknologi reproduksi berbantuan (ART) seperti IVF atau ICSI, sudah waktunya kita memahami apakah tingginya fragmentasi DNA sperma bisa memengaruhi keberhasilan prosedur-prosedur tersebut.
DFI dalam Program Hamil Berbantuan (ART)
Dalam literatur yang dilakukan oleh Deng, 2019 menemukan bagaimana DFI dalam program hamil berbantuan diantaranya adalah:
- Peluang Melahirkan Anak
Secara umum, perbedaan antara sperma dengan DNA yang rusak dan tidak rusak belum terlalu terlihat signifikan pada angka kelahiran hidup. - Risiko Keguguran
Pasangan yang sperma pasangannya memiliki tingkat kerusakan DNA tinggi ternyata lebih sering mengalami keguguran dibanding yang tingkat kerusakannya rendah. - Kualitas Embrio
Embrio yang dihasilkan dari sperma dengan kerusakan DNA tinggi cenderung berkualitas lebih rendah, yang tentu bisa memengaruhi keberhasilan kehamilan. - Kehamilan yang Berhasil Terlihat di USG
Kemungkinan terjadinya kehamilan klinis (kehamilan yang sudah bisa dilihat lewat USG) juga lebih rendah pada kelompok dengan tingkat kerusakan DNA sperma yang tinggi.
Melihat penjabaran di atas,menunjukkan bahwa meskipun DFI tidak secara langsung menurunkan peluang kelahiran hidup secara signifikan, fragmentasi DNA sperma berkaitan erat dengan meningkatnya risiko keguguran dan menurunnya kualitas embrio serta keberhasilan kehamilan klinis. Artinya, kualitas DNA sperma penting untuk diperhatikan, terutama bagi pasangan yang menjalani program IVF atau ICSI.
Sister dan paksu juga sudah harus tahu bahwa selama ini, kesuburan pria sering dianggap cukup hanya dengan “jumlah sperma banyak” atau “gerakannya aktif”. Padahal, kualitas genetik sperma sama pentingnya. Sehingga pemeriksaan DFI bisa menjadi langkah tambahan yang membantu mengungkap penyebab tersembunyi dari kegagalan IVF atau keguguran berulang. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
Deng, C., Li, T., Xie, Y., Guo, Y., Yang, Q. Y., Liang, X., … & Liu, G. H. (2019). Sperm DNA fragmentation index influences assisted reproductive technology outcome: A systematic review and meta‐analysis combined with a retrospective cohort study. Andrologia, 51(6), e13263.

Pernah nggak sih, sister, kepikiran bahwa cara sperma bergerak bisa menjadi petunjuk penting untuk mengetahui peluang kehamilan?
Nah, sebuah studi terbaru mencoba menjawab hal ini dengan pendekatan yang modern banget yaitu dengan menggunakan kecerdasan buatan dan statistik canggih untuk memahami pergerakan sperma dan ternyata hasilnya cukup menjanjikan.
Pahami Hubungan antara Motilitas Sperma dan Kesuburan
Jadi yang perlu sister dan paksu ketahui bahwa sperma yang sehat dapat bergerak maju dengan kecepatan minimal 25 mikrometer per detik. Sedangkan, sperma lambat didiagnosis ketika sperma yang bergerak efisien berjumlah kurang dari 32 persen. Sehingga tidak heran jika motilitas atau pergerakan sperma ini sangat berpengaruh pada keberhasilan program hamil kalian.
Pada kasus motilitas ini masuk pada Asthenozoospermia yang merupakan kondisi ketika sebagian besar sel sperma memiliki gerakan yang tidak normal. Meski bisa menyebabkan kemandulan, kondisi ini dapat disembuhkan jika ditangani dengan tepat. Nah peneliti sudah banyak melakukan percobaan salah satunya pada hewan dalam melihat pergerakan sperma.
Machine Learning untuk Deteksi Sperma
Penggunaan sampling sperma babi (yes, babi sering dipakai dalam penelitian karena sistem reproduksinya mirip manusia). Mereka ingin tahu apakah cara sperma bergerak bisa dipetakan untuk memprediksi apakah seekor pejantan punya tingkat kesuburan tinggi atau tidak.
Hal ini yang digunakan adalah t-SNE, salah satu teknik machine learning yang bisa “memetakan” pola atau perilaku kompleks, termasuk dalam hal ini: variasi gerak sperma. Gerakannya nggak hanya dilihat cepat atau lambat, tapi juga apakah lurus, berputar, atau acak.
Setelah semua data diolah, para peneliti pakai metode statistik canggih bernama Bayesian logistic regression untuk memprediksi kemungkinan seekor pejantan subur atau tidak, berdasarkan pola gerak spermanya.
Hasil studi ini menunjukkan bahwa:
- Sperma yang bergerak cepat dan lurus ternyata lebih berkaitan dengan tingkat kesuburan yang tinggi.
- Variasi dalam gerakan sperma memang ada, tapi bukan semuanya penting. Yang paling relevan adalah pola gerak efisien dan terarah.
Walaupun ini masih studi pada hewan, tapi pendekatan ini bisa banget diterapkan untuk penelitian kesuburan manusia juga, lho! Dengan teknologi ini, dokter bisa lebih akurat menilai kualitas sperma secara otomatis, bukan hanya dilihat manual di bawah mikroskop.
Dan tentunya, ini membuka peluang baru untuk diagnosis dan penanganan masalah infertilitas pria di masa depan.
Referensi
- Fernández-López, P., Garriga, J., Casas, I., Yeste, M., & Bartumeus, F. (2022). Predicting fertility from sperm motility landscapes. Communications biology, 5(1), 1027.
- https://www.klikdokter.com/info-sehat/reproduksi/penyebab-pergerakan-sperma-lambat-yang-ganggu-kesuburan-pria

Sister, pernah dengar istilah infertilitas idiopatik? Ini adalah kondisi ketika paksu mengalami infertilitas, tapi setelah dicek sana-sini, nggak ada penyebab pasti yang bisa ditemukan. Nah, ternyata kondisi ini cukup umum dan bisa terjadi pada hampir 44% kasus infertilitas pria. Lalu, kenapa bisa begitu? MDG akan menjelaskan lebih lanjut!
Kesuburan dan Faktor Lingkungan
Fenomena kesuburan pria ini dari tahun ketahun terjadi peningkatan, terutama di negara-negara Barat. Dan anehnya penurunan ini nggak bisa dijelaskan sepenuhnya hanya karena obesitas, pola makan yang buruk, atau gaya hidup aja. Karena ada yang faktor lain salah satunya adalah paparan bahan kimia sintetis dalam kehidupan sehari-hari.
Kita sekarang hidup dikelilingi oleh ribuan bahan kimia baik dari plastik, makanan, hingga udara yang kita hirup. Beberapa di antaranya diketahui bisa mengganggu hormon, terutama hormon yang penting untuk produksi sperma, seperti hormon di sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad (HPG) adalah hormon pelepas gonadotropin (GnRH) dari hipotalamus, hormon luteinisasi (LH) dan hormon perangsang folikel (FSH) dari kelenjar pituitari, serta estrogen dan testosteron dari gonad. Lalu kira-kira jenis bahan kimia apa yang mempengaruhi
Toksin yang Wajib Diwaspadai
Diantara penyebab infertilitas terutama faktor lingkungan bisa jadi dari bahan-bahan yang mengandung bahan kimia, beberapa di antaranya bahkan tergolong racun reproduksi yang sudah dilarang di negara lain, tapi terkadang masih dipakai. Contohnya:
- Ftalat dan BPA: Umumnya ada di plastik dan kemasan makanan
- Pestisida dan herbisida: Seperti DDT, atrazin, organofosfat
- Logam berat: Seperti timbal dan kadmium
- Polusi udara dan suara, hingga radiasi non-pengion
Tidak hanya bahan-bahan itu saja, karena gaya hidup seperti pola makan, obesitas, konsumsi kafein berlebih, alkohol, rokok, narkoba, dan obat tertentu juga bisa memperparah
Untuk itu bagi sister dan paksu sudah harus mulai skeptis dengan apa yang ada disekitar kalian, meskipun kita belum bisa mengukur seberapa besar dampaknya secara individu langkah awal yang bisa dilakukan dengan mengetahui sumber-sumber racun di sekitar kita, menghindari paparan berlebihan (misalnya dengan memilih produk bebas BPA, mengurangi paparan pestisida, dll) dan Menjaga gaya hidup sehat untuk meminimalkan efek tambahan dari faktor lain.
Ingat, sister. Kesehatan reproduksi bukan cuma urusan rahim dan sel telur. Paksu juga perlu perhatian ekstra terutama dalam menghadapi dunia modern yang penuh racun tak terlihat ini. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Krzastek, S. C., Farhi, J., Gray, M., & Smith, R. P. (2020). Impact of environmental toxin exposure on male fertility potential. Translational andrology and urology, 9(6), 2797.
- https://med.uc.edu/landing-pages/reproductivephysiology/lecture-4/hypothalamic-pituitary-ovarian-axis

Surabaya, Menuju Dua Garis (MDG) menggelar acara istimewa yang berkolaborasi dengan TMC Fertility Malaysia dan didukung oleh PROEM.1. Acara ini diselenggarakan pada hari Minggu, bertempat di Kollabora Cafe mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai.
Acara dibuka oleh Bumin MDG yang mengajak para sister dan paksu untuk bersama-sama memahami bahwa infertilitas adalah ilmu yang perlu dipelajari, bukan aib yang harus disembunyikan atau diratapi. Selanjutnya, acara dipandu oleh Mizz Rosie, Founder MDG sekaligus seorang pejuang IVF yang juga menjadi host dalam sesi ini.
Dr. Puvanesvaran Velupulai, seorang Consultant Obstetrician and Gynaecologist sekaligus Subspecialist in Reproductive Medicine dari TMC Fertility Puchong, Malaysia, hadir sebagai pembicara utama. Beliau menyampaikan materi yang sangat komprehensif mengenai infertilitas pria, dimulai dengan data bahwa 40% penyebab infertilitas di Indonesia berasal dari faktor laki-laki. Dr. Puvan menguraikan penyebab infertilitas pria dari sisi pra-testikular, testikular, hingga post-testikular, dilengkapi dengan penjelasan visual seperti bentuk mikropenis, video sperma, hingga prosedur TESE.
Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan, dipandu langsung oleh Mizz Rosie. Pertanyaan dari para peserta mencakup mulai dari nutrisi yang disarankan, hingga kasus-kasus spesifik yang sedang dihadapi oleh sister dan paksu yang hadir.
Menjelang akhir acara, suasana menjadi semakin emosional ketika seorang pejuang dua garis berbagi kisah keberhasilannya mendapatkan buah hati melalui bantuan TMC Fertility. Cerita ini menambah semangat dan harapan bagi para peserta yang hadir dari berbagai daerah, termasuk Surabaya dan Kediri.
Acara ini berlangsung dengan penuh kehangatan, edukatif, menyentuh, dan sangat menginspirasi. Para peserta menunjukkan tekad kuat untuk terus mencari tahu dan memahami kondisi mereka.
Untuk informasi dan kegiatan menarik lainnya, jangan lupa follow Instagram kami di @menujuduagaris.id.

Sebagian dari kalian bisa jadi ber berpikir bahwa asupan makanan hanya soal kalori untuk tenaga. Tapi kenyataannya, kualitas makanan jauh lebih penting terutama kalau paksu dan sister sedang ikhtiar untuk program hamil.
Karena kualitas sperma sangat dipengaruhi oleh komposisi nutrisi, bukan sekadar banyaknya kalori. Jadi Lemak, karbohidrat, protein, hingga senyawa bioaktif dalam makanan ternyata punya peran penting dalam proses reproduksi laki-laki, bahkan sampai ke tingkat seluler dan mitokondria. Coba yuk kita lihat setidaknya ada dua pola makan dan bagaimana jika digunakan untuk program hamil.
Yuk bandingkan Pola Makan Barat Vs Mediterania
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak orang disekitar kita yang mungkin mengadopsi pola makan Barat. Pola ini dikenal tinggi lemak jenuh dan trans, Karbohidrat sederhana (gula), Makanan olahan, daging olahan dan minuman manis.
Sayangnya, makanan-makanan ini sudah terbukti berkontribusi terhadap penurunan kualitas sperma. Penelitian menunjukkan bahwa asupan lemak jenuh dan trans yang tinggi bisa mengganggu fungsi mitokondria yaitu bagian dari sel sperma yang bertanggung jawab memproduksi energi untuk bergerak. Sperma jadi lemas, lesu, bahkan rusak. Lalu bagaimana dengan pola makan mediterania.
Sebaliknya, pola makan Mediterania terbukti mendukung kesuburan pria. Pola makan ini didominasi oleh: Buah dan sayuran segar, kacang-kacangan dan biji-bijian, ikan dan minyak zaitun, karbohidrat kompleks dan konsumsi daging dan susu yang rendah
Model ini tinggi kandungan monounsaturated fatty acids (MUFA) dan omega-3, yang dapat menekan stres oksidatif dan memperbaiki performa mitokondria sperma. Sperma lebih lincah dan kuat berenang.
Meski begitu harus diketahui bahwa kandungan serat dan antioksidannya tinggi, pola makan ini bisa mengurangi asupan vitamin B12, zat besi, dan zinc, yang semuanya penting untuk fungsi testis dan produksi testosteron. Jadi, walau terlihat sehat, tetap butuh pengaturan dan pengawasan gizi yang seimbang.
Lemak: Bukan Musuh, Asal Pilih yang Tepat
Tidak semua lemak berdampak negatif. Justru, lemak dari kelompok asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) seperti omega-3 sangat penting. PUFA Mendukung struktur membran sperma, Menjaga fluiditas (kelenturan) sperma dan Mengurangi radikal bebas yang merusak DNA sperma. Sumber PUFA sehat bisa didapat dari salmon, chia seed, flaxseed, dan minyak zaitun.
Karbohidrat & Protein: Pengaruhnya pada Hormon
Karbohidrat kompleks dan protein juga memainkan peran. Keduanya memengaruhi kadar testosteron dan stres oksidatif, dua faktor penting dalam produksi dan pematangan sperma. Hindari lonjakan gula darah dari karbohidrat sederhana (kayak minuman manis dan roti putih), dan pilih sumber protein seperti telur, ikan, tahu, atau tempe.
Terakhir adalah banyak makanan mengandung polifenol, antioksidan alami yang bisa menetralkan stres oksidatif pada sperma. Tapi hati-hati, dosisnya penting. Konsumsi berlebihan bisa mengganggu mitokondria sperma. Polifenol banyak ditemukan di teh hijau, buah beri, anggur, dan cokelat hitam.
Setelah memahami hal tersebut, paksu harus ingat bahwa Interaksi dari komposisi nutrisi harus memperhatikan tiga hal baik Bioenergetika mitokondria, Stres oksidatif dan Kadar hormon (terutama testosteron) karena ini menentukan apakah sperma bisa “berfungsi optimal” atau malah menurun kualitasnya.
Untuk itu dibutuhkan pola makan yang sehat tidak hanya menjaga kesehatan tubuh secara umum, tapi juga menjadi fondasi untuk kualitas sperma yang baik. Jadi, buat para paksu yang sedang berjuang untuk punya momongan, memperbaiki pola makan bisa jadi langkah awal yang sangat menentukan.
Karena pada akhirnya, usaha pejuang dua garis nggak hanya soal alat tes, tapi juga soal isi piring sehari-hari. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
Ferramosca, A., & Zara, V. (2022). Diet and male fertility: the impact of nutrients and antioxidants on sperm energetic metabolism. International journal of molecular sciences, 23(5), 2542.

Pada Rabu, 14 Mei 2025 pukul 19.00 WIB, MDG berkolaborasi dengan TMC Fertility menggelar sesi Live Instagram yang membahas secara mendalam tentang infertilitas pria bersama Dr. Puvanesvaran Velupulai, Konsultan Obstetrician & Gynaecologist. Diskusi ini dipandu oleh Mizz Rosie, founder MDG, yang membuka percakapan dengan menyoroti perbedaan mendasar antara infertilitas pada pria dan wanita. Secara khusus, ia menekankan bahwa pada pria, infertilitas erat kaitannya dengan kualitas sperma meski terdengar sederhana, penanganannya jauh lebih kompleks.
Dr. Puvanesvaran atau Dr. Puvan menjelaskan dengan sangat komprehensif mengenai tiga kategori utama infertilitas pria: pra-testis, testis, dan pasca-testis. Pra-testis mencakup gangguan hormonal seperti hipogonadisme hipogonadotropik, disfungsi ereksi, serta pengaruh penyakit sistemik. Pada kategori testis, penyebabnya bisa berupa varikokel, kelainan genetik seperti sindrom Klinefelter, infeksi, testis tidak turun, hingga paparan racun atau obat-obatan. Sementara itu, pasca-testis mencakup kondisi seperti azoospermia obstruktif dan ejakulasi retrograde, di mana sperma tidak dapat dikeluarkan secara normal.
Tak hanya itu, Dr. Puvan juga membahas lebih lanjut tentang gangguan kualitas sperma seperti oligozoospermia, asthenozoospermia, teratozoospermia, dan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan dari audiens pun sangat spesifik, antara lain: Apa saran terbaik untuk teratozoospermia?, Apakah ejakulasi dini memengaruhi kualitas sperma?, Apakah wasir stadium 4 pada suami bisa memengaruhi kualitas sperma?, Berapa tingkat keberhasilan IVF pada cryptozoospermia?, Mengapa oligozoospermia bisa berkembang menjadi azoospermia?, hingga Apakah teratozoospermia bisa sembuh hanya dengan perubahan gaya hidup?
Satu hal penting yang ditegaskan oleh Mizz Rosie dan Dr. Puvan dalam diskusi ini adalah bahwa tes sperma sangatlah sederhana dan tidak memerlukan waktu lama. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi pria untuk melakukan tes ini lebih awal agar dapat segera mengetahui kondisi serta langkah yang harus diambil.
Kabar baiknya, sister dan paksu juga bisa bertemu langsung dengan Dr. Puvan dalam kesempatan mendatang untuk diskusi lebih personal! Info lengkapnya bisa kamu temukan di Instagram @menujuduagaris.id. Jangan lupa follow agar tidak ketinggalan informasi menarik lainnya!

Sister dan paksu pasti sudah tahu jika Infertilitas atau masalah kesuburan bukan cuma karena faktor dari perempuan saja. Karena sekitar setengah dari kasus infertilitas justru disebabkan oleh faktor dari pihak laki-laki. Salah satu hal yang bisa memengaruhi kesuburan pria adalah gaya hidup termasuk kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol. Wah kenapa begitu ya? Yuk pahami lebih jauh bagaimana salah satu pola hidup ini memengaruhi infertilitas.
Kualitas Sperma Turun pada Perokok dan Peminum
Pada tahun 2020, sekitar 71,4% pria Indonesia berusia 15 tahun ke atas masih merokok, dan angka ini hampir tidak berubah, menjadikan 2020 sebagai puncak tingkat perokok di Indonesia. Penggunaan tembakau mencakup berbagai produk seperti rokok, cerutu, kretek, dan tembakau tanpa asap, namun tidak termasuk rokok elektronik. Hal ini yang kemudian memberikan dampak signifikan pada kesehatan terutama jika sedang mengusahakan program kehamilan baik secara alami maupun berbantu.
Karena dibandingkan pria yang tidak merokok atau tidak minum alkohol, perokok dan peminum memiliki kualitas sperma yang lebih rendah. Hal ini terlihat dari jumlah sperma yang lebih sedikit, gerakan sperma yang lebih lambat, dan bentuk sperma yang kurang ideal.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah kerusakan di tingkat genetik. Sebuah penelitian ini menunjukkan bahwa pria yang minum alkohol memiliki tingkat kerusakan DNA sperma yang lebih tinggi dibandingkan perokok. Selain itu, sperma mereka juga cenderung belum matang secara sempurna. Yuk kita lihat apa kandungan bahaya yang terkandung!
Kandungan Berbahaya dalam Rokok dan Alkohol
Rokok sendiri mengandung berbagai zat kimia beracun seperti logam berat (kadmium dan timbal), nikotin, tar, dan senyawa lain yang bisa merusak sistem reproduksi pria. Sementara alkohol dapat memicu stres oksidatif, mengganggu keseimbangan hormon, serta merusak materi genetik di dalam sperma.
Kedua kebiasaan ini juga dapat memicu peradangan di tubuh, yang pada akhirnya ikut memengaruhi fungsi testis dan produksi sperma secara keseluruhan.
Apa Saja Dampaknya?
Hal yang mengkhawatirkan selanjutnya adalah adanya kerusakan pada DNA sperma dan sperma yang belum matang, karena bisa menurunkan peluang terjadinya kehamilan. Bahkan ketika pasangan menggunakan bantuan teknologi seperti bayi tabung (IVF) atau ICSI, kualitas sperma tetap menjadi salah satu penentu utama keberhasilan.
Meskipun teknologi ini sudah sangat canggih, tingkat keberhasilannya masih tergolong rendah jika kualitas sperma buruk. Itu sebabnya menjaga gaya hidup sehat menjadi sangat penting, terutama bagi pria yang sedang merencanakan kehamilan bersama pasangannya.
Jadi tidak bisa dianggap remeh bukan? yuk paksu untuk bisa lebih menjaga tubuhnya, karena meski menjalani berbagai upaya medis, termasuk prosedur yang mahal dan emosional seperti IVF. Tapi kalau gaya hidup tidak dijaga, usaha tersebut bisa jadi sia-sia. bagi paksu, ingat bahwa berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol bukan hanya soal kesehatan pribadi, tapi juga soal kesiapan menjadi ayah dari anak yang sehat di masa depan. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
- Amor, H., Hammadeh, M. E., Mohd, I., & Jankowski, P. M. (2022). Impact of heavy alcohol consumption and cigarette smoking on sperm DNA integrity. Andrologia, 54(7), e14434.
- https://www.statista.com/statistics/732840/indonesia-male-smoking-rate/?__sso_cookie_checker=failed

Suhu panas bukan cuma bikin tubuh gerah, tapi ternyata juga bisa berdampak serius pada kesuburan pria. Lebih spesifik bahwasanya paparan suhu tinggi baik dari cuaca ekstrem, gaya hidup, maupun lingkungan kerja ternyata berpotensi menurunkan kualitas sperma secara signifikan. Wah kenapa bisa begitu? yuk pahami lebih lanjut!
Kenapa Suhu Penting untuk Produksi Sperma?
Fakta yang harus kalian ketahui bahwa Testis bekerja optimal pada suhu yang lebih rendah dibanding suhu tubuh, sekitar 2 hingga 4 derajat Celcius lebih dingin. Saat suhu meningkat, fungsi spermatogenesis (proses pembentukan sperma) bisa terganggu. Bahkan, setiap kenaikan 1 derajat Celcius pada suhu testis dapat menyebabkan penurunan produksi sperma hingga 14 persen.
Apa Kata Bukti Ilmiah? Sebuah meta-analisis yang mengumpulkan data dari 9 studi internasional (melibatkan 336 pria dari Iran, Italia, Thailand, China, dan Mesir) menemukan bahwa paparan suhu tinggi berdampak negatif pada berbagai parameter sperma, yaitu penurunan volume sperma per ejakulasi, penurunan konsentrasi sperma, jumlah total sperma yang lebih sedikit, motilitas (kemampuan bergerak) yang menurun, penurunan motilitas progresif (kemampuan berenang ke arah yang benar), dan juga bentuk sperma normal yang berkurang.
Paparan suhu tinggi juga dikaitkan dengan penurunan aktivitas mitokondria dan adenosin trifosfat (ATP), yang krusial bagi gerakan sperma.
Ketahui apa saja Sumber Panas yang Berdampak pada Kualitas Sperma
Jadi bukan berarti panas itu karena cuaca ya! karena selain perubahan iklim, peningkatan suhu testis juga bisa dipicu oleh duduk terlalu lama, penggunaan pakaian dalam yang terlalu ketat, sauna atau mandi air panas secara rutin, menaruh laptop di pangkuan dalam waktu lama, dan juga bekerja di lingkungan bersuhu tinggi seperti pabrik atau dapur. Bahkan pemanasan lokal sederhana seperti penggunaan sabuk pemanas bisa memengaruhi morfologi dan DNA sperma.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Bagi sister dan paksu yang sedang dalam program kehamilan, menjaga suhu testis tetap optimal bisa dilakukan dengan, Menghindari paparan panas berlebih, Menggunakan pakaian dalam yang longgar dan sejuk, Mengurangi aktivitas seperti sauna, mandi air panas, atau memangku laptop, Konsultasi dengan dokter jika lingkungan kerja terpapar suhu tinggi secara rutin. Karena mungkin paksu membutuhkan suplemen.
Pada akhirnya semua masalah masih harus diperiksa lebih lanjut karena hasil yang bervariasi ini biasanya dipengaruhi oleh perbedaan durasi paparan, suhu yang digunakan, dan kondisi tubuh masing-masing partisipan. Meski begitu, bukti yang MDG jabarkan diatas menunjukkan bahwa suhu tinggi tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Sehingga mengenali faktor-faktor yang memengaruhi kesuburan paksu menjadi langkah awal yang penting. Karena perubahan kecil dalam gaya hidup bisa memberi dampak besar terhadap kualitas sperma dan peluang kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu bisa follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
Hoang-Thi, A. P., Dang-Thi, A. T., Phan-Van, S., Nguyen-Ba, T., Truong-Thi, P. L., Le-Minh, T., … & Nguyen-Thanh, T. (2022). The impact of high ambient temperature on human sperm parameters: a meta-analysis. Iranian Journal of Public Health, 51(4), 710.