Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Selama ini, banyak yang mengira kalau sperma dalam satu ejakulasi itu seragam semuanya berenang bareng, bentuknya mirip, dan punya tujuan yang sama: membuahi sel telur. Tapi pandangan itu ternyata sudah lama ditinggalkan. Dunia ilmu pengetahuan sekarang tahu, di balik satu tetes cairan ejakulasi, tersembunyi keragaman yang luar biasa. Bukan cuma sekadar ada sperma yang bagus dan sperma yang rusak. Tapi bahkan sperma yang tampaknya “normal” pun ternyata punya keunikan masing-masing. Hal tersebut disebut sebagai subpopulasi sperma mulai dikenal.
Keragaman Sperma dalam Ejakulasi
Para peneliti sejak akhir tahun 1970-an mulai menyadari bahwa sperma tidak bisa dianggap sebagai kelompok yang homogen. Bahkan dalam satu sampel yang tampak sehat, ada perbedaan yang signifikan antar sperma mulai dari cara mereka bergerak, cara mereka menggunakan energi, hingga kandungan molekul di dalamnya. Misalnya, ada sperma yang lebih aktif karena mitokondrianya bekerja lebih efisien, sementara yang lain punya cadangan energi berbeda.
Ada juga sperma yang sudah mengalami perubahan fisiologis yang membuatnya siap membuahi sel telur (disebut sudah mengalami kapasitasi), sementara yang lain belum siap. Bahkan komposisi membran luar sperma, saluran ion, dan protein yang menempel pun bisa berbeda-beda. Ini artinya, dua sperma yang tampak sama di mikroskop, belum tentu punya potensi yang sama secara fungsional. Wah bisa begitu ya? menarik ngga si paksu?
Pentingnya Memahami Subpopulasi Sperma
Mengapa penting untuk memahami adanya subpopulasi ini? jadi ternyata dalam konteks fertilitas, terutama dalam program bayi tabung atau teknologi reproduksi berbantu lainnya, kita tidak cukup hanya menilai sperma dari jumlah, bentuk, atau geraknya saja. Bisa jadi, jumlahnya banyak dan bentuknya normal, tapi sebagian besar berasal dari subpopulasi yang kurang efisien dalam membuahi sel telur.
Di sisi lain, ada kelompok kecil sperma yang punya kualitas molekuler tinggi dan peluang lebih besar untuk berhasil. Maka, dengan mengenali karakter tiap subpopulasi, kita bisa lebih cermat memilih sperma terbaik untuk proses pembuahan. Lalu dengan apa ini dapat dideteksi?
Teknologi untuk Mengidentifikasi Subpopulasi Sperma
Untuk mengidentifikasi subpopulasi ini, para ilmuwan kini menggunakan teknologi canggih. Salah satunya adalah analisis berbasis komputer yang bisa membaca pola gerak dan bentuk sperma secara otomatis dari ratusan hingga ribuan sel sekaligus. Selain itu, ada juga analisis molekuler dan sitometri alir yang memungkinkan kita melihat kandungan protein, RNA, atau bahkan tingkat fragmentasi DNA di dalam sperma satu per satu. Semakin berkembang teknologinya, semakin detail kita bisa memetakan “karakter” setiap sperma.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sausa yang menemukan subpopulasi sperma dengan mitokondria aktif misalnya memiliki kualitas lebih baik dan banyak yang utuh, lebih sedikit kerusakan kromatin, dan lebih mampu berpartisipasi dalam perkembangan awal. Metode penyortiran berdasarkan aktivitas mitokondria terbukti lebih efektif dibandingkan metode klasik. Aktivitas mitokondria dapat dijadikan indikator yang kuat untuk menilai fungsionalitas sperma manusia.
Hal tersebut menunjukkan bahwa di dalam sperma ada kompetisi, keragaman, dan bahkan kerja sama antar subpopulasi yang membuat proses pembuahan menjadi kompleks. Dan dengan mengenal subpopulasi sperma ini lebih jauh, sister dan paksu sedang membuka pintu baru dalam pemahaman tentang kesuburan terutama pada paksu.
Referensi
- Martínez-Pastor, F. (2022). What is the importance of sperm subpopulations?. Animal Reproduction Science, 246, 106844.
- Sousa, A. P., Amaral, A., Baptista, M., Tavares, R., Caballero Campo, P., Caballero Peregrin, P., … & Ramalho-Santos, J. (2011). Not all sperm are equal: functional mitochondria characterize a subpopulation of human sperm with better fertilization potential. PloS one, 6(3), e18112.

Sister dan paksu, siapa di sini yang lagi ngikutin drama Korea Resident Playbook?
Yes, ini adalah spin-off dari serial hits Hospital Playlist, tapi dengan nuansa yang lebih fokus ke satu departemen: obstetri dan ginekologi, alias obgyn. Berlatar di Rumah Sakit Yulje cabang Jongno, drama ini mengangkat kehidupan para dokter residen yang bergelut setiap hari dengan pasien-pasien perempuan, kelahiran, dan… perjuangan mendapatkan dua garis
Tapi sebelum kita lanjut, yuk kenalan dulu dengan istilah “ginekologi”.
Ginekologi adalah cabang ilmu kedokteran yang fokus pada kesehatan reproduksi perempuan mulai dari organ reproduksi, fungsi hormonal, hingga berbagai masalah seperti gangguan menstruasi, kehamilan, persalinan, sampai infertilitas dan kanker reproduksi. Intinya, ginekologi itu soal memahami tubuh perempuan secara menyeluruh dan mendalam.
Nah, drama Resident Playbook ini menyajikan semua itu dalam bentuk cerita yang menyentuh hati, termasuk perjuangan pasien-pasien yang berhadapan dengan infertilitas.
Oh Joo-young dan Perjuangan Dua Garis
Di Episode 6, ada satu adegan yang rasanya sulit dilupakan Oh Joo-young, salah satu karakter yang diam-diam mengikuti program IVF, harus menerima kenyataan pahit: embrionya tidak bertahan. Bukan di rumah, bukan di pelukan siapapun, tapi di tengah KRL, sendirian. Dunia tetap bergerak, kereta tetap melaju, tapi dunianya seolah berhenti. Suasana sunyi dan ekspresi kosong Joo-young menyampaikan luka yang lebih tajam dari seribu kata.
Adegan ini bukan cuma menyentuh, tapi juga mewakili suara banyak perempuan yang diam-diam memendam harapan, lalu menelan kecewa. Perjuangan mendapatkan dua garis itu bukan sekadar medis. Ini juga soal mental, emosi, dan kekuatan untuk tetap berdiri meski gagal lagi dan lagi. Dan di sini, drama ini menyampaikannya dengan cara yang realistis, empatik, dan nggak lebay.
Lahir Tapi Kehilangan: Ketika Organ Bayi Belum Sempurna
Nggak berhenti sampai disitu, Resident Playbook juga menunjukkan sisi lain dari dunia obgyn yang seringkali luput dari cerita-cerita mainstream: ada pasien yang berhasil melahirkan, tapi bayinya lahir dengan organ yang belum terbentuk sempurna.
Tangis bahagia berubah jadi ketegangan. Drama ini bikin kita sadar bahwa hamil dan melahirkan bukan sekadar “proses alami” aja, tapi juga penuh risiko dan ketidakpastian. Dan buat para dokter, ini bukan cuma kasus medis, tapi juga kisah kemanusiaan yang harus mereka tangani dengan kepala dingin dan hati yang hangat.
Dengan alur yang ringan tapi penuh makna, drama ini berhasil bikin kita belajar banyak hal bukan cuma soal medis, tapi juga tentang empati, keteguhan hati, dan pentingnya dukungan orang sekitar. Cocok banget buat sister dan paksu yang ingin menonton drama yang menghibur tapi juga membuka wawasan.
Gimana? Tertarik buat nonton bareng sambil malam mingguan? Resident Playbook tayang mulai 12 April sampai 18 Mei 2025, dan masih ongoing! Jangan lupa juga follow Instagram @menujuduagaris.id untuk info dan obrolan menarik lainnya seputar ginekologi dan perjuangan para pejuang dua garis.
Referensi

Infertilitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi sekitar 15% pasangan di seluruh dunia, dan salah satu penyebab utama infertilitas pada perempuan adalah Insufisiensi Ovarium Primer (POI). POI terjadi ketika ovarium berhenti berfungsi sebelum usia 40 tahun, dan ini memengaruhi 1–3,7% wanita. Penyebabnya beragam kelainan genetik, autoimun, pengobatan Medis seperti Terapi radiasi atau kemoterapi,
faktor lingkungan dan infeksi virus.
Salah satu dampak utama dari POI adalah infertilitas permanen, di mana wanita tersebut tidak bisa hamil secara alami. Selain infertilitas, POI juga berhubungan dengan masalah kesehatan serius lainnya, seperti osteoporosis, penyakit jantung, dan bahkan gangguan neurologis. Jika sister dan paksu penasaran apa penyebab dari penyebab ini, sayangnya dalam penelitian pun masih belum jelas penyebabnya. Tapi setidaknya kita dapat berfokus pada solusi apa yang kira-kira ditawarkan! baca lebih lanjut yuk!
Pahami Peran Genetika dalam Diagnosis POI
Bayangkan jika misteri gangguan kesuburan bisa dipecahkan lewat jejak genetik dalam tubuh kita, itulah yang ditemukan para peneliti dalam studi besar melibatkan 375 pasien dan 70 keluarga dengan insufisiensi ovarium primer (POI). Dengan teknologi Whole Exome Sequencing (WES) dan panel genetik, mereka menelusuri mutasi pada gen-gen yang berperan dalam fungsi ovarium. Hasilnya cukup mengejutkan: hampir sepertiga kasus 29,3% akhirnya memperoleh diagnosis yang jelas. Temuan ini memberi harapan baru, bahwa pendekatan genetika tak hanya membantu memahami penyebab POI, tapi juga membuka peluang untuk penanganan yang lebih personal dan tepat sasaran.
Genetika ini tidak hanya memberi kita wawasan baru mengenai penyebab POI, tetapi juga membuka jalan untuk pengobatan yang lebih dipersonalisasi. Misalnya, dengan mengetahui mutasi genetik tertentu, pengobatan bisa disesuaikan untuk meningkatkan peluang kehamilan pada pasien yang mengalami POI.
Genetik POI dan Infertilitas
Dalam studi ini, peneliti mengidentifikasi beberapa gen baru yang terlibat dalam POI yang sebelumnya belum diketahui, serta mengkonfirmasi peran gen lain yang sudah dilaporkan sebelumnya. Salah satu temuan yang menarik adalah bahwa gangguan pada gen perbaikan DNA dan mitosis dapat berhubungan dengan kerentanan terhadap kanker—yang menunjukkan bahwa pasien POI berisiko mengalami komplikasi lebih lanjut di luar masalah kesuburan.
Selain itu, sekitar 35,4% kasus POI berhubungan dengan gangguan pada gen yang berperan dalam pertumbuhan folikel. Hal ini penting dalam konteks pengobatan infertilitas, karena aktivasi folikel in vitro sebuah teknik yang berpotensi untuk membantu pasien POI hamil dapat lebih efektif jika didasarkan pada pemahaman genetik yang lebih dalam.
Proses yang disebutkan diatas adalah salah satu upaya dalam personalisasi kasus, dimana diagnosis genetik ternyata dapat membantu menentukan pasien yang berpotensi berhasil dengan teknik aktivasi folikel in vitro. Dengan mengetahui cadangan ovarium residual melalui pendekatan genetika, dokter dapat merancang terapi yang lebih efektif untuk meningkatkan kesuburan pasien.
Selain itu, pendekatan ini juga memperkenalkan kemungkinan pengobatan yang lebih efektif dengan menargetkan jalur molekuler tertentu yang terlibat dalam POI. Salah satu jalur baru yang ditemukan terkait dengan imunitas dan regulasi gen, yang bisa menjadi target terapi di masa depan.
Jadi pada sister dan paksu yang dihadapkan dengan masalah ini, ingat bahwa infertilitas bukan hanya soal kesulitan hamil, tetapi juga merupakan masalah yang memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan jangka panjang. Jika ada kasus yang sedang kalian hadapi apalagi seperti POI maka segera berkonsultasi ke dokter, dan melihat apakah ada solusi yang tepat. Informasi menarik lainnya dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Heddar, A., Ogur, C., Da Costa, S., Braham, I., Billaud-Rist, L., Findikli, N., … & Misrahi, M. (2022). Genetic landscape of a large cohort of Primary Ovarian Insufficiency: New genes and pathways and implications for personalized medicine. EBioMedicine, 84.
- https://www.morulaivf.co.id/id/blog/primary-ovarian-insufficiency/

Pada hari Rabu, 30 April, pukul 19.30, Menuju Dua Garis kembali hadir menyapa sister dan paksu melalui sesi Live Instagram. Acara ini dipandu oleh Mizz Rosie, founder MDG, bersama Dr. Pandian Ram dari Ramfertility.
Sesi kali ini sangat menarik karena menghadirkan kisah inspiratif dari salah satu pasien Dr. Pandian Ram, yang berhasil menjalani IVF setelah 8 kali gagal. Pasien tersebut adalah Sister Iin Edrawati, yang akhirnya berhasil hamil di usia 45 tahun, meskipun memiliki AMH yang sangat rendah. Setelah banyak perjuangan, mereka akhirnya menjalani program bersama Dr. Pandian Ram.
Apa yang membuat proses ini berbeda?
Sister Iin menceritakan bahwa, secara emosional, dia sudah sangat semangat untuk berjuang. Yang membuatnya memutuskan untuk melakukan IVF dengan Dr. Ram adalah respons positif dan kenyamanan yang diberikan oleh dokter, yang membangun rasa percaya dan keyakinan bahwa ini adalah proses yang tepat. Dr. Pandian Ram membrikan anjuran untuk melakukan persiapan selama 6 bulan sebelum melakukan IVF, dengan pendekatan yang meliputi pola hidup sehat, olahraga, suplemen, hingga akupuntur. Hingga akhirnya sister Iin dan pasangan merasa bahwa persiapan mereka sangat matang. Dr. Pandian Ram juga membagi dosis obat hormon secara personal sesuai dengan kondisi sister Iin.
Pada proses live akhirnya dilakukan tanya jawab dengan sister PDG lainnya, pertanyaan yang diajukan beragam yang memperlihatkan bagaimana mereka sangat antusias dengan pertanyaan yang lebih spesifik mengenai pemilihan protokol IVF, seperti apakah menggunakan short atau long protocol. Dr. Ram menjelaskan bahwa ia sudah meninggalkan long protocol dan berfokus pada short protocol. Juga peratnyaan seputar Low AMH dengan FSH dan LH. Menurut Dr. Ram, jika AMH rendah, tetapi FSH dan LH normal, maka program IVF tetap bisa dilanjutkan. Namun, jika LH rendah dan FSH tinggi, ini menandakan menopause, yang berarti program IVF tidak dapat dilakukan.
Meskipun sempat mengalami 8 kali kegagalan, sister Iin meyakini bahwa keberhasilan IVF yang ke-9 ini adalah sebuah mukjizat, setelah berjuang keras bersama suami selama 23 tahun pernikahan. MDG melihat perjuangan yang tiada akhir ini, dan percaya bahwa tidak ada usaha yang sia-sia dalam perjalanan menuju dua garis.
Menuju Dua Garis yakin, bagi sister dan paksu yang sedang berjuang, tidak ada kata menyerah. Akan ada hari yang indah yang bisa kalian rasakan bersama. Ingat, menjaga tubuh dan kesehatan reproduksi sangat berkaitan, dan semuanya demi tubuh yang sehat.
Untuk informasi lebih lanjut dan konten menarik lainnya, jangan lupa follow Instagram kami di @menujuduagaris.id!

Pada beberapa kasus infertilitas, sister dan paksu terkadang juga dihadapkan dengan perjalanan pejuang dua garis dengan memerlukan serangkaian siklus teknologi reproduksi berbantuan (ART) seperti fertilisasi in vitro (IVF). Siklus ART ini bukan hanya kompleks secara teknis, tetapi juga sangat bergantung pada keputusan-keputusan klinis yang bersifat subjektif sering kali ditentukan oleh pengalaman individual dokter dan embriolog. Lalu kira-kira apakah ada solusi lain selain perspektif medis?
Kompleksitas ART dan Ketergantungan pada Pengalaman Klinis
Dalam praktiknya, proses ART melibatkan berbagai tahap kritis, mulai dari pemilihan dan pemberian dosis obat, pemantauan siklus ovulasi, hingga pemilihan gamet dan embrio. Keputusan pada tiap tahap ini biasanya dipengaruhi oleh karakteristik pasien, respons pengobatan sebelumnya, serta pemantauan kondisi pasien secara berkelanjutan. Namun, pengambilan keputusan ini sering kali bersifat subjektif dan tidak seragam, karena sangat bergantung pada pengetahuan serta intuisi tenaga medis yang menangani.
Akibatnya, hasil ART bisa sangat bervariasi antara satu pasien dengan yang lain, bahkan pada kondisi medis yang serupa. Inilah yang kemudian melahirkan istilah bahwa “ART adalah seni” karena keberhasilannya kerap kali tidak bisa diprediksi secara pasti dan tidak selalu dapat direproduksi kembali dengan hasil yang sama. Wah lalu bagaimana bisa ART ini bisa di personalisasi?
Potensi Kecerdasan Buatan dalam ART
Artificial Intelligence (AI) sebagai alat yang digunakan untuk meningkatkan objektivitas dan efisiensi dalam praktik ART. AI memiliki kemampuan luar biasa dalam mengelola, memproses, dan menganalisis data berukuran besar dan kompleks, seperti yang dihasilkan dari jutaan siklus IVF setiap tahun.
Bagaimana AI Bekerja dalam Konteks ART?
Tentu saja AI dalam ART tidak berdiri sendiri sister, karena Ia mencakup berbagai teknologi seperti machine learning (ML), visi komputer, dan robotika. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah machine learning, yang terbagi menjadi beberapa tipe:
- Pembelajaran Terbimbing (Supervised Learning)
Di sini, data diberi label masukan dan keluaran (misalnya: data pasien dan hasil kehamilan), sehingga model dapat “belajar” dari hubungan keduanya dan memprediksi hasil baru di masa depan. - Pembelajaran Tak Terbimbing (Unsupervised Learning)
Cocok untuk memahami pola dalam data yang tidak memiliki label, misalnya untuk mengelompokkan pasien berdasarkan respons biologis yang mirip. - Pembelajaran Penguatan (Reinforcement Learning)
Model dilatih untuk mengambil keputusan dalam suatu “lingkungan” dan mendapatkan reward atas tindakan yang paling efektif misalnya, dalam simulasi skenario ART.
Fakta yang perlu sister dan paksu tahu bahwa AI nggak akan pernah bisa menggantikan peran dokter atau embriolog, ya. Kehadiran AI justru untuk melengkapi dan memperkuat keputusan medis, karena didasarkan pada data yang kuat dan objektif.
Jadi, bukan berarti AI itu menggantikan tenaga medis, tapi melalui sinergi antara pengalaman klinis dan kekuatan pemrosesan AI, masa depan teknologi reproduksi berbantu (ART) diproyeksikan akan menjadi lebih personal, efisien, dan bisa direproduksi. Ini tentu membuka peluang lebih besar bagi pasangan infertil untuk mewujudkan mimpi mereka memiliki buah hati. Informasi menarik lainnya dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Hanassab, S., Abbara, A., Yeung, A. C., Voliotis, M., Tsaneva-Atanasova, K., Kelsey, T. W., … & Dhillo, W. S. The prospect of artificial intelligence to personalize assisted reproductive technology. npj Digit. Med. 7 (1): 2024: 55.

Sister, pernah dengar tentang kegagalan ovarium prematur atau yang biasa disebut Premature Ovarian Failure (POF)? Nah ini adalah kondisi ketika ovarium berhenti berfungsi sebelum usia 40 tahun. Gejalanya biasanya berupa amenore atau tidak menstruasi, hipoestrogenisme atau kadar hormon estrogen yang rendah, dan peningkatan kadar gonadotropin dalam darah. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab umum infertilitas pada wanita muda. POF bukan hanya soal tidak adanya haid, tapi juga sinyal bahwa fungsi reproduksi terganggu lebih awal dari yang seharusnya. Wah kira-kira apa penyebabnya? pahami lebih lanjut yuk!
Penyebab Kegagalan Ovarium Prematur: Bukan Cuma Soal Usia, Sister
Kegagalan ovarium prematur alias POF (Premature Ovarian Failure) itu nggak cuma soal “tua sebelum waktunya”. Banyak faktor yang bisa jadi penyebabnya, dan beberapa di antaranya cukup serius. Yuk kita bahas satu per satu.
Pertama ada kelainan kromosom, contohnya sindrom Turner (45X) atau variannya yang sering disebut “mosaik Turner”. Kondisi ini bisa bikin ovarium nggak berkembang dengan baik sejak awal. Kedua adalah Kerusakan ovarium akibat pengobatan atau operasi seperti kemoterapi, radiasi, atau operasi di sekitar area panggul, ada kemungkinan ovarium kamu ikut terdampak.
Ketiga, ada Premutasi Gen FMR1 – Gen Terkait Sindrom Fragile X Gen ini penting banget karena berperan dalam perkembangan saraf. Kalau ada premutasi (55–200 pengulangan CGG), sekitar 20% wanita bisa mengalami kegagalan ovarium prematur. Premutasi ini sering ditemukan pada kasus POF sporadis (yang nggak diturunkan secara genetik), dan bisa mencapai 13% pada kasus familial. Walau belum jelas gimana mekanismenya, kemungkinan besar ada dua skenario yaitu jumlah sel telur memang lebih sedikit sejak awal, atau sel telurnya habis lebih cepat dari seharusnya.
Keempat adalah penyebab autoimun bagaimana sistem kekebalan tubuh kita bisa “salah target” dan menyerang jaringan sendiri, termasuk ovarium. POF karena autoimun ini juga sering dikaitkan dengan gangguan di organ endokrin lain, seperti tiroid, adrenal, dan paratiroid. Itulah kenapa skrining untuk penyakit autoimun jadi penting kalau ada gejala atau riwayat POF.
Gejala yang Muncul saat POF
- Menstruasi makin jarang atau berhenti sama sekali
- Hot flashes
- Keringat malam
- Vagina jadi lebih kering dan tipis
Bagaimana Penanganannya?
Karena POF biasanya disebabkan oleh hilangnya cadangan sel telur, saat ini belum ada pengobatan yang bisa “balikin” fungsi ovarium seperti semula. Tapi, beberapa hal masih bisa dilakukan:
- Terapi hormon estrogen/progestin bisa membantu melindungi tulang dan mengurangi gejala akibat kekurangan estrogen.
- Donasi sel telur lewat fertilisasi in vitro (IVF) jadi salah satu opsi paling efektif untuk hamil, dengan tingkat keberhasilan sekitar 75% per percobaan.
- Walau langka, beberapa wanita tetap bisa hamil secara spontan, terutama kalau sedang menjalani terapi hormon. Studi menunjukkan sekitar 5–10% wanita dengan POF akhirnya bisa hamil tanpa bantuan dokter kesuburan.
Bahkan temuan oleh Castillo dkk, 2021 menemukan penyebab POF masih banyak yang belum bisa dijelaskan, perkembangan teknologi seperti Whole Exome Sequencing (WES) dan machine learning memberi harapan baru. Lewat pendekatan ini, ilmuwan mulai menemukan pola genetik tersembunyi yang sebelumnya sulit dikenali, termasuk varian langka yang mungkin berperan dalam kegagalan ovarium. Bahkan, kemampuan machine learning mengelompokkan pasien ke dalam subtipe tertentu membuka peluang untuk memahami karakteristik POF secara lebih personal.
Harapannya, langkah-langkah ini bisa menjadi fondasi untuk diagnosis yang lebih tepat, serta pengembangan terapi yang lebih terarah di masa depan. Cara ini tentu lebih personal dengan mengenali pola genetik dari berbagai macam kemungkinan yang ada. Meski demikian perlu pengawasan dokter yang menangani sister dan paksu ya. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Chapman, C., Cree, L., & Shelling, A. N. (2015). The genetics of premature ovarian failure: current perspectives. International journal of women’s health, 799-810.
- Henarejos-Castillo, I., Aleman, A., Martinez-Montoro, B., Gracia-Aznárez, F. J., Sebastian-Leon, P., Romeu, M., … & Diaz-Gimeno, P. (2021). Machine learning-based approach highlights the use of a genomic variant profile for precision medicine in ovarian failure. Journal of Personalized Medicine, 11(7), 609.
- https://www.advancedfertility.com/patient-education/causes-of-infertility/premature-ovarian-failure

Kalau kita bicara soal program bayi tabung atau IVF (In Vitro Fertilization), salah satu langkah penting yang harus dilalui adalah proses pematangan sel telur (oosit). Sister dan paksu yang sedang menjalani program IVF pasti sudah familiar dimana dokter biasanya menggunakan suntikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (hCG) untuk membantu sel telur matang sempurna dan siap dibuahi. hCG ini bekerja meniru lonjakan alami hormon LH (Luteinizing Hormone) dalam tubuh, yang normalnya terjadi saat masa subur.
Tapi, seiring berkembangnya ilmu kedokteran, ditemukan bahwa penggunaan hCG saja punya risiko, salah satunya adalah meningkatkan kemungkinan terjadinya OHSS (Ovarian Hyperstimulation Syndrome) dan ternyata kondisi berbahaya akibat ovarium yang terlalu bereaksi terhadap obat.
Wah lalu Langkah Selanjutnya Bagaimana? Baca Sampai Habis Yuk!
Sebagai alternatif, digunakanlah pemicu lain, yaitu agonis GnRH (GnRHa). Ini adalah hormon yang bisa mendorong pelepasan LH dan FSH secara alami dari tubuh, membuat prosesnya lebih mirip dengan mekanisme normal. Namun, penggunaan GnRHa tunggal ternyata punya kekurangan: korpus luteum (bagian ovarium yang penting untuk mempertahankan kehamilan awal) menjadi kurang optimal, sehingga peluang embrio menempel di rahim bisa menurun. Dari situ, muncullah ide baru yaitu melalui Dual Trigger.
Apa itu Dual Trigger?
Dual trigger adalah kombinasi antara suntikan GnRHa dan hCG dalam satu waktu. Tujuannya adalah mengambil manfaat terbaik dari keduanya: menjaga keamanan dengan mengurangi risiko OHSS (berkat efek GnRHa) sekaligus tetap menjaga kondisi rahim dan mendukung keberhasilan implantasi embrio (berkat bantuan hCG).
Bagaimana Cara Kerjanya?
Dalam tubuh normal, menjelang ovulasi, terjadi lonjakan besar hormon LH dan sedikit FSH. Kedua hormon ini berperan mematangkan sel telur dan mempersiapkan tubuh untuk kehamilan. Kalau hanya menggunakan hCG, tubuh tidak mendapatkan lonjakan FSH yang alami itu. Sementara dengan GnRHa, lonjakan FSH bisa terjadi, tapi karena efeknya cepat hilang, korpus luteum kurang stabil.
Dengan dual trigger, tubuh mendapatkan lonjakan LH dan FSH alami dari GnRHa, ditambah dukungan stabil dari hCG untuk mempertahankan kondisi ideal setelah ovulasi. Kombinasi ini membuat peluang keberhasilan IVF meningkat, apalagi untuk pasien yang sebelumnya sulit mendapatkan sel telur matang atau yang respons tubuhnya terhadap pemicu biasa kurang optimal.
Siapa yang Cocok Menggunakan Dual Trigger?
Metode ini terutama disarankan untuk pasien yang sebelumnya mengalami jumlah sel telur matang rendah. Pasien yang respons tubuhnya kurang bagus terhadap pemicu standar.
dan Pasien dengan risiko sedang hingga tinggi untuk mengalami OHSS, namun tetap ingin melakukan transfer embrio segar. Dengan dual trigger, pasien-pasien ini memiliki peluang lebih baik untuk mendapatkan jumlah sel telur matang yang cukup, kualitas embrio yang bagus, dan tentu saja meningkatkan kemungkinan kehamilan.
Teknik dual trigger menjadi salah satu inovasi penting dalam dunia IVF. Dengan memadukan kelebihan dua jenis hormon, metode ini menawarkan pendekatan yang lebih alami dan seimbang, sekaligus membantu mengurangi risiko komplikasi. Jadi, kalau sister dan paksu yang sedang mempertimbangkan program IVF, tidak ada salahnya berdiskusi dengan dokter tentang kemungkinan menggunakan dual trigger sebagai bagian dari strategi menuju kehamilan yang sukses. Untuk informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
- Victoria Antoniou, E. M. J. (2024). Does Dual and/or Double Trigger Improve In Vitro Fertilisation Success?. Reproductive Health.
- https://hellosehat.com/kehamilan/kesuburan/hormon-gnrh/

Endometriosis adalah penyakit ginekologi inflamasi yang sangat bergantung pada hormon, umumnya dialami oleh perempuan usia reproduksi. Penyakit ini secara klinis dan patologis ditandai dengan tumbuhnya jaringan endometrium, yang seharusnya hanya ada di dalam rongga rahim, di luar tempat yang seharusnya. Endometrium berfungsi sebagai tempat menempel dan berkembangnya sel telur yang telah dibuahi.
Namun, pada kasus endometriosis, jaringan ini tumbuh di luar rongga rahim, menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Salah satunya adalah mempengaruhi infertilitas, MDG akan membahas lebih lanjut, baca sampai habis ya!
Pengaruhnya Endometriosis pada Kesuburan
Endometriosis dapat mempengaruhi kesuburan dengan beberapa cara, yaitu kelainan anatomi panggul, adhesi, bekas luka saluran tuba, radang struktur panggul, perubahan fungsi sistem kekebalan, perubahan lingkungan hormonal telur, gangguan implantasi kehamilan, dan kualitas telur yang berubah.
Karena dampaknya yang signifikan, baik secara individu maupun publik, penting untuk memahami patogenesis endometriosis dengan lebih baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah paparan bahan kimia.
Ketahui Peran environmental endocrine-disrupting chemicals (EDC) dalam Patogenesis Endometriosis
Salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi perkembangan endometriosis adalah paparan bahan kimia pengganggu endokrin. Ia merupakan agen eksogen yang dapat mengganggu berbagai proses hormonal dalam tubuh, mulai dari sintesis, sekresi, hingga pensinyalan hormon yang memengaruhi homeostasis dan proses reproduksi.
Beberapa bahan kimia ini diantaranya adalah poliklorinasi bifenil (PCB), dioksin (TCDD), bisfenol A (BPA), dan ftalat banyak ditemukan dalam berbagai produk sehari-hari. PCB digunakan dalam peralatan listrik dan cairan pendingin, meskipun sudah dilarang, masih ada di lingkungan. Dioksin sering terbentuk dalam proses industri seperti pembakaran sampah dan pengolahan kimia. BPA terdapat pada plastik keras, botol, wadah makanan, dan lapisan kaleng, sementara ftalat digunakan sebagai bahan pengikat dalam plastik, serta ditemukan dalam produk seperti mainan anak-anak, kosmetik, dan kemasan makanan. Bahan kimia ini dapat terakumulasi dalam tubuh dan berdampak negatif pada kesehatan, termasuk memengaruhi patogenesis endometriosis
Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan Arosh, 2023 melalui Data epidemiologi dan eksperimen menunjukkan bahwa paparan terhadap EDC ini, baik secara individu atau kolektif, berkontribusi pada patofisiologi endometriosis. Bahan kimia ini mengganggu berbagai jalur pensinyalan intraseluler yang berhubungan dengan proinflamasi, estrogen, progesteron, kelangsungan hidup sel, migrasi, invasi, dan pertumbuhan jaringan endometriosis itu sendiri.
Meski terapi anti-estrogen bisa membantu mengatasi endometriosis, terapi ini hanya efektif dalam jangka waktu terbatas dan sering kali tidak dapat mencegah kekambuhan penyakit. Oleh karena itu, pemahaman lebih dalam tentang mekanisme molekuler yang terjadi pada endometriosis, terutama yang melibatkan EDC, sangat dibutuhkan. Untuk itu sister dapat mulai menciptakan langkah untuk mengurangi paparan terhadap EDC pada perempuan usia reproduksi, agar dapat mencegah atau setidaknya mengurangi dampak buruknya terhadap kesehatan reproduksi.
Referensi
- Dutta, S., Banu, S. K., & Arosh, J. A. (2023). Endocrine disruptors and endometriosis. Reproductive Toxicology, 115, 56-73.
- https://www.halodoc.com/artikel/benarkah-endometriosis-pengaruhi-kesuburan