Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis
![]()
Tahukah sister dan paksu bahwa Women’s reproductive, maternal, newborn, child, and adolescent health (RMNCAH) merupakan pondasi penting bagi perkembangan generasi mendatang yang sehat. Dilain sisi RMNCAH juga menjadi pendorong utama bagi kemajuan populasi dan masyarakat di masa depan. Hal ini semakin krusial di tengah tantangan kesehatan reproduksi dan angka kelahiran yang terus berubah di berbagai negara. Yuk pahami lebih lanjut!
Pencapaian dan Tantangan Global dalam RMNCAH
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak negara telah mencatat pencapaian luar biasa dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak. Kemajuan ini menunjukkan komitmen global dalam mencapai tujuan pembangunan yang berfokus pada kesehatan masyarakat. Namun, seiring dengan perkembangan pesat dalam berbagai sektor, tantangan baru terus muncul dalam upaya meningkatkan RMNCAH secara lebih komprehensif.
Faktor Penyebab Tantangan RMNCAH
Tantangan tersebut muncul akibat perubahan sosial dan ekonomi yang cepat serta dampak dari dinamika demografi, gaya hidup, lingkungan, dan perkembangan teknologi medis. Selain itu, ancaman penyakit menular baru, seperti COVID-19, semakin memperumit upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Belum lagi ekosistem yang ada di era sekarang, juga gaya hidup yang kadang tidak diperhatikan. Pembahasan ini secara menarik dibahas oleh the lancet salah satu ruang publikasi yang membahas tentang kesehatan.
Bagi pejuang dua garis, tantangan dalam mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi yang berkualitas juga menjadi perhatian utama. Mulai dari edukasi mengenai kesuburan, pemeriksaan kesehatan prakonsepsi, hingga layanan medis yang merata dan terjangkau, semuanya menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kehamilan yang sehat dan aman.
Langkah Menuju RMNCAH yang Inklusif
Periode saat ini menjadi fase yang sangat penting bagi berbagai negara dalam mencapai cakupan universal RMNCAH. Hal ini mencakup akses yang lebih luas terhadap layanan kesehatan berkualitas serta peningkatan pemerataan layanan bagi seluruh masyarakat. Untuk itu, strategi yang tepat diperlukan guna memastikan bahwa seluruh kelompok populasi, termasuk pejuang dua garis, mendapatkan perlindungan kesehatan yang optimal.
Sebagai bagian dari upaya ini, diperlukan komitmen dari berbagai pihak untuk meninjau terutama di Indonesia untuk melihat apa yang akan terjadi untuk tantangan dimasa yang akan datang, juga diperlukan menganalisis tantangan saat ini, dan menetapkan prioritas langkah ke depan. Dengan pendekatan berbasis data dan kebijakan yang tepat, diharapkan setiap pasangan yang berjuang mendapatkan keturunan dapat memperoleh dukungan yang lebih baik, sehingga generasi mendatang dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih sehat dan sejahtera. Pembahasan mengenai Women’s reproductive, maternal, newborn, child, and adolescent health, akan MDG bahas lebih spesifik dalam artikel-artikel lainnya. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
Qiao, J., Wang, Y., Li, X., Jiang, F., Zhang, Y., Ma, J., … & Hesketh, T. (2021). A Lancet Commission on 70 years of women’s reproductive, maternal, newborn, child, and adolescent health in China. The Lancet, 397(10293), 2497-2536.

Sister, pernah dengar kalau IMT atau indeks massa tubuh bisa mempengaruhi peluang keberhasilan program bayi tabung? Bahkan salah di negara lain seperti di Inggris, layanan fertilitas yang didanai publik punya aturan ketat soal siapa yang bisa mendapatkan perawatan lewat NHS. Salah satu syaratnya adalah IMT, yang diterapkan baik di sektor publik maupun swasta.
Bahkan ada sebuah temuan dari Supramaniam, 2018 yang turut ini membahas bagaimana peningkatan IMT berdampak pada hasil perawatan fertilitas. Studi tersebut turut menyertakan data dengan kriteria IMT WHO, yang jadi referensi utama bagi dokter dan pihak komisioning klinis dalam menentukan siapa yang bisa menerima perawatan. Bahkan dalam penelitian ini menjadi pembaruan dari tinjauan sistematis yang sudah dilakukan sebelum-sebelumnya dengan tambahan data besar dari Society for Assisted Reproductive Technology (SART). Baca lebih lanjut yuk!
BMI dan Tingkat Keberhasilan ART
ART dan kesehatan tubuh sangat memiliki pengaruh satu dengan lain mengapa? karena tentu saja proses yang ada pada ART seperti IVF membutuhkan tubuh yang sehat agar memperlancar mulai dari proses ovulasi hingga transfer embrio. Tubuh sehat juga berdampak kepada yang lain salah satunya kehidupan yang lebih panjang
Hal ini ditemukan dari sebuah 49 studi yang dianalisis, ditemukan bahwa Memiliki berat badan yang ideal ternyata berpengaruh pada kesehatan, termasuk dalam hal kesuburan. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memiliki BMI normal memiliki risiko 19% lebih rendah mengalami gangguan kesuburan dibandingkan dengan mereka yang berada di luar kategori BMI normal. Dengan kata lain, menjaga berat badan dalam rentang yang sehat bukan hanya soal penampilan, tetapi juga dapat berdampak positif pada kesehatan reproduksi
Kenapa BMI Bisa Berpengaruh?
Setelah melihat dari banyaknya temuan membuktikan bahwa BMI memiliki dampak nyata terhadap keberhasilan ART. BMI berpengaruh ke kesehatan reproduksi karena tubuh butuh keseimbangan hormon untuk bisa berfungsi dengan baik, termasuk dalam hal kesuburan. Kalau BMI terlalu rendah atau terlalu tinggi, keseimbangan hormon bisa terganggu, dan ini bisa mempengaruhi peluang kehamilan.
Kalau BMI terlalu rendah (kurus):
- Tubuh bisa kekurangan lemak yang dibutuhkan untuk produksi hormon seperti estrogen.
- Siklus haid bisa jadi tidak teratur atau bahkan berhenti (amenore), sehingga sulit hamil.
- Pada pria, jumlah dan kualitas sperma bisa menurun.
Kalau BMI terlalu tinggi (gemuk):
- Lemak berlebih bisa mengganggu keseimbangan hormon, meningkatkan kadar estrogen berlebih, yang bisa menghambat ovulasi.
- Risiko PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) lebih tinggi, yang sering dikaitkan dengan sulit hamil.
- Pada pria, kelebihan lemak bisa menurunkan kadar testosteron dan kualitas sperma.
Jadi, menjaga berat badan tetap ideal membantu tubuh bekerja lebih optimal, termasuk dalam hal kesuburan!
Buat sister yang sedang menjalani program kehamilan, menjaga berat badan ideal bisa jadi salah satu faktor pendukung keberhasilan ART. Yuk, diskusi lebih lanjut dengan tenaga medis terpercaya untuk perencanaan yang lebih matang! informasi menarik lainnya bisa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Supramaniam, P. R., Mittal, M., McVeigh, E., & Lim, L. N. (2018). The correlation between raised body mass index and assisted reproductive treatment outcomes: a systematic review and meta-analysis of the evidence. Reproductive health, 15, 1-15.
- https://www.artfertilityclinics.com/in/en/art-blog/mens-fertility-health

Sister, pernah nggak sih kamu atau teman-teman curhat soal pengalaman kurang menyenangkan pakai kontrasepsi hormonal? Kayak pil, suntikan, implan, atau AKDR hormonal? Nah, dalam dekade terakhir, makin banyak perempuan di negara-negara Barat yang bersuara di media sosial tentang pengalaman mereka yang nggak memuaskan pakai kontrasepsi ini.
Tapi disisi lain, banyak juga yang menuduh mereka menyebarkan “hormonofobia” fenomena ini merupakan proses ketakutan berlebihan terhadap hormon tanpa alasan yang benar-benar rasional. MDG ingin menjabarkan lebih lanjut bagaimana fenomena ini terjadi. Baca sampai habis ya!
Alasan Kenapa Mulai banyak yang Menolak Kontrasepsi Hormonal?
Sebuah temuan oleh Guen dkk, 2021 dengan melakukan tinjauan terhadap 42 penelitian ilmiah terbaru, ada delapan alasan utama kenapa perempuan dan bahkan para paksu mulai mempertanyakan atau menolak kontrasepsi hormonal diantaranya adalah:
- Efek samping fisik – Banyak dari pengguna yang mengalami sakit kepala, mual, kenaikan berat badan, atau perubahan pada kulit setelah pakai kontrasepsi hormonal
- Kesehatan mental yang berubah – Ada yang merasa lebih mudah cemas, gampang sedih, atau mood swing setelah konsumsi hormon. Ada juga yang merasa “nggak jadi diri sendiri” lagi.
- Dampak negatif pada seksualitas – Beberapa pengguna melaporkan penurunan gairah atau perubahan dalam respons tubuh mereka terhadap pasangan.
- Kekhawatiran soal kesuburan – Ada yang takut kalau berhenti pakai kontrasepsi hormonal, nanti jadi susah hamil. Walaupun banyak penelitian bilang efeknya sementara, tetap aja banyak yang khawatir.
- Seruan ke alam – Seseorang yang memilih jalur natural biasanya ingin metode kontrasepsi yang lebih “alami” dan minim intervensi hormon.
- Kekhawatiran soal menstruasi – Ada yang merasa siklusnya jadi berantakan atau malah berhenti total saat pakai kontrasepsi hormonal.
- Ketakutan dan kecemasan – Banyak perempuan ragu karena kurangnya informasi yang jelas soal efek jangka panjang dari hormon ini.
- Delegitimasi efek samping – Kadang, keluhan perempuan soal kontrasepsi hormonal dianggap remeh oleh tenaga medis atau pasangan mereka. Padahal, efek sampingnya nyata dan bisa mempengaruhi kualitas hidup.
Jadi, Apakah Semua Ini Hanya “Hormonofobia”?
Apakah serentetan tersebut hadir sebagai salah satu alasan perempuan dan paksu menolak kontrasepsi hormonal. Tapi faktanya bukan cuma karena takut sama hormon, tapi juga karena pengalaman pribadi dan kebutuhan yang berbeda-beda. Memang perlu konsultasi pada ahli, juga mencari informasi yang kredibel. Jangan sampai salah informasi dan asal mengambil saja tanpa mencari lebih lanjut.
Nah, kalau kamu sendiri gimana, sister? Pernah ngalamin hal serupa atau punya pengalaman lain soal kontrasepsi? Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
Le Guen, M., Schantz, C., Régnier-Loilier, A., & de La Rochebrochard, E. (2021). Reasons for rejecting hormonal contraception in Western countries: A systematic review. Social science & medicine, 284, 114247.

Teknologi reproduksi berbantuan (TRB) telah menjadi topik yang sarat dengan dilema moral dan etika di berbagai komunitas agama. Para cendekiawan telah menunjukkan bagaimana keterbatasan moral dan peringatan yang diajukan banyak agama terhadap TRB menghambat pencarian bantuan medis bagi perempuan yang menghadapi infertilitas.
Apakah sister dan paksu juga mengalami keadaan tersebut? ketika bersama dengan komunitas atau ruang beragama? mengapa seperti itu? yuk pahami lebih lanjut!
Terjadinya Kesunyian dalam Dialog Infertilitas dan IVF
Infertilitas adalah isu yang kompleks, tidak hanya secara medis tetapi juga sosial dan psikologis. Namun, dalam komunitas beragama, pembicaraan mengenai infertilitas sering kali dilakukan dalam bentuk yang sangat umum, tanpa menyentuh aspek spesifik seperti prosedur medis yang tersedia, termasuk IVF. Studi empiris kualitatif menunjukkan bahwa umat paroki lebih cenderung berbicara tentang infertilitas secara luas, seperti tantangan emosional dan sosial yang dihadapinya, tetapi jarang membahas solusi medis secara rinci.
Di sisi lain, anggota pendeta juga cenderung tidak menyinggung larangan gereja terhadap IVF kecuali mereka secara eksplisit ditanya mengenai hal tersebut. Sikap ini dapat dianggap sebagai bentuk pendekatan pastoral yang lebih inklusif dan menghindari konflik langsung dengan jemaat yang mungkin mengalami kesulitan dalam hal kesuburan. Namun, absennya dialog yang terbuka juga dapat mengakibatkan kebingungan di kalangan jemaat tentang sikap resmi Gereja serta pilihan yang tersedia bagi mereka.
Mengapa cenderung tidak Disuarakan?
Ada beberapa alasan mengapa dialog tentang IVF dan infertilitas dalam komunitas beragama seperti Katolik cenderung terbatas:
- Ketakutan Akan Stigma dan Penilaian Sosial
Infertilitas masih dianggap sebagai isu yang sensitif, dan banyak pasangan merasa ragu untuk membicarakannya secara terbuka karena takut mendapatkan penilaian negatif dari lingkungan mereka. - Pendekatan Pastoral yang Tidak Konfrontatif
Para pendeta mungkin menghindari menyebutkan larangan IVF secara langsung agar tidak menambah beban emosional jemaat yang sedang menghadapi tantangan infertilitas. - Kurangnya Pemahaman tentang IVF di Kalangan Jemaat
Tanpa adanya dialog yang jelas, banyak umat Katolik mungkin tidak sepenuhnya memahami posisi Gereja terhadap IVF atau bahkan tidak menyadari bahwa ada larangan terkait prosedur tersebut. - Nilai-Nilai Tradisional yang Masih Dominan
Banyak pasangan Katolik masih memegang teguh ajaran bahwa anak adalah anugerah Tuhan yang harus diterima secara alami, bukan sebagai hasil intervensi medis.
Kesunyian dalam dialog mengenai IVF dan infertilitas di dalam komunitas Katolik mencerminkan dilema yang lebih luas antara ajaran agama dan kebutuhan medis. Di satu sisi, Gereja Katolik mempertahankan posisi moralnya terhadap teknologi reproduksi berbantuan. Namun, di sisi lain, banyak pasangan yang mengalami infertilitas merasa perlu mendapatkan informasi dan dukungan yang lebih terbuka.
Untuk mengatasi kesenjangan ini, diperlukan upaya dari kedua belah pihak: jemaat harus merasa lebih nyaman dalam mendiskusikan isu infertilitas, sementara para pemuka agama dapat mencari cara yang lebih empatik dalam menyampaikan ajaran Gereja mengenai IVF tanpa mengabaikan kebutuhan emosional dan medis jemaat. Tentu hal ini tidak hanya terjadi dalam katolik, tapi juga agama lainnya. MDG dalam kesempatan ini menarik mengangkat dari segi katolik karena menemukan sebuah penelitian yang membahas tentang ini. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduaagris.id
Referensi
Nicolas, P. (2021). In vitro fertilization: A pastoral taboo?. Journal of religion and health, 60(3), 1694-1712.
https://mirror.mui.or.id/produk/fatwa/41111/bagaimana-fatwa-mui-tentang-hukum-bayi-tabung/

Sister, pernah nggak sih kamu merasa bingung atau takut bertanya soal kesehatan reproduksi? Atau mungkin paksu juga pernah clueless soal ini? faktanya pendidikan seks masih dianggap hal yang tabu, padahal seharusnya ini jadi kebutuhan dasar yang nggak boleh diabaikan. Bayangkan jika pendidikan seks tidak banyak yang tahu bagaimana untuk memahami infertilitas? seks saja tabu, jangan-jangan masih banyak baik laki-laki maupun perempuan ketika menikah dihadapkan pada ketidakpahaman terkait infertilitas. MDG ingin membahas lebih lanjut mengapa pendidikan seks ini penting?
Kenapa Pendidikan Seks Itu Penting?
Banyak orang masih menganggap pendidikan seks sebagai sesuatu yang nggak pantas dibahas, apalagi di lingkungan keluarga atau sekolah. Padahal, di banyak negara Barat, pendidikan seks sudah jadi bagian dari kurikulum sekolah dan terbukti bisa mengurangi angka kehamilan remaja, penyakit menular seksual, hingga pelecehan seksual. Jadi, bukan hanya soal tahu anatomi tubuh, tapi juga tentang bagaimana menghargai diri sendiri dan orang lain.
Di Indonesia, nilai budaya dan agama yang kuat sering membuat topik ini dianggap sensitif. Akibatnya, banyak remaja harus mencari informasi sendiri dari internet atau teman sebaya, yang belum tentu sumbernya akurat. Padahal, edukasi yang salah bisa berujung pada kesalahpahaman, risiko kesehatan, dan bahkan bahaya yang lebih besar.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Pendidikan seks bukan hanya tanggung jawab sekolah, tapi juga orang tua, guru, konselor, psikolog, dan masyarakat. Kalau paksu nanti punya anak, tentu nggak mau kan si kecil dapat informasi yang salah dari sumber yang nggak jelas? Nah, ini saatnya kita mulai mengubah pola pikir dan memberikan pemahaman yang benar sejak dini.
Di beberapa negara, pendidikan seks diberikan sesuai dengan usia anak. Misalnya, anak kecil diajarkan soal batasan tubuh (body boundaries), lalu saat remaja mulai belajar tentang kesehatan reproduksi dan hubungan yang sehat. Metode ini bisa jadi inspirasi buat diterapkan di Indonesia, tentunya dengan pendekatan yang sesuai dengan budaya kita.
Dampak Jika Pendidikan Seks Tetap Dianggap Tabu
Kalau pendidikan seks terus dianggap tabu, risikonya bisa semakin besar:
- Kehamilan remaja meningkat, karena kurangnya pengetahuan soal kontrasepsi, anak bisa menganggap bahwa kontak fisik pada area intim hanya sekedar pertemuan antar mukosa saja (tanpa resiko)
- Pelecehan seksual sulit dicegah, karena banyak anak nggak tahu cara melindungi diri atau mengenali tanda bahaya.
- Penyakit menular seksual menyebar, karena minimnya pemahaman soal kesehatan reproduksi.
Beberapa kebijakan pendidikan seks di Indonesia mulai mengalami perubahan, meskipun masih dalam tahap awal. Misalnya, ada beberapa inisiatif untuk memasukkan pendidikan seks ke dalam kurikulum, meski masih bersifat terbatas. Harapannya, dengan edukasi yang lebih terbuka dan berbasis ilmiah, kita bisa membangun generasi yang lebih sadar akan pentingnya kesehatan reproduksi.
Sister, baik kita sebagai orang tua ataupun masyarakat sudah wajib bagi kita untuk mulai berani membahas topik ini dengan cara yang sehat dan edukatif. Pendidikan seks bukan hal yang memalukan, justru ini adalah bentuk kasih sayang kita untuk diri sendiri dan orang-orang tersayang. Kalau paksu masih ragu atau bingung, yuk belajar bareng supaya nanti bisa jadi orang tua yang lebih siap!
Saatnya kita ubah mindset bahwa pendidikan seks itu tabu. Karena, semakin kita paham, semakin kita bisa melindungi diri sendiri dan orang lain. Setuju nggak, sister? Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat akses di Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Biondi Situmorang, D. D. (2024). Implementation of Sex Education in Indonesia: A” Sine Qua Non” in Taboo. Buletin Psikologi, 32(1).
- https://health.kompas.com/read/23G17080000768/dampak-buruk-anak-tidak-dapat-pendidikan-seks-sejak-dini
- https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20160314030425-317-117098/kekurangan-pendidikan-seks-di-indonesia

Sister dan paksu, pernah nggak sih kamu atau orang di sekitarmu mulai merasakan perubahan dalam tubuh yang bikin bertanya-tanya, “Eh, ini kenapa ya?” Nah, kalau sudah memasuki usia tertentu, tubuh kita memang mengalami perubahan alami yang disebut menopause. Menopause itu sendiri adalah berhentinya menstruasi secara permanen, yang biasanya terbagi dalam beberapa tahap, yaitu premenopause, perimenopause, dan postmenopause.
Menopause nggak cuma soal siklus menstruasi yang berhenti, sister. Faktanya dalam keadaan itu perubahan hormonal juga terjadi dan membawa risiko kesehatan, seperti penyakit jantung, stroke, aterosklerosis, dan osteoporosis. Selain itu, perubahan ini juga bisa berdampak pada aspek psikologis, seperti kecemasan, mood swing, hingga gangguan tidur yang bikin kualitas hidup berkurang. Bahkan, dalam budaya Barat, menopause sering dikaitkan dengan hilangnya daya tarik seksual, yang bisa berujung pada depresi. MDG dalam hal ini ingin membahas untuk kalian, untuk itu baca sampai habis ya!
Menopause: Beban atau Kebebasan?
Di satu sisi, menopause memang bisa terasa seperti fase yang menantang. Tapi disisi lain, banyak perempuan yang justru merasa lebih bebas setelah melewatinya. Bebas dari siklus menstruasi, bebas dari keterbatasan budaya tertentu, dan bahkan menemukan kesempatan untuk berkembang lebih jauh! Jadi, daripada melihat menopause sebagai akhir dari sesuatu, kita bisa melihatnya sebagai awal dari fase baru dalam hidup yang lebih bermakna.
Mengatasi Gejala Menopause Secara Alami
Nah, sekarang pasti muncul pertanyaan: “Kalau gejalanya mengganggu, ada nggak sih cara mengatasinya selain terapi hormon?” Tenang, sister! Ada banyak alternatif sehat yang bisa membantu, salah satunya adalah aktivitas fisik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa olahraga bisa membantu mengurangi stres, meningkatkan kualitas tidur, dan memperbaiki suasana hati. Bahkan, aktivitas fisik juga berperan dalam menjaga kesehatan jantung dan tulang, yang sering kali jadi perhatian utama saat menopause. Jadi, yuk mulai rajin bergerak supaya tubuh tetap sehat dan bugar!
Paksu juga bisa ikut berperan, lho! Memberikan dukungan emosional, memahami perubahan yang terjadi, dan tetap menjaga komunikasi yang baik bisa bikin sister merasa lebih nyaman dalam menjalani fase ini. Menopause bukan cuma tentang perubahan di tubuh, tapi juga soal bagaimana kita dan orang-orang di sekitar kita menghadapi perubahan ini bersama-sama.
Kesimpulan: Menopause, Fase Hidup yang Perlu Dihadapi dengan Bijak
Sister, menopause adalah bagian alami dari kehidupan, dan setiap perempuan akan mengalaminya. Yang penting, kita paham tentang perubahan yang terjadi, mencari cara untuk mengelola gejalanya, dan tetap menjaga kualitas hidup. Jangan ragu untuk berdiskusi dengan tenaga medis atau komunitas yang bisa memberikan dukungan. Ingat, menopause bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari babak baru yang bisa tetap menyenangkan! Pembahasan ini berkaitan dengan reproduksi untuk itu jika ada disekitar kita baik itu ibu kita atau yang lain, baiknya untuk memberikan dukungan yang maksimal karena proses ini memang tidak akan mudah, dan menjadi mudah dengan adanya orang disekitar. Nah jika ingin tau informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Istagram MDG di @menujuduagaris.id
Referensi
- Hybholt, M. (2022). Psychological and social health outcomes of physical activity around menopause: A scoping review of research. Maturitas, 164, 88-97.
- https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/gangguan-psikologis-pada-masa-menopause

Kesehatan seksual dan reproduksi seringkali menjadi topik yang sulit dibicarakan secara terbuka. Sister dan paksu pasti merasakan hal tersebut, hal ini berkaitan dengan berbagai norma sosial, budaya, dan agama membentuk tabu dan akhirnya membungkam diskusi mengenai aspek penting dari kesehatan ini.
MDG bertujuan untuk mengeksplorasi secara komprehensif lanskap tabu dalam kesehatan seksual dan reproduksi serta dampaknya terhadap individu, komunitas, dan kebijakan kesehatan masyarakat, baca sampai habis ya!
Tabu dalam Kesehatan Seksual dan Reproduksi
Tabu dalam kesehatan seksual dan reproduksi muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari stigma seputar menstruasi, kontrasepsi, kesuburan, hingga orientasi seksual dan identitas gender. Masyarakat seringkali menganggap topik-topik ini sebagai hal yang sensitif atau bahkan terlarang untuk dibahas secara terbuka. Akibatnya, banyak dari kita yang mengalami kesulitan dalam mengakses informasi dan layanan kesehatan yang dibutuhkan.
Dalam satu dekade terakhir, berbagai penelitian telah menyoroti bagaimana tabu-tabu ini berakar secara historis dan berevolusi di berbagai budaya. Di beberapa komunitas, menstruasi masih dianggap sebagai sesuatu yang “kotor”, sehingga membatasi partisipasi perempuan dalam kegiatan sosial tertentu. Kontrasepsi juga sering kali diselimuti misinformasi, membuat banyak orang ragu atau takut menggunakannya. Hal itu yang menghambat akses layanan kesehatan juga informasi yang kredibel pada masyarakatw.
Dampak Tabu terhadap Kesehatan Masyarakat
Keadaan tersebut dalam kesehatan seksual dan reproduksi memiliki implikasi luas terhadap kesehatan masyarakat. Kesenjangan dalam akses layanan kesehatan menjadi salah satu dampak utama. Ketika individu merasa malu atau takut untuk mencari bantuan, mereka cenderung mengabaikan masalah kesehatan yang dapat dicegah atau diobati lebih dini. Hal ini tidak hanya berdampak pada kesehatan pribadi tetapi juga memperburuk ketimpangan dalam sistem kesehatan.
Selain itu, tabu juga berkontribusi pada penyebaran misinformasi. Kurangnya pendidikan seksual yang komprehensif di banyak negara membuat banyak remaja dan dewasa muda tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi mereka. Tanpa informasi yang benar, mereka lebih rentan terhadap risiko kehamilan yang tidak direncanakan, infeksi menular seksual, dan dampak psikologis akibat diskriminasi atau stigma. Hal ini pada masa yang akan datang juga turut berpengaruh pada kurangnya pemahaman tentang infertilitas.
Membuka Dialog dan Mendorong Perubahan
Untuk mengatasi tabu dalam kesehatan seksual dan reproduksi, diperlukan pergeseran paradigma menuju dialog yang lebih terbuka, inklusif, dan berbasis fakta. Pendidikan seksual yang komprehensif harus diperkenalkan sejak dini agar individu memiliki pemahaman yang tepat mengenai tubuh mereka dan hak-hak kesehatan mereka. Selain itu, kebijakan publik harus didasarkan pada prinsip hak asasi manusia, memastikan bahwa semua orang memiliki akses yang setara terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi tanpa diskriminasi.
Pada akhirnya, “Percakapan Terlarang” bukan hanya tentang mengungkap tabu, tetapi juga tentang mendorong perubahan nyata menuju layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang lebih terbuka, tidak bias, dan komprehensif bagi semua orang. Di Indonesia sendiri kesehatan reproduksi diatur di peraturan pemerintah Nomor 61 tahun 2014 yang mengatur tentang kesehatan reproduksi dan peraturan pemerintah (PP) 28/2024 berfokus pada kesehatan reproduksi remaja. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Tohit, N. F. M., & Haque, M. (2024). Forbidden conversations: A comprehensive exploration of taboos in sexual and reproductive health. Cureus, 16(8).
- chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PP%20No.%2061%20Th%202014%20ttg%20Kesehatan%20Reproduksi.pdf
- https://www.uii.ac.id/sehat-mental-dengan-menjaga-kesehatan-reproduksi/#:~:text=Isu%20kesehatan%20reproduksi%20masih%20dianggap,infeksi%20menular%20seksual%20(IMS).

Sister adakah diantara kalian yang sering mengalami nyeri? nah bisa jadi sister mengalami Adenomyosis, ia hadir sebagai adalah kondisi di mana jaringan endometrium (lapisan dalam rahim) tumbuh ke dalam dinding otot rahim. Keadaan tersebut yang kemudian menyebabkan rahim membesar, serta menimbulkan nyeri haid yang hebat, perdarahan berlebih, dan ketidaknyamanan yang signifikan bagi penderitanya. MDG ingin menjelaskan lebih lanjut terutama hubungannya dengan Laparoskopi yang dapat dipilih menjadi salah satu pengobatan.
Diagnosis Adenomyosis
Penyebab dari adenomiosis sayangnya belum diketahui secara pasti apa penyebab adenomiosis. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini dapat dipengaruhi oleh ketidakseimbangan hormon (estrogen, progesteron, prolaktin, dan hormon perangsang folikel), genetik, inflamasi/peradangan, atau trauma akibat operasi rahim sebelumnya.
Adenomiosis juga bisa terjadi akibat terganggunya batas antara lapisan terdalam endometrium, endometrium basalis, dan miometrium di bawahnya. Proses ini menyebabkan siklus proliferasi endometrium yang tidak semestinya ke dalam miometrium, kemudian diikuti dengan pembentukan pembuluh darah kecil serta pertumbuhan dan perkembangan miometrium yang tidak normal
Pada perempuan yang mencoba melakukan pemeriksaan makan diagnosis disebut adenomiosis ketika rahim berbentuk bulat dan beberapa area bayangan terlihat, terkadang digambarkan berbentuk kipas, dengan kesulitan membedakan miometrium luar dari zona persimpangan dan perubahan kistik di zona persimpangan dan miometrium. Fitur tambahan yang dapat terlihat termasuk zona persimpangan yang tidak teratur, atau terputus-putus, dengan pulau-pulau hiperekoik. Bila ada beberapa tanda, diagnosisnya lebih pasti; namun, adenomiosis bisa bersifat fokal daripada difus. Bila adenomiosis fokal terjadi, hanya beberapa area fokal yang berbayang yang mungkin terlihat, yang dapat disalah artikan sebagai fibroid. Dalam kasus ini, MRI dapat membedakan adenomiosis dari fibroid dengan kepastian yang lebih besar.
Laparoskopi Sebagai Pengobatan
Laparoskopi sendiri adalah tindakan medis yang bertujuan memeriksa dan mengobati kondisi organ perut dan panggul. Tindakan ini biasanya digunakan untuk memeriksa maupun mengobati sejumlah gangguan di kantung empedu, usus, atau rahim.
Laparoskopi disebut juga dengan lubang kunci, yaitu prosedur yang dilakukan dengan memasukkan alat laparoskop. Keunggulan dari laparoskopi adalah bisa menghindari sayatan besar yang biasanya dilakukan pada operasi konvensional. Mari ketahui lebih jauh tentang tindakan laparoskopi melalui ulasan di bawah ini.
Sebuah penelitian dengan judul “ Laparoscopic Surgery for Focal Adenomyosis” menemukan bahwasanya Adenomiomektomi laparoskopi dengan TOUA adalah metode bedah yang aman dan efektif bagi wanita dengan adenomiosis uterus fokal yang ingin mempertahankan kesuburan.
Meski begitu sister dan paksu tetap harus berkonsultasi dengan dokter dan disesuaikan ya jangan sampai salah penanganan, Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Kwack JY, Kwon YS. Laparoscopic Surgery for Focal Adenomyosis. JSLS. 2017 Apr-Jun;21(2):e2017.00014. doi: 10.4293/JSLS.2017.00014. PMID: 28642638; PMCID: PMC5464959.
- https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-laparoskopi
- https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2022/0100/p33.html
- https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-adenomiosis