Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Sister dan paksu MDG pernah membahas bagaimana hormon yang diberikan saat IVF bisa berpengaruh ke kesehatan mental. Nah, dalam program bayi tabung (IVF/ICSI), perempuan diberikan hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) setiap hari untuk merangsang ovarium supaya menghasilkan lebih banyak sel telur. Targetnya, sekitar 5 sampai 15 oosit (sel telur) dalam satu siklus.
Tapi, tidak semua perempuan merespons obat ini dengan cara yang sama. Respons terlalu rendah bisa bikin jumlah dan kualitas sel telur tidak mencukupi. Sebaliknya, respons terlalu tinggi malah bisa memicu sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS), kondisi yang cukup berisiko. Kedua situasi ini sama-sama bisa menyebabkan siklus IVF dibatalkan, lho.
Cara Menyesuaikan Dosis FSH
Awalnya, dosis FSH diberikan berdasarkan usia saja. Tapi sekarang, pendekatan lebih personal mulai digunakan. Dosis bisa disesuaikan berdasarkan Hormon Anti-Müllerian (AMH), Jumlah Folikel Antral (AFC), Kadar FSH di hari ke-2 atau ke-3 haid (bFSH). Pendekatan ini dikenal sebagai strategi berbasis tes cadangan ovarium atau ovarian reserve test (ORT).
Sebuah tinjauan Cochrane terbaru di tahun 2023 yang mencakup 26 studi dengan lebih dari 8500 wanita membahas tentang ini. Studi-studi ini membandingkan berbagai strategi pemberian dosis FSH, baik yang disesuaikan secara individual maupun yang standar.
Hasilnya bagaimana? bahwa Mengatur dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium (ORT) mungkin tidak terlalu banyak meningkatkan peluang untuk mendapatkan kehamilan berkelanjutan atau kelahiran hidup dibandingkan dengan dosis standar. Namun, pendekatan berbasis ORT bisa membantu mengurangi risiko terjadinya sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) yang tingkatnya sedang atau berat. Untuk risiko OHSS berat saja, masih belum ada cukup bukti yang bisa memberikan kesimpulan pasti. Kalau biasanya peluang kehamilan dengan dosis standar ada di angka 25%, pendekatan berbasis ORT bisa sedikit menaikkan peluang itu menjadi 25%–31%. Sedangkan untuk risiko OHSS sedang atau berat, pendekatan ini bisa menurunkan angka kejadian dari 5% menjadi sekitar 2%–5%.
Meskipun menjanjikan, penyesuaian dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium belum terbukti secara meyakinkan meningkatkan hasil kehamilan. Namun, strategi ini berpotensi menurunkan risiko komplikasi seperti OHSS. Penyesuaian dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium (ORT) memang menawarkan pendekatan yang lebih personal dalam program IVF/ICSI.
Namun, dari hasil tinjauan studi terbaru, strategi ini belum terbukti secara kuat mampu meningkatkan peluang kehamilan berkelanjutan atau kelahiran hidup dibandingkan dengan pemberian dosis standar. Meskipun begitu, penggunaan ORT tetap punya manfaat, yaitu berpotensi mengurangi risiko terjadinya sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) sedang hingga berat.
Jadi sister dan paksu melalui penjabaran ini dapat dipahami secara keseluruhan bahwa pendekatan berbasis ORT mungkin lebih berguna untuk meningkatkan keamanan siklus IVF daripada secara langsung meningkatkan peluang kehamilan. Bagaimana menarik bukan? tapi tetap saja sister dan paksu harus berkonsultasi dengan dokter selama menjalankan program IVF. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
Ngwenya, O., Lensen, S. F., Vail, A., Mol, B. W. J., Broekmans, F. J., & Wilkinson, J. (2024). Individualised gonadotropin dose selection using markers of ovarian reserve for women undergoing in vitro fertilisation plus intracytoplasmic sperm injection (IVF/ICSI). Cochrane Database of Systematic Reviews, (1).

Bagi sister dan paksu yang sedang berjuang, tentu kerap kali dihadapkan dengan tantangan. Bahwa pengalaman menghadapi infertilitas bukan hanya persoalan fisik, tapi juga menyentuh sisi emosional yang mendalam. Ketika pilihan pengobatan jatuh pada teknologi reproduksi berbantuan atau Assisted Reproductive Technology (ART), seperti IVF (In Vitro Fertilization), tantangan mental yang dihadapi pun bisa semakin kompleks. Wah kenapa begitu ya? yuk bahas lebih lanjut meski MDG sebelumnya sudah membahas tentang kesehatan mental, pada artikel kali ini akan melihat dari sisi terapi hormon. Baca sampai akhir ya!
Proses IVF dan Terapi Hormonal
IVF sendiri memiliki prosedur yang melibatkan beberapa tahap, mulai dari stimulasi ovarium, induksi ovulasi, pengambilan sel telur (oosit), pembuahan, hingga transfer embrio ke rahim. Setiap tahap memerlukan pemantauan ketat dan pemberian obat-obatan yang kompleks. Terapi hormonal merupakan bagian penting dari tahapan ini, seperti penggunaan klomifen sitrat, hormon FSH rekombinan, LH, hingga protokol GnRH untuk mengontrol siklus reproduksi.
Obat-obatan tersebut bisa diberikan secara oral maupun injeksi, tergantung pada kebutuhan pasien dan keputusan medis yang diambil berdasarkan usia, kondisi kesehatan, dan hasil pemeriksaan. Sayangnya, terapi ini tidak hanya mempengaruhi tubuh, tetapi juga berdampak besar terhadap keseimbangan emosional dan kesehatan mental pasien.
Tekanan Mental yang Kerap Terabaikan
Sister dan paksu harus tahu bahwa beberapa studi menunjukkan pasien IVF mengalami perubahan psikologis yang signifikan selama menjalani perawatan. Proses panjang, ketidakpastian hasil, efek samping obat, serta harapan yang tinggi sering kali menimbulkan stres, kecemasan, hingga depresi.
Tentu fokus utama dunia medis selama ini lebih tertuju pada peningkatan efektivitas pengobatan dan keberhasilan pembuahan. Sementara itu, tekanan mental yang disebabkan oleh terapi hormonal sering kali dianggap sekadar efek samping, bukan sebagai masalah serius yang perlu intervensi tersendiri.
Pentingnya Dukungan Psikologis
Melihat bagaimana hal tersebut, dapat dilihat bahwa pengalaman emosional selama menjalani IVF bisa memengaruhi keputusan pasien untuk melanjutkan atau menghentikan pengobatan. Dalam banyak kasus, pasangan menghentikan program karena tidak sanggup menanggung beban mentalnya, bukan karena kendala medis. Beberapa rumah sakit juga akhirnya berupaya untuk aware dengan ini hingga menyediakan layanan psikologis.
Karena faktanya IVF bukan sekadar prosedur medis, ia adalah perjalanan penuh harapan, perjuangan, dan tantangan emosional. Terapi hormonal yang menyertai proses ini perlu dipahami tidak hanya dari sisi farmakologis, tetapi juga dari sisi dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis pasien. Karena pada akhirnya, keberhasilan menjadi orang tua bukan hanya tentang membawa bayi pulang ke rumah, tetapi juga memastikan orang tua tersebut tetap sehat baik secara fisik maupun emosional. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
Vasudevan, S. R., & Bhuvaneswari, M. (2024). The Psychological Effects of Hormonal Treatment on Women Under IVF Treatment: A Comprehensive Review. National Journal of Community Medicine, 15(06), 487-495.

Hasil yang sukses dalam siklus teknologi reproduksi berbantuan (ART) salah satunya adalah bergantung pada kompetensi perkembangan embrio yang ditransfer dan penerimaan endometrium. MDG akan membahas lebih dalam bagaimana proses dan prosedur ini dilakukan terutama dalam program hamil berbantuan. Baca sampai habis ya!
Apa yang itu Penerimaan Endometrium
Penerimaan endometrium adalah kemampuan rahim (endometrium) untuk menjadi tempat yang sesuai bagi embrio untuk menempel dan melakukan implantasi. Ini adalah periode waktu tertentu dalam siklus menstruasi ketika endometrium berada dalam kondisi optimal untuk menerima dan menunjang embrio. Beberapa faktor diyakini terlibat dalam penerimaan endometrium, termasuk persiapan hormonal endometrium, kontraktilitas miometrium, dan interaksi antara embrio dan endometrium, yang terakhir secara inheren melibatkan mekanisme imunologi.
Imunoterapi Adjuvan dalam Program Bayi Tabung: Harapan atau Keraguan?
Keberhasilan teknologi reproduksi berbantuan (ART), seperti IVF, tidak hanya bergantung pada kualitas embrio yang ditransfer, tetapi juga pada kesiapan endometrium (lapisan rahim) untuk menerima embrio. Penerimaan endometrium ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti hormon, gerakan otot rahim, serta interaksi imunologis antara embrio dan rahim.
Untuk mengatasi kasus kegagalan implantasi berulang atau keguguran, imunoterapi adjuvan mulai digunakan dalam siklus IVF dengan harapan dapat memperbaiki ketidakseimbangan sistem imun dan meningkatkan keberhasilan kehamilan. Terapi ini meliputi obat yang sudah lama digunakan seperti aspirin dan kortikosteroid, maupun yang lebih baru seperti G-CSF dan emulsi lemak, yang masih mahal dan belum jelas keamanannya.
Namun, melalui artikel ini kami ingin menunjukkan bagaimana bukti ilmiah dari uji klinis masih terbatas, Sehingga sister dan paksu harus tahu bahwa manfaat dan risikonya belum pasti. Selain itu, tes imunologi yang sering digunakan untuk menentukan jenis imunoterapi ini juga belum terbukti relevan untuk pasien ART secara umum.
Peran Imunoterapi Adjuvan dalam IVF
Setelah mengetahui bagaimana imunoterapi perlu ditelaah lebih dalam, Berdasarkan literatur yang ada, penggunaan imunoterapi adjuvan dalam siklus ART memiliki potensi untuk meningkatkan hasil kelahiran hidup, terutama bagi pasien dengan kegagalan implantasi berulang atau keguguran.
Namun, mengingat adanya risiko dan biaya yang lebih tinggi dari beberapa terapi baru, serta kurangnya bukti kuat terkait efektivitasnya, keputusan untuk menggunakan imunoterapi harus dibuat dengan hati-hati, mempertimbangkan kebutuhan spesifik setiap siter begitu juga dengan potensi manfaat dan risikonya. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat akses di Instagram kami di @menujuduagaris.id
Referensi
- Lessey, B. A., & Young, S. L. (2019). What exactly is endometrial receptivity?. Fertility and sterility, 111(4), 611-617.
- Penzias, A., Bendikson, K., Butts, S., Coutifaris, C., Falcone, T., Gitlin, S., … & Vernon, M. (2018). The role of immunotherapy in in vitro fertilization: a guideline. Fertility and sterility, 110(3), 387-400.

In vitro maturation (IVM) atau pematangan sel telur di luar tubuh telah menjadi salah satu pendekatan yang menjanjikan dalam dunia reproduksi berbantu. Metode ini berpotensi menyederhanakan prosedur bayi tabung (IVF), mengurangi komplikasi medis, serta menekan biaya perawatan. Bahas lebih lanjut yuk!
Kenapa IVM bisa Dipertimbangkan?
Banyak prosedur untuk IVM menawarkan keuntungan utama bagi perempuan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS), kelompok yang sangat rentan mengalami sindrom hiperstimulasi ovarium akibat terapi stimulasi konvensional. Dengan IVM, sel telur bisa diambil dari folikel yang belum matang tanpa stimulasi berat, sehingga risiko komplikasi bisa ditekan.
Namun, tantangan utama dari IVM adalah hasil reproduksi yang masih belum sebanding dengan IVF konvensional. Sel telur yang matang di laboratorium dianggap memiliki kompetensi lebih rendah dibandingkan sel telur yang matang secara alami di dalam tubuh.
Bagaimana Proses IVM Dilakukan?
Dalam praktiknya, IVM biasanya melibatkan suntikan hormon hCG dan kadang ditambah hormon FSH untuk bantu pematangan sel telur. Sel telur diambil dari folikel ukuran 10–14 mm, lalu dimatangkan di lab dengan media khusus yang mengandung FSH.
Belakangan, IVM juga bisa dilakukan dengan mengambil sel telur dari folikel kecil banget (<3 mm), tanpa perlu suntik hormon dulu. Cara ini sering dipakai untuk pelestarian kesuburan, terutama pada pasien yang akan menjalani pengobatan serius seperti kanker. Keuntungannya, sel telur yang diambil lebih seragam karena belum dipengaruhi hormon dalam tubuh.
Peran FSH dalam IVM: Masih Jadi Tanda Tanya
FSH adalah hormon yang bantu sel telur matang dengan membuat sel-sel di sekitarnya (sel kumulus) berkembang. Ini penting banget supaya peluang pembuahan dan pembentukan embrio lebih besar. Tapi, sampai sekarang belum jelas berapa dosis FSH yang paling pas saat proses pematangan sel telur di luar tubuh. Ada yang pakai dosis rendah, ada yang tinggi, bahkan ada yang nggak pakai sama sekali. Salah satu tantangannya, banyak sel telur yang udah mulai matang sendiri sebelum diambil, jadi hasilnya nggak seragam.
Nah, studi terbaru coba cari tahu lebih jelas dengan cara ambil sel telur dari folikel kecil (yang belum terpengaruh hormon) dari para penyintas kanker. Tujuannya buat lihat gimana efek FSH ke proses pematangan dan ke sel-sel di sekitarnya dengan kondisi yang lebih terkontrol.
Melalui penjelasan tersebut, kita jadi tahu bahwa prosedur IVM tidak untuk segala jenis kasus. In Vitro Maturation (IVM) menawarkan alternatif yang lebih aman dan terjangkau dibandingkan prosedur bayi tabung konvensional, terutama bagi perempuan dengan risiko tinggi seperti penderita PCOS atau pasien kanker. Dengan memungkinkan pematangan sel telur di luar tubuh, IVM dapat mengurangi kebutuhan stimulasi hormon yang berat.
Meskipun masih ada tantangan, seperti hasil keberhasilan yang belum setara dengan IVF biasa, IVM terus dikembangkan terutama melalui studi tentang peran hormon FSH. Sehingga bagi sister dan paksu dengan kasus tersebut bisa jadi alternatif ini bisa dilakukan, meski begitu tetap harus konsultasi kepada dokter ya!. Informasi menarik lainnya kalian dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- SE, C. J. N. D. P. (2021). A threshold concentration of FSH is needed during IVM of ex vivo collected human oocytes J. J Assist Reprod Genet, 38(6), 1341-1348.
- https://www.morulaivf.co.id/id/blog/mengenal-in-vitro-maturation/

Surabaya, 21 April 2025 – Komunitas Menuju Dua Garis (MDG) kembali menyapa sister dan paksu melalui sesi live Instagram yang digelar pada 21 April pukul 19.00 WIB. Kali ini, MDG menghadirkan sesi spesial bertajuk “Endometriosis, IVF & Beyond” bersama Prof. Dr. Prasanna Supramaniam, seorang tokoh penting dalam dunia fertilitas internasional.
Dipandu oleh Mizz Rosie, salah satu founder MDG, sesi ini menjadi momen berharga bagi para pejuang garis dua untuk mendapatkan pemahaman lebih dalam mengenai endometriosis dan isu-isu terkait fertilitas secara langsung dari ahlinya. Prof. Dr. Prasanna adalah konsultan obstetri dan ginekologi yang menempuh pendidikan dan pelatihan di Inggris, termasuk di Oxford University Hospitals NHS Trust. Ia menyandang gelar MB ChB, MSc, serta MRCOG dari Oxford, dan merupakan Minimally Invasive Gynaecological Surgeon bersertifikasi dari ESGE dengan CCT lanjutan dari Oxford.
Diskusi berlangsung sangat interaktif dan personal, dengan fokus utama pada endometriosis, apakah termasuk inflamasi, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesuburan. Prof. Prasanna menjelaskan bahwa endometriosis memang merupakan kondisi inflamasi yang terjadi di luar rahim dan dapat memengaruhi kemampuan reproduksi seseorang. Penanganan yang lebih dini menjadi kunci untuk menentukan langkah terbaik dalam menghadapi infertilitas.
Sesi live ini juga berkembang menjadi diskusi luas yang mencakup topik PCOS, hormon, serta pendekatan pengobatan seperti penggunaan probiotik. Prof. Prasanna menekankan bahwa setiap kasus bersifat unik dan membutuhkan pendekatan individual sesuai kondisi pasangan.
Beragam pertanyaan personal dari audiens turut mewarnai acara, seperti pertanyaan dari akun @frsny.za mengenai kemungkinan memiliki keturunan bagi penderita endometriosis dan adenomiosis dengan AMH 0,1, serta dari @elyysiia yang menanyakan keamanan konsumsi DHEA bagi penderita endometriosis. Antusiasme para peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan keterlibatan mereka sepanjang acara.
Bagi sister dan paksu yang belum sempat menyaksikan, rekaman live ini tersedia di akun Instagram resmi MDG: @menujuduagaris.id. Jangan lupa follow untuk mendapatkan informasi seputar fertilitas, edukasi medis, dan event menarik lainnya.
Sampai jumpa di forum-forum MDG berikutnya!

Penanganan infertilitas terus mengalami perkembangan pesat. Salah satu pendekatan yang kini mulai menarik perhatian adalah penggunaan probiotik vagina sebelum prosedur transfer embrio (ET/embrio transfer). Probiotik diyakini mampu memperbaiki keseimbangan mikrobiota di area vagina, yang mungkin berdampak positif terhadap keberhasilan implantasi embrio. Tapi, seberapa besar dampaknya terhadap peluang kehamilan? MDG akan membahas lebih lanjut, baca sampai akhir ya!
Apa Peran Probiotik dalam Program Kehamilan?
Probiotik dikenal sebagai bakteri “baik” yang bisa memberikan manfaat untuk kesehatan tubuh, termasuk dalam kesehatan reproduksi. Salah satu jenis probiotik yang penting adalah Lactobacillus, yaitu bakteri yang secara alami hidup di vagina dan rongga rahim (endometrium).
Nah, Lactobacillus ini tidak sekadar “numpang lewat”. Ia bekerja menjaga keseimbangan lingkungan di area kewanitaan dengan memproduksi zat seperti asam laktat, hidrogen peroksida, dan bakteriosin. Zat-zat ini membantu menjaga pH vagina tetap rendah (kurang dari 4,5), sehingga menghambat pertumbuhan kuman jahat.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi rahim dan vagina yang didominasi oleh Lactobacillus berhubungan dengan tingkat keberhasilan kehamilan yang lebih tinggi, terutama pada program bayi tabung (IVF).
Sebaliknya, jika mikrobioma di rahim didominasi oleh bakteri lain yang tidak menguntungkan, peluang kehamilan cenderung lebih rendah, bahkan bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur. Bahkan Salah satu studi menunjukkan bahwa setelah enam bulan konsumsi probiotik oral tertentu (Ligilactobacillus salivarius), sekitar 56% wanita dengan masalah kesuburan akhirnya bisa hamil.
Apakah Probiotik Bisa Benar-benar Membantu Implantasi?
Para peneliti menduga bahwa suplementasi probiotik bisa membantu keberhasilan implantasi yaitu proses menempelnya embrio di dinding rahim. Tapi agar efeknya terasa, durasi pemberiannya juga penting. Beberapa studi menyarankan minimal enam hari pemberian probiotik vagina untuk memberi waktu bakteri baik menetap dan bekerja, bahkan bisa berpindah ke rahim.
Namun, jika hanya diberikan selama tiga hari belum tentu memberikan efek apa-apa. Selain itu, prosedur lain dalam siklus IVF seperti pencucian vagina dengan cairan garam atau stimulasi hormon juga bisa memengaruhi keseimbangan bakteri baik, bahkan mungkin mengganggu lingkungan rahim yang sudah optimal.
Meski demikian tentu saja sister dan paksu harus berkonsultasi dengan dokter dan disesuaikan dengan kebutuhan. Karena pendekatan terapi probiotik yang dipersonalisasi bisa menjadi strategi baru yang menjanjikan dalam meningkatkan keberhasilan program bayi tabung. Untuk informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Maleki-Hajiagha, A., Karimi, R., Abbasi, S., Emami, N., & Amidi, F. (2025). Vaginal probiotics as therapeutic adjuncts for improving embryo transfer success rates: a systematic review and meta-analysis. BMC Pregnancy and Childbirth, 25(1), 262.
- https://www.alomedika.com/probiotik-untuk-bv#:~:text=Probiotik%20berfungsi%20menjaga%20stabilitas%20flora,vaginosis%20dan%20memperlambat%20terjadinya%20relapse.
- Thanaboonyawat, I., Pothisan, S., Petyim, S., & Laokirkkiat, P. (2023). Pregnancy outcomes after vaginal probiotic supplementation before frozen embryo transfer: A randomized controlled study. Scientific Reports, 13(1), 11892.

Surabaya, 19 April 2025 – Setelah sukses menggelar Fertility Bootcamp perdana bersama Sunfert Malaysia di penghujung tahun 2024, komunitas Menuju Dua Garis (MDG) kembali menghadirkan program edukasi lanjutan bertajuk “Kiat Optimalisasi Program IVF: Dari Protokol Stimulasi Hingga Embrio Transfer”. Acara ini kembali menggandeng Sunfert Malaysia dan menghadirkan pakar fertilitas terkemuka, Dr. Lim Lei Jun, serta dua Pejuang Dua Garis (PDG) inspiratif Indah dan Chandra yang menerima program IVF gratis dari Sunfert.
Dalam sesi ini, lebih dari 80 peserta yang terdiri dari sister dan paksu bergabung secara daring melalui Zoom untuk menyimak pemaparan mendalam seputar proses IVF. Acara dibuka dengan video apresiasi dari MDG, dilanjutkan sambutan hangat dari pendiri MDG, Mizz Rosie, yang menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota komunitas yang telah membersamai perjuangan panjang dalam mendapatkan buah hati.
Dr. Lim Lei Jun memaparkan secara detail tahapan IVF, mulai dari stimulasi ovarium, jenis-jenis hormon yang digunakan, hingga proses transfer embrio. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang personalized dalam pemberian obat, disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing pasien. Salah satu contoh nyata adalah pengalaman Indah yang mendapatkan tambahan suntikan Cetrotide untuk mencegah pematangan dini sel telur. Dalam kesempatan ini, Dr. Lim juga menjelaskan bahwa transfer embrio pada tahap blastokista yakni pada hari ke-5 hingga ke-6 pasca pembuahan, memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi dibanding transfer pada tahap sebelumnya.
Kisah sukses Indah dan Chandra yang berhasil memperoleh 10 blastokista pada siklus IVF pertama mereka menjadi sorotan inspiratif dalam acara ini. Kehadiran mereka memberikan semangat baru bagi para PDG lainnya untuk terus berjuang.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Pertanyaan yang diajukan pun sangat personal dan mendalam, seperti:
- “Untuk kondisi very low AMH dan saat USG transv hanya terlihat dua sel telur, apakah prosedur IVF tetap bisa dilanjutkan atau menunggu hingga jumlah sel telur bertambah?”
- “Apakah program IVF berisiko menyebabkan OHSS? Saya baru selesai IVF dan sebelum OPU, kadar estradiol saya mencapai 6000-an sehingga tidak bisa melakukan fresh transfer.”
MDG merasa terharu melihat semangat juang para PDG yang telah melalui berbagai tahap hingga ke proses IVF. Melalui acara ini, MDG berharap dapat menjadi sumber informasi yang dapat diandalkan, sekaligus ruang dukungan emosional bagi para pejuang dua garis di seluruh Indonesia.
Untuk informasi dan edukasi seputar fertilitas lainnya, jangan lupa untuk mengikuti akun Instagram @menujuduagaris.id agar tidak ketinggalan berbagai program dan acara menarik lainnya.
Sampai jumpa di forum selanjutnya!

Masih banyak wanita yang mengalami kegagalan reproduksi seperti aborsi berulang atau infertilitas tanpa penyebab yang jelas. Meskipun pemeriksaan medis rutin tak jarang menunjukkan hasil “normal”, nyatanya kehamilan tetap sulit dicapai. Salah satu aspek yang kini mulai disorot sebagai penyebab tersembunyi adalah keseimbangan mikrobiota di saluran reproduksi, khususnya di area servikovaginal. Wah kira-kira itu apa ya? yuk bahas lebih lanjut!
Mikrobiota Vagina: Si Penjaga Kesuburan yang Terlupakan
Jadi, mikrobiota di vagina wanita yang sehat itu sebenarnya nggak banyak ragamnya. Justru yang ideal itu kalau didominasi sama bakteri baik bernama Lactobacillus. Jenis-jenisnya seperti L. crispatus, L. gasseri, L. iners, dan L. jensenii—mereka bantu menjaga keseimbangan lingkungan vagina, mencegah bakteri jahat tumbuh, dan menjaga pH tetap ideal untuk kehamilan.
Sebaliknya, kalau jumlah bakteri jadi terlalu beragam (kondisi ini disebut disbiosis), apalagi kalau yang dominan justru bakteri anaerob seperti Gardnerella atau Prevotella, ini bisa bikin masalah. Misalnya: vaginosis bakterial, infeksi di rahim, bahkan sulit hamil. Disbiosis ini biasanya ditandai dengan skor Nugent yang tinggi dan pH vagina yang naik—dua hal yang sering ditemukan pada wanita yang mengalami kegagalan reproduksi.
Artinya, secara nggak langsung, probiotik yang bisa mengembalikan dominasi Lactobacillus ini punya pengaruh besar terhadap kesuburan.
Penemuan Menarik: Probiotik Bisa Bantu Kesuburan?
Sebuah studi di jurnal Nutrients meneliti kondisi servikovaginal (leher rahim dan vagina) pada wanita yang mengalami kegagalan reproduksi, lalu dibandingkan dengan wanita sehat dan subur. Hasilnya cukup jelas—wanita yang mengalami aborsi berulang atau infertilitas ternyata punya pH vagina dan skor Nugent yang lebih tinggi (ini tandanya kondisi mikrobiotanya nggak seimbang). Selain itu, kadar faktor imun penting seperti TGF-β1, TGF-β2, dan VEGF juga lebih rendah. Jumlah Lactobacillus-nya? Jauh lebih sedikit dibandingkan wanita subur.
Studi ini nggak cuma berhenti di situ. Mereka juga mencoba memberikan probiotik Ligilactobacillus salivarius CECT5713 secara oral setiap hari (sekitar 9 log10 CFU/hari) selama maksimal 6 bulan pada wanita yang mengalami kegagalan reproduksi.
Hasilnya cukup menjanjikan, tingkat keberhasilan kehamilan mencapai 56%! Selain itu, terjadi perbaikan besar dalam kondisi mikrobiologi, biokimia, dan imunologinya.
Dari temuan tersebut menunjukkan bagaimana mikrobiota vagina yang sehat yaitu yang kaya akan Lactobacillus memegang peranan penting dalam mendukung kesuburan. Intervensi berbasis probiotik seperti L. salivarius CECT5713 mulai menunjukkan potensi besar untuk membantu wanita dengan kegagalan reproduksi yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Tapi tentu saja ini masih diperlukan penanganan lebih lanjut lanjut, tapi fakta bahwa pendekatan ini membuka peluang baru dalam dunia reproduksi terutama dalam mengembalikan keseimbangan mikrobiota sebagai kunci untuk harapan kehamilan. Informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
Fernández, L., Castro, I., Arroyo, R., Alba, C., Beltrán, D., & Rodríguez, J. M. (2021). Application of Ligilactobacillus salivarius CECT5713 to achieve term pregnancies in women with repetitive abortion or infertility of unknown origin by microbiological and immunological modulation of the vaginal ecosystem. Nutrients, 13(1), 162.