Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Komunitas MDG kembali menggelar sesi edukasi seputar program hamil melalui live Instagram yang kali ini menghadirkan dokter obgyn dan fertility specialist, dr. Andra Kusuma Putra, Sp.OG Subsp. F.E.R. Acara ini dipandu langsung oleh Mizz Rosie, founder MDG, yang sekaligus menjadi host dalam sesi tersebut.
Live Instagram ini ditujukan bagi para sister dan paksu yang sedang mempertimbangkan program hamil berbantu seperti IVF (In Vitro Fertilization), maupun yang tengah menjalani perjuangan sebagai IVF warrior. Sesi dimulai dengan penjelasan tentang tahapan IVF, dimulai dari stimulasi ovarium, pemantauan folikel, dan suntikan pemicu ovulasi, hingga proses ovum pick up (OPU) dan pengambilan sperma. Selanjutnya, sel telur dibuahi dengan metode konvensional atau ICSI, dikultur menjadi embrio, lalu dilakukan transfer embrio ke dalam rahim. Proses ini dilanjutkan dengan dukungan hormon progesteron dan diakhiri dengan tes kehamilan β-hCG.
Lebih dari sekadar prosedur medis, dr. Andra juga menekankan pentingnya dua aspek eksternal yang sangat memengaruhi keberhasilan IVF, yaitu kesiapan fisik dan non-fisik. Salah satu critical point penyebab kegagalan IVF yang sering terjadi adalah kualitas sperma, yang seringkali tidak optimal dan bahkan menyulitkan pengambilan keputusan dalam program hamil. Kualitas sperma dipengaruhi oleh proses spermatogenesis yang berlangsung sekitar 64–74 hari, sementara oosit (sel telur) juga membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk mencapai kondisi prima.
Hal lain yang juga disoroti adalah pentingnya menjaga berat badan ideal, karena tubuh dengan berat seimbang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program hamil.
Sesi berlangsung sangat interaktif, dengan banyak pertanyaan dari peserta yang memenuhi kolom komentar. Beberapa pertanyaan yang muncul mencerminkan antusiasme dan kekhawatiran nyata dari para pejuang dua garis, seperti: “Saya memiliki 5 embrio yang sudah di-PGTA, 4 good dan 1 low mosaic. FET pertama gagal, dan ingin mencoba FET kedua. Usia saya sudah 35 tahun, sebaiknya tanam 1 atau 2 embrio? Apa saja yang memengaruhi keberhasilan FET? Perlukah cek INR?” atau pertanyaan teknis lainnya seperti “Usia saya 35 tahun, saat OPU ada 7 telur, namun yang mencapai 2PN hanya 3. Sisanya gagal. Apa penyebabnya? Apakah 3 embrio tersebut masih berpeluang bertahan hingga day 5?”
Acara ini tidak hanya informatif, tapi juga menjadi ruang diskusi hangat antara dokter dan para peserta. Jangan sampai ketinggalan sesi-sesi berikutnya dari MDG yang selalu penuh ilmu dan dukungan untuk para pejuang dua garis! jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Human papillomavirus (HPV) bukan cuma dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks, tapi juga mulai dilirik karena potensi dampaknya terhadap kesuburan. Dalam dua dekade terakhir, penelitian tentang HPV semakin berkembang dari upaya pencegahan lewat vaksin, hingga eksplorasi perannya dalam teknologi reproduksi berbantu (assisted reproductive technology/ART).
MDG kali ini akan membahas dua sisi dari HPV selain sebagai ancaman yang bisa dicegah melalui vaksinasi, dan sebagai faktor yang perlu diperhatikan karena berdampak pada infertilitas.
Vaksin HPV: Harapan Nyata untuk Mengakhiri Kanker Serviks
Kanker serviks masih menjadi tantangan besar, terutama di negara-negara berkembang. Sementara negara maju mencatat penurunan signifikan berkat program skrining dan vaksinasi HPV yang terstruktur, negara-negara berpenghasilan rendah justru masih menanggung beban terbesar, salah satu penyebabnya adalah karena akses terhadap vaksin dan pemeriksaan dini yang sangat terbatas.
Kenapa Vaksin Ini Penting?
Infeksi HPV yang berlangsung lama (persisten) terbukti dapat memicu transformasi sel serviks menjadi sel kanker. Vaksin HPV bekerja dengan cara merangsang sistem kekebalan tubuh agar siap melawan virus sebelum menyebabkan infeksi kronis atau kerusakan. Karena itu, pemberian vaksin paling efektif dilakukan pada usia remaja, sebelum terpapar virus lewat kontak seksual.
Kini, vaksin HPV telah masuk dalam program imunisasi nasional di banyak negara. Bahkan, skrining kanker serviks kini beralih ke deteksi DNA HPV sebagai metode utama, sesuai dengan rekomendasi WHO.
Namun, sekitar 86% kasus kanker serviks masih terjadi di negara-negara dengan akses terbatas terhadap vaksinasi dan skrining. Ini menciptakan ketimpangan besar dalam pencegahan kanker serviks global.
Selain akses dan biaya, tantangan besar lainnya adalah edukasi masyarakat dan stigma. Masih ada anggapan bahwa vaksin HPV berkaitan dengan promosi aktivitas seksual dini, padahal faktanya, vaksin ini bersifat preventif dan tidak berkaitan dengan perilaku seksual penerima. Dibutuhkan pendekatan komunikasi yang sensitif namun berbasis bukti untuk menghapus keraguan ini.
Jika vaksinasi dan skrining dilakukan secara merata, kanker serviks bukan tidak mungkin bisa dieliminasi di masa depan. Tapi ini tentu membutuhkan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak termasuk pemerintah, tenaga kesehatan, dan komunitas.
HPV dan Kesehatan Reproduksi
Selain sebagai penyebab utama kanker serviks, HPV juga sering dikaitkan dengan masalah infertilitas dan keberhasilan program hamil berbantu seperti inseminasi buatan dan bayi tabung (ART).
Infeksi HPV diketahui dapat berdampak pada kesuburan dan kehamilan, termasuk memengaruhi kualitas hasil dari prosedur ART. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pria dengan gangguan reproduksi lebih berisiko mengalami infeksi HPV dibandingkan pria subur yang pada akhirnya bisa berdampak pada pasangan dan potensi terjadinya kanker serviks.Hal ini cukup mengkhawatirkan, karena infeksi HPV dalam semen dapat menurunkan kualitas sperma dan mengganggu fungsi reproduksi.
Sedangkan pada pasangan yang menjalani ART biasanya sudah melalui perjalanan panjang dan emosional. Jika infeksi HPV ternyata terbukti memengaruhi kualitas embrio atau keberhasilan implantasi, maka skrining dan penanganan HPV sebelum ART bisa menjadi langkah strategis dalam meningkatkan peluang keberhasilan.
HPV bukan sekadar virus yang memicu kanker serviks. Bukti-bukti ilmiah yang mulai bermunculan menunjukkan bahwa dampaknya bisa meluas hingga ke masalah kesuburan, terutama pada pasangan yang tengah menjalani program hamil berbantu. Infeksi yang mungkin tak bergejala ini bisa memengaruhi kualitas sperma, embrio, bahkan menurunkan peluang keberhasilan prosedur ART.
Di sisi lain, vaksinasi dan skrining HPV telah terbukti efektif dalam mencegah kanker serviks dan berpotensi memiliki peran penting juga dalam upaya menjaga kualitas reproduksi. Oleh karena itu, penting bagi sister dan paksu untuk mulai aware dengan HPV karena pencegahan, deteksi dini, dan kesadaran akan dampaknya dalam konteks kesuburan perlu terus disuarakan, bukan hanya untuk perempuan, tapi juga laki-laki.
Dengan edukasi yang tepat, akses layanan yang adil, dan komitmen bersama, kita bisa melangkah menuju masa depan di mana kanker serviks bisa dieliminasi dan keberhasilan program hamil bisa terjamin. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Illah, O., & Olaitan, A. (2023). Updates on HPV vaccination. Diagnostics, 13(2), 243.
- Tramontano, L., Sciorio, R., Bellaminutti, S., Esteves, S. C., & Petignat, P. (2023). Exploring the potential impact of human papillomavirus on infertility and assisted reproductive technology outcomes. Reproductive biology, 23(2), 100753.

Mengikuti program bayi tabung (IVF) bisa jadi salah satu perjalanan emosional paling menantang bagi pasangan. Bukan hanya soal suntikan hormon atau prosedur medis, tapi juga tentang bagaimana tubuh dan pikiran merespons tekanan yang terus-menerus.
IVF dan Kecemasan: Hubungan yang Kompleks
Studi menunjukkan bahwa pria dan wanita yang menjalani IVF cenderung mengalami peningkatan tingkat kecemasan. Prosedur IVF terdiri dari beberapa tahap yang harus berhasil dilewati satu per satu mulai dari stimulasi hormon, pengambilan sel telur, fertilisasi, hingga transfer embrio. Semakin jauh proses berlangsung, biasanya harapan meningkat, tetapi begitu juga rasa takut akan kegagalan.
Setiap tahap membawa ketidakpastian. Belum lagi efek samping dari terapi hormon yang bisa memicu gejala fisik menyerupai kecemasan seperti jantung berdebar, kelelahan, atau sulit tidur. Beberapa orang bahkan merasa stres hanya dengan suntikan harian atau berada di lingkungan rumah sakit.
Kenali Tanda-Tanda Kecemasan
Gejala Psikologis Kekhawatiran berlebihan, Pikiran obsesif, Sulit konsentrasi, Mudah tersinggung. Gejala Fisik Jantung berdebar, Gelisah, Tegang otot, Lelah berlebih, Sulit tidur. di tahap perilakunya bisa sampai ke penghindaran pada situasi tertentu (misalnya, enggan ke klinik atau berbicara soal IVF). Jika gejala ini semakin sering, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau menurunkan kualitas hidup, penting untuk segera mencari bantuan.
Ubah Gaya Hidup, Olahraga teratur, Terhubung dengan orang terdekat, Jadwalkan waktu untuk istirahat harian. Gabung dengan komunitas agar dapat berbagi cerita dengan orang lain yang punya pengalaman serupa bisa sangat membantu secara emosional. juga bisa melakukan latihan relaksasi napas dalam meditasi, relaksasi otot progresif, visualisasi positif
Cognitive Behavioural Therapy (CBT) sebagai Perawatan Psikologis
Selain cara-cara tersebut, sister juga dapat mencoba salah satu pendekatan yang cukup dikenal adalah Cognitive Behavioural Therapy (CBT). Terapi ini dilakukan lewat percakapan yang terarah untuk membantu seseorang mengenali dan mengubah pola pikir serta perilaku yang memicu kecemasan. Misalnya, saat muncul pikiran seperti “saya pasti gagal”, CBT akan mengajak kita untuk mempertanyakan pikiran tersebut. Kita dilatih untuk bertanya, “Apa buktinya saya tidak mampu?” atau “Pernahkah saya menghadapi situasi sulit sebelumnya dan berhasil melewatinya?” Cara berpikir ini membantu membangun sudut pandang yang lebih realistis dan tidak terlalu keras pada diri sendiri.
CBT juga bisa membantu mengatasi perilaku menghindar, seperti enggan ikut support group karena takut dinilai atau merasa terlalu cemas menghadapi jadwal minum obat. Dalam beberapa kasus, terapis bisa menggunakan teknik bernama graded exposure, yaitu proses bertahap untuk menghadapi hal-hal yang ditakuti, seperti rasa takut pada suntikan atau suasana rumah sakit.
Temuan dari Faramarzi, 2013 CBT tidak hanya mampu menurunkan tingkat stres infertilitas secara keseluruhan, tetapi juga berdampak positif pada berbagai aspek seperti kekhawatiran sosial, masalah dalam hubungan seksual, ketegangan pernikahan, penerimaan terhadap kemungkinan hidup tanpa anak, dan kebutuhan kuat untuk menjadi orang tua.
Merasa cemas saat menjalani IVF adalah hal yang sangat wajar. Tapi saat kecemasan mulai mengambil alih hidupmu, jangan ragu untuk mencari bantuan. Kesehatan mental adalah bagian penting dari perjalanan menuju kehamilan. Bukan tanda kelemahan tapi bentuk keberanian menghadapi proses yang memang tidak mudah.
Yuk, jaga tubuh dan pikiran tetap seimbang selama program kesuburan. Karena program hamil bukan cuma soal angka dan prosedur, tapi juga tentang harapan, emosi, dan ketahanan diri. Informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa follow Instagram @menujuduagris.id
Referensi
- Faramarzi, M., Pasha, H., Esmailzadeh, S., Kheirkhah, F., Heidary, S., & Afshar, Z. (2013). The effect of the cognitive behavioral therapy and pharmacotherapy on infertility stress: a randomized controlled trial. International journal of fertility & sterility, 7(3), 199.
- https://www.cope.org.au/planning-a-family/happening/mental-health-and-ivf/anxiety-and-ivf/

Pernah dengar tentang phthalates alias ftalat? Bahan kimia ini sering ditemukan di produk sehari-hari, seperti plastik, parfum, sabun, hingga produk perawatan tubuh. Bahan yang ternyata sister dan paksu sering temui ini menunjukkan bahwa zat ini bisa berdampak pada kualitas sperma pria. Wah bagaimana bisa terjadi dan bagaimana cara berdampak ke sperma, yuk pahami lebih lanjut!
Apa itu Phthalates alias Ftalat, dan Adakah Undang-Undang yang Mengatur?
Ftalat atau ester ftalat adalah bahan kimia yang secara umum digunakan sebagai plasticizer yang ditambahkan ke dalam bahan plastik untuk meningkatkan kelenturan, transparansi dan daya tahannya. Ftalat digunakan secara luas untuk produk yang umum digunakan oleh manusia seperti kemasan plastik, mainan anak, kosmetik dan obat-obatan.
Mengapa bahan ini membahayakan? Karena tidak adanya ikatan konten antara ftalat dan plastik, maka tidak mudah sekali terlepas ke lingkungan dengan pemanasan atau penggunaan pelarut kuat. Saat ftalat sudah terlepas ke lingkungan maka akan mudah terpapar ke manusia melalui debu, air, dan udara.
Hal ini sudah turut diatur dalam Undang-undang Nomor HK.03.1.23.07.11.6664 tahun 2011 yang mengatur tentang ambang batas beberapa jenis ftalat sebagai bahan pemlastis dalam kemasan pangan dengan berbagai konsentrasi. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor : 55/M-IND/PER/11/2013 yang mengatur penggunaan ftalat pada mainan anak tidak boleh melebihi 0,1%.
Paparan Bahan Kimia Ini Bisa Pengaruhi Jumlah Sperma
Beberapa bahan kimia yang sering ditemukan di plastik, seperti ftalat, ternyata bisa berdampak pada kesehatan reproduksi laki-laki. Zat turunan ftalat yang masuk ke tubuh baik lewat urin atau cairan semen terkait dengan penurunan jumlah sperma. Contohnya seperti:
- MBP (monobutyl phthalate): bisa berasal dari produk perawatan pribadi seperti sampo, sabun cair, dan parfum.
- MBzP (monobenzyl phthalate): sering ditemukan pada lantai vinyl atau bahan pelapis berbahan plastik.
- DEHP (di-(2-ethylhexyl) phthalate): banyak digunakan dalam plastik lunak seperti kemasan makanan, botol minum, atau bahkan selang medis.
Semakin tinggi kadar zat-zat ini di tubuh, jumlah sperma bisa makin rendah. Artinya, paparan dari lingkungan sekitar termasuk makanan yang dibungkus plastik atau produk harian yang kita pakai bisa mempengaruhi kualitas sperma.
Meski begitu tidak semua metabolit ftalat menunjukkan efek buruk. Beberapa zat lain seperti MEP, MMP, dan MEHP tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan parameter kualitas sperma seperti jumlah, gerakan (motilitas), atau bentuk (morfologi).
Dari artikel MDG kali ini, kami ingin memberikan informasi bawah memang ada pengaruh dari paparan ftalat tertentu terhadap kesuburan pria, khususnya pada jumlah sperma. Meskipun begitu, tingkat kepastian bukti ini masih tergolong “sedang”, artinya belum 100% pasti. Namun perlu untuk mengurangi paparan ftalat bisa jadi langkah awal yang baik misalnya dengan memilih produk bebas ftalat, tidak memanaskan makanan dalam wadah plastik, atau menghindari parfum dan produk perawatan yang tidak jelas kandungannya. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Cao, S., Meng, L., Bai, H., Yang, W., Hu, X., & Li, X. (2024). The association between ethylene oxide and testosterone in the United States population: a cross-sectional study based on the National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) 2013–2016. Endocrine, 86(2), 850-859.
- chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://bbkk.kemenperin.go.id/wp-content/uploads/brosur/brosur%20ftalat.pdf

Kita mungkin sudah familiar dengan etilen oksida (EtO) ia merupakan salah satu bahan kimia industri yang bisa mencemari lingkungan. Dan akhir-akhir ini kandungan tersebut ditemukan di makanan yang sering kita temui. Fakta yang tidak kalah penting bahwa zat tersebut ternyata punya hubungan dengan hormon laki-laki, yaitu testosteron?
Ketahui Bahaya Bahan Kimia etilen oksida (EtO)
Paparan EtO terbukti menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius termasuk kanker, kerusakan saraf, gangguan sistem reproduksi, dan kerusakan organ. Paparan jangka panjang terhadap EtO juga dapat meningkatkan risiko kanker pada paru-paru, perut, dan sistem saraf.
Banyak fakta yang berbasis penelitian turut menunjukkan bagaimana paparan EtO dapat menyebabkan kerusakan saraf dan gangguan neurologis pada manusia. Bahkan, paparan EtO dapat mempengaruhi fungsi sistem reproduksi manusia. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Toxicological Sciences, paparan EtO dapat menyebabkan kerusakan sperma pada pria dan kelainan pada ovum pada wanita.
Salah satu makanan yang ditemukan ada EtO dalam produksi mie instan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih makanan yang lebih sehat dan menghindari mie instan sebagai makanan yang sering dikonsumsi. Selain pada mi instan bahan kimia ini juga banyak digunakan dalam berbagai industri.
EtO ditemukan terutama dalam produksi etilen glikol, yang digunakan dalam pembuatan berbagai produk seperti antibeku, tekstil, plastik, deterjen, dan perekat. Selain itu, EtO juga digunakan sebagai agen sterilisasi untuk peralatan medis dan produk lainnya yang tidak dapat disterilkan dengan panas atau uap, seperti peralatan medis sekali pakai.
Paparan EtO dan Testosteron
Disisi lain penelitian dari Wang tahun 2023 menemukan bahwa orang yang punya paparan etilen oksida (EO) lebih tinggi yang diukur lewat kadar HbEO dalam darah ternyata juga punya kadar hormon testosteron yang lebih tinggi, terutama pada pria. Jadi, makin banyak EO yang masuk ke tubuh, makin tinggi juga kadar testosteronnya.
Efek ini paling terlihat pada pria, sementara pada wanita tidak sekuat itu. Tapi, perlu diingat, meskipun testosteron naik, EO tetap tergolong zat berbahaya yang bisa meningkatkan risiko kanker dan penyakit lainnya. Penemuan ini membuka wawasan baru bahwa bahan kimia dari lingkungan bisa memengaruhi hormon tubuh kita, dan masih perlu banyak penelitian untuk tahu cara kerjanya lebih jelas.
Paparan etilen oksida memang memberikan gambaran yang kompleks di satu sisi bisa memengaruhi kadar hormon seperti testosteron, tapi disisi lain juga membawa risiko besar terhadap kesehatan, mulai dari kanker, gangguan saraf, hingga kerusakan sistem reproduksi. Fakta bahwa EtO bisa ditemukan dalam makanan sehari-hari seperti mi instan dan dalam berbagai produk industri membuat kita perlu lebih waspada dalam memilih apa yang kita konsumsi dan gunakan. Meski tubuh manusia punya kemampuan adaptasi, tidak ada salahnya untuk mulai membatasi paparan terhadap zat berbahaya ini. Yuk, lebih bijak memilih makanan dan produk, demi menjaga kesehatan jangka panjang kita dan orang-orang tercinta. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Wang, H., He, H., Wei, Y., Gao, X., Zhang, T., & Zhai, J. (2023). Do phthalates and their metabolites cause poor semen quality? A systematic review and meta-analysis of epidemiological studies on risk of decline in sperm quality. Environmental Science and Pollution Research, 30(12), 34214-34228.
- https://fkm.unair.ac.id/2023/11/17/bahaya-zat-etilen-oksida-yang-sering-ditemukan-di-produk-mie-instan-bagi-tubuh/

Saat menjalani program bayi tabung (IVF) atau teknologi reproduksi berbantuan (ART), pasangan tidak hanya menghadapi tantangan fisik, tapi juga tekanan mental. Banyak yang tidak menyadari bahwa proses ini bisa sangat menguras emosi.
MDG akan membahas ini dengan sister bahwa tekanan psikologis yang dirasakan pria dan wanita selama menjalani program ini bisa berbeda. Dengan kita memahami ini membantu kita lebih memahami pentingnya dukungan emosional selama proses memiliki buah hati
Apa yang Dirasakan Para Perempuan?
Dibandingkan para suami, wanita yang mengalami infertilitas ternyata lebih tinggi dalam berbagai gejala psikologis, seperti:
- Somatisasi (keluhan fisik yang terkait stres),
Tekanan mental selama program bayi tabung (IVF) juga bisa memicu gangguan psikologis lain seperti somatic symptom disorder (SSD) atau gangguan somatoform. Kondisi ini membuat seseorang merasakan berbagai keluhan fisik seperti nyeri perut, sesak napas, atau kelelahan, padahal tidak ditemukan penyebab medis yang jelas. Yang membedakan adalah tingkat kekhawatiran berlebih terhadap gejala fisik tersebut pengidap SSD bisa merasa sangat cemas dan yakin bahwa mereka sedang mengalami penyakit serius. Dalam konteks IVF, ketegangan emosional yang terus-menerus bisa membuat seseorang lebih peka terhadap perubahan tubuhnya, hingga setiap rasa nyeri atau sensasi ringan pun dianggap sebagai tanda bahaya. Gejala ini bisa semakin mengganggu proses dan memperburuk tekanan psikologis yang dirasakan. Karena itu, penting bagi pasangan untuk memahami bahwa kesehatan mental juga bagian dari kesiapan menjalani program kesuburan, dan tidak ragu mencari bantuan profesional jika muncul gejala yang mengganggu. - Gejala obsesif,
Bagi sebagian pasangan yang menjalani program bayi tabung (IVF), tekanan mental yang muncul bisa memicu atau memperparah kondisi kesehatan mental tertentu, seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD). OCD ditandai dengan pola pikir dan ketakutan yang tidak diinginkan (obsesi) yang mendorong seseorang melakukan perilaku berulang (kompulsi) untuk meredakan kecemasan. Misalnya, kekhawatiran berlebihan terhadap kebersihan atau prosedur medis dapat membuat seseorang terus-menerus mencuci tangan, mengecek jadwal minum obat, atau berulang kali mencari kepastian dari tenaga medis semua dilakukan secara berlebihan dan ritualistik. Sayangnya, dorongan untuk mengontrol segala sesuatu ini justru menimbulkan lingkaran stres yang sulit diputus. Di tengah proses IVF yang sudah menantang secara fisik dan emosional, kondisi OCD bisa makin memperberat beban mental. Perasaan malu, frustrasi, atau risih terhadap gejala OCD pun kerap muncul. Namun, penting untuk diingat bahwa kondisi ini bisa diatasi dengan bantuan profesional, dan pengobatan yang tepat dapat membantu memperbaiki kualitas hidup selama menjalani program kesuburan.
Bahkan penelitian yang dilakukan Kissi, 2013 menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengalami tekanan psikologis yang lebih berat saat menghadapi tantangan infertilitas dan menjalani prosedur medis seperti ART. Bukan berarti pria tidak terpengaruh, tetapi tekanan emosional pada wanita tampaknya lebih kompleks dan dalam.
Untuk itu sister dan paksu harus mulai aware dengan dukungan psikologis yang bukan dapat dihiraukan karena hal ini masuk sebagai bagian dari perawatan infertilitas. Terutama untuk para sister yang membutuhkan dukungan ekstra, layanan konseling atau terapi emosional bisa sangat membantu dalam menjaga keseimbangan mental selama proses pengobatan.
Infertilitas bukan sekadar isu medis. Ini juga tentang perasaan, harapan, dan tekanan sosial yang seringkali hanya dirasakan tapi tak terucap. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- El Kissi Y, Romdhane AB, Hidar S, Bannour S, Ayoubi Idrissi K, Khairi H, et al. General psychopathology, anxiety, depression and self-esteem in couples undergoing infertility treatment: a comparative study between men and women. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. (2013) 167:185–9. doi: 10.1016/j.ejogrb.2012.12.014
- https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/gangguan-somatoform-somatisasi/
- https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/obsessive-compulsive-disorder/symptoms-causes/syc-20354432

Diantara infertilitas yang banyak menimpa laki-laki salah satunya adalah mengalami oligospermia, yaitu kondisi di mana jumlah spermanya di bawah normal. Tapi kadang, masalahnya bisa jadi menjadi semakin kompleks karena bukan hanya karena jumlahnya sedikit tapi juga karena kualitas DNA sperma-nya rusak.
Jadi meskipun sperma itu masih bisa bergerak dan membuahi sel telur, kalau DNA-nya rusak, bisa bikin proses pembuahan jadi gagal total. Salah satu cara mengecek kerusakan ini adalah lewat uji TUNEL, yang melihat berapa banyak sperma dengan DNA yang terfragmentasi.
TUNEL Assay: Cara Mengecek Kerusakan DNA di Sperma
DNA dalam sperma punya peran penting dalam proses kehamilan mulai dari pembuahan sampai perkembangan janin. Kalau DNA-nya rusak, bisa bikin sperma sulit membuahi atau menyebabkan keguguran. Kerusakan ini disebut sebagai fragmentasi DNA sperma, dan ternyata lebih sering terjadi pada pria yang mengalami infertilitas.
Nah salah satu cara untuk mengecek apakah ada kerusakan DNA di sperma adalah dengan tes terminal deoxynucleotidyl transferase dUTP Nick-End labeling (TUNEL). Tes ini bisa langsung mendeteksi kerusakan, baik yang ringan maupun berat, pada untaian DNA sperma. Biasanya, TUNEL dilakukan dengan alat bernama flow cytometer, yang membantu membaca hasilnya secara lebih akurat dan cepat. Hasil dari tes ini bisa membantu dokter memahami penyebab infertilitas yang nggak kelihatan dari hasil analisis sperma biasa. Bagaimana jika setelah dibaca ditemukan kerusakan pada sperma?
Ketika Sperma Ejakulasi Gagal dan Ditemukan Kerusakan pada Sperma
Pada beberapa kasus oligospermia, sperma yang keluar saat ejakulasi ternyata punya tingkat kerusakan DNA yang tinggi. Nah, disinilah banyak metode berbantu terutama dalam membantu mengambil sperma langsung dari testis lewat prosedur TESE (Testicular Sperm Extraction).
Ternyata, sperma yang diambil dari testis sering kali punya kualitas DNA yang jauh lebih baik. Kenapa? Karena sperma ejakulasi bisa rusak saat melewati saluran reproduksi, sementara sperma testis belum mengalami “perjalanan panjang” itu.
Buat pasangan dengan kondisi seperti ini oligospermia ditambah dengan sperma rusak banyak yang akhirnya berhasil hamil setelah mencoba bayi tabung lagi, tapi pakai sperma testis.
Menariknya, keberhasilan ini tidak tergantung pada usia pasangan, jumlah upaya sebelumnya, atau jumlah embrio yang ditransfer. Justru yang membedakan adalah dari mana sperma itu diambil.
Kalau paksu punya jumlah sperma yang sedikit dan kualitas DNA-nya buruk, sudah saatnya pertimbangkan jalur lain. Karena kadang, bukan tubuhnya yang gagal tapi strateginya yang perlu disesuaikan.
Dan siapa tahu, sperma testis-lah yang akhirnya jadi program hamil yang berhasil dalam perjalanan dua garis kalian.
Referensi
- Mehta, A., Bolyakov, A., Schlegel, P. N., & Paduch, D. A. (2015). Higher pregnancy rates using testicular sperm in men with severe oligospermia. Fertility and sterility, 104(6), 1382-1387.
- Sharma, R., Iovine, C., Agarwal, A., & Henkel, R. (2021). TUNEL assay—Standardized method for testing sperm DNA fragmentation. Andrologia, 53(2), e13738.

Sister dan paksu sudah tahu jika masalah infertilitas tidak hanya berkaitan dengan kesehatan reproduksi tapi juga berdampak pada kesehatan mental. Sehingga agar akurat bermunculan banyak alat ukur kesehatan mental yang berfokus pada aspek tekanan dan masalah psikologis. Misalnya, Beck Depression Inventory dan State Trait Anxiety Measure yang digunakan untuk menilai tingkat depresi dan kecemasan. Alat lainnya seperti Ways of Coping, Fertility Problem Inventory, hingga Concerns During Assisted Reproductive Technologies scale lebih berfokus pada stres dan persoalan psikososial.
Nah pendekatan diatas belum ada yang melihat aspek yang tak kalah penting yaitu keyakinan pasien terhadap kemampuan mereka sendiri. Proses ini berkaitan dengan efikasi diri.
Pahami Efikasi Diri yang berfokus pada Kemampuan, Bukan Masalah
Efikasi diri berfokus pada kemampuan dan kepercayaan diri seseorang untuk terlibat dalam perilaku tertentu, baik itu menyuntik diri sendiri, menghadiri sesi terapi, atau tetap mengikuti regimen pengobatan yang ketat. Cara ini telah banyak digunakan dalam bidang kesehatan lain, seperti kanker, artritis, diabetes, perimenopause, aktivitas fisik, hingga penggunaan kondom.
Jadi sister dan paksu dapat membayangkan proses ini dilakukan “ketika seseorang memandang situasi sulit sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan, maka situasi tersebut terasa lebih ringan, lebih bisa diprediksi, dan tidak terlalu mengancam.
Efikasi Diri Mempengaruhi Hasil Reproduksi?
Efikasi diri tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tapi juga berpotensi memengaruhi biologis dalam kesehatan reproduksi. Misalnya, wanita yang awalnya percaya diri dalam menjalani pengobatan bisa kehilangan kepercayaan itu setelah beberapa kali keguguran atau siklus gagal. Dalam kondisi ini, intervensi psikologis sangat dibutuhkan untuk membangun kembali efikasi dirinya.
Fakta dilapangan bahwa perempuan yang infertil sering kali memulai perawatan dengan kepercayaan diri yang tinggi. Namun, kepercayaan tersebut perlahan terkikis seiring panjangnya proses pengobatan dan tekanan yang mereka alami.
Dilain sisi pada wanita terbukti mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan pasangan pria, terutama karena mereka yang menjalani sebagian besar prosedur invasif dan harus menyesuaikan hidupnya dengan siklus pengobatan. Namun demikian, baik pria maupun wanita dapat sama-sama mendapat manfaat dari intervensi psikososial, dan infertilitas tetap merupakan pengalaman baru bagi kebanyakan orang.
Menerapkan efikasi diri dalam konteks infertilitas bukan sekadar tambahan. Ini adalah langkah penting untuk memahami bagaimana pasien menghadapi diagnosis dan perawatan yang sangat menantang secara fisik dan emosional. Dengan berfokus pada kemampuan setidaknya dapat mengurangi rasa sakit dan rasa takut yang dihadapkan kepada pasangan pejuang dua garis. Salah satunya adalah dengan bergabung pada komunitas untuk mendapatkan dukungan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
- Cousineau, T. M., Green, T. C., Corsini, E. A., Barnard, T., Seibring, A. R., & Domar, A. D. (2006). Development and validation of the Infertility Self-Efficacy scale. Fertility and sterility, 85(6), 1684-1696.