Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis
![]()
Tidak dapat dipungkiri jika laki-laki memegang peran sangat penting pada program hamil, kehadiran sperma tutur memegang peran kunci dan untuk itu tentu harus berkualitas. Tidak adanya sperma adalah permasalahan yang fatal, karena solusi satu-satunya adalah donor sperma, untuk itu perlu mempertimbangkan kira-kira terapi apa yang bisa dipertimbangkan untuk kualitas sperma. MDG akan membahas lebih lanjut apakah terapi medis hormonal empiris dapat dipertimbangkan? baca sampai habis ya!
Infertilitas pada Pria
Sekitar setengah dari pasangan ini akan memiliki patologi faktor pria sebagaimana didiagnosis oleh analisis air mani yang abnormal. Data penyebab infertilitas pada pria 30% memiliki oligospermia atau azoospermia. Teknik modern menunjukkan penyebab yang dapat diidentifikasi hanya ditemukan pada 50% pasien dan sisanya dari pasien ini diklasifikasikan sebagai memiliki infertilitas idiopatik.
Infertilitas idiopatik menjadi salah satu jenis gangguan kesuburan terjadi tanpa alasan yang jelas. Pada fertilitas pria, memiliki dua pilihan antara teknik reproduksi berbantuan atau empiric medical therapy (EMT).
Empiric Medical Therapy (EMT)
Pada sebuah penelitian dengan judul “Empiric and lifestyle therapies for male infertility should we recommend them?” turut memilih tiga kategori terapi empiris yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan pria: pengobatan empiris, konsumsi antioksidan, nutraceutical, vitamin, dan perubahan gaya hidup seperti menghindari pakaian dalam yang ketat, panas, dan ponsel atau komputer laptop. Harus diakui bahwa meskipun kita tidak sepenuhnya memahami etiologi yang mendasari infertilitas idiopatik, bukan berarti pengobatan “empiris” ini tidak pernah berhasil.
Dalam sebuah kasus, banyak pasangan yang tidak subur mengalami tekanan psikologis yang cukup besar. Pria juga berpotensi mengalami disfungsi ereksi ketika kinerja seksual mereka ditentukan oleh jam dan kalender dan tidak lagi terkait dengan interaksi romantis.
Rasionalisasi terapi empiris pada penerapannya dapat dibayangkan seperti ini “Karena hormon perangsang folikel (FSH) dibutuhkan untuk spermatogenesis, lebih banyak FSH hanya dapat membantu”. Dan mengetahui fakta bahwa testis lebih dingin daripada suhu inti tubuh, Sehingga pengaturan suhu pada testis sangatlah penting, untuk itu pakaian dalam ketat atau penggunaan komputer laptop dapat meningkatkan suhu skrotum dan berpotensi menyebabkan infertilitas. Sehingga terapi empirik dalam hal ini dapat diterapkan.
Bagi sister dan paksu sebelum menjalani program hamil, setidaknya mengetahui banyak hal detail yang harus diperhatikan, karena langkah sekecil apapun akan berdampak pada yang lebih besar. Semoga usaha sister dan paksu segera mendapatkan hasil yang baik. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Sigman, M. (2020). Empiric and lifestyle therapies for male infertility—should we recommend them?. Fertility and Sterility, 113(6), 1120.
- Tadros, N. N., & Sabanegh, E. S. (2017). Empiric medical therapy with hormonal agents for idiopathic male infertility. Indian Journal of Urology, 33(3), 194-198.
- https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190207185356-255-367294/infertilitas-idiopatik-gangguan-kesuburan-tanpa-sebab-jelas

Bagi sister dan paksu yang sedang berjuang, pasti sering mendengarkan saran dokter untuk segera melaksanakan program baik alami maupun berbantuan, karena ditakutkan bertambah umur yang berarti menyulitkan atau berpotensi gagal yang semakin tinggi? MDG akan mencoba menjabarkan dari beberapa referensi tentang fertilitas yang dikaitkan dengan umur.
Kesuburan Perempuan dan usia Eksponensial
Kesuburan perempuan menurun seiring bertambahnya usia secara eksponensial, penurunan yang lambat dan stabil antara usia 20 dan 35 tahun, diikuti oleh fase yang dipercepat selama 10 tahun berikutnya, sehingga bagi perempuan yang berusia lebih dari 45 tahun, akan sulit melakukan program kehamilan.
Dalam sebuah penelitian dengan judul “Reproductive span and rate of reproduction among Hutterite women” dengan objek masyarakat hutterite dengan paham pelarangan menggunakan alat kontrasepsi menemukan wanita infertil meningkat dari 3,5% untuk wanita berusia 25 tahun menjadi 33% untuk mereka yang berusia 40 tahun, dan akhirnya menjadi 87% untuk mereka yang berusia 45 tahun. Temuan dari penelitian memperlihatkan bagaimana usia ibu rata-rata saat kelahiran anak terakhir dalam kelompok-kelompok ini adalah sekitar 42 hingga 43 tahun.
Sebuah studi Federation CECOS juga menghitung tingkat kehamilan kumulatif setelah 12 siklus inseminasi buatan dengan sperma donor segar, dan mencatat penurunan yang nyata pada wanita yang berusia lebih dari 35 tahun (6). Sebuah studi Inggris yang serupa mengekstrapolasi tren penurunan fertilitas, yang pada usia 42 tahun turun menjadi nol.
Bagaimana dengan Kesuburan Laki-Laki
Sedangkan pada pria juga elemen umur sangat penting, dimana kesuburan pria biasanya mulai berkurang sekitar usia 40 hingga 45 tahun dimana di umur tersebut kualitas sperma menurun, Anak-anak dari ayah yang lebih tua juga memiliki peningkatan risiko masalah kesehatan mental (walaupun jarang terjadi). Anak-anak dari ayah yang berusia 40 atau lebih adalah 5 kali lebih mungkin untuk mengembangkan gangguan spektrum autisme daripada anak-anak dari ayah yang berusia 30 atau kurang. Di sisi lain, anak juga memiliki sedikit peningkatan risiko mengalami skizofrenia dan gangguan kesehatan mental lainnya di kemudian hari.
Meski demikian, tentu ada banyak jalan yang membantu kehamilan, salah satunya melalui IVF, dengan diimbangi pola hidup sehat, olahraga dan mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan dan asam folat. Selain itu sister dan paksu juga harus berkonsultasi pada dokter terutama berkaitan dengan program hamil yang ingin dijalani. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Laufer, N., Simon, A., Samueloff, A., Yaffe, H., Milwidsky, A., & Gielchinsky, Y. (2004). Successful spontaneous pregnancies in women older than 45 years. Fertility and sterility, 81(5), 1328-1332.
- Tietze C. Reproductive span and rate of reproduction among Hutterites women. Fertil Steril 1957;8:89–97.
- https://www.halodoc.com/artikel/benarkah-usia-tidak-memengaruhi-kesuburan-pria?srsltid=AfmBOoq5Y_CYi-l15Vtt1FQS4K1p6B3momX6kABt4q3sf-h4DrXqA0SV

Pengobatan infertilitas pria yang disebabkan oleh masalah sperma dapat dilakukan melalui berbagai metode. Salah satu teknologi canggih dalam bidang reproduksi adalah Microscopic Testicular Sperm Extraction atau mTESE. Metode ini dapat diterapkan untuk paksu yang menghadapi kesulitan mendapatkan sperma dari testis karena kondisi medulla seminiferi yang tidak normal. MDG akan membahas lebih lanjut tentang koordinasi pengambilan oosit dengan menerapkan prosedur mTESE untuk memperoleh sperma pada pria. Baca sampai habis ya!
Apa itu microsurgical testicular sperm extraction (mTESE)
microsurgical testicular sperm extraction (microTESE) adalah prosedur pembedahan yang dilakukan untuk mengambil sperma dari testis pria. Prosedur ini dilakukan untuk mengatasi infertilitas pada pria, khususnya yang disebabkan oleh azoospermia non obstruktif. Lalu bagaimana jika prosedur ini dikaitkan dengan pengambilan oosit
mTESE dengan siklus pengambilan oosit segar merupakan hal yang rumit. Sehingga diperlukan sinkronisasi yang tepat antara jadwal pasien, ahli urologi reproduksi, ahli endokrinologi reproduksi, tim ruang operasi, dan ahli embriologi. Bahkan dengan perencanaan yang cermat, perkembangan folikel tidak dapat diprediksi selama stimulasi ovarium terkontrol, dan pengambilan oosit mungkin tidak dapat disesuaikan dengan tanggal mTESE segar yang dijadwalkan.
Beberapa Pertimbangan sebelum melakukan Prosedur mTESE
Melihat data yang ada mengenai hasil IVF dan kehamilan dengan oosit yang divitrifikasi sangat mendukung untuk keberhasilan prosedur ini. Sister dan paksu dapat melihat tingkat keberhasilan yang tinggi dari oosit yang divitrifikasi dan potensi keuntungan dari pemisahan prosedur.
Bagi pasien dengan cadangan ovarium yang berkurang, lebih dari satu siklus stimulasi ovarium dengan penyimpanan oosit untuk memaksimalkan jumlah oosit yang tersedia harus dipertimbangkan sebelum mTESE. Selain itu, hal yang perlu diketahui adalah bahwa sperma mungkin tidak ditemukan pada saat mTESE.
Kehadiran Kemajuan dalam vitrifikasi oosit telah membuka pintu bagi pendekatan yang lebih fleksibel dan berpusat pada pasien serta peluang untuk mengoptimalkan waktu dan koordinasi kedua prosedur tersebut. Dengan memisahkan pengambilan oosit segar dan mTESE segar, dan memanfaatkan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi dari oosit yang divitrifikasi, ternyata dapat mengurangi beban pada pasien dan tim perawatan kesehatan sambil mempertahankan, atau berpotensi meningkatkan, kemungkinan keberhasilan.
Setelah mengetahui fakta tersebut, tentunya dapat sister dan paksu pertimbgkan kembali, apa langkah yang tepat untuk dapat dipilih ya. Melakukan prosedur yang terpisah dan melihat apa saja kira-kira dampaknya, meski demikian pilihlah proses yang aman dan mengedepankan keselamatan sister dan paksu. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Hughes, L., Kim, H. H., & Feinberg, E. C. (2024). It’s time to re-think coordination of fresh oocyte retrievals with microscopic testicular sperm extraction (mTESE). Fertility and sterility, S0015-0282.
- https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/procedures/microtese?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true

Fibroid uterus atau mioma merupakan tumor yang paling umum pada saluran reproduksi wanita. Dalam beberapa tahun terakhir, fibroid telah menarik perhatian karena dampaknya terhadap kesuburan wanita dan hasil kehamilan, dan insidensi kumulatif pada wanita usia reproduksi adalah 20% hingga 50%. Fibroid uterus menjadi penyebab gangguan hasil kesuburan pada 2%–3% kasus. Fibroid ini memiliki banyak jenis, MDG kali ini ingin menjelaskan lebih lanjut terkait mioma FIGO tipe 3, baca sampai habis ya!
Memahami apa itu Mioma FIGO tipe 3
Mioma FIGO tipe 3 adalah fibroid intramural (IM) yang berkembang di ruang submukosa. Mioma FIGO tipe 3 merupakan subtipe khusus dari fibroid intramural yang dapat mempengaruhi hasil kehamilan dari teknik reproduksi berbantuan. Sifatnya yang hibrida ini, yang menggabungkan ciri-ciri mioma submukosa dan intramural, dapat memiliki efek “double hit” yang merugikan bagi sister yang ingin hamil.
Saat ini, terdapat kelangkaan bukti kuat mengenai pendekatan bedah yang ideal untuk mioma FIGO tipe 3. Meskipun pendekatan histeroskopi lebih disukai karena kedekatannya dengan rongga rahim dibandingkan dengan serosa, keterbatasan utama pendekatan histeroskopi konvensional meliputi risiko kerusakan miometrium yang sehat dan risiko perlengketan yang signifikan.
Sebuah penelitian dengan judul “Impact of FIGO type 3 uterine fibroids on in vitro fertilization outcomes: a systematic review and meta‐analysis” menemukan bahwasanya Mioma FIGO tipe 3 secara signifikan dikaitkan dengan tingkat implantasi yang lebih rendah, tingkat kehamilan kumulatif, dan tingkat kelahiran hidup. Lebih jauh, efek buruknya pada hasil IVF semakin meningkat seiring dengan peningkatan ukuran dan jumlah. Meskipun demikian, tidak ada kesimpulan pasti yang dapat diambil tentang potensi manfaat pembedahan untuk fibroid uterus FIGO tipe 3 pada hasil IVF. Untuk itu kira-kira apa prosedur apa yang dapat dipertimbagkan?
Prosedur Cold Loop Technique
Sebuah penelitian menunjukkan perawatan histeroskopi mioma FIGO tipe 3 berukuran 29 mm pada dinding rahim anterior menggunakan “cold loop technique“. Video ini menekankan fase-fase prosedural utama: Membuka “jendela endometrium-miometrium” dengan pengorbanan miometrium yang minimal. Mengidentifikasi bidang pembelahan yang benar melalui pembedahan tumpul jembatan fibrokonektif yang mengikat mioma ke pseudo-kapsul dengan menggunakan loop dingin. dan Memotong komponen intramural fibroid yang terlepas dan dipindahkan ke rongga rahim dengan loop listrik.
Prosedur tersebut pada hasilnya, Mioma dapat diangkat seluruhnya dalam satu langkah pembedahan, dan di akhir prosedur, “notch” mioma dan pseudo-capsule yang utuh terlihat jelas. Pasien dipulangkan dalam keadaan sehat sehari setelah pembedahan. Pada tindak lanjut 3 bulan, histeroskopi kantor diagnostik menunjukkan rongga rahim yang pulih sepenuhnya.
Selain prosedur itu, dalam sebuah penelitian dengan judul “Hysteroscopic resection of type 3 fibroids could improve the pregnancy outcomes in infertile women: a case–control study” menemukan Fibroid tipe 3 secara signifikan mengurangi angka kelahiran hidup kumulatif pasien IVF. Miomektomi histeroskopi yang dipandu USG dapat digunakan sebagai pengobatan untuk fibroid tipe 3 dan dapat meningkatkan hasil kehamilan pada wanita infertil.
Meski fibroid digadang-gadang mempengaruhi secara signifikan pada kehamilan, namun seiring dengan zaman sudah ditemukan banyak prosedur yang dapat membantu. Meski demikian sister dan paksu tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk memilih penanganan yang tepat. Informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Mazzon, I., Vitagliano, A., Cicinelli, E., Gerli, S., & Favilli, A. (2024). Step-by-step hysteroscopic treatment of FIGO type 3 myoma with the cold loop technique. Fertility and Sterility.
- Han, Y., Yao, R., Zhang, Y., Yang, Z., Luo, H., Wang, X., … & Zhu, Y. (2022). Hysteroscopic resection of type 3 fibroids could improve the pregnancy outcomes in infertile women: a case–control study. BMC Pregnancy and Childbirth, 22(1), 522.
- Favilli, A., Etrusco, A., Chiantera, V., Laganà, A. S., Cicinelli, E., Gerli, S., & Vitagliano, A. (2023). Impact of FIGO type 3 uterine fibroids on in vitro fertilization outcomes: a systematic review and meta‐analysis. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 163(2), 528-539.

Bagi sister dan paksu yang melakukan program kehamilan menggunakan reproduksi berbantu seperti IVF hal yang paling krusial tentunya di keberhasilan transfer embrio. Sehingga pemahaman tentang perkembangan embrio setelah prosedur biopsi sangat penting untuk meningkatkan viabilitas dan keberhasilan transfer embrio.
Ternyata Salah satu temuan menarik adalah bahwa melakukan budidaya blastokista setelah biopsi dapat memberikan dampak positif terhadap kelangsungan hidup embrio. MDG akan mengupas lebih lanjut, baca sampai habis ya!
Apa itu Budidaya blastokista
Blastokista adalah embrio yang telah berkembang selama lima sampai tujuh hari setelah pembuahan dan telah dibagi menjadi 2 jenis sel berbeda, yaitu trophectoderm dan massa sel dalam dan rongga sel berisi cairan (rongga blastocoel). Trophectoderm kemudian akan berkembang menjadi plasenta dan massa sel akan menjadi janin. Blastokista memiliki kulit terluar yang sangat tipis sehingga berpotensi meningkatkan kemungkinan implantasi ke dalam rongga rahim.
Umumnya embrio ditransfer ke rahim setelah 48 jam pada tahap sel ke 4-8. Pada pembuahan alami, embrio mencapai rongga rahim pada hari ke-5. Dengan tersedianya media terbaru, ada proses baru melalui budidayakan embrio di laboratorium sampai tahap blastokista. Prosedur pembudidayaan blastokista dan pemindahan embrio yang berumur 5 hari memfasilitasi pemilihan embrio berkualitas terbaik untuk dipindahkan ke dalam rahim ibu.
Budidaya blastokista hadir sebagai teknik yang sangat membantu dalam memilih dan menilai kapasitas perkembangan embrio. Dengan cara pembudidayaan ini, dapat memilih dan mentransfer embrio-embrio yang dapat menimbulkan kehamilan. Karena faktanya bahwa tidak semua embrio manusia memiliki potensi untuk mencapai tahap blastokista, baik di dalam rahim maupun di laboratorium.
Keberhasilan dari budidaya blastokista adalah hasil dari perkembangan media yang dirancang untuk mendukung pengembangan blastokista, sebagai persyaratan dari embrio manusia yang berubah setelah dua hari pertama.
Apa kata Peneliti tentang ini?
Dalam sebuah penelitian dengan judul “Blastocyst re-expansion 1 hour after biopsy: an independent predictor of live birth. Fertility and Sterility, Menemukan Dalam siklus pengujian genetik non-pra-implantasi, praktik yang direkomendasikan berupa kolaps buatan blastokista sebelum vitrifikasi telah menjadi hal yang menonjol, meningkatkan viabilitas embrio yang di kriopreservasi, Dalam siklus pengujian genetik praimplantasi untuk aneuploidi (PGT-A), European Society of Human Reproduction and Embryology merekomendasikan vitrifikasi segera setelah biopsi untuk siklus PGT-A.
Setelah mengetahui apa yang MDG paparkan, tetap harus diketahui bahwasanya pasangan yang memilih budidaya blastokista harus siap untuk kemungkinan bahwa tidak akan ada embrio yang cocok untuk ditransfer. Jika embrio tidak mencapai tahap blastokista di laboratorium maka sangat kecil kemungkinan mereka dapat ditanamkan jika mereka telah dipindahkan ke dalam rahim pada tahap awal. Setidaknya melakukan proses ini menjadi perlu untuk dipertimbangkan. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Elkhatib, I., Nogueira, D., Bayram, A., Abdala, A., Gonzales, R., Del Gallego, R., … & Fatemi, H. (2024). Blastocyst re-expansion 1 hour after biopsy: an independent predictor of live birth. Fertility and Sterility, 122(6), 1147-1149.
- https://alphafertilitycentre.com/id/teknologi/transfer-blastokista
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9101782/

Mikrobiota usus merupakan komponen penting dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan, tapi fakta menariknya adalah ia memiliki hubungan signifikan dengan kesuburan wanita. Wah kenapa bisa begitu ya, baiklah MDG akan menjelaskan lebih lanjut untuk itu baca sampai habis ya!
Pahami Definisi Mikrobiota Usus
Mikrobiota usus adalah kumpulan mikroorganisme yang luas dan kompleks yang sangat mempengaruhi kesehatan manusia. Sebelumnya, orang menyebut mikrobiota usus sebagai mikroflora usus.
Mikrobiota usus membantu berbagai fungsi tubuh, termasuk memanen energi dari makanan yang dicerna, melindungi dari patogen, mengatur fungsi kekebalan tubuh, memperkuat penghalang biokimia usus.
Lalu apa Hubungan dengan Kesuburan Perempuan?
Mikrobioma usus memainkan peran penting dalam kesehatan kita secara keseluruhan, dengan mayoritas mikroba tubuh kita berada di usus. Menariknya, sekitar 9% populasi mikroba wanita ditemukan di saluran reproduksi.
Mikrobiota usus, yang mencakup triliunan mikroorganisme, memiliki dampak signifikan pada sistem reproduksi endokrin dengan berinteraksi dengan hormon-hormon utama seperti estrogen, androgen, dan insulin. Interaksi ini menunjukkan bahwa mikrobioma usus mungkin terlibat dalam kondisi seperti Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) dan endometriosis, yang keduanya merupakan faktor risiko infertilitas.
Bagaimana dengan Mikrobioma vagina?
Mikrobioma vagina juga hadir sebagai salah satu faktor penting lainnya dalam kesehatan reproduksi, dengan Lactobacillus sebagai salah satu bakteri dominan di lingkungan vagina wanita sehat. Lactobacillus menghasilkan asam laktat, yang membantu mencegah pertumbuhan berlebih dari ragi, bakteri, dan virus yang berpotensi berbahaya. Penelitian menunjukkan bahwa ketika mikrobioma vagina tidak didominasi oleh Lactobacillus, hal itu dapat menyebabkan dysbiosis, yang telah dikaitkan dengan kegagalan implantasi dan tingkat kehamilan yang lebih rendah dalam IVF, meskipun tampaknya tidak mempengaruhi tingkat kelahiran hidup. Jika demikian, adakah solusi untuk keadaan tersebut?
Potensi Probiotik untuk keseimbangan Mikrobiota Usus
Perlu untuk menyeimbangkan mikrobiota usus, salah satunya menggunakan probiotik. Potensi probiotik untuk meningkatkan hasil reproduksi merupakan bidang penelitian aktif, meskipun masih dalam tahap awal. Penelitian baru menunjukkan hasil yang menjanjikan. Misalnya, probiotik intravaginal yang mengandung Lactobacillus dapat mendukung kesuburan dan berpotensi meningkatkan angka kelahiran hidup pada wanita dengan vaginosis bakterial. Probiotik ini dapat memengaruhi mikrobioma endometrium dan juga dapat mengurangi angka keguguran.
Dalam konteks PCOS dan endometriosis, penelitian awal menunjukkan bahwa probiotik Lactobacillus dapat bermanfaat karena kadar Lactobacillus yang rendah diindikasikan pada kedua kondisi tersebut.
Cara menjaga Keseimbangan Mikrobiota Usus
Pola makan memainkan peran penting dalam menjaga mikrobioma usus yang sehat. Mengonsumsi mikroba makanan hidup yang ditemukan dalam makanan seperti kefir atau yoghurt dapat mendukung kesehatan usus. Selain itu, seperti yang terlihat di atas, mempertimbangkan probiotik yang didominasi Lactobacillus mungkin bermanfaat.
Pola makan yang mendukung keragaman mikrobiota usus juga direkomendasikan. Pola makan seperti itu biasanya kaya serat dan mencakup biji-bijian utuh, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, polong-polongan, dan kacang-kacangan. Pola makan bergaya Mediterania, yang menampilkan polong-polongan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, biji-bijian, daging tanpa lemak, ikan berminyak, dan minyak zaitun murni, telah terbukti mendukung
Setelah mengetahui informasi tersebut, sister penting untuk menjaga keseimbangan mikrobiota usus dengan menggunakan probiotik untuk meningkatkan kesuburan dan kesehatan sister secara keseluruhan. Informasi menarik lainnya kunjungin Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- https://www.morulaivf.co.id/id/blog/manfaat-probiotik-untuk-wanita/
- https://nusantics.com/en/blog/masa-depan-bayi-dipengaruhi-microbiome-pada-ibu-hamil-ini-penjelasannya
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7971312/
- https://www.europeanfertilitysociety.com/fertility-and-the-microbiome-lv/

Prosedur pemeriksaan genetik pra-implementasi (PGT-A, Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy) dilakukan sebagai salah satu langkah penting dalam proses fertilisasi in vitro (IVF) ia hadir berfungsi untuk mendeteksi kelainan kromosom pada embrio sebelum ditransfer ke rahim. Tentu saja prosedur ini dapat dipertimbangkan, terutama bagi sister dan paksu yang berisiko mengalami masalah genetik. Lebih lanjut MDG akan membahas sebagai berikut, baca sampai habis ya!
Mengetahui Serba-serbi Aneuploidi
Aneuploidi adalah kondisi di mana jumlah kromosom dalam sel tidak sesuai dengan jumlah normal, yaitu 46 kromosom pada manusia. Kondisi ini dapat berupa kekurangan (misalnya, 45 kromosom) atau kelebihan (misalnya, 47 kromosom) kromosom.
Aneuploidi terjadi karena kesalahan pemisahan satu pasang kromosom saat pembelahan meiosis. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan aneuploidi, antara lain: Usia ibu yang lebih dari 35 tahun, Faktor lingkungan, Gaya hidup.
Ketika seorang anak dilahirkan dengan keadaan aneuploidi, berpotensi mengalami gangguan genetik seperti sindrom down, sindrom turner, dan sindrom klinefelter. Sedangkan pada ibu hamil keberadaan aneuploidi dalam embrio dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, atau kelainan lahir serius.
Tujuan dan Manfaat PGT-A
Tentunya setelah mengetahui dampak yang fatal tersebut, melakukan PGT-A memiliki banyak manfaat, diantaranya PGT-A memungkinkan identifikasi embrio dengan jumlah kromosom yang tidak normal sebelum proses transfer. Sehingga embrio yang dipilih untuk ditanamkan ke rahim adalah embrio yang memiliki peluang lebih tinggi untuk berkembang menjadi kehamilan yang sehat.
Dengan menghindari transfer embrio yang memiliki aneuploidi, risiko keguguran dapat diminimalkan. Yang terakhir tentunya PGT-A dapat meningkatkan tingkat keberhasilan kehamilan, terutama pada wanita yang lebih tua atau mereka yang memiliki riwayat keguguran berulang. Prosedur ini membantu memastikan bahwa hanya embrio yang sehat secara genetik yang dipindahkan ke rahim.
Proses PGT-A dimulai setelah fertilisasi sel telur dengan sperma di laboratorium, menghasilkan beberapa embrio. Embrio tersebut kemudian dikultur selama beberapa hari sebelum dilakukan biopsi untuk pengambilan sampel sel. Sampel ini dianalisis untuk menentukan apakah terdapat aneuploidi atau kelainan kromosom lainnya. Hasil analisis ini akan menentukan embrio mana yang akan ditransfer ke rahim.
PGT-A sangat dianjurkan untuk wanita berusia di atas 36 tahun, karena risiko aneuploidi meningkat seiring bertambahnya usia. Pasangan dengan riwayat keguguran berulang. Pasangan dengan riwayat keluarga penyakit genetik tertentu.
Dengan kemampuan untuk mendeteksi kelainan kromosom sebelum transfer embrio, PGT-A tidak hanya meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan tetapi juga membantu sister dan paksu dalam merencanakan kehamilan yang lebih baik dan mengurangi risiko kelahiran anak dengan kelainan genetik serius. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Madjunkov, M., Sharma, P., Baratz, A., Glass, K., Abramov, R., Logan, N., … & Librach, C. (2024). Prenatal cell-free DNA screening for chromosomal aneuploidies after euploid embryo transfer shows high concordance with preimplantation genetic testing for aneuploidy results and low positive predictive values. Fertility and Sterility, 122(6), 1105-1113.
- https://sunwayfertility.com.my/our-technology/genetic-testing/?lang=id
- https://www.alodokter.com/apa-yang-bisa-didapatkan-dari-tes-dna
- https://www.alomedika.com/cme-skp-identifikasi-kelainan-kromosom-dengan-non-invasive-prenatal-testing
- https://kumparan.com/ragam-info/pengertian-aneuploidi-penyebab-dan-dampaknya-21QCGJTRZ1c
- https://repository.karyailmiah.trisakti.ac.id/documents/repository/artikel_m-l-edy-parwanto-pedoman-penelitian-kanker-turnitin.pdf

Kontraktilitas uterus merupakan salah satu aspek penting dalam fungsi reproduktif wanita. Kemampuan otot rahim untuk berkontraksi dan relaksasi memainkan peran kritikal dalam proses fertilisasi, mulai dari siklus menstruasi hingga implantasi embrio. Sehingga gangguan kontraktilitas uterus dapat mempengaruhi fertilitas secara negatif. MDG akan mencoba menjabarkan bagaimana proses tersebut dapat saling mempengaruhi, Baca sampai habis ya!
Definisi dan Fungsi Kontraktilitas Uterus
Kontraktilitas uterus merujuk pada kemampuan otot rahim (miometrium) untuk bergerak dan berubah bentuk. Ternyata proses tersebut berhubungan erat dengan regulasi hormonal, terutama oksitosin dan prostaglandin, yang memicu kontraksi otot rahim.
Peran dari kontraktilitas uterus penting dalam beberapa proses diantaranya adalah pada menstrual cycle ia dapat mengontrol aliran darah menstruasi. Kemudian pada persalinan, yang berperan memfasilitasi kelahiran anak. yang terakhir adalah implantasi embrio, dimana ia berperan dalam meningkatkan kemungkinan implantasi embrio pada endometrium.
Hubungan Antara Kontraktilitas Uterus dan Fertilitas
Ternyata memiliki hubungan yang erat antara kontraktilitas dan fertilitas pada transport sel telur, kontraktilitas uterus membantu dalam transportasi sel telur dari ovarium ke saluran falopi. Gangguan kontraktilitas dapat menghambat transportasi ini, sehingga mengurangi kemungkinan fertilitas.
Selain itu, kontraktilitas uterus juga mempengaruhi transportasi sperma melalui rahim. Fibroid uterus, misalnya, dapat mengganggu transportasi sperma dengan cara mengubah pola kontraksi uterus dan meningkatkan resistansi pada sperma.
Sebuah penelitian dengan judul “The Effect of Uterine Contractions on Fertility Outcomes in Frozen Embryo Transfer Cycles: A Cohort Study” ditemukan Pasien dengan peristaltik uterus <4,0 gelombang/menit sebelum transfer embrio memiliki peluang keberhasilan implantasi dan kehamilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki frekuensi kontraksi yang lebih tinggi. Dari sini menunjukkan bahwasanya pengukuran frekuensi kontraksi uterus sebelum transfer embrio dapat membantu memprediksi hasil kehamilan.
Yang sister dan paksu juga dapat ketahui bahwasanya ada beberapa kondisi patologis yang dapat mempengaruhi kontraktilitas uterus dan fertilitas adalah, endometriosis Pertumbuhan jaringan endometrium di luar rahim dapat menyebabkan peradangan dan inflamasi kronis, yang mengganggu kontraktilitas uterus dan proses implantasi embrio. selain itu juga disebabkan oleh submucosal fibroid dapat mengubah struktur internal rahim dan mengganggu kontraktilitas uterus, sehingga menghambat transportasi sperma dan embrio serta mengganggu implantasi.
Setelah mengetahui itu semua diharapkan baik sister maupun paksu untuk lebih skeptis dengan keadaan yang kalian hadapi, Semoga informasi ini berguna dalam pemahaman lebih luas tentang bagaimana kontraktilitas uterus mempengaruhi proses reproduksi. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Masroor, M. J., Asl, L. Y., & Sarchami, N. (2023). The Effect of Uterine Contractions on Fertility Outcomes in Frozen Embryo Transfer Cycles: A Cohort Study. Journal of Reproduction & Infertility, 24(2), 132.
- https://media.neliti.com/media/publications/398781-fibroid-uterus-dan-infertilitas-4fe798c4.pdf
- https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/biomed/article/download/3817/2017
- https://herminahospitals.com/id/articles/infertilitas.html
- https://staff.universitaspahlawan.ac.id/upload/riset/366-lampiran.pdf