Artikel Informasi Untuk Pejuang Dua Garis

Pasangan yang mencari pengobatan fertilitas khususnya fertilisasi in vitro (IVF), dilain sisi memberi harapan tapi di lain sisi juga memiliki banyak tantangan. Salah satunya akan dihadapkan pada stres emosional. Keadaan ini dapat menjadi buruk oleh pengobatan yang tidak berhasil.
Reaksi umum selama IVF adalah kecemasan dan depresi, sedangkan setelah IVF yang tidak berhasil, perasaan sedih, depresi, dan marah muncul. Setelah perawatan IVF yang berhasil, orang tua yang menjalani IVF mengalami lebih banyak stres selama kehamilan dibandingkan orang tua yang ‘normal dan subur’. Apakah keadaan ini juga sister alami? Yuk kita lihat bagaimana pengaruh psikologis sangat krusial pada program IVF, baca sampai habis ya!
IVF dan Pengaruh Psikologis
Stres psikologis dapat mempengaruhi siklus IVF. Pertama, ada beberapa bukti bahwa tekanan psikologis dapat menyebabkan diregulasi dalam lingkungan mikro uterus dan mempengaruhi kemampuan untuk hamil. Kedua stres psikologis mempengaruhi siklus IVF adalah dengan mempengaruhi tingkat terputus dan penghentian perawatan. Bukti menunjukkan bahwa dukungan pasangan sangat penting dalam meringankan beban stres terkait infertilitas dan dengan demikian pasangan pria harus dilibatkan selama seluruh proses perawatan.
Selain itu, dukungan sosial dan keluarga mempengaruhi perawatan infertilitas, oleh karena itu profesional kesehatan harus mengeksplorasi kualitas jaringan sosial dan mendorong pencarian dukungan positif dari keluarga dan pasangan. Terakhir, kedepannya pola penanganan pasangan juga memainkan peran penting dalam kemampuan pasangan lain untuk mengatasi pengalaman infertilitas. Selain ini semua, masih ada yang perlu dipertimbangkan dari internal yaitu diri sendiri.
Strategi untuk Manajemen Diri Sendiri
Dalam hal ini setiap individu diperlukan untuk menjaga kesehatan, mengurangi tingkat stres, dan berpartisipasi dalam aktivitas yang bermakna dan menyenangkan, sister dapat mengelolanya tentu dengan beberapa tindakan diantaranya adalah:
- Pengelolaan stress melalui Identifikasi sumber stress baik di tempat kerja, di rumah, yang berkaitan dengan sister. Cari cara untuk mengurangi tekanan, ini mungkin termasuk meninjau kembali jumlah komitmen yang ambil, dan belajar untuk lebih tegas dalam mengatakan ‘tidak’.
- Perubahan gaya hidup, menambahkan olahraga ke dalam rutinitas harian atau mingguan, menyediakan waktu untuk hubungan sosial yang bermakna, memastikan sister juga memiliki waktu istirahat setiap hari. Semua ini dapat membantu mengurangi stres serta membantu mengelola gejala kecemasan.
- Sister juga dapat mempertimbagkan kehadiran kelompok pendukung & forum internet, bagi sebagian orang, terhubung dengan orang lain yang mengalami pengalaman serupa sangatlah mendukung.
- Pelatihan relaksasi, proses ini dapat dilakukan dengan menangkan pikiran dan kurangi ketegangan otot dengan pernapasan dalam, meditasi, imajinasi terbimbing, dan relaksasi otot progresif.
Ketakutan selama proses IVF adalah hal yang wajar dan umum dialami oleh banyak pasangan. Dengan pemahaman yang baik tentang prosedur dan dukungan emosional yang tepat, sister dapat lebih siap menghadapi tantangan ini. Karena mengatasi rasa takut bukan hanya penting untuk kesehatan mental tetapi juga untuk meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung. Untuk informasi menarik lainnya dapat diakses melalui Instagram @Menujuduagris.id
Referensi
- Smeenk JM, Verhaak CM, Stolwijk AM, Kremer JA, Braat DD. Reasons for dropout in an in vitro fertilization/intracytoplasmic sperm injection program. Fertil Steril. 2004;81(2):262–8.
- Verhaak CM, Smeenk JM, van Minnen A, Kremer JA. Kraaimaat FW. A longitudinal, prospective study on emotional adjustment before, during and after consecutive fertility treatment cycles. Human reproduction (Oxford, England). 2005;20(8):2253–60.
- Verhaak CM, Smeenk JM, Evers AW, Kremer JA, Kraaimaat FW, Braat DD. Women’s emotional adjustment to IVF: a systematic review of 25 years of research. Hum Reprod Update. 2007;13(1):27–36.
- Eugster A, Vingerhoets AJ. Psychological aspects of in vitro fertilization: a review. Social science & medicine (1982). 1999;48(5):575–89.
- https://www.cope.org.au/planning-a-family/happening/mental-health-and-ivf/anxiety-and-ivf/

Faktor terjadinya infertilitas pada pria dapat disebabkan oleh faktor internal dan external dari tubuh pria. Faktor internal melibatkan kelainan DNA yang mengkode asam amino pada pembentukan protein khusus yang berfungsi pada pembentukan jaringan reproduksi pria maupun proses spermatogenesis. Sedangkan faktor eksternal terjadi akibat adanya paparan terhadap zat-zat tertentu baik sengaja maupun tidak disengaja.
Azoospermia adalah kondisi medis yang ditandai dengan tidak adanya sperma dalam air mani saat ejakulasi, yang berkontribusi pada sekitar 10-15% kasus kemandulan pada pria. Berdasarkan penyebabnya, azoospermia dapat dibagi menjadi dua jenis utama azoospermia obstruktif dan azoospermia non-obstruktif. MDG pada kesempatan kali ini akan membahas azoospermia menurut beberapa ahli, baca sampai habis ya!
2 Jenis Azoospermia
Azoospermia memiliki 2 jenis yang berbeda, pertama obstruktif obstruktif terjadi ketika ada penyumbatan di saluran reproduksi pria, yang menghalangi sperma untuk dikeluarkan saat ejakulasi. Beberapa penyebab meliputi, cedera trauma pada area genital, Infeksi atau peradangan kondisi seperti epididimitis dapat menyebabkan pembengkakan dan penyumbatan. Penyebab lainnya adalah kista, pembentukan kista di saluran reproduksi dapat menghalangi aliran sperma. Terakhir dari faktor ejakulasi retrograde di mana air mani masuk ke dalam saluran kemih alih-alih keluar dari penis.
Azoospermia obstruktif menyumbang sekitar 40% dari semua kasus azoospermia. Pengobatan untuk kondisi ini sering kali melibatkan prosedur bedah untuk menghilangkan penyumbatan atau memperbaiki saluran yang terpengaruh.
Sebaliknya, azoospermia non-obstruktif disebabkan oleh gangguan dalam produksi sperma di testis. Penyebabnya bisa bervariasi, termasuk gangguan hormon, seperti hipogonadisme dan hiperprolaktinemia dapat mempengaruhi produksi sperma.
Kemudian ada Kelainan genetic, sindrom klinefelter dan kelainan kromosom lainnya dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk memproduksi sperma. Yang terakhir adalah melihat Kondisi testis seperti kriptorkismus (testis tidak turun) dan sertoli cell-only syndrome (di mana hanya sel Sertoli yang ada di testis) juga bisa menjadi faktor.
Azoospermia non-obstruktif menyumbang sekitar 60% dari kasus azoospermia. Penanganan yang dapat dilakukan dapat melibatkan terapi hormon atau teknik reproduksi berbantu seperti pengambilan sperma dari testis.
Gejala dan Diagnosis
Gejala utama dari azoospermia adalah ketidakmampuan untuk memiliki anak. Banyak pria tidak menyadari bahwa mereka mengalami azoospermia hingga pasangan mereka mengalami kesulitan untuk hamil. Diagnosis biasanya dilakukan melalui analisis air mani dan pemeriksaan fisik, serta tes tambahan seperti pemindaian dan tes genetik untuk menentukan penyebab spesifik.
Azoospermia menjadi salah satu masalah kesuburan yang signifikan bagi pria, dengan dua tipe utama yang memiliki penyebab dan penanganan berbeda. Memahami perbedaan antara azoospermia obstruktif dan non-obstruktif sangat penting untuk menentukan langkah-langkah pengobatan yang tepat. Jika sister atau paksu mengalami kesulitan untuk hamil, untuk dapat melakukan konsultasikan dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut. Informasi menarik lainnya ada di Instagram kami di @menujuduagris.id.
Referensi
- Akbar, A. (2020). Gambaran Faktor Penyebab Infertilitas Pria Di Indonesia: Meta Analisis. Jurnal Pandu Husada, 1(2), 66-74.
- https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1740/azoospermia
- https://www.alodokter.com/seputar-azoospermia-penyebab-kemandulan-pada-pria
- https://www.alomedika.com/penyakit/andrologi/azoospermia
- https://www.alodokter.com/azoospermia
- https://www.mountelizabeth.com.sg/id/health-plus/article/male-infertility-causes
- https://hellosehat.com/kehamilan/kesuburan/masalah-kesuburan/azoospermia/
- https://media.neliti.com/media/publications/177765-azoospermia-a-genomic-review-1ce06c30.pdf
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK578191/

Dismenore, atau nyeri haid, menjadi kondisi yang kerap dialami oleh banyak perempuan selama siklus menstruasi. Meskipun sering dianggap sebagai masalah yang hanya berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik, dismenore ternyata memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan reproduksi dan fertilitas. Kali ini MDG akan membahas bagaimana kondisi ini dapat mempengaruhi fertilitas wanita. Baca sampai habis ya!
Pengertian Dismenore
Dysmenorrhea atau dismenore didefinisikan sebagai rasa nyeri dan kram pada perut bagian bawah yang dialami oleh wanita sebelum ataupun selama siklus menstruasi. Nyeri ini dapat bervariasi dari ringan hingga sangat parah, dan sering kali disertai dengan gejala lain seperti mual, muntah, diare, dan sakit kepala.
Ditemukan bahwa angka kejadian dismenore di dunia sangat besar dengan rata-rata 50%. Di Amerika angka presentasinya sekitar 60%, di Swedia sekitar 72%, sedangkan di Indonesia sekitar 54,89%. Mereka yang mengeluh nyeri 12% berat, 37% sedang dan 49% ringan.
Pembagian dismenore dibagi menjadi dua kategori, dismenore primer Ini adalah nyeri haid yang tidak disebabkan oleh kondisi medis lainnya. Biasanya terjadi pada remaja atau wanita muda dan sering kali berkurang seiring bertambahnya usia atau setelah melahirkan.
Kategori kedua adalah, dismenore sekunder, nyeri haid ini disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti endometriosis, fibroid rahim, atau infeksi panggul. Dismenore sekunder biasanya muncul pada perempuan yang lebih tua.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi terjadinya dismenore meliputi, Faktor fisiologis dimana adanya peningkatan kadar prostaglandin selama siklus menstruasi. juga usia menarche dimana usia awal menstruasi dapat berhubungan dengan kejadian dismenore; menarche yang terjadi lebih awal (di bawah 12 tahun) sering kali dikaitkan dengan nyeri lebih berat. kemudian juga adanya penyakit seperti endometriosis atau fibroid rahim dapat meningkatkan risiko dismenore sekunder. yang terakhir bahkan faktor psikologis, stres dan kecemasan ternyata dapat memperburuk gejala dismenore.
Dismenore dan Fertilitas
Hal yang dianggap biasa dan remeh ini siapa sangka dapat berpotensi menyebabkan masalah kesuburan. Kondisi seperti endometriosis salah satu penyebab sekunder dari dismenore tidak hanya menyebabkan nyeri tetapi juga dapat merusak jaringan reproduksi, mengganggu ovulasi, dan dapat mengurangi kemungkinan hamil. Bagaimana tipe endometriosis ini menjadi kasus fertilitas tertinggi pada perempuan Prevalensi endometriosis saat ini cukup tinggi, mencapai 190 juta kasus di dunia, di mana 6-10 persen ditemukan pada wanita usia reproduktif.
Di sisi lain rasa sakit dari dismenore juga berdampak pada kesehatan mental, bagaimana rasa sakit yang berkepanjangan dapat menyebabkan stres dan masalah kesehatan mental lainnya. Stres ini yang kemudian mempengaruhi keseimbangan hormon dan siklus menstruasi, sehingga berdampak pada peluang hamil. Yang lebih makro adalah berpengaruh pada angka turunnya ekonomi dengan banyaknya kerugian
Penanganan Dismenore
Penanganan dismenore meliputi penggunaan analgesik untuk mengurangi nyeri, terapi hormonal untuk mengatur siklus menstruasi, serta perubahan gaya hidup seperti olahraga teratur dan diet seimbang. Edukasi mengenai kondisi ini sangat penting agar wanita memahami bahwa meskipun dismenore dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, banyak kasus dapat dikelola dengan baik.
Meski dismenore adalah kondisi yang umum tetapi bisa memiliki dampak serius pada kesehatan reproduksi. Untuk itu penting bagi sister yang mengalami nyeri haid yang parah untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk menentukan penyebabnya dan mendapatkan perawatan yang tepat. Dengan penanganan yang tepat, sister dapat mengelola gejala dismenore dan mempertahankan kesehatan reproduksi yang optimal. Untuk informasi lainnya bisa di cek di Instagram kami @menujuduagris.id
Referensi
- Amran, A., Widianingsih, W., & Anwar, S. (2019). Pengaruh Pelatihan Manajemen Nyeri terhadap Peningkatan Kompetensi Perawat. Jurnal Keperawatan Silampari, 2(2), 87–102. https://doi.org/10.31539/jks.v2i2.504 https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kreativitas/article/download/11447/Download%20Artikel
- https://jurnal.stikesbch.ac.id/index.php/jurnal/article/download/59/75
- https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/Detector/article/download/3133/2948/8899
- https://www.alomedika.com/penyakit/obstetrik-dan-ginekologi/dismenore/edukasi-dan-promosi-kesehatan
- https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-dismenore
- https://www.halodoc.com/artikel/benarkah-dismenore-sebabkan-infertilitas
- https://www.klikdokter.com/penyakit/masalah-reproduksi-wanita/dismenore

Adenomiosis sebagai salah satu kondisi ginekologi jinak yang ditandai oleh invasi jaringan endometrium ke dalam lapisan miometrium. Kondisi ini sering kali berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan reproduksi, termasuk infertilitas. Seperti apa kira-kira hubungan antara adenomiosis dan fertilitas, serta mekanisme yang mendasarinya. Baiklah kita pahami lebih dalam yuk melalui pendapat para ahli berikut, baca sampai habis ya!
Memahami Adenomiosis dan penyebabnya
Adenomiosis Pertama kali dijelaskan pada tahun 1860 oleh ahli patologi Jerman Carl von Rokitansky, melalui temuan histopatologi yaitu “cystosarcoma adenoids uterinum”. Penyebab pasti dari adenomiosis menurut suatu penelitian menyatakan bahwa adenomiosis mungkin berasal dari invaginasi endometrium ke dalam miometrium akibat trauma atau pembedahan sebelumnya.
Tanda dan gejalanya pun bervariasi, tetapi yang paling umum adalah nyeri haid dan/atau perdarahan menstruasi yang banyak. Secara historis, kondisi ini merupakan diagnosis histologis yang memerlukan biopsi atau lebih sering histerektomi. Untuk saat ini, diagnosis dapat dilakukan secara non-invasif menggunakan USG atau pencitraan resonansi magnetik.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa adenomiosis dapat mempengaruhi kesuburan wanita. Adenomiosis dapat menyebabkan perubahan struktural pada JZ, yang merupakan area transisi antara endometrium dan miometrium. Perubahan ini dapat mengganggu proses implantasi embrio.
Adenomiosis juga dapat mengubah fungsi endometrium, yang berperan penting dalam persiapan rahim untuk menerima embrio. Ketidakseimbangan hormon dan abnormalitas dalam pembentukan desidualisasi dapat terjadi, mempengaruhi kemampuan embrio untuk menempel dengan baik.
Pengobatan dan Manajemen
Kaitan dengan adenomiosis dapat dilakukan perawatan definitif bagi perempuan melalui histerektomi (operasi pengangkatan rahim), prosedur ini dilakukan jika adenomiosis tidak bisa diatasi dengan tindakan yang lain. Sementara berbagai terapi medis dan minimal invasif lainnya tersedia bagi mereka yang ingin mempertahankan kesuburan atau ingin menghindari pembedahan yang lebih ekstensif.
Beberapa opsi pengobatan invasif meliputi, terapi hormon:
- Penggunaan kontrasepsi hormonal atau terapi hormon lainnya dapat membantu menyeimbangkan kadar estrogen dan progesteron, yang mungkin bermanfaat bagi wanita dengan adenomiosis.
- Pengobatan non hormonal, seperti tranexamic acid untuk meredakan pendarahan dari vagina. HIFU (high intensity focused ultrasound), untuk menghancurkan jaringan endometrium.
- Ablasi endometrium, untuk menghancurkan lapisan rahim yang mengalami endometriosis.
Adenomiosis memiliki dampak signifikan terhadap kesuburan perempuan. Memahami hubungan antara adenomiosis dan infertilitas, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi ini, membuat sister untuk dapat lebih siap untuk mencari pengobatan yang tepat dan mendapatkan dukungan medis yang diperlukan untuk mencapai kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya, sister dapat akses melalui Instagram kami di @menujuduagris.id
Referensi
- Benagiano G, Brosens I, Lippi D. The history of endometriosis. Gynecol Obstet Invest. 2014;78(1):1-9
- https://jurnal.usk.ac.id/JKS/article/viewFile/22380/16450
- https://www.maupunyaanak.id/mulai-mencoba-hamil/apakah-usia-wanita-selalu-berkorelasi-dengan-usia-ovarium
- https://www.studocu.com/id/document/institut-kesehatan-rajawali/fakultas-keperawatan/34-f622142-hanna-lore-lumbantoruan/75613227
- https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-adenomiosis

Folic acid atau bisa disebut asam folat, adalah vitamin B9 yang memiliki peran krusial dalam kesuburan dan kesehatan reproduksi baik bagi pria maupun perempuan. Suplementasi asam folat ini menjadi salah satu bentuk yang dianjurkan bagi pasangan yang merencanakan kehamilan, melihat manfaatnya yang luas dalam mendukung proses pembuahan dan perkembangan janin. MDG kali ini mengajak sister memahami lebih detail bagaimana vitamin B9 dapat membantu fertilitas sister, simak sampai akhir ya!
Manfaat Folic Acid untuk Kesuburan
Kehadiran folic acid yang paling penting adalah dalam meningkatkan kesuburan perempuan, asam folat ternyata dapat membantu menjaga kesehatan ovarium dan meningkatkan kualitas sel telur. Tubuh dengan kandungan asam folat berfungsi untuk memproduksi DNA.
Asam folat berperan dalam proses pembentukan dan perkembangan otak dan saraf janin dalam kandungan. Pada Ibu hamil yang mendapatkan cukup asam folat memiliki risiko lebih rendah melahirkan bayi dengan cacat lahir seperti spina bifida dan anencephaly. Melalui asam folat juga dapat menurunkan risiko keguguran serta komplikasi seperti preeklampsia, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi selama kehamilan
Sedangkan pada pria asal folat dapat meningkatkan kualitas sperma, asam folat berperan dalam meningkatkan jumlah dan kualitas sperma. Suplementasi asam folat, terutama ketika dikombinasikan dengan zinc, dapat meningkatkan spermatogenesis dan mengurangi risiko subfertilitas.
Kebutuhan Ideal Asam Folat
Untuk sister yang sedang merencanakan kehamilan, konsumsi asam folat yang disarankan sekitar 400 hingga 800 mikrogram (mcg) per hari, hal ini dapat dimulai setidaknya satu bulan sebelum konsepsi dan dilanjutkan selama trimester pertama kehamilan. Sedangkan untuk sumber makanan yang mengandung asam folat diantaranya adalah sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Asam folat hadir sebagai salah satu nutrisi vital bagi pasangan yang merencanakan kehamilan. Melihat manfaatnya dalam meningkatkan kesuburan, mendukung perkembangan janin, serta mencegah komplikasi kehamilan menjadikannya komponen penting dalam program hamil. Oleh karena itu, penting bagi sister dan paksu untuk memastikan asupan asam folat terpenuhi, hal ini dapat dilakukan dengan mulai melakukan gaya hidup sehat atau dapat mendapat suplemen sesuai kebutuhan. Untuk informasi menarik lainnya dapat sister akses di Instagram kami di @menujuduagaris.id
Referensi
- https://www.alodokter.com/kegunaan-asam-folat-untuk-program-hamil
- https://www.alodokter.com/kegunaan-asam-folat-untuk-program-hamil
- https://www.alomedika.com/suplementasi-asam-folat-dan-zinc-untuk-meningkatkan-jumlah-dan-kualitas-sperma
- https://jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/article/download/232/224https://www.klikdokter.com/obat/vitamin-dan-suplemen-dewasa/folic-acid
- http://www.simex.co.id/detail_health.php?id_kategori=17&lang=ID
- https://www.halodoc.com/kesehatan/folic-acid

Seiring berkembangnya teknologi, khususnya dalam program fertilisasi in vitro (IVF), keputusan sister antara memilih transfer embrio beku (Frozen Embryo Transfer – FET) dan transfer embrio segar (Fresh Embryo Transfer – ET) menjadi hal yang sangat penting. Dimana setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan oleh sister dan paksu yang akan menjalani perawatan kesuburan terutama IVF. Yuk kita coba kulik bagaimana menurut para ahli, baca sampai habis ya!
Perbedaan antara FET dan ET
Frozen Embryo Transfer (FET) merupakan teknik di mana embrio yang telah dibuahi disimpan dengan cara dibekukan dan kemudian dicairkan untuk ditransfer ke dalam rahim pada waktu yang lebih tepat. Proses ini melibatkan penyimpanan embrio dalam nitrogen cair pada suhu -196°C, dan kemudian memberikan saran pada pasangan untuk menunda transfer hingga kondisi rahim lebih optimal.
Sebaliknya, Fresh Embryo Transfer (ET) menjadi proses transfer secara langsung, bagaimana embrio yang baru dibuahi ke dalam rahim wanita dalam 3-5 hari setelah prosedur ovum pick up. Metode ini tidak memerlukan proses pembekuan dan pencairan, sehingga dapat lebih cepat dilakukan.
Tingkat Keberhasilan
Penelitian yang dilakukan oleh Sugma (2018) dengan sampling pasien di klinik Permata Hati RSUP dr. Sardjito ditemukan bahwa transfer embrio menggunakan frozen embryo lebih tinggi keberhasilan implantasi dibandingkan fresh embryo pada program pada IVF di RSUP dr Sardjito.
Namun, Maheswari et.al (2022) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat kelahiran hidup antara kedua metode ini, karena pada prosesnya bergantung pada faktor-faktor individu seperti usia dan kesehatan reproduksi. Jika setelah mengetahui fakta tersebut, maka bagaimana baiknya terutama dalam memutuskan jenis embrio?
Lakukan Hal Berikut Sebelum Memilih antara FET dan ET
- Pendekatan yang dipersonalisasi, pilihan antara FET dan ET segar harus disesuaikan secara individual, dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan pasien, usia, kualitas embrio, dan keadaan spesifik dari siklus IVF.
- Berkonsultasi dengan spesialis, sangat penting untuk berkonsultasi dengan spesialis kesuburan yang berpengalaman yang dapat memberikan panduan yang dipersonalisasi berdasarkan situasi dan preferensi.
- Mendapatkan dukungan emosional dan psikologis, memulai perjalanan IVF bisa sangat menantang secara emosional. Untuk itu perlu mendapatkan dukungan dari layanan konseling atau kelompok dukungan untuk membantu mengatasi aspek emosional dari proses tersebut.
Melihat topik yang dibawakan MDG hari ini, mendorong bahwa pilihan antara Frozen Embryo Transfer dan Fresh Embryo Transfer harus didasarkan pada kondisi kesehatan individu, preferensi pribadi, serta saran dari spesialis kesuburan. Kedua metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga penting bagi sister dan paksu untuk memahami perbedaan ini sebelum membuat keputusan. untuk informasi menarik lainnya follow Instagram kami di @menujuduagris.id.
Referensi
- http://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/164123
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9376799/
- https://www.healthtrip.com/id/blog/fet-vs-fresh-et-ivf-thailand
- https://hellosehat.com/kehamilan/kesuburan/masalah-kesuburan/bayi-tabung-frozen-embryo-transfer/
- https://lib.ui.ac.id/detail?id=20500505&lokasi=lokal
- https://www.healthtrip.com/id/blog/fet-vs-fresh-et-ivf-thailand

Kadar testosteron yang tinggi dalam tubuh dapat memiliki dampak signifikan pada kesehatan hormonal, terutama dalam pengaturan produksi hormon gonadotropin-releasing hormone (GnRH). Untuk itu menjadi penting untuk dapat memahami hubungan ini, karena fungsinya akan berpengaruh pada keseimbangan hormonal dan kesehatan reproduksi. MDG akan mencoba menguraikan melalui artikel ini, baca sampai akhir ya! Sebelum itu kita pahami dulu yuk, apa itu GnRH
Menjadi lebih tahu dengan GnRH dan Testosteron
Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) adalah hormon yang memegang peran penting dalam regulasi siklus seksual. GnRH memainkan peran penting dalam mengatur produksi hormon reproduksi seperti luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH) oleh kelenjar pituitari. 2 hormon tersebut sangatlah penting baik bagi laki-laki maupun perempuan, pada perempuan GnRH memicu produksi LH dan FSH, yang pada gilirannya memicu ovulasi dan produksi estrogen dan progesteron. Pada pria, GnRH memicu produksi testosterone oleh kelenjar testis.
Sedangkan testosterone merupakan salah satu hormon penting pada pria yang membantu kinerja sistem reproduksi. Hormon ini juga memiliki fungsi dalam pembentukan kepadatan tulang, dan kekuatan otot. Hormon testosteron akan meningkat ketika laki-laki beranjak remaja, meningkat dan kurangnya hormon ini tentu berdampak pada fertilitas salah satunya adalah produksi GnRH.
Dampak Meningkatnya Hormon Testosteron pada GnRH
Meningginya testosteron ini memiliki banyak faktor, bisa diakibatkan oleh penggunaan steroid anabolik, PCOS, hiperplasia adrenal kongenital (CAH), tumor ovarium atau testis tumor ovarium dan testis, efek samping dari terapi hormon dll. Tingginya hormon ini ternyata juga berdampak pada infertilitas.
Kadar testosteron yang tinggi dapat menghambat produksi GnRH, ketika kadar testosteron meningkat, otak menerima sinyal untuk mengurangi pelepasan GnRH dari hipotalamus. Hal ini mengakibatkan penurunan sekresi LH dan FSH dari kelenjar pituitari, yang pada gilirannya menghambat produksi sperma di testis.
Pria dengan kadar testosteron tinggi sering mengalami penurunan jumlah sperma dan kualitas sperma, yang dapat mengurangi kemungkinan pembuahan sel telur. Gangguan hormon reproduksi pada tingginya kadar testosteron dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon lainnya, yang berdampak pada siklus reproduksi. Untuk kadar testosteron yang dianggap normal pada pria berusia antara 19 dan 39 tahun berkisar antara 300 dan 1000 ng/dL
Upaya Mengelola Kadar Testosteron
Untuk mengurangi kadar testosteron yang tinggi dan dampaknya terhadap GnRH, beberapa langkah yang bisa diambil meliputi:
- Pemeriksaan medis rutin dapat dilakukan secara berkala untuk mendeteksi masalah hormonal lebih awal.
- Perubahan gaya hidup dengan mengadopsi pola makan sehat, rutin berolahraga, dan mengelola stres dapat membantu menyeimbangkan kadar hormon.
Kadar testosteron yang tinggi dapat menghambat produksi GnRH, yang berdampak negatif pada kesuburan dan keseimbangan hormonal secara keseluruhan. Memahami hubungan antara kedua hormon ini sangat penting bagi pria dan wanita dalam menjaga kesehatan reproduksi mereka. Jika sister dan paksu mengalami gejala dari permasalahan tersebut, untuk dapat melakukan langkah terbaik dalam membuat keputusan agar tidak sampai berdampak fatal. Untuk informasi menarik lainnya dapat diakses melalui Instagram kami di @menujuduagris.id.
Referensi
https://hellosehat.com/kehamilan/kesuburan/hormon-gnrh/
https://id.wikipedia.org/wiki/Agonis_hormon_pelepas_gonadotropin
https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/download/12329/11910/24585
https://ojs.unud.ac.id/index.php/jvet/article/download/53115/41819
https://hellosehat.com/pria/gangguan-hormon-pria/dampak-kelebihan-hormon-testosteron/

Endometriosis adalah kondisi di mana jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim, seperti di tuba falopi, ovarium, atau jaringan panggul lainnya. Pertumbuhan ini dapat menyebabkan peradangan, nyeri, dan pembentukan jaringan parut. Pahami lebih lanjut yuk!
Endometriosis di Indonesia
Endometriosis merupakan salah satu penyakit peradangan umum yang ditandai dengan adanya sel-sel endometrium di luar rongga rahim. Diperkirakan penyakit ini menyerang 10% wanita usia reproduksi. Patogenesisnya meliputi berbagai macam kelainan, termasuk perlengketan, proliferasi, dan gangguan sinyal sel.
Di Indonesia sendiri, data insidensi dan prevalensi endometriosis belum dapat dipastikan karena kurangnya studi. Namun, terdapat laporan dari salah satu RSUD dr. Soetomo, di Surabaya, yang menyatakan bahwa endometriosis terjadi pada 13,6-69% wanita yang mengalami infertilitas
Penyakit ini dikaitkan dengan penurunan kualitas hidup yang signifikan akibat nyeri panggul kronis dan juga dapat menyebabkan infertilitas. Salah satu komplikasi endometriosis yang paling serius adalah kehamilan ektopik (EP).
Endometriosis dan Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik (EP) merupakan komplikasi serius pada awal kehamilan dan didefinisikan sebagai kehamilan yang tertanam di luar rongga rahim. Kondisi ini memengaruhi 1–2% dari semua wanita hamil dan merupakan penyebab utama kematian ibu pada trimester pertama. Paling sering, implantasi yang tidak tepat terjadi di tuba falopi (kehamilan ektopik tuba TEP) karena perjalanan fisiologis embrio.
Tidak hanya observasi klinis yang mungkin menunjukkan bahwa kehamilan ektopik dapat dikaitkan dengan endometriosis karena anatomi tubo-ovarium yang berubah, tetapi juga beberapa studi kohort dan kasus-kontrol telah menunjukkan hubungan tersebut.
Meta analisis terbaru dari 15 studi menunjukkan bahwa ada kemungkinan hubungan antara endometriosis hal ini ditunjukkan bagaimana analisis dari Nurses Health Study II yang mengkonfirmasi adanya hubungan antara endometriosis dan kehamilan ektopik. Meski demikian setidaknya ada beberapa hal yang sister dapat lakukan untuk mengurangi potensi adanya kehamilan ektopik, diantaranya adalah:
Upaya Mengurangi Endometriosis dan Kehamilan Ektopik
- Menjaga berat badan ideal, wanita dengan berat badan berlebih atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami endometriosis.
- Menghindari merokok, merokok telah terbukti meningkatkan risiko endometriosis. Berhenti merokok tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan secara keseluruhan, tetapi juga dapat mengurangi risiko perkembangan endometriosis
- Pencegahan infeksi menular seksual (IMS), Menghindari hubungan seksual tanpa perlindungan dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat membantu mencegah IMS, yang merupakan faktor risiko utama untuk kehamilan ektopik.
- Deteksi dini dan pengobatan, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mendeteksi gejala awal endometriosis, selain itu juga dapat melakukan tes darah dan ultrasound untuk mendeteksi kehamilan ektopik sejak dini
- Pola hidup sehat, menjalani gaya hidup sehat dengan pola makan seimbang, olahraga teratur, dan menjaga berat badan ideal juga berkontribusi pada kesehatan reproduksi secara keseluruhan, sehingga dapat mengurangi risiko kehamilan ektopik
Endometriosis hadir sebagai salah satu faktor dengan resiko penting untuk kehamilan ektopik, karena kemampuannya untuk merusak tuba falopi dan mengganggu fungsi normal saluran reproduksi. Jika sister mengidap endometriosis lebih lanjut dapat mendapatkan pemantauan dan perawatan medis yang tepat untuk mengurangi risiko komplikasi, termasuk kehamilan ektopik. Untuk informasi menarik lainnya sister dapat melihat di Instagram @menujuduagrid.id
Referensi
Coste J., Bouyer J., Job-Spira N. Epidemiology of Ectopic Pregnancy: Incidence and Risk Factors. Contracept. Fertil. Sex. 1992. 1996;24:135–139.
Farland L.V., Prescott J., Sasamoto N., Tobias D.K., Gaskins A.J., Stuart J.J., Carusi D.A., Chavarro J.E., Horne A.W., Rich-Edwards J.W., et al. Endometriosis and Risk of Adverse Pregnancy Outcomes. Obstet. Gynecol. 2019;134:527–536. doi: 10.1097/AOG.0000000000003410
Rahmawati DS. Gambaran Karakteristik dan Pencarian Pelayanan Kesehatan Pada Penderita Endometriosis di Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD DR. Soetomo Surabaya. 2019
Weström L., Joesoef R., Reynolds G., Hagdu A., Thompson S.E. Pelvic Inflammatory Disease and Fertility. A Cohort Study of 1,844 Women with Laparoscopically Verified Disease and 657 Control Women with Normal Laparoscopic Results. Sex. Transm. Dis. 1992;19:185–192. doi: 10.1097/00007435-199207000-00001