• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Usia Remaja

PCOS di Usia Remaja: Kenapa Diagnosisnya Tidak Sesederhana di Orang Dewasa?

January 28, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) sering dianggap sebagai masalah perempuan dewasa. Padahal, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa PCOS bisa mulai “menampakkan diri” sejak usia remaja. Bahkan, sekitar 3–11% remaja perempuan diperkirakan sudah mengalami PCOS, meski banyak yang belum menyadarinya.

Jadi kira-kira apa penyebab terjadinya PCOS terutama pada usia remaja? Yuk pahami temuan termutakhir tentang prevalensi, penyebab, dan tantangan diagnosis PCOS pada remaja.

Masa Pubertas Bukan Hal yang Sederhana

Masalah utama dalam mendiagnosis PCOS pada remaja adalah satu hal: pubertas itu sendiri penuh dengan perubahan yang “mirip PCOS”.

Haid yang belum teratur, jerawat, atau rambut tumbuh lebih lebat sering kali masih dianggap wajar di masa pubertas. Beberapa panduan terbaru justru menyederhanakan pendekatan:

  • fokus pada haid yang benar-benar tidak teratur, dan
  • adanya tanda kelebihan hormon androgen, baik secara klinis (misalnya hirsutisme berat) maupun dari pemeriksaan darah.

USG ovarium, yang sering dipakai pada orang dewasa, tidak direkomendasikan sebagai penentu utama pada remaja, karena ovarium remaja secara alami memang bisa tampak “polikistik”.

Seberapa Sering PCOS Terjadi pada Remaja?

Fakta bahwa angka PCOS pada remaja sangat bervariasi, tergantung: usia, latar etnis, dan kriteria diagnosis yang digunakan. Jika berbicara tentang etnis memang seperti apa PCOS di negara lain? untuk di Korea, kejadian PCOS meningkat di usia akhir remaja dan memuncak sekitar usia 20 tahun; sedangkan di India Selatan, sekitar 6–7% remaja perempuan terdiagnosis PCOS, dan mayoritas sebelumnya tidak tahu mereka punya kondisi ini. 

Dan disaat kemarin kita terpapar pandemi COVID-19, angka gangguan siklus haid dan PCOS pada remaja meningkat, diduga berkaitan dengan stres, insomnia, dan perubahan gaya hidup; belum lagi pada remaja dengan obesitas, risiko PCOS jauh lebih tinggi dibandingkan remaja dengan berat badan normal.

Tapi yang kita sadari bahwa kesadaran tentang PCOS pada remaja masih rendah. Banyak remaja baru mengenal PCOS dari guru atau internet, bukan dari layanan kesehatan. Ini menegaskan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi sejak dini. Padahal mereka diusia yang rentang karena mereka sedang mengalami masa pertumbuhan. 

Remaja dengan Risiko Lebih Tinggi

Dikutip dari hasil penelitian terbaru menemukan bahwa ada kelompok remaja yang perlu perhatian khusus, misalnya:

  • remaja dengan obesitas,
  • remaja dengan diabetes tipe 2,
  • remaja dengan kondisi kulit tertentu seperti hidradenitis suppurativa,
  • dan remaja yang memiliki ibu dengan PCOS.

Belum ada faktor psikososial juga ikut berperan. stres berat dan trauma masa kecil dengan munculnya gejala PCOS di kemudian hari. Artinya, PCOS bukan hanya soal hormon, tapi juga soal perjalanan hidup. Dilain sisi pencegahan dan intervensi gaya hidup sejak remaja sangat krusial, bukan semata demi bentuk tubuh, tapi demi kesehatan hormon jangka panjang.

Mendiagnosis PCOS pada remaja ibarat berjalan di garis tipis antara tidak ingin terlambat mendiagnosis, tapi juga tidak ingin memberi label medis terlalu dini.

PCOS pada Remaja Tidak Selalu Sama

PCOS punya beberapa “wajah” atau fenotipe. Pada remaja, bentuk yang paling sering ditemukan justru PCOS tanpa tanda kelebihan androgen yang jelas. Namun, remaja dengan PCOS yang disertai hiperandrogenisme cenderung memiliki gangguan metabolik lebih berat, dan risiko jangka panjang yang lebih tinggi.

PCOS pada remaja harus menjadi perhatian, karena diagnosis memang tidak mudah, tapi menunda pengakuan justru bisa membawa dampak jangka panjang baik secara fisik, mental, maupun reproduktif.

Pendekatan terbaik bukan sekadar angka dan kriteria, melainkan observasi yang cermat, edukasi yang empatik, dan pendampingan jangka panjang.

Karena memahami PCOS sejak remaja bukan soal menakut-nakuti, melainkan memberi bekal agar perempuan bisa tumbuh dengan tubuh yang lebih dipahami, dihargai, dan dirawat. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya

Referensi

  • Jakubowska-Kowal, K. M., Skrzynska, K. J., & Gawlik-Starzyk, A. M. (2024). Prevalence and diagnosis of polycystic ovary syndrome (PCOS) in adolescents—what’s new in 2023? Systematic review. Ginekologia Polska, 95(8), 643-649.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: dewasa, PCOS, remaja, Usia Remaja

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.