• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Archives for November 2025

Hiperandrogen pada PCOS: Ketika Hormon Androgen Bikin Siklus Kacau, Jerawatan, dan Rambut Rontok

November 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Hiperandrogen atau kelebihan hormon androgen adalah salah satu ciri paling khas dari Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Kondisi ini bukan hanya soal kadar hormon yang tinggi, tetapi efeknya bisa terasa dari ujung rambut sampai kulit wajah: jerawat membandel, rambut rontok pola laki-laki, sampai tumbuh rambut kasar di area yang biasanya halus pada perempuan.

Yuk ketahui bagaimana hiperandrogenisme terjadi, bagaimana ia memicu gejala-gejala tersebut, dan apa peran genetik khususnya gen CYP dalam memperberat kondisi PCOS. Artikel ini merangkum temuan tersebut dalam bahasa yang lebih hangat dan mudah dipahami.

Mengapa PCOS Memicu Androgen Berlebih?

PCOS adalah gangguan hormonal kompleks yang memengaruhi sekitar 6–20% perempuan usia reproduksi. Ciri utamanya meliputi:

  • gangguan ovulasi,
  • ovarium polikistik, dan
  • hiperandrogenisme.

Sumber utama androgen berlebih pada PCOS berasal dari: Ovarium, terutama sel teka yang memproduksi androgen secara berlebihan. Dan Kelenjar adrenal, yang pada sebagian perempuan juga ikut meningkatkan produksi androgen.

Pada PCOS, terjadi gangguan pada sumbu hipotalamus–pituitari–ovarium. Tubuh memproduksi gonadotropin-releasing hormone (GnRH) secara lebih cepat, sehingga merangsang kelenjar pituitari menghasilkan LH lebih banyak daripada FSH. Ketidakseimbangan LH : FSH ini menyebabkan:

  • sel teka terstimulasi berlebihan → produksi androgen meningkat
  • sel granulosa kurang stimulasi → konversi androgen ke estrogen terhambat
  • folikel tidak matang dan akhirnya “terkunci” di fase awal

Hasil akhirnya: akumulasi folikel kecil (cysts), anovulasi, dan kelebihan androgen.

Bagaimana Androgen Berlebih Muncul Sebagai Gejala di Tubuh?

Hiperandrogenisme dapat muncul dalam bentuk:

Hirsutisme (tumbuh rambut pola laki-laki) Muncul rambut tebal/kasar di area seperti dagu, bibir atas, dada, perut, punggung. Ini terjadi karena meningkatnya testosteron bebas,
dan meningkatnya konversi testosteron menjadi DHT (dihidrotestosteron) melalui enzim 5α-reduktase di kulit.

Hirsutisme muncul pada 60–80% perempuan dengan PCOS, dan merupakan tanda klinis paling konsisten dari hiperandrogenisme.

Jerawat (acne vulgaris) Testosteron tinggi → lebih banyak DHT → produksi sebum meningkat → pori tersumbat → bakteri Cutibacterium acnes berkembang → muncul inflamasi dan jerawat. Prevalensi acne pada PCOS bervariasi luas: 10–48%, tergantung populasi.

Androgenic Alopecia (rambut rontok pola laki-laki)

Ini terjadi karena folikel rambut di kulit kepala miniaturisasi akibat paparan androgen. Rambut: semakin halus, lebih pendek dan menipis di area tengah kepala. Kerontokan ini bisa menjadi beban emosional besar bagi banyak perempuan dengan PCOS.

Meskipun banyak studi menunjukkan hubungan yang signifikan, belum ada kesimpulan final karena faktor etnis, lingkungan, dan perbedaan metode penelitian. Namun, gambaran besar sudah jelas:

Jika sister mengalami gejala hiperandrogen (kumisan, jerawatan, rambut rontok) PCOS dan faktor genetik dalam steroidogenesis perlu dipertimbangkan sebagai penyebab utama. Untuk diagnosa pastinya jangan lupa ya periksa ke dokter, informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ashraf, S., Nabi, M., Rashid, F., & Amin, S. (2019). Hyperandrogenism in polycystic ovarian syndrome and role of CYP gene variants: a review. Egyptian Journal of Medical Human Genetics, 20(1), 1-10.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ciri ciri PCOS, hormon, PCOS

Vitamin D dan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS): Apa Kata Riset Terbaru?

November 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah salah satu gangguan hormonal paling umum pada perempuan usia reproduksi, dengan prevalensi global antara 4–20%. Kondisi ini biasanya ditandai oleh tiga hal: menstruasi tidak teratur, kadar androgen berlebih, dan indung telur yang tampak polikistik. Selain memengaruhi kesuburan, PCOS juga erat kaitannya dengan masalah metabolik seperti resistensi insulin, obesitas viseral, hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak penelitian yang menyoroti satu faktor penting yang sering luput diperhatikan: Vitamin D. Defisiensi Vitamin D ternyata sangat umum pada perempuan dengan PCOS dan dapat memperburuk gangguan hormonal maupun metabolik yang menyertainya.

Wah kenapa bisa begitu, yuk ketahui hubungan antara Vitamin D, metabolisme, dan kesehatan reproduksi perempuan dengan PCOS.

Vitamin D: Lebih dari Sekadar Vitamin Tulang

Vitamin D ternyata berperan sangat besar dalam mengatur kadar kalsium dan fosfat untuk menjaga kesehatan tulang, gigi, dan otot. Namun, fungsinya ternyata jauh melampaui itu. Kok bisa begitu? karena Receptor Vitamin D (VDR) ditemukan di ovarium, endometrium, dan plasenta. Vitamin D berperan dalam produksi hormon penting, termasuk progesteron, estradiol, estron, serta human chorionic gonadotropin (hCG). Vitamin D membantu proses decidualization endometrium, yakni persiapan rahim untuk menerima kehamilan. Vitamin D memengaruhi kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) yang sangat penting dalam proses folikulogenesis.

Dengan kata lain, Vitamin D tidak hanya mendukung tulang karena ia ikut mengatur siklus reproduksi perempuan.

Bagaimana Vitamin D Mempengaruhi PCOS? 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika perempuan dengan PCOS diberikan suplementasi vitamin D seringkali dikombinasikan dengan kalsium hasilnya cukup menjanjikan. Dalam 2–3 bulan, banyak peserta mulai kembali mengalami siklus menstruasi yang lebih teratur, ovulasi lebih sering muncul, dan bahkan sebagian di antaranya berhasil hamil hanya dari perbaikan kadar vitamin D. Temuan ini membuka gambaran bahwa vitamin D memainkan peran penting dalam kestabilan siklus dan fungsi ovarium.

Salah satu alasan vitamin D begitu berdampak adalah karena PCOS sangat identik dengan resistensi insulin. Vitamin D membantu meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin, memperkuat ekspresi reseptor insulin, dan menurunkan peradangan yang ikut memperburuk kondisi ini. Studi-studi menunjukkan bahwa dosis kurang dari 4000 IU per hari sudah cukup untuk membantu memperbaiki metabolisme glukosa, menurunkan resistensi insulin, mengurangi gejala hiperandrogenisme, serta membuat menstruasi lebih sering muncul dengan ritme yang lebih teratur. Selain faktor metabolik, ada juga aspek genetik: variasi pada gen Vitamin D Receptor (seperti Apa-I, Taq-I, Bsm-I, dan Cdx2) ditemukan lebih banyak pada perempuan dengan PCOS. Polimorfisme ini diduga berhubungan dengan kadar LH, SHBG, testosteron, dan bahkan resistensi insulin, sehingga respons setiap perempuan terhadap vitamin D bisa berbeda-beda.

Dampak vitamin D juga terlihat pada risiko metabolik dan kardiovaskular yang sering menyertai PCOS. Kadar vitamin D yang rendah berhubungan dengan tekanan darah lebih tinggi, kolesterol yang tidak stabil, peningkatan inflamasi, dan metabolisme yang melambat. Banyak perempuan PCOS juga mengalami dislipidemia: trigliserida yang tinggi, HDL rendah, atau kolesterol total yang meningkat. Suplementasi vitamin D terbukti berpotensi menurunkan trigliserida, memperbaiki profil lipid tertentu, mengurangi proses inflamasi, serta mendukung folikulogenesis, menurunkan testosteron, membantu regulasi menstruasi, bahkan meningkatkan peluang kehamilan. Dalam studi tertentu, pemberian 50.000 IU vitamin D setiap dua minggu selama delapan minggu pada perempuan PCOS kandidat IVF mampu menurunkan insulin, menurunkan AMH yang terlalu tinggi, serta memperbaiki metabolisme lipid. Ketika dikombinasikan dengan kalsium atau metformin, efeknya pada ovulasi dan ketereguleran siklus menjadi lebih kuat lagi.

Dengan kata lain: Vitamin D bukan “obat utama” PCOS, tetapi merupakan bagian penting dari manajemen komprehensif, terutama pada pasien dengan defisiensi. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Mohan, Anmol MBBSa; Haider, Ramsha MBBSa; Fakhor, Hajar MBBSe; Hina, Fnu MBBSd; Kumar, Vikash MDf; Jawed, Aleeza MBBSb; Majumder, Koushik MBBSh; Ayaz, Aliza MBBSa; Lal, Priyanka Mohan MBBSb; Tejwaney, Usha Pharm. Dg; Ram, Nanik FCPSc; Kazeem, Saka MDf. Vitamin D and polycystic ovary syndrome (PCOS): a review. Annals of Medicine & Surgery 85(7):p 3506-3511, July 2023. | DOI: 10.1097/MS9.0000000000000879 

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: PCOS, Riset, Vitamin D

CoQ10, DHEA, GH, dan TEAS untuk Poor Ovarian Response: Mana yang Paling Menjanjikan untuk Meningkatkan Peluang IVF?

November 26, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Poor ovarian response (POR) masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia fertilitas. Meski teknologi reproduksi berbantu seperti IVF sudah berkembang pesat, kenyataannya tidak semua perempuan memberikan respons optimal terhadap stimulasi ovarium. Bagi sebagian perempuan, jumlah sel telur yang dihasilkan tetap sedikit, kualitasnya pun seringkali tidak ideal. Kondisi inilah yang dikenal sebagai poor ovarian response dan hingga hari ini, belum ada “obat ajaib” yang benar-benar bisa mengubahnya secara dramatis.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai terapi tambahan (adjuvant therapy) mulai banyak dibahas mulai dari CoQ10, DHEA, growth hormone (GH), hingga TEAS. Empat pendekatan ini cukup populer digunakan dokter-dokter fertilitas di berbagai negara, meski bukti ilmiahnya tidak selalu sejalan. Karena itu, muncul pertanyaan besar: adakah terapi adjuvan yang benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pasien POR?

Sebuah studi besar yang dipublikasikan pada 2023 mencoba menjawabnya. Penelitian ini adalah systematic review dan network meta-analysis jenis riset paling kuat untuk membandingkan berbagai terapi sekaligus. Total ada 16 uji klinis acak (RCT) dengan 2323 perempuan POR yang disertakan. Semua peserta didefinisikan menggunakan kriteria Bologna, sehingga hasilnya cukup solid. Yuk cek apa kata penelitian!

CoQ10 dan DHEA: Bintang Utama dalam Meningkatkan Peluang Hamil

CoQ10 adalah antioksidan penting yang terlibat dalam produksi energi sel. Pada POR, kualitas sel telur sering dipengaruhi oleh stres oksidatif dan penurunan fungsi mitokondria.

Studi ini menunjukkan bahwa CoQ10:

  • Meningkatkan peluang kehamilan klinis (OR 2.22)
  • Menjadi terapi paling unggul untuk meningkatkan angka kelahiran hidup
  • Memberikan manfaat paling seimbang antara kualitas dan outcome jangka panjang

CoQ10 dan Energi yang Menjaga Kehamilan

CoQ10 bukan sekadar suplemen yang membantu sel telur “siap berangkat”. Ia bekerja jauh lebih dalam memberi energi pada sel telur, menjaga kualitasnya, dan membuatnya lebih kuat menjalani perjalanan panjang menuju kehamilan yang sehat. Studi menunjukkan bahwa CoQ10 tidak hanya meningkatkan peluang pembuahan, tetapi juga membuat sel telur lebih “tahan banting” hingga kehamilan bertahan dan berakhir dengan persalinan. Ibaratnya, CoQ10 membantu membangun fondasi kokoh sejak dari tahap paling awal.

DHEA dan Perannya dalam Menguatkan Ovarium

Di sisi lain, DHEA sudah lama dikenal sebagai sahabat bagi pasien dengan poor ovarian response (POR). Perannya sebagai pendukung produksi androgen membuat folikel berkembang lebih sehatdan itu berdampak langsung pada kualitas sel telur. Dalam studi ini, DHEA menunjukkan peningkatan peluang kehamilan klinis hampir dua kali lipat (OR 1.92), meningkatkan angka implantasi, menambah jumlah sel telur yang berhasil diambil, serta memperbanyak embrio berkualitas tinggi. Yang paling mencolok, DHEA memberikan dorongan kuat pada kualitas faktor yang sering menjadi kunci keberhasilan pada pasien dengan respons ovarium yang lemah.

Growth Hormone (GH): Bukan yang Terbaik, Tapi Punya Potensi

GH tidak sekuat CoQ10 atau DHEA dalam meningkatkan peluang hamil, tetapi menurut analisis, terapi ini tetap memberikan manfaat. GH menduduki posisi kedua setelah DHEA dalam meningkatkan jumlah sel telur yang diperoleh.

Artinya, GH mungkin cocok untuk pasien tertentu misalnya yang membutuhkan peningkatan jumlah oosit tetapi bukan pilihan utama jika tujuannya adalah meningkatkan angka kelahiran hidup.

TEAS: Menarik, Tapi Paling Lemah

TEAS (Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation) adalah akupuntur listrik non-invasif. Meski beberapa klinik menggunakannya untuk meningkatkan aliran darah ke ovarium atau uterus, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:

  • TEAS adalah yang paling lemah dibanding tiga terapi lain
  • Efek peningkatan kehamilan tidak signifikan
  • Meski demikian, TEAS tetap lebih baik daripada tidak mendapatkan adjuvant therapy sama sekali

Kesimpulannya, TEAS bisa menjadi pelengkap, namun tidak ideal sebagai terapi utama untuk POR.

Apa Artinya Temuan Ini Bagi Pasien POR?

Dari empat terapi yang dibandingkan, CoQ10 dan DHEA adalah yang paling menonjol dalam meningkatkan berbagai aspek penting IVF: kualitas oosit, kualitas embrio, peluang implantasi, hingga angka kelahiran hidup.

GH memberikan manfaat tetapi tidak sekuat dua terapi utama, sedangkan TEAS membutuhkan evaluasi lebih lanjut sebelum bisa direkomendasikan secara luas.

Penelitian ini juga menekankan bahwa bukti ilmiah untuk terapi-terapi ini baru berkembang, dan masih dibutuhkan RCT berskala besar yang langsung membandingkan satu terapi dengan terapi lainnya.

Namun untuk saat ini, jika berbicara tentang evidence-based adjuvant therapy untuk pasien poor ovarian response, CoQ10 dan DHEA adalah kandidat paling kuat.

Poor ovarian response adalah tantangan besar dalam dunia IVF, tetapi terapi adjuvan dapat memberikan peluang tambahan untuk memperbaiki outcome. Berdasarkan penelitian besar ini:

  • CoQ10 – terbaik untuk peluang hamil dan kelahiran hidup
  • DHEA – unggul dalam meningkatkan kualitas oosit dan embrio
  • GH – memberi efek tetapi tidak sekuat CoQ10/DHEA
  • TEAS – aman, tetapi bukan pilihan utama

Untuk perempuan yang sedang mempersiapkan IVF dengan kondisi POR, temuan ini bisa menjadi bahan diskusi penting dengan dokter. Tidak ada terapi yang cocok untuk semua orang, tetapi memahami opsi berbasis bukti memungkinkan pasien membuat keputusan yang lebih matang dan personal. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Zhu, F., Yin, S., Yang, B., Li, S., Feng, X., Wang, T., & Che, D. (2023). TEAS, DHEA, CoQ10, and GH for poor ovarian response undergoing IVF-ET: a systematic review and network meta-analysis. Reproductive Biology and Endocrinology, 21(1), 64.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: DHEA, Poor Ovarian Response, TEAS

Haruskah Semua Pasien dengan Severe Oligozoospermia & Cryptozoospermia Menggunakan Sperma Testis untuk ICSI?

November 26, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Dalam dunia fertilitas, salah satu pertanyaan besar yang sering muncul adalah: lebih baik menggunakan sperma testis atau sperma ejakulasi untuk ICSI terutama pada pria dengan severe oligozoospermia (konsentrasi sperma sangat rendah) atau cryptozoospermia (sperma hanya muncul setelah pencarian intensif).

Sebuah studi terbaru dari Iran (2024–2025), yang dipublikasikan oleh The Korean Society for Reproductive Medicine, mencoba menjawab hal ini dengan pendekatan yang sangat menarik: menggunakan oosit saudara (sibling oocytes) dan membandingkan langsung hasil ICSI antara sperma testis dan sperma ejakulasi pada pasien yang sama.

Hasilnya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kapan sebaiknya dilakukan testicular sperm retrieval (TESA/FNA).

Mengapa Hal Ini Penting?

Pada pasien dengan sperma sangat sedikit, embriolog dan klinisi sering berada pada dilema:

  • Di satu sisi, sperma testis dianggap lebih “segar” dan mungkin memiliki kerusakan DNA yang lebih sedikit karena belum melewati saluran epididimis.
  • Di sisi lain, prosedur pengambilan sperma testis itu invasif, berbiaya lebih tinggi, dan punya risiko (hematoma, nyeri, fibrosis, infeksi, bahkan hipogonadisme).

Karena itu, membuat prediksi kapan sperma testis akan memberikan hasil lebih baik sangat penting.

Dari Mana Kita Tahu Mana Sperma yang Lebih Baik?

Kadang pasangan datang ke klinik dengan kondisi sperma yang sangat rendah, dan dokter harus menentukan satu hal penting: lebih baik pakai sperma ejakulasi atau sperma testis untuk ICSI? Nah, ada studi menarik yang mencoba menjawab pertanyaan ini dengan cara yang cukup simpel tapi relevan banget untuk kehidupan nyata. Para peneliti membagi pasien berdasarkan seberapa rendah jumlah spermanya, lalu mencoba kedua jenis sperma itu pada proses pembuahan yang sama. Dengan begitu, mereka bisa melihat langsung mana yang bekerja lebih optimal dalam membantu pembuahan dan pembentukan embrio. Hasilnya terasa seperti panduan praktis buat tenaga medis maupun pasangan yang lagi berjuang.

Jadi, Kapan Pakai Sperma Testis dan Kapan Pakai Sperma Ejakulasi?

Ternyata tidak semua orang perlu tindakan seperti TESA atau FNA. Jika jumlah sperma sangat rendah di bawah 1 juta/mL atau bahkan sampai tahap cryptozoospermia sperma testis cenderung memberikan hasil yang lebih baik dalam pembuahan dan kualitas embrio. Tapi ketika jumlah sperma sudah berada di kisaran 1–5 juta/mL, sperma ejakulasi justru bekerja lebih baik dan membuat proses jadi lebih sederhana tanpa perlu tindakan invasif. Intinya, angka konsentrasi sperma bisa menjadi kompas yang membantu menentukan langkah yang paling aman, efektif, dan efisien. Pasangan bisa menghindari prosedur yang tidak perlu, mengurangi biaya, dan tetap fokus pada tujuan utama: peluang terbaik untuk mendapatkan embrio yang sehat.

Kedepannya, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan terutama untuk mencari biomarker lain seperti DNA fragmentation index (DFI), tingkat ROS, atau kualitas motilitas spesifik yang dapat menjadi prediktor keputusan. Tetapi untuk saat ini, data ini menjadi panduan praktis dan evidence-based bagi klinisi dalam menentukan strategi terbaik bagi setiap pasien. Jangan lupa informasi lebih lanjut follow Instagram @menujuduagaris.id

 

Referensi

  • Derakhshan, M., Salehi, P., Derakhshan, M., Naghshineh, E., Movahedi, M., Tehrani, H. G., & Salehi, E. (2024). Should testicular sperm retrieval be implemented for intracytoplasmic sperm injection in all patients with severe oligozoospermia or cryptozoospermia?. Korean Journal of Fertility and Sterility.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: laki-laki, oligozoospermia, pasien

Menuju Dua Garis – Gathering di Surabaya: Ruang Berbagi, Belajar, dan Menguatkan Sesama

November 24, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Alpha Story with Mizz Rosie Surabaya, 23 November 2025

Komunitas Menuju Dua Garis, bekerja sama dengan Alpha Women’s Specialists Indonesia dan Alpha IVF, sukses menggelar acara Gathering at Surabaya pada Minggu, 23 November 2025. Acara ini menghadirkan edukasi kesuburan berbasis bukti ilmiah yang dikemas hangat, personal, dan mudah dipahami untuk para pasangan yang sedang berjuang menuju dua garis.

Dalam acara ini, hadir para dokter Alpha yang siap memberikan edukasi komprehensif seputar kesehatan reproduksi. Di antaranya dr. Glenn Ega Budi Tanoyo, Sp.OG, serta Dr. Tan Chong Seong, Consultant O&G & Fertility Specialist dari Alpha IVF Kuala Lumpur, Malaysia, yang hadir langsung untuk memberikan wawasan terkini tentang kemajuan teknologi IVF, peran AI, hingga tes genetik dalam memaksimalkan peluang kehamilan

Acara yang dipandu langsung oleh Mizz Rosie, Founder dari Menuju Dua Garis, dibuka dengan cerita perjalanan pribadinya menjalani program hamil dari IVF 1 hingga IVF ke-6. Sharing ini menjadi momen yang paling ditunggu karena menyalakan harapan baru sekaligus memperkuat solidaritas antar peserta. Untuk mendukung para pasangan yang hadir, Alpha juga memberikan doorprize berupa paket pemeriksaan kesuburan.

Sesi Edukasi: Tanya Dokter Tanpa Basa-Basi

Acara ini menghadirkan dua pembicara dari Alpha:

  • Seorang dokter spesialis obstetri, ginekologi, dan fertilitas dari Alpha Women’s Specialists Indonesia
  • Seorang konsultan IVF & fertility dari Alpha IVF Kuala Lumpur

Dalam sesi edukasi, para dokter menjawab berbagai pertanyaan penting seputar kesuburan perempuan maupun laki-laki, termasuk:

Topik Kesuburan Perempuan

  • Protokol IVF untuk PCOS Tidak semua PCOS harus langsung IVF; usia dan kondisi hormonal menjadi faktor penentu.
  • Endometriosis & AMH rendah  Penanganan bergantung pada riwayat laparoskopi, cadangan ovarium, dan strategi stimulasi yang tepat.
  • Blastokista & risiko kelainan kromosom  Peserta menanyakan cara meningkatkan kualitas blastokista, termasuk gaya hidup, suplementasi, dan manajemen OAT serta mikrodeletion Y pada pasangan.
  • Repeated Implantation Failure (RIF) – Meski blastokista sudah euploid dan endometrium optimal, pemeriksaan tambahan seperti immunology, ERA/Trio Test, atau evaluasi inflamasi tetap relevan.
  • Mioma & kehamilan alami/IVF – Pada kasus mioma 4 cm, penentuan perlu-tidaknya operasi bergantung lokasi, gejala, dan rencana IVF.
  • PRP ovarium untuk low AMH usia >38 tahun – Dibahas efektivitas, kandidat ideal, dan batasan.
  • Protokol IVF untuk AMH sangat rendah (0,1–0,05) – Penjelasan mengenai strategi stimulasi, harapan realistis, serta kapan mempertimbangkan donor sel telur.

Topik Kesuburan Laki-Laki

  • Azoospermia Non-Obstruktif – Alpha IVF menjelaskan bahwa stimulasi hormonal seperti HCG sering menjadi langkah awal sebelum mikro-TESE.
  • Obstructive Azoospermia – Pada kondisi ini peluang memperoleh sperma umumnya lebih baik, termasuk opsi tindakan bedah.
  • DFI tinggi (41%) – Masih bisa diperbaiki dengan penanganan inflamasi, antioksidan, perubahan gaya hidup, dan menyesuaikan strategi IVF.
  • Asthenoteratozoospermia – Dibahas apakah bisa sembuh dan kapan harus menggunakan tindakan medis dibanding suplementasi.
  • Criptozoospermia & peluang IVF – Peserta mendapat penjelasan tentang estimasi keberhasilan dan pilihan penanganan.
  • CoQ10 & DHEA – Penjelasan mengenai dosis aman serta siapa yang sebaiknya mengonsumsi.

Pertanyaan umum lainnya

  • “Tes kesuburan di Surabaya dan KL sama atau berbeda?”
  • “Jika sudah pernah hamil tapi belum berhasil lagi selama 16 tahun, apa yang harus diperiksa?”  Dokter menjelaskan bahwa pendekatannya sama-sama berbasis standar internasional, namun KL memiliki keunggulan teknologi tertentu untuk kasus kompleks.

Acara ini menjadi ruang aman bagi para pasangan untuk bertanya tanpa rasa malu. Suasana hangat, interaktif, dan penuh empati membuat banyak peserta merasa lebih dipahami dan lebih siap melanjutkan perjalanan program hamil mereka.

Menuju Dua Garis berharap acara seperti ini dapat diteruskan di kota-kota lain agar semakin banyak pasangan mendapat edukasi kesuburan yang akurat, praktis, dan berempati.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: menuju dua garis, Ruang Belajar

Vitamin D dan Miom: Bisakah Nutrisi Sederhana Ini Menghambat Pertumbuhan Miom?

November 24, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Miom atau fibroid merupakan tumor jinak rahim yang sangat umum terjadi pada perempuan. Meski sifatnya non-kanker, miom bisa menyebabkan nyeri, perdarahan berlebih, gangguan kesuburan, dan seringkali mengharuskan tindakan medis. Karena banyak perempuan ingin menghindari operasi dan tetap menjaga peluang kehamilan, para peneliti terus mencari cara yang lebih aman, termasuk dari sisi nutrisi.
Salah satu kandidat paling menjanjikan adalah vitamin D.

Vitamin D: Sekadar Vitamin, atau Pelindung Rahim?

Vitamin D dikenal sebagai nutrisi penting untuk tulang, imun, dan metabolisme. Namun beberapa tahun terakhir, ilmuwan mulai melihat pengaruhnya pada kesehatan reproduksi perempuan, terutama pada mioma. Studi-studi di laboratorium menunjukkan bahwa vitamin D dapat menghambat proliferasi sel mioma, menurunkan ekspresi reseptor estrogen/progesteron, dan mengurangi pembentukan jaringan mioma.

Ada sebuah penelitian yang dipublikasikan di Fertility and Sterility dengan melibatkan 1.610 perempuan Afrika-Amerika usia 23–35 tahun yang belum memiliki diagnosis mioma sebelumnya. Mereka menjalani empat kali pemeriksaan USG selama lima tahun, sambil dicek kadar vitamin D-nya secara berkala.

Hasil awalnya mengejutkan dimana 73% peserta mengalami defisiensi vitamin D (<20 ng/mL) Hanya 7% yang kadar vitamin D-nya cukup (≥30 ng/mL) Ini menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D adalah masalah besar dan bisa jadi salah satu alasan mioma berkembang lebih cepat pada kelompok tertentu.

Vitamin D Menurunkan Pertumbuhan Mioma

Ketika dibandingkan, perempuan dengan kadar vitamin D ≥20 ng/mL mengalami: 9,7% penurunan pertumbuhan mioma dibandingkan yang defisiensi, Tren perlambatan ini konsisten bahkan setelah penyesuaian berbagai faktor seperti BMI, kebiasaan merokok, dan riwayat reproduksi

Sedangkan pada kelompok dengan kadar vitamin D ≥30 ng/mL, hasilnya juga menarik: Risiko munculnya mioma lebih rendah 22%, Kemungkinan mioma mengecil atau hilang lebih tinggi 32%

Bagaimana Vitamin D Menghambat Mioma?

Secara biologis, vitamin D bekerja di banyak jalur penting:

  • Mengurangi proliferasi sel mioma
  • Menghambat produksi kolagen berlebih (komponen utama massa mioma)
  • Menurunkan aktivitas hormon yang memicu pertumbuhan mioma
  • Mengatur ekspresi gen terkait pertumbuhan dan apoptosis (kematian sel terprogram)

Dengan kata lain, vitamin D mengubah lingkungan sel mioma menjadi kurang “nyaman” untuk tumbuh.

Apa Artinya untuk Perempuan yang Sedang Promil?

Untuk sister yang sedang promil, vitamin D punya peran ganda:

  1. Mendukung kualitas ovulasi dan kesehatan endometrium
  2. Potensial menurunkan risiko pertumbuhan mioma yang bisa mengganggu proses kehamilan

Walaupun vitamin D bukan terapi tunggal untuk mioma, menjaga kadar vitamin D dalam rentang cukup dapat menjadi langkah sederhana yang berdampak besar, terutama bagi perempuan yang ingin promil tanpa banyak intervensi.

Sister yang memiliki miom jadi tau bahwa kadar vitamin D yang lebih tinggi berkaitan dengan pertumbuhan mioma yang lebih lambat dan risiko munculnya mioma yang lebih rendah. Untuk itu bagi sister terutama yang sedang merencanakan kehamilan menjaga kadar vitamin D adalah langkah penting dan aman untuk kesehatan reproduksi. Tapi tentu saja tetap harus dikomunikasikan dengan dokter ya! Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Harmon, Q. E., Patchel, S. A., Denslow, S., LaPorte, F., Cooper, T., Wise, L. A., … & Baird, D. D. (2022). Vitamin D and uterine fibroid growth, incidence, and loss: a prospective ultrasound study. Fertility and sterility, 118(6), 1127-1136.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: miom, nutrisi, Vitamin D

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Interim pages omitted …
  • Page 6
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Ketika Embrio Tampak Baik, Tapi Kehamilan Tak Kunjung Datang: Peran Sunyi Epigenetik Sperma dalam Kegagalan FET
  • Memahami Adenomyosis dan Dampaknya terhadap Kesuburan serta Program Bayi Tabung
  • Karena dalam Promil Modern, Sel Sperma Juga Perlu Perhatian yang Sama Seriusnya
  • Kenapa Usia Ayah Bisa Berpengaruh ke Perkembangan Anak?
  • Mengenal PCOS Lebih Dalam: Bukan Sekadar Haid Tidak Teratur, tapi Cerita Tubuh yang Kompleks

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.