• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Archives for July 2025

Di Balik Sunyi: Menyingkap Stigma Infertilitas yang Dihadapi Perempuan

July 31, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas bukan hanya persoalan medis. Bagi banyak perempuan, ini adalah luka yang diam-diam menggores harga diri, relasi sosial, bahkan makna diri. Di balik label “belum punya anak”, ada stigma yang nyata dan menyakitkan.

Bahkan secara global, sekitar 8–12% pasangan usia subur mengalami infertilitas. Tapi meskipun angka ini cukup besar, banyak perempuan yang merasa sendirian. Mengapa?

Karena stigma. Masyarakat kerap melabeli perempuan infertil sebagai ‘kurang sempurna’ atau bahkan ‘gagal sebagai istri’. Padahal, infertilitas bisa terjadi pada laki-laki, perempuan, atau keduanya.

Cerita dari Balik Pintu Tertutup

Hal tersebut fakta adanya, seperti temuan penelitian yang dilakukan di Isfahan Fertility and Infertility Center dan menunjukkan mengapa ada perasaan seperti itu diantaranya adalah Pelanggengan Stigma, Stigma sendiri hadir dalam banyak bentuk mulai dari komentar menyakitkan, tatapan sinis, sampai tekanan dari sesama perempuan.  Selanjutnya ada juga stigma terhadap diri sendiri seperti rasa bersalah, malu, dan merasa tidak berharga sering kali muncul sebagai reaksi internal terhadap tekanan sosial. Inilah yang disebut self-stigma.

Akhirnya karena lingkungan itu membuat para perempuan mencoba bertahan dengan berbagai cara: berpura-pura baik-baik saja, menerima kondisi dengan berat hati, atau menyembunyikan fakta bahwa mereka sedang menjalani program hamil. Ada juga perempuan yang bangkit dan menjadi lebih kuat. Dukungan dari pasangan atau keluarga membantu mereka berdamai dengan diri sendiri dan stigma yang ada.

Dampak yang Berkelanjutan

Dampak stigma terhadap perempuan infertil tidak main-main. Mereka rentan mengalami kecemasan, depresi, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam beberapa kasus, tekanan ini lebih menyakitkan dibanding diagnosis medis itu sendiri.

Tapi penting untuk diingat: perempuan punya hak untuk didengar, didukung, dan tidak dihakimi. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa mendampingi perempuan yang mengalami infertilitas bukan hanya soal memberi solusi medis, tapi juga menyentuh sisi psikologis dan sosial mereka.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  1. Validasi perasaan mereka. Jangan buru-buru menyuruh “sabar” atau “banyak doa”.

  2. Hindari komentar seperti “kapan punya anak?” ini bukan basa-basi yang menyenangkan.

  3. Buka ruang aman untuk berbagi cerita tanpa stigma.

Infertilitas bukan akhir dari segalanya. Tapi stigma bisa membuatnya terasa seperti itu. Sudah waktunya kita membuka mata dan hati agar tidak ada lagi perempuan yang merasa gagal hanya karena belum menjadi ibu. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:

  • Taebi, M., Kariman, N., & Majd, H. A. (2021). Infertility stigma: A qualitative study on feelings and experiences of infertile women. International journal of fertility & sterility, 15(3), 189.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, mental, perempuan, Stigma

Kualitas Sperma Menurun Seiring Usia? Ini Faktanya

July 30, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini kita sering dengar kalau usia jadi faktor penting dalam kesuburan perempuan. Tapi ternyata, kesuburan pria juga ikut menurun seiring bertambahnya usia, lho!

Sebuah studi membuktikan bahwa kualitas sperma memang mengalami penurunan, terutama setelah usia 40 tahun.

Apa yang Berubah Saat Pria Menua?

Sebuah temuan dari penelitian menunjukkan bahwa pria yang usianya lebih tua cenderung punya:

  1. Sperma yang kurang lincah (motilitasnya rendah): Motilitas adalah kemampuan sperma untuk bergerak secara aktif menuju sel telur. Dalam proses kehamilan alami, sperma harus “berenang” dari vagina, melewati leher rahim, rahim, hingga tuba falopi untuk membuahi sel telur.
    Kalau motilitasnya rendah, banyak sperma yang tidak mampu mencapai sel telur, sehingga peluang terjadinya pembuahan pun menurun. Dalam studi ini, ditemukan bahwa semakin tua usia pria, persentase sperma yang bisa bergerak aktif makin berkurang secara signifikan.
  2. Lebih sedikit sperma dengan bentuk normal (morfologinya menurun)
    Morfologi sperma adalah ukuran dan bentuk sperma. Sperma yang bentuknya tidak normal misalnya kepala bulat tak sempurna, ekor pendek, atau bentuk ganda lebih sulit membuahi sel telur.

Bagaimana itu dapat terjadi?

Pria yang lebih tua memiliki proporsi sperma berbentuk normal yang lebih sedikit, sehingga meskipun jumlah sperma banyak, kemampuannya untuk membuahi tetap rendah.

Jumlah sperma sehat yang mampu bergerak maju juga ikut turun dibuktikan melalui sebuah penelitian yang menghitung jumlah sperma yang disebut Total Progressive Motile Count (TPMC), yaitu jumlah sperma yang: Bergerak aktif, Bergerak maju ke depan (bukan hanya berputar di tempat) Nah, TPMC ini juga menurun seiring bertambahnya usia, bahkan mulai terlihat sejak usia akhir 30-an. Artinya, sperma yang benar-benar siap membuahi jumlahnya makin sedikit.

Tidak hanya itu karena penurunan ini juga terjadi meski faktor lain seperti kebiasaan merokok, infeksi, dan varikokel sudah dikontrol. Artinya, faktor usia memang punya pengaruh tersendiri.

Jadi buat kamu yang sedang atau akan memulai program hamil, informasi ini penting. Jangan hanya fokus ke pihak perempuan, karena usia dan kondisi kesehatan pria juga bisa menentukan keberhasilan promil terutama kalau promilnya alami.

Kalau kamu (atau pasanganmu) sudah berusia di atas 35–40 tahun, gak ada salahnya untuk mulai cek kualitas sperma sebagai langkah awal.

Referensi:
Castellini, C., Cordeschi, G., Tienforti, D., & Barbonetti, A. (2024). Relationship between male aging and semen quality: a retrospective study on over 2500 men. Archives of Gynecology and Obstetrics, 309(6), 2843-2852.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: faktor usia, laki-laki, sperma

Paparan Radiasi Gadget dan Jumlah Sperm: Fakta atau Mitos?

July 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Smartphone di kantong celana, laptop di pangkuan, bahkan Wi-Fi 24 jam menyala di rumah semua itu sudah jadi bagian dari gaya hidup modern. Tapi, pernah nggak sih kamu dengar kalau radiasi dari gadget bisa menurunkan jumlah sperma?

Isu ini sering muncul di tengah kekhawatiran soal kesuburan pria, apalagi di era digital seperti sekarang. Tapi, benarkah paparan gelombang elektromagnetik dari gadget bisa berdampak langsung pada sperm count? Atau ini cuma mitos yang belum terbukti secara ilmiah?

Yuk, kita bahas faktanya berdasarkan bukti riset terbaru.

Radiasi Non-Ionisasi: Tidak Terlihat, Tapi Bisa Berdampak

Gadget seperti ponsel, laptop, dan Wi-Fi memancarkan radiasi non-ionisasi, yaitu jenis radiasi yang tidak merusak DNA secara langsung. Tapi meskipun energinya rendah, paparan terus-menerus dari alat-alat ini tetap bisa memicu gangguan pada sistem reproduksi pria terutama jika diletakkan terlalu dekat dengan area sensitif, seperti organ reproduksi.

Ponsel sendiri menjadi salah satu sumber radiasi non-ionisasi yang paling sering menemani kita sehari-hari. Sayangnya, kedekatan ini justru bisa menjadi masalah. Banyak studi menemukan bahwa kebiasaan menyimpan ponsel di saku celana atau meletakkannya dekat tubuh dalam waktu lama bisa berdampak pada kualitas sperma.

Radiasi dan Kualitas Sperma

Paparan radiasi dari gadget diketahui bisa mengganggu berbagai aspek penting dari sperma. Mulai dari pergerakannya yang jadi lambat, jumlahnya yang menurun, hingga bentuknya yang tidak normal. Selain itu, paparan ini juga bisa memicu stres oksidatif dan perubahan hormon dua hal yang berpengaruh besar terhadap kesuburan pria.

Dengan banyaknya temuan yang menunjukkan kaitan antara paparan radiasi dan penurunan kualitas sperma, bisa dibilang isu ini bukan lagi mitos. Memang belum semua detailnya benar-benar dipahami, tapi bukti yang ada sudah cukup untuk membuat kita lebih waspada, apalagi kalau sedang berusaha memiliki anak.

Tips Mengurangi Paparan

Menghindari gadget sepenuhnya tentu nggak realistis. Tapi ada beberapa langkah kecil yang bisa kamu lakukan, seperti menjauhkan ponsel dari area sensitif, tidak menaruh laptop langsung di pangkuan, dan mengaktifkan mode pesawat saat tidur. Hal-hal sederhana seperti ini bisa jadi upaya preventif yang berarti untuk menjaga kesehatan reproduksi.

Referensi

  • Negi, P., & Singh, R. (2021). Association between reproductive health and nonionizing radiation exposure. Electromagnetic biology and medicine, 40(1), 92-102.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: gadget, radiasi, smartphone, sperma

Junk Food dan Sperma: Makanan Enak yang Bisa Jadi Musuh Kesuburan Pria

July 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Siapa sih yang nggak suka gorengan renyah, ayam krispi, atau camilan instan serba gurih? Rasanya bikin nagih, apalagi kalau sedang stres atau butuh comfort food. Tapi, tahukah kamu kalau kebiasaan mengonsumsi junk food bisa diam-diam mengganggu kualitas sperma?

Makanan cepat saji, minuman manis, dan makanan tinggi lemak trans memang enak di lidah, tapi efeknya bisa jadi bencana bagi kesehatan reproduksi pria. Dalam beberapa penelitian, pola makan tinggi junk food dikaitkan dengan penurunan jumlah, motilitas, bahkan bentuk sperma yang sehat.

Lho, kok bisa? Yuk, kita bahas lebih lanjut bagaimana “makanan enak” ini bisa jadi musuh dalam selimut bagi kesuburan pria.

Junk Food dan Sperma

Junk food sendiri merupakan makanan cepat saji yang tinggi lemak jenuh, gula, dan garam, tapi rendah nutrisi penting seperti protein, serat, vitamin, dan mineral. Makanan seperti sereal manis, gorengan, makanan yang dibakar terlalu lama, keripik kentang, serta roti dan kue tinggi gula dan lemak termasuk dalam kategori ini. Konsumsi junk food secara berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan, seperti merusak gigi akibat interaksi gula dan bakteri di mulut, menyebabkan gangguan liver karena penumpukan lemak jenuh, serta meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan gangguan ginjal akibat tingginya kadar garam yang masuk ke tubuh.

Dalam sebuah studi dari Amerika, peneliti menganalisis pola makan para pria dan membandingkannya dengan kualitas sperma mereka. Hasilnya cukup jelas: pria yang rutin mengonsumsi makanan sehat seperti sayur, buah, dan biji-bijian cenderung punya sperma yang lebih baik. Sementara mereka yang sering makan junk food seperti kentang goreng dan makanan olahan justru menunjukkan penurunan kualitas sperma.

Lebih lanjut lagi, peneliti menemukan bahwa pola makan ini juga bisa memengaruhi epigenetik sperma yaitu ‘catatan’ genetik yang bisa memengaruhi bagaimana gen diwariskan ke generasi berikutnya. Jadi, kalau seorang pria terbiasa makan junk food, bisa saja hal ini menambah risiko anaknya kelak mengalami masalah metabolik atau penyakit kronis.

Bukan Cuma Tentang Kamu

Yang bikin merinding, dampaknya nggak berhenti di tubuh si pria. Gaya hidup dan pola makan sekarang bisa jadi faktor yang menentukan kesehatan anak di masa depan. Jadi, promil bukan cuma urusan perempuan saja. Pria juga punya peran besar dan salah satu kuncinya adalah dari apa yang mereka konsumsi setiap hari.

Kalau sister dan paksu sedang dalam perjalanan menuju dua garis, mulailah dari hal kecil salah satunya adalah isi piringmu. Kurangi makanan cepat saji, perbanyak buah dan sayur, dan ingat kesuburan itu kerja sama dua orang, bukan satu pihak saja. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Soubry, A., Murphy, S. K., Vansant, G., He, Y., Price, T. M., & Hoyo, C. (2021). Opposing epigenetic signatures in human sperm by intake of fast food versus healthy food. Frontiers in endocrinology, 12, 625204.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-junk-food

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Junk food, kesuburan, makanan, Musuh, Pria, sperma

Apakah Obesitas Bisa Menurunkan Kualitas Sperma? Ini Penjelasan Ilmiahnya

July 27, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Obesitas sering dibicarakan dalam konteks penyakit jantung, diabetes, atau tekanan darah tinggi. Tapi tahukah sister dan paksu kalau kelebihan berat badan juga bisa berdampak langsung pada kesuburan terutama pada pria.
Bahkan sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa lemak tubuh berlebih bisa merusak mesin energi dalam sperma, membuat sperma lemah dan kurang mampu membuahi. Yuk pahami lebih lanjut!

Lemak dan Kesuburan: Apa Hubungannya?

Sperma butuh energi untuk bisa bergerak dan mencapai sel telur. Energi ini dihasilkan oleh mitokondria semacam “pembangkit listrik” yang ada di dalam sel sperma.
Saat tubuh mengalami obesitas, tingkat radikal bebas (ROS) dalam tubuh meningkat, dan ini memicu stres oksidatif. Masalahnya, stres ini bisa langsung menyerang mitokondria sperma.

Hasilnya?

  • Mitokondria rusak
  • Produksi energi menurun
  • Sperma jadi lemas dan kurang bergerak
  • Peluang untuk membuahi ikut menurun

Sebuah studi klinis pada pria dengan berat badan berlebih atau obesitas, para peneliti menemukan hal-hal berikut:

  1. Aktivitas enzim antioksidan menurun, terutama enzim SOD (superoxide dismutase) yang biasanya melindungi sperma dari kerusakan
  2. Tingkat ROS meningkat dalam sperma, menyebabkan stres oksidatif
  3. Fungsi mitokondria menurun, ditandai dengan turunnya MMP (mitochondrial membrane potential)
  4. Kandungan energi dalam sperma (ATP) makin rendah seiring peningkatan BMI
  5. Motilitas sperma pun ikut menurun, yang artinya sperma sulit bergerak optimal

Dari temuan tersebut dapat diketahui bahwa motilitas sperma adalah salah satu indikator utama dalam evaluasi kesuburan pria. Kalau sperma tidak bisa bergerak dengan baik, peluang untuk membuahi pun menurun drastis. Salah satu penyebabnya adalah obesitas bukan hanya karena hormon terganggu, tapi karena kerusakan langsung pada struktur dan fungsi sperma.

Pentingnya Menjaga Berat Badan

Berat badan ideal bukan hanya soal penampilan atau kesehatan jantung tapi juga soal masa depan reproduksi. Menjaga pola makan sehat, mengurangi konsumsi lemak berlebih, dan rutin beraktivitas fisik bisa menjadi langkah awal untuk menurunkan stres oksidatif dalam tubuh, Menjaga mitokondria sperma tetap sehat dan Meningkatkan kualitas sperma secara menyeluruh.


Karena Obesitas terbukti merusak sistem energi dalam sperma melalui peningkatan stres oksidatif dan penurunan fungsi mitokondria. Akibatnya, sperma jadi lamban, motilitas menurun, dan peluang pembuahan ikut terganggu. Kalau paksu dan sister sedang merencanakan kehamilan, perbaikan gaya hidup bisa menjadi langkah awal yang sangat berarti. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jing, J., Peng, Y., Fan, W., Han, S., Peng, Q., Xue, C., … & Ding, Z. (2023). Obesity‐induced oxidative stress and mitochondrial dysfunction negatively affect sperm quality. FEBS Open Bio, 13(4), 763-778.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: laki-laki, obesitas, program hamil

Suplemen Antioksidan untuk Kesuburan Pria: Benarkah Bisa Mempercepat Kehamilan?

July 26, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Saat program hamil belum berhasil, banyak pasangan mulai mencari suplemen untuk meningkatkan peluang kehamilan. Beberapa nama yang sering muncul adalah selenium, carnitine, dan coenzyme Q10 (CoQ10). Ketiganya dikenal sebagai antioksidan yang katanya bisa memperbaiki kualitas sperma. 

Tapi, apakah benar suplemen ini bisa mempercepat kehamilan?

Beberapa studi besar pernah membahas hal ini. Peneliti mengumpulkan data dari banyak pasangan yang sedang promil, lalu membandingkan mereka yang mengonsumsi suplemen dengan yang tidak.

Hasilnya cukup menarik. Sperma jadi lebih baik, tapi belum tentu membantu hamil, Hasil menunjukkan bahwa setelah rutin minum suplemen antioksidan, kualitas sperma memang membaik. Jumlah sperma meningkat, gerakannya lebih aktif, dan bentuknya lebih normal.

Namun, ketika dilihat dari jumlah pasangan yang akhirnya berhasil hamil, angka keberhasilannya tidak jauh berbeda antara yang minum suplemen dan yang tidak.

Artinya, suplemen ini bisa membantu memperbaiki kondisi sperma, tapi belum tentu langsung berdampak pada peluang kehamilan.

Karena untuk bisa hamil, bukan cuma sperma yang harus bagus.

Ada banyak hal lain yang juga berpengaruh, seperti:

  • Apakah sel telur dalam kondisi baik

  • Apakah proses pembuahan berhasil

  • Apakah embrio bisa menempel di rahim dengan baik

Jadi, walaupun kondisi sperma terlihat lebih baik, belum tentu semua proses selanjutnya berjalan mulus.

Apakah bisa Minum tanpa Saran Dokter?

Fakta lainnya, banyak pria membeli dan minum suplemen antioksidan karena rekomendasi dari internet atau orang sekitar, bukan karena saran dari dokter.

Padahal, belum tentu penyebab sulit hamilnya memang dari sperma. Bisa jadi penyebab utamanya ada di hal lain. Itu sebabnya, penting untuk melakukan evaluasi lebih dulu sebelum memutuskan pakai suplemen tertentu.

Karena suplemen seperti selenium, carnitine, dan CoQ10 bisa membantu memperbaiki kualitas sperma. Tapi belum ada bukti kuat bahwa suplemen ini bisa langsung memperbesar peluang kehamilan sehingga dibutuhkan konsultasi dengan dokter, kalau kamu sedang menimbang-nimbang mau konsumsi suplemen atau tidak, sebaiknya diskusikan dulu dengan dokter atau tenaga medis yang menangani program kehamilan. Karena promil yang terarah akan jauh lebih efektif daripada menebak-nebak sendiri. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Sharma, A. P., Sharma, G., & Kumar, R. (2022). Systematic review and meta-analysis on effect of carnitine, coenzyme Q10 and selenium on pregnancy and semen parameters in couples with idiopathic male infertility. Urology, 161, 4-11.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: antioksidan, Pria, program hamil, suplemen

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Interim pages omitted …
  • Page 6
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Ketika Embrio Tampak Baik, Tapi Kehamilan Tak Kunjung Datang: Peran Sunyi Epigenetik Sperma dalam Kegagalan FET
  • Memahami Adenomyosis dan Dampaknya terhadap Kesuburan serta Program Bayi Tabung
  • Karena dalam Promil Modern, Sel Sperma Juga Perlu Perhatian yang Sama Seriusnya
  • Kenapa Usia Ayah Bisa Berpengaruh ke Perkembangan Anak?
  • Mengenal PCOS Lebih Dalam: Bukan Sekadar Haid Tidak Teratur, tapi Cerita Tubuh yang Kompleks

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.