
Adenomiosis adalah kondisi di mana jaringan endometrium tumbuh ke dalam dinding otot rahim (miometrium). Kondisi ini sering dikaitkan dengan nyeri haid, perdarahan menstruasi yang berlebihan, serta masalah kesuburan. Namun, prevalensi adenomiosis pada wanita dengan subfertilitas masih menjadi topik penelitian yang terus berkembang.
Seberapa Sering Adenomiosis Terjadi pada Wanita dengan Subfertilitas
Dulu, adenomiosis dianggap hanya terjadi pada wanita yang sudah melahirkan dan biasanya baru terdeteksi setelah histerektomi. Namun, dengan kemajuan teknologi pencitraan dan semakin banyaknya wanita yang datang ke klinik di usia lebih tua, kasus adenomiosis kini lebih sering ditemukan pada pasien infertilitas. Berbagai metode pengobatan konservatif telah dicoba, tetapi hasilnya masih beragam dalam hal dampaknya terhadap kesuburan, sehingga menimbulkan tantangan bagi dokter dalam menangani pasien. Lalu kira-kira apa saja faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi?
Faktor yang Mempengaruhi Adenomiosis
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko adenomiosis adalah: Usia paruh baya, yaitu antara 40 dan 50 tahun, Pernah melahirkan, terutama kehamilan multipel (kembar), Pernah menjalani operasi rahim, seperti operasi caesar, pengangkatan fibroid, atau dilatasi dan kuretase (D&C), Menderita endometriosis, Ketidakseimbangan hormon, seperti produksi estrogen yang berlebih, Predisposisi genetik, karena adenomiosis kerap terjadi dalam keluarga, Riwayat depresi atau penggunaan antidepresan.
Dampak Adenomiosis pada Kesuburan
Adenomiosis dapat mempengaruhi kesuburan dengan beberapa cara, diantaranya:
- Mengganggu proses implantasi embrio di dinding rahim.
- Mempengaruhi fungsi trofoblas yang berperan dalam kehamilan.
- Berpotensi meningkatkan risiko keguguran, meskipun penelitian terkait masih menunjukkan hasil yang bervariasi.
Untuk mencegah adenomiosis, sister dapat mulai menerapkan pola makan sehat, bergizi lengkap, dan seimbang, menjaga berat badan agar ideal, menurunkan berat badan bila mengalami obesitas dan menjalani pemeriksaan kesehatan dan kandungan secara rutin.
Pada fakta yang ada bawah satu dari sepuluh wanita dengan subfertilitas memiliki adenomiosis terisolasi. Namun, angka ini bisa lebih tinggi karena masih banyak kasus yang tidak terdiagnosis akibat kurangnya standar kriteria diagnostik yang digunakan oleh tenaga medis. Oleh karena itu, sister dan paksu jangan sampai lengah untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan pada dokter dan peneliti juga disarankan menggunakan standar diagnostik yang lebih akurat, seperti yang direkomendasikan dalam morphological uterus sonographic assessment (MUSA), agar prevalensi adenomiosis dapat diidentifikasi dengan lebih baik. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
- Mishra, I., Melo, P., Easter, C., Sephton, V., Dhillon‐Smith, R., & Coomarasamy, A. (2023). Prevalence of adenomyosis in women with subfertility: systematic review and meta‐analysis. Ultrasound in Obstetrics & Gynecology, 62(1), 23-41.
- Maheshwari, A., Gurunath, S., Fatima, F., & Bhattacharya, S. (2012). Adenomyosis and subfertility: a systematic review of prevalence, diagnosis, treatment and fertility outcomes. Human reproduction update, 18(4), 374-392.
- https://www.halodoc.com/kesehatan/adenomiosis




