• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Admin Menuju Dua Garis

Azoospermia Bukan Akhir: Webinar Kupas Tuntas Operasi Testis dan Teknologi Reproduksi untuk Harapan Pasien Azoospermia

February 9, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 8 Februari 2026, Azoospermia masih sering dianggap sebagai vonis akhir bagi pasangan yang ingin memiliki anak. Ketika hasil analisis sperma menunjukkan “tidak ditemukan sperma”, banyak pasangan langsung dihadapkan pada ketakutan, kebingungan, dan perasaan kehilangan harapan. Padahal, perkembangan teknologi reproduksi modern membuka lebih banyak kemungkinan dibandingkan satu dekade lalu.

Isu inilah yang menjadi fokus utama webinar “Operasi pada Testis dan Bayi Tabung: Harapan Pasien Azoospermia” yang diselenggarakan oleh Menuju Dua Garis (MDG) bekerja sama dengan Alhaya Fertility Centre.

Acara dibuka oleh Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis, yang menekankan bahwa azoospermia bukan sekadar hasil laboratorium, tetapi perjalanan emosional yang panjang bagi pasangan. “Banyak pasangan datang dengan rasa takut, merasa tubuhnya gagal. Padahal, azoospermia memiliki spektrum luas dan tidak bisa disamaratakan,” ujarnya.

Sebagai pembicara utama, Dr. Wan Syahirah Yang Mohsin (Dr. Sera), Consultant Obstetrician & Gynaecologist sekaligus Fertility Specialist, menjelaskan bahwa pendekatan pada azoospermia saat ini tidak lagi berhenti pada analisis sperma semata. Evaluasi testis, riwayat penyakit seperti orchitis, kondisi hormonal, hingga teknologi pengambilan sperma menjadi bagian penting dari penentuan strategi.

“Pada beberapa kasus, sperma memang tidak keluar bersama ejakulat, tetapi masih bisa ditemukan langsung dari testis atau epididimis melalui tindakan seperti TESA, MESA, hingga microTESE,” jelas Dr. Sera. “Ini bukan soal menjanjikan hasil, tapi membuka peluang yang sebelumnya tidak terlihat.”

Dr. Sera juga menyoroti peran teknologi laboratorium dalam meningkatkan peluang keberhasilan IVF pada pasien azoospermia. Teknik seperti pemilihan sperma secara mikro (micro-manipulation sperm), penggunaan Piezo ICSI, hingga manajemen sperma hasil operasi testis yang sangat terbatas, menjadi faktor krusial yang sering luput dipahami pasien.

Antusiasme peserta terasa kuat saat sesi diskusi dibuka. Berbagai pertanyaan reflektif dan emosional disampaikan, mulai dari perubahan hasil analisis sperma dari azoospermia menjadi cryptozoospermia, kegagalan microTESE, hingga kegelisahan tentang apakah masih ada harapan setelah operasi tidak menemukan sperma.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Sera menekankan bahwa setiap kasus azoospermia bersifat sangat individual. “Tidak ditemukannya sperma pada satu prosedur tidak selalu berarti peluang tertutup selamanya. Evaluasi ulang, waktu, gaya hidup, hingga strategi yang berbeda bisa saja memberi hasil yang berbeda,” ungkapnya.

Isu sensitif seperti pengangkatan testis juga dibahas secara terbuka. Dijelaskan bahwa testis tidak hanya berfungsi untuk produksi sperma, tetapi juga produksi hormon testosteron, sehingga keputusan tindakan invasif harus dipertimbangkan secara matang dan multidisipliner.

Webinar ini menegaskan satu pesan penting: azoospermia bukan akhir cerita, melainkan titik awal untuk memahami tubuh secara lebih mendalam dan mengambil keputusan berbasis informasi yang tepat. Dengan kemajuan teknologi reproduksi dan pendekatan yang lebih manusiawi, harapan tetap ada meski jalannya tidak selalu mudah.

Acara berlangsung hangat, reflektif, dan penuh empati, meninggalkan kesan kuat bahwa di balik istilah medis yang terdengar berat, selalu ada cerita manusia yang layak didengar dan diperjuangkan.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: azoospermia, Teknologi, testis

Asam Folat dan Zinc pada Infertilitas Pria: Benarkah Bisa Memperbaiki Kualitas Sperma dan Peluang Kehamilan?

February 9, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Asam folat dan zinc termasuk dua mikronutrien yang paling sering direkomendasikan pada penanganan infertilitas pria. Keduanya dikenal berperan dalam sintesis DNA, proses pembentukan sperma, serta perlindungan sel terhadap stres oksidatif. Karena itu, tidak heran jika suplemen ini hampir selalu masuk dalam daftar terapi pendamping pada pria dengan kualitas sperma rendah.

Namun, di balik penggunaannya yang luas, efektivitas asam folat dan zinc tidak sesederhana yang sering dibayangkan.

Asam Folat dan Zinc di Klinik Fertilitas: Selalu Membantu?

Di banyak klinik fertilitas, kombinasi asam folat dan zinc kerap dianggap sebagai “paket aman” untuk memperbaiki kualitas sperma dan meningkatkan peluang kehamilan. Rekomendasi ini sering diberikan secara rutin, bahkan tanpa pemeriksaan spesifik terlebih dahulu.

Pertanyaannya, apakah manfaatnya memang selalu sebesar itu? Analisis dari berbagai uji klinis menunjukkan bahwa efek asam folat dan zinc ternyata tidak seragam, dan sangat bergantung pada kondisi dasar masing-masing pria.

Efek Asam Folat pada Kualitas Sperma

Asam folat tunggal menunjukkan manfaat, tetapi tidak menyeluruh. Konsumsi asam folat berkaitan dengan perbaikan motilitas sperma, yaitu kemampuan sperma untuk bergerak secara optimal. Namun, perbaikan ini tidak diikuti oleh peningkatan jumlah sperma maupun perubahan bermakna pada bentuk sperma.

Dalam konteks program bayi tabung, terdapat kecenderungan peningkatan angka kehamilan. Sayangnya, peningkatan ini belum cukup kuat untuk dianggap sebagai efek yang pasti.

Hal ini menunjukkan bahwa asam folat tampaknya lebih berperan dalam meningkatkan fungsi sperma, bukan kuantitasnya.

Kombinasi Asam Folat dan Zinc: Lebih Kuat atau Justru Tidak Berbeda?

Berbeda dengan asumsi umum, kombinasi asam folat dan zinc tidak menunjukkan perbaikan signifikan pada jumlah, pergerakan, maupun bentuk sperma. Dampaknya terhadap angka kehamilan juga tidak konsisten dan tidak bermakna secara klinis.

Menariknya, meskipun manfaat tambahannya tidak jelas, kombinasi ini tetap sering diresepkan secara rutin tanpa pemeriksaan kadar zinc sebelumnya.

Mengapa Asam Folat Bisa Berpengaruh?

Asam folat (vitamin B9) memiliki peran penting dalam:

  • pembentukan dan perbaikan DNA
  • proses pematangan sperma
  • perlindungan sel dari kerusakan akibat stres oksidatif

Sperma merupakan sel yang sangat rentan terhadap stres oksidatif. Karena itu, asam folat diduga membantu menjaga kualitas fungsional sperma, terutama pada pria dengan gangguan motilitas.

Lalu, Bagaimana dengan Zinc?

Zinc memang mineral esensial dalam spermatogenesis. Namun, tambahan zinc tidak otomatis memperbaiki kualitas sperma. Manfaatnya kemungkinan hanya muncul pada pria dengan defisiensi zinc sejak awal.

Tanpa pemeriksaan kadar zinc, suplementasi justru berisiko tidak efektif. Dalam konsumsi jangka panjang, kelebihan zinc bahkan dapat mengganggu keseimbangan mineral lain di dalam tubuh.

Jangan Sekadar “Rutin Minum Suplemen”

Suplemen bukan solusi universal untuk infertilitas pria.
Asam folat bisa bermanfaat pada kondisi tertentu, tetapi tidak untuk semua kasus. Kombinasi asam folat dan zinc juga tidak selalu memberikan efek tambahan seperti yang diharapkan.

Pendekatan yang lebih tepat mencakup evaluasi penyebab infertilitas secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan hormonal, kualitas sperma, integritas DNA sperma, serta perbaikan gaya hidup.

Asam folat memiliki potensi untuk memperbaiki aspek tertentu dari kualitas sperma, terutama motilitas. Namun, efek ini terbatas dan tidak berlaku secara universal. Sementara itu, kombinasi asam folat dan zinc yang sering dianggap lebih “kuat” justru tidak menunjukkan manfaat signifikan secara konsisten.

Dalam infertilitas pria, yang dibutuhkan bukan sekadar suplemen, melainkan strategi yang tepat sejak awal berbasis evaluasi, bukan asumsi.

Referensi
Li, X., Zeng, Y., Luo, Y., et al. (2023). Effects of folic acid and folic acid plus zinc supplements on the sperm characteristics and pregnancy outcomes of infertile men: A systematic review and meta-analysis. Heliyon, 9(7).

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis

Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Talkshow Kupas Tuntas Akar Keguguran Berulang Bersama Dr Uma Mariappen

February 8, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Surabaya, 7 Februari 2026 — Keguguran berulang masih menjadi pengalaman yang menyisakan luka fisik dan emosional bagi banyak pasangan. Tidak sedikit perempuan yang bisa hamil, namun kehamilan tersebut sulit bertahan. Isu inilah yang menjadi fokus utama talkshow “Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Memahami Keguguran Berulang dari Akar Masalahnya” yang digelar oleh Menuju Dua Garis bersama Thomson Fertility.

Acara dibuka oleh Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis, yang menegaskan pentingnya menggeser cara pandang terhadap keguguran berulang. Menurutnya, banyak pasien masih terjebak pada rasa bersalah dan asumsi keliru, padahal keguguran berulang adalah kondisi medis kompleks yang membutuhkan pemahaman berbasis sains, bukan sekadar mitos atau dugaan personal.

Sebagai pembicara utama, Dr Uma Mariappen, Consultant Obstetrician & Gynaecologist, IVF Specialist, sekaligus Gynaecology Laparoscopic Surgeon dari Thomson Fertility Puchong, Malaysia, memaparkan bahwa keguguran berulang tidak selalu disebabkan oleh faktor yang selama ini paling sering dicurigai.

“Fibroid dan polip memang sering ditemukan, tetapi bukan penyebab utama keguguran berulang pada sebagian besar kasus,” jelas Dr Uma.
“Yang jauh lebih penting adalah melihat faktor hormonal, metabolik, genetik, hingga kondisi lingkungan rahim secara menyeluruh.”

Dr Uma juga memperkenalkan pendekatan diagnostik dan teknologi terbaru untuk evaluasi rahim yang saat ini sudah digunakan di pusat fertilitas internasional. Beberapa di antaranya masih tergolong sangat advanced dan bahkan belum tersedia secara luas di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan dokter menilai lingkungan rahim secara lebih detail dan presisi, sehingga penyebab keguguran berulang tidak lagi hanya ditebak, tetapi benar-benar ditelusuri dari akarnya.

Antusiasme peserta terlihat jelas saat sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Berbagai pertanyaan praktis yang sering menjadi kegelisahan pasien dibahas secara terbuka, di antaranya terkait peran progesteron dalam program kehamilan, penggunaan metformin pada PCOS, serta keamanan terapi jangka panjang.

Dr Uma menjelaskan bahwa progesteron memiliki peran penting dalam mendukung kehamilan, baik pada program IUI maupun IVF, namun penggunaannya tidak bisa disamaratakan. Pada IUI, progesteron umumnya diberikan dengan durasi tertentu (cut-off), sementara pada IVF penggunaannya memang lebih intensif dan terkontrol.

Terkait PCOS, metformin masih menjadi salah satu terapi yang digunakan untuk memperbaiki resistensi insulin dan lingkungan hormonal, termasuk pada trimester awal kehamilan. Namun, konsumsi jangka panjang tetap perlu pengawasan medis untuk memastikan keamanan, termasuk terhadap fungsi ginjal dalam penggunaan bertahun-tahun.

Selain itu, ditegaskan pula bahwa pada IUI, proses pembuahan tetap terjadi secara alami di dalam tubuh, sehingga pendekatannya berbeda dengan IVF yang lebih terkontrol secara laboratorium.

Talkshow ini menekankan satu pesan penting: keguguran berulang bukan kegagalan pribadi, melainkan kondisi medis yang perlu ditangani secara sistematis, individual, dan berbasis bukti ilmiah. Dengan edukasi yang tepat dan teknologi yang terus berkembang, harapan untuk kehamilan yang bertahan tetap terbuka bagi banyak pasangan.

Acara berlangsung hangat, interaktif, dan sarat wawasan, meninggalkan kesan kuat bahwa memahami tubuh sendiri adalah langkah awal menuju keputusan reproduksi yang lebih tepat dan berdaya.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hamil, keguguran berulang, menuju dua garis, program hamil

Gaya Hidup, Hormon, dan Kualitas Sperma: Apa yang Sering Terlewat dalam Evaluasi Infertilitas Pria?

February 6, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas pria kini menjadi isu kesehatan reproduksi global yang semakin mendapat perhatian. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa faktor pria berkontribusi pada sekitar 40–50% kasus infertilitas pasangan. Namun dalam praktik klinis, evaluasi kesuburan pria masih sering terbatas pada analisis sperma konvensional, tanpa menilai aspek yang lebih dalam seperti integritas DNA sperma serta faktor gaya hidup dan hormonal yang memengaruhinya.

Ternyata faktor gaya hidup dan ketidakseimbangan hormon berpengaruh terhadap kualitas semen dan fragmentasi DNA sperma (sperm DNA fragmentation, SDF). Pahami lebih jauh yuk!

Gaya Hidup, Hormon, dan Kualitas Genetik Sperma

Gaya hidup pria seperti konsumsi alkohol dan rokok, indeks massa tubuh, serta paparan panas di lingkungan kerja memiliki peran penting dalam kesehatan reproduksi. Faktor-faktor ini bekerja berdampingan dengan profil hormonal, termasuk FSH, LH, testosteron, prolaktin, dan AMH, yang bersama-sama memengaruhi kualitas semen dan integritas DNA sperma.

Sedangkan pada peningkatan usia reproduktif pada pria tidak selalu diikuti oleh perubahan yang jelas pada parameter semen konvensional. Konsentrasi, motilitas, dan morfologi sperma dapat tampak relatif stabil, sementara di sisi lain terjadi peningkatan fragmentasi DNA sperma, terutama pada pria berusia di atas 40 tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa penuaan reproduksi pria sering kali berlangsung secara “senyap”. Kerusakan muncul pada tingkat genetik sperma, bukan semata-mata pada jumlah atau bentuknya. Fragmentasi DNA sperma yang meningkat berpotensi memengaruhi proses pembuahan, kualitas embrio, hingga keberlangsungan kehamilan, meskipun hasil analisis semen standar terlihat normal.

Gaya Hidup dan Kualitas Sperma

Faktor yang Bisa Dimodifikasi, Dampaknya Nyata

  • Konsumsi rokok dan alkohol berkaitan erat dengan penurunan konsentrasi sperma, motilitas, dan morfologi normal.
  • Konsumsi alkohol juga secara signifikan meningkatkan tingkat fragmentasi DNA sperma.
  • Indeks massa tubuh (BMI) yang tidak normal, baik overweight maupun obesitas, berhubungan dengan kualitas semen yang lebih buruk dan peningkatan SDF.
  • Paparan panas di tempat kerja, seperti pada pekerjaan dengan suhu tinggi atau duduk lama, terbukti meningkatkan fragmentasi DNA sperma secara signifikan.
  • Testosteron rendah dan prolaktin tinggi berkaitan dengan profil semen yang abnormal.
  • Yang sering luput diperhatikan, AMH rendah pada pria ternyata memiliki hubungan signifikan dengan peningkatan fragmentasi DNA sperma.

AMH pada pria diproduksi oleh sel Sertoli dan berperan dalam fungsi spermatogenesis. Temuan ini memperkuat gagasan bahwa AMH bukan hanya penanda reproduksi perempuan, tetapi juga indikator penting kesehatan sperma pada pria.

Mengapa Evaluasi Infertilitas Pria Perlu Lebih Luas?

Fakta yang harus kalian ketahui bahwa infertilitas pria bersifat multifaktorial. Analisis semen konvensional saja sering kali tidak cukup untuk menjelaskan kegagalan pembuahan atau keguguran berulang, terutama pada pasangan yang menjalani program berbantu seperti IVF.

Evaluasi infertilitas pria idealnya mencakup:

  • Penilaian gaya hidup dan paparan lingkungan
  • Pemeriksaan hormonal yang komprehensif
  • Pemeriksaan integritas DNA sperma pada kasus tertentu

Ternyata kualitas sperma tidak hanya ditentukan oleh jumlah dan bentuk, tetapi juga oleh integritas DNA yang sangat dipengaruhi oleh usia, gaya hidup, dan keseimbangan hormon. Infertilitas pria bukan sekadar masalah individual, melainkan isu kesehatan publik yang memerlukan pendekatan multidisipliner dan evaluasi yang lebih mendalam. Dengan memahami faktor-faktor ini, konseling dan penatalaksanaan infertilitas dapat menjadi lebih personal, preventif, dan berorientasi pada kesehatan reproduksi jangka panjang. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Chamanmalik, S. I., Nerli, R. B., & Umarane, P. (2025). Lifestyle and hormonal factors affecting semen quality and sperm DNA integrity: A cross-sectional study. Oncoscience, 12, 115.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: DNA, infertilitas, Pria, sperma

Mencintai Seseorang dengan Endometriosis

February 5, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Endometriosis sering dibicarakan sebagai penyakit yang melekat pada tubuh perempuan. Nyeri, kelelahan, dan perjuangan panjang biasanya dilihat sebagai pengalaman personal. Namun pada kenyataannya, endometriosis hampir tidak pernah dijalani sendirian. Ada pasangan yang ikut berada di dalam perjalanan ini meski perannya sering tidak terlihat.

Bagi pasangan, mencintai seseorang dengan endometriosis berarti belajar hidup berdampingan dengan ketidakpastian, rasa tidak berdaya, dan perubahan yang terus terjadi, baik secara fisik maupun emosional.

Menyaksikan Nyeri yang Tidak Bisa Diambil Alih

Salah satu pengalaman paling berat bagi pasangan adalah menyaksikan nyeri yang datang berulang kali. Mereka melihat langsung bagaimana rasa sakit mengganggu aktivitas harian, pekerjaan, relasi sosial, bahkan hal-hal sederhana seperti tidur atau makan.

Berbagai upaya dilakukan: mengantar kontrol, menyiapkan obat, memijat, menenangkan, menyesuaikan rencana. Namun tetap ada hari-hari ketika semua itu tidak cukup. Di titik ini, yang paling menyakitkan bukan soal “kurang membantu”,melainkan kesadaran bahwa rasa sakit itu tidak bisa dipindahkan, seberapa besar pun rasa cinta yang ada.

Ketika Rasa Sakit Tidak Dianggap Nyata

Banyak pasangan ikut hadir di ruang periksa. Duduk diam, mendengar penjelasan, menyaksikan ekspresi orang yang mereka cintai saat keluhannya diperkecil atau tidak sepenuhnya dipercaya. Pengalaman ini sering meninggalkan luka emosional tersendiri.

Bukan hanya karena proses diagnosis yang panjang, tetapi karena pasangan ikut menyerap rasa frustrasi dan kehilangan harapan. Mereka tidak hanya menyaksikan perjalanan medis, tetapi juga kegagalan sistem yang berulang kali tidak berpihak pada rasa sakit yang nyata.

Dalam relasi, pasangan sering memilih untuk tetap terlihat kuat. Mereka menahan kecemasan, rasa takut akan masa depan, dan kelelahan emosional karena merasa tidak pantas mengeluh. Padahal, mendampingi seseorang dengan nyeri kronis membawa beban tersendiri. Ada tekanan untuk selalu siaga, selalu pengertian, dan selalu sabar. Semua ini sering dijalani dalam diam, tanpa ruang untuk benar-benar mengekspresikan apa yang dirasakan.

Banyak hal yang dilakukan pasangan tidak pernah benar-benar terlihat. Mereka belajar mengenali pola nyeri, mencatat pemicu, mengingat detail gejala, dan menyesuaikan ritme hidup bersama. Mereka ikut berjuang, bukan dengan cara yang spektakuler, tetapi melalui kehadiran yang konsisten. Berdiri di samping, membela ketika perlu, dan memastikan bahwa perjalanan ini tidak dijalani sendirian.

Lelah Bukan Tanda Kurang Cinta

Ada hari-hari ketika pasangan merasa lelah dengan cara yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan tidur. Ada rasa bersalah saat ingin menarik napas sejenak, mencari ruang, atau membutuhkan dukungan untuk diri sendiri. Namun kelelahan tidak berarti cinta berkurang. Justru itu tanda bahwa relasi ini dijalani dengan keterlibatan emosional yang dalam. Pasangan juga manusia dan mereka pun berhak untuk didengar, dipahami, dan dirawat.

Endometriosis memang terjadi di dalam tubuh perempuan, tetapi dampaknya meluas ke relasi, kehidupan sosial, dan dinamika pasangan. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup pasangan, hubungan emosional, hingga keseharian bersama.

Melihat endometriosis sebagai isu sistemik bukan hanya persoalan individu membuka ruang bagi pendekatan yang lebih manusiawi. Karena ketika pasangan diakui sebagai bagian dari perjalanan ini, beban mungkin tidak hilang, tetapi menjadi lebih mungkin untuk dipikul bersama.

Referensi

  • Facchin, F., Buggio, L., & Saita, E. (2020). Partners’ perspective in endometriosis research and treatment: A systematic review of qualitative and quantitative evidence. Journal of psychosomatic research, 137, 110213.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: cinta, endometriosis, nyeri, perempuan

PCOS, Diagnosis Baru, dan Jejak yang Tertulis di DNA

February 4, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah salah satu kondisi hormonal yang paling sering dialami perempuan usia reproduktif. Gejalanya beragam mulai dari siklus haid yang tidak teratur, tanda kelebihan hormon androgen, hingga gambaran ovarium dengan banyak folikel kecil. Namun, di balik gejala yang terlihat, PCOS menyimpan cerita yang jauh lebih kompleks.

Selama bertahun-tahun, PCOS dipahami sebagai kondisi yang berdiri di persimpangan antara faktor genetik dan lingkungan. Banyak dari sister bertanya-tanya, “Kalau ini bukan sepenuhnya keturunan, lalu kenapa bisa terjadi?” Pertanyaan inilah yang mendorong peneliti untuk melihat lebih dalam, bukan hanya ke gen, tetapi ke cara gen tersebut “dibaca” oleh tubuh. Di sinilah epigenetik terutama DNA methylation mulai mendapat perhatian.

Mengapa Diagnosis PCOS Perlu Diperbarui?

Salah satu komponen penting dalam diagnosis PCOS adalah gambaran ovarium polikistik atau polycystic ovarian morphology (PCOM). Selama bertahun-tahun, kriteria yang paling sering digunakan adalah kriteria Rotterdam, yang menetapkan jumlah minimal 12 folikel kecil di tiap ovarium.

Masalahnya, teknologi ultrasonografi terus berkembang. Mesin USG yang lebih sensitif membuat ovarium yang sebenarnya normal bisa terlihat “polikistik”. Akibatnya, semakin banyak perempuan yang memenuhi kriteria PCOM meski tidak memiliki PCOS secara klinis.

Karena itulah, pedoman internasional terbaru merevisi batas PCOM menjadi ≥20 folikel per ovarium, dengan penggunaan transduser USG tertentu. Tujuannya sederhana tapi penting: mengurangi risiko overdiagnosis.

DNA Methylation dan “Memori” Tubuh

DNA methylation adalah salah satu mekanisme epigenetik, yaitu perubahan yang memengaruhi cara gen bekerja tanpa mengubah urutan DNA itu sendiri. Ibarat buku, gen adalah teksnya, sementara methylation adalah stabilo yang menentukan bagian mana yang dibaca lebih keras, dipelankan, atau bahkan diabaikan.

Faktor lingkungan seperti nutrisi, berat badan, hormon, dan metabolisme dapat memengaruhi pola methylation ini. Karena PCOS berkaitan erat dengan gangguan metabolik dan hormonal, para peneliti menduga bahwa jejak epigenetik bisa menjadi bagian penting dari ceritanya.

PCOS Bukan Sekadar Masalah Ovarium

PCOS bukan kondisi yang berdiri sendiri di ovarium. Perubahan yang terlihat pada pola methylation darah mencerminkan gangguan sistemik melibatkan metabolisme, hormon, dan sistem imun.

Hal ini sejalan dengan kenyataan klinis: banyak perempuan dengan PCOS juga menghadapi tantangan seperti peningkatan berat badan, gangguan profil lipid, resistensi insulin, hingga risiko penyakit jantung di kemudian hari.

Dengan kata lain, PCOS adalah kondisi seluruh tubuh, bukan hanya masalah siklus haid atau folikel ovarium.

Bagi sister yang hidup dengan PCOS, bahwa PCOS bukan akibat kesalahan pribadi atau kurangnya usaha, melainkan kondisi biologis kompleks yang dipengaruhi banyak faktor.

Memahami bahwa tubuh menyimpan “jejak” PCOS di tingkat molekuler dapat membantu kita melihat kondisi ini dengan lebih empatik baik pada diri sendiri maupun orang lain. Ini juga menegaskan pentingnya pendekatan yang menyeluruh: tidak hanya fokus pada ovarium, tetapi juga metabolisme, gaya hidup, dan kesehatan jangka panjang. Jangan lupa untuk mengetahui informasi menarik lainnya di Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Wang, Y., Gao, X., Yang, Z., Yan, X., He, X., Guo, T., … & Chen, Z. J. (2023). Deciphering the DNA methylome in women with PCOS diagnosed using the new international evidence-based guidelines. Human Reproduction, 38(Supplement_2), ii69-ii79.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: DNA, infertilitas, PCOS

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Interim pages omitted …
  • Page 90
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Azoospermia Bukan Akhir: Webinar Kupas Tuntas Operasi Testis dan Teknologi Reproduksi untuk Harapan Pasien Azoospermia
  • Asam Folat dan Zinc pada Infertilitas Pria: Benarkah Bisa Memperbaiki Kualitas Sperma dan Peluang Kehamilan?
  • Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Talkshow Kupas Tuntas Akar Keguguran Berulang Bersama Dr Uma Mariappen
  • Gaya Hidup, Hormon, dan Kualitas Sperma: Apa yang Sering Terlewat dalam Evaluasi Infertilitas Pria?
  • Mencintai Seseorang dengan Endometriosis

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.