• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

endometriosis

Mencintai Seseorang dengan Endometriosis

February 5, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Endometriosis sering dibicarakan sebagai penyakit yang melekat pada tubuh perempuan. Nyeri, kelelahan, dan perjuangan panjang biasanya dilihat sebagai pengalaman personal. Namun pada kenyataannya, endometriosis hampir tidak pernah dijalani sendirian. Ada pasangan yang ikut berada di dalam perjalanan ini meski perannya sering tidak terlihat.

Bagi pasangan, mencintai seseorang dengan endometriosis berarti belajar hidup berdampingan dengan ketidakpastian, rasa tidak berdaya, dan perubahan yang terus terjadi, baik secara fisik maupun emosional.

Menyaksikan Nyeri yang Tidak Bisa Diambil Alih

Salah satu pengalaman paling berat bagi pasangan adalah menyaksikan nyeri yang datang berulang kali. Mereka melihat langsung bagaimana rasa sakit mengganggu aktivitas harian, pekerjaan, relasi sosial, bahkan hal-hal sederhana seperti tidur atau makan.

Berbagai upaya dilakukan: mengantar kontrol, menyiapkan obat, memijat, menenangkan, menyesuaikan rencana. Namun tetap ada hari-hari ketika semua itu tidak cukup. Di titik ini, yang paling menyakitkan bukan soal “kurang membantu”,melainkan kesadaran bahwa rasa sakit itu tidak bisa dipindahkan, seberapa besar pun rasa cinta yang ada.

Ketika Rasa Sakit Tidak Dianggap Nyata

Banyak pasangan ikut hadir di ruang periksa. Duduk diam, mendengar penjelasan, menyaksikan ekspresi orang yang mereka cintai saat keluhannya diperkecil atau tidak sepenuhnya dipercaya. Pengalaman ini sering meninggalkan luka emosional tersendiri.

Bukan hanya karena proses diagnosis yang panjang, tetapi karena pasangan ikut menyerap rasa frustrasi dan kehilangan harapan. Mereka tidak hanya menyaksikan perjalanan medis, tetapi juga kegagalan sistem yang berulang kali tidak berpihak pada rasa sakit yang nyata.

Dalam relasi, pasangan sering memilih untuk tetap terlihat kuat. Mereka menahan kecemasan, rasa takut akan masa depan, dan kelelahan emosional karena merasa tidak pantas mengeluh. Padahal, mendampingi seseorang dengan nyeri kronis membawa beban tersendiri. Ada tekanan untuk selalu siaga, selalu pengertian, dan selalu sabar. Semua ini sering dijalani dalam diam, tanpa ruang untuk benar-benar mengekspresikan apa yang dirasakan.

Banyak hal yang dilakukan pasangan tidak pernah benar-benar terlihat. Mereka belajar mengenali pola nyeri, mencatat pemicu, mengingat detail gejala, dan menyesuaikan ritme hidup bersama. Mereka ikut berjuang, bukan dengan cara yang spektakuler, tetapi melalui kehadiran yang konsisten. Berdiri di samping, membela ketika perlu, dan memastikan bahwa perjalanan ini tidak dijalani sendirian.

Lelah Bukan Tanda Kurang Cinta

Ada hari-hari ketika pasangan merasa lelah dengan cara yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan tidur. Ada rasa bersalah saat ingin menarik napas sejenak, mencari ruang, atau membutuhkan dukungan untuk diri sendiri. Namun kelelahan tidak berarti cinta berkurang. Justru itu tanda bahwa relasi ini dijalani dengan keterlibatan emosional yang dalam. Pasangan juga manusia dan mereka pun berhak untuk didengar, dipahami, dan dirawat.

Endometriosis memang terjadi di dalam tubuh perempuan, tetapi dampaknya meluas ke relasi, kehidupan sosial, dan dinamika pasangan. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup pasangan, hubungan emosional, hingga keseharian bersama.

Melihat endometriosis sebagai isu sistemik bukan hanya persoalan individu membuka ruang bagi pendekatan yang lebih manusiawi. Karena ketika pasangan diakui sebagai bagian dari perjalanan ini, beban mungkin tidak hilang, tetapi menjadi lebih mungkin untuk dipikul bersama.

Referensi

  • Facchin, F., Buggio, L., & Saita, E. (2020). Partners’ perspective in endometriosis research and treatment: A systematic review of qualitative and quantitative evidence. Journal of psychosomatic research, 137, 110213.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: cinta, endometriosis, nyeri, perempuan

Endometriosis dan Polip Endometrium, Kenapa Sering Datang Barengan?

January 29, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kalau bicara soal kesehatan reproduksi perempuan, endometriosis dan polip endometrium sering dibahas sebagai dua kondisi yang berbeda. Tapi faktanya, keduanya cukup sering muncul bersamaan, terutama pada perempuan yang sedang berikhtiar untuk hamil.

Fakta terbaru yang harus kalian tahu kalau endometriosis dan polip endometrium bukan sekadar kebetulan. Karena pada perempuan dengan endometriosis memiliki risiko dua kali lipat mengalami polip endometrium dibandingkan perempuan tanpa endometriosis.

Sebaliknya, perempuan yang sudah terdiagnosis polip endometrium juga memiliki kemungkinan lebih besar untuk memiliki endometriosis yang belum terdeteksi. Artinya, ketika satu kondisi ditemukan, kondisi lainnya perlu ikut dipertimbangkan.

Mengapa disebut seperti itu?
Jadi Sekitar 30–40% perempuan dengan endometriosis juga ditemukan memiliki polip endometrium. Sementara pada perempuan dengan polip endometrium, sekitar 30–60% ternyata juga mengalami endometriosis. Risiko ini menjadi lebih tinggi pada perempuan dengan infertilitas dan mereka yang memiliki endometriosis stadium lanjut.

Para ahli menduga ada “akar masalah” yang sama di balik kedua kondisi ini.
Beberapa di antaranya berkaitan dengan:

  • sensitivitas tubuh terhadap estrogen
  • faktor genetik tertentu
  • gangguan proses alami kematian sel
  • serta perubahan respon inflamasi di jaringan endometrium

Kondisi-kondisi ini membuat jaringan endometrium menjadi lebih mudah mengalami pertumbuhan yang tidak seharusnya, baik di dalam rahim (polip) maupun di luar rahim (endometriosis).

Yuk Ketahui apa Dampaknya untuk Kesuburan

Polip endometrium sering dianggap sebagai temuan kecil. Padahal, pada beberapa kasus, polip dapat:

  • mengganggu proses implantasi embrio
  • menurunkan peluang hamil alami
  • memengaruhi keberhasilan program kehamilan

Jika polip muncul bersamaan dengan endometriosis yang aktif, dampaknya terhadap kesuburan bisa menjadi lebih kompleks.

Karena itu, pada perempuan dengan endometriosis yang masih sulit hamil, evaluasi rongga rahim menjadi bagian penting yang tidak boleh dilewatkan. Begitu pula sebaliknya, polip endometrium sebaiknya tidak dianggap sebagai temuan yang berdiri sendiri.

Tujuan memahami hubungan ini bukan untuk menambah kekhawatiran, tapi justru agar penanganan bisa lebih tepat dan menyeluruh. Deteksi yang lebih baik akan membantu dokter menyusun rencana terapi yang sesuai dengan kondisi masing-masing perempuan.

Setiap perjalanan ikhtiar memiliki ceritanya sendiri. Yang terpenting, sister tidak sendirian dalam proses memahami tubuh dan kesehatannya. Informasi menarik lainnya jangan lupa folloe Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Fiore, A., Casalechi, M., Somigliana, E., Viganò, P., & Salmeri, N. (2025). The association of endometriosis and endometrial polyps: a systematic review and meta-analysis. Reproductive BioMedicine Online, 105106.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, endometrium, polip

Peran Mikrobiota Saluran Reproduksi dalam Endometriosis dan Dampaknya pada Program Kehamilan

January 22, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Endometriosis dan adenomiosis merupakan gangguan ginekologis yang sering dikaitkan dengan nyeri panggul kronis dan infertilitas. Selama ini, pembahasan penyebab infertilitas pada kondisi ini kerap berfokus pada faktor hormonal, anatomi pelvis, dan inflamasi. Namun, ada yang harus kalian pahami yaitu tentang lapisan lain yang tidak kalah penting, yaitu mikrobiota saluran reproduksi.

Mikrobiota bukan sekadar “bakteri yang lewat”, melainkan bagian aktif dari lingkungan biologis rahim yang dapat memengaruhi fungsi sel endometrium, reseptivitas implantasi, hingga keberhasilan program kehamilan (promil).

Mikrobiota Normal Saluran Reproduksi

Pada kondisi sehat, saluran reproduksi perempuan terutama vagina dan endometrium umumnya didominasi oleh Lactobacillus. Bakteri ini berperan menjaga keseimbangan lingkungan dengan:

  • mempertahankan pH optimal
  • menekan pertumbuhan bakteri patogen
  • mendukung fungsi imun lokal

Lingkungan mikroba yang stabil membantu menciptakan kondisi rahim yang kondusif bagi implantasi embrio.

Dysbiosis Mikrobiota pada Endometriosis dan Adenomiosis

Penelitian tahun 2025 yang dipublikasikan di BMC Microbiology menunjukkan bahwa perempuan dengan ovarian endometrioma (kista cokelat) dan adenomiosis mengalami perubahan signifikan pada mikrobiota saluran reproduksi.

Perubahan ini ditemukan di berbagai lokasi, meliputi kanalis servikalis, forniks posterior, endometrium dan cairan panggul

Kondisi tersebut ditandai oleh:

  • penurunan dominasi Lactobacillus
  • peningkatan bakteri oportunistik seperti Enterococcus dan anggota Enterobacteriaceae
  • peningkatan keragaman mikroba yang tidak selalu menguntungkan

Fenomena ini dikenal sebagai dysbiosis, yaitu ketidakseimbangan mikrobiota yang dapat memicu inflamasi kronis.

Dampak Langsung Mikrobiota terhadap Sel Endometrium

Menariknya, pembahasan ini tidak berhenti pada soal jenis bakteri saja. Bakteri tertentu yang sering ditemukan pada endometriosis dan adenomiosis ternyata bisa berdampak langsung pada sel endometrium. Kehadirannya membuat sel menjadi kurang sehat, memengaruhi cara kerja gen-gen penting, dan memicu peradangan serta stres di tingkat sel. Perubahan ini berkaitan dengan sistem pertahanan tubuh, cara sel menghasilkan energi, hingga mekanisme pertumbuhan dan perbaikan jaringan. Dalam kondisi seperti ini, endometrium bisa kehilangan “lingkungan idealnya”, sehingga fungsinya sebagai tempat menempelnya embrio menjadi tidak optimal.

Implikasi terhadap Fertilitas dan Program Kehamilan

Pemahaman baru bahwa gangguan fertilitas pada endometriosis tidak selalu disebabkan oleh kelainan anatomi yang terlihat jelas. Lingkungan mikro di dalam rahim termasuk komposisi mikrobiota memegang peran penting. Pada konteks promil, disbiosis mikrobiota dapat berkontribusi pada: penurunan reseptivitas endometrium, kegagalan implantasi, respon yang kurang optimal terhadap program IUI atau IVF. Inilah mengapa sebagian kasus infertilitas pada endometriosis kerap disebut “unexplained”, padahal penyebabnya tersembunyi di tingkat seluler dan mikrobiologis.

Endometriosis bukan hanya penyakit hormon atau struktur, tetapi juga berkaitan erat dengan lingkungan biologis rahim, termasuk mikrobiota. Bagi sister dan paksu yang sedang menjalani promil, kalian juga harus memahami bahwa kehamilan tidak hanya ditentukan oleh embrio dan hormon, tetapi juga oleh kualitas lingkungan rahim yang sering luput diperhatikan.

Referensi

  • Li, J., Zhang, Y., Zhang, J., Yue, C., Guo, L., Yang, G., … & Yu, T. (2025). Reproductive tract microbiota dysbiosis in ovarian endometrioma and adenomyosis: multi-site 16S rRNA profiling and functional impact of key bacterial species on human endometrial stromal cells. BMC microbiology, 25(1), 717.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, infertilitas, Mikrobiota, reproduksi

Perbandingan Profil Mikrobiota Vagina pada Pasien dengan dan tanpa Endometriosis

January 22, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Endometriosis adalah penyakit ginekologis kronis yang dialami sekitar 10% perempuan usia reproduksi. Jaringan yang mirip endometrium tumbuh di luar rahim bisa di ovarium, peritoneum, bahkan di lokasi yang jauh dari organ reproduksi. Dampaknya bukan cuma nyeri, tapi juga inflamasi kronis, gangguan haid, hingga infertilitas.

Selama ini, endometriosis sering dijelaskan lewat hormon, menstruasi retrograd, atau faktor genetik. Tapi beberapa tahun terakhir, muncul satu pertanyaan baru yang menarik perhatian banyak peneliti.

Bagaimana kalau lingkungan mikro di tubuh juga ikut berperan?

Vagina bukan ruang steril. Di sana hidup komunitas bakteri disebut mikrobiota yang berinteraksi dengan hormon, sistem imun, dan kondisi anatomi vagina itu sendiri.

Dalam kondisi seimbang, mikrobiota vagina biasanya didominasi oleh Lactobacillus. Bakteri ini membantu menjaga keasaman vagina, menekan bakteri patogen, dan mendukung pertahanan imun lokal.

Masalah muncul ketika keseimbangan ini terganggu. Disbiosis ketidakseimbangan mikrobiota diketahui bisa memicu inflamasi, mengacaukan respon imun, dan secara teori ikut menciptakan lingkungan yang “ramah” bagi perkembangan endometriosis.

Kenapa Mikrobiota Dikaitkan dengan Endometriosis?

Endometriosis adalah penyakit inflamatorik. Artinya, sistem imun berperan besar dalam pembentukannya. Ketika mikrobiota tidak seimbang, tubuh bisa memproduksi lebih banyak sitokin proinflamasi, meningkatkan pembentukan pembuluh darah baru, dan memperkuat adhesi semua ini adalah ciri khas endometriosis.

Selain itu, beberapa bakteri punya kemampuan memengaruhi metabolisme estrogen. Mereka bisa meningkatkan kadar estrogen bebas di tubuh, menciptakan kondisi hiperestrogenik yang mendukung pertumbuhan jaringan endometriotik.

Dengan kata lain, mikrobiota tidak sekadar “penumpang”, tapi bisa ikut membentuk lingkungan biologis tempat endometriosis berkembang.

Apakah Mikrobiota Vagina Berbeda pada Endometriosis?

Sebuah penelitian yang meneliti perempuan dengan endometriosis dan tanpa endometriosis dibandingkan untuk melihat profil mikrobiota vaginanya, Hasilnya menarik. Bahwa secara umum, jenis bakteri yang ditemukan memang bervariasi. Ada perbedaan komposisi di tingkat kelompok besar bakteri maupun di tingkat genus. Namun, ketika dilihat dari jumlah dan kelimpahannya secara keseluruhan, perbedaannya tidak signifikan.

Artinya, perempuan dengan endometriosis tidak selalu menunjukkan “bakteri yang benar-benar berbeda” dibandingkan perempuan tanpa endometriosis. Di kedua kelompok, Lactobacillus tetap menjadi bakteri dominan. Ini menunjukkan bahwa ekosistem dasar vagina bisa saja tetap terlihat “normal”, bahkan pada perempuan dengan endometriosis.

Namun, temuan ini justru membuka pemahaman baru: mungkin yang penting bukan sekadar siapa bakterinya, tapi apa yang mereka lakukan. Interaksi mikrobiota dengan sistem imun, aktivitas metaboliknya, serta pengaruhnya terhadap hormon kemungkinan jauh lebih menentukan dibanding sekadar perbedaan jumlah bakteri.

Pada intinya endometriosis bukan penyakit dengan satu penyebab sederhana. Mikrobiota vagina mungkin tidak selalu menunjukkan perbedaan mencolok secara kuantitas, tapi tetap berpotensi berperan lewat mekanisme yang lebih halus melalui inflamasi, imun, dan regulasi hormon.

Ini juga menjelaskan kenapa pendekatan pada endometriosis tidak bisa satu arah. Bukan cuma soal struktur rahim atau kadar hormon, tapi juga tentang lingkungan biologis yang lebih luas. Jangan lupa follow Instagram @menujudiagaris.id ya!

Referensi

  • Mostafavi, S. R. S., Kor, E., Sakhaei, S. M., & Kor, A. (2024). The correlation between ultrasonographic findings and clinical symptoms of pelvic endometriosis. BMC Research Notes, 17(1), 108.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, Mikrobiota, Vagina

Endometriosis Ovarium dan Fertilitas: Mengapa Pembekuan Sel Telur Perlu Dipertimbangkan Lebih Dini

January 2, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Endometriosis bukan sekadar soal nyeri haid atau kista di ovarium. Pada banyak perempuan, kondisi ini diam-diam memengaruhi kesuburan bahkan jauh sebelum kehamilan benar-benar direncanakan. Salah satu bentuk endometriosis yang paling berdampak pada fertilitas adalah endometriosis ovarium atau endometrioma.

Dalam perjalanan klinisnya, perempuan dengan endometriosis ovarium sering dihadapkan pada dilema besar:
mengobati penyakitnya, atau menjaga cadangan ovarium agar peluang hamil tetap terbuka.

Di titik inilah pembekuan sel telur (oocyte cryopreservation) mulai mendapat perhatian sebagai bagian penting dari perawatan endometriosis yang lebih menyeluruh.

Mengapa Endometriosis Ovarium Sangat Berkaitan dengan Infertilitas

Endometriosis ditemukan pada sekitar 30–50% perempuan infertil, dan hampir setengah dari mereka pada akhirnya membutuhkan teknologi reproduksi berbantu seperti IVF untuk mencapai kehamilan.

Khusus pada endometrioma:

  • kadar AMH cenderung lebih rendah,
  • penurunan cadangan ovarium terjadi lebih cepat dibanding perempuan seusia tanpa endometriosis,
  • dan risiko infertilitas meningkat seiring waktu.

Endometrioma tidak hanya “menempati ruang” di ovarium. Cairan di dalam kista mengandung zat yang bersifat toksik, seperti zat besi bebas, yang dapat merusak jaringan ovarium di sekitarnya. Selain itu, peregangan kronis pada korteks ovarium akibat kista juga berkontribusi pada hilangnya folikel primordial secara perlahan.

Artinya, kerusakan cadangan ovarium sering kali sudah terjadi bahkan sebelum tindakan operasi dilakukan.

Operasi Endometrioma: Solusi yang Tidak Bebas Konsekuensi

Operasi kistektomi ovarium masih menjadi salah satu terapi utama endometriosis ovarium. Namun, bukti ilmiah konsisten menunjukkan bahwa tindakan ini hampir selalu diikuti oleh penurunan AMH pascaoperasi dan penurunan ini bersifat permanen.

Risiko terbesar terjadi pada:

  • operasi bilateral,
  • endometrioma berukuran besar,
  • atau operasi berulang.

Bahkan pada tangan ahli bedah berpengalaman, pengangkatan endometrioma hampir tidak bisa sepenuhnya menghindari terangkatnya jaringan ovarium sehat. Inilah alasan mengapa semakin banyak literatur menyarankan agar keputusan operasi tidak berdiri sendiri, tetapi dipertimbangkan bersama strategi menjaga fertilitas.

Pembekuan Sel Telur: Dari Onkologi ke Endometriosis

Awalnya, pembekuan sel telur dikembangkan untuk pasien kanker yang berisiko kehilangan fungsi reproduksi akibat kemoterapi. Namun dalam satu dekade terakhir, teknik ini berkembang pesat dan kini diakui sebagai metode preservasi fertilitas yang aman dan efektif, termasuk untuk perempuan dengan endometriosis.

Teknologi vitrification modern memungkinkan:

  • tingkat kelangsungan hidup sel telur yang tinggi setelah pencairan,
  • tidak meningkatkan risiko kelainan pada bayi,
  • serta hasil kehamilan yang sebanding dengan sel telur segar, terutama pada usia muda.

Bagi perempuan dengan endometriosis ovarium, pembekuan sel telur memberikan ruang waktu kesempatan untuk menunda kehamilan tanpa sepenuhnya mengorbankan peluang di masa depan.

Kapan Pembekuan Sel Telur Paling Memberi Manfaat?

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa hasil terbaik diperoleh bila pembekuan sel telur dilakukan:

  • sebelum usia 35 tahun, dan
  • sebelum operasi ovarium, terutama jika terdapat endometrioma besar atau bilateral.

Usia memengaruhi kualitas sel telur, sementara operasi memengaruhi jumlahnya. Kombinasi usia muda dan ovarium yang belum mengalami trauma bedah memberikan peluang terbaik untuk memperoleh jumlah sel telur matang yang optimal.

Pada perempuan dengan endometriosis, kualitas sel telur umumnya tidak jauh berbeda dibandingkan perempuan tanpa endometriosis pada usia yang sama yang menjadi tantangan utama adalah jumlahnya.

Stimulasi Ovarium pada Endometriosis: Apa yang Perlu Diketahui

Perempuan dengan endometriosis cenderung memerlukan:

  • dosis hormon stimulasi yang lebih tinggi,
  • dan terkadang hasil jumlah sel telur yang lebih rendah dibanding penyebab infertilitas lain.

Namun, proses stimulasi terbukti relatif aman:

  • tidak memperbesar ukuran endometrioma,
  • tidak meningkatkan komplikasi berarti,
  • dan dapat dilakukan berulang untuk mengumpulkan jumlah sel telur yang memadai.

Bahkan bila hasil siklus pertama terasa “sedikit”, pengulangan siklus sering kali memungkinkan total sel telur yang cukup untuk disimpan.

Berapa Banyak Sel Telur yang Ideal untuk Dibekukan?

Tidak ada angka pasti yang menjamin kehamilan. Namun, secara umum:

  • usia ≤35 tahun disarankan menyimpan 10–15 sel telur matang,
  • semakin bertambah usia, jumlah yang dibutuhkan untuk peluang yang sama akan meningkat.

Pada perempuan dengan endometriosis, strategi ini perlu lebih fleksibel dan realistis, disesuaikan dengan kondisi ovarium, usia, dan rencana hidup pasien.

Apakah Pembekuan Sel Telur Selalu Akan Digunakan?

Menariknya, tingkat “kembali menggunakan” sel telur beku pada perempuan dengan endometriosis relatif tinggi dibanding pembekuan elektif. Ini menunjukkan bahwa bagi banyak pasien, pembekuan sel telur bukan sekadar “jaga-jaga”, melainkan bagian dari strategi nyata menghadapi infertilitas yang mungkin terjadi.

Endometriosis adalah penyakit kronis dengan perjalanan panjang dan risiko berulang. Pendekatan yang hanya berfokus pada menghilangkan lesi tanpa mempertimbangkan masa depan fertilitas sering kali membuat perempuan kehilangan pilihan.

Pembekuan sel telur bukan solusi untuk semua orang, dan bukan kewajiban bagi setiap pasien endometriosis. Namun, diskusi tentang preservasi fertilitas seharusnya menjadi bagian awal dari perawatan, bukan pilihan yang datang terlambat.

Karena keputusan terbaik hanya bisa diambil ketika perempuan ketika berhasil memahami kondisi tubuhnya, mengetahui risiko setiap tindakan, dan diberi ruang untuk memilih dengan sadar.

Referensi

  • Mifsud, J. M., Pellegrini, L., & Cozzolino, M. (2023). Oocyte cryopreservation in women with ovarian endometriosis. Journal of clinical medicine, 12(21), 6767.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, ovarium, Sel telur

Endometriosis Bisa Menyentuh Paru dan Diafragma: Memahami Thoracic Endometriosis Syndrome (TES)

December 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Endometriosis selama ini dikenal sebagai kondisi ketika jaringan mirip endometrium tumbuh di luar rahim. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa penyakit ini bukan hanya masalah panggul. Pada sebagian perempuan, jaringan endometriosis dapat mencapai area paru, pleura, hingga diafragma, memicu keluhan yang sering salah dikenali sebagai gangguan pernapasan biasa. Kondisi ini disebut Thoracic Endometriosis Syndrome (TES).

Walaupun TES tergolong langka, pemahamannya sangat penting karena gejalanya bisa membingungkan, sering terlambat dikenali, dan berpotensi menimbulkan kekambuhan berulang jika tidak ditangani dengan tepat. Yuk pahami lebih lanjut!

Apa itu Thoracic Endometriosis Syndrome (TES)?

TES adalah kondisi ketika jaringan mirip endometrium ditemukan di rongga dada termasuk di paru-paru, pleura (lapisan paru), atau diafragma. Jaringan ini merespons hormon layaknya endometrium di rahim, sehingga gejalanya sering muncul berkaitan dengan siklus menstruasi.

TES dapat muncul dalam bentuk:

  • Catamenial pneumothorax – paru tiba-tiba kolaps saat atau menjelang haid
  • Catamenial hemothorax – darah mengisi rongga dada saat haid
  • Hemoptysis – batuk darah
  • Nyeri bahu atau dada siklik
  • Nodul paru yang kadang ditemukan secara tidak sengaja

Mengapa Endometriosis Bisa Sampai ke Paru dan Diafragma?

Para peneliti belum menemukan satu teori tunggal yang dapat menjelaskan seluruh mekanisme TES. Namun, ada beberapa penjelasan yang paling mungkin: 

  1. Retrograde menstruation (menstruasi balik) Sel endometrium mengalir ke rongga peritoneum, lalu terbawa arus cairan ke arah kanan hingga mencapai diafragma.
    Selanjutnya, ia dapat menembus diafragma melalui celah kecil, lalu masuk ke rongga dada.
  2. Penyebaran melalui pembuluh darah atau limfatik, Sel endometrium dapat ikut “terbawa” melalui aliran darah atau sistem limfatik, lalu tumbuh di paru.
  3. Metaplasia sel, Sel pleura dan diafragma yang berasal dari jaringan embrional yang sama dengan endometrium dapat berubah menjadi jaringan mirip endometrium di kondisi tertentu. Kemungkinan besar TES adalah hasil kombinasi beberapa mekanisme tersebut.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

TES dapat bersifat asimtomatik pada sebagian perempuan, namun pada kasus yang bergejala, keluhannya bisa sangat khas:

  • Sesak napas yang muncul tiba-tiba saat haid
  • Nyeri dada atau nyeri bahu kanan berulang
  • Batuk darah hanya saat menstruasi
  • Pneumothorax yang terus berulang setiap bulan
  • Nyeri perut bagian atas yang menjalar ke bahu

Beberapa pasien bahkan mengalami pneumothorax berulang bertahun-tahun tanpa curiga bahwa penyebabnya terkait siklus haid.

Mengapa TES Sering Terlambat Didiagnosis? TES termasuk salah satu bentuk endometriosis yang paling sering “terlewat”, karena:

  • Gejalanya mirip penyakit paru lain: TB, asma, pneumonia, pneumothorax spontan.
  • Pemeriksaan awal seperti rontgen atau CT-scan sering tidak menunjukkan kelainan yang jelas.
  • Banyak tenaga kesehatan yang belum familiar dengan hubungan antara gejala pernapasan dan siklus haid.

Diagnosis yang paling akurat biasanya melibatkan:

  • MRI dada–abdomen
  • VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery)
  • Laparoskopi untuk mengevaluasi endometriosis panggul

TES sebagai Indikator Endometriosis yang Lebih Luas

Sekitar 80% pasien TES juga memiliki endometriosis panggul. Bahkan, gejala pernapasan sering muncul 5–7 tahun setelah keluhan endometriosis panggul pertama kali muncul. Karena itu, TES dipandang sebagai penanda endometriosis yang lebih berat dan lebih luas. Semakin dini dikenali, semakin besar peluang mencegah komplikasi yang lebih serius.

Lalu, Bagaimana Memahami TES Lebih Dalam?

TES perlu pendekatan multidisiplin, karena melibatkan organ yang berbeda paru, diafragma, hingga rongga perut. Namun sebelum berbicara tentang penanganan, penting bagi perempuan untuk memahami:

  • bagaimana endometriosis bisa menyebar ke organ lain
  • apa saja komplikasi berat yang bisa muncul
  • kapan harus curiga gejala yang dirasakan bukan “masuk angin biasa”
  • dan bagaimana mencegah kondisi seperti adhesi berat hingga risiko gangguan ginjal dari endometriosis panggul

Referensi

  • Nezhat, C., Amirlatifi, N., Najmi, Z., & Tsuei, A. (2024). Thoracic Endometriosis Syndrome: A Comprehensive Review and Multidisciplinary Approach to Management. Journal of Clinical Medicine, 13(24), 7602.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Diafragma, endometriosis, Paru

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Page 4
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Azoospermia Bukan Akhir: Webinar Kupas Tuntas Operasi Testis dan Teknologi Reproduksi untuk Harapan Pasien Azoospermia
  • Asam Folat dan Zinc pada Infertilitas Pria: Benarkah Bisa Memperbaiki Kualitas Sperma dan Peluang Kehamilan?
  • Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Talkshow Kupas Tuntas Akar Keguguran Berulang Bersama Dr Uma Mariappen
  • Gaya Hidup, Hormon, dan Kualitas Sperma: Apa yang Sering Terlewat dalam Evaluasi Infertilitas Pria?
  • Mencintai Seseorang dengan Endometriosis

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.