• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Archives for May 2025

Kok Bisa, Gula Darah Menjadi salah satu Penyebab Infertilitas? Ini Penjelasannya

May 31, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Banyak yang mengira infertilitas (susah hamil) banyak disebabkan hormon atau kondisi rahim. Tapi ternyata, masalah metabolik seperti resistensi insulin juga bisa jadi biang kerok yang sering terlewat.

Yup, resistensi insulin yang biasanya dikaitkan dengan diabetes atau sindrom metabolik. Lebih jauh ternyata punya dampak besar ke kesehatan reproduksi wanita. Tapi apa itu resistensi insulin?

Apa Itu Resistensi Insulin?

Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel di  otot , lemak , dan  hati  tidak merespons insulin sebagaimana mestinya. Kondisi ini juga dikenal sebagai gangguan sensitivitas insulin. Dimana insulin sangat penting untuk kehidupan dan mengatur  kadar glukosa (gula) darah. 

Jadi sister dan paksu harus tahu dulu bahwa insulin itu semacam “kunci” untuk membuka pintu sel supaya gula darah bisa masuk dan diubah jadi energi. Nah, pada orang dengan resistensi insulin, pintu selnya jadi ‘ngambek’ alias susah dibuka. Akibatnya, tubuh harus produksi insulin lebih banyak dari biasanya buat nyimbangin gula darah. Lalu mengapa kira-kira ini terjadi?

Penyebab Resistensi Insulin

Resistensi insulin bisa disebabkan oleh gabungan faktor genetik, gaya hidup, dan kondisi medis tertentu. Beberapa orang mungkin memiliki gen bawaan yang membuat mereka lebih rentan, sementara penyebab yang didapat mencakup obesitas (terutama lemak perut), kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi karbohidrat olahan, dan penggunaan obat-obatan tertentu seperti steroid atau obat tekanan darah. Selain itu, gangguan hormonal seperti sindrom Cushing, hipotiroidisme, dan akromegali juga dapat memicu kondisi ini. 

Ada juga kondisi genetik langka seperti sindrom Donohue, Werner, dan lipodistrofi bawaan yang berkaitan dengan resistensi insulin. Karena tidak selalu menunjukkan gejala, diagnosis biasanya didasarkan pada riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan faktor risiko yang dimiliki seseorang. Masalahnya, kondisi ini nggak cuma ngaruh ke metabolisme, tapi juga bisa ganggu kerja organ reproduksi.

Apa Dampaknya ke Kesuburan?

Resistensi insulin bisa bikin banyak hal kacau di sistem reproduksi, misalnya:

  1. Mengganggu kualitas sel telur dan embrio
  2. Menurunkan daya “lengket” rahim buat menempelkan embrio (implantasi)
  3. Mengacaukan keseimbangan hormon penting buat ovulasi
  4. Bikin risiko gagal program bayi tabung makin tinggi

Dan parahnya lagi, resistensi insulin bisa muncul nggak cuma pada penderita PCOS, tapi juga pada wanita yang terlihat sehat tapi punya pola menstruasi nggak teratur atau kelebihan berat badan.

Hal ini juga berdampak berkelanjutan terutama pasca kehamilan, seperti adanya risiko keguguran lebih tinggi, potensi kena diabetes selama hamil, masalah tumbuh kembang janin dan efek jangka panjang ke anak, seperti risiko obesitas dan penyakit metabolik. 

Jadi alangkah baiknya sister lebih skeptis dan segera dikonsultasikan pada dokter, agar mendapatkan penanganannya yang baik obat seperti metformin juga gaya hidup sehat, diet rendah gula, olahraga rutin. 

Karena masalah kesuburan itu bisa datang dari hal-hal yang nggak disangka. Jadi, bukan cuma soal hormon atau rahim, tapi juga metabolisme tubuh secara keseluruhan. Yuk, lebih aware sama kondisi tubuh sendiri dan jangan ragu cek ke dokter kalau ada yang terasa ‘nggak biasa’. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

  • Sertorio, M. N., César, H., de Souza, E. A., Mennitti, L. V., Santamarina, A. B., De Souza Mesquita, L. M., … & Pisani, L. P. (2022). Parental high-fat high-sugar diet intake programming inflammatory and oxidative parameters of reproductive health in male offspring. Frontiers in Cell and Developmental Biology, 10, 867127.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/22206-insulin-resistance?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: gula darah, infertilitas, insulin, resistensi insulin

Bagaimana Menentukan Pilihan Terbaik untuk ICSI pada Pria dengan Sperma Sangat Sedikit

May 30, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam dunia fertilitas, pria dengan jumlah sperma yang sangat rendah seperti oligozoospermia atau bahkan kriptozoospermia seringkali dihadapkan pada pertanyaan penting, lebih baik menggunakan sperma dari ejakulasi atau langsung dari testis untuk prosedur ICSI (Injeksi Sperma Intrasitoplasma)? Sebelum itu apakah kalian tahu perbedaan antara dua infertilitas itu?

Oligozoospermia dan Kriptozoospermia

Oligozoospermia adalah kondisi ketika jumlah sperma dalam air mani lebih sedikit dari jumlah normal. WHO (2021) menetapkan batas normalnya yaitu sekitar 16 juta sperma per mililiter. Kalau di bawah angka itu, bisa disebut oligozoospermia.

Nah, kondisi ini kadang dikategorikan jadi ringan, sedang, atau berat, tapi sebenarnya pembagian ini nggak menunjukkan penyebab pastinya. Artinya, meski jumlahnya sedikit, belum tentu tahu langsung apa penyebabnya.

Yang penting diingat, diagnosis oligozoospermia harus berdasarkan analisis laboratorium air mani yang dilakukan dengan prosedur ketat sesuai panduan WHO. Jadi, bukan asal tebak-tebakan atau satu kali tes aja.

Sedangkan berdasarkan standar WHO, kriptozoospermia didefinisikan sebagai tidak adanya sperma dalam air mani yang diejakulasi melalui pemeriksaan mikroskopis, tetapi ada dalam sedimen sentrifus. Kriptozoospermia, yang juga dikenal sebagai kriptozoospermia, adalah jenis khusus oligospermia ekstrem, dengan insidensi sekitar 8,73%.4 Karena manifestasi klinisnya yang unik, kondisi ini mudah salah didiagnosis sebagai azoospermia. Lalu kira-kira bagaimana program hamil yang dapat dipilih, salah satunya adalah melalui ICSI dengan metode pengambilan sperma.

ICSI Sebagai Program Hamil

Pada sebuah penelitian dengan pasangan yang menjalani prosedur ICSI, di mana sel telur dibuahi menggunakan sperma dari ejakulasi atau sperma testis yang diambil lewat aspirasi jarum halus. Peneliti kemudian membandingkan beberapa parameter penting: tingkat pembuahan, pembelahan sel, kualitas embrio, dan pembentukan blastokista (embrio tahap lanjut).

Hasilnya menunjukkan bahwa:

  • Pada pria dengan sperma dibawah 1 juta/mL, sperma testis memberikan hasil yang jauh lebih baik. Tingkat pembuahan, pembelahan embrio, dan jumlah embrio berkualitas tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan sperma dari ejakulasi.

  • Pada kasus kriptozoospermia, sperma testis juga lebih unggul secara signifikan dalam hal pembuahan, meskipun keunggulan kualitas embrio tidak terlalu mencolok.

  • Namun, pada pria dengan sperma di atas 1 juta/mL, sperma dari ejakulasi justru menunjukkan hasil yang lebih baik.

Dari temuan di atas sister dan paksu dapat tahu bahwa tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua. Tapi setidaknya konsentrasi sperma bisa menjadi kunci dalam menentukan dari mana sperma sebaiknya diambil untuk prosedur ICSI. Dengan berfokus pada hal ini, nantinya dokter dapat memberikan rekomendasi yang lebih tepat dan personal bagi sister dan paksu yang sedang berjuang menghadapi infertilitas terutama pada paksu. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi  

  • Derakhshan, M., Salehi, P., Derakhshan, M., Naghshineh, E., Movahedi, M., Tehrani, H. G., & Salehi, E. (2024). Should testicular sperm retrieval be implemented for intracytoplasmic sperm injection in all patients with severe oligozoospermia or cryptozoospermia?. Korean Journal of Fertility and Sterility.
  • Liu, H., Luo, Z., Chen, J., Zheng, H., & Zeng, Q. (2023). Treatment progress of cryptozoospermia with Western Medicine and traditional Chinese medicine: A literature review. Health Science Reports, 6(1), e1019.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ICSI, infertilitas, Oligozoospermia dan Kriptozoospermia, Pria

Fakta Merokok dan Dampaknya pada Infertilitas

May 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu harus tahu fakta bahwa dalam beberapa dekade terakhir, kualitas reproduksi pria mengalami penurunan di berbagai negara. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya kasus infertilitas pria, penurunan kualitas air mani, hingga gangguan hormon. Banyak faktor yang jadi penyebabnya, dan salah satu yang paling sering disorot adalah gaya hidup, terutama kebiasaan merokok.

Fenomena dampak Rokok dari Berbagai Dunia

Fenomena ini dapat kita lihat dari hasil sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari seribu pria muda usia rata-rata 23 tahun dari berbagai latar belakang etnis. Penelitian ini turut mengevaluasi dampak merokok terhadap kualitas air mani, termasuk fragmentasi DNA sperma, status hormon, kadar zink, dan kesehatan metabolik.

Hasilnya cukup jelas: pada kelompok perokok berat, ditemukan beberapa gangguan signifikan, yaitu:

  • Penurunan volume semen
  • Penurunan jumlah dan konsentrasi sperma
  • Penurunan motilitas sperma
  • Peningkatan fragmentasi DNA sperma
  • Lebih banyak sperma dengan bentuk tidak normal (teratozoospermia)
  • Penurunan kadar zink dalam darah dan semen
  • Gangguan pada kesehatan metabolik

Ternyata dampak Rokok Tidak hanya pada Laki-laki!

Sister kalian pasti sudah tahu bahwa merencanakan kehamilan itu dimulai dari menjaga kesehatan diri sendiri, baik bagi sister maupun paksu. Nah salah satu langkah terpenting adalah berhenti merokok. Karena bukan hanya perokok aktif, perokok pasif pun dapat terkena dampaknya. Merokok terbukti menurunkan kesuburan pada sister dan mengganggu kualitas sperma pada pria.

Pada paksu turut mengalami penurunan tajam pada kualitas semen, kadar zink, dan kerusakan DNA sperma. Selain itu, menjaga pola makan bergizi, konsumsi vitamin E dan C bagi pria, serta susu pra-kehamilan bagi wanita juga penting. Pola hidup sehat dengan olahraga hingga istirahat cukup. Jika perlu, konsultasi ke dokter kandungan bisa membantu mengetahui penyebab gangguan kesuburan dan menentukan langkah terbaik kedepannya.

Sister dan paksu, kalau sedang ikhtiar atau ingin menjaga kesehatan reproduksi, ini waktunya ngobrol serius soal rokok. Karena tentu banyak hal bisa berubah kalau kita lebih peduli sama tubuh sendiri, termasuk soal kebiasaan yang dianggap “biasa” tapi ternyata punya dampak besar. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id untuk menemuman informasi menarik lainnya. 

Referensi

  • Osadchuk, L., Kleshchev, M., & Osadchuk, A. (2023). Effects of cigarette smoking on semen quality, reproductive hormone levels, metabolic profile, zinc and sperm DNA fragmentation in men: results from a population-based study. Frontiers in Endocrinology, 14, 1255304.
  • https://www.alodokter.com/komunitas/topic/cara-cepat-hamil-tapi-seorang-perokok-aktiv

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, perokok

Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Ancaman Tersembunyi pada Pria yang Tampak Sehat

May 28, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu pasti sudah tahu bahwa masalah infertilitas tidak selalu tampak jelas dari luar. Bahkan pada paksu dengan kondisi fisik sehat dan tanpa penyebab infertilitas yang pasti, kualitas sperma bisa saja terganggu. Nah yuk ketahui salah satu faktor tersembunyi yang kini menjadi sorotan adalah stres oksidatif (oxidative stress/OS).

Hubungan Kualitas Sperma dan Stress Oksidatif

Ada sebuah studi yang melibatkan 41 pria yang memiliki pasangan infertil dan mengevaluasi parameter air mani seperti jumlah sperma, motilitas, fragmentasi DNA, serta penanda stres oksidatif seperti ORP (oxidation–reduction potential) dan d-ROM (derivatives of Reactive Oxygen Metabolites).

Dan menemukan fakta menarik yaitu meski para partisipan sebagian besar berusia di bawah 40 tahun, tidak mengalami obesitas, dan memiliki kondisi klinis yang dianggap normal mereka dengan 

  1. Kadar d-ROM dalam darah dan ORP dalam air mani terbukti berkaitan dengan penurunan jumlah sperma.
  2. Motilitas sperma juga dipengaruhi oleh kadar seng serum dan ORP air mani.
  3. Fragmentasi DNA sperma berkaitan erat dengan kadar kolesterol HDL dan seng.

Penanda stres oksidatif di sperma (ORP) dan di darah (d-ROM) ternyata nggak selalu sejalan. Ini menunjukkan bahwa kerusakan sperma bisa disebabkan oleh stres oksidatif lokal maupun sistemik, jadi kita nggak bisa menilai cuma dari salah satunya aja.

Stres oksidatif sendiri merupakan kondisi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh melebihi kapasitas antioksidan untuk menetralkannya. Radikal bebas ini dapat merusak sel, termasuk sel sperma, dengan menyebabkan kerusakan DNA, menurunnya motilitas, hingga kematian sel sperma itu sendiri. Stres oksidatif, terjadi secara sistemik (dalam tubuh) maupun lokal (langsung di sperma).

Bagaimana Perannya dalam Infertilitas Pria?

Pada pria dengan gaya hidup tidak sehat (merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur), stres oksidatif kerap ditemukan tinggi. Namun, bahkan pada pria yang terlihat sehat pun bisa mengalami stres oksidatif lokal di organ reproduksi yang berdampak negatif pada kualitas sperma.

Banyak sister dan paksu yang tidak kunjung hamil, meskipun tidak ditemukan “masalah” medis yang jelas. Sehingga fakta tersebut mendorong pentingnya evaluasi mendalam terhadap stres oksidatif terutama pemeriksaan kesuburan pria. Pendekatan ini juga membuka peluang pengobatan preventif berbasis antioksidan, manajemen stres, hingga perbaikan pola makan.

Infertilitas pria bisa terjadi tanpa gejala atau penyebab yang terlihat. Stres oksidatif adalah “musuh dalam selimut” yang dapat memengaruhi kualitas sperma, bahkan pada pria dengan hasil pemeriksaan dasar yang normal. Pemeriksaan stres oksidatif akghirnya dibutuhkan lebih menyeluruh agar tidak ada yang terlewatkan, dan juga dukungan gaya hidup sehat menjadi langkah penting yang seharusnya mulai diperhitungkan dalam manajemen kesuburan pasangan. 

Referensi

  • Chen, L., Mori, Y., Nishii, S., Sakamoto, M., Ohara, M., Yamagishi, S. I., & Sekizawa, A. (2024). Impact of Oxidative Stress on Sperm Quality in Oligozoospermia and Normozoospermia Males Without Obvious Causes of Infertility. Journal of Clinical Medicine, 13(23), 7158.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, MDG, oksidatif, PDG, perempuan, stress

Ternyata, Nggak Semua Tubuh Bisa Pakai Asam Folat Untuk Program Hamil

May 27, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kalau bicara soal nutrisi penting untuk kesuburan pria, salah satu yang banyak digunakan untuk membantu keberhasilan program hamil adalah vitamin B9, atau yang lebih dikenal dengan folat. Tapi disisi lain yang harus kita pahami adalah bahwa kemampuan tubuh dalam memanfaatkan folat bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, terutama oleh gen bernama MTHFR. Fakta menunjukkan bahwa mutasi pada gen ini bisa membuat tubuh sulit menggunakan folat secara optimal. Wah mengapa bisa begitu? pahami lebih lanjut yuk!

Pahami tentang hubungan Asam Folat dan Gen MTHFR 

Asam folat (yang dikenal juga sebagai vitamin B9) penting banget buat pembentukan DNA, perbaikan sel, dan menangkal stres oksidatif. Tapi, sebelum bisa dipakai tubuh, asam folat harus “diaktifkan” dulu lewat proses kimiawi yang diatur oleh gen bernama MTHFR.

Nah, beberapa orang punya variasi genetik MTHFR, khususnya versi yang dikenal dengan nama C677T dan A1298C yang bikin proses ini nggak berjalan lancar. Akibatnya, asam folat jadi nggak bisa diproses maksimal, dan ini bisa ganggu proses pembentukan sperma.

Sebuah temuan yang dilakukan di Tiongkok yang melibatkan lebih dari 800 pria menunjukkan bahwa pria dengan gangguan kualitas sperma seperti jumlah sperma rendah atau sperma dengan gangguan motilitas, lebih sering memiliki variasi genetik MTHFR C677T dibandingkan pria dengan kualitas sperma normal. Nah temuan tersebut memberi petunjuk bahwa mutasi gen MTHFR bisa jadi berperan dalam beberapa kasus infertilitas pria, meski bukan satu-satunya faktor penyebab. Yuk kita lihat bagaimana ini perpengaruh ke infertilitas pria.

Gen MTHFR dan Infertilitas Pria

Jadi variasi genetik pada gen methylenetetrahydrofolate reductase (MTHFR), khususnya A1298C, diketahui dapat menurunkan kadar folat dalam plasma dan meningkatkan kerentanan terhadap berbagai gangguan multifaktorial. 

Sebuah studi turut menganalisis 50 pria infertil dengan riwayat azoospermia nonobstruktif atau oligozoospermia berat, serta 50 pria fertil sebagai kelompok kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi A1298C pada gen MTHFR memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan infertilitas pria, sementara variasi C677T tidak menunjukkan asosiasi yang serupa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa polimorfisme A1298C berpotensi meningkatkan risiko infertilitas pria.

Karena folat nggak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh dan hanya bisa didapat dari makanan atau suplemen, maka mengetahui adanya mutasi pada gen MTHFR bisa membantu kalian untuk dapat mempertimbangkan intervensi nutrisi yang lebih tepat, seperti suplementasi folat aktif atau penguatan pola makan.

Selain itu, ini juga jadi pengingat bahwa gangguan kesuburan pria bisa dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik, dan bukan sekadar soal gaya hidup atau kesehatan umum.

Kalau sister dan paksu sedang menjalani program hamil dan merasa sudah mencoba banyak hal, pemeriksaan genetik bisa menjadi salah satu langkah lanjutan. Terutama kalau ada riwayat gangguan sperma atau hasil pemeriksaan semen yang kurang optimal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ren, F. J., Fang, G. Y., & Zhang, Z. Y. (2024). Association between methylenetetrahydrofolate reductase C677T polymorphisms and male oligozoospermia, asthenozoospermia or oligoasthenozoospermia: a case–control study. Scientific Reports, 14(1), 25219.
  • Balunathan, N., Venkatesen, V., Chauhan, J., Reddy, S. N., Perumal, V., & Paul, S. F. (2021). Role of MTHFR gene polymorphisms in male infertility. Int J Infertil Fetal Med, 12(1), 7-12.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: asam folat, infertilitas, kacang, laki-laki, program hamil

Ketahui Manfaat Masturbasi sebagai Rehabilitasi

May 26, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu siapa sangka bawah masturbasi memiliki manfaat yang baik, bahkan pada kasus tertentu bisa menjadi rehabilitasi seperti dilakukan pasca operasi pengangkatan prostat atau radical prostatectomy, khususnya yang menggunakan teknik nerve-sparing untuk mempertahankan saraf-saraf penting.

Meski teknik ini dianggap lebih “ramah fungsi seksual”, tak sedikit pasien yang tetap mengalami disfungsi ereksi (DE) dan inkontinensia urine setelahnya dua efek samping yang cukup mengganggu kualitas hidup pria. Yuk telaah bagaimana menurut medis dan bagaimana fungsi masturbasi buat kesehatan reproduksi

Masturbasi sebagai Pendekatan Rehabilitasi?

Selama ini, pendekatan rehabilitasi pasca operasi biasanya berfokus pada obat-obatan seperti PDE5 inhibitor (misalnya sildenafil), terapi suntik, atau penggunaan alat bantu seperti vacuum erection device. Tapi satu hal yang jarang dibahas adalah masturbasi dan ternyata, aktivitas ini bisa memiliki peran penting dalam proses pemulihan.

Kenapa Aktivitas Seksual Itu Penting untuk Kesehatan Penis?

Alasan pertama adalah melalui aktivitas seksual & masturbasi, keduanya merupakan bentuk rangsangan seksual. Saat seseorang terangsang, terjadi peningkatan aliran darah ke penis dan aktivasi sistem saraf yang mengatur proses ereksi.

Alasan selanjutnya adalah mendorong aliran darah ke penis, ereksi terjadi karena pembuluh darah di penis melebar dan darah mengalir ke jaringan erektil. Aliran darah yang baik sangat penting untuk menjaga kesehatan jaringan penis.

Lebih lanjut dapat Menstimulasi saraf-saraf yang terlibat dalam ereksi, ereksi melibatkan saraf otonom (terutama sistem parasimpatis) yang merangsang pelepasan nitrat oksida (NO), senyawa yang membuat pembuluh darah melebar.

Juga dapat mencegah atrofi otot polos, atrofi ini berkaitan dengan penyusutan atau melemahnya jaringan karena tidak digunakan. Sedangkan otot polos berkaitan dengan jenis otot yang tidak dikendalikan secara sadar, ada di dinding pembuluh darah dan jaringan erektil penis. Karena jika penis tidak pernah mengalami ereksi dalam waktu lama (misalnya setelah operasi), otot polos di dalamnya bisa mengecil atau melemah, mengurangi kemampuan ereksi.

Selanjutnya juga menghambat fibrosis sebagai pembentukan jaringan parut atau jaringan ikat berlebih sebagai respons terhadap kerusakan atau kurangnya aktivitas.

Fibrosis di penis bisa mengurangi elastisitas jaringan, membuat ereksi sulit atau tidak maksimal. Aktivitas seksual membantu mencegah proses ini.

Mempertahankan elastisitas jaringan penis, elastisitas artinya kemampuan jaringan untuk kembali ke bentuk semula. Jaringan yang elastis akan mendukung ereksi yang optimal. Tanpa stimulasi, jaringan ini bisa kaku dan tidak lentur.

Bahkan dapat mengurangi potensi komplikasi jangka panjang akibat gangguan vaskular dan saraf pasca operasi Vaskular yang berhubungan dengan pembuluh darah. Dan saraf sebagai sistem yang mengirim sinyal dari otak ke tubuh.

Meski hasilnya menjanjikan, sister dan paksu harus tetap berkonsultasi dengan dokter ya! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

Meissner, V. H., Dumler, S., Kron, M., Schiele, S., Goethe, V. E., Bannowsky, A., … & Herkommer, K. (2020). Association between masturbation and functional outcome in the postoperative course after nerve-sparing radical prostatectomy. Translational andrology and urology, 9(3), 1286.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesehatan reproduksi, Pria

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Interim pages omitted …
  • Page 6
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Ketika Embrio Tampak Baik, Tapi Kehamilan Tak Kunjung Datang: Peran Sunyi Epigenetik Sperma dalam Kegagalan FET
  • Memahami Adenomyosis dan Dampaknya terhadap Kesuburan serta Program Bayi Tabung
  • Karena dalam Promil Modern, Sel Sperma Juga Perlu Perhatian yang Sama Seriusnya
  • Kenapa Usia Ayah Bisa Berpengaruh ke Perkembangan Anak?
  • Mengenal PCOS Lebih Dalam: Bukan Sekadar Haid Tidak Teratur, tapi Cerita Tubuh yang Kompleks

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.