• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

ICSI

ICSI dan Risiko Gangguan Perkembangan Anak: Apa yang Perlu Dipahami?

January 6, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sejak diperkenalkan pada awal 1990-an, intracytoplasmic sperm injection (ICSI) menjadi salah satu prosedur paling sering digunakan dalam teknologi reproduksi berbantu. Awalnya, teknik ini diciptakan untuk membantu pasangan dengan infertilitas pria berat, ketika sperma sangat sedikit atau sulit membuahi sel telur secara alami.

Namun, dalam praktik klinis modern, penggunaan ICSI meluas jauh dari tujuan awalnya. Saat ini, ICSI kerap digunakan hampir secara rutin dalam prosedur IVF, termasuk pada kasus infertilitas perempuan atau bahkan tanpa faktor infertilitas pria yang jelas. Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah penggunaan ICSI selalu aman bagi anak yang dilahirkan?

Infertilitas atau Prosedurnya?

Secara biologis, sperma bukan hanya pembawa DNA, tetapi juga membawa informasi epigenetik yang berperan dalam perkembangan embrio. Prosedur ICSI melewati proses seleksi alami sperma dan melibatkan manipulasi langsung terhadap sel telur. Secara teori, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan awal embrio, termasuk sistem saraf.

Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, sebuah studi besar berbasis populasi dilakukan di Taiwan, menggunakan data nasional yang sangat komprehensif.

Ketika Data Besar Membantu Menjernihkan Kekhawatiran

Dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran tentang dampak teknologi reproduksi berbantu terhadap kesehatan anak semakin sering muncul. Banyak pasangan bertanya-tanya: apakah masalah kesuburan orang tua bisa memengaruhi perkembangan anak di masa depan.

Salah satu temuan terpenting dari penelitian ini justru cukup menenangkan. Masalah kesuburan, baik pada perempuan maupun laki-laki, ternyata tidak secara otomatis meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada anak.

Anak-anak yang lahir dari pasangan infertil dan menjalani program hamil tanpa prosedur tertentu yang lebih invasif menunjukkan pola tumbuh kembang yang serupa dengan anak-anak dari kehamilan alami. Dengan kata lain, memiliki riwayat infertilitas bukan berarti masa depan anak akan dibayangi oleh risiko perkembangan yang lebih buruk.

Temuan ini membantu meluruskan anggapan yang selama ini sering muncul di tengah masyarakat, bahwa kesulitan hamil identik dengan risiko jangka panjang pada anak. Kenyataannya, tubuh manusia dan proses kehamilan jauh lebih kompleks, dan tidak semua intervensi atau kondisi membawa dampak yang sama.

ICSI dan Risiko yang Perlu Diperhatikan

Berbeda dengan ART tanpa ICSI, penggunaan ICSI menunjukkan hasil yang konsisten. Anak yang dikandung melalui ART dengan ICSI memiliki:

  • risiko ASD sekitar 2,5 kali lebih tinggi,
  • risiko developmental delay hampir 2 kali lebih tinggi.

Peningkatan risiko ini ditemukan baik pada pasangan dengan infertilitas pria maupun perempuan. Menariknya, risiko ADHD tidak meningkat secara signifikan, menunjukkan bahwa dampak ICSI mungkin lebih spesifik pada aspek tertentu dari perkembangan saraf.

Mengapa ICSI Bisa Berpengaruh? diantaranya dikarenakan oleh:

  • sperma dipilih dan disuntikkan secara manual, tanpa seleksi alami,
  • sperma dengan kualitas genetik atau epigenetik yang kurang optimal tetap dapat membuahi sel telur,
  • sel telur mengalami stres selama proses manipulasi,
  • serta kemungkinan perubahan regulasi epigenetik yang penting bagi perkembangan otak embrio.

Hal menarik lainnya adalah: ICSI tidak selalu meningkatkan angka keberhasilan kehamilan. Dalam studi ini, penggunaan ICSI tidak secara konsisten meningkatkan angka fertilisasi, kehamilan klinis, maupun kelahiran hidup dibandingkan ART tanpa ICSI baik pada infertilitas pria maupun perempuan. Ini menantang anggapan bahwa ICSI selalu menjadi pilihan “lebih aman dan lebih efektif”.

ICSI tetap sangat penting pada kondisi tertentu, seperti:

  • azoospermia,
  • oligozoospermia berat,
  • kegagalan fertilisasi berulang pada IVF konvensional.

Namun, penggunaan rutin ICSI tanpa indikasi yang jelas perlu dievaluasi kembali. Bagi pasangan, studi ini menegaskan bahwa informasi adalah hak. Risiko yang dilaporkan memang relatif kecil secara absolut, tetapi cukup bermakna secara ilmiah. Karena itu, keputusan promil idealnya dibuat melalui diskusi terbuka mengenai manfaat, risiko jangka panjang, dan alternatif prosedur yang tersedia.

Dalam dunia reproduksi berbantu, lebih invasif tidak selalu berarti lebih baik. Bukan hanya keberhasilan hamil yang perlu dipertimbangkan, tetapi juga kesehatan anak di masa depan.

ICSI adalah alat yang sangat membantu bila digunakan pada kondisi yang tepat. Seperti semua intervensi medis, kuncinya adalah penggunaan yang proporsional, bertanggung jawab, dan berpusat pada kebutuhan pasien. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Lo, H., Weng, S. F., & Tsai, E. M. (2022). Neurodevelopmental disorders in offspring conceived via in vitro fertilization vs intracytoplasmic sperm injection. JAMA Network Open, 5(12), e2248141.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: anak, gangguan, ICSI, risiko

Bagaimana Menentukan Pilihan Terbaik untuk ICSI pada Pria dengan Sperma Sangat Sedikit

May 30, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam dunia fertilitas, pria dengan jumlah sperma yang sangat rendah seperti oligozoospermia atau bahkan kriptozoospermia seringkali dihadapkan pada pertanyaan penting, lebih baik menggunakan sperma dari ejakulasi atau langsung dari testis untuk prosedur ICSI (Injeksi Sperma Intrasitoplasma)? Sebelum itu apakah kalian tahu perbedaan antara dua infertilitas itu?

Oligozoospermia dan Kriptozoospermia

Oligozoospermia adalah kondisi ketika jumlah sperma dalam air mani lebih sedikit dari jumlah normal. WHO (2021) menetapkan batas normalnya yaitu sekitar 16 juta sperma per mililiter. Kalau di bawah angka itu, bisa disebut oligozoospermia.

Nah, kondisi ini kadang dikategorikan jadi ringan, sedang, atau berat, tapi sebenarnya pembagian ini nggak menunjukkan penyebab pastinya. Artinya, meski jumlahnya sedikit, belum tentu tahu langsung apa penyebabnya.

Yang penting diingat, diagnosis oligozoospermia harus berdasarkan analisis laboratorium air mani yang dilakukan dengan prosedur ketat sesuai panduan WHO. Jadi, bukan asal tebak-tebakan atau satu kali tes aja.

Sedangkan berdasarkan standar WHO, kriptozoospermia didefinisikan sebagai tidak adanya sperma dalam air mani yang diejakulasi melalui pemeriksaan mikroskopis, tetapi ada dalam sedimen sentrifus. Kriptozoospermia, yang juga dikenal sebagai kriptozoospermia, adalah jenis khusus oligospermia ekstrem, dengan insidensi sekitar 8,73%.4 Karena manifestasi klinisnya yang unik, kondisi ini mudah salah didiagnosis sebagai azoospermia. Lalu kira-kira bagaimana program hamil yang dapat dipilih, salah satunya adalah melalui ICSI dengan metode pengambilan sperma.

ICSI Sebagai Program Hamil

Pada sebuah penelitian dengan pasangan yang menjalani prosedur ICSI, di mana sel telur dibuahi menggunakan sperma dari ejakulasi atau sperma testis yang diambil lewat aspirasi jarum halus. Peneliti kemudian membandingkan beberapa parameter penting: tingkat pembuahan, pembelahan sel, kualitas embrio, dan pembentukan blastokista (embrio tahap lanjut).

Hasilnya menunjukkan bahwa:

  • Pada pria dengan sperma dibawah 1 juta/mL, sperma testis memberikan hasil yang jauh lebih baik. Tingkat pembuahan, pembelahan embrio, dan jumlah embrio berkualitas tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan sperma dari ejakulasi.

  • Pada kasus kriptozoospermia, sperma testis juga lebih unggul secara signifikan dalam hal pembuahan, meskipun keunggulan kualitas embrio tidak terlalu mencolok.

  • Namun, pada pria dengan sperma di atas 1 juta/mL, sperma dari ejakulasi justru menunjukkan hasil yang lebih baik.

Dari temuan di atas sister dan paksu dapat tahu bahwa tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua. Tapi setidaknya konsentrasi sperma bisa menjadi kunci dalam menentukan dari mana sperma sebaiknya diambil untuk prosedur ICSI. Dengan berfokus pada hal ini, nantinya dokter dapat memberikan rekomendasi yang lebih tepat dan personal bagi sister dan paksu yang sedang berjuang menghadapi infertilitas terutama pada paksu. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi  

  • Derakhshan, M., Salehi, P., Derakhshan, M., Naghshineh, E., Movahedi, M., Tehrani, H. G., & Salehi, E. (2024). Should testicular sperm retrieval be implemented for intracytoplasmic sperm injection in all patients with severe oligozoospermia or cryptozoospermia?. Korean Journal of Fertility and Sterility.
  • Liu, H., Luo, Z., Chen, J., Zheng, H., & Zeng, Q. (2023). Treatment progress of cryptozoospermia with Western Medicine and traditional Chinese medicine: A literature review. Health Science Reports, 6(1), e1019.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ICSI, infertilitas, Oligozoospermia dan Kriptozoospermia, Pria

Apakah Dosis FSH yang Disesuaikan Secara Individual dapat Meningkatkan Peluang Kehamilan?

April 26, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu MDG pernah membahas bagaimana hormon yang diberikan saat IVF bisa berpengaruh ke kesehatan mental. Nah, dalam program bayi tabung (IVF/ICSI), perempuan diberikan hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) setiap hari untuk merangsang ovarium supaya menghasilkan lebih banyak sel telur. Targetnya, sekitar 5 sampai 15 oosit (sel telur) dalam satu siklus.

Tapi, tidak semua perempuan merespons obat ini dengan cara yang sama. Respons terlalu rendah bisa bikin jumlah dan kualitas sel telur tidak mencukupi. Sebaliknya, respons terlalu tinggi malah bisa memicu sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS), kondisi yang cukup berisiko. Kedua situasi ini sama-sama bisa menyebabkan siklus IVF dibatalkan, lho.

Cara Menyesuaikan Dosis FSH

Awalnya, dosis FSH diberikan berdasarkan usia saja. Tapi sekarang, pendekatan lebih personal mulai digunakan. Dosis bisa disesuaikan berdasarkan Hormon Anti-Müllerian (AMH), Jumlah Folikel Antral (AFC), Kadar FSH di hari ke-2 atau ke-3 haid (bFSH). Pendekatan ini dikenal sebagai strategi berbasis tes cadangan ovarium atau ovarian reserve test (ORT).

Sebuah tinjauan Cochrane terbaru di tahun 2023 yang mencakup 26 studi dengan lebih dari 8500 wanita membahas tentang ini. Studi-studi ini membandingkan berbagai strategi pemberian dosis FSH, baik yang disesuaikan secara individual maupun yang standar.

Hasilnya bagaimana? bahwa Mengatur dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium (ORT) mungkin tidak terlalu banyak meningkatkan peluang untuk mendapatkan kehamilan berkelanjutan atau kelahiran hidup dibandingkan dengan dosis standar. Namun, pendekatan berbasis ORT bisa membantu mengurangi risiko terjadinya sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) yang tingkatnya sedang atau berat. Untuk risiko OHSS berat saja, masih belum ada cukup bukti yang bisa memberikan kesimpulan pasti. Kalau biasanya peluang kehamilan dengan dosis standar ada di angka 25%, pendekatan berbasis ORT bisa sedikit menaikkan peluang itu menjadi 25%–31%. Sedangkan untuk risiko OHSS sedang atau berat, pendekatan ini bisa menurunkan angka kejadian dari 5% menjadi sekitar 2%–5%. 

Meskipun menjanjikan, penyesuaian dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium belum terbukti secara meyakinkan meningkatkan hasil kehamilan. Namun, strategi ini berpotensi menurunkan risiko komplikasi seperti OHSS. Penyesuaian dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium (ORT) memang menawarkan pendekatan yang lebih personal dalam program IVF/ICSI. 

Namun, dari hasil tinjauan studi terbaru, strategi ini belum terbukti secara kuat mampu meningkatkan peluang kehamilan berkelanjutan atau kelahiran hidup dibandingkan dengan pemberian dosis standar. Meskipun begitu, penggunaan ORT tetap punya manfaat, yaitu berpotensi mengurangi risiko terjadinya sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) sedang hingga berat. 

Jadi sister dan paksu melalui penjabaran ini dapat dipahami secara keseluruhan bahwa pendekatan berbasis ORT mungkin lebih berguna untuk meningkatkan keamanan siklus IVF daripada secara langsung meningkatkan peluang kehamilan. Bagaimana menarik bukan? tapi tetap saja sister dan paksu harus berkonsultasi dengan dokter selama menjalankan program IVF. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Ngwenya, O., Lensen, S. F., Vail, A., Mol, B. W. J., Broekmans, F. J., & Wilkinson, J. (2024). Individualised gonadotropin dose selection using markers of ovarian reserve for women undergoing in vitro fertilisation plus intracytoplasmic sperm injection (IVF/ICSI). Cochrane Database of Systematic Reviews, (1).

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, hormon, ICSI, IVF

Kenali apa itu Metode PIEZO-ICSI yang dapat Meningkatkan Tingkat Fertilisasi

January 28, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

 

Sister dan paksu adakah yang sudah merencanakan program IVF? atau masih mempertimbagkan banyak hal sebelum memutuskan untuk bayi tabung. Wah pasti sudah banyak informasi yang sudah dicari? salah satunya metode yang ada dalam setiap proses IVF, agar tidak sampai salah, seperti mempertimbangkan PIEZO-ICSI. MDG akan menjelaskan lebih lanjut dalam pembahasan topik kali ini. Baca sampai habis ya

Bagaimana prosedur ICSI dilakukan?

Tahapan dari ICSI berupa, telur yang telah matang akan dipegang menggunakan pipet khusus untuk mengambil sperma, digunakan jarum yang sangat halus, tajam, dan berongga. Jarum kemudian dimasukkan melalui cangkang telur dan sitoplasma telur. Sperma selanjutnya akan disuntikkan ke sitoplasma, kemudian jarum akan dikeluarkan kembali. Pada hari berikutnya, dokter akan melihat apakah pembuahan telah terjadi.

Nah tahapan yang krusial itu kemudian menimbulkan banyak metode terbaru terutama dalam proses pemindahan telur. karena akibat dari ini bisa fatal seperti cacat lahir dan kerusakan pada telur. Lalu ada ngga si metode terbaru yang digunakan oleh dokter untuk menangani proses yang krusial tersebut, salah satunya adalah dapat menggunakan PIEZO-ICSI.

Mengapa memilih metode PIEZO-ICSI?

PIEZO-ICSI adalah teknik ICSI canggih yang meminimalkan kerusakan telur dan meningkatkan tingkat pembuahan telur dibandingkan dengan ICSI konvensional. Sampai saat ini, penelitian menunjukkan bahwa PIEZO-ICSI memiliki tingkat degenerasi telur terendah (1%) dan tingkat pembuahan tertinggi (89%).

Kemudian jika dibandingkan dengan ICSI konvensional, PIEZO-ICSI menggunakan ujung injeksi yang lebih halus dan lebih tumpul daripada tajam, sehingga kemungkinan kerusakan telur berkurang.

Bahkan sebuah temuan penelitian dengan judul “PIEZO-ICSI increases fertilization rates compared with standard ICSI: a prospective cohort study” yang menemukan bahwa PIEZO-ICSI meningkatkan tingkat pembuahan secara signifikan, sehingga meningkatkan jumlah embrio yang tersedia untuk kriopreservasi dibandingkan dengan ICSI standar. 

Meski demikian dalam proses pemilihan program, sister dan paksu harus tetap memastikan berkonsultasi kepada dokter untuk meningkatkan keberhasilan dan meminimalkan risiko sebelum memilih dan menjalani prosedur ini. Untuk informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • https://www.alphafertilitycentre.com/id/teknologi/piezo-icsi-2#:~:text=Apa%20itu%20PIEZO%2DICSI,sehingga%20kemungkinan%20kerusakan%20telur%20berkurang.
  • https://www.klikdokter.com/info-sehat/reproduksi/mengenal-metode-icsi-untuk-meningkatkan-peluang-punya-anak
  • Zander-Fox, D., Lam, K., Pacella-Ince, L., Tully, C., Hamilton, H., Hiraoka, K., … & Tremellen, K. (2021). PIEZO-ICSI increases fertilization rates compared with standard ICSI: a prospective cohort study. Reproductive biomedicine online, 43(3), 404-412.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: bagaimana sel telur wanita diambil, fertilisasi, ICSI, sperma

Kenali Prosedur Teknologi Reproduksi berbantuan (ART) IVF dan ICSI Sebelum melakukan Program Hamil

January 27, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Bagi sister dan paksu yang sedang mengalami infertilitas, dan akan segera membuat keputusan untuk program. Baik secara alami maupun berbantuan, jangan lupa untuk memahami mulai dari perbedaan dan bagaimana temuan-temuan dengan kasus yang serupa agar menjadi pendukung dalam mempertimbangkan. MDG akan menjelaskan bagaimana prosedur yang paling umum digunakan yaitu IVF dan ICSI

Tentang Prosedur IVF dan ICSI

IVF singkatan dari ‘fertilisasi in-vitro’ dan ICSI ‘injeksi sperma intrasitoplasma’. Kedua perawatan ini hadir sebagai konsepsi berbantuan. Pada prosedur IVF melibatkan pengambilan sel telur dari pasien wanita menggunakan jarum yang dimasukkan melalui vagina dan ke dalam setiap ovarium di bawah bimbingan USG. Prosedur ini dilakukan dengan sedasi jadi tidak akan merasakan sakit apa pun. Sel telur kemudian dicampur dengan sperma dalam cawan laboratorium, dan diperiksa setelah 16-20 jam untuk melihat apakah sperma telah membuahi sel telur secara alami. Jika perawatan berhasil, sel telur yang telah dibuahi akan berkembang di laboratorium selama dua hingga lima hari sebelum dipindahkan ke rahim. 

Sedangkan ICSI atau intracytoplasmic sperm injection adalah prosedur penyuntikan satu sperma hidup ke pusat sel telur (sitoplasma) yang telah matang. Prosedur ini dilakukan bertujuan untuk meningkatkan peluang keberhasilan In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung. Prosedur ICSI ini dilakukan ketika IVF konvensional tidak membuahkan hasil yang maksimal. 

Kapan ICSI digunakan?

Pada sebuah penelitian dengan judul “Opportunities and Limits of Conventional IVF versus ICSI: It Is Time to Come off the Fence” menunjukkan bagaimana metode Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) semakin banyak digunakan, termasuk pada kasus infertilitas yang bukan disebabkan oleh faktor laki-laki. Salah satu alasan utama adalah untuk mengurangi risiko kegagalan fertilisasi total (total fertilization failure atau TFF), yaitu kondisi ketika sel telur tidak berhasil dibuahi. TFF sendiri merupakan hasil yang sangat mengecewakan, baik bagi pasien maupun tenaga medis, dengan resiko terjadi sekitar 5-20% dalam siklus IVF konvensional (c-IVF).

Dari penjelasan singkat tersebut, bagaimana memahami prosedur In Vitro Fertilization (IVF) dan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) menjadi penting sebelum memulai program kehamilan berbantuan. Setiap metode memiliki kelebihan, kekurangan, dan indikasi khusus yang perlu disesuaikan dengan kondisi sister dan paksu. Sehingga konsultasi dengan tenaga medis yang kompeten sangat dianjurkan untuk menentukan metode yang paling sesuai, sehingga peluang keberhasilan dapat dimaksimalkan. Yuk ambil langkah sister dan paksu, bisa dengan mengikuti forum Morula Fertility Bootcamp yang akan MDG adakan untuk PDG di februari mendatang. Informasi lainnya dapat sister dan paksu akses di Instagram kami @menujuduagaris.id

Referensi 

  • https://www.morulaivf.co.id/id/blog/apa-itu-icsi-dan-bagaimana-prosedur-ini-dilakukan/
  • https://www.fertility-academy.co.uk/blog/whats-the-difference-between-ivf-and-icsi/
  • Balli, M., Cecchele, A., Pisaturo, V., Makieva, S., Carullo, G., Somigliana, E., … & Vigano’, P. (2022). Opportunities and limits of conventional IVF versus ICSI: it is time to come off the fence. Journal of Clinical Medicine, 11(19), 5722.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: bayi tabung, ICSI, IVF

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.