• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

anak

Setelah Kanker Sembuh… Masih Adakah Kesempatan Punya Anak?

April 5, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Bagi banyak pria, diagnosis kanker datang seperti jeda mendadak dalam hidup. Semua rencana seakan berhenti digantikan oleh satu fokus utama adalah sembuh. Di fase ini, hampir semua keputusan diarahkan untuk satu tujuan itu. Memulai kemoterapi secepat mungkin. Menjalani radioterapi. Atau operasi. Apa pun yang bisa meningkatkan peluang bertahan hidup.

Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang sering tidak sempat dipikirkan bagaimana dengan kesuburan di masa depan?

Ketika Pengobatan Menyelamatkan, Tapi Juga Mengubah

Seiring perkembangan dunia medis, semakin banyak pasien kanker yang berhasil melewati masa pengobatan dan hidup lebih lama. Ini tentu kabar baik. Namun, di balik itu, muncul realitas lain yang mulai dirasakan setelah fase kritis terlewati ketika kehidupan perlahan kembali normal, dan keinginan untuk membangun keluarga mulai muncul. Di sinilah banyak yang baru menyadari pengobatan kanker yang dijalani ternyata tidak hanya menargetkan sel kanker, tetapi juga bisa berdampak pada sel-sel lain yang sensitif termasuk sel pembentuk sperma.

Kemoterapi dan radioterapi bekerja dengan menyerang sel yang berkembang cepat.
Sayangnya, sel sperma termasuk dalam kategori ini. Akibatnya, kualitas sperma bisa menurun drastis. Jumlahnya berkurang. Pergerakannya terganggu. Bahkan dalam beberapa kondisi, sperma bisa tidak terbentuk sama sekali.

Yang sering tidak disadari, kondisi ini tidak selalu muncul setelah terapi. Pada beberapa kasus, kanker itu sendiri sudah lebih dulu memengaruhi kualitas sperma, bahkan sebelum pengobatan dimulai.

Sebuah Kesempatan yang Sering Terlewat

Di tengah kompleksitas itu, sebenarnya ada satu langkah sederhana yang bisa dilakukan sejak awal menyimpan sperma sebelum terapi dimulai. Proses ini dikenal sebagai sperm cryopreservation yaitu pembekuan sperma untuk digunakan di masa depan. Secara konsep, ini seperti “menyimpan peluang”. Bukan untuk sekarang, tapi untuk nanti ketika kondisi sudah memungkinkan, dan keinginan untuk memiliki anak muncul.

Apa yang Terjadi di Lapangan? Sebuah studi besar yang menganalisis data dari 16 bank sperma di China selama lebih dari satu dekade mencoba melihat bagaimana praktik ini berjalan di dunia nyata. Hasilnya cukup menarik. Di satu sisi, jumlah pria dengan kanker yang mulai menyimpan sperma memang meningkat dari tahun ke tahun.
Ini menunjukkan bahwa kesadaran mulai tumbuh. Namun di sisi lain, jumlahnya masih jauh dari ideal. Banyak pasien terutama usia muda yang belum memanfaatkan kesempatan ini. Padahal faktanya adalah:

  • Pada beberapa jenis kanker, seperti kanker testis, kualitas sperma sudah lebih rendah sejak awal
  • Pada pasien leukemia, sebagian bahkan sudah tidak memiliki sperma sebelum terapi dimulai
  • Dan dari seluruh sperma yang disimpan, hanya sebagian kecil yang benar-benar digunakan

Saat seseorang baru didiagnosis kanker, waktu terasa sempit. Keputusan harus diambil cepat. Fokus tertuju pada pengobatan yang harus segera dimulai. Dalam kondisi seperti itu, pembicaraan tentang kesuburan sering kali terasa “tidak mendesak”. Padahal, justru di fase itulah waktu terbaik untuk mengambil keputusan terkait fertility preservation. Karena setelah terapi dimulai, pilihan itu bisa menjadi jauh lebih terbatas atau bahkan hilang sama sekali.

Menyimpan sperma bukan hanya tentang teknologi atau prosedur. Ini tentang memberikan ruang untuk harapan di masa depan. Bukan berarti semua orang pasti akan menggunakannya. Tapi setidaknya, pilihan itu tetap ada. Dan dalam perjalanan hidup yang penuh ketidakpastian, memiliki pilihan adalah sesuatu yang sangat berharga.

Kemajuan pengobatan kanker telah mengubah banyak hal. Dari yang dulu fokus pada “bertahan hidup”, sekarang mulai bergeser ke “bagaimana menjalani hidup setelahnya”. Kesuburan adalah bagian dari kualitas hidup itu.

Karena pada akhirnya, sembuh dari kanker bukan hanya tentang melewati penyakitnya tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa kembali merencanakan masa depan,
termasuk kemungkinan untuk membangun keluarga. Dan mungkin, semua itu bisa dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan di waktu yang tepat. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Liu, X., Wang, Q., Sheng, H., Liang, X., Wang, Z., Meng, T., … & Zhang, X. (2024). Fertility preservation in males with cancer of trends, region development, and efficacy in mainland China from 16 regions Chinese sperm banks. Journal of Assisted Reproduction and Genetics, 41(7), 1893-1906.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: anak, kangker, laki-laki, reproduksi

Stres Kerja dan Dampaknya terhadap Fertilitas, Niat Memiliki Anak, dan Terapi Infertilitas

January 21, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Stres kerja merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang paling umum di dunia modern. Tekanan pekerjaan yang tinggi, tuntutan produktivitas, konflik di tempat kerja, hingga rendahnya kontrol terhadap pekerjaan dapat memicu stres kronis pada pekerja. Berbagai laporan menunjukkan bahwa hampir sepertiga pekerja di negara maju mengalami stres kerja dalam tingkat yang signifikan. Dampaknya tidak hanya terbatas pada kesehatan fisik dan mental, tetapi juga merambah pada aspek kehidupan personal, termasuk kesehatan reproduksi.

Dampak stres kerja terhadap proses memiliki anak (childbearing) masih relatif jarang dibahas secara komprehensif. Dalam konteks ini, terdapat tiga komponen utama yang saling berkaitan, yaitu fertilitas, niat memiliki anak (fertility intention), dan proses pengobatan infertilitas. Ketiganya berperan penting dalam menentukan apakah seseorang atau pasangan dapat dan ingin memiliki anak. Namun, bukti ilmiah mengenai pengaruh stres kerja terhadap ketiga aspek tersebut masih menunjukkan hasil yang beragam dan bahkan kontradiktif. Baca lebih dalam yuk, kenapa ini terjadi?

Stres Kerja dan Pengaruhnya terhadap Sistem Reproduksi

Stres kerja dapat dipahami sebagai kondisi ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan individu untuk menghadapinya. Kondisi ini memicu respons fisiologis dan psikologis yang berkelanjutan, seperti peningkatan hormon stres, gangguan tidur, kelelahan emosional, serta perubahan perilaku sehari-hari.

Dalam jangka panjang, stres kerja telah dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan psikologis, penyakit kronis, dan penurunan daya tahan tubuh. Pengaruhnya terhadap sistem reproduksi sering kali kurang mendapat perhatian, padahal sistem ini sangat sensitif terhadap perubahan hormonal, kondisi psikologis, dan gaya hidup.

Lalu apa hubungannya antara Stres Kerja dan Fertilitas?

Stres kerja dapat memengaruhi fungsi reproduksi baik pada laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki, stres berkepanjangan berpotensi mengganggu keseimbangan hormon reproduksi dan kualitas sperma. Sementara itu, pada perempuan, stres dapat memengaruhi regulasi hormon, keteraturan siklus menstruasi, dan proses ovulasi.

Namun, pengaruh stres kerja terhadap fertilitas tidak selalu bersifat tunggal. Faktor lain seperti usia, kondisi kesehatan, dan gaya hidup sering kali berperan secara bersamaan, sehingga hubungan antara stres kerja dan fertilitas menjadi kompleks dan berlapis.

Selain memengaruhi fungsi biologis, stres kerja juga berdampak pada aspek psikososial, termasuk niat untuk memiliki anak. Tekanan pekerjaan, kelelahan mental, serta ketidakpastian ekonomi dapat menurunkan kesiapan individu atau pasangan untuk merencanakan kehamilan.

Stres kerja juga berkaitan dengan penurunan kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis. Dalam kondisi tersebut, keputusan terkait reproduksi sering kali ditunda atau bahkan dihindari, bukan semata karena faktor medis, tetapi karena pertimbangan emosional dan sosial.

Stres Kerja dan Proses Pengobatan Infertilitas

Untuk itu baik sister maupun paksu, yang menjalani pengobatan infertilitas stres kerja dapat menjadi tantangan tambahan. Tekanan pekerjaan dapat menghambat kepatuhan terhadap jadwal terapi, membatasi waktu untuk menjalani perawatan, serta memengaruhi kondisi psikologis selama proses pengobatan.

Di sisi lain, proses terapi infertilitas itu sendiri sering kali bersifat emosional dan menuntut, sehingga dapat memperburuk stres yang sudah ada. Interaksi antara stres kerja dan pengalaman infertilitas ini berpotensi membentuk siklus yang saling memengaruhi dan memperberat beban psikologis.

Mekanisme yang Mendasari Hubungan Stres Kerja dan Reproduksi

Secara fisiologis, stres kronis dapat memengaruhi sistem hormonal yang berperan dalam fungsi reproduksi. Perubahan kadar hormon, peningkatan stres oksidatif, serta gangguan pada proses biologis reproduksi merupakan mekanisme yang sering dikaitkan dengan stres berkepanjangan.

Dari sisi perilaku, stres kerja juga berhubungan dengan perubahan gaya hidup, seperti gangguan tidur, pola makan yang kurang sehat, penurunan aktivitas fisik, serta peningkatan kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol. Perubahan-perubahan ini secara tidak langsung dapat menurunkan peluang terjadinya kehamilan dan keberhasilan pengobatan infertilitas.

Stres kerja berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi melalui berbagai jalur, baik biologis, psikologis, maupun perilaku. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan fungsi fertilitas, tetapi juga dengan niat memiliki anak dan pengalaman menjalani pengobatan infertilitas.

Oleh karena itu, pengelolaan stres di tempat kerja menjadi isu penting, tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas pekerja, tetapi juga untuk mendukung kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga. Pendekatan yang melibatkan kebijakan organisasi, dukungan psikososial, serta kesadaran individu diperlukan untuk meminimalkan dampak jangka panjang stres kerja terhadap kehidupan reproduktif. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya

Referensi

  • Dehkordi, S. M., Khoshakhlagh, A. H., Yazdanirad, S., Mohammadian-Hafshejani, A., & Rajabi-Vardanjani, H. (2025). The effect of job stress on fertility, its intention, and infertility treatment among the workers: a systematic review. BMC public health, 25(1), 542.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: anak, infertilitas, Niat, Stress Kerja

Kenapa Usia Ayah Bisa Berpengaruh ke Perkembangan Anak?

January 10, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Dalam banyak percakapan tentang kehamilan, satu kalimat hampir selalu muncul lebih dulu:
“Jangan kelamaan, nanti susah hamil.” Dan hampir selalu, kalimat itu diarahkan ke perempuan.

Tubuh perempuan diukur, dihitung, dan diberi tenggat waktu.
Sementara tubuh pria sering dianggap “aman”, seolah usia tidak membawa konsekuensi biologis yang berarti.

Padahal, ilmu pengetahuan menunjukkan cerita yang lebih kompleks.
Usia ayah juga punya peran diam-diam, tapi nyata terhadap kualitas kehamilan dan perkembangan anak.

Sel Sperma Terus Bekerja, Tanpa Garis Finish

Berbeda dengan sel telur perempuan yang jumlahnya sudah ditentukan sejak lahir dan akan terus berkurang seiring waktu, sel sperma diproduksi terus-menerus sepanjang hidup pria.

Setiap hari, tubuh pria memproduksi jutaan sperma baru.
Dan untuk menghasilkan sperma tersebut, sel-sel induk di testis harus terus membelah dan memperbanyak diri.

Di sinilah perbedaan biologis yang penting terjadi

Setiap pembelahan sel adalah proses penyalinan materi genetik.
Dan dalam dunia biologi, tidak ada proses penyalinan yang benar-benar sempurna.

Pada usia muda, jumlah pembelahan masih relatif lebih sedikit.
Namun seiring bertambahnya usia, sel sperma telah mengalami ratusan bahkan ribuan kali pembelahan. Semakin sering sel membelah, semakin besar kemungkinan muncul kesalahan kecil yang dalam istilah ilmiah disebut mutasi baru (de novo mutations).

Error Kecil yang Tidak Selalu Sepele

Sebagian besar mutasi memang tidak langsung menimbulkan masalah.
Banyak yang “diam” dan tidak berdampak klinis. Namun penelitian menunjukkan bahwa pada usia ayah yang lebih matang, akumulasi error biologis ini bisa memengaruhi kualitas DNA sperma.

Kesalahan kecil pada level genetik ini dapat berdampak pada:

  • proses pembentukan embrio
  • perkembangan sistem saraf janin
  • regulasi fungsi otak di masa tumbuh kembang anak

Beberapa kondisi yang dalam literatur ilmiah lebih sering dikaitkan dengan advanced paternal age antara lain:

  • gangguan spektrum autisme
  • ADHD
  • skizofrenia
  • gangguan perkembangan neurokognitif tertentu

Penting untuk dipahami:
ini bukan vonis, bukan kepastian, dan bukan jaminan bahwa anak akan mengalami gangguan. Namun secara statistik, risikonya meningkat, dan itulah yang perlu dipahami secara jujur.

Mengapa Usia Ayah Jarang dibicarakan?

Salah satu alasannya adalah karena isu reproduksi selama ini lebih mudah “terlihat” pada perempuan.

Siklus haid berhenti terlihat.
Cadangan ovarium menurun bisa diukur.
Menopause datang jelas tandanya.

Sementara pada pria?, sperma tetap diproduksi, ejakulasi tetap terjadi, dan fungsi seksual sering kali masih baik. Dari luar, semuanya tampak “normal”.

Padahal, kualitas sperma tidak hanya soal jumlah dan pergerakan, tetapi juga:

  • integritas DNA
  • stabilitas materi genetik
  • kualitas biologis yang tidak selalu terdeteksi lewat pemeriksaan standar

Inilah mengapa usia ayah sering luput dari perhatian, baik dalam obrolan sosial maupun dalam diskusi promil sehari-hari.

Apa Artinya dalam Perjalanan Program Hamil?

Membicarakan usia ayah bukan untuk:

  • menyalahkan pria
  • menciptakan kecemasan baru
  • atau menambah beban psikologis pasangan

Sebaliknya, ini tentang membagi tanggung jawab reproduksi secara lebih adil dan ilmiah.

Dalam konteks promil, terutama bila usia ayah sudah lebih matang, pendekatan yang lebih menyeluruh menjadi penting tidak hanya fokus pada rahim dan ovarium, tetapi juga pada kualitas sperma dan kesehatan reproduksi pria

Dengan pemahaman ini, pasangan bisa:

  • mengambil keputusan dengan informasi yang lebih lengkap
  • tidak lagi memikul beban sendirian
  • dan berhenti menempatkan kesuburan sebagai “masalah perempuan semata”

Kehamilan adalah hasil dari dua tubuh, dua sistem biologis, dan dua perjalanan hidup.
Usia bukan sekadar angka baik pada perempuan maupun pria. Dengan memahami bahwa usia ayah juga membawa implikasi biologis, kita bisa membangun percakapan promil yang lebih jujur, lebih setara, dan lebih berempati. Bukan untuk menakut-nakuti. Bukan untuk mencari siapa yang terlambat. Tapi untuk berjalan bersama,dengan pengetahuan yang lebih utuh, dan harapan yang lebih sadar. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Janecka, M., Mill, J., Basson, M. A., Goriely, A., Spiers, H., Reichenberg, A., … & Fernandes, C. (2017). Advanced paternal age effects in neurodevelopmental disorders—review of potential underlying mechanisms. Translational psychiatry, 7(1), e1019-e1019.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: anak, faktor usia, infertilitas

ICSI dan Risiko Gangguan Perkembangan Anak: Apa yang Perlu Dipahami?

January 6, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sejak diperkenalkan pada awal 1990-an, intracytoplasmic sperm injection (ICSI) menjadi salah satu prosedur paling sering digunakan dalam teknologi reproduksi berbantu. Awalnya, teknik ini diciptakan untuk membantu pasangan dengan infertilitas pria berat, ketika sperma sangat sedikit atau sulit membuahi sel telur secara alami.

Namun, dalam praktik klinis modern, penggunaan ICSI meluas jauh dari tujuan awalnya. Saat ini, ICSI kerap digunakan hampir secara rutin dalam prosedur IVF, termasuk pada kasus infertilitas perempuan atau bahkan tanpa faktor infertilitas pria yang jelas. Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah penggunaan ICSI selalu aman bagi anak yang dilahirkan?

Infertilitas atau Prosedurnya?

Secara biologis, sperma bukan hanya pembawa DNA, tetapi juga membawa informasi epigenetik yang berperan dalam perkembangan embrio. Prosedur ICSI melewati proses seleksi alami sperma dan melibatkan manipulasi langsung terhadap sel telur. Secara teori, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan awal embrio, termasuk sistem saraf.

Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, sebuah studi besar berbasis populasi dilakukan di Taiwan, menggunakan data nasional yang sangat komprehensif.

Ketika Data Besar Membantu Menjernihkan Kekhawatiran

Dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran tentang dampak teknologi reproduksi berbantu terhadap kesehatan anak semakin sering muncul. Banyak pasangan bertanya-tanya: apakah masalah kesuburan orang tua bisa memengaruhi perkembangan anak di masa depan.

Salah satu temuan terpenting dari penelitian ini justru cukup menenangkan. Masalah kesuburan, baik pada perempuan maupun laki-laki, ternyata tidak secara otomatis meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada anak.

Anak-anak yang lahir dari pasangan infertil dan menjalani program hamil tanpa prosedur tertentu yang lebih invasif menunjukkan pola tumbuh kembang yang serupa dengan anak-anak dari kehamilan alami. Dengan kata lain, memiliki riwayat infertilitas bukan berarti masa depan anak akan dibayangi oleh risiko perkembangan yang lebih buruk.

Temuan ini membantu meluruskan anggapan yang selama ini sering muncul di tengah masyarakat, bahwa kesulitan hamil identik dengan risiko jangka panjang pada anak. Kenyataannya, tubuh manusia dan proses kehamilan jauh lebih kompleks, dan tidak semua intervensi atau kondisi membawa dampak yang sama.

ICSI dan Risiko yang Perlu Diperhatikan

Berbeda dengan ART tanpa ICSI, penggunaan ICSI menunjukkan hasil yang konsisten. Anak yang dikandung melalui ART dengan ICSI memiliki:

  • risiko ASD sekitar 2,5 kali lebih tinggi,
  • risiko developmental delay hampir 2 kali lebih tinggi.

Peningkatan risiko ini ditemukan baik pada pasangan dengan infertilitas pria maupun perempuan. Menariknya, risiko ADHD tidak meningkat secara signifikan, menunjukkan bahwa dampak ICSI mungkin lebih spesifik pada aspek tertentu dari perkembangan saraf.

Mengapa ICSI Bisa Berpengaruh? diantaranya dikarenakan oleh:

  • sperma dipilih dan disuntikkan secara manual, tanpa seleksi alami,
  • sperma dengan kualitas genetik atau epigenetik yang kurang optimal tetap dapat membuahi sel telur,
  • sel telur mengalami stres selama proses manipulasi,
  • serta kemungkinan perubahan regulasi epigenetik yang penting bagi perkembangan otak embrio.

Hal menarik lainnya adalah: ICSI tidak selalu meningkatkan angka keberhasilan kehamilan. Dalam studi ini, penggunaan ICSI tidak secara konsisten meningkatkan angka fertilisasi, kehamilan klinis, maupun kelahiran hidup dibandingkan ART tanpa ICSI baik pada infertilitas pria maupun perempuan. Ini menantang anggapan bahwa ICSI selalu menjadi pilihan “lebih aman dan lebih efektif”.

ICSI tetap sangat penting pada kondisi tertentu, seperti:

  • azoospermia,
  • oligozoospermia berat,
  • kegagalan fertilisasi berulang pada IVF konvensional.

Namun, penggunaan rutin ICSI tanpa indikasi yang jelas perlu dievaluasi kembali. Bagi pasangan, studi ini menegaskan bahwa informasi adalah hak. Risiko yang dilaporkan memang relatif kecil secara absolut, tetapi cukup bermakna secara ilmiah. Karena itu, keputusan promil idealnya dibuat melalui diskusi terbuka mengenai manfaat, risiko jangka panjang, dan alternatif prosedur yang tersedia.

Dalam dunia reproduksi berbantu, lebih invasif tidak selalu berarti lebih baik. Bukan hanya keberhasilan hamil yang perlu dipertimbangkan, tetapi juga kesehatan anak di masa depan.

ICSI adalah alat yang sangat membantu bila digunakan pada kondisi yang tepat. Seperti semua intervensi medis, kuncinya adalah penggunaan yang proporsional, bertanggung jawab, dan berpusat pada kebutuhan pasien. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Lo, H., Weng, S. F., & Tsai, E. M. (2022). Neurodevelopmental disorders in offspring conceived via in vitro fertilization vs intracytoplasmic sperm injection. JAMA Network Open, 5(12), e2248141.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: anak, gangguan, ICSI, risiko

Ketahui Peran Epigenetik Orangtua dalam Kesehatan dan Pengaruhnya pada Perkembangan Anak

January 19, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

 

 

Epigenetik, sebagai cabang ilmu yang mempelajari perubahan ekspresi genetik yang tidak melibatkan perubahan urutan DNA, menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan perilaku orang tua, khususnya ayah, dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan keturunan. MDG akan menjelaskan sedikit dari pembahasan apa yang dimaksud dengan peran yang begitu dahsyat dari epigenetik. Baca sampai habis ya!

Apa yang dimaksud dengan Epigenetik

Menurut CDC, epigenetik adalah studi yang mempelajari bagaimana perilaku dan lingkungan seseorang dapat mengubah gen di dalam tubuh.

Gen adalah unit fisik dan fungsional dasar hereditas, yakni penurunan sifat genetik dari orang tua ke anak. Gen terdiri dari DNA dan beberapa gen yang bertindak sebagai pengintruksi untuk membuat molekul yang disebut dengan protein.

Perubahan cara kerja gen ini tidak sama dengan perubahan gen yang dikenal juga dengan sebutan mutasi gen. Epigenetik bersifat reversibel, yakni tidak mengubah urutan DNA. Akan tetapi, mengubah cara tubuh dalam membaca urutan DNA. Selain itu, perubahan ini mengarah pada ekspresi gen yang mengacu pada seberapa sering atau kapan protein dibuat dari intruksi di dalam gen. Sementara mutasi gen dapat mengubah protein akan dibuat. Sederhananya, epigenetik tidak mengubah gen tapi hanya mengubah cara kerja gen. Lalu perubahan tersebut disebabkan oleh apa? salah satunya adalah melalui nutrisi yang dikonsumsi.

Apakah ada dampaknya pada keturunan di Masa akan datang?

Prof. Dr. Jose Gutierrez Marcos dari School of Life Warwick University UK mengatakan bahwa asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh dapat mengubah DNA dan perubahan tersebut akan diturunkan kepada anak-cucu. Perubahan yang terjadi berupa perubahan lingkungan DNA atau epigenetik. Bahkan perubahan tersebut baru akan terlihat pada generasi kedua dari nenek ke cucunya. Wah bayangkan saja jika apa yang kita konsumsi akan berpengaruh pada anak cucu di kemudian hari

Bagaimana Cara Menghindari hal tersebut?

Setidaknya sudah bisa mengurangi kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol, bahkan pada laki-laki hal tersebut dapat menyebabkan perubahan epigenetik pada sperma. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas kesehatan anak, bahkan jika ibu tidak terlibat dalam kebiasaan tersebut. Misalnya, anak-anak dari ayah yang merokok beresiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan seperti gangguan perkembangan otak dan berat badan lahir rendah akibat Fetal Alcohol Syndrome.

Yang kedua adalah perihal  pola makan, penelitian menunjukkan bahwa diet yang buruk, seperti kekurangan nutrisi tertentu, Misalnya, kekurangan folat dapat mengakibatkan cacat kerangka pada keturunan. Sebaliknya, pola makan sehat dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2 pada anak.

Bagaimana sister dan paksu sudah dapat dipahami bagaimana dampak yang signifikan pada pola hidup yang buruk? mulai saat ini seharusnya penting untuk mulai sadar akan pentingnya gaya hidup sehat bagi orangtua tidak hanya bermanfaat bagi diri mereka sendiri tetapi juga bagi kesehatan anak-anak mereka di masa depan. Informasi menarik lainnya sister dapat baca di Instagram kami @menujuduagaris.id

Referensi 

  • https://www.medicalogy.com/blog/peran-ayah-ternyata-sangat-penting-untuk-kesehatan-bayi-ini-penjelasannya/
  • https://ugm.ac.id/id/berita/13638-pola-makan-memengaruhi-kondisi-genetik-keturunan/
  • https://komunitas.schoolofparenting.id/vod/single/epigenetik-peran-pengalaman-masa-bertumbuh-terhadap-dna
  • https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/epigenetik/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: anak, epigenetik, keturunan, orangtua

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.