• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

epigenetik

Ketika Embrio Tampak Baik, Tapi Kehamilan Tak Kunjung Datang: Peran Sunyi Epigenetik Sperma dalam Kegagalan FET

January 14, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pada beberapa pasangan, perjalanan menuju kehamilan terasa seperti berjalan di lorong yang tenang. Embrio sudah terbentuk, dibekukan dengan kualitas yang tampak baik, rahim dipersiapkan optimal, dan prosedur FET dijalankan sesuai protokol. Namun setelah transfer dilakukan, hasilnya tetap sama. Tidak ada kehamilan. Tidak ada penjelasan yang benar-benar memuaskan.

Kondisi ini sering disebut sebagai infertilitas yang “tidak terjelaskan”. Padahal, pada sebagian kasus, persoalannya tidak berada pada rahim atau kualitas embrio yang tampak secara visual, melainkan pada informasi biologis yang dibawa sperma sejak awal.

Sperma Normal Tidak Selalu Berarti Sehat Secara Genetik

Dalam pemeriksaan rutin, sperma bisa terlihat normal: jumlah cukup, bentuk baik, dan pergerakan optimal. Namun dibalik itu, ada proses penting yang kerap luput diperhatikan, yaitu bagaimana DNA sperma dipadatkan dan distabilkan selama spermiogenesis. Secara normal, sebagian besar histon digantikan oleh protamin agar DNA terlindungi dengan rapat.

Pada sebagian pria infertil, proses ini tidak berlangsung sempurna. Sejumlah histon tetap tertahan di dalam kromatin sperma, membawa tanda epigenetik tertentu. Retensi histon ini bukan sekadar variasi biologis, tetapi berkaitan erat dengan stabilitas DNA sperma.

Retensi Histon, DNA Fragmentation, dan Kualitas Embrio

Sebuah temuan menarik menunjukkan bagaimana ejakulat normozoospermia pria infertil, terdapat variasi retensi histon yang signifikan, khususnya histon H3 dan modifikasi epigenetik seperti H3K27Me3 dan H4K20Me3. Sperma dengan retensi histon yang lebih tinggi ditemukan memiliki tingkat DNA fragmentation yang meningkat.

Dampaknya tidak berhenti pada tahap fertilisasi. Meskipun sperma tersebut masih mampu membuahi oosit, embrio yang terbentuk menunjukkan penurunan kualitas, penurunan tingkat fertilitas yang efektif, serta penurunan angka kehamilan klinis setelah transfer embrio. Ini menunjukkan bahwa epigenetik sperma ikut menentukan perilaku dan perkembangan embrio, bahkan setelah proses pembekuan dan pencairan pada FET.

Mengapa Ini Relevan pada Kasus FET?

Dalam konteks FET, embrio sering dinilai layak berdasarkan morfologi dan perkembangan awal. Namun embrio juga membawa “memori biologis” dari sperma yang membentuknya. Jika sejak awal sperma mengalami gangguan pemadatan kromatin dan kerusakan DNA, maka tantangan bisa muncul pada fase lanjutan: implantasi, metabolisme embrio, hingga keberlanjutan kehamilan.

Karena itu, kegagalan FET berulang tidak selalu berarti masalah ada pada rahim atau embrio semata. Pada sebagian kasus, ia berakar pada faktor epigenetik sperma yang bekerja secara diam-diam, namun berdampak nyata.

Infertilitas Pria yang Tidak Lagi Benar-Benar “Tidak Terjelaskan” Hubungan antara retensi histon abnormal dan DNA fragmentation menempatkan kondisi ini sebagai bagian dari idiopathic male infertility berbasis epigenetik. Ia jarang terdeteksi lewat pemeriksaan standar, tetapi berkontribusi terhadap kegagalan kehamilan, termasuk pada prosedur FET. Infertilitas, dalam konteks ini, bukan sekadar soal bisa atau tidaknya terjadi pembuahan, melainkan tentang kualitas informasi biologis yang diwariskan sejak awal kehidupan embrio. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujudugaris.id

Referensi

  • Pandya, R. K., Jijo, A., Cheredath, A., Uppangala, S., Salian, S. R., Lakshmi, V. R., … & Adiga, S. K. (2024). Differential sperm histone retention in normozoospermic ejaculates of infertile men negatively affects sperm functional competence and embryo quality. Andrology, 12(4), 881-890.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: epigenetik, FET, sperma

Mengungkap Peran Epigenetik dan RNA dalam Infertilitas Pria

May 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas pria bukan lagi sekadar soal “jumlah sperma sedikit” atau “sperma nggak kuat berenang.” Faktanya, kondisi ini jauh lebih rumit. Banyak kasus infertilitas paksu yang penyebab pastinya nggak jelas dan itu membuat penanganannya juga jadi nggak semudah “minum obat ini, tapi butuh analisa lebih lanjut.

Yang lebih tidak umum lagi yang harus paksu tahu bahwa penurunan jumlah sperma pada pria di seluruh dunia bukan cuma soal kesuburan. Bayangkan saja badan yang tidak sehat tentu memberi pengaruh pada organ lainnya seperti dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian, penyakit kronis, bahkan kanker. Ini bukan masalah kecil. Yuk kita pahami lebih lanjut!

Pentingnya RNA dalam Sperma

Penelitian terbaru mulai menyoroti peran epigenetik—cara gen “dinyalakan atau dimatikan” tanpa mengubah kode DNA-nya. Selain itu, RNA dalam sperma juga jadi sorotan. RNA dalam sperma bukan sekadar sisa dari proses pembentukan sel, tapi ternyata punya peran penting dalam kesuburan dan perkembangan awal embrio. Beberapa jenis RNA yang ditemukan antara lain mRNA, miRNA, piRNA, tRNA fragments, dan lncRNA. 

Mereka berfungsi untuk mengatur ekspresi gen, menjaga stabilitas DNA, dan bahkan bisa memengaruhi perkembangan embrio setelah pembuahan. Jadi, selain membawa DNA, sperma juga membawa “bekal molekuler” yang bisa berdampak besar pada kualitas embrio dan keberhasilan kehamilan.

RNA pengkode maupun non-pengkode berperan besar dalam:

  • Proses pematangan sperma 
  • Proses pembuahan (fertilisasi) 
  • Perkembangan awal embrio

Bayangkan kalau RNA-nya rusak atau nggak berfungsi dengan baik meskipun spermanya kelihatan sehat di mikroskop, bisa saja gagal bikin embrio berkembang atau menghasilkan kehamilan yang berhasil.

Fakta yang Harus Kita Tahu!

  • Spermanya sehat kok, berarti subur. Belum tentu karena sperma bisa terlihat normal tapi gagal bekerja karena gangguan di level epigenetik atau RNA. 
  • Infertilitas pria cuma soal sperma lemah. Faktanya, bisa jadi ada masalah molekuler yang tak terlihat secara kasat mata. 
  • Infertilitas solusinya adalah bayi tabung. Teknologi reproduksi bantu memang bisa jadi solusi, tapi yang harus diketahui adalah masalahnya secara personal agar dapat disesuaikan solusi apa yang dapat dilakukan

 

Infertilitas pria bukan hal sederhana. Ia bisa menjadi penanda dari masalah kesehatan yang lebih besar. Dengan terus berkembangnya penelitian tentang epigenetik dan RNA sperma, harapannya kita bisa memahami dan menangani infertilitas pria dengan lebih tepat, efektif, dan personal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Leggio, L., Paternò, G., Cavallaro, F., Falcone, M., Vivarelli, S., Manna, C., … & Iraci, N. (2025). Sperm epigenetics and sperm RNAs as drivers of male infertility: truth or myth?. Molecular and Cellular Biochemistry, 480(2), 659-682.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: epigenetik, genetik, infertilitas, laki-laki, RNA, sperma

Ketahui Peran Epigenetik Orangtua dalam Kesehatan dan Pengaruhnya pada Perkembangan Anak

January 19, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

 

 

Epigenetik, sebagai cabang ilmu yang mempelajari perubahan ekspresi genetik yang tidak melibatkan perubahan urutan DNA, menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan perilaku orang tua, khususnya ayah, dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan keturunan. MDG akan menjelaskan sedikit dari pembahasan apa yang dimaksud dengan peran yang begitu dahsyat dari epigenetik. Baca sampai habis ya!

Apa yang dimaksud dengan Epigenetik

Menurut CDC, epigenetik adalah studi yang mempelajari bagaimana perilaku dan lingkungan seseorang dapat mengubah gen di dalam tubuh.

Gen adalah unit fisik dan fungsional dasar hereditas, yakni penurunan sifat genetik dari orang tua ke anak. Gen terdiri dari DNA dan beberapa gen yang bertindak sebagai pengintruksi untuk membuat molekul yang disebut dengan protein.

Perubahan cara kerja gen ini tidak sama dengan perubahan gen yang dikenal juga dengan sebutan mutasi gen. Epigenetik bersifat reversibel, yakni tidak mengubah urutan DNA. Akan tetapi, mengubah cara tubuh dalam membaca urutan DNA. Selain itu, perubahan ini mengarah pada ekspresi gen yang mengacu pada seberapa sering atau kapan protein dibuat dari intruksi di dalam gen. Sementara mutasi gen dapat mengubah protein akan dibuat. Sederhananya, epigenetik tidak mengubah gen tapi hanya mengubah cara kerja gen. Lalu perubahan tersebut disebabkan oleh apa? salah satunya adalah melalui nutrisi yang dikonsumsi.

Apakah ada dampaknya pada keturunan di Masa akan datang?

Prof. Dr. Jose Gutierrez Marcos dari School of Life Warwick University UK mengatakan bahwa asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh dapat mengubah DNA dan perubahan tersebut akan diturunkan kepada anak-cucu. Perubahan yang terjadi berupa perubahan lingkungan DNA atau epigenetik. Bahkan perubahan tersebut baru akan terlihat pada generasi kedua dari nenek ke cucunya. Wah bayangkan saja jika apa yang kita konsumsi akan berpengaruh pada anak cucu di kemudian hari

Bagaimana Cara Menghindari hal tersebut?

Setidaknya sudah bisa mengurangi kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol, bahkan pada laki-laki hal tersebut dapat menyebabkan perubahan epigenetik pada sperma. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas kesehatan anak, bahkan jika ibu tidak terlibat dalam kebiasaan tersebut. Misalnya, anak-anak dari ayah yang merokok beresiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan seperti gangguan perkembangan otak dan berat badan lahir rendah akibat Fetal Alcohol Syndrome.

Yang kedua adalah perihal  pola makan, penelitian menunjukkan bahwa diet yang buruk, seperti kekurangan nutrisi tertentu, Misalnya, kekurangan folat dapat mengakibatkan cacat kerangka pada keturunan. Sebaliknya, pola makan sehat dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2 pada anak.

Bagaimana sister dan paksu sudah dapat dipahami bagaimana dampak yang signifikan pada pola hidup yang buruk? mulai saat ini seharusnya penting untuk mulai sadar akan pentingnya gaya hidup sehat bagi orangtua tidak hanya bermanfaat bagi diri mereka sendiri tetapi juga bagi kesehatan anak-anak mereka di masa depan. Informasi menarik lainnya sister dapat baca di Instagram kami @menujuduagaris.id

Referensi 

  • https://www.medicalogy.com/blog/peran-ayah-ternyata-sangat-penting-untuk-kesehatan-bayi-ini-penjelasannya/
  • https://ugm.ac.id/id/berita/13638-pola-makan-memengaruhi-kondisi-genetik-keturunan/
  • https://komunitas.schoolofparenting.id/vod/single/epigenetik-peran-pengalaman-masa-bertumbuh-terhadap-dna
  • https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/epigenetik/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: anak, epigenetik, keturunan, orangtua

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.