• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

bayi tabung

Memahami Adenomyosis dan Dampaknya terhadap Kesuburan serta Program Bayi Tabung

January 13, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Adenomyosis sering kali datang diam-diam. Pada sebagian perempuan, ia muncul sebagai nyeri haid yang makin berat, perdarahan menstruasi berlebihan, atau rasa tidak nyaman saat berhubungan. Namun pada sebagian lainnya, adenomyosis baru terungkap setelah perjalanan panjang menuju kehamilan tak kunjung berhasil.

Sister dapat memahami secara sederhana, adenomyosis adalah kondisi ketika jaringan yang seharusnya melapisi bagian dalam rahim justru tumbuh menembus otot rahim. Akibatnya, struktur rahim berubah, lingkungan tempat embrio menempel terganggu, dan proses kehamilan menjadi lebih menantang. Pahami lebih lanjut yuk!

Adenomyosis Bukan Sekadar “Rahim Membesar”

Dulu, adenomyosis sering baru terdiagnosis setelah histerektomi. Sekarang, berkat kemajuan USG resolusi tinggi dan MRI, kondisi ini semakin sering dikenali bahkan pada perempuan usia reproduktif yang masih ingin hamil.

Menariknya, adenomyosis tidak selalu berdiri sendiri. Ia sering berjalan berdampingan dengan endometriosis atau miom. Meski mirip, adenomyosis dan endometriosis adalah dua kondisi yang berbeda, dengan jalur penyakit dan dampak klinis yang tidak sepenuhnya sama.

Apa yang Terjadi di Dalam Rahim?

Rahim bukan sekadar “wadah”. Ia adalah organ yang sangat aktif dan dinamis. Di dalamnya ada lapisan otot khusus yang bertugas mengatur kontraksi halus untuk membantu sperma mencapai sel telur, sekaligus menciptakan kondisi tenang saat embrio akan menempel.

Pada adenomyosis, keseimbangan ini terganggu. Otot rahim bisa berkontraksi terlalu kuat atau tidak terarah. Lingkungan hormon menjadi lebih kaya estrogen, tetapi justru kurang responsif terhadap progesteron hormon kunci untuk mempertahankan kehamilan. Akibatnya, rahim menjadi kurang “ramah” bagi embrio.

Mengapa Adenomyosis Bisa Mengganggu Kesuburan?

Gangguan kesuburan pada adenomyosis bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Ia adalah hasil dari berbagai perubahan yang terjadi bersamaan:

Peradangan kronis di dalam rahim membuat proses implantasi menjadi tidak optimal. Molekul-molekul yang seharusnya membantu embrio menempel justru menurun jumlah atau fungsinya. Sistem imun di rahim menjadi kurang toleran terhadap kehadiran embrio. Bahkan struktur mikroskopik permukaan endometrium pun bisa berubah, sehingga embrio kesulitan “berlabuh”.

Selain itu, kontraksi rahim yang berlebihan dapat mengganggu pergerakan sperma, embrio, bahkan meningkatkan risiko keguguran dini.

Bagaimana dengan Kualitas Sel Telur dan Embrio?

Berbeda dengan endometriosis, dampak adenomyosis terhadap kualitas sel telur dan kromosom embrio masih belum sepenuhnya jelas. Sebagian besar masalah tampaknya lebih berkaitan dengan lingkungan rahim, bukan embrionya sendiri. Inilah sebabnya, pada banyak kasus, embrio yang secara genetik baik tetap gagal berkembang karena rahim belum siap menerima.

Adenomyosis dan Program Bayi Tabung

Pada pasien yang menjalani program bayi tabung (IVF), adenomyosis diketahui berkaitan dengan angka kehamilan yang lebih rendah dan risiko keguguran yang lebih tinggi. Namun kabar baiknya, hasil ini tidak mutlak.

Beberapa strategi terbukti membantu memperbaiki peluang, terutama dengan menyiapkan rahim terlebih dahulu. Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah pemberian obat penekan hormon (GnRH agonist) sebelum transfer embrio. Tujuannya bukan hanya mengecilkan lesi adenomyosis, tetapi juga menenangkan lingkungan rahim dan menurunkan peradangan.

Pendekatan lain yang banyak digunakan adalah transfer embrio beku (frozen embryo transfer). Dengan cara ini, embrio dipindahkan ke rahim pada waktu ketika kondisi rahim sudah lebih stabil dan siap.

Peran Operasi: Tidak Selalu Pilihan Pertama

Pada kasus tertentu, operasi pengangkatan jaringan adenomyosis dapat meningkatkan peluang hamil. Namun ini bukan keputusan ringan. Operasi harus mempertimbangkan luas penyakit, usia pasien, riwayat kegagalan program hamil, serta risiko kehamilan di masa depan, seperti ruptur rahim.

Karena itu, operasi biasanya dipertimbangkan hanya pada kasus terpilih dan dilakukan oleh dokter dengan pengalaman khusus dalam bedah konservatif rahim.

Bisakah Prognosis Diprediksi?

Saat ini, dokter mulai menggunakan gambaran USG, MRI, dan penanda darah seperti CA-125 untuk memperkirakan berat-ringannya adenomyosis dan peluang keberhasilan terapi. Semakin luas keterlibatan rahim dan semakin banyak ciri adenomyosis pada pencitraan, biasanya tantangan kehamilan juga lebih besar.

Namun tetap perlu diingat, setiap rahim punya cerita sendiri. Tidak semua adenomyosis berarti mustahil hamil.

Adenomyosis adalah kondisi kompleks yang memengaruhi kesuburan melalui perubahan hormon, peradangan, sistem imun, dan dinamika rahim itu sendiri. Ia bukan sekadar masalah anatomi, melainkan gangguan ekosistem reproduksi.

Pendekatan yang paling menjanjikan bukan solusi tunggal, melainkan strategi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing perempuan baik melalui terapi hormonal, pengaturan waktu transfer embrio, maupun tindakan bedah terpilih.

Yang terpenting, adenomyosis bukan akhir dari harapan. Dengan pemahaman yang lebih baik dan penanganan yang tepat, peluang kehamilan tetap bisa diperjuangkan dengan langkah yang lebih terarah dan penuh empati. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Wu, H. M., Tsai, T. C., Liu, S. M., Pai, A. H. Y., & Chen, L. H. (2024). The current understanding of molecular mechanisms in adenomyosis-associated infertility and the treatment strategy for assisted reproductive technology. International Journal of Molecular Sciences, 25(16), 8937.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Adenomyosis, bayi tabung, kesuburan

Kenali Prosedur Teknologi Reproduksi berbantuan (ART) IVF dan ICSI Sebelum melakukan Program Hamil

January 27, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Bagi sister dan paksu yang sedang mengalami infertilitas, dan akan segera membuat keputusan untuk program. Baik secara alami maupun berbantuan, jangan lupa untuk memahami mulai dari perbedaan dan bagaimana temuan-temuan dengan kasus yang serupa agar menjadi pendukung dalam mempertimbangkan. MDG akan menjelaskan bagaimana prosedur yang paling umum digunakan yaitu IVF dan ICSI

Tentang Prosedur IVF dan ICSI

IVF singkatan dari ‘fertilisasi in-vitro’ dan ICSI ‘injeksi sperma intrasitoplasma’. Kedua perawatan ini hadir sebagai konsepsi berbantuan. Pada prosedur IVF melibatkan pengambilan sel telur dari pasien wanita menggunakan jarum yang dimasukkan melalui vagina dan ke dalam setiap ovarium di bawah bimbingan USG. Prosedur ini dilakukan dengan sedasi jadi tidak akan merasakan sakit apa pun. Sel telur kemudian dicampur dengan sperma dalam cawan laboratorium, dan diperiksa setelah 16-20 jam untuk melihat apakah sperma telah membuahi sel telur secara alami. Jika perawatan berhasil, sel telur yang telah dibuahi akan berkembang di laboratorium selama dua hingga lima hari sebelum dipindahkan ke rahim. 

Sedangkan ICSI atau intracytoplasmic sperm injection adalah prosedur penyuntikan satu sperma hidup ke pusat sel telur (sitoplasma) yang telah matang. Prosedur ini dilakukan bertujuan untuk meningkatkan peluang keberhasilan In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung. Prosedur ICSI ini dilakukan ketika IVF konvensional tidak membuahkan hasil yang maksimal. 

Kapan ICSI digunakan?

Pada sebuah penelitian dengan judul “Opportunities and Limits of Conventional IVF versus ICSI: It Is Time to Come off the Fence” menunjukkan bagaimana metode Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) semakin banyak digunakan, termasuk pada kasus infertilitas yang bukan disebabkan oleh faktor laki-laki. Salah satu alasan utama adalah untuk mengurangi risiko kegagalan fertilisasi total (total fertilization failure atau TFF), yaitu kondisi ketika sel telur tidak berhasil dibuahi. TFF sendiri merupakan hasil yang sangat mengecewakan, baik bagi pasien maupun tenaga medis, dengan resiko terjadi sekitar 5-20% dalam siklus IVF konvensional (c-IVF).

Dari penjelasan singkat tersebut, bagaimana memahami prosedur In Vitro Fertilization (IVF) dan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) menjadi penting sebelum memulai program kehamilan berbantuan. Setiap metode memiliki kelebihan, kekurangan, dan indikasi khusus yang perlu disesuaikan dengan kondisi sister dan paksu. Sehingga konsultasi dengan tenaga medis yang kompeten sangat dianjurkan untuk menentukan metode yang paling sesuai, sehingga peluang keberhasilan dapat dimaksimalkan. Yuk ambil langkah sister dan paksu, bisa dengan mengikuti forum Morula Fertility Bootcamp yang akan MDG adakan untuk PDG di februari mendatang. Informasi lainnya dapat sister dan paksu akses di Instagram kami @menujuduagaris.id

Referensi 

  • https://www.morulaivf.co.id/id/blog/apa-itu-icsi-dan-bagaimana-prosedur-ini-dilakukan/
  • https://www.fertility-academy.co.uk/blog/whats-the-difference-between-ivf-and-icsi/
  • Balli, M., Cecchele, A., Pisaturo, V., Makieva, S., Carullo, G., Somigliana, E., … & Vigano’, P. (2022). Opportunities and limits of conventional IVF versus ICSI: it is time to come off the fence. Journal of Clinical Medicine, 11(19), 5722.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: bayi tabung, ICSI, IVF

Apakah Prosedur Physiological Intracytoplasmic Sperm Injection ( PICSI ) Berdampak Signifikan pada Pemilihan Sperma?

January 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Program IVF memiliki banyak prosedur selama program dilaksanakan salah satunya adalah Prosedur Physiological Intracytoplasmic Sperm Injection (PICSI). Ia hadir sebagai teknik inovatif dalam teknologi reproduksi berbantu yang dirancang untuk meningkatkan pemilihan sperma berkualitas sebelum proses fertilisasi. MDG lebih lanjut membahas, agar sister dan paksu dapat mempertimbangkan apakah prosedur ini dapat digunakan. Baca sampai habis ya!

Pengertian PICSI

Physiological Intracytoplasmic Sperm Injection (PICSI) adalah teknik yang digunakan untuk memilih sperma yang akan digunakan dalam perawatan Intracytoplasmic sperm injection(ICSI). Teknik ini melibatkan penempatan sperma dengan hyaluronic acid (HA), senyawa alami yang ditemukan dalam tubuh. PICSI mengidentifikasi sperma yang dapat mengikat HA dan sperma ini dipilih untuk digunakan dalam perawatan.

Kapan PICSI mungkin diperlukan?
ICSI dan PICSI merupakan perawatan yang mungkin diindikasikan untuk infertilitas Faktor Pria dalam kasus-kasus diantaranya adalah ketika skor HBA pada penilaian air mani kurang dari 65%, yang menunjukkan berkurangnya kadar sperma matang dalam sampel. Begitu juga jika terjadi pada pasangan dengan keguguran berulang atau mereka dengan embrio yang lambat atau tidak berkembang dengan baik juga dapat memperoleh manfaat dari PICSI. 

Mengapa pasangan perlu melakukan PICSI ?

Faktanya bahwa Ahli embriologi tidak dapat melakukan pengecekan sperma hanya dengan melihat melalui mikroskop, seperti dalam prosedur ICSI rutin, karena sperma yang matang dan yang belum matang akan memiliki tampilan yang sama.

Sehingga prosedur PICSI, membantu embriolog untuk membedakan antara sperma matang yang telah menyelesaikan perkembangan penuhnya dan sperma yang belum matang yang lebih mungkin memiliki DNA yang rusak atau jumlah kromosom yang salah. 

Dalam prosedur PICSI, Ahli Embriologi hanya akan menggunakan sperma yang matang untuk disuntikkan langsung ke dalam sel telur yang matang. Setelah PICSI, sel telur yang disuntikkan diinkubasi semalaman dan dinilai keesokan paginya untuk mengetahui bukti pembuahan. Tingkat pembuahan rata-rata setelah PICSI serupa dengan ICSI dan IVF, dengan 60-70% sel telur yang disuntikkan membuahi secara normal setelah PICSI.

Dari penjelasan tersebut, faktanya prosedur PICSI menawarkan pendekatan yang lebih efektif dalam pemilihan sperma untuk prosedur IVF, dengan manfaat signifikan dalam meningkatkan kualitas embrio dan tingkat keberhasilan kehamilan. Penggunaan hyaluronic acid sebagai alat seleksi memberikan keuntungan dalam memilih sperma dengan potensi fertilisasi terbaik, sister dan paksu dapat memutuskan prosedur tersebut, jika kiranya sesuai dengan kebutuhan dan atas saran dari dokter. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • https://www.hfea.gov.uk/treatments/treatment-add-ons/physiological-intracytoplasmic-sperm-injection-picsi/
  • https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10258512/
  • https://hertsandessexfertility.com/treatments/physiological-icsi-picsi/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: analisa sperma, bayi tabung, IVF, PICSI

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Apa yang Terjadi di Ovarium Hari demi Hari: Memahami Perjalanan Sel Telur Sebelum Ovulasi
  • Sindrom Kallmann: Ketika Gangguan Penciuman Berkaitan dengan Kesuburan Mengenal Sindrom Kallmann
  • Mengapa Cadangan Ovarium Bisa Menurun Lebih Cepat?
  • Bagaimana Peran DNA dalam Infertilitas Perempuan
  • Apakah Operasi Ovarium Bisa Memengaruhi Pertumbuhan Folikel?

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.