
Endometriosis selama ini dikenal sebagai penyakit inflamasi kronis yang sering dikaitkan dengan nyeri panggul dan infertilitas. Tapi yang sering luput dibahas adalah:
endometriosis ternyata punya hubungan erat dengan infeksi panggul atau Pelvic Inflammatory Disease (PID). Menariknya, hubungan ini bukan satu arah. Bukan cuma endometriosis meningkatkan risiko infeksi, Tapi juga infeksi panggul bisa meningkatkan risiko endometriosis. Inilah yang disebut sebagai bidirectional relationship hubungan dua arah yang saling memengaruhi.
Kenapa Dua Kondisi Ini Sering “Datang Barengan”
Baik endometriosis maupun PID sama-sama merupakan kondisi inflamasi di area panggul. PID sendiri adalah infeksi pada organ reproduksi bagian atas seperti rahim, tuba falopi dan ovarium, Bahkan dalam banyak penelitian, ditemukan bahwa pasien dengan endometriosis lebih sering mengalami PID, pasien dengan PID juga punya risiko lebih tinggi mengalami endometriosis
Bahkan, risiko endometriosis bisa meningkat hingga 3–4 kali lipat pada pasien dengan riwayat PID. Artinya, dua kondisi ini bukan kebetulan muncul bersamaan tapi memang punya “jalur biologis” yang saling terhubung.
Mengapa ini Bisa Terjadi?
Endometriosis tidak hanya berdampak pada nyeri atau gangguan hormon, tetapi juga dapat mengubah struktur anatomi panggul secara signifikan. Kondisi ini sering menyebabkan perlengketan (adhesi), fibrosis, serta perubahan posisi dan bentuk organ reproduksi. Akibatnya, area panggul menjadi “tidak normal” dan justru lebih rentan menjadi tempat berkembangnya bakteri. Menariknya, pola perubahan anatomi ini mirip dengan yang terjadi pada pelvic inflammatory disease (PID), sehingga keduanya memiliki mekanisme kerusakan yang saling berkaitan.
Selain perubahan struktur, endometriosis juga menciptakan lingkungan biologis yang mendukung pertumbuhan bakteri. Pada kasus kista endometriosis (endometrioma), terdapat darah lama yang terperangkap di dalam jaringan. Darah ini bukan bersifat netral, melainkan dapat menjadi sumber nutrisi sekaligus media ideal bagi mikroorganisme untuk berkembang. Secara tidak langsung, kondisi ini membuat tubuh seperti “menyediakan tempat” bagi bakteri untuk bertahan dan tumbuh.
Di sisi lain, terjadi pula ketidakseimbangan mikrobiota atau dysbiosis. Dalam kondisi normal, tubuh memiliki bakteri baik seperti Lactobacillus yang berperan menjaga keseimbangan lingkungan reproduksi. Namun pada endometriosis, jumlah bakteri baik ini cenderung menurun, sementara bakteri patogen meningkat. Ketidakseimbangan ini meningkatkan risiko infeksi, memperparah inflamasi, dan membuat lingkungan reproduksi menjadi tidak stabil. Dalam kondisi tertentu, hal ini bahkan dapat berkembang menjadi PID hingga komplikasi serius seperti abses ovarium (tubo-ovarian abscess/TOA).
Gangguan ini juga diperparah oleh sistem imun yang tidak bekerja secara optimal. Pada endometriosis, sel-sel imun sering kali tidak efektif dalam membersihkan jaringan abnormal, sementara respons imun menjadi tidak seimbang dan cenderung memicu inflamasi kronis. Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Di sisi lain, PID juga melibatkan gangguan pada sistem imun, sehingga kedua kondisi ini bertemu pada satu titik yang sama: lemahnya pertahanan tubuh terhadap infeksi.
Lebih dalam lagi, terdapat peran epigenetik yang turut memengaruhi kondisi ini. Perubahan epigenetik dapat mengubah cara gen bekerja, memengaruhi keseimbangan hormon, serta memperkuat proses inflamasi. Pada endometriosis, sering terjadi dominasi estrogen dan resistensi terhadap progesteron, yang membuat inflamasi lebih mudah terjadi dan respons terhadap infeksi menjadi kurang optimal. Menariknya, infeksi itu sendiri juga dapat memicu perubahan epigenetik, sehingga terbentuk sebuah siklus yang saling memperburuk: endometriosis mempermudah infeksi, sementara infeksi memperparah kondisi endometriosis.
Dari berbagai mekanisme ini, terlihat bahwa endometriosis dan PID dapat saling memperkuat satu sama lain dalam sebuah lingkaran yang sulit diputus. Endometriosis meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, sementara infeksi memperburuk inflamasi dan progresivitas penyakit. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat berkembang menjadi komplikasi seperti abses ovarium, nyeri kronis, infertilitas, hingga kekambuhan berulang.
Inilah mengapa penting untuk memahami bahwa endometriosis bukan hanya masalah hormon atau nyeri semata, tetapi juga berkaitan erat dengan infeksi dan sistem imun. Pendekatan penanganannya tidak bisa dilakukan secara satu arah, melainkan perlu mempertimbangkan kontrol inflamasi, keseimbangan mikrobiota, fungsi sistem imun, serta risiko infeksi secara keseluruhan. Karena pada akhirnya, apa yang terlihat sebagai “masalah hormon” sering kali melibatkan interaksi kompleks antara lingkungan mikro dan sistem pertahanan tubuh.
Referensi
- Kobayashi, H. (2023). Similarities in pathogenetic mechanisms underlying the bidirectional relationship between endometriosis and pelvic inflammatory disease. Diagnostics, 13(5), 868.