• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Autoimun

PCOS dan Autoimun Tiroid: Seberapa Kuat Hubungannya?

February 21, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dikenal sebagai gangguan endokrin paling sering pada perempuan usia reproduktif. Ia sering dikaitkan dengan resistensi insulin, obesitas, gangguan metabolik, hingga risiko kardiovaskular. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perhatian ilmiah mulai mengarah pada satu pertanyaan penting: apakah PCOS juga memiliki kaitan dengan gangguan autoimun terutama autoimun tiroid?

PCOS dan Autoimun Tiroid: Apakah Ada Hubungannya?

PCOS selama ini dikenal sebagai gangguan hormon dan metabolik—ditandai dengan siklus tidak teratur, kadar androgen tinggi, dan resistensi insulin. Namun, ada satu aspek lain yang semakin mendapat perhatian: hubungan antara PCOS dan penyakit autoimun tiroid (Autoimmune Thyroid Disease / AITD).

AITD, terutama Hashimoto’s thyroiditis, terjadi ketika sistem imun membentuk antibodi yang menyerang kelenjar tiroid. Kondisi ini bisa memengaruhi fungsi tiroid secara perlahan, bahkan sebelum gejalanya terasa jelas.

Seberapa Sering Terjadi?

Jika dibandingkan dengan perempuan tanpa PCOS, wanita dengan PCOS ternyata jauh lebih sering memiliki gangguan autoimun tiroid. Sekitar 1 dari 4 perempuan dengan PCOS ditemukan memiliki AITD. Sementara pada populasi tanpa PCOS, angkanya jauh lebih rendah.

Artinya, hubungan ini bukan sekadar kebetulan. Ada pola yang konsisten bahwa PCOS dan autoimunitas tiroid lebih sering muncul bersamaan.

Baik pada perempuan Asia, Eropa, maupun Amerika Selatan, risiko AITD tetap lebih tinggi pada mereka yang memiliki PCOS. Besarnya risiko memang bervariasi, tetapi arahnya sama: PCOS berkaitan dengan peningkatan kejadian autoimun tiroid. PCOS bukan hanya gangguan hormon ovarium. Pada banyak pasien, terdapat:

  • Inflamasi kronis ringan
  • Gangguan regulasi sistem imun
  • Resistensi insulin
  • Ketidakseimbangan hormon estrogen

Faktor-faktor ini diduga dapat memengaruhi respons imun dan meningkatkan kecenderungan autoimunitas. Pada AITD, tubuh membentuk antibodi seperti anti-TPO dan anti-thyroglobulin yang menyerang jaringan tiroid. Gangguan ini dapat memengaruhi metabolisme, siklus haid, ovulasi, bahkan risiko keguguran meski kadar hormon tiroid masih tampak “normal” pada awalnya.

Apa Dampaknya pada Kesuburan?

Fungsi tiroid berperan penting dalam sistem reproduksi. Gangguan tiroid, bahkan yang ringan, dapat:

  • Mengganggu ovulasi
  • Menurunkan kualitas oosit
  • Meningkatkan risiko keguguran
  • Mempengaruhi keberhasilan program hamil

Karena itu, ketika PCOS dan gangguan tiroid terjadi bersamaan, dampaknya terhadap kesuburan bisa menjadi lebih kompleks.

Perlukah Pemeriksaan Tiroid pada PCOS?

Karena autoimun tiroid cukup sering ditemukan pada pasien PCOS bahkan tanpa gejala pemeriksaan fungsi tiroid menjadi pertimbangan penting, terutama pada pasien dengan:

  • Infertilitas
  • Riwayat keguguran
  • Gangguan siklus berat
  • Gejala yang mencurigakan gangguan tiroid

Pemeriksaan sederhana seperti TSH dan antibodi tiroid dapat membantu mendeteksi masalah lebih dini.

PCOS tidak diklasifikasikan sebagai penyakit autoimun klasik. Sekitar satu dari empat perempuan dengan PCOS juga memiliki autoimmune thyroid disease. Ini bukan komorbiditas yang jarang. Dalam praktik klinis, pendekatan terhadap PCOS sebaiknya tidak hanya berfokus pada hormon reproduksi dan metabolisme, tetapi juga mempertimbangkan fungsi serta autoimunitas tiroid. Karena dalam sistem endokrin, satu sumbu yang terganggu jarang berdiri sendiri. Jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Referensi Romitti M, Fabris VC, Ziegelmann PK, Maia AL, Spritzer PM. Association between PCOS and autoimmune thyroid disease: a systematic review and meta-analysis. Endocr Connect. 2018 Oct 26;7(11):1158-1167. doi: 10.1530/EC-18-0309. PMID: 30352422; PMCID: PMC6215798.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Autoimun, PCOS

Saat Sistem Kekebalan Tubuh Justru Mengganggu Kesuburan

October 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 Infertilitas bukan hanya soal hormon, usia, atau anatomi organ reproduksi. Di balik itu, ada satu faktor yang mulai banyak diperhatikan yaitu “autoimunitas”, yaitu kondisi ketika sistem imun seseorang justru menyerang jaringan tubuhnya sendiri termasuk organ dan sel-sel yang berperan dalam proses reproduksi.

Studi terbaru oleh Šemeklienė dan Gradauskienė (2025) dari Lithuanian University of Health Sciences menyoroti bagaimana autoantibodi zat kekebalan yang seharusnya melindungi tubuh justru bisa mengganggu proses kehamilan, baik pada perempuan maupun laki-laki.

Apa Itu Autoimun dalam Konteks Kesuburan?

Biasanya, sistem imun bertugas mengenali dan melawan benda asing seperti virus atau bakteri. Namun, pada kondisi autoimun, sistem ini “salah sasaran”. Ia mengenali jaringan tubuh sendiri sebagai ancaman, lalu membentuk autoantibodi untuk menyerangnya.

Ketika reaksi ini terjadi di organ reproduksi, dampaknya bisa luas: Menghambat pematangan sel telur, Menurunkan kualitas sperma, Mengganggu implantasi embrio di rahim, Bahkan memicu keguguran berulang.

Peneliti memperkirakan mekanisme ini berperan pada sebagian kasus infertilitas yang tidak bisa dijelaskan (unexplained infertility)—yaitu ketika hasil pemeriksaan anatomi dan hormonal normal, tapi kehamilan tetap tak kunjung terjadi.

Jenis Autoantibodi yang Paling Sering Ditemukan

Beberapa autoantibodi terbukti berkaitan dengan gangguan kesuburan:

  1. Antinuclear Antibodies (ANA)
    ANA menyerang inti sel dan sering ditemukan pada penderita penyakit autoimun seperti lupus. Studi menunjukkan ANA dapat memengaruhi kualitas oosit (sel telur) dan kemampuan embrio untuk menempel di rahim. Bahkan pada pasien IVF, kadar ANA yang tinggi dikaitkan dengan tingkat kegagalan implantasi lebih besar. Beberapa penelitian juga menunjukkan terapi imunosupresif ringan seperti prednison, aspirin, atau hydroxychloroquine bisa memperbaiki peluang kehamilan pada pasien dengan ANA positif.
  2. Antisperm Antibodies (ASA)
    Ditemukan pada laki-laki, ASA menyerang sperma sendiri. Akibatnya, sperma jadi mudah saling menempel, bergerak lambat, atau gagal membuahi sel telur. ASA sering muncul setelah infeksi, varikokel, atau operasi seperti vasektomi. Pada kasus seperti ini, teknologi seperti ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection) sering digunakan untuk melewati hambatan akibat ASA.
  3. Antiphospholipid Antibodies (APL)
    APL berkaitan dengan Antiphospholipid Syndrome (APS)—penyakit autoimun yang bisa menyebabkan pembekuan darah di pembuluh kecil, termasuk di plasenta.
    Kondisi ini sering dikaitkan dengan keguguran berulang, kegagalan implantasi, dan komplikasi kehamilan seperti preeklamsia.
  4. Antithyroid Antibodies (ATA)
    Antibodi terhadap kelenjar tiroid (seperti anti-TPO dan anti-Tg) bisa muncul bahkan saat fungsi tiroid masih normal. Namun, keberadaannya dikaitkan dengan penurunan peluang hamil dan peningkatan risiko keguguran, kemungkinan karena memengaruhi keseimbangan hormon dan sistem imun lokal di endometrium.
  5. Antiovarian dan Antiendometrial Antibodies (AOA & AEA)
    Dua jenis antibodi ini menyerang jaringan ovarium dan lapisan rahim. Akibatnya, bisa terjadi gangguan pematangan folikel, penurunan cadangan ovarium, atau lingkungan rahim yang tidak ramah untuk implantasi.

Bagaimana Autoantibodi Mengganggu Proses Reproduksi?

Secara mekanistik, autoantibodi bisa mengganggu kesuburan lewat beberapa cara:

  • Mengaktifkan sistem komplemen dan peradangan, yang dapat merusak jaringan ovarium atau endometrium.
  • Melepaskan sitokin proinflamasi, menciptakan lingkungan rahim yang “tidak bersahabat” bagi embrio.
  • Menghambat fungsi hormon, termasuk yang penting untuk ovulasi dan dukungan fase luteal.
  • Mengganggu interaksi sel trofoblas dan endometrium, yang penting untuk proses implantasi.

Akibatnya, meskipun secara anatomi dan hormon tampak normal, proses biologis halus yang diperlukan untuk pembuahan bisa gagal di tingkat mikroskopik.

Namun, mereka juga menegaskan bahwa tidak semua pasien infertil perlu diperiksa autoantibodi. Pemeriksaan ini paling bermanfaat untuk mereka yang mengalami:

  • Infertilitas tanpa sebab yang jelas (unexplained infertility).
  • Kegagalan implantasi berulang.
  • Keguguran berulang.
  • Riwayat penyakit autoimun.

Apa Artinya untuk Praktik Klinik?

Pemahaman tentang infertilitas autoimun masih terus berkembang. Namun, beberapa pesan penting bisa diambil: Tes autoimun tidak perlu dilakukan secara rutin untuk semua pasien infertilitas. Tes seperti ANA, APL, atau ASA sebaiknya hanya dilakukan bila ada indikasi klinis kuat. Pendekatan individual sangat penting. Tidak semua antibodi positif berarti penyakit aktif. Interpretasi hasil harus mempertimbangkan konteks klinis dan riwayat pasien. Terapi harus terarah. Bila terbukti autoimunitas berperan, pengobatan dapat melibatkan imunomodulator, pengaturan hormon, hingga modifikasi gaya hidup seperti pengendalian stres dan pola makan antiinflamasi.

Autoimunitas kini diakui sebagai salah satu faktor tersembunyi yang dapat mengganggu kesuburan. Meski belum semua mekanisme terjelaskan sepenuhnya, bukti ilmiah menunjukkan bahwa autoantibodi tertentu—terutama ANA, ASA, APL, dan ATA—dapat memengaruhi kualitas gamet, implantasi, dan keberhasilan kehamilan. Bagi sister dan paksu yang mengalami infertilitas tanpa sebab jelas, pemahaman ini bisa menjadi langkah baru menuju diagnosis yang lebih akurat dan harapan baru untuk keberhasilan program hamil di masa depan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Šemeklienė, B., & Gradauskienė, B. (2025). Infertility and Auto-Antibodies: A Review. Antibodies, 14(3), 76.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Autoimun, Kekebalan Tubuh, kesuburan, perempuan

Infertilitas dan Subfertilitas pada Pasien dengan Penyakit Autoimun Sistemik

March 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu pasti sudah tahu jika Infertilitas ini didefinisikan sebagai kegagalan untuk mencapai kehamilan klinis setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual tanpa pengaman secara teratur. Nah bagaimana dengan subfertilitas? Jadi subfertilitas ini merujuk pada kondisi penundaan dalam mencapai kehamilan. Mengapa ditunda? subfertilitas tidak berarti kemandulan mutlak tetapi lebih kepada kesulitan dalam mencapai kehamilan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan populasi umum.

Hubungan Penyakit Autoimun dengan Infertilitas dan Subfertilitas

Beberapa faktor dapat menyebabkan infertilitas atau subfertilitas pada pasien dengan penyakit autoimun sistemik. Beberapa kondisi autoimun yang telah diketahui berkaitan dengan infertilitas antara lain, endometriosis, penyakit celiac dan autoimunitas tiroid. Selain itu sebagian besar obat antirematik yang digunakan dalam pengobatan penyakit autoimun dapat mengganggu kesuburan diantaranya adalah:

  • Siklofosfamid, dapat menyebabkan kegagalan ovarium prematur jika digunakan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, terdapat opsi pengobatan pencegahan untuk menjaga kesuburan pasien.
  • Obat Anti-Inflamasi Non Steroid (OAINS) dapat menyebabkan infertilitas sementara pada beberapa individu.
  • Kortikosteroid dikaitkan dengan waktu kehamilan yang lebih lama pada pasien dengan penyakit rematik tertentu.

 

Sindrom Antifosfolipid dan Lupus Eritematosus Sistemik

Sindrom Antifosfolipid (APS) adalah kondisi autoimun sistemik yang ditandai dengan trombus arteri maupun vena, keguguran berulang atau komplikasi kehamilan lainnya dan kehadiran antibodi antifosfolipid yang terdeteksi secara terus-menerus.

Pada pasien lupus eritematosus sistemik (LES), antibodi antifosfolipid (aPL) dan autoantibodi lain seperti anti-oosit dapat berkontribusi terhadap infertilitas. Namun, hubungan antara aPL dan infertilitas masih diperdebatkan karena beberapa penelitian menemukan peningkatan angka aPL pada pasien yang menjalani teknik reproduksi berbantuan medis.

Infertilitas pada pasien dengan penyakit autoimun sistemik merupakan permasalahan multifaktorial yang perlu diperhatikan oleh tenaga medis dan pasien itu sendiri. Meskipun infertilitas bukan satu-satunya penyebab, faktor-faktor seperti penggunaan obat tertentu, tingkat keparahan penyakit, serta kondisi autoimun spesifik dapat berkontribusi terhadap kesulitan dalam mencapai kehamilan. Oleh karena itu, pemantauan kesehatan reproduksi secara berkala sangat disarankan bagi pasien dengan penyakit autoimun yang ingin memiliki anak. MDG membahas berbagai macam kemungkinan kasus infertilitas, dan siapa yang mengalami serta banyak faktor yang mempengaruhi. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Khizroeva, J., Nalli, C., Bitsadze, V., Lojacono, A., Zatti, S., Andreoli, L., … & Makatsariya, A. (2019). Infertility in women with systemic autoimmune diseases. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism, 33(6), 101369.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Autoimun, infertilitas, subfertilitas

Ketahui ASA (Antibody Anti Sperm) Autoimun yang Membahayakan Infertilitas

January 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pada umumnya sistem imun yang membentuk antibodi itu berdampak bagus pada tubuh, tapi beda dengan sistem imun yang membentuk antibodi anti sperma yang justru menyebabkan infertilitas. Wah mengapa ini terjadi dan bagaimana tubuh dengan keadaan ini? MDG akan membahas lebih lanjut baca sampai habis ya!

Apa itu antibodi antisperma

Antibodi antisperma adalah antibodi yang keliru menyerang sperma. Antibodi ini dikenal juga sebagai antisperm antibodies atau ASA.

Antibodi antisperma adalah imunoglobulin. Imunoglobulin adalah protein yang terdapat dalam darah yang berfungsi untuk mengidentifikasi dan menetralkan zat asing. Pada manusia, terdapat lima jenis imunoglobulin, yang diklasifikasikan ke dalam lima kelompok tergantung pada area tempat ditemukannya dan antigen yang dapat dikenali. 

Imunoglobulin diklasifikasikan sebagai IgA, IgD, IgE, IgG, dan IgM. Ig merujuk pada kata imunoglobulin dan huruf yang ditetapkan untuk isotipe. Secara khusus, antibodi antisperma termasuk dalam isotipe IgA dan IgG. Bagaimana keadaan ini berdampak pada infertilitas?

ASA dan Hubungannya dengan Infertilitas?

Antibodi antisperma (ASA) adalah protein sistem imun yang dapat berkembang dalam tubuh pria atau wanita untuk menargetkan dan membunuh sperma. Kondisi ini juga dikenal sebagai infertilitas imunologis dan dapat membuat pasangan tidak mungkin memiliki anak.

Pria umumnya mengembangkan antibodi antisperma dari kondisi peradangan pada saluran reproduksi. 

Penyebab dari keadaan ini bahwa Sekitar 8-10% pria mengembangkan kondisi autoimun dalam darah atau cairan mani setelah infeksi prostat, paparan logam berat, torsi, kanker testis, vasektomi, atau cedera pada testis. Para ilmuwan juga menyarankan bahwa stres oksidatif dapat menjadi penyebab yang mendasari infertilitas imun.

Lalu bagaimana cara perempuan merespon keadaan tersebut? Ternyata perempuan dapat mengembangkan resistensi terhadap sperma sebagai respons terhadap reaksi alergi terhadap air mani. Jika ini terjadi, sel-sel sistem imun dalam vagina wanita dapat mengidentifikasi sperma sebagai penyerang dan memicu respons imun terhadapnya.

Jika di antara sister dan paksu mengalami diagnosis ini, maka akan ada banyak solusi yang ditawarkan untuk menanggulangi, mulai dari pencucian sperma, IUI, IVF dan lain-lain, namun tetap saja semua keputusan harus sesuai dengan arahan dokter dan usahakan untuk memahami apa yang sedang terjadi. Sister dan paksu juga mulai berhati-hati dengan lebih skeptis pada pola hidup dan potensi yang dapat melukai testis. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat akses di Instagram kami @menujuduagaris.id

Referensi

  • https://hellosehat.com/kehamilan/kesuburan/masalah-kesuburan/antibodi-antisperma-penyebab-tidak-subur/
  • https://www.andrologycenter.in/blog/what-are-antisperm-antibodies/
  • https://www.institutobernabeu.com/en/blog/antisperm-antibodies-aae-what-is-a-myth-and-what-is-reality/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ASA, Autoimun, IUI, IVF, sperma

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.