• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

adenomiosis

Adenomiosis & IVF: Apa Pengaruhnya Terhadap Peluang Hamil?

December 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu  harus tahu jika adenomiosis terjadi ketika jaringan endometrium yang seharusnya ada di dalam rongga rahim malah masuk ke dalam otot rahim. Kondisi ini bisa membuat ukuran rahim membesar, menyebabkan perdarahan haid yang lebih berat, nyeri panggul, atau terkadang tidak menimbulkan gejala sama sekali. Meski sering tidak disadari, adenomiosis cukup sering ditemukan pada perempuan yang sedang menjalani pemeriksaan infertilitas, terutama mereka yang mengalami keguguran berulang atau kegagalan implantasi berulang saat menjalani program hamil.

Kenapa Adenomiosis Diduga Mengganggu Kesuburan?

Pada tingkat jaringan, adenomiosis mengubah struktur dan fungsi rahim. Kontraksi otot rahim bisa menjadi tidak teratur, sehingga mengganggu perjalanan sperma dan pergerakan embrio. Lingkungan endometrium pun bisa mengalami peradangan kronis, peningkatan radikal bebas, perubahan reseptor hormon, serta penurunan molekul penting seperti integrin, LIF, dan HOXA10 semuanya berperan kunci dalam proses implantasi. Ketika “jendela implantasi” tidak sinkron, embrio berkualitas baik sekalipun bisa kesulitan menempel di dinding rahim.

Bagaimana Dampaknya pada Program IVF?

Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Ada studi yang tidak menemukan penurunan peluang kehamilan pada pasien adenomiosis, tetapi banyak penelitian lain justru menunjukkan pola negatif: angka implantasi lebih rendah, risiko keguguran lebih tinggi, dan angka kelahiran hidup yang turun. Sebuah meta-analisis besar bahkan mencatat bahwa adenomiosis dapat menurunkan peluang hamil klinis hingga sekitar 28% serta menggandakan risiko keguguran. Penelitian yang hanya menggunakan embrio euploid pun tetap menunjukkan peningkatan risiko keguguran menegaskan bahwa masalahnya berasal dari lingkungan rahim itu sendiri.

Tingkat Keparahan Berhubungan dengan Risiko IVF

Hasil studi terkini menunjukkan bahwa semakin banyak ciri adenomiosis yang ditemukan pada USG atau MRI, semakin besar penurunan peluang keberhasilan IVF. Pada kasus dengan empat atau lebih karakteristik adenomiosis, peluang hamil dapat turun hingga separuhnya. Variasi kriteria diagnosis antar studi (USG 2D/3D vs MRI, jumlah kriteria yang digunakan, dan perbedaan interpretasi) menjadi salah satu penyebab hasil penelitian sebelumnya saling bertentangan.

Perlukah Terapi Sebelum IVF?

Untuk itu diperlukan penggunaan agonis GnRH selama beberapa bulan sebelum IVF untuk membantu mengecilkan lesi dan mengurangi peradangan. Pendekatan ini tampak bermanfaat terutama pada siklus transfer embrio beku. Namun, hasilnya belum konsisten di semua penelitian. Operasi untuk mengangkat adenomiosis pun memiliki risiko khusus, termasuk risiko robekan rahim di masa kehamilan, sehingga harus dipertimbangkan dengan matang sesuai kondisi pasien.

Hampir separuh perempuan dengan adenomiosis memiliki kondisi lain seperti endometriosis atau mioma. Karena endometriosis sendiri dapat menurunkan peluang hamil, penelitian sering kesulitan memisahkan dampak masing-masing penyakit. Ini membuat interpretasi hasil IVF pada pasien adenomiosis menjadi lebih kompleks.

Mengapa Diperlukan Standarisasi Diagnosis?

Perbedaan cara diagnosis antar penelitian membuat hasil studi sulit dibandingkan. Penggunaan USG transvaginal sering lebih praktis untuk skrining, sementara MRI lebih akurat untuk kasus tertentu. Namun hingga kini belum ada standar global mengenai berapa banyak ciri USG/MRI yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis adenomiosis. Tanpa standarisasi ini, sulit membuat panduan klinis yang benar-benar akurat untuk meningkatkan peluang IVF.

Berdasarkan bukti ilmiah saat ini, adenomiosis tampaknya dapat menurunkan peluang keberhasilan IVF, meningkatkan risiko keguguran, dan memengaruhi angka kelahiran hidup. Meski begitu, banyak faktor yang belum terstandarisasi mulai dari metode diagnosis, perbedaan derajat keparahan, hingga keberadaan penyakit lain yang menyertai. Karena itu, penanganan adenomiosis perlu sangat individual, mempertimbangkan usia, gejala, tingkat keparahan, dan rencana reproduksi jangka panjang pasien. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Squillace, A. L. A., Simonian, D. S., Allegro, M. C., Júnior, E. B., de Mello Bianchi, P. H., & Bibancos, M. (2021). Adenomyosis and in vitro fertilization impacts-a literature review. JBRA Assisted Reproduction, 25(2), 303.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: adenomiosis, IVF, Peluang Hamil

Klasifikasi Baru Adenomiosis Lewat USG: Hubungan antara Tipe, Derajat, dan Parahnya Gejala

November 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Adenomiosis sering dianggap sebagai “saudara dekat” endometriosis. Bedanya, kalau endometriosis tumbuh di luar rahim, adenomiosis justru berada di dalam dinding otot rahim, tepatnya di lapisan bernama myometrium. Kondisi ini membuat jaringan yang seharusnya luruh saat menstruasi malah terjebak di dalam otot rahim, menimbulkan nyeri hebat, perdarahan banyak, dan dalam beberapa kasus, memengaruhi kesuburan.

Selama ini, diagnosis adenomiosis memang bisa dilakukan lewat USG transvaginal, tetapi sulit untuk menilai seberapa parah kondisinya hanya dari gambar. Untuk itu, sekelompok dokter di Italia mencoba memperkenalkan sistem klasifikasi baru berbasis USG, dengan tujuan menilai jenis dan tingkat keparahan adenomiosis secara lebih akurat, sekaligus melihat kaitannya dengan gejala yang dirasakan pasien. Yuk sister pahami lebih dalam bagaimana USG dapat mengklasifikasikan kasus adenomiosis.

Melihat Lebih Dalam lewat USG

Peneliti membedakan adenomiosis menjadi dua tipe utama.
Pertama, adenomiosis fokal, yaitu ketika jaringan tumbuh di area tertentu saja dalam dinding rahim. Kedua, adenomiosis difus, yaitu ketika jaringan menyebar hampir ke seluruh otot rahim.

Selain jenisnya, mereka juga menilai seberapa luas dan parah jaringan tersebut menyusup ke otot rahim. Dari sinilah mereka menemukan bahwa jenis dan derajat adenomiosis ternyata berkaitan dengan seberapa berat gejala yang dialami seseorang.

Hasil yang Menarik

Wanita dengan adenomiosis difus umumnya berusia lebih tua dan mengalami perdarahan menstruasi yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki adenomiosis fokal. Namun, rasa nyeri saat haid atau saat berhubungan tidak selalu lebih berat, sehingga nyeri tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran keparahan penyakit ini.

Pada kasus adenomiosis berat, perdarahan cenderung jauh lebih banyak, terutama jika di dalam rahim sudah terbentuk adenomyoma, yaitu benjolan padat dari jaringan adenomiosis. Hal ini membuat banyak wanita mengalami haid yang berkepanjangan dan sangat melelahkan.

Menariknya, justru wanita dengan adenomiosis fokal lebih sering mengalami kesulitan untuk hamil dan memiliki riwayat keguguran dibandingkan dengan mereka yang memiliki tipe difus. Hal ini kemungkinan karena adenomiosis fokal sering melibatkan area penting di rahim, yaitu zona junctional lapisan transisi antara bagian dalam rahim dan otot di sekitarnya yang berperan besar dalam proses implantasi embrio.

Apa Artinya bagi Pasien

Temuan ini menegaskan bahwa USG bukan hanya alat untuk memastikan ada atau tidaknya adenomiosis. Dengan klasifikasi yang lebih rinci, dokter dapat memperkirakan bagaimana kondisi ini memengaruhi kesuburan dan kualitas hidup pasien.

Bagi perempuan yang sedang merencanakan kehamilan, informasi ini penting untuk menentukan langkah selanjutnya apakah perlu terapi hormonal, tindakan medis, atau cukup dengan pemantauan rutin.

Klasifikasi baru ini juga membantu dokter dalam menyusun rencana penanganan yang lebih personal. Sebab, setiap tipe dan derajat adenomiosis memiliki tantangan yang berbeda, baik dari segi gejala maupun pengaruhnya terhadap kesuburan.

Adenomiosis bukan sekadar masalah nyeri haid atau perdarahan berlebih. Melalui pemeriksaan USG yang lebih detail, kita bisa memahami bahwa bentuk dan penyebaran penyakit ini berhubungan erat dengan gejala serta peluang untuk hamil.

Semakin akurat diagnosisnya, semakin besar peluang bagi perempuan untuk mendapatkan perawatan yang sesuai dan kembali memiliki kendali atas tubuh serta kualitas hidupnya. Jangan lupa baca artikel lengkapnya di menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Exacoustos, C., Morosetti, G., Conway, F., Camilli, S., Martire, F. G., Lazzeri, L., … & Zupi, E. (2020). New sonographic classification of adenomyosis: do type and degree of adenomyosis correlate to severity of symptoms?. Journal of minimally invasive gynecology, 27(6), 1308-1315.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: adenomiosis, hubungan, Klasifikasi, USG

Adenomiosis: Penyebab Infertilitas yang Sering Tak Disadari

March 30, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Adenomiosis adalah kondisi di mana jaringan endometrium tumbuh ke dalam dinding otot rahim (miometrium). Kondisi ini sering dikaitkan dengan nyeri haid, perdarahan menstruasi yang berlebihan, serta masalah kesuburan. Namun, prevalensi adenomiosis pada wanita dengan subfertilitas masih menjadi topik penelitian yang terus berkembang.

Seberapa Sering Adenomiosis Terjadi pada Wanita dengan Subfertilitas

Dulu, adenomiosis dianggap hanya terjadi pada wanita yang sudah melahirkan dan biasanya baru terdeteksi setelah histerektomi. Namun, dengan kemajuan teknologi pencitraan dan semakin banyaknya wanita yang datang ke klinik di usia lebih tua, kasus adenomiosis kini lebih sering ditemukan pada pasien infertilitas. Berbagai metode pengobatan konservatif telah dicoba, tetapi hasilnya masih beragam dalam hal dampaknya terhadap kesuburan, sehingga menimbulkan tantangan bagi dokter dalam menangani pasien. Lalu kira-kira apa saja faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi?

Faktor yang Mempengaruhi Adenomiosis

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko adenomiosis adalah: Usia paruh baya, yaitu antara 40 dan 50 tahun, Pernah melahirkan, terutama kehamilan multipel (kembar), Pernah menjalani operasi rahim, seperti operasi caesar, pengangkatan fibroid, atau dilatasi dan kuretase (D&C), Menderita endometriosis, Ketidakseimbangan hormon, seperti produksi estrogen yang berlebih, Predisposisi genetik, karena adenomiosis kerap terjadi dalam keluarga, Riwayat depresi atau penggunaan antidepresan.

Dampak Adenomiosis pada Kesuburan

Adenomiosis dapat mempengaruhi kesuburan dengan beberapa cara, diantaranya:

  • Mengganggu proses implantasi embrio di dinding rahim.
  • Mempengaruhi fungsi trofoblas yang berperan dalam kehamilan.
  • Berpotensi meningkatkan risiko keguguran, meskipun penelitian terkait masih menunjukkan hasil yang bervariasi.

 

Untuk mencegah adenomiosis, sister dapat mulai menerapkan pola makan sehat, bergizi lengkap, dan seimbang, menjaga berat badan agar ideal, menurunkan berat badan bila mengalami obesitas dan menjalani pemeriksaan kesehatan dan kandungan secara rutin.

Pada fakta yang ada bawah satu dari sepuluh wanita dengan subfertilitas memiliki adenomiosis terisolasi. Namun, angka ini bisa lebih tinggi karena masih banyak kasus yang tidak terdiagnosis akibat kurangnya standar kriteria diagnostik yang digunakan oleh tenaga medis. Oleh karena itu, sister dan paksu jangan sampai lengah untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan pada dokter dan peneliti juga disarankan menggunakan standar diagnostik yang lebih akurat, seperti yang direkomendasikan dalam morphological uterus sonographic assessment (MUSA), agar prevalensi adenomiosis dapat diidentifikasi dengan lebih baik. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Mishra, I., Melo, P., Easter, C., Sephton, V., Dhillon‐Smith, R., & Coomarasamy, A. (2023). Prevalence of adenomyosis in women with subfertility: systematic review and meta‐analysis. Ultrasound in Obstetrics & Gynecology, 62(1), 23-41.
  • Maheshwari, A., Gurunath, S., Fatima, F., & Bhattacharya, S. (2012). Adenomyosis and subfertility: a systematic review of prevalence, diagnosis, treatment and fertility outcomes. Human reproduction update, 18(4), 374-392.
  • https://www.halodoc.com/kesehatan/adenomiosis

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: adenomiosis, infertilitas, perempuan

Adenomiosis Penyakit Reproduksi yang Perlu Diketahui

October 7, 2024 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Adenomiosis sebagai salah satu kondisi ginekologi jinak yang ditandai oleh invasi jaringan endometrium ke dalam lapisan miometrium. Kondisi ini sering kali berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan reproduksi, termasuk infertilitas. Seperti apa kira-kira hubungan antara adenomiosis dan fertilitas, serta mekanisme yang mendasarinya. Baiklah kita pahami lebih dalam yuk melalui pendapat para ahli berikut, baca sampai habis ya!

Memahami Adenomiosis dan penyebabnya

Adenomiosis Pertama kali dijelaskan pada tahun 1860 oleh ahli patologi Jerman Carl von Rokitansky, melalui temuan histopatologi yaitu “cystosarcoma adenoids uterinum”. Penyebab pasti dari adenomiosis menurut suatu penelitian  menyatakan bahwa adenomiosis mungkin berasal dari invaginasi endometrium ke dalam miometrium akibat trauma atau pembedahan sebelumnya.

Tanda dan gejalanya pun bervariasi, tetapi yang paling umum adalah nyeri haid dan/atau perdarahan menstruasi yang banyak. Secara historis, kondisi ini merupakan diagnosis histologis yang memerlukan biopsi atau lebih sering histerektomi. Untuk saat ini, diagnosis dapat dilakukan secara non-invasif menggunakan USG atau pencitraan resonansi magnetik.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa adenomiosis dapat mempengaruhi kesuburan wanita. Adenomiosis dapat menyebabkan perubahan struktural pada JZ, yang merupakan area transisi antara endometrium dan miometrium. Perubahan ini dapat mengganggu proses implantasi embrio.

Adenomiosis juga dapat mengubah fungsi endometrium, yang berperan penting dalam persiapan rahim untuk menerima embrio. Ketidakseimbangan hormon dan abnormalitas dalam pembentukan desidualisasi dapat terjadi, mempengaruhi kemampuan embrio untuk menempel dengan baik.

Pengobatan dan Manajemen

Kaitan dengan adenomiosis dapat dilakukan perawatan definitif bagi perempuan melalui histerektomi (operasi pengangkatan rahim), prosedur ini dilakukan jika adenomiosis tidak bisa diatasi dengan tindakan yang lain. Sementara berbagai terapi medis dan minimal invasif lainnya tersedia bagi mereka yang ingin mempertahankan kesuburan atau ingin menghindari pembedahan yang lebih ekstensif.

Beberapa opsi pengobatan invasif meliputi, terapi hormon:

  1. Penggunaan kontrasepsi hormonal atau terapi hormon lainnya dapat membantu menyeimbangkan kadar estrogen dan progesteron, yang mungkin bermanfaat bagi wanita dengan adenomiosis.
  2. Pengobatan non hormonal, seperti tranexamic acid untuk meredakan pendarahan dari vagina. HIFU (high intensity focused ultrasound), untuk menghancurkan jaringan endometrium.
  3. Ablasi endometrium, untuk menghancurkan lapisan rahim yang mengalami endometriosis.

 

Adenomiosis memiliki dampak signifikan terhadap kesuburan perempuan.  Memahami hubungan antara adenomiosis dan infertilitas, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi ini, membuat sister untuk dapat lebih siap untuk mencari pengobatan yang tepat dan mendapatkan dukungan medis yang diperlukan untuk mencapai kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya, sister dapat akses melalui Instagram kami di @menujuduagris.id

Referensi

  • Benagiano G, Brosens I, Lippi D. The history of endometriosis. Gynecol Obstet Invest. 2014;78(1):1-9
  • https://jurnal.usk.ac.id/JKS/article/viewFile/22380/16450
  • https://www.maupunyaanak.id/mulai-mencoba-hamil/apakah-usia-wanita-selalu-berkorelasi-dengan-usia-ovarium
  • https://www.studocu.com/id/document/institut-kesehatan-rajawali/fakultas-keperawatan/34-f622142-hanna-lore-lumbantoruan/75613227
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-adenomiosis

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: adenomiosis, reproduksi

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.