• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

USG

Klasifikasi Baru Adenomiosis Lewat USG: Hubungan antara Tipe, Derajat, dan Parahnya Gejala

November 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Adenomiosis sering dianggap sebagai “saudara dekat” endometriosis. Bedanya, kalau endometriosis tumbuh di luar rahim, adenomiosis justru berada di dalam dinding otot rahim, tepatnya di lapisan bernama myometrium. Kondisi ini membuat jaringan yang seharusnya luruh saat menstruasi malah terjebak di dalam otot rahim, menimbulkan nyeri hebat, perdarahan banyak, dan dalam beberapa kasus, memengaruhi kesuburan.

Selama ini, diagnosis adenomiosis memang bisa dilakukan lewat USG transvaginal, tetapi sulit untuk menilai seberapa parah kondisinya hanya dari gambar. Untuk itu, sekelompok dokter di Italia mencoba memperkenalkan sistem klasifikasi baru berbasis USG, dengan tujuan menilai jenis dan tingkat keparahan adenomiosis secara lebih akurat, sekaligus melihat kaitannya dengan gejala yang dirasakan pasien. Yuk sister pahami lebih dalam bagaimana USG dapat mengklasifikasikan kasus adenomiosis.

Melihat Lebih Dalam lewat USG

Peneliti membedakan adenomiosis menjadi dua tipe utama.
Pertama, adenomiosis fokal, yaitu ketika jaringan tumbuh di area tertentu saja dalam dinding rahim. Kedua, adenomiosis difus, yaitu ketika jaringan menyebar hampir ke seluruh otot rahim.

Selain jenisnya, mereka juga menilai seberapa luas dan parah jaringan tersebut menyusup ke otot rahim. Dari sinilah mereka menemukan bahwa jenis dan derajat adenomiosis ternyata berkaitan dengan seberapa berat gejala yang dialami seseorang.

Hasil yang Menarik

Wanita dengan adenomiosis difus umumnya berusia lebih tua dan mengalami perdarahan menstruasi yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki adenomiosis fokal. Namun, rasa nyeri saat haid atau saat berhubungan tidak selalu lebih berat, sehingga nyeri tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran keparahan penyakit ini.

Pada kasus adenomiosis berat, perdarahan cenderung jauh lebih banyak, terutama jika di dalam rahim sudah terbentuk adenomyoma, yaitu benjolan padat dari jaringan adenomiosis. Hal ini membuat banyak wanita mengalami haid yang berkepanjangan dan sangat melelahkan.

Menariknya, justru wanita dengan adenomiosis fokal lebih sering mengalami kesulitan untuk hamil dan memiliki riwayat keguguran dibandingkan dengan mereka yang memiliki tipe difus. Hal ini kemungkinan karena adenomiosis fokal sering melibatkan area penting di rahim, yaitu zona junctional lapisan transisi antara bagian dalam rahim dan otot di sekitarnya yang berperan besar dalam proses implantasi embrio.

Apa Artinya bagi Pasien

Temuan ini menegaskan bahwa USG bukan hanya alat untuk memastikan ada atau tidaknya adenomiosis. Dengan klasifikasi yang lebih rinci, dokter dapat memperkirakan bagaimana kondisi ini memengaruhi kesuburan dan kualitas hidup pasien.

Bagi perempuan yang sedang merencanakan kehamilan, informasi ini penting untuk menentukan langkah selanjutnya apakah perlu terapi hormonal, tindakan medis, atau cukup dengan pemantauan rutin.

Klasifikasi baru ini juga membantu dokter dalam menyusun rencana penanganan yang lebih personal. Sebab, setiap tipe dan derajat adenomiosis memiliki tantangan yang berbeda, baik dari segi gejala maupun pengaruhnya terhadap kesuburan.

Adenomiosis bukan sekadar masalah nyeri haid atau perdarahan berlebih. Melalui pemeriksaan USG yang lebih detail, kita bisa memahami bahwa bentuk dan penyebaran penyakit ini berhubungan erat dengan gejala serta peluang untuk hamil.

Semakin akurat diagnosisnya, semakin besar peluang bagi perempuan untuk mendapatkan perawatan yang sesuai dan kembali memiliki kendali atas tubuh serta kualitas hidupnya. Jangan lupa baca artikel lengkapnya di menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Exacoustos, C., Morosetti, G., Conway, F., Camilli, S., Martire, F. G., Lazzeri, L., … & Zupi, E. (2020). New sonographic classification of adenomyosis: do type and degree of adenomyosis correlate to severity of symptoms?. Journal of minimally invasive gynecology, 27(6), 1308-1315.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: adenomiosis, hubungan, Klasifikasi, USG

Bisa Nggak Sih Perkiraan Waktu Persalinan Diprediksi Lewat USG?

July 23, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Induksi persalinan biasanya dilakukan bila kehamilan sudah melewati waktu perkiraan lahir, air ketuban mulai menipis, atau ada kondisi medis seperti diabetes gestasional yang membutuhkan kelahiran lebih cepat. Namun, salah satu pertanyaan yang sering menggelayuti ibu hamil adalah, berapa lama waktu yang dibutuhkan dari mulai induksi sampai akhirnya bisa melahirkan? Bahas lebih lanjut yuk apa kata penelitian!

Metode Induksi dan Peran USG

Jadi ada sebuah penelitian yang mencoba memberikan jawaban dengan menggunakan USG untuk mengukur ketebalan otot rahim sebagai indikator kesiapan persalinan. Dalam studi tersebut, induksi dilakukan melalui dua tahapan: pertama pemasangan balon kateter (Foley catheter) di serviks untuk membuka rahim secara mekanik, dilanjutkan dengan infus oksitosin yang memicu kontraksi rahim. Dengan mengukur ketebalan otot rahim sebelum induksi, dokter bisa memperkirakan seberapa cepat proses persalinan akan terjadi.

Hasil menunjukkan bahwa rahim yang lebih tipis cenderung merespon induksi lebih cepat dan waktu persalinan bisa lebih singkat. Meskipun begitu, durasi persalinan akibat induksi tetap bergantung pada berbagai faktor lain. USG menjadi alat bantu yang berguna untuk menyesuaikan metode induksi supaya prosesnya lebih efektif dan meminimalkan ketidakpastian bagi ibu hamil. Tentunya keputusan terbaik tetap harus didiskusikan dengan dokter kandungan agar proses persalinan berjalan lancar dan aman

Nah, Apa Peran USG di Sini?

Biasanya USG dipakai untuk memantau janin. Tapi dokter juga mengukur ketebalan dinding otot rahim (miometrium) di lima titik, termasuk bagian atas (fundus) dan belakang rahim. Tujuannya? Untuk melihat apakah ada hubungannya dengan cepat atau lambatnya tubuh merespons induksi.

Hasilnya Gimana?

Dari 52 ibu hamil yang ikut studi ini, hampir 90% berhasil melahirkan normal. Dan yang menarik, peneliti menemukan bahwa:

Ketebalan otot rahim di bagian atas dan belakang berkaitan dengan waktu keluarnya balon induksi semakin tebal, makin cepat keluar. Tapi, ketebalan ini nggak terlalu berpengaruh ke total waktu hingga bayi lahir.

Temuan tersebut belum bisa dijadikan standar klinis, tapi cukup menjanjikan. Artinya, USG bukan cuma untuk lihat bayi, tapi juga bisa bantu dokter menilai kesiapan rahim untuk diinduksi.

Manfaatnya? adalah untuk membantu dokter merancang strategi induksi yang lebih tepat, menghindari proses induksi yang terlalu panjang dan melelahkan dan memberi harapan untuk persalinan yang lebih efisien dan aman

Jadi, kalau kamu dan sekitar kamu sedang mempertimbangkan induksi persalinan, jangan ragu buat diskusi lebih lanjut sama dokter kandungan. Siapa tahu, informasi seperti ini bisa bantu proses persalinan kamu jadi lebih nyaman dan terarah. Informasi menarik lainnya dapat sister dan paksu temukan di Instagram @menujuduagaris.id 

Referensi

  • Spiegel, E., Weintraub, A. Y., Aricha-Tamir, B., Ben-Harush, Y., & Hershkovitz, R. (2021). The use of sonographic myometrial thickness measurements for the prediction of time from induction of labor to delivery. Archives of Gynecology and Obstetrics, 303(4), 891-896.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: induksi, kehamilan, lahir, persalinan, USG

Primary Sidebar

Recent Posts

  • AMH Rendah dan Peluang IVF: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Ovarium?
  • Diminished Ovarian Reserve (DOR) dan Premature Ovarian Insufficiency (POI): Serupa Tapi Tak Sama
  • Low AMH, Masih Ada Harapan?
  • POI Selain Donor Sel Telur Apa Ada Pilihan Lain??
  • Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation (TEAS): Terapi Akupuntur Tanpa Jarum untuk Mendukung Program IVF

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.