• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

kehamilan

Banjir dan Risiko Kehilangan Kehamilan: Ancaman Tersembunyi di Negara Berkembang

April 2, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Banjir selama ini sering dipahami sebagai bencana yang berdampak langsung pada kerusakan fisik rumah hancur, akses terputus, hingga munculnya penyakit infeksi. Namun, di balik dampak yang terlihat tersebut, ada efek lain yang jauh lebih sunyi namun serius: gangguan terhadap kesehatan reproduksi, khususnya pada perempuan hamil.

Dalam beberapa dekade terakhir, frekuensi dan intensitas banjir meningkat seiring perubahan iklim, kenaikan permukaan laut, serta pertumbuhan populasi di wilayah rentan. Secara global, banjir telah memengaruhi lebih dari 2,3 miliar orang dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Sayangnya, dampak tidak langsung terutama pada kelompok rentan seperti ibu hamil masih belum banyak mendapat perhatian.

Padahal, kondisi saat banjir sering kali memicu krisis ekologi: air bersih sulit diakses, makanan terbatas, dan tempat tinggal menjadi tidak layak. Kombinasi ini menciptakan tekanan fisik dan psikologis yang signifikan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi keberlangsungan kehamilan.

Risiko Kehilangan Kehamilan yang Meningkat

Sebuah studi besar yang melibatkan lebih dari 90.000 data kehamilan dari 33 negara berkembang menunjukkan bahwa paparan banjir selama masa kehamilan berkaitan dengan peningkatan risiko kehilangan kehamilan, baik dalam bentuk keguguran maupun stillbirth.

Secara statistik, perempuan yang terpapar banjir memiliki risiko lebih tinggi mengalami kehilangan kehamilan dibandingkan yang tidak terpapar. Risiko ini bahkan menjadi lebih signifikan pada kelompok usia reproduksi yang lebih rentan, yaitu di bawah 21 tahun atau di atas 35 tahun, serta pada kehamilan trimester tengah hingga akhir.

Tidak hanya itu, faktor sosial-ekonomi juga memainkan peran penting. Perempuan dengan tingkat pendidikan dan pendapatan rendah, serta mereka yang bergantung pada sumber air permukaan, menunjukkan risiko yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dampak banjir tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dengan ketimpangan sosial yang sudah ada sebelumnya. Lalu bagaimana di Indonesia? sayangnya Indonesia juga menjadi salah satu negara yang selalu mengalami banjir setiap tahunnya. Tentu saja ini mempengaruhi bagaimana peran ibu dan juga program hamil secara lanjutan.

Ketimpangan yang Semakin Terlihat

Dampak banjir terhadap kehamilan paling terasa di negara berkembang, di mana hampir 89% populasi yang terpapar banjir tinggal. Wilayah seperti Asia Selatan, Afrika Sub-Sahara, Amerika Tengah, dan Karibia menjadi daerah dengan beban tertinggi.

Di wilayah-wilayah ini, angka kehilangan kehamilan memang sudah relatif tinggi, dan kondisi banjir semakin memperburuk situasi. Infrastruktur yang terbatas, akses layanan kesehatan yang tidak merata, serta kondisi tempat tinggal yang kurang aman membuat perempuan hamil menjadi semakin rentan.

Selain risiko fisik, tekanan mental selama dan setelah banjir juga berkontribusi terhadap hasil kehamilan yang buruk. Stres berkepanjangan, ketidakpastian, serta keterbatasan dukungan sosial menjadi faktor tambahan yang sering kali tidak terlihat, tetapi berdampak besar.

Kenapa Ini Penting untuk Dipahami

Kita jadi paham bahwa bencana alam seperti banjir bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga isu kesehatan reproduksi dan keadilan sosial. Dampaknya tidak merata, dan kelompok yang paling rentan justru menanggung beban terbesar.

Memahami hubungan antara paparan banjir dan risiko kehilangan kehamilan menjadi langkah penting untuk merancang kebijakan yang lebih responsif mulai dari sistem mitigasi bencana yang ramah ibu hamil, hingga penguatan layanan kesehatan di wilayah rawan.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan ibu dan janin di tengah perubahan iklim bukan hanya soal medis, tetapi juga soal bagaimana kita membangun sistem yang lebih tangguh dan inklusif.

Referensi

He, C., Zhu, Y., Zhou, L. et al. Flood exposure and pregnancy loss in 33 developing countries. Nat Commun 15, 20 (2024). https://doi.org/10.1038/s41467-023-44508-0

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Banjir, kehamilan

Hipertensi dalam Kehamilan dan Risiko Penyakit Jantung Pasca Melahirkan

January 10, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Selama ini, hipertensi dalam kehamilan sering dipandang sebagai masalah yang “selesai” begitu persalinan berakhir. Tekanan darah menurun, ibu dipulangkan, dan fokus perawatan bergeser sepenuhnya ke bayi. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa anggapan ini keliru. Kehamilan, khususnya yang disertai gangguan hipertensi, merupakan sebuah “uji stres vaskular” yang dapat membuka jalan menuju penyakit kardiovaskular dalam waktu relatif singkat setelah melahirkan.

Setelah Melahirkan, Tubuh Ibu Belum Selesai Bekerja

Banyak orang mengira, begitu bayi lahir dan ibu pulang dari rumah sakit, fase paling berat sudah terlewati. Padahal bagi sebagian perempuan terutama yang mengalami hipertensi saat hamil cerita tubuh justru belum selesai.

Sebuah studi besar yang mengikuti ribuan perempuan selama dua tahun setelah melahirkan menunjukkan satu hal penting: risiko penyakit jantung bisa muncul jauh lebih cepat dari yang selama ini kita bayangkan.

Kenapa Dua Tahun Pertama Itu Penting?

Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu pada perempuan. Dan sejak lama, dunia medis sudah tahu bahwa gangguan tekanan darah saat hamil seperti preeklampsia atau hipertensi gestasional meninggalkan “jejak” pada jantung dan pembuluh darah.

Masalahnya, sebagian besar perhatian medis hanya tertuju pada dua periode ekstrem:

  • masa nifas singkat (6 minggu–1 tahun), atau
  • risiko jangka panjang puluhan tahun kemudian.

Padahal ada satu fase di tengah-tengah yang sering luput: tahun pertama hingga kedua setelah melahirkan. Inilah masa transisi, ketika tubuh sedang mencoba kembali “normal”, tapi justru menjadi sangat rentan.

Risiko yang Datang Lebih Cepat dari Dugaan

Dalam dua tahun pertama pascapersalinan, perempuan dengan riwayat hipertensi saat hamil terbukti lebih berisiko mengalami:

  • gagal jantung
  • kardiomiopati (gangguan otot jantung)
  • stroke
  • hipertensi kronis yang baru muncul

Bulan Pertama: Masa Paling Rapuh

Hampir setengah kasus gangguan jantung berat pada ibu dengan riwayat hipertensi kehamilan muncul dalam bulan pertama setelah melahirkan.

Artinya, saat seorang ibu:

  • masih belajar menyusui
  • kurang tidur
  • sedang memulihkan luka fisik dan mental

di saat yang sama, jantungnya bisa sedang berada dalam kondisi paling rentan.

Ini menegaskan satu hal penting: risiko jantung bukan hanya cerita masa depan ia bisa hadir segera setelah persalinan.

Bukan Semua Penyakit Jantung Muncul Sekaligus

Menariknya, tidak semua jenis penyakit jantung meningkat pada fase ini. Gangguan seperti penyakit jantung iskemik atau henti jantung belum menunjukkan lonjakan signifikan dalam dua tahun pertama. Ini menunjukkan bahwa setiap jenis penyakit punya “waktu muncul” yang berbeda dan karena itu, pendekatan pencegahannya juga tidak bisa disamaratakan.

Tantangan Nyata di Dunia Nyata

Meski risiko ini nyata, praktik di lapangan masih punya banyak celah.
Tidak semua ibu mendapat pemantauan jantung lanjutan setelah melahirkan. Beberapa kendala yang sering terjadi:

  • asuransi kesehatan berhenti setelah masa nifas
  • belum ada jadwal skrining jantung postpartum yang jelas
  • fokus layanan kesehatan lebih cepat bergeser ke bayi

Padahal, justru ibu dengan riwayat hipertensi kehamilan membutuhkan perhatian ekstra di fase ini.

Hipertensi Saat Hamil Bukan Cerita yang Selesai di Ruang Bersalin 

Pesan besarnya sederhana tapi penting: hipertensi dalam kehamilan bukan sekadar “masalah sementara”. Ia adalah tanda awal bahwa tubuh khususnya sistem kardiovaskular perlu dipantau lebih serius setelah melahirkan.

Dengan memahami kapan risiko paling tinggi dan jenis gangguan apa yang paling mungkin muncul, tenaga kesehatan dan sistem layanan punya peluang besar untuk:

  • mendeteksi lebih awal
  • mencegah komplikasi berat
  • melindungi kesehatan ibu untuk jangka panjang

Karena melahirkan bukan garis akhir. Bagi tubuh perempuan, itu sering kali adalah awal dari fase baru yang sama pentingnya untuk dijaga. Untuk sister yang sampai berhasil di tahap ini jangan lupa untuk tetap melakukan perawatan dan mendeteksi jika ada yang dirasa menyakitkan ya! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ackerman-Banks, C. M., Lipkind, H. S., Palmsten, K., & Ahrens, K. A. (2023). Association between hypertensive disorders of pregnancy and cardiovascular diseases within 24 months after delivery. American journal of obstetrics and gynecology, 229(1), 65-e1.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hipertensi, kehamilan, Nelahirkam

Cuaca Panas dan Keguguran: Ketika Iklim Diam-Diam Ikut Menentukan Kehamilan

December 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Selama ini, keguguran sering dibahas dari sisi hormon, genetik, atau kondisi rahim.
Tapi ada satu faktor yang jarang kita sadari, padahal makin hari makin nyata dampaknya: suhu lingkungan yang semakin panas.

Perubahan iklim bukan cuma soal cuaca ekstrem atau gelombang panas.
Bagi perempuan hamil, terutama di awal kehamilan, panas berlebih bisa menjadi tekanan biologis yang serius dan sayangnya sering tak terlihat.

Cuaca Panas dan dampaknya pada Infertilitas

Tubuh perempuan hamil bekerja ekstra keras. Sehingga aliran darah meningkat, metabolisme berubah, dan sistem hormon berada dalam fase yang sangat sensitif.
Ketika suhu lingkungan terlalu tinggi, tubuh harus berjuang menjaga keseimbangan suhu internal.

Masalahnya, pada kehamilan awal, mekanisme ini belum stabil.
Panas berlebih dapat mengganggu aliran darah ke rahim dan plasenta, mengurangi suplai oksigen, dan menciptakan kondisi yang kurang ideal bagi embrio yang sedang berkembang.

Bukan karena tubuh “lemah”, tapi karena fase awal kehamilan memang sangat rentan terhadap stres lingkungan. Menariknya, dampak panas tidak dirasakan sama oleh semua perempuan. Mereka yang tinggal di daerah beriklim panas cenderung menghadapi risiko lebih besar, apalagi jika akses terhadap pendingin ruangan, air bersih, nutrisi, dan layanan kesehatan terbatas.

Di wilayah dengan sumber daya lebih baik, tubuh mungkin terbantu oleh adaptasi seperti pendingin ruangan atau istirahat yang cukup.Namun di banyak tempat lain, panas adalah paparan harian yang tidak bisa dihindari. Artinya, iklim dan kondisi sosial berjalan beriringan, membentuk risiko kehamilan secara perlahan.

Mengapa Awal Kehamilan Paling Sensitif?

Awal kehamilan adalah masa pembentukan sistem vital embrio. Perubahan kecil dalam lingkungan termasuk suhu bisa berdampak besar.

Panas berlebih dapat:

  • Mengganggu regulasi hormon kehamilan
  • Meningkatkan stres fisiologis pada ibu
  • Mengubah aliran darah ke rahim
  • Memicu respons inflamasi yang tidak ideal

Semua ini bisa meningkatkan risiko kehamilan berhenti sebelum waktunya, bahkan tanpa gejala yang jelas sebelumnya. Lingkungan tempat kita hidup baik udara, suhu, kondisi sosial ikut membentuk hasil kehamilan. Dan di era perubahan iklim, faktor ini tidak bisa lagi dianggap sepele. Sehingga memahami peran iklim bukan untuk menambah rasa takut,
tetapi untuk membuka ruang empati, pencegahan, dan kebijakan yang lebih ramah pada perempuan hamil.

Kehamilan bukan hanya urusan rahim, hormon, atau genetika. Ia adalah proses biologis yang hidup di dalam konteks lingkungan. Saat suhu bumi terus meningkat, perhatian pada kesehatan ibu hamil harus ikut berkembang. Karena menjaga kehamilan, pada akhirnya, juga berarti menjaga lingkungan tempat kehidupan itu tumbuh. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Xu, J., Xu, H., Zhao, X., Guo, Z., Zhao, S., & Xu, Q. (2025). Association between high ambient temperature and spontaneous abortion: A systematic review and meta-analysis. Ecotoxicology and Environmental Safety, 297, 118234.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: cuaca, Keguguran, kehamilan, panas

Preeklamsia: Komplikasi Kehamilan yang Harus Diwaspadai

September 19, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pada proses kehamilan tanpa disangka perjalanan sister masih panjang salah satunya dalam membawa bayi selamat sampai ke dunia. Hal yang menghalangi salah satunya adalah preeklamsia. Ia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang masih menjadi tantangan besar dalam bidang obstetri. Kondisi ini biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, ditandai dengan tekanan darah tinggi yang sering disertai bengkak, protein dalam urine, atau gangguan fungsi organ. Yuk pahami lebih lanjut!

Apa itu Preeklampsia

Secara klinis, preeklamsia terbagi menjadi dua jenis. Early-onset preeklampsia muncul sebelum usia kehamilan 34 minggu dan umumnya lebih berat serta berisiko tinggi bagi ibu maupun janin. Sementara itu, late-onset preeklampsia terjadi setelah 34 minggu. Jenis ini lebih sering dijumpai, tetapi kerap dianggap tidak seberat early-onset meskipun tetap dapat menimbulkan komplikasi serius.

Dengan memahami perbedaan karakteristik kedua jenis preeklampsia ini, diharapkan penanganan yang lebih tepat dan upaya pencegahan dapat dilakukan sejak dini demi melindungi kesehatan ibu dan bayi. Meski begitu, keduanya sama-sama bisa membahayakan ibu dan bayi.

Apa yang Terjadi di Plasenta?

Plasenta adalah organ penting yang jadi “jalur kehidupan” antara ibu dan janin. Pada ibu dengan preeklamsia, terutama yang muncul di akhir kehamilan, ternyata ada masalah di tingkat sel plasenta. Dampak dari preeklampsia ini diantaranya adalah:

  1. Radikal bebas meningkat, terjadi ketidakseimbangan antara radikal bebas dan pelindung alami tubuh (antioksidan). Dan kondisi ini disebut stres oksidatif, yang bisa merusak sel.
  1. Lemak di sel ikut rusak, radikal bebas menyerang lemak yang ada di dinding sel. dan akibatnya muncul zat bernama MDA yang menandakan adanya kerusakan lemak.
  2. Kematian sel karena zat besi (ferroptosis), Ada penumpukan zat besi di jaringan plasenta. Protein pelindung sel malah berkurang, sehingga sel lebih mudah mati.

Kenapa Penting untuk Diketahui?

Dapat diketahui bahwa late-onset preeklampsia tetap serius, meskipun sering dianggap lebih ringan. Kerusakan di plasenta bisa berpengaruh pada kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin.

Dengan pemahaman ini, di masa depan mungkin akan ada cara deteksi dini lewat biomarker atau bahkan terapi baru untuk menekan stres oksidatif dan mengatur kadar zat besi selama kehamilan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ortega, M. A., Garcia-Puente, L. M., Fraile-Martinez, O., Pekarek, T., García-Montero, C., Bujan, J., … & Saez, M. A. (2024). Oxidative stress, lipid peroxidation and ferroptosis are major pathophysiological signatures in the placental tissue of women with late-onset preeclampsia. Antioxidants, 13(5), 591.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kehamilan, preeklamsia

Bisa Nggak Sih Perkiraan Waktu Persalinan Diprediksi Lewat USG?

July 23, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Induksi persalinan biasanya dilakukan bila kehamilan sudah melewati waktu perkiraan lahir, air ketuban mulai menipis, atau ada kondisi medis seperti diabetes gestasional yang membutuhkan kelahiran lebih cepat. Namun, salah satu pertanyaan yang sering menggelayuti ibu hamil adalah, berapa lama waktu yang dibutuhkan dari mulai induksi sampai akhirnya bisa melahirkan? Bahas lebih lanjut yuk apa kata penelitian!

Metode Induksi dan Peran USG

Jadi ada sebuah penelitian yang mencoba memberikan jawaban dengan menggunakan USG untuk mengukur ketebalan otot rahim sebagai indikator kesiapan persalinan. Dalam studi tersebut, induksi dilakukan melalui dua tahapan: pertama pemasangan balon kateter (Foley catheter) di serviks untuk membuka rahim secara mekanik, dilanjutkan dengan infus oksitosin yang memicu kontraksi rahim. Dengan mengukur ketebalan otot rahim sebelum induksi, dokter bisa memperkirakan seberapa cepat proses persalinan akan terjadi.

Hasil menunjukkan bahwa rahim yang lebih tipis cenderung merespon induksi lebih cepat dan waktu persalinan bisa lebih singkat. Meskipun begitu, durasi persalinan akibat induksi tetap bergantung pada berbagai faktor lain. USG menjadi alat bantu yang berguna untuk menyesuaikan metode induksi supaya prosesnya lebih efektif dan meminimalkan ketidakpastian bagi ibu hamil. Tentunya keputusan terbaik tetap harus didiskusikan dengan dokter kandungan agar proses persalinan berjalan lancar dan aman

Nah, Apa Peran USG di Sini?

Biasanya USG dipakai untuk memantau janin. Tapi dokter juga mengukur ketebalan dinding otot rahim (miometrium) di lima titik, termasuk bagian atas (fundus) dan belakang rahim. Tujuannya? Untuk melihat apakah ada hubungannya dengan cepat atau lambatnya tubuh merespons induksi.

Hasilnya Gimana?

Dari 52 ibu hamil yang ikut studi ini, hampir 90% berhasil melahirkan normal. Dan yang menarik, peneliti menemukan bahwa:

Ketebalan otot rahim di bagian atas dan belakang berkaitan dengan waktu keluarnya balon induksi semakin tebal, makin cepat keluar. Tapi, ketebalan ini nggak terlalu berpengaruh ke total waktu hingga bayi lahir.

Temuan tersebut belum bisa dijadikan standar klinis, tapi cukup menjanjikan. Artinya, USG bukan cuma untuk lihat bayi, tapi juga bisa bantu dokter menilai kesiapan rahim untuk diinduksi.

Manfaatnya? adalah untuk membantu dokter merancang strategi induksi yang lebih tepat, menghindari proses induksi yang terlalu panjang dan melelahkan dan memberi harapan untuk persalinan yang lebih efisien dan aman

Jadi, kalau kamu dan sekitar kamu sedang mempertimbangkan induksi persalinan, jangan ragu buat diskusi lebih lanjut sama dokter kandungan. Siapa tahu, informasi seperti ini bisa bantu proses persalinan kamu jadi lebih nyaman dan terarah. Informasi menarik lainnya dapat sister dan paksu temukan di Instagram @menujuduagaris.id 

Referensi

  • Spiegel, E., Weintraub, A. Y., Aricha-Tamir, B., Ben-Harush, Y., & Hershkovitz, R. (2021). The use of sonographic myometrial thickness measurements for the prediction of time from induction of labor to delivery. Archives of Gynecology and Obstetrics, 303(4), 891-896.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: induksi, kehamilan, lahir, persalinan, USG

Waspada Miom di Usia 30+: Apa Dampaknya pada Kesuburan dan Kehamilan?

July 11, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Bagi wanita usia 30-an ke atas yang sedang merencanakan kehamilan, penting untuk lebih mengenal kondisi rahim, termasuk kemungkinan adanya miom atau fibroid, yaitu tumor jinak yang tumbuh di otot rahim. Memahami keberadaan dan jenis miom sangat penting karena dapat memengaruhi peluang kehamilan. Pahami lebih lanjut yuk mulai dari jenis hingga penangannya!

Jenis-Jenis Mioma dan Dampaknya pada Kesuburan

Mioma dibedakan berdasarkan lokasinya di rahim, dan masing-masing memiliki dampak yang berbeda terhadap kesuburan:

  • Submukosa: Tumbuh ke arah rongga rahim. Jenis ini paling sering mengganggu kesuburan karena dapat menghambat implantasi embrio.

  • Intramural: Berada di tengah dinding rahim. Dampaknya terhadap kesuburan masih menjadi perdebatan, tergantung ukuran dan posisinya.

  • Subserosa: Tumbuh ke arah luar rahim. Umumnya tidak mengganggu program hamil karena tidak memengaruhi rongga rahim secara langsung.

Apakah Semua Mioma Perlu Dioperasi?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa fibroid kecil dan tanpa gejala yang tidak mengganggu rongga rahim, seperti intramural atau subserosa, umumnya tidak secara signifikan menurunkan peluang hamil. Artinya, jika kamu memiliki fibroid tipe ini, belum tentu perlu operasi dan masih bisa mencoba program hamil alami.

Sebaliknya, submukosa fibroid terbukti dapat menurunkan peluang kehamilan dan meningkatkan risiko keguguran. Namun, tindakan medis seperti histeroskopi (pengangkatan fibroid melalui rahim) telah terbukti dapat meningkatkan angka kehamilan pada kasus ini.

Hubungan Usia, Miom, dan Kesuburan

Seiring bertambahnya usia, terutama di atas 30–35 tahun, perubahan hormon estrogen dan penurunan aliran darah rahim dapat memicu pertumbuhan miom dan menurunkan kualitas endometrium

Penelitian di Indonesia juga menemukan bahwa mioma uteri paling banyak terjadi pada wanita usia di atas 30 tahun. Oleh karena itu, program hamil di usia 30+ memang memerlukan perhatian ekstra terhadap kondisi rahim.

Kabar Baik: Mioma Bukan Akhir dari Segalanya

Jika fibroid tidak mengganggu rongga rahim, dokter biasanya hanya akan melakukan observasi sambil membantu mengoptimalkan kesehatan rahim dan hormon. Bila diperlukan, terdapat banyak opsi medis yang aman dan telah terbukti meningkatkan peluang kehamilan, seperti histeroskopi atau tindakan lain yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Tips untuk Sister yang Sedang Promil dan Punya Fibroid

  • Jangan panik! Kenali dulu jenis dan lokasi fibroid.

  • Diskusikan dengan dokter mengenai opsi terbaik, baik observasi maupun tindakan medis.

  • Fokus pada optimasi kesehatan rahim dan hormon.

  • Ikuti edukasi atau webinar untuk menambah wawasan seputar kesehatan rahim dan peluang kehamilan.

Bagaimana sudah lebih paham bukan? yang terpenting disini adalah kalian harus mengetahui keadaan mioma agar dapat segera diketahui bagaimana penanganannya, informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  1. Freytag, D., Günther, V., Maass, N., & Alkatout, I. (2021). Uterine fibroids and infertility. Diagnostics, 11(8), 1455.

  2. Bonanni, V., Reschini, M., La Vecchia, I., Castiglioni, M., Muzii, L., Vercellini, P., & Somigliana, E. (2023). The impact of small and asymptomatic intramural and subserosal fibroids on female fertility: a case–control study. Human Reproduction Open, 2023(1), hoac056.

  3. Meilani, N. S., Mansoer, F. A. F., Nur, I. M., Argadireja, D. S., & Widjajanegara, H. (2017). Hubungan usia dan paritas dengan kejadian mioma uteri di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat tahun 2017. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains (JIKS), Universitas Islam Bandung.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: 30+, infertilitas, kehamilan, miom, wanita

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.