
Banjir selama ini sering dipahami sebagai bencana yang berdampak langsung pada kerusakan fisik rumah hancur, akses terputus, hingga munculnya penyakit infeksi. Namun, di balik dampak yang terlihat tersebut, ada efek lain yang jauh lebih sunyi namun serius: gangguan terhadap kesehatan reproduksi, khususnya pada perempuan hamil.
Dalam beberapa dekade terakhir, frekuensi dan intensitas banjir meningkat seiring perubahan iklim, kenaikan permukaan laut, serta pertumbuhan populasi di wilayah rentan. Secara global, banjir telah memengaruhi lebih dari 2,3 miliar orang dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Sayangnya, dampak tidak langsung terutama pada kelompok rentan seperti ibu hamil masih belum banyak mendapat perhatian.
Padahal, kondisi saat banjir sering kali memicu krisis ekologi: air bersih sulit diakses, makanan terbatas, dan tempat tinggal menjadi tidak layak. Kombinasi ini menciptakan tekanan fisik dan psikologis yang signifikan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi keberlangsungan kehamilan.
Risiko Kehilangan Kehamilan yang Meningkat
Sebuah studi besar yang melibatkan lebih dari 90.000 data kehamilan dari 33 negara berkembang menunjukkan bahwa paparan banjir selama masa kehamilan berkaitan dengan peningkatan risiko kehilangan kehamilan, baik dalam bentuk keguguran maupun stillbirth.
Secara statistik, perempuan yang terpapar banjir memiliki risiko lebih tinggi mengalami kehilangan kehamilan dibandingkan yang tidak terpapar. Risiko ini bahkan menjadi lebih signifikan pada kelompok usia reproduksi yang lebih rentan, yaitu di bawah 21 tahun atau di atas 35 tahun, serta pada kehamilan trimester tengah hingga akhir.
Tidak hanya itu, faktor sosial-ekonomi juga memainkan peran penting. Perempuan dengan tingkat pendidikan dan pendapatan rendah, serta mereka yang bergantung pada sumber air permukaan, menunjukkan risiko yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dampak banjir tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dengan ketimpangan sosial yang sudah ada sebelumnya. Lalu bagaimana di Indonesia? sayangnya Indonesia juga menjadi salah satu negara yang selalu mengalami banjir setiap tahunnya. Tentu saja ini mempengaruhi bagaimana peran ibu dan juga program hamil secara lanjutan.
Ketimpangan yang Semakin Terlihat
Dampak banjir terhadap kehamilan paling terasa di negara berkembang, di mana hampir 89% populasi yang terpapar banjir tinggal. Wilayah seperti Asia Selatan, Afrika Sub-Sahara, Amerika Tengah, dan Karibia menjadi daerah dengan beban tertinggi.
Di wilayah-wilayah ini, angka kehilangan kehamilan memang sudah relatif tinggi, dan kondisi banjir semakin memperburuk situasi. Infrastruktur yang terbatas, akses layanan kesehatan yang tidak merata, serta kondisi tempat tinggal yang kurang aman membuat perempuan hamil menjadi semakin rentan.
Selain risiko fisik, tekanan mental selama dan setelah banjir juga berkontribusi terhadap hasil kehamilan yang buruk. Stres berkepanjangan, ketidakpastian, serta keterbatasan dukungan sosial menjadi faktor tambahan yang sering kali tidak terlihat, tetapi berdampak besar.
Kenapa Ini Penting untuk Dipahami
Kita jadi paham bahwa bencana alam seperti banjir bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga isu kesehatan reproduksi dan keadilan sosial. Dampaknya tidak merata, dan kelompok yang paling rentan justru menanggung beban terbesar.
Memahami hubungan antara paparan banjir dan risiko kehilangan kehamilan menjadi langkah penting untuk merancang kebijakan yang lebih responsif mulai dari sistem mitigasi bencana yang ramah ibu hamil, hingga penguatan layanan kesehatan di wilayah rawan.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan ibu dan janin di tengah perubahan iklim bukan hanya soal medis, tetapi juga soal bagaimana kita membangun sistem yang lebih tangguh dan inklusif.
Referensi
He, C., Zhu, Y., Zhou, L. et al. Flood exposure and pregnancy loss in 33 developing countries. Nat Commun 15, 20 (2024). https://doi.org/10.1038/s41467-023-44508-0



