• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

kehamilan

Ketahui Gangguan Tekanan Darah Tinggi yang Rawan Terjadi pada Umur 30+ dan Dampaknya pada kehamilan

July 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Gangguan hipertensi dalam kehamilan atau bisa disebut dengan Hypertensive Disorders of Pregnancy/HDP, seperti preeklampsia atau hipertensi gestasional, menjadi salah satu kondisi serius yang bisa membahayakan ibu dan bayi. Kondisi ini rawan menyasar pada ibu hamil terutama jika berumur lanjut, mengapa demikian? Yuk pahami lebih lanjut!

Bagaimana HDP di Seluruh Dunia

Secara global, jumlah kasus HDP meningkat dari 16,30 juta menjadi 18,08 juta dari tahun 1990 hingga 2019, menunjukkan total kenaikan sekitar 10,92%. Kelompok Usia Paling Terdampak Berdasarkan insiden dan prevalensi, jumlah kematian serta tahun hidup dengan disabilitas tertinggi ditemukan pada kelompok usia 25–29 tahun, diikuti oleh kelompok usia 30–34 tahun dan 20–24 tahun. Menariknya, tingkat insiden terendah ditemukan pada kelompok usia 25–29 tahun, sedangkan tingkat insiden yang lebih tinggi diamati pada kelompok usia termuda dan tertua. Ini menunjukkan bahwa wanita di usia sangat muda atau sangat tua memiliki risiko relatif yang lebih tinggi terkena HDP. Lalu kira-kira apa hubungannya dengan usia?

Tekanan Darah Tinggi Saat Hamil: Apa Hubungannya dengan Usia?

Bagi sister yang akan melakukan program hamil, harus mulai aware jika gangguan hipertensi dalam kehamilan (HDP), seperti preeklampsia dan hipertensi gestasional, lebih berisiko terjadi pada perempuan hamil usia 30 tahun ke atas. Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah dan fungsi organ tubuh mengalami penurunan elastisitas, sehingga tubuh lebih rentan terhadap lonjakan tekanan darah saat hamil. Risiko ini makin meningkat pada usia 35 tahun ke atas, di mana komplikasi seperti gangguan pertumbuhan janin, solusio plasenta, persalinan prematur, hingga kebutuhan operasi caesar juga lebih mungkin terjadi. 

Karena itu, skrining sejak awal kehamilan sangat penting, terutama bagi yang memiliki riwayat hipertensi, kehamilan pertama, preeklampsia sebelumnya, obesitas, atau diabetes. Deteksi dini dan pencegahan dengan aspirin dosis rendah yang tepat sasaran bisa membantu mengurangi risiko HDP dan dampaknya bagi ibu dan janin.

Kemajuan Global dan HDP

Tapi jangan jangan khawatir karena Kemajuan Global turut menurunkan angka kematian dan insiden HDP dikarenakan para calon ibu hamil sudah rutin melakukan pengecekan dan menjadi perhatian terhadap pemeriksaan prenatal dan edukasi kesehatan.

Artikel ini memberikan gambaran  gangguan hipertensi dalam kehamilan. Meskipun angka kematian dan insiden menurun di sebagian besar tempat, masih ada tantangan besar di negara-negara berpenghasilan rendah. Untuk itu bagi sister dan paksu yang akan melakukan program hamil sebaiknya melakukan pengecekan agar tidak terjadi hal yang tidak diharapkan nantinya. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Wang, W., Xie, X., Yuan, T., Wang, Y., Zhao, F., Zhou, Z., & Zhang, H. (2021). Epidemiological trends of maternal hypertensive disorders of pregnancy at the global, regional, and national levels: a population‐based study. BMC pregnancy and childbirth, 21(1), 364.
  • Leeman, L., & Fontaine, P. (2008). Hypertensive disorders of pregnancy. American family physician, 78(1), 93-100.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: 30+, dampak, hipertensi, kehamilan, umur

Kehamilan di Usia Lanjut: Memahami Risiko dan Pentingnya Dukungan yang Tepat

July 4, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Belakangan ini, beberapa wanita memutuskan untuk menunda kehamilan hingga usia 30-an, bahkan 40-an. Ada banyak alasan di baliknya, mulai dari fokus pada pendidikan dan karier, perubahan sosial seperti perceraian yang lebih umum, hingga kemajuan dalam pengobatan kesuburan. 

Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa usia ibu lanjut (Advanced Maternal Age/AMA), atau pada wanita hamil berusia 35 tahun ke atas dalam konteks kesehatan reproduksi kehamilan di usia ini memiliki tantangan tersendiri yang perlu dipahami dengan baik. Apa saja tantangannya? pahami lebih lanjut yuk!

Risiko yang Lebih Tinggi dalam Kehamilan di Usia Lanjut

Usia ibu yang lebih tua dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kehamilan. Beberapa di antaranya meliputi:

  1. Komplikasi Kehamilan Awal: Seperti kehamilan di luar kandungan (ektopik) dan keguguran.
  2. Masalah Janin: Peningkatan risiko kelainan kromosom pada janin dan cacat bawaan.
  3. Masalah Plasenta: Seperti plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir) dan solusio plasenta (plasenta lepas sebelum waktunya).
  4. Kondisi Medis Selama Kehamilan: Lebih rentan terhadap diabetes gestasional (diabetes saat hamil) dan preeklampsia (tekanan darah tinggi saat hamil).
  5. Kebutuhan Operasi Caesar: Kemungkinan melahirkan secara operasi caesar lebih tinggi.
  6. Risiko Persalinan Prematur dan Kematian Perinatal: Komplikasi di atas bisa menyebabkan bayi lahir prematur dan meningkatkan risiko kematian bayi.

Selain itu, jika seorang wanita sudah memiliki penyakit kronis, kehamilan dapat menambah risiko dan menuntut pemantauan yang lebih ketat. Lalu adakah dampak lain selain berdampak pada susahnya hamil?

Dampak Jangka Panjang pada Kesehatan Ibu

Kehamilan di usia lanjut memang bukan hal yang mustahil, tapi tetap ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan. Selain tantangan selama kehamilan, ada juga dampak jangka panjang yang bisa memengaruhi kesehatan ibu di kemudian hari.

Secara fisik, perubahan tubuh akibat kehamilan dan meningkatnya risiko komplikasi bisa berdampak seiring bertambahnya usia. Tapi bukan cuma soal fisik, sister karena dampak non-fisik juga perlu jadi perhatian. Misalnya, risiko depresi pasca persalinan cenderung lebih tinggi pada wanita yang hamil di usia lanjut.

Walau begitu, kehamilan di usia lanjut tetap bisa menjadi pilihan yang valid. Yang penting, sister dan paksu perlu mendapat pemahaman yang utuh dari berbagai pihak terutama dari tenaga medis dan support system terdekat.

Beberapa wanita mungkin memilih untuk tetap menjalani kehamilan meski ada risiko, dengan harapan besar dan kepercayaan diri yang kuat. Apalagi dengan adanya pengalaman positif sebelumnya atau bantuan teknologi reproduksi, banyak yang merasa lebih siap dan yakin.

Intinya, dengan edukasi yang cukup dan dukungan holistik, sister yang hamil di usia lanjut tetap bisa mengambil keputusan klinis yang tepat, menjalani kehamilan yang aman, dan menjaga kualitas hidup jangka panjang baik selama masa hamil, maupun ketika menua nanti. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Correa-de-Araujo, R., & Yoon, S. S. (2021). Clinical outcomes in high-risk pregnancies due to advanced maternal age. Journal of women’s health, 30(2), 160-167.
  • Bisri, D. Y., & Bisri, T. (2025). Preeklampsia dan Risiko Penyakit Kardiovaskuler di Masa Depan. Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia, 8(1), 61-68.
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22438-advanced-maternal-age

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hami, ibu, kehamilan, perempuan, trend, usia lanjut, wanita

Pahami Personalisasi Transfer Embrio untuk Hasil Kehamilan yang Lebih Baik

May 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Repeated Implantation Failure (RIF) atau disebut kegagalan berulang turut menjadi masalah yang sering dihadapi dalam dunia fertilisasi in-vitro (IVF). Meskipun IVF telah membantu banyak pasangan untuk memiliki anak, kegagalan implantasi tetap menjadi tantangan besar, terutama bagi mereka yang mengalami kegagalan berulang. 

Jadi kira-kira ada tidak ya? pendekatan untuk bisa membantu masalah ini? MDG akan menjelaskan bagaimana temuan yaitu melalui personalisasi transfer embrio. Baca lebih lanjut ya sister!

Mengapa Personalisasi Itu Penting?

Salah satu metode terbaru yang terbukti efektif dalam mengatasi kegagalan implantasi adalah penggunaan Endometrial Receptivity Array (ERA). ERA adalah teknologi yang digunakan untuk menilai kondisi endometrium (lapisan dalam rahim) dan menentukan kapan waktu terbaik untuk melakukan transfer embrio. Dengan mempersonalisasi jadwal transfer embrio berdasarkan hasil dari ERA, kemungkinan untuk berhasil hamil menjadi lebih tinggi.

Bagaimana ini dapat dipahami? jadi setiap wanita memiliki “jendela implantasi” yang berbeda-beda, yaitu waktu ketika rahim paling siap untuk menerima embrio yang telah dibuahi. Jika embrio ditransfer terlalu awal atau terlambat, meskipun kualitas embrionya baik, implantasi bisa gagal. Dengan menggunakan ERA, dokter dapat mengetahui kapan endometrium berada dalam kondisi terbaik untuk menerima embrio, sehingga waktu transfer embrio bisa disesuaikan secara tepat.

Selain itu, teknologi pengujian genetik pra-implantasi (PGT-A) juga dapat digunakan untuk memastikan bahwa embrio yang dipilih untuk transfer bebas dari gangguan genetik. Ini sangat penting karena embrio dengan kromosom yang tidak lengkap atau abnormal dapat menyebabkan kegagalan implantasi atau keguguran.

Hasil yang Lebih Baik dengan Pengujian Genetik

Dengan menggabungkan ERA dan PGT-A, banyak pasangan yang sebelumnya mengalami kegagalan implantasi berulang kini mendapatkan kesempatan lebih besar untuk berhasil hamil. Pengujian genetik membantu memilih embrio yang sehat, sementara ERA memastikan embrio tersebut ditransfer pada waktu yang tepat.

Bahkan temuan dari peneliti menunjukkan bahwa pasien yang menjalani transfer embrio yang dipersonalisasi setelah tes ERA, serta pengujian genetik untuk memastikan kualitas embrio, memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional.

Melalui pendekatan ini, pasangan yang menjalani IVF memiliki peluang lebih besar untuk hamil dan melahirkan anak yang sehat. Dengan menyesuaikan transfer embrio berdasarkan data yang diperoleh melalui ERA dan memastikan kualitas embrio dengan PGT-A, prosedur IVF menjadi lebih terarah dan hasilnya lebih dapat diprediksi.

Bagi pasangan yang telah lama berjuang untuk memiliki anak, personalisasi transfer embrio ini memberi harapan baru. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam dunia reproduksi berbantu, yang tidak hanya mengoptimalkan peluang kehamilan tetapi juga mengurangi risiko keguguran akibat masalah genetik atau waktu transfer yang tidak tepat. Meski begitu sister dan paksu jangan gegabah menggunakan prosedur ini ya! karena harus disesuaikan dengan saran dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Amin Sr, J., Patel, R., JayeshAmin, G., Gomedhikam, J., Surakala, S., Kota, M., & Gomedhikam, J. (2022). Personalized embryo transfer outcomes in recurrent implantation failure patients following endometrial receptivity array with pre-implantation genetic testing. Cureus, 14(6).

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, kehamilan, transfer

Mengenal Konsep “Dual Trigger” untuk Meningkatkan Peluang Kehamilan di Program IVF

April 28, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Kalau kita bicara soal program bayi tabung atau IVF (In Vitro Fertilization), salah satu langkah penting yang harus dilalui adalah proses pematangan sel telur (oosit). Sister dan paksu yang sedang menjalani program IVF pasti sudah familiar dimana dokter biasanya menggunakan suntikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (hCG) untuk membantu sel telur matang sempurna dan siap dibuahi. hCG ini bekerja meniru lonjakan alami hormon LH (Luteinizing Hormone) dalam tubuh, yang normalnya terjadi saat masa subur.

Tapi, seiring berkembangnya ilmu kedokteran, ditemukan bahwa penggunaan hCG saja punya risiko, salah satunya adalah meningkatkan kemungkinan terjadinya OHSS (Ovarian Hyperstimulation Syndrome) dan ternyata kondisi berbahaya akibat ovarium yang terlalu bereaksi terhadap obat.

Wah lalu Langkah Selanjutnya Bagaimana? Baca Sampai Habis Yuk!

Sebagai alternatif, digunakanlah pemicu lain, yaitu agonis GnRH (GnRHa). Ini adalah hormon yang bisa mendorong pelepasan LH dan FSH secara alami dari tubuh, membuat prosesnya lebih mirip dengan mekanisme normal. Namun, penggunaan GnRHa tunggal ternyata punya kekurangan: korpus luteum (bagian ovarium yang penting untuk mempertahankan kehamilan awal) menjadi kurang optimal, sehingga peluang embrio menempel di rahim bisa menurun. Dari situ, muncullah ide baru yaitu melalui Dual Trigger.

Apa itu Dual Trigger?

Dual trigger adalah kombinasi antara suntikan GnRHa dan hCG dalam satu waktu. Tujuannya adalah mengambil manfaat terbaik dari keduanya: menjaga keamanan dengan mengurangi risiko OHSS (berkat efek GnRHa) sekaligus tetap menjaga kondisi rahim dan mendukung keberhasilan implantasi embrio (berkat bantuan hCG).

Bagaimana Cara Kerjanya?

Dalam tubuh normal, menjelang ovulasi, terjadi lonjakan besar hormon LH dan sedikit FSH. Kedua hormon ini berperan mematangkan sel telur dan mempersiapkan tubuh untuk kehamilan. Kalau hanya menggunakan hCG, tubuh tidak mendapatkan lonjakan FSH yang alami itu. Sementara dengan GnRHa, lonjakan FSH bisa terjadi, tapi karena efeknya cepat hilang, korpus luteum kurang stabil.

Dengan dual trigger, tubuh mendapatkan lonjakan LH dan FSH alami dari GnRHa, ditambah dukungan stabil dari hCG untuk mempertahankan kondisi ideal setelah ovulasi. Kombinasi ini membuat peluang keberhasilan IVF meningkat, apalagi untuk pasien yang sebelumnya sulit mendapatkan sel telur matang atau yang respons tubuhnya terhadap pemicu biasa kurang optimal.

Siapa yang Cocok Menggunakan Dual Trigger?

Metode ini terutama disarankan untuk pasien yang sebelumnya mengalami jumlah sel telur matang rendah. Pasien yang respons tubuhnya kurang bagus terhadap pemicu standar.
dan Pasien dengan risiko sedang hingga tinggi untuk mengalami OHSS, namun tetap ingin melakukan transfer embrio segar. Dengan dual trigger, pasien-pasien ini memiliki peluang lebih baik untuk mendapatkan jumlah sel telur matang yang cukup, kualitas embrio yang bagus, dan tentu saja meningkatkan kemungkinan kehamilan.

Teknik dual trigger menjadi salah satu inovasi penting dalam dunia IVF. Dengan memadukan kelebihan dua jenis hormon, metode ini menawarkan pendekatan yang lebih alami dan seimbang, sekaligus membantu mengurangi risiko komplikasi. Jadi, kalau sister dan paksu yang sedang mempertimbangkan program IVF, tidak ada salahnya berdiskusi dengan dokter tentang kemungkinan menggunakan dual trigger sebagai bagian dari strategi menuju kehamilan yang sukses. Untuk informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Victoria Antoniou, E. M. J. (2024). Does Dual and/or Double Trigger Improve In Vitro Fertilisation Success?. Reproductive Health.
  • https://hellosehat.com/kehamilan/kesuburan/hormon-gnrh/

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Dual Trigger, hormon, IVF, kehamilan

Jadi paham dengan Infertilitas Melalui Bentuk Rahim

March 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu yang sedang mengusahakan kehamilan, pasti sudah tahu bahwa salah satu bagian yang paling penting adalah rahim, nah alangkah baiknya jika lebih paham tentang bentuk rahim, MDG akan membahas lebih lanjut. Baca sampai habis ya! 

Rahim dan Kesuburan: Apa Hubungannya?

Rahim Tentu saja hadir sebagai salah satu organ penting dalam sistem reproduksi perempuan. Agar bisa hamil dengan lancar, rahim sebaiknya memiliki struktur yang normal tanpa kelainan bawaan. Namun, beberapa perempuan mengalami anomali uterus kongenital, yaitu kelainan bentuk rahim yang terjadi sejak lahir. Salah satu jenis yang paling umum adalah uterus bersepta, di mana terdapat sekat di dalam rahim yang bisa mempengaruhi kesuburan.

Infertilitas atau kesulitan hamil dialami sekitar 10%–15% wanita usia subur. Ada banyak penyebabnya, seperti gangguan ovulasi, masalah di saluran tuba, faktor dari pasangan pria, hingga kelainan bentuk rahim. Meski hubungan antara uterus bersepta dan infertilitas masih diperdebatkan, banyak dokter yang merekomendasikan operasi untuk menghilangkan sekat ini agar meningkatkan peluang kehamilan.

Bentuk Rahim yang Berbeda, Peluang Hamil yang Berbeda?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut ada sebuah penelitian yang membandingkan bentuk dan ukuran rahim pada tiga kelompok perempuan, Ada perbedaan signifikan dalam ukuran rahim antara kelompok yang subur dan tidak subur. Beberapa faktor yang berpengaruh antara lain adalah panjang rahim secara keseluruhan, panjang rongga rahim, rasio panjang dan lebar rahim dan diameter rahim dari depan ke belakang. Melihat faktor tersebut memperlihatkan bagaimana bentuk dan ukuran rahim memang bisa mempengaruhi peluang kehamilan! Nah salah satu anatomi rahim yang bermasalah adalah Uterus Bersepta. Uterus bersepta menjadi salah satu kelainan bawaan pada rahim yang menyebabkan rahim terbagi menjadi dua rongga. Kelainan ini terjadi karena adanya dinding jaringan yang membentang di tengah rahim

Haruskah Uterus Bersepta Dioperasi?

Banyak dokter menyarankan operasi reseksi septum untuk perempuan dengan uterus bersepta yang mengalami kesulitan hamil. Namun, alangkah baiknya jika sebelum memutuskan operasi, penting untuk mengevaluasi ukuran dan bentuk rahim terlebih dahulu. Tidak semua wanita dengan uterus bersepta mengalami masalah kesuburan, jadi keputusan untuk menjalani prosedur medis ini harus benar-benar dipertimbangkan.

Kelainan bentuk rahim, seperti uterus bersepta, memang bisa mempengaruhi kesuburan, tetapi tidak selalu menjadi penyebab utama infertilitas. Jika sister atau seseorang yang sister dan paksu kenal mengalami masalah kesuburan, sebaiknya untuk konsultasikan dengan dokter untuk mengevaluasi bentuk rahim secara menyeluruh sebelum mengambil tindakan medis.

Dengan memahami faktor-faktor yang berpengaruh pada kesuburan, nantinya bisa membuat keputusan yang lebih tepat untuk meningkatkan peluang kehamilan. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Sevindik, B., Unver Dogan, N., Secilmis, O., Uysal, E., Fazliogullari, Z., & Karabulut, A. K. (2023). Differences in the anatomical structure of the uterus between fertile and infertile individuals. Clinical Anatomy, 36(5), 764-769.
  • https://www.healthline.com/health/septate-uterus

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: anatomi, infertilitas, kehamilan, rahim

Bagaimana jika Selama Hamil terjadi Peningkatan pada Hormon Tiroid?

January 24, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Tahukah sister jika selama kehamilan,  tubuh akan mengalami peningkatan metabolisme  tubuh  dan  peningkatan  sekresi hormon-hormon demi memenuhi kebutuhan janin  intrauterin, dan salah  satu  hormon  yang meningkat adalah hormon tiroid. Bagaimana jika hormon ini meningkat berlebih apakah akan berdampak pada kehamilan, MDG akan menjabarkan lebih lanjut. Baca sampai habis ya!

Memahami Hormon Tiroid dan hipotiroid

Selama kehamilan terjadi peningkatan metabolisme tubuh dan peningkatan sekresi   hormon   untuk   memenuhi   kebutuhan   intrauterine  dimana  salah  satu  hormon  tersebut  adalah hormon tiroid. Tentu hormon ini memiliki fungsi, salah satunya adalah untuk perkembangan normal otak dan sistem saraf bayi. Dimana selama trimester pertama, janin bergantung pada suplai hormon tiroid ibu. Kemudian pada sekitar 12 minggu, kelenjar tiroid janin mulai bekerja sendiri, tetapi kelenjar tiroid belum menghasilkan hormon tiroid yang cukup pada 18 hingga 20 minggu kehamilan. 

Sedangkan hipertiroid pada kehamilan didefinisikan sebagai peningkatan kadar hormon tiroid yaitu T4 bebas (fT4) atau T4 dan penurunan kadar thyroid stimulating hormone (TSH), tanpa disertai  peningkatan  serum  autoimunitas  tiroid  (TRab). Hipotiroid hadir sebagai sebuah kelainan yang membuat metabolisme tubuh melambat. 

Berdasarkan    guideline American  Thyroid  Association,  kehamilan  dapat  mempengaruhi hormon tiroid dan disfungsi tiroid yang  tidak  terobati  (hipertiroid  atau  hipotiroid)  hal ini berhubungan   dengan   peningkatan   komplikasi   dan luaran yang buruk.

Fakta Ibu Hamil dan Hormon Tiroid

Sedikitnya   2–3%   wanita   mengalami  gangguan  fungsi  tiroid  dan  sekitar  10%    mengalami    penyakit    tiroid    autoimun    walaupun  eutiroid.  Penelitian  lain  menunjukan  bahwa hipertiroid terjadi pada 2–17 dalam 1000 kelahiran   dan   1–3%   diantaranya   merupakan   kasus    hipertiroid.    Selama    masa    kehamilan,    akan    terjadi    pembesaran    ukuran    kelenjar    tiroid   sebesar   10–40%   dan   sekresi   thyroxine   (T4)    dan    triiodothyronine    (T3)    meningkat    sebesar  50%. 

Sebelum mengetahui itu semua maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, American Thyroid Association (ATA) merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan TSH, FT4 beserta dengan penanda tiroid autoimun seperti anti-TPO pada ibu hamil terutama pada trimester pertama, guna mendeteksi gangguan fungsi tiroid pada ibu sedini mungkin. Terdeteksinya gangguan tiroid yang disertai dengan hasil anti-TPO positif pada ibu hamil  perlu menerima pengobatan salah satunya dengan terapi levothyroxine.

Bagaimana sister yang sedang hamil, apakah akan membayangkan untuk melakukan tes tersebut? iya dan tidaknya tetap membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut ya! hal ini dapat dikonsultasikan melalui dokter sister dan paksu. Untuk informasi menarik lainnya soster dan paksu dapat follow Instagram @menujudagaris.id

Referensi

  • Suparman, E. (2021). Hipertiroid dalam Kehamilan. e-CliniC, 9(2), 479-485.
  • Anggraeni, R., & EM, T. A. (2022). Manajemen Hipertiroid pada Kehamilan. Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia, 5(2), 127-34.
  • https://prodia.co.id/id/artikel-detail/hipotiroid-pada-ibu-hamil-dapat-berakibat-fZ5bvA

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ayah, hormon, ibu, kehamilan, tiroid

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.