• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

rahim

Yuk Intip Perkembangan Terbaru dalam Pengobatan Endometrium Tipis

December 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Endometrium lapisan dalam rahim memegang peran penting dalam keberhasilan implantasi embrio. Pada fase luteal, ketebalan endometrium idealnya mencapai 7–12 mm agar embrio bisa menempel dan berkembang dengan optimal. Namun pada sebagian perempuan, endometrium tidak mencapai ketebalan yang memadai. Kondisi ini dikenal sebagai thin endometrium (TE), biasanya didefinisikan sebagai ketebalan endometrium ≤7 mm.

Endometrium tipis berdampak besar pada peluang hamil. Studi menunjukkan bahwa semakin tipis endometrium, semakin rendah angka implantasi, klinis pregnancy rate (CPR), hingga live birth rate (LBR) baik pada siklus alami maupun program IVF/ICSI. Bahkan, TE juga dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran, pertumbuhan janin terhambat, dan persalinan prematur.

Mengapa Endometrium Bisa Terlalu Tipis?

Penyebab TE beragam dan seringkali terjadi bersamaan

Faktor inflamasi dan gangguan anatomi

Kondisi seperti endometritis kronis, adhesi intrauterine (Asherman syndrome), endometriosis, dan polip dapat mengganggu lingkungan endometrium. Peradangan yang berlangsung lama terbukti mengubah ekspresi gen tertentu dan menghambat proliferasi sel stroma

Faktor hormonal

Interaksi estrogen–progesteron sangat penting untuk regenerasi endometrium. Ketidakseimbangan hormon, reseptor hormon yang berkurang, atau respons yang buruk terhadap estrogen dapat membuat endometrium tidak bertumbuh optimal.

Penggunaan obat jangka panjang

KB hormonal jangka panjang, atau obat perangsang ovulasi tertentu, dapat memicu penipisan endometrium pada beberapa pasien.

Faktor idiopatik

Sebagian perempuan mengalami endometrium tipis tanpa penyebab jelas, meski tidak memiliki riwayat operasi atau gangguan rahim.

Apa Risiko dari Endometrium Tipis?

Siser harus tahu terlepas dari penyebabnya, endometrium tipis hampir selalu mengarah pada masalah yang sama: angka implantasi rendah, risiko keguguran lebih tinggi, risiko kehamilan ektopik meningkat, gangguan pertumbuhan janin, dua kali lipat risiko bayi lahir dengan berat rendah

Implantasi yang gagal bukan hanya soal embrio; dua pertiga kegagalan IVF berkaitan dengan endometrium yang kurang reseptif.

Terapi Hormonal & Vaskular: Fondasi Pengobatan Endometrium Tipis

Berbagai pendekatan hormonal masih menjadi terapi utama untuk meningkatkan ketebalan endometrium. Estrogen digunakan untuk merangsang proliferasi, dengan respons optimal saat kadar estradiol mendekati ±1000 pg/mL, meski butuh kehati-hatian terhadap risiko hiperplasia. Dukungan terapi lain seperti growth hormone (GH) dan hCG membantu memperbaiki reseptivitas endometrium lewat peningkatan aliran darah dan ekspresi molekul implantasi (VEGF, LIF). Sementara itu, obat seperti GnRH agonist dan tamoxifen dapat meningkatkan ketebalan, namun manfaat klinisnya masih bervariasi. Dari sisi pembuluh darah, aspirin dosis rendah, sildenafil, kombinasi vitamin E–pentoxifylline, hingga penelitian awal botulinum toxin A menunjukkan potensi memperbaiki perfusi serta pertumbuhan endometrium.

Regenerative Medicine: Dari Stem Cell hingga Exosome

Pendekatan regeneratif menjadi harapan baru karena langsung menargetkan perbaikan jaringan endometrium. Stem cell seperti BM MSCs, MenSCs, AD-SCs, dan UC-MSCs menunjukkan kemampuan memperbaiki fibrosis, meningkatkan vaskularisasi, bahkan menghasilkan kehamilan pada beberapa laporan. Namun, terapi ini masih terbatas karena biaya tinggi, sifat invasif, dan minimnya uji klinis besar. Alternatif yang lebih aman, seperti exosome dan extracellular vesicles, mulai dilirik karena dapat menstimulasi regenerasi, membentuk pembuluh darah baru, dan meningkatkan reseptivitas endometrium tanpa membawa risiko sel hidup. PRP juga menjadi terapi yang berkembang pesat berkat kandungan growth factors yang mampu meningkatkan EMT dan peluang kehamilan meski efektivitasnya sangat bergantung pada konsentrasi yang tepat.

Terapi Adjuvan & Arah Masa Depan Pengobatan

Pendekatan komplementer seperti herbal Tiongkok, akupunktur, hingga terapi otot dasar panggul semakin banyak diteliti karena efeknya dalam meningkatkan aliran darah panggul, memperbaiki marker reseptivitas seperti HOXA10, dan membantu ketebalan endometrium. Meski pilihan terapinya semakin beragam, penanganan endometrium tipis tetap menjadi tantangan besar dalam dunia fertilitas. Penelitian skala besar, protokol yang seragam, hingga standar dosis terapi masih sangat dibutuhkan. Namun, dengan berkembangnya regenerative medicine dan teknologi exosome, masa depan terapi endometrium tipis semakin menjanjikan membuka peluang keberhasilan kehamilan yang lebih baik, baik secara natural maupun melalui program ART. Dari penjabaran itu semua sister dan paksu tetap harus melakukan konsultasi dengan dokter ya! Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Wang, Y., Tang, Z., & Teng, X. (2024). New advances in the treatment of thin endometrium. Frontiers in endocrinology, 15, 1269382.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometrium, rahim

Ketika Dinding Rahim Terlalu Tipis: Tantangan Besar dalam Program IVF

December 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Dalam proses kehamilan baik alami maupun lewat IVF embrio membutuhkan “rumah” yang sehat untuk menempel. Rumah itu adalah endometrium, lapisan dalam rahim yang seharusnya menebal setiap bulan menjelang masa subur.

Endometrium yang terlalu tipis (umumnya <7 mm) terbukti berkaitan dengan menurunnya peluang implantasi, meningkatnya kegagalan IVF, hingga risiko keguguran yang lebih tinggi. Meski teknologi reproduksi terus berkembang, mengatasi endometrium tipis masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam promil.

Mengapa Endometrium Bisa Menjadi Tipis?

Bahwa kondisi ini bersifat multifaktorial. Beberapa penyebab tersering antara lain:

  • Kerusakan lapisan dasar endometrium akibat kuret berulang atau infeksi (misalnya TB genital).
  • Efek samping obat, terutama clomiphene citrate, yang bisa menghalangi pertumbuhan lapisan rahim.
  • Gangguan aliran darah ke rahim, menyebabkan endometrium kurang mendapat nutrisi dan oksigen.
  • Kelainan bawaan struktur rahim, sehingga endometrium memang sulit menebal.
  • Masalah angiogenesis, yaitu pembentukan pembuluh darah baru yang tidak optimal.
  • Fibrosis dan perlengketan, seperti pada Asherman Syndrome.

Karena penyebabnya sangat beragam, penanganannya pun tidak bisa disamaratakan.

Bagaimana Dokter Menangani Endometrium Tipis?

Banyak terapi telah dicoba, namun belum ada yang benar-benar menjadi “gold standard”. Berikut pendekatan yang diulas dalam literatur:

  1. Terapi Estradiol

Sebagai hormon yang mendukung pertumbuhan endometrium, estradiol diberikan secara oral, suntik, atau vaginal. Pada sebagian pasien, estradiol membantu menambah ketebalan hingga batas aman untuk transfer embrio. Namun pada sebagian lainnya, peningkatannya minimal.

  1. Human Chorionic Gonadotropin (hCG)

hCG bekerja sebagai sinyal lokal yang menstimulasi pertumbuhan endometrium. Beberapa studi menunjukkan peningkatan ketebalan sekitar 0.5–0.8 mm, terutama pada kasus yang peka terhadap hormon.

  1. GnRH Agonist

Diberikan pada fase luteal, terapi ini dapat memperbaiki reseptivitas dan meningkatkan peluang implantasi pada pasien dengan endometrium tipis.

  1. Tamoxifen

Meski dikenal sebagai obat kanker payudara, tamoxifen juga dapat menstimulasi pertumbuhan endometrium, dan sering digunakan pada pasien PCOS yang tidak cocok dengan clomiphene citrate.

  1. Agen Vasoaktif

Termasuk aspirin dosis rendah, sildenafil vaginal, vitamin E, atau pentoxifylline.
Obat-obatan ini bekerja memperbaiki aliran darah rahim. Hasilnya bervariasi: ada pasien yang responsif, namun banyak juga yang tidak menunjukkan perubahan signifikan.

  1. Terapi Intrauterine: G-CSF & PRP
  • G-CSF dapat meningkatkan ketebalan endometrium dalam 48–72 jam pada kasus refrakter.
  • PRP (Platelet-Rich Plasma) menjadi pendekatan terbaru yang menunjukkan hasil menjanjikan pada beberapa penelitian kecil—bahkan memicu kehamilan pada kasus sulit.
  1. Pemeriksaan Receptivity: ERA Test

Jika masalah bukan pada ketebalan tapi pada “ketepatan waktu” implantasi, ERA membantu menentukan kapan endometrium siap menerima embrio secara optimal.

Mengapa Kondisi Ini Sulit Diatasi?

Endometrium tipis bukan hanya soal ketebalan, tetapi juga soal kualitas jaringan, aliran darah, reseptivitas hormon, dan tingkat inflamasi. Itulah sebabnya sebagian besar terapi hanya memberikan perbaikan kecil dan hasilnya sangat individual.

Bahkan dalam IVF, banyak pasien dengan endometrium tipis membutuhkan protokol yang lebih panjang, transfer embrio beku, atau kombinasi terapi agar rahim benar-benar siap menerima embrio.

Apa Artinya untuk Pasangan yang Sedang Menjalani Promil?

Jika endometrium sulit menebal, langkah yang disarankan umumnya meliputi:

  • Menunda transfer hingga endometrium mencapai ketebalan yang aman.
  • Menggunakan protokol FET (Frozen Embryo Transfer) untuk memberi waktu lebih panjang bagi endometrium tumbuh.
  • Mempertimbangkan terapi tambahan seperti G-CSF, PRP, atau agen vasoaktif.
  • Melakukan ERA test bila gagal implantasi berulang.

Dengan pendekatan personal dan pemantauan ketat, peluang hamil tetap ada meski membutuhkan strategi berbeda dari pasien lainnya.

Endometrium tipis adalah tantangan yang kompleks dalam promil, terutama pada IVF. Meski banyak terapi telah dicoba, belum ada satu metode yang pasti efektif untuk semua pasien. Penanganan harus melihat penyebab, riwayat, dan respons tubuh masing-masing perempuan. Diagnosis yang tepat dan rencana promil yang personal adalah kunci untuk meningkatkan peluang dua garis, sister. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Eftekhar, M., Tabibnejad, N., & Tabatabaie, A. A. (2018). The thin endometrium in assisted reproductive technology: An ongoing challenge. Middle East Fertility Society Journal, 23(1), 1-7.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Dinding, IVF, rahim

Rahim Kelebihan Cairan Bisa Bikin Embrio Gagal Nempel, Sister!

November 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister, kadang kita terlalu fokus ke telur dan sperma padahal lingkungan tempat embrio nempel itu sama pentingnya. Endometrial cavity fluid (ECF) atau cairan berlebih di rongga rahim adalah gangguan yang bisa menghalangi implantasi, baik pada program IVF maupun kehamilan alami.

Definisi & penyebab ECF

ECF sendiri merupakan akumulasi cairan dalam rongga endometrium. Penyebab umum:

  • Hydrosalpinx (tuba falopi berisi cairan yang bocor ke rahim karena sumbatan/pasca-infeksi).
  • Peradangan/infeksi endometrium (chronic endometritis) → produksi cairan abnormal.
  • Gangguan hormon atau respon endometrium yang abnormal.
  • Adhesi atau kelainan anatomi serviks.

Efek Endometrial Cavity Fluid (ECF) terhadap Hasil IVF/ICSI

Dalam sebuah studi retrospektif besar yang menggunakan metode propensity score matching, peneliti membandingkan hasil program IVF/ICSI antara dua kelompok pasien mereka yang mengalami endometrial cavity fluid (ECF) dan yang tidak.

Hasilnya menunjukkan bahwa keberadaan ECF berhubungan dengan penurunan peluang keberhasilan reproduksi. Angka kehamilan klinis pada kelompok dengan ECF tercatat lebih rendah (57%) dibanding kelompok tanpa ECF (63,5%). Demikian pula, angka kelahiran hidup (live birth rate) menurun dari 55,5% menjadi 48,4%, dan tingkat implantasi embrio juga lebih rendah (40,1% vs 44,4%).

Selain itu, penelitian ini menemukan adanya peningkatan kejadian diabetes gestasional pada kelompok dengan ECF. Meski begitu, tidak terdapat perbedaan signifikan dalam hal usia kehamilan saat persalinan maupun berat lahir bayi antara kedua kelompok tersebut.

Temuan ini menegaskan bahwa keberadaan ECF dapat berdampak negatif terhadap hasil akhir program IVF/ICSI, terutama dalam hal keberhasilan implantasi dan angka kelahiran hidup, meskipun tidak selalu memengaruhi kondisi janin setelah kehamilan berhasil terbentuk.

Meski studi berfokus pada IVF, mekanisme yang merusak implantasi berlaku pada kehamilan alami juga. Mekanisme yang mungkin Pengenceran sinyal molekuler: cairan dapat mengganggu konsentrasi sitokin dan faktor adhesi yang diperlukan embrio-endometrium cross-talk. Efek mekanis: embrio dapat “terapung” atau terdorong keluar sebelum melekat. Lingkungan inflamasi: ECF yang berkaitan dengan infeksi/peradangan menciptakan milieu yang tidak mendukung implantasi.

Evaluasi & manajemen

  • Diagnostik: USG transvaginal dapat mendeteksi ECF; HSG/hysteroscopy dan kultur endometrium diperlukan untuk mengevaluasi hydrosalpinx atau chronic endometritis.
  • Intervensi medis/bedah: untuk hydrosalpinx sering direkomendasikan salpingectomy (pengangkatan tuba) sebelum embryo transfer; untuk chronic endometritis terapi antibiotik khusus dapat meningkatkan outcome implantasi.
  • Pada kehamilan alami: fokus pada diagnosis dan eliminasi sumber peradangan/infeksi; pengaturan hormonal bila perlu.

Rekomendasi praktis untuk promil alami

  • Jika mengalami kegagalan implantasi berulang atau kehamilan berulang yang gagal, minta pemeriksaan USG untuk melihat adanya ECF.
  • Cegah/atasi infeksi genital bawah: jaga kebersihan, hindari praktik yang meningkatkan risiko infeksi, konsultasi saat ada keputihan abnormal.
  • Diet anti-inflamasi (buah, sayur, omega-3), manajemen stres, dan tidur cukup untuk membantu menurunkan peradangan sistemik.
  • Diskusikan opsi medis/bedah dengan dokter jika ECF persisten (terutama jika ada riwayat tuba bermasalah).

Lingkungan rahim yang “siap tanam” sama pentingnya dengan kualitas embrio. ECF adalah faktor tersembunyi yang bisa menjelaskan kegagalan implantasi baik pada IVF maupun kehamilan alami. Diagnosis tepat dan penatalaksanaan yang sesuai meningkatkan peluang kehamilan yang bertahan.

Referensi utama

  • Zhang W-X., dkk. (2021). Endometrial cavity fluid is associated with deleterious pregnancy outcomes in patients undergoing IVF/ICSI: a retrospective cohort study. Ann Transl Med. 2021;9(4):309.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Cairan, embrio, rahim

Ketika Bentuk Rahim Bisa Mempengaruhi Kehamilan

August 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Hai sister apakah kalian tahu bahwa bentuk rahim ternyata bisa berdampak besar pada keberhasilan kehamilan. Bagi sebagian perempuan, rahim yang tidak terbentuk sempurna sejak lahir dikenal sebagai Congenital Uterine Anomalies (CUA) atau kelainan rahim bawaan hal tersebut dapat memengaruhi kesuburan, meningkatkan risiko keguguran, hingga menimbulkan tantangan saat melahirkan.

Yuk kenalan apa itu Congenital Uterine Anomalies (CUA)?

CUA adalah kondisi bawaan yang menyebabkan bentuk atau struktur rahim berbeda dari biasanya. Contohnya bisa berupa:

Rahim yang terbagi dua,
Rahim hanya setengah sisi,
Atau bentuk rahim yang menyerupai hati.

Sayangnya banyak perempuan baru mengetahui kondisi ini saat kesulitan hamil atau mengalami komplikasi kehamilan.

Apa Dampaknya bagi Kehamilan?

Sebuah studi yang menggabungkan hasil dari banyak penelitian internasional menemukan bahwa perempuan dengan CUA cenderung mengalami tantangan berikut:

  • Lebih sedikit peluang melahirkan bayi hidup
    Perempuan dengan kelainan rahim punya kemungkinan lebih rendah untuk mencapai persalinan yang sukses dibandingkan perempuan dengan rahim normal.
  • Risiko keguguran lebih tinggi
    Baik di trimester pertama maupun kedua, kemungkinan keguguran meningkat signifikan.
  • Risiko kelahiran prematur dan bayi sungsang
    Bayi bisa lahir sebelum waktunya atau dalam posisi yang menyulitkan proses persalinan.
  • Lebih sering menjalani operasi caesar
    Karena bentuk rahim yang tidak ideal, banyak perempuan dengan CUA harus melahirkan lewat prosedur operasi.
  • Komplikasi serius seperti lepasnya plasenta sebelum waktunya
    Ini kondisi yang bisa membahayakan ibu dan bayi, dan lebih sering terjadi pada perempuan dengan CUA.

Jenis kelainan rahim juga berpengaruh pada jenis risiko Kelainan pembentukan saluran rahim (canalization defects): cenderung menyebabkan keguguran di awal kehamilan. Kelainan penyatuan rahim (unification defects): lebih sering dikaitkan dengan komplikasi di trimester akhir atau saat melahirkan.

Jadi apa yang Dapat Dilakukan?

Kalau sister atau seseorang yang kamu kenal memiliki CUA, bukan berarti tidak bisa hamil atau melahirkan dengan sehat. Yang penting adalah Mengenali kondisi ini sejak awal, mendapat pemantauan medis yang tepat, berkonsultasi secara rutin dengan dokter kandungan, serta menyusun rencana kehamilan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Congenital Uterine Anomalies memang bisa membawa tantangan dalam perjalanan menjadi ibu. Tapi dengan penanganan yang baik dan informasi yang cukup, banyak perempuan tetap bisa menjalani kehamilan yang aman dan bahagia. Mengenali bentuk rahim bukan cuma soal medis tapi soal memahami tubuh sendiri dan mengambil langkah tepat untuk masa depan yang sehat. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kim, M. A., Kim, H. S., & Kim, Y. H. (2021). Reproductive, obstetric and neonatal outcomes in women with congenital uterine anomalies: a systematic review and meta-analysis. Journal of clinical medicine, 10(21), 4797.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, perempuan, rahim

Bentuk Rahim Bisa Beda, dan Itu Bisa Pengaruhi Kesuburan

August 4, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

“Kok belum hamil-hamil, padahal haid lancar dan hasil lab bagus?”
Kadang jawabannya bukan di hormon atau sel telur tapi bisa jadi dari bentuk rahim. Banyak perempuan nggak menyadari kalau mereka punya anomali rahim alias kelainan bentuk rahim bawaan yang bisa menghambat kehamilan. Misalnya rahim terbagi dua (septate), rahim ganda (didelphys), atau rahim dengan bentuk tidak normal lainnya.

Masalahnya, kondisi ini sering luput terdeteksi karena gejalanya minim dan pemeriksaannya belum jadi standar di banyak tempat. Padahal, anomali rahim termasuk salah satu penyebab infertilitas yang bisa diatasi kalau dideteksi sejak awal.

Kenapa Sering Terlewat?

Sebelumnya, proses diagnosis anomali rahim masih punya banyak celah mulai dari klasifikasi bentuk rahim yang kurang jelas, Metode pemeriksaan yang bervariasi dan alat yang digunakan tidak selalu akurat

Karena itu, sering terjadi salah diagnosis baik overdiagnosis, underdiagnosis, maupun misdiagnosis. Dan ini berpengaruh langsung pada strategi program hamil.

Rekomendasi Pemeriksaan yang Lebih Akurat

Kini, sudah ada pendekatan yang lebih sistematis dan disepakati secara luas. Panduan ini menekankan pentingnya memilih jenis pemeriksaan berdasarkan kondisi pasien:

  1. Untuk perempuan tanpa keluhan: Pemeriksaan awal cukup dengan USG 2D dan pemeriksaan ginekologi rutin.
  2. Untuk yang punya riwayat infertilitas, keguguran berulang, atau menstruasi yang tidak normal: USG 3D direkomendasikan karena bisa menampilkan bentuk rahim secara lebih detail dan akurat.
  3. Untuk kasus yang kompleks atau hasil yang belum jelas: MRI dan endoskopi (seperti histeroskopi atau laparoskopi) digunakan untuk memastikan diagnosis.
  4. Untuk remaja yang sejak awal mengalami gejala mencurigakan: Disarankan kombinasi USG 2D, USG 3D, MRI, dan pemeriksaan endoskopi.

Cara Mengukur Bentuk Rahim dengan Benar

Salah satu penilaian penting dalam mendeteksi kelainan rahim adalah mengukur ketebalan dinding rahim. Titik ukurnya dihitung dari garis antara dua saluran tuba (interostial line) ke dinding luar rahim, dalam potongan gambar dari arah depan (koronal). Jika gambar ini tidak tersedia, bisa digunakan rata-rata ketebalan dinding depan dan belakang dari arah longitudinal.

Kenapa Ini Penting untuk Program Hamil

Beberapa bentuk rahim, seperti rahim septate, memang bisa diatasi lewat tindakan bedah kecil yang memperbaiki bentuk rahim dan secara signifikan meningkatkan peluang hamil. Tapi itu hanya bisa dilakukan kalau diagnosisnya tepat. Karena itu, deteksi anomali rahim tidak boleh diabaikan dalam evaluasi awal infertilitas.

Tidak semua masalah kesuburan berasal dari hormon atau sperma. Struktur rahim juga memegang peran penting dalam keberhasilan kehamilan. Deteksi dini kelainan bentuk rahim bisa jadi kunci penting dalam program hamil, terutama bagi pasangan yang sudah lama menunggu tanpa hasil yang jelas. Jadi jangan sampai luput dan lakukan pemeriksaan untuk kasus ini ya sister! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:
Grigoris F. Grimbizis, Attilio Di Spiezio Sardo, Sotirios H. Saravelos, Stephan Gordts, Caterina Exacoustos, Dominique Van Schoubroeck, Carmina Bermejo, Nazar N. Amso, Geeta Nargund, Dirk Timmerman, Apostolos Athanasiadis, Sara Brucker, Carlo De Angelis, Marco Gergolet, Tin Chiu Li, Vasilios Tanos, Basil Tarlatzis, Roy Farquharson, Luca Gianaroli, Rudi Campo, The Thessaloniki ESHRE/ESGE consensus on diagnosis of female genital anomalies, Human Reproduction, Volume 31, Issue 1, January 2016, Pages 2–7, https://doi.org/10.1093/humrep/dev264

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kesuburan, perempuan, rahim

Mengenal Lebih Dekat Kesehatan Rahim dan Peluang Kehamilan di Usia 30+ bersama Asha IVF dan Menuju Dua Garis

July 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 16 Juli 2025 – Komunitas Menuju Dua Garis (MDG) bekerja sama dengan Asha IVF Indonesia menggelar bootcamp bertema “Mengenal Lebih Dekat Kesehatan Rahim dan Peluang Kehamilan di Usia 30+”. Acara ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan berhasil menarik lebih dari 230 peserta yang hadir dari seluruh Indonesia.

Bootcamp dibuka oleh Bumin Tivani dan dilanjutkan dengan sambutan hangat dari founder MDG, Mizz Rosie, yang menyapa para Pejuang Dua Garis (PDG) dan mengajak mereka untuk merenungkan pentingnya rahim sebagai ruang kehidupan yang tumbuh selama sembilan bulan. “Kita semua pasti punya kesempatan. Maka, penting untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa saya lakukan untuk menjaga kesehatan rahim saya?” ujarnya.

Materi utama disampaikan oleh Dr. dr. Amang Surya P., SpOG., F-MAS., yang memaparkan struktur sistem reproduksi perempuan dan bagaimana proses kehamilan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk usia. Ia menegaskan bahwa perempuan perlu waspada terhadap kondisi rahim mereka, terutama jika ada kelainan organik seperti polip atau mioma. Tidak semua kondisi harus dioperasi, terutama jika tidak mengganggu peluang kehamilan. Dr. Amang juga menyoroti bahwa kompleksitas reproduksi perempuan jauh lebih tinggi dibanding laki-laki, karena pada laki-laki fokus utamanya hanya pada kualitas sperma.

Diskusi semakin hidup ketika peserta mulai mengajukan berbagai pertanyaan. Salah satu peserta bercerita bahwa ia berusia 33 tahun, telah menikah selama 4 tahun, dengan suami yang didiagnosis oligozoospermia. Ia sendiri memiliki jumlah sel telur yang sedikit dan berukuran kecil, meski siklus menstruasinya normal. Ia bertanya, masihkah ada peluang untuk hamil secara alami, dan langkah apa yang sebaiknya diambil selanjutnya?

Ada juga peserta yang ingin tahu apakah hasil HSG yang menunjukkan pembengkakan pada saluran tuba bisa berubah jika tes diulang setelah satu tahun. Pertanyaan lain datang dari peserta yang memiliki kista 4 cm tanpa adenomiosis, dan ingin tahu apakah kondisi ini akan mengganggu proses implantasi embrio.

Beberapa PDG juga berbagi kondisi yang lebih kompleks. Seorang peserta berusia 36 tahun mengalami adenomiosis di dinding luar rahim, kista coklat di ovarium, dan low AMH, sementara suaminya mengalami OAT. Setelah tiga kali IVF, mereka mendapatkan embrio berkualitas baik pada hari kelima dan bertanya mengenai peluang keberhasilan untuk IVF keempat.

Menanggapi semua pertanyaan tersebut, Dr. Amang menekankan pentingnya mengetahui kondisi diri sendiri sedini mungkin. “Jangan menunda-nunda untuk tahu kondisi kalian. Keputusan yang diambil hari ini adalah langkah berani. Jangan khawatir berlebihan kalau belum tahu kondisinya, karena bagaimana kalian bisa menentukan langkah kalau belum tahu harus dari mana memulainya?” pesannya.

Untuk informasi menarik dan edukasi seputar program kehamilan, MDG mengajak para PDG untuk mengikuti Instagram @menujuduagaris.id. Sampai jumpa di bootcamp selanjutnya.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Asha, IVF, kesehatan rahim, menuju dua garis, rahim, Usia 30+

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis Bisa Menyentuh Paru dan Diafragma: Memahami Thoracic Endometriosis Syndrome (TES)
  • The Fertility Cascade: Ketika Banyak Perempuan Tahu Mereka Infertil, Tapi Hanya Sedikit yang Bisa Mendapatkan Anak
  • Folat dan Cadangan Ovarium: Apakah Benar Bisa Mempengaruhi AFC, Sister?
  • Ketika IVF Berulang Mengubah Hidup: Apa yang Terjadi pada Kualitas Hidup & Emosi Perempuan?
  • Ketika Infertilitas Berkepanjangan Menggerus Kesehatan Mental: Apa yang Terjadi pada Perempuan?

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2025 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.