• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

menuju dua garis

Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Talkshow Kupas Tuntas Akar Keguguran Berulang Bersama Dr Uma Mariappen

February 8, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Surabaya, 7 Februari 2026 — Keguguran berulang masih menjadi pengalaman yang menyisakan luka fisik dan emosional bagi banyak pasangan. Tidak sedikit perempuan yang bisa hamil, namun kehamilan tersebut sulit bertahan. Isu inilah yang menjadi fokus utama talkshow “Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Memahami Keguguran Berulang dari Akar Masalahnya” yang digelar oleh Menuju Dua Garis bersama Thomson Fertility.

Acara dibuka oleh Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis, yang menegaskan pentingnya menggeser cara pandang terhadap keguguran berulang. Menurutnya, banyak pasien masih terjebak pada rasa bersalah dan asumsi keliru, padahal keguguran berulang adalah kondisi medis kompleks yang membutuhkan pemahaman berbasis sains, bukan sekadar mitos atau dugaan personal.

Sebagai pembicara utama, Dr Uma Mariappen, Consultant Obstetrician & Gynaecologist, IVF Specialist, sekaligus Gynaecology Laparoscopic Surgeon dari Thomson Fertility Puchong, Malaysia, memaparkan bahwa keguguran berulang tidak selalu disebabkan oleh faktor yang selama ini paling sering dicurigai.

“Fibroid dan polip memang sering ditemukan, tetapi bukan penyebab utama keguguran berulang pada sebagian besar kasus,” jelas Dr Uma.
“Yang jauh lebih penting adalah melihat faktor hormonal, metabolik, genetik, hingga kondisi lingkungan rahim secara menyeluruh.”

Dr Uma juga memperkenalkan pendekatan diagnostik dan teknologi terbaru untuk evaluasi rahim yang saat ini sudah digunakan di pusat fertilitas internasional. Beberapa di antaranya masih tergolong sangat advanced dan bahkan belum tersedia secara luas di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan dokter menilai lingkungan rahim secara lebih detail dan presisi, sehingga penyebab keguguran berulang tidak lagi hanya ditebak, tetapi benar-benar ditelusuri dari akarnya.

Antusiasme peserta terlihat jelas saat sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Berbagai pertanyaan praktis yang sering menjadi kegelisahan pasien dibahas secara terbuka, di antaranya terkait peran progesteron dalam program kehamilan, penggunaan metformin pada PCOS, serta keamanan terapi jangka panjang.

Dr Uma menjelaskan bahwa progesteron memiliki peran penting dalam mendukung kehamilan, baik pada program IUI maupun IVF, namun penggunaannya tidak bisa disamaratakan. Pada IUI, progesteron umumnya diberikan dengan durasi tertentu (cut-off), sementara pada IVF penggunaannya memang lebih intensif dan terkontrol.

Terkait PCOS, metformin masih menjadi salah satu terapi yang digunakan untuk memperbaiki resistensi insulin dan lingkungan hormonal, termasuk pada trimester awal kehamilan. Namun, konsumsi jangka panjang tetap perlu pengawasan medis untuk memastikan keamanan, termasuk terhadap fungsi ginjal dalam penggunaan bertahun-tahun.

Selain itu, ditegaskan pula bahwa pada IUI, proses pembuahan tetap terjadi secara alami di dalam tubuh, sehingga pendekatannya berbeda dengan IVF yang lebih terkontrol secara laboratorium.

Talkshow ini menekankan satu pesan penting: keguguran berulang bukan kegagalan pribadi, melainkan kondisi medis yang perlu ditangani secara sistematis, individual, dan berbasis bukti ilmiah. Dengan edukasi yang tepat dan teknologi yang terus berkembang, harapan untuk kehamilan yang bertahan tetap terbuka bagi banyak pasangan.

Acara berlangsung hangat, interaktif, dan sarat wawasan, meninggalkan kesan kuat bahwa memahami tubuh sendiri adalah langkah awal menuju keputusan reproduksi yang lebih tepat dan berdaya.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hamil, keguguran berulang, menuju dua garis, program hamil

Mengapa Pendekatan Satu Arah Sering Gagal dalam Infertilitas?

December 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas sering diperlakukan seolah hanya ada satu sumber masalah yang harus dicari dan diperbaiki. Padahal, proses terjadinya kehamilan melibatkan banyak sistem yang bekerja bersamaan. Rahim, ovarium, tuba, hormon, sistem imun, metabolisme, hingga kondisi mental saling terhubung dan saling memengaruhi. Ketika satu bagian terganggu, keseimbangan keseluruhan ikut berubah.

Ketika Tubuh Menyimpan Lebih dari Satu Cerita

Banyak perempuan datang dengan kondisi yang terlihat “baik-baik saja”. Siklus menstruasi teratur, hasil pemeriksaan awal normal, dan tidak ada nyeri yang mencolok. Namun, pemeriksaan lanjutan sering membuka cerita lain: peradangan tersembunyi, perubahan struktur rahim, gangguan pada tuba, atau kondisi hormonal yang tampak ringan tapi berdampak besar.

Infertilitas jarang hadir sendirian. Ia sering muncul sebagai gabungan beberapa gangguan kecil yang saling memperkuat.

Fokus Terlalu Sempit, Masalah Tetap Tinggal

Pendekatan yang hanya mengejar satu target misalnya ovulasi atau kualitas sel telur sering lupa bertanya hal yang lebih mendasar. Apakah rahim siap menerima embrio? Apakah lingkungan di dalamnya mendukung implantasi? Apakah tubuh berada dalam kondisi aman untuk mempertahankan kehamilan?

Ketika hanya satu aspek yang diperbaiki, sementara yang lain dibiarkan, hasilnya sering tidak sesuai harapan.

Tidak Selalu Nyeri, Tapi Bisa Merusak

Salah satu tantangan terbesar dalam infertilitas adalah banyaknya kondisi yang berjalan tanpa gejala jelas. Tidak semua gangguan reproduksi menimbulkan nyeri hebat atau tanda yang mudah dikenali. Ada masalah yang berkembang perlahan, diam-diam, dan baru terdeteksi ketika kehamilan sulit terjadi atau terus berulang gagal.

Ketidakhadiran gejala sering membuat masalah yang sebenarnya serius menjadi terlambat ditangani.

Infertilitas bukan hanya soal organ reproduksi. Ia berkaitan dengan bagaimana tubuh merespons stres, peradangan, perubahan hormon, hingga adaptasi terhadap lingkungan dan gaya hidup. Setiap sistem memberi kontribusi, sekecil apa pun.

Karena itu, memahami infertilitas berarti memahami tubuh sebagai satu kesatuan, bukan kumpulan bagian yang berdiri sendiri.

Mengapa Pendekatan Menyeluruh Lebih Masuk Akal

Pendekatan yang melihat infertilitas secara menyeluruh membantu mengungkap keterkaitan antar masalah. Bukan sekadar mencari penyebab, tetapi memahami pola. Bukan hanya memperbaiki satu fungsi, tetapi membangun kembali keseimbangan tubuh.

Dalam banyak kasus, perubahan besar justru terjadi ketika perhatian diberikan pada hal-hal yang sebelumnya dianggap “tidak terlalu penting”.

Kegagalan pendekatan satu arah bukan berarti tubuh tidak mampu. Sering kali, itu hanya tanda bahwa tubuh belum didengarkan secara utuh. Infertilitas bukan tentang siapa yang salah, melainkan tentang memahami sinyal-sinyal halus yang dikirim tubuh selama ini.

Ketika tubuh dipahami sebagai sistem yang saling terhubung, perjalanan menuju kehamilan pun menjadi lebih manusiawi dan bermakna. Jadi sister dan paksu jangan lupa untuk konsultaskan ke dokter ya! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Popescu, C. D., Hamoud, B. H., Sima, R. M., Bobirca, A., Balalau, O. D., Amza, M., … & Ples, L. (2024). Infertility as a possible multifactorial condition; The experience of a single center. Journal of Mind and Medical Sciences, 11(2), 59.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, menuju dua garis, pendekatan satu arah

Menuju Dua Garis – Gathering di Surabaya: Ruang Berbagi, Belajar, dan Menguatkan Sesama

November 24, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Alpha Story with Mizz Rosie Surabaya, 23 November 2025

Komunitas Menuju Dua Garis, bekerja sama dengan Alpha Women’s Specialists Indonesia dan Alpha IVF, sukses menggelar acara Gathering at Surabaya pada Minggu, 23 November 2025. Acara ini menghadirkan edukasi kesuburan berbasis bukti ilmiah yang dikemas hangat, personal, dan mudah dipahami untuk para pasangan yang sedang berjuang menuju dua garis.

Dalam acara ini, hadir para dokter Alpha yang siap memberikan edukasi komprehensif seputar kesehatan reproduksi. Di antaranya dr. Glenn Ega Budi Tanoyo, Sp.OG, serta Dr. Tan Chong Seong, Consultant O&G & Fertility Specialist dari Alpha IVF Kuala Lumpur, Malaysia, yang hadir langsung untuk memberikan wawasan terkini tentang kemajuan teknologi IVF, peran AI, hingga tes genetik dalam memaksimalkan peluang kehamilan

Acara yang dipandu langsung oleh Mizz Rosie, Founder dari Menuju Dua Garis, dibuka dengan cerita perjalanan pribadinya menjalani program hamil dari IVF 1 hingga IVF ke-6. Sharing ini menjadi momen yang paling ditunggu karena menyalakan harapan baru sekaligus memperkuat solidaritas antar peserta. Untuk mendukung para pasangan yang hadir, Alpha juga memberikan doorprize berupa paket pemeriksaan kesuburan.

Sesi Edukasi: Tanya Dokter Tanpa Basa-Basi

Acara ini menghadirkan dua pembicara dari Alpha:

  • Seorang dokter spesialis obstetri, ginekologi, dan fertilitas dari Alpha Women’s Specialists Indonesia
  • Seorang konsultan IVF & fertility dari Alpha IVF Kuala Lumpur

Dalam sesi edukasi, para dokter menjawab berbagai pertanyaan penting seputar kesuburan perempuan maupun laki-laki, termasuk:

Topik Kesuburan Perempuan

  • Protokol IVF untuk PCOS Tidak semua PCOS harus langsung IVF; usia dan kondisi hormonal menjadi faktor penentu.
  • Endometriosis & AMH rendah  Penanganan bergantung pada riwayat laparoskopi, cadangan ovarium, dan strategi stimulasi yang tepat.
  • Blastokista & risiko kelainan kromosom  Peserta menanyakan cara meningkatkan kualitas blastokista, termasuk gaya hidup, suplementasi, dan manajemen OAT serta mikrodeletion Y pada pasangan.
  • Repeated Implantation Failure (RIF) – Meski blastokista sudah euploid dan endometrium optimal, pemeriksaan tambahan seperti immunology, ERA/Trio Test, atau evaluasi inflamasi tetap relevan.
  • Mioma & kehamilan alami/IVF – Pada kasus mioma 4 cm, penentuan perlu-tidaknya operasi bergantung lokasi, gejala, dan rencana IVF.
  • PRP ovarium untuk low AMH usia >38 tahun – Dibahas efektivitas, kandidat ideal, dan batasan.
  • Protokol IVF untuk AMH sangat rendah (0,1–0,05) – Penjelasan mengenai strategi stimulasi, harapan realistis, serta kapan mempertimbangkan donor sel telur.

Topik Kesuburan Laki-Laki

  • Azoospermia Non-Obstruktif – Alpha IVF menjelaskan bahwa stimulasi hormonal seperti HCG sering menjadi langkah awal sebelum mikro-TESE.
  • Obstructive Azoospermia – Pada kondisi ini peluang memperoleh sperma umumnya lebih baik, termasuk opsi tindakan bedah.
  • DFI tinggi (41%) – Masih bisa diperbaiki dengan penanganan inflamasi, antioksidan, perubahan gaya hidup, dan menyesuaikan strategi IVF.
  • Asthenoteratozoospermia – Dibahas apakah bisa sembuh dan kapan harus menggunakan tindakan medis dibanding suplementasi.
  • Criptozoospermia & peluang IVF – Peserta mendapat penjelasan tentang estimasi keberhasilan dan pilihan penanganan.
  • CoQ10 & DHEA – Penjelasan mengenai dosis aman serta siapa yang sebaiknya mengonsumsi.

Pertanyaan umum lainnya

  • “Tes kesuburan di Surabaya dan KL sama atau berbeda?”
  • “Jika sudah pernah hamil tapi belum berhasil lagi selama 16 tahun, apa yang harus diperiksa?”  Dokter menjelaskan bahwa pendekatannya sama-sama berbasis standar internasional, namun KL memiliki keunggulan teknologi tertentu untuk kasus kompleks.

Acara ini menjadi ruang aman bagi para pasangan untuk bertanya tanpa rasa malu. Suasana hangat, interaktif, dan penuh empati membuat banyak peserta merasa lebih dipahami dan lebih siap melanjutkan perjalanan program hamil mereka.

Menuju Dua Garis berharap acara seperti ini dapat diteruskan di kota-kota lain agar semakin banyak pasangan mendapat edukasi kesuburan yang akurat, praktis, dan berempati.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: menuju dua garis, Ruang Belajar

Fertility Awareness-Based Methods (FABMs) dan Perannya dalam Kesehatan Reproduksi Wanita

August 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam beberapa dekade terakhir, minat wanita untuk mempelajari cara melacak siklus menstruasi atau siklus reproduksi meningkat pesat. Tidak hanya untuk pemantauan kesehatan, tetapi juga untuk tujuan perencanaan keluarga. Perkembangan teknologi mendukung tren ini: kini tersedia lebih dari 500 aplikasi kesehatan yang berfokus pada pelacakan siklus, jumlahnya meningkat tiga kali lipat dibandingkan lima tahun lalu.

Dengan bimbingan tenaga terlatih atau melalui program edukasi, wanita dapat belajar mengenali tanda-tanda eksternal yang mencerminkan pola hormonal normal maupun abnormal. Informasi ini bermanfaat baik untuk memahami kondisi kesehatan reproduksi maupun untuk perencanaan kehamilan.

Dari Natural Family Planning ke FABMs

Secara historis, metode ini dikenal sebagai Natural Family Planning (NFP), yaitu cara menghindari atau merencanakan kehamilan dengan mengamati tanda-tanda alami fase subur dan tidak subur. Kini, istilah Fertility Awareness-Based Methods (FABMs) lebih sering digunakan. Alasannya, FABMs tidak hanya berfungsi untuk perencanaan keluarga, tetapi juga sebagai alat penting untuk evaluasi dan perawatan medis terkait kesehatan reproduksi wanita.

Siklus Menstruasi sebagai Tanda Vital

Siklus menstruasi kini diakui sebagai salah satu tanda vital kesehatan wanita. Sama seperti tekanan darah atau denyut jantung, variasi dalam pola menstruasi bisa menjadi indikator dini adanya masalah kesehatan.

Dengan FABMs, wanita dapat melacak perdarahan menstruasi, perubahan lendir serviks, suhu basal tubuh (basal body temperature/BBT), hingga kadar hormon urin. Catatan harian, baik manual maupun aplikasi digital, menjadi “peta tubuh” yang mencerminkan kondisi reproduksi. Sayangnya, hanya sekitar 4% dokter yang menerima pelatihan formal terkait FABMs, sehingga banyak informasi penting dari catatan siklus yang terlewatkan dalam praktik klinis.

Dasar Fisiologi FABMs

FABMs berangkat dari pemahaman bahwa organ reproduksi wanita menghasilkan tanda-tanda biologis yang dapat diamati. Misalnya:

  • Lendir serviks: berubah sesuai kadar estrogen, dari kental menjadi bening dan licin saat mendekati ovulasi.
  • Hormon luteinizing (LH): lonjakan hormon ini memicu ovulasi.
  • Suhu basal tubuh (BBT): meningkat setelah ovulasi akibat pengaruh progesteron.

Puncak kesuburan biasanya ditandai dengan cairan serviks yang bening, licin, dan elastis. Ovulasi terjadi dalam 2–3 hari setelah tanda ini muncul. Jika tidak terjadi pembuahan, kadar progesteron menurun, endometrium luruh, dan menstruasi dimulai kembali.

Jenis-jenis FABMs

Secara umum, ada enam kategori FABMs yang digunakan untuk mengidentifikasi masa subur, yaitu:

  1. Metode lendir serviks
  2. Metode suhu basal tubuh (BBT)
  3. Metode hormon urin
  4. Metode sympto-thermal (gabungan gejala tubuh + suhu)
  5. Metode sympto-hormonal (gabungan gejala tubuh + hormon urin)
  6. Metode kalender (cycle length-based)

 

FABMs dan Kesehatan Wanita

Fungsi ovulasi dapat bervariasi sepanjang fase kehidupan wanita: menarke, kehamilan, menyusui, hingga menopause. Dengan melacak indikator kesuburan, FABMs membantu mendeteksi gangguan ovulasi yang sering berkaitan dengan masalah hormonal.

Beberapa kondisi yang bisa terdeteksi melalui pola siklus antara lain:

  • Gangguan hipotalamus akibat olahraga berlebihan, pola makan tidak sehat, atau stres.
  • PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), dialami sekitar 10% wanita usia reproduksi.
  • Endometriosis, juga mengenai sekitar 10% wanita usia reproduksi dan menjadi penyebab umum subfertilitas.

FABMs bukan sekadar metode untuk merencanakan atau menghindari kehamilan, tetapi juga merupakan alat penting dalam menjaga kesehatan reproduksi wanita. Dengan pemahaman dan pemantauan yang tepat, FABMs dapat membantu deteksi dini gangguan hormonal, mendukung diagnosis, dan menjadi panduan perawatan. Informasi menarik lainnya jangan lupa buat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Duane, M., Stanford, J. B., Porucznik, C. A., & Vigil, P. (2022). Fertility awareness-based methods for women’s health and family planning. Frontiers in Medicine, 9, 858977.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fertilitas, infertilitas, menuju dua garis, pejuang dua garis, wanita

Suplemen Asam Folat dan Zinc untuk Kesuburan Pria, Benarkah Efektif?

July 24, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas atau masalah kesuburan nggak cuma urusan perempuan, lho. Faktanya, sekitar separuh dari kasus pasangan yang sulit punya anak, penyebabnya datang dari pihak pria. Karena itu, banyak pria mulai mencoba berbagai cara untuk meningkatkan kualitas sperma termasuk konsumsi suplemen seperti asam folat dan zinc.

Apa sih asam folat dan zinc itu?

Asam folat (atau vitamin B9) penting banget untuk pembentukan DNA dan pertumbuhan sel, termasuk sel sperma. Zinc juga punya peran besar dalam proses produksi sperma dan bantu melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

Karena keduanya dianggap punya efek baik, banyak suplemen untuk pria dibuat dari campuran asam folat dan zinc. Tapi, apakah hasilnya benar-benar terbukti?

Tapi… seberapa efektif sebenarnya suplemen ini?

Sebuah studi besar yang menggabungkan data dari 8 penelitian sebelumnya (dengan lebih dari 2.000 pria) mencoba menjawab pertanyaan ini. Dan hasilnya cukup menarik:

  • Asam folat saja bisa membantu memperbaiki gerak sperma (motilitas)—artinya, sperma lebih lincah bergerak menuju sel telur.

  • Tapi asam folat nggak terlalu berdampak pada jumlah atau bentuk sperma.

  • Saat asam folat dikombinasikan dengan zinc, ternyata hasilnya tidak lebih baik. Gerak, jumlah, dan bentuk sperma nggak banyak berubah.

Ada juga data yang menunjukkan bahwa pria yang minum asam folat saja punya peluang keberhasilan program bayi tabung (IVF–ICSI) yang sedikit lebih tinggi. Tapi angka ini belum cukup kuat untuk disebut “signifikan”.

Jadi, perlu konsumsi suplemen atau nggak?

Kalau kamu atau pasangan sedang menjalani promil dan mempertimbangkan suplemen, asam folat mungkin bisa jadi pilihan untuk bantu meningkatkan kualitas sperma, terutama geraknya. Tapi penting juga untuk:

  • Konsultasi dulu ke dokter sebelum mulai konsumsi

  • Nggak sembarangan minum suplemen tinggi dosis

  • Menjaga gaya hidup sehat secara keseluruhan (makan bergizi, cukup tidur, hindari rokok dan alkohol)

Karena, seampuh apa pun suplemen, hasilnya tetap tergantung kondisi tubuh masing-masing.

Kesuburan paksu terutama merupakan hal yang kompleks dan nggak selalu bisa diselesaikan hanya dengan suplemen. Tapi kalau kamu lagi ikhtiar dan ingin mencoba asam folat, bisa jadi itu langkah awal yang baik. Dan ingat, ikhtiar bersama dan komunikasi terbuka dengan pasangan juga nggak kalah penting, hal yang ga kalah penting juga adalah berkonsultasi dengan dokter! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Li, X., Zeng, Y. M., Luo, Y. D., He, J., Luo, B. W., Lu, X. C., & Zhu, L. L. (2023). Effects of folic acid and folic acid plus zinc supplements on the sperm characteristics and pregnancy outcomes of infertile men: A systematic review and meta-analysis. Heliyon, 9(7).

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: asal float, menuju dua garis, promil, zinc

Mengenal Lebih Dekat Kesehatan Rahim dan Peluang Kehamilan di Usia 30+ bersama Asha IVF dan Menuju Dua Garis

July 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 16 Juli 2025 – Komunitas Menuju Dua Garis (MDG) bekerja sama dengan Asha IVF Indonesia menggelar bootcamp bertema “Mengenal Lebih Dekat Kesehatan Rahim dan Peluang Kehamilan di Usia 30+”. Acara ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan berhasil menarik lebih dari 230 peserta yang hadir dari seluruh Indonesia.

Bootcamp dibuka oleh Bumin Tivani dan dilanjutkan dengan sambutan hangat dari founder MDG, Mizz Rosie, yang menyapa para Pejuang Dua Garis (PDG) dan mengajak mereka untuk merenungkan pentingnya rahim sebagai ruang kehidupan yang tumbuh selama sembilan bulan. “Kita semua pasti punya kesempatan. Maka, penting untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa saya lakukan untuk menjaga kesehatan rahim saya?” ujarnya.

Materi utama disampaikan oleh Dr. dr. Amang Surya P., SpOG., F-MAS., yang memaparkan struktur sistem reproduksi perempuan dan bagaimana proses kehamilan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk usia. Ia menegaskan bahwa perempuan perlu waspada terhadap kondisi rahim mereka, terutama jika ada kelainan organik seperti polip atau mioma. Tidak semua kondisi harus dioperasi, terutama jika tidak mengganggu peluang kehamilan. Dr. Amang juga menyoroti bahwa kompleksitas reproduksi perempuan jauh lebih tinggi dibanding laki-laki, karena pada laki-laki fokus utamanya hanya pada kualitas sperma.

Diskusi semakin hidup ketika peserta mulai mengajukan berbagai pertanyaan. Salah satu peserta bercerita bahwa ia berusia 33 tahun, telah menikah selama 4 tahun, dengan suami yang didiagnosis oligozoospermia. Ia sendiri memiliki jumlah sel telur yang sedikit dan berukuran kecil, meski siklus menstruasinya normal. Ia bertanya, masihkah ada peluang untuk hamil secara alami, dan langkah apa yang sebaiknya diambil selanjutnya?

Ada juga peserta yang ingin tahu apakah hasil HSG yang menunjukkan pembengkakan pada saluran tuba bisa berubah jika tes diulang setelah satu tahun. Pertanyaan lain datang dari peserta yang memiliki kista 4 cm tanpa adenomiosis, dan ingin tahu apakah kondisi ini akan mengganggu proses implantasi embrio.

Beberapa PDG juga berbagi kondisi yang lebih kompleks. Seorang peserta berusia 36 tahun mengalami adenomiosis di dinding luar rahim, kista coklat di ovarium, dan low AMH, sementara suaminya mengalami OAT. Setelah tiga kali IVF, mereka mendapatkan embrio berkualitas baik pada hari kelima dan bertanya mengenai peluang keberhasilan untuk IVF keempat.

Menanggapi semua pertanyaan tersebut, Dr. Amang menekankan pentingnya mengetahui kondisi diri sendiri sedini mungkin. “Jangan menunda-nunda untuk tahu kondisi kalian. Keputusan yang diambil hari ini adalah langkah berani. Jangan khawatir berlebihan kalau belum tahu kondisinya, karena bagaimana kalian bisa menentukan langkah kalau belum tahu harus dari mana memulainya?” pesannya.

Untuk informasi menarik dan edukasi seputar program kehamilan, MDG mengajak para PDG untuk mengikuti Instagram @menujuduagaris.id. Sampai jumpa di bootcamp selanjutnya.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Asha, IVF, kesehatan rahim, menuju dua garis, rahim, Usia 30+

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.