• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

fertilitas

Unexplained Infertility vs Age-Related Infertility: Dua Diagnosis yang Tampak Sama, Tapi Berbeda

November 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Banyak pasangan menghadapi kenyataan bahwa meski semua hasil pemeriksaan tampak normal sel telur baik, sperma sehat, saluran tuba tidak tersumbat kehamilan belum juga terjadi. Dalam situasi seperti ini, dokter biasanya memberikan diagnosis unexplained infertility, atau infertilitas yang belum diketahui penyebabnya.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar kasus unexplained infertility mungkin tidak sepenuhnya “tanpa sebab”. Sebuah studi dari Italia yang diterbitkan di jurnal Human Reproduction menemukan bahwa banyak kasus unexplained infertility justru berkaitan erat dengan usia reproduktif perempuan.

Apa yang Dimaksud dengan Unexplained Infertility?

Secara medis, unexplained infertility diberikan ketika tidak ditemukan penyebab yang jelas setelah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pasangan. Pemeriksaan ini biasanya meliputi analisis sperma, fungsi ovulasi, patensi tuba falopi, dan anatomi rahim.
Meski demikian, istilah “unexplained” bukan berarti tidak ada masalah, melainkan bahwa penyebabnya belum bisa diidentifikasi dengan metode diagnostik yang ada saat ini.

Peneliti berpendapat bahwa pada perempuan di usia lebih matang, terutama di atas 35 tahun, penurunan kualitas sel telur dan kemampuan embrio untuk berkembang optimal bisa menjadi faktor tersembunyi di balik diagnosis ini. Kondisi tersebut seringkali belum bisa terdeteksi lewat pemeriksaan standar.

Hubungan antara Usia dan Infertilitas yang Tidak Terjelaskan

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim dari Fondazione IRCCS Ca’ Granda Ospedale Maggiore Policlinico di Milan menelusuri lebih dalam hubungan antara usia dan jenis infertilitas terhadap keberhasilan program fertilisasi in vitro (IVF).

Melalui analisis komparatif, tim peneliti berusaha menjawab satu pertanyaan penting: apakah infertilitas yang tampak “tunexplained infertility” sebenarnya berkaitan dengan faktor usia, dan sejauh mana usia memengaruhi hasil IVF pada kedua kelompok tersebut.

  • Diagnosis unexplained infertility lebih sering ditemukan pada perempuan berusia di atas 35 tahun.
  • Frekuensi diagnosis ini meningkat seiring pertambahan usia, menandakan adanya pengaruh kuat dari faktor usia.
  • Tingkat keberhasilan IVF pada kelompok unexplained infertility lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang memiliki penyebab pasti, terutama pada perempuan usia lebih tua.

 

Pada kelompok perempuan muda (<35 tahun), hasil IVF antara kedua kelompok relatif serupa. Namun, pada kelompok usia lanjut, perbedaan menjadi signifikan. Penurunan keberhasilan IVF ini menunjukkan bahwa unexplained infertility di usia tua kemungkinan besar merefleksikan infertilitas akibat usia di mana penurunan kualitas oosit menjadi penyebab utama, meskipun tidak terdeteksi secara klinis.

Implikasi untuk Perencanaan Kehamilan dan Terapi

Penemuan ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan usia reproduktif dalam menegakkan diagnosis infertilitas.
Ketika seorang perempuan berusia di atas 35 tahun didiagnosis dengan unexplained infertility, kemungkinan besar kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan potensi reproduktif yang tidak teridentifikasi lewat pemeriksaan dasar.

Dengan pemahaman ini, pendekatan terapi sebaiknya disesuaikan. Evaluasi cadangan ovarium (seperti pemeriksaan AMH dan antral follicle count), strategi individualisasi stimulasi ovarium, serta perencanaan waktu terapi menjadi hal yang sangat penting.
Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan peluang keberhasilan IVF dan mencegah keterlambatan intervensi medis.

Penelitian ini menunjukkan bahwa unexplained infertility dan age-related infertility merupakan dua kondisi yang tampak serupa tetapi memiliki dasar biologis yang berbeda.
Pada usia muda, infertilitas yang belum terjelaskan mungkin benar-benar tanpa penyebab yang jelas. Namun, pada usia di atas 35 tahun, diagnosis serupa sering kali mencerminkan dampak alami dari penuaan reproduktif.

Dengan demikian, unexplained infertility tidak boleh diartikan sebagai “tidak ada masalah”, melainkan sebagai sinyal bahwa evaluasi lebih mendalam dan pertimbangan usia reproduktif perlu dilakukan untuk menentukan strategi terbaik dalam mencapai kehamilan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:
Matteti, G., Reschini, M., Piani, L., Fornelli, G., Viganò, P., Muzzi, L., & Somigliana, E. (2023). Unexplained infertility and age-related infertility: indistinguishable diagnostic entities but different IVF prognosis. Human Reproduction, 38(10), 1876–1889.
https://doi.org/10.1093/humrep/dead085

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: diagnosis, fertilitas, unexplain

Kini Sudah ada Skala Kesiapan Fertilitas untuk Perempuan yang Menjalani Program Hamil

September 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Bagi banyak perempuan, menjalani program hamil (promil) bukan hanya soal tindakan medis. Ada sisi lain yang sama pentingnya: kesiapan mental dan emosional. Perasaan stres, cemas, atau putus asa bisa memengaruhi hormon kesuburan, mengganggu siklus, bahkan menurunkan peluang kehamilan. Sister dan paksu apa pernah tau jika dalam menjalani  program alami pasangan mengalami tantangan yang sangat besar tidak hanya berkaitan dengan fisik tapi juga nonfisik.

Sayangnya, di banyak klinik kesuburan, kondisi psikologis perempuan biasanya diukur dengan pertanyaan-pertanyaan bernada negatif, misalnya “Apakah Anda merasa tertekan karena sulit hamil?” atau “Apakah Anda merasa kelelahan akibat program hamil?”. Bukannya membantu, pertanyaan semacam ini justru bisa membuat beban emosional semakin berat.

Untuk menjawab kebutuhan ini, sebuah penelitian Fertility Preparedness Scale (FPS), yaitu skala khusus untuk menilai kesiapan perempuan dalam menjalani program hamil dengan cara yang lebih positif dan membangun.

Apa Itu Fertility Preparedness Scale (FPS)?

FPS yang dirancang untuk melihat sejauh mana seorang perempuan siap menjalani program hamil. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak menekan, melainkan membantu peserta merasa lebih optimis.

Skala ini mencakup tiga aspek utama:

  1. Harapan dan Kesadaran → Seberapa jauh perempuan memahami proses promil dan yakin dengan langkah yang dijalani.
  2. Perasaan dan Pikiran Positif → Bagaimana menjaga optimisme, semangat, dan kepercayaan diri selama proses.
  3. Kesiapan Tubuh dan Pikiran → Apakah fisik dan mental sudah siap menghadapi perjalanan promil yang penuh tantangan.

Kenapa Skala Ini Penting?

  1. Mengurangi Stres → Karena pertanyaan bernuansa positif, skala ini justru memberi efek menenangkan.
  2. Meningkatkan Harapan → Membantu perempuan melihat sisi cerah dari proses promil.
  3. Mendukung Keberhasilan → Kesiapan mental terbukti bisa membuat perempuan lebih patuh pada prosedur medis dan lebih kuat menghadapi rintangan.
  4. Praktis → Hanya terdiri dari 23 pertanyaan, sehingga mudah diisi di klinik maupun rumah sakit.

Apa Manfaatnya bagi Perempuan yang Promil?

  • Lebih sadar diri tentang kondisi tubuh dan mental sebelum mulai program.
  • Mendapat motivasi tambahan dari pernyataan positif yang dibaca.
  • Mengurangi risiko kegagalan karena masuk ke promil dengan kesiapan yang lebih matang.
  • Membantu komunikasi dengan tenaga kesehatan, karena hasilnya bisa jadi panduan untuk memberi dukungan sesuai kebutuhan pasien.

Promil adalah perjalanan panjang yang menguras fisik, mental, dan finansial. Karena itu, memulai dengan kesiapan yang baik bisa membuat proses ini lebih ringan dan peluang berhasil lebih besar.

Fertility Preparedness Scale (FPS) hadir sebagai alat sederhana, valid, dan gratis yang bisa membantu sister serta tenaga kesehatan memastikan kesiapan sebelum atau saat menjalani program hamil. Dengan fokus pada hal-hal positif, FPS bukan hanya sekadar kuesioner, tapi juga pengingat bahwa harapan selalu ada selama kita melangkah dengan pikiran yang lebih tenang dan hati yang siap.

Referensi

  • Sevcan, F. A. T. A., & Tokat, M. A. (2020). Development of fertility preparedness scale for women receiving fertility treatment. Journal of Nursing Research, 28(3), e95.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fertilitas, perempuan, Pria

Fertility Awareness-Based Methods (FABMs) dan Perannya dalam Kesehatan Reproduksi Wanita

August 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam beberapa dekade terakhir, minat wanita untuk mempelajari cara melacak siklus menstruasi atau siklus reproduksi meningkat pesat. Tidak hanya untuk pemantauan kesehatan, tetapi juga untuk tujuan perencanaan keluarga. Perkembangan teknologi mendukung tren ini: kini tersedia lebih dari 500 aplikasi kesehatan yang berfokus pada pelacakan siklus, jumlahnya meningkat tiga kali lipat dibandingkan lima tahun lalu.

Dengan bimbingan tenaga terlatih atau melalui program edukasi, wanita dapat belajar mengenali tanda-tanda eksternal yang mencerminkan pola hormonal normal maupun abnormal. Informasi ini bermanfaat baik untuk memahami kondisi kesehatan reproduksi maupun untuk perencanaan kehamilan.

Dari Natural Family Planning ke FABMs

Secara historis, metode ini dikenal sebagai Natural Family Planning (NFP), yaitu cara menghindari atau merencanakan kehamilan dengan mengamati tanda-tanda alami fase subur dan tidak subur. Kini, istilah Fertility Awareness-Based Methods (FABMs) lebih sering digunakan. Alasannya, FABMs tidak hanya berfungsi untuk perencanaan keluarga, tetapi juga sebagai alat penting untuk evaluasi dan perawatan medis terkait kesehatan reproduksi wanita.

Siklus Menstruasi sebagai Tanda Vital

Siklus menstruasi kini diakui sebagai salah satu tanda vital kesehatan wanita. Sama seperti tekanan darah atau denyut jantung, variasi dalam pola menstruasi bisa menjadi indikator dini adanya masalah kesehatan.

Dengan FABMs, wanita dapat melacak perdarahan menstruasi, perubahan lendir serviks, suhu basal tubuh (basal body temperature/BBT), hingga kadar hormon urin. Catatan harian, baik manual maupun aplikasi digital, menjadi “peta tubuh” yang mencerminkan kondisi reproduksi. Sayangnya, hanya sekitar 4% dokter yang menerima pelatihan formal terkait FABMs, sehingga banyak informasi penting dari catatan siklus yang terlewatkan dalam praktik klinis.

Dasar Fisiologi FABMs

FABMs berangkat dari pemahaman bahwa organ reproduksi wanita menghasilkan tanda-tanda biologis yang dapat diamati. Misalnya:

  • Lendir serviks: berubah sesuai kadar estrogen, dari kental menjadi bening dan licin saat mendekati ovulasi.
  • Hormon luteinizing (LH): lonjakan hormon ini memicu ovulasi.
  • Suhu basal tubuh (BBT): meningkat setelah ovulasi akibat pengaruh progesteron.

Puncak kesuburan biasanya ditandai dengan cairan serviks yang bening, licin, dan elastis. Ovulasi terjadi dalam 2–3 hari setelah tanda ini muncul. Jika tidak terjadi pembuahan, kadar progesteron menurun, endometrium luruh, dan menstruasi dimulai kembali.

Jenis-jenis FABMs

Secara umum, ada enam kategori FABMs yang digunakan untuk mengidentifikasi masa subur, yaitu:

  1. Metode lendir serviks
  2. Metode suhu basal tubuh (BBT)
  3. Metode hormon urin
  4. Metode sympto-thermal (gabungan gejala tubuh + suhu)
  5. Metode sympto-hormonal (gabungan gejala tubuh + hormon urin)
  6. Metode kalender (cycle length-based)

 

FABMs dan Kesehatan Wanita

Fungsi ovulasi dapat bervariasi sepanjang fase kehidupan wanita: menarke, kehamilan, menyusui, hingga menopause. Dengan melacak indikator kesuburan, FABMs membantu mendeteksi gangguan ovulasi yang sering berkaitan dengan masalah hormonal.

Beberapa kondisi yang bisa terdeteksi melalui pola siklus antara lain:

  • Gangguan hipotalamus akibat olahraga berlebihan, pola makan tidak sehat, atau stres.
  • PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), dialami sekitar 10% wanita usia reproduksi.
  • Endometriosis, juga mengenai sekitar 10% wanita usia reproduksi dan menjadi penyebab umum subfertilitas.

FABMs bukan sekadar metode untuk merencanakan atau menghindari kehamilan, tetapi juga merupakan alat penting dalam menjaga kesehatan reproduksi wanita. Dengan pemahaman dan pemantauan yang tepat, FABMs dapat membantu deteksi dini gangguan hormonal, mendukung diagnosis, dan menjadi panduan perawatan. Informasi menarik lainnya jangan lupa buat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Duane, M., Stanford, J. B., Porucznik, C. A., & Vigil, P. (2022). Fertility awareness-based methods for women’s health and family planning. Frontiers in Medicine, 9, 858977.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fertilitas, infertilitas, menuju dua garis, pejuang dua garis, wanita

Endometriosis Bisa Menggerus Kesuburan: Saatnya Kenal Fertility Preservation

July 15, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Buat sebagian perempuan, endometriosis bukan sekadar nyeri haid biasa. Kondisi ini bisa menyerang ovarium, bikin cadangan sel telur menipis, dan memperbesar risiko infertilitas bahkan pada usia muda. Dilain sisi sekarang sudah ada solusi yang makin dikenal dan makin realistis seperti fertility preservation atau peliharaan kesuburan. Yuk, kita bahas kenapa ini penting banget buat kamu yang punya endometriosis!

Kenapa Endometriosis Bisa Ganggu Kesuburan?

Endometriosis dengan kadar berat bisa menyebabkan kerusakan pada jaringan ovarium. Kalau sampai muncul kista di kedua ovarium (bilateral endometrioma), atau kamu pernah operasi berulang, maka risiko menurunnya cadangan sel telur (ovarian reserve) makin besar.

Bahkan tanpa operasi pun, peradangan akibat endometriosis bisa berdampak ke cadangan sel telur yang kamu punya. Kondisi ini nggak selalu langsung kelihatan, tapi bisa berujung pada:

  • Respons hormon yang makin rendah saat stimulasi IVF

  • Sulit hamil secara alami

  • Bahkan risiko menopause dini (premature ovarian failure)

Operasi Bukan Solusi Satu-Satunya (dan Bisa Berdampak ke Ovarium)

Saat kista endometriosis diangkat, cadangan sel telur juga bisa ikut terangkat. Data menunjukkan, kadar hormon AMH bisa turun hingga 30% setelah pengangkatan satu sisi endometrioma, dan sampai 44% kalau kedua sisi ovarium terlibat. Ini alasan kenapa pasien endometriosis wajib dikasih informasi soal pelestarian kesuburan sebelum tindakan apa pun dilakukan.

Apa Itu Fertility Preservation?

Fertility preservation (FP) adalah upaya menyimpan potensi kesuburan untuk masa depan. Beberapa pilihan FP antara lain:

  • Pembekuan sel telur (oocyte freezing)
    Direkomendasikan menyimpan 10–15 sel telur untuk usia ≤35 tahun, dan lebih dari 20 sel telur untuk yang >35 tahun.

  • Pembekuan embrio (kalau sudah punya pasangan atau pakai donor sperma)

  • Pembekuan jaringan ovarium (biasanya untuk kasus khusus dan bisa dilakukan sebelum terapi medis ekstrem).

Meski demikian konsultasi ke dokter kandungan yang paham masalah endometriosis dan infertilitas adalah langkah pertama. Sister bisa cek kadar AMH dan USG antral follicle count untuk tahu seberapa besar cadangan sel telur saat ini. Kalau kamu memang butuh operasi, pastikan dilakukan dengan teknik fertility-sparing alias yang meminimalkan kerusakan jaringan ovarium yang sehat.

Meski endometriosis bisa menggerus kesuburan tapi dengan persiapan dan pengetahuan yang tepat, sister tetap punya kendali atas pilihan reproduksimu. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Carrillo, L., Seidman, D. S., Cittadini, E., & Meirow, D. (2016). The role of fertility preservation in patients with endometriosis. Journal of assisted reproduction and genetics, 33(3), 317-323.
  • Rangi, S., Hur, C., Richards, E., & Falcone, T. (2023). Fertility preservation in women with endometriosis. Journal of Clinical Medicine, 12(13), 4331.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fertilitas, kesuburan, nyeri haid, preservation

Ngobrolin Hal-hal yang Bikin IVF Gagal Bersama MDG dan ASHA-IVF

June 25, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Komunitas MDG kembali menggelar sesi edukasi seputar program hamil melalui live Instagram yang kali ini menghadirkan dokter obgyn dan fertility specialist, dr. Andra Kusuma Putra, Sp.OG Subsp. F.E.R. Acara ini dipandu langsung oleh Mizz Rosie, founder MDG, yang sekaligus menjadi host dalam sesi tersebut.

Live Instagram ini ditujukan bagi para sister dan paksu yang sedang mempertimbangkan program hamil berbantu seperti IVF (In Vitro Fertilization), maupun yang tengah menjalani perjuangan sebagai IVF warrior. Sesi dimulai dengan penjelasan tentang tahapan IVF, dimulai dari stimulasi ovarium, pemantauan folikel, dan suntikan pemicu ovulasi, hingga proses ovum pick up (OPU) dan pengambilan sperma. Selanjutnya, sel telur dibuahi dengan metode konvensional atau ICSI, dikultur menjadi embrio, lalu dilakukan transfer embrio ke dalam rahim. Proses ini dilanjutkan dengan dukungan hormon progesteron dan diakhiri dengan tes kehamilan β-hCG.

Lebih dari sekadar prosedur medis, dr. Andra juga menekankan pentingnya dua aspek eksternal yang sangat memengaruhi keberhasilan IVF, yaitu kesiapan fisik dan non-fisik. Salah satu critical point penyebab kegagalan IVF yang sering terjadi adalah kualitas sperma, yang seringkali tidak optimal dan bahkan menyulitkan pengambilan keputusan dalam program hamil. Kualitas sperma dipengaruhi oleh proses spermatogenesis yang berlangsung sekitar 64–74 hari, sementara oosit (sel telur) juga membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk mencapai kondisi prima.

Hal lain yang juga disoroti adalah pentingnya menjaga berat badan ideal, karena tubuh dengan berat seimbang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program hamil.

Sesi berlangsung sangat interaktif, dengan banyak pertanyaan dari peserta yang memenuhi kolom komentar. Beberapa pertanyaan yang muncul mencerminkan antusiasme dan kekhawatiran nyata dari para pejuang dua garis, seperti:  “Saya memiliki 5 embrio yang sudah di-PGTA, 4 good dan 1 low mosaic. FET pertama gagal, dan ingin mencoba FET kedua. Usia saya sudah 35 tahun, sebaiknya tanam 1 atau 2 embrio? Apa saja yang memengaruhi keberhasilan FET? Perlukah cek INR?” atau pertanyaan teknis lainnya seperti “Usia saya 35 tahun, saat OPU ada 7 telur, namun yang mencapai 2PN hanya 3. Sisanya gagal. Apa penyebabnya? Apakah 3 embrio tersebut masih berpeluang bertahan hingga day 5?”

Acara ini tidak hanya informatif, tapi juga menjadi ruang diskusi hangat antara dokter dan para peserta. Jangan sampai ketinggalan sesi-sesi berikutnya dari MDG yang selalu penuh ilmu dan dukungan untuk para pejuang dua garis! jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fertilitas, Gagal IVF, infertilitas

Harapan Baru untuk Infertilitas: Stem Cell sebagai Terobosan?

March 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Webinar pada 21 Maret 2025 kembali sukses digelar! Kali ini, MDG berkolaborasi dengan WellnessCell dan dr. Pandian RAM. Acara ini dipandu langsung oleh Mizz Rosie, salah satu founder komunitas Menuju Dua Garis. Lebih dari 100 sister dan paksu bergabung di Zoom, berinteraksi secara langsung dalam sesi tanya jawab bersama tiga narasumber. Salah satunya adalah Licia, seorang real patient yang berhasil hamil setelah menjalani terapi stem cell, meskipun sebelumnya memiliki AMH rendah hingga 0.17.

Topik yang dibahas sangat beragam, mulai dari bagaimana terapi stem cell dapat membantu wanita dengan AMH rendah, perannya dalam meningkatkan peluang kehamilan, hingga fakta medis dan pengalaman nyata pasien yang berhasil hamil. Diskusi berlangsung interaktif, memberikan wawasan baru bagi para peserta.

MDG juga telah banyak mengulas penelitian terkait terapi ini. Salah satunya adalah jurnal berjudul “Stem Cells—The New Agents in Infertility Treatment: The Light at the End of the Tunnel?” yang membahas:

  • Stem Cell & Infertilitas Pria: Terapi ini menjanjikan solusi untuk azoospermia (ketiadaan sperma) dan infertilitas idiopatik, dengan potensi menciptakan sel sperma dari sel punca pluripoten yang diinduksi (iPSCs).
  • Stem Cell & Infertilitas Wanita: Penelitian menunjukkan bahwa terapi ini dapat meregenerasi jaringan ovarium dan bahkan membentuk oosit baru, membantu wanita dengan insufisiensi ovarium prematur atau kondisi lainnya.
  • Jenis Stem Cell: Ada berbagai jenis sel punca, seperti sel punca mesenkimal (MSCs) dari jaringan dewasa dan sel punca pluripoten dari embrio, yang memiliki potensi besar dalam terapi infertilitas.
  • Perkembangan Terapi: Meskipun menjanjikan, terapi ini masih dalam tahap penelitian dan harus melalui uji klinis terkontrol untuk memastikan keamanannya serta menghindari penyalahgunaan teknologi.

 

Bagaimana, sister dan paksu? Tertarik mencoba metode ini? Dunia medis terus berkembang, dan kini ada semakin banyak opsi untuk meningkatkan peluang kehamilan. Tapi ingat, setiap perawatan yang dijalani juga berdampak positif bagi kesehatan secara keseluruhan, bukan hanya untuk infertilitas.

Buat yang belum sempat ikut webinar kali ini, jangan khawatir! Masih banyak acara menarik lainnya yang bisa sister dan paksu ikuti. Jangan sampai ketinggalan info terbaru dengan follow Instagram kami di @menujuduagaris.id!

Referensi 

  • Radhakrishnan, G. (2017). Stem cells—The new agents in infertility treatment: the light at the end of the tunnel?. Fertility Science and Research, 4(2), 70-73.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fertilitas, MDG, menuju dua garis, Stem Cell

  • Page 1
  • Page 2
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • AMH Rendah dan Peluang IVF: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Ovarium?
  • Diminished Ovarian Reserve (DOR) dan Premature Ovarian Insufficiency (POI): Serupa Tapi Tak Sama
  • Low AMH, Masih Ada Harapan?
  • POI Selain Donor Sel Telur Apa Ada Pilihan Lain??
  • Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation (TEAS): Terapi Akupuntur Tanpa Jarum untuk Mendukung Program IVF

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.