• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

pejuang dua garis

MDG Cetak Sejarah: Infertility Yoga Online Perdana untuk Dukung Pejuang Dua Garis

September 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Menuju Dua Garis (MDG) kembali mencatat langkah penting dalam mendukung pasangan yang sedang berjuang mendapatkan momongan. Untuk pertama kalinya, MDG mengadakan infertility yoga secara online bersama dr. Astie Young, sebuah gebrakan baru yang belum pernah dilakukan komunitas lain.

Yoga, Stress, dan Kesuburan

Stress seringkali menjadi penghalang besar dalam program hamil. Saat tubuh mengalami stress, hormon adrenalin dan kortisol meningkat. Jika berlebihan, hormon ini bisa memicu peradangan dan mengganggu keseimbangan hormon reproduksi.

Di sinilah yoga hadir sebagai solusi. Bukan hanya olahraga, yoga terbukti secara ilmiah membantu tubuh menghasilkan endorfin – hormon bahagia yang membuat hati lebih tenang, melancarkan sirkulasi darah, dan menjaga kesehatan jantung.

Praktik Infertility Yoga Perdana

Dalam sesi perdana ini, dr. Astie mengajak peserta MDG untuk mempraktikkan langsung gerakan fertility yoga. Latihan ini dirancang bukan sekadar menguatkan tubuh, tapi juga menyatukan pikiran dan rahim agar lebih siap menyambut kehamilan.

Seorang peserta sempat bertanya:“Dok, bagaimana idealnya gerakan fertility yoga dan akupuntur?”

  1. Astie menjawab bahwa kuncinya ada pada pernapasan dan sensing – kemampuan menyatukan tubuh dan pikiran. Latihan sederhana ini sebaiknya dilakukan setiap hari, karena membantu mengontrol emosi dan menurunkan kadar stres yang berpengaruh langsung pada rahim.

Pikiran dan Rahim, Dua Hal yang Saling Terhubung

Menurut dr. Astie, rahim dan pikiran punya hubungan yang sangat erat. Jika pikiran terganggu, rahim juga bisa ikut terpengaruh. Karena itu, baik yoga maupun akupuntur sama-sama menekankan pentingnya ketenangan jiwa untuk mendukung kesehatan reproduksi.

Pesan untuk Para Pejuang Dua Garis

Sesi ini menegaskan satu hal penting:

  • Stress management adalah kunci kesuburan.
  • Fertility yoga dapat membantu menyeimbangkan hormon dan emosi.
  • Gerakan sederhana dan pernapasan bisa dilakukan setiap hari di rumah.
  • Ketenangan pikiran berdampak langsung pada kesehatan rahim.

Dengan gebrakan ini, MDG tidak hanya menghadirkan edukasi medis, tetapi juga ruang aman bagi para pejuang dua garis untuk menjaga tubuh dan pikiran tetap seimbang.

Harapan itu selalu ada, bahkan bisa dimulai dari sebuah napas yang tenang. 

komunitas edukasi dan dukungan bagi pasangan yang tengah berjuang mendapatkan keturunan. MDG secara konsisten menghadirkan diskusi ilmiah, sharing pengalaman, hingga inovasi program yang relevan dengan kebutuhan pejuang dua garis.

Ke depan, MDG berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program inovatif, baik secara online maupun offline, agar semakin banyak pasangan dapat merasakan manfaatnya dan menemukan harapan baru dalam perjalanan mereka menuju kehamilan.

Menuju Dua Garis (MDG) kembali mencatat langkah penting dalam mendukung pasangan yang sedang berjuang mendapatkan momongan. Untuk pertama kalinya, MDG mengadakan infertility yoga secara online bersama dr. Astie Young, sebuah gebrakan baru yang belum pernah dilakukan komunitas lain.

Yoga, Stress, dan Kesuburan

Stress seringkali menjadi penghalang besar dalam program hamil. Saat tubuh mengalami stress, hormon adrenalin dan kortisol meningkat. Jika berlebihan, hormon ini bisa memicu peradangan dan mengganggu keseimbangan hormon reproduksi.

Di sinilah yoga hadir sebagai solusi. Bukan hanya olahraga, yoga terbukti secara ilmiah membantu tubuh menghasilkan endorfin – hormon bahagia yang membuat hati lebih tenang, melancarkan sirkulasi darah, dan menjaga kesehatan jantung.

Praktik Infertility Yoga Perdana

Dalam sesi perdana ini, dr. Astie mengajak peserta MDG untuk mempraktikkan langsung gerakan fertility yoga. Latihan ini dirancang bukan sekadar menguatkan tubuh, tapi juga menyatukan pikiran dan rahim agar lebih siap menyambut kehamilan.

Seorang peserta sempat bertanya:“Dok, bagaimana idealnya gerakan fertility yoga dan akupuntur?”

  1. Astie menjawab bahwa kuncinya ada pada pernapasan dan sensing – kemampuan menyatukan tubuh dan pikiran. Latihan sederhana ini sebaiknya dilakukan setiap hari, karena membantu mengontrol emosi dan menurunkan kadar stres yang berpengaruh langsung pada rahim.

Pikiran dan Rahim, Dua Hal yang Saling Terhubung

Menurut dr. Astie, rahim dan pikiran punya hubungan yang sangat erat. Jika pikiran terganggu, rahim juga bisa ikut terpengaruh. Karena itu, baik yoga maupun akupuntur sama-sama menekankan pentingnya ketenangan jiwa untuk mendukung kesehatan reproduksi.

Pesan untuk Para Pejuang Dua Garis

Sesi ini menegaskan satu hal penting:

  • Stress management adalah kunci kesuburan.
  • Fertility yoga dapat membantu menyeimbangkan hormon dan emosi.
  • Gerakan sederhana dan pernapasan bisa dilakukan setiap hari di rumah.
  • Ketenangan pikiran berdampak langsung pada kesehatan rahim.

Dengan gebrakan ini, MDG tidak hanya menghadirkan edukasi medis, tetapi juga ruang aman bagi para pejuang dua garis untuk menjaga tubuh dan pikiran tetap seimbang.

Harapan itu selalu ada, bahkan bisa dimulai dari sebuah napas yang tenang. 

komunitas edukasi dan dukungan bagi pasangan yang tengah berjuang mendapatkan keturunan. MDG secara konsisten menghadirkan diskusi ilmiah, sharing pengalaman, hingga inovasi program yang relevan dengan kebutuhan pejuang dua garis.

Ke depan, MDG berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program inovatif, baik secara online maupun offline, agar semakin banyak pasangan dapat merasakan manfaatnya dan menemukan harapan baru dalam perjalanan mereka menuju kehamilan.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: MDG, pejuang dua garis, Sejarah, Yoga

Fertility Awareness-Based Methods (FABMs) dan Perannya dalam Kesehatan Reproduksi Wanita

August 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam beberapa dekade terakhir, minat wanita untuk mempelajari cara melacak siklus menstruasi atau siklus reproduksi meningkat pesat. Tidak hanya untuk pemantauan kesehatan, tetapi juga untuk tujuan perencanaan keluarga. Perkembangan teknologi mendukung tren ini: kini tersedia lebih dari 500 aplikasi kesehatan yang berfokus pada pelacakan siklus, jumlahnya meningkat tiga kali lipat dibandingkan lima tahun lalu.

Dengan bimbingan tenaga terlatih atau melalui program edukasi, wanita dapat belajar mengenali tanda-tanda eksternal yang mencerminkan pola hormonal normal maupun abnormal. Informasi ini bermanfaat baik untuk memahami kondisi kesehatan reproduksi maupun untuk perencanaan kehamilan.

Dari Natural Family Planning ke FABMs

Secara historis, metode ini dikenal sebagai Natural Family Planning (NFP), yaitu cara menghindari atau merencanakan kehamilan dengan mengamati tanda-tanda alami fase subur dan tidak subur. Kini, istilah Fertility Awareness-Based Methods (FABMs) lebih sering digunakan. Alasannya, FABMs tidak hanya berfungsi untuk perencanaan keluarga, tetapi juga sebagai alat penting untuk evaluasi dan perawatan medis terkait kesehatan reproduksi wanita.

Siklus Menstruasi sebagai Tanda Vital

Siklus menstruasi kini diakui sebagai salah satu tanda vital kesehatan wanita. Sama seperti tekanan darah atau denyut jantung, variasi dalam pola menstruasi bisa menjadi indikator dini adanya masalah kesehatan.

Dengan FABMs, wanita dapat melacak perdarahan menstruasi, perubahan lendir serviks, suhu basal tubuh (basal body temperature/BBT), hingga kadar hormon urin. Catatan harian, baik manual maupun aplikasi digital, menjadi “peta tubuh” yang mencerminkan kondisi reproduksi. Sayangnya, hanya sekitar 4% dokter yang menerima pelatihan formal terkait FABMs, sehingga banyak informasi penting dari catatan siklus yang terlewatkan dalam praktik klinis.

Dasar Fisiologi FABMs

FABMs berangkat dari pemahaman bahwa organ reproduksi wanita menghasilkan tanda-tanda biologis yang dapat diamati. Misalnya:

  • Lendir serviks: berubah sesuai kadar estrogen, dari kental menjadi bening dan licin saat mendekati ovulasi.
  • Hormon luteinizing (LH): lonjakan hormon ini memicu ovulasi.
  • Suhu basal tubuh (BBT): meningkat setelah ovulasi akibat pengaruh progesteron.

Puncak kesuburan biasanya ditandai dengan cairan serviks yang bening, licin, dan elastis. Ovulasi terjadi dalam 2–3 hari setelah tanda ini muncul. Jika tidak terjadi pembuahan, kadar progesteron menurun, endometrium luruh, dan menstruasi dimulai kembali.

Jenis-jenis FABMs

Secara umum, ada enam kategori FABMs yang digunakan untuk mengidentifikasi masa subur, yaitu:

  1. Metode lendir serviks
  2. Metode suhu basal tubuh (BBT)
  3. Metode hormon urin
  4. Metode sympto-thermal (gabungan gejala tubuh + suhu)
  5. Metode sympto-hormonal (gabungan gejala tubuh + hormon urin)
  6. Metode kalender (cycle length-based)

 

FABMs dan Kesehatan Wanita

Fungsi ovulasi dapat bervariasi sepanjang fase kehidupan wanita: menarke, kehamilan, menyusui, hingga menopause. Dengan melacak indikator kesuburan, FABMs membantu mendeteksi gangguan ovulasi yang sering berkaitan dengan masalah hormonal.

Beberapa kondisi yang bisa terdeteksi melalui pola siklus antara lain:

  • Gangguan hipotalamus akibat olahraga berlebihan, pola makan tidak sehat, atau stres.
  • PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), dialami sekitar 10% wanita usia reproduksi.
  • Endometriosis, juga mengenai sekitar 10% wanita usia reproduksi dan menjadi penyebab umum subfertilitas.

FABMs bukan sekadar metode untuk merencanakan atau menghindari kehamilan, tetapi juga merupakan alat penting dalam menjaga kesehatan reproduksi wanita. Dengan pemahaman dan pemantauan yang tepat, FABMs dapat membantu deteksi dini gangguan hormonal, mendukung diagnosis, dan menjadi panduan perawatan. Informasi menarik lainnya jangan lupa buat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Duane, M., Stanford, J. B., Porucznik, C. A., & Vigil, P. (2022). Fertility awareness-based methods for women’s health and family planning. Frontiers in Medicine, 9, 858977.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fertilitas, infertilitas, menuju dua garis, pejuang dua garis, wanita

Day One or One Day: Jadi Pejuang Dua Garis Bareng Mizz Rosie dan Chef Ken di Ideafest Surabaya 2025

August 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 2025 Dalam ajang Ideafest Surabaya 2025, kisah penuh makna dari para pejuang dua garis hadir menyentuh hati. Mizz Rosie dan Chef Ken, dua sosok di balik komunitas Menuju Dua Garis (MDG), berbagi cerita perjuangan mereka dalam menghadapi infertilitas dan stigma sosial yang menyertainya. Mereka tidak sendiri hadir pula Astrid Regina Sapiie (psikolog klinis & CEO DearAstrid), serta Chitra Astriana (entrepreneur) sebagai moderator dalam sesi ini.

Cerita Dimulai di Titik Nol

Mizz Rosie dan Chef Ken berbagi tentang hari pertama mereka menyandang identitas sebagai pasangan pejuang dua garis. Di tengah perjuangan untuk memiliki keturunan, mereka juga harus menghadapi pandangan miring dari masyarakat. Chef Ken, yang kala itu menjadi finalis sebuah acara, bahkan sempat mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat berada di rumah sakit dicap, dinilai, tanpa empati.

Di sinilah “day one” mereka dimulai. Sebuah hari yang penuh emosi, marah, kecewa, namun justru menjadi batu loncatan menuju kedewasaan dan ketangguhan.

Proses yang Membentuk

Melalui waktu dan rasa saling percaya, Mizz Rosie akhirnya meminta izin kepada Chef Ken untuk membuka kisah mereka ke publik. “Ibarat seorang ayah melihat istri sebagai anak yang akhirnya tumbuh menjadi dewasa,” ungkapnya menyentuh.

Tak ada dokter, tak ada protokol medis rumit di sesi ini. Hanya kisah nyata, tentang bagaimana sebuah pasangan belajar untuk bertahan, mendewasa bersama, dan saling menopang satu sama lain. Bahwa menjadi pejuang dua garis bukan hanya tentang hamil tapi tentang harapan dan pilihan untuk tidak menyerah.

Psikologi Tentang Dibalik Ketangguhan

Bu Astrid, sebagai psikolog, menyampaikan bahwa ada tiga sisi penting yang membentuk resiliensi pasangan:

  1. Budaya dan stigma masyarakat: Ketimpangan gender yang melekatkan makna “perempuan sempurna” dengan keharusan punya anak.
  2. Resiliensi bukan bawaan lahir: Tapi kemampuan yang bisa dibangun. Seperti bola makin dibanting, makin keras pantulannya.
  3. Stress coping dan kepedulian: Resiliensi terlihat ketika seseorang masih bisa peduli pada orang lain, bahkan dalam masa sulit.

 

Belajar Bertahan dan Menjadi Lebih Baik

Selain dari sisi psikologi, hal tersebut juga berdampak pada pernikahan, pernikahan memang tak selalu mulus. Tapi, seperti kata Mizz Rosie: “Kisah pernikahan berbeda-beda, tapi Tuhan punya rencana untuk masing-masing kita. Kita belajar untuk bertahan, menjadi versi terbaik diri, dekat dengan pasangan dan Tuhan. Karena ujungnya, kita akan menghadapi semuanya berdua.”

Bu Astrid menutup sesi dengan mengingatkan bahwa kita tidak pernah punya hak untuk menghakimi pasangan mana pun, karena setiap orang punya cerita dan nilai hidup masing-masing.

Menuju Harapan yang Indah

MDG, yang awalnya lahir dari pengalaman pribadi, kini tumbuh menjadi simbol harapan. Sebuah ruang untuk para pejuang dua garis yang ingin terus belajar, berproses, dan saling menguatkan. “Kalau kamu ingin kebahagiaan, ya ambil dan perjuangkan. Happiness is something you learn,” pesan terakhir dari Chef Ken.

Sesi ini bukan hanya tentang infertilitas. Tapi tentang keberanian, tentang perubahan, dan tentang peran kita semua untuk saling mendukung mimpi satu sama lain.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: day one, ideafest, infertilitas, pejuang dua garis

Memahami Peran LH dalam Stimulasi Ovarium: Lebih dari Sekadar Hormon Pendukung

May 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini, kita mungkin mengenal LH (luteinizing hormone) sebagai hormon yang “datang belakangan” untuk memicu ovulasi. Pada kasus infertilitas kehadiran LH sangat penting terutama dalam proses stimulasi ovarium (ovarian stimulation/OS) yang dijalani oleh banyak perempuan dalam program bayi tabung (IVF).

Bisakah LH Gantikan FSH?

Model klasik ‘dua sel-dua gonadotropin’ sudah lama menjadi dasar pemahaman kita soal folikulogenesis. Dalam model ini, LH bekerja di sel teka untuk memicu produksi androgen, sementara FSH (follicle stimulating hormone) bekerja di sel granulosa untuk mengubah androgen menjadi estrogen lewat enzim aromatase.

Tapi, kini kita tahu LH tidak hanya aktif di sel teka. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa LH juga punya efek di sel granulosa, bahkan bisa meniru efek FSH seperti mengaktifkan enzim aromatase dan mendukung pertumbuhan folikel.

Beberapa studi bahkan turut menunjukkan bahwa di tahap akhir stimulasi ovarium, LH saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan folikel besar, bahkan tanpa FSH! Salah satu studi menunjukkan bahwa pemberian LH (dalam bentuk hCG dosis rendah) mampu menghasilkan kadar estradiol dan jumlah folikel matang yang setara dengan pemberian FSH. Lebih dari itu, LH juga mengurangi jumlah folikel kecil, sehingga seleksi folikel jadi lebih efisien.

Formulasi LH rekombinan saat ini dirancang lebih murni dan memiliki efek anti-apoptotik yang lebih kuat dibanding hCG. Ini penting, karena LH ternyata juga berperan dalam menjaga sel dari kematian akibat kemoterapi dan mendukung kelangsungan kesuburan.

Selain itu, kerja sama antara FSH dan LH juga meningkatkan produksi faktor-faktor parakrin penting seperti IGF (insulin-like growth factor) dan inhibin B yang turut mendukung proses pematangan folikel.

LH Hadir Sebagai Hormon Ovulasi dan Implantasi

LH punya peran utama dalam proses ovulasi, termasuk pematangan oosit dan pelepasan sel telur. Setelah ovulasi, LH juga mendorong luteinisasi, yaitu proses pembentukan korpus luteum yang menghasilkan progesteron untuk menjaga lapisan endometrium tetap optimal bagi implantasi.

Uniknya lagi, reseptor LH juga ditemukan di jaringan endometrium dan beberapa jaringan non-gonad lainnya. Meski masih banyak perdebatan soal pentingnya peran LH di luar sistem reproduksi, penemuan ini membuka peluang baru dalam memahami fungsi hormon ini secara menyeluruh.

 

Lalu siapa yang Membutuhkan Suplementasi LH

Salah satu perdebatan besar dalam dunia reproduksi berbantuan adalah soal perlu tidaknya suplementasi LH saat OS. Terutama karena obat-obatan yang digunakan untuk mencegah ovulasi prematur (seperti agonis atau antagonis GnRH) bisa menekan produksi LH endogen secara temporer.

Namun, banyak wanita tetap menunjukkan respons baik terhadap stimulasi dengan FSH saja. Ini artinya, kadar LH sisa yang beredar masih cukup untuk mendukung aktivitas LHCGR (reseptor LH/CG) di folikel.

Jadi pada intinya tetap bergantung dengan kondisi tubuh yaa sister! apalagi kebutuhan LF dan FSH. Karena pada kasus pejuang dua garis terutama yang memiliki kondisi spesifik atau respons buruk terhadap OS, bisa mendapatkan manfaat dari tambahan LH. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris ya!

Referensi

  • Alviggi, C., Vigilante, L., Cariati, F., Conforti, A., & Humaidan, P. (2025). The role of recombinant LH in ovarian stimulation: what’s new?. Reproductive Biology and Endocrinology, 23(Suppl 1), 38.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, ibu, infertilitas, laki-laki, LH, pejuang dua garis, perempuan

Kiat Optimalisasi Program IVF: Dari Protokol Stimulasi Hingga Embrio Transfer

April 20, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 19 April 2025 – Setelah sukses menggelar Fertility Bootcamp perdana bersama Sunfert Malaysia di penghujung tahun 2024, komunitas Menuju Dua Garis (MDG) kembali menghadirkan program edukasi lanjutan bertajuk “Kiat Optimalisasi Program IVF: Dari Protokol Stimulasi Hingga Embrio Transfer”. Acara ini kembali menggandeng Sunfert Malaysia dan menghadirkan pakar fertilitas terkemuka, Dr. Lim Lei Jun, serta dua Pejuang Dua Garis (PDG) inspiratif Indah dan Chandra yang menerima program IVF gratis dari Sunfert.

Dalam sesi ini, lebih dari 80 peserta yang terdiri dari sister dan paksu bergabung secara daring melalui Zoom untuk menyimak pemaparan mendalam seputar proses IVF. Acara dibuka dengan video apresiasi dari MDG, dilanjutkan sambutan hangat dari pendiri MDG, Mizz Rosie, yang menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota komunitas yang telah membersamai perjuangan panjang dalam mendapatkan buah hati.

Dr. Lim Lei Jun memaparkan secara detail tahapan IVF, mulai dari stimulasi ovarium, jenis-jenis hormon yang digunakan, hingga proses transfer embrio. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang personalized dalam pemberian obat, disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing pasien. Salah satu contoh nyata adalah pengalaman Indah yang mendapatkan tambahan suntikan Cetrotide untuk mencegah pematangan dini sel telur. Dalam kesempatan ini, Dr. Lim juga menjelaskan bahwa transfer embrio pada tahap blastokista yakni pada hari ke-5 hingga ke-6 pasca pembuahan, memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi dibanding transfer pada tahap sebelumnya.

Kisah sukses Indah dan Chandra yang berhasil memperoleh 10 blastokista pada siklus IVF pertama mereka menjadi sorotan inspiratif dalam acara ini. Kehadiran mereka memberikan semangat baru bagi para PDG lainnya untuk terus berjuang.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Pertanyaan yang diajukan pun sangat personal dan mendalam, seperti:

  • “Untuk kondisi very low AMH dan saat USG transv hanya terlihat dua sel telur, apakah prosedur IVF tetap bisa dilanjutkan atau menunggu hingga jumlah sel telur bertambah?”

  • “Apakah program IVF berisiko menyebabkan OHSS? Saya baru selesai IVF dan sebelum OPU, kadar estradiol saya mencapai 6000-an sehingga tidak bisa melakukan fresh transfer.”

MDG merasa terharu melihat semangat juang para PDG yang telah melalui berbagai tahap hingga ke proses IVF. Melalui acara ini, MDG berharap dapat menjadi sumber informasi yang dapat diandalkan, sekaligus ruang dukungan emosional bagi para pejuang dua garis di seluruh Indonesia.

Untuk informasi dan edukasi seputar fertilitas lainnya, jangan lupa untuk mengikuti akun Instagram @menujuduagaris.id agar tidak ketinggalan berbagai program dan acara menarik lainnya.

Sampai jumpa di forum selanjutnya!

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, infertilitas, IVF, MDG, menuju dua garis, PDG, pejuang dua garis, sunfert

Depresi Bisa Bikin Sulit Hamil? Ini Penjelasan Ilmiahnya, Sister!

April 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pejuang dua garis seringkali dihadapkan dengan banyak tekanan, tidak lain adalah tekanan sosial baik dari lingkup sekitar atau bahkan dari keluarga. Hal ini jika ini berlarut-larut maka akan berdampak pada depresi. MDG akan membahas bagaimana hubungannya depresi dengan kasus infertilitas, baca sampai habis ya!

Depresi dan Hubungannya dengan Infertilitas

Depresi dan masalah sulit hamil ternyata nggak cuma berdampak pada kesehatan fisik atau mental aja, tapi bisa saling berkaitan juga, lho. Kaitanya tidak lain adalah kasus infertilitas. Apa sebenarnya yang menghubungkan keduanya?

Nah, salah satu hal yang menarik untuk dibahas adalah soal lemak darah. Bukan cuma soal kolesterol tinggi ya, tapi lebih spesifik lagi: rasio Non-HDL cholesterol to HDL cholesterol ratio (NHHR), yaitu perbandingan antara kolesterol jahat (non-HDL) dan kolesterol baik (HDL). Bagaimana ini dipahami?

Saat seseorang mengalami stres atau depresi dalam jangka panjang, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti kortisol yang bisa mengganggu keseimbangan lemak dalam darah. Akibatnya, kadar kolesterol jahat bisa naik dan kolesterol baik bisa turun, yang ditunjukkan lewat rasio NHHR. Nah, rasio ini bisa jadi penanda bahwa tubuh sedang dalam kondisi tidak sehat. Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa mempengaruhi hormon, aliran darah ke organ reproduksi, bahkan menyebabkan peradangan, yang semuanya bisa berujung pada gangguan kesuburan.

Bahkan ada sebuah temuan yang melibatkan lebih dari 2.600 perempuan usia 18–45 tahun di Amerika Serikat. Para peneliti menganalisis data dari survei kesehatan nasional (NHANES) dan mendapatkan temuan Perempuan yang mengalami infertilitas cenderung punya tingkat depresi yang lebih tinggi. Mereka juga punya rasio NHHR yang lebih tinggi. Depresi sedang sampai berat bikin risiko infertilitas jadi makin besar. Rasio NHHR ikut berperan memperkuat hubungan antara depresi dan infertilitas.

Artinya, ketika seseorang mengalami depresi, kadar kolesterol “jahat” di tubuh bisa meningkat, rasio NHHR ikut naik, dan ini bisa berdampak ke fungsi reproduksi.

Walaupun NHHR cuma memediasi sebagian kecil hubungan ini (sekitar 6,57%), tapi tetap menunjukkan bahwa kesehatan mental dan metabolisme tubuh bisa saling memengaruhi, termasuk dalam hal kesuburan.

Jadi, Apa yang Bisa sister dan paksu Pelajari?

Kesehatan mental itu penting banget, bagaimana ini ternyata dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk kesuburan. Jangan anggap remeh stres berkepanjangan atau depresi yang nggak ditangani.

Kalau sister dan paksu, juga orang terdekat mengalami gejala depresi, nggak ada salahnya buat cari bantuan. Selain itu, menjaga pola makan, olahraga rutin, dan memantau kesehatan metabolik (seperti kolesterol) juga bisa jadi bagian dari ikhtiar menjaga peluang kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Yang, Q., Tao, J., Xin, X., Zhang, J., & Fan, Z. (2024). Association between depression and infertility risk among American women aged 18–45 years: the mediating effect of the NHHR. Lipids in Health and Disease, 23(1), 178.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: depresi, hamil, infertilitas, pejuang dua garis

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • AMH Rendah dan Peluang IVF: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Ovarium?
  • Diminished Ovarian Reserve (DOR) dan Premature Ovarian Insufficiency (POI): Serupa Tapi Tak Sama
  • Low AMH, Masih Ada Harapan?
  • POI Selain Donor Sel Telur Apa Ada Pilihan Lain??
  • Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation (TEAS): Terapi Akupuntur Tanpa Jarum untuk Mendukung Program IVF

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.