• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

ibu

Kehamilan di Usia Lanjut: Memahami Risiko dan Pentingnya Dukungan yang Tepat

July 4, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Belakangan ini, beberapa wanita memutuskan untuk menunda kehamilan hingga usia 30-an, bahkan 40-an. Ada banyak alasan di baliknya, mulai dari fokus pada pendidikan dan karier, perubahan sosial seperti perceraian yang lebih umum, hingga kemajuan dalam pengobatan kesuburan. 

Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa usia ibu lanjut (Advanced Maternal Age/AMA), atau pada wanita hamil berusia 35 tahun ke atas dalam konteks kesehatan reproduksi kehamilan di usia ini memiliki tantangan tersendiri yang perlu dipahami dengan baik. Apa saja tantangannya? pahami lebih lanjut yuk!

Risiko yang Lebih Tinggi dalam Kehamilan di Usia Lanjut

Usia ibu yang lebih tua dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kehamilan. Beberapa di antaranya meliputi:

  1. Komplikasi Kehamilan Awal: Seperti kehamilan di luar kandungan (ektopik) dan keguguran.
  2. Masalah Janin: Peningkatan risiko kelainan kromosom pada janin dan cacat bawaan.
  3. Masalah Plasenta: Seperti plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir) dan solusio plasenta (plasenta lepas sebelum waktunya).
  4. Kondisi Medis Selama Kehamilan: Lebih rentan terhadap diabetes gestasional (diabetes saat hamil) dan preeklampsia (tekanan darah tinggi saat hamil).
  5. Kebutuhan Operasi Caesar: Kemungkinan melahirkan secara operasi caesar lebih tinggi.
  6. Risiko Persalinan Prematur dan Kematian Perinatal: Komplikasi di atas bisa menyebabkan bayi lahir prematur dan meningkatkan risiko kematian bayi.

Selain itu, jika seorang wanita sudah memiliki penyakit kronis, kehamilan dapat menambah risiko dan menuntut pemantauan yang lebih ketat. Lalu adakah dampak lain selain berdampak pada susahnya hamil?

Dampak Jangka Panjang pada Kesehatan Ibu

Kehamilan di usia lanjut memang bukan hal yang mustahil, tapi tetap ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan. Selain tantangan selama kehamilan, ada juga dampak jangka panjang yang bisa memengaruhi kesehatan ibu di kemudian hari.

Secara fisik, perubahan tubuh akibat kehamilan dan meningkatnya risiko komplikasi bisa berdampak seiring bertambahnya usia. Tapi bukan cuma soal fisik, sister karena dampak non-fisik juga perlu jadi perhatian. Misalnya, risiko depresi pasca persalinan cenderung lebih tinggi pada wanita yang hamil di usia lanjut.

Walau begitu, kehamilan di usia lanjut tetap bisa menjadi pilihan yang valid. Yang penting, sister dan paksu perlu mendapat pemahaman yang utuh dari berbagai pihak terutama dari tenaga medis dan support system terdekat.

Beberapa wanita mungkin memilih untuk tetap menjalani kehamilan meski ada risiko, dengan harapan besar dan kepercayaan diri yang kuat. Apalagi dengan adanya pengalaman positif sebelumnya atau bantuan teknologi reproduksi, banyak yang merasa lebih siap dan yakin.

Intinya, dengan edukasi yang cukup dan dukungan holistik, sister yang hamil di usia lanjut tetap bisa mengambil keputusan klinis yang tepat, menjalani kehamilan yang aman, dan menjaga kualitas hidup jangka panjang baik selama masa hamil, maupun ketika menua nanti. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Correa-de-Araujo, R., & Yoon, S. S. (2021). Clinical outcomes in high-risk pregnancies due to advanced maternal age. Journal of women’s health, 30(2), 160-167.
  • Bisri, D. Y., & Bisri, T. (2025). Preeklampsia dan Risiko Penyakit Kardiovaskuler di Masa Depan. Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia, 8(1), 61-68.
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22438-advanced-maternal-age

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hami, ibu, kehamilan, perempuan, trend, usia lanjut, wanita

Ketika “The value of motherhood” Jadi Ukuran: Infertilitas dan Luka yang Tak Terlihat

June 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Sister dan paksu yang sudah menikah terutama bagi sister sering dihadapkan dengan realitas “Menjadi ibu seringkali dipandang sebagai puncak pencapaian seorang perempuan”. Dalam banyak budaya, termasuk Indonesia, keibuan bukan hanya pilihan tapi harapan, norma, bahkan identitas. Karena itu, ketika diagnosis infertilitas datang, luka yang timbul tak hanya di tubuh, tetapi juga di hati dan pikiran. Jadi jelas bahwa pejuang dua garis bukanlah hal yang mudah.

Infertilitas dan Value Motherhood

Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk hamil setelah 12 bulan berhubungan tanpa kontrasepsi, atau 6 bulan jika usia perempuan sudah di atas 35 tahun. Infertilitas memiliki banyak dampak karena tidak hanya bergantung pada keberhasilan pengobatan tapi juga pada kesiapan mental dan sosial pasien.

Banyak perempuan yang menginternalisasi peran ibu sebagai tujuan hidup. Ketika harapan ini tidak tercapai, muncul perasaan gagal, malu, cemas, bahkan depresi. Sebuah riset menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami infertilitas cenderung memiliki tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan pasangan mereka.

Perasaan tak cukup sebagai perempuan, stigma dari lingkungan, hingga tekanan untuk selalu tersenyum dan “tetap kuat” bisa membuat mereka menarik diri. Tak sedikit yang menyembunyikan diagnosis mereka karena takut dianggap tidak sempurna.

Strategi Bertahan: Dari Agama hingga Menyendiri

Untuk bertahan secara mental, perempuan menggunakan berbagai strategi coping. Sebuah upaya kognitif dan perilaku yang dilakukan seseorang untuk mengelola tekanan, stres, atau tuntutan yang dirasa melebihi kapasitasnya. Strategi ini membantu individu beradaptasi dengan situasi sulit, baik dengan mengatasi penyebab stres maupun mengatur respons emosional terhadap stres tersebut.

Beberapa memilih menghadapi masalah dengan aktif berbicara, mencari solusi, mencari dukungan. Namun ada juga yang memilih diam, menyangkal, menarik diri dari pergaulan sosial. Strategi pasif ini justru lebih sering dikaitkan dengan tingkat stres yang lebih tinggi.

Dalam budaya religius, banyak perempuan yang mengandalkan coping spiritual. Ada yang menemukan ketenangan melalui keyakinan bahwa Tuhan punya rencana, tapi ada juga yang justru merasa dihukum atau tidak layak. Dan ini semua sangatlah wajar tapi setidaknya segala usaha sudah dilakukan. 

Karena Jadi Ibu Masih Dianggap “Wajib”

Di masyarakat yang pronatalis, perempuan tanpa anak kerap dinilai tidak lengkap. Mereka dicap egois, tidak bertanggung jawab, atau terlalu mementingkan diri sendiri. Bahkan ketika infertilitas bukan pilihan, tekanan sosial tetap membekas. Tak jarang, perempuan merasa gagal memenuhi “takdir biologisnya”. Padahal, menjadi ibu bukan satu-satunya ukuran kebermaknaan hidup.

Infertilitas bukan hanya masalah rahim, tetapi juga tentang bagaimana perempuan dipaksa membuktikan diri melalui keibuan. Maka, penting bagi kita semua untuk mengubah cara pandang terhadap peran perempuan. Bahwa mereka tetap utuh, meski tanpa status “ibu”.

Yang dibutuhkan perempuan infertil bukan hanya dokter dan teknologi. Tapi juga empati, ruang aman untuk bercerita, dan masyarakat yang berhenti menjadikan anak sebagai satu-satunya validasi hidup perempuan. Kami MDG selalu ingin berbagi dan mendengarkan sister dan hadir sebagai ruang aman. Semoga usaha kalian dimudahkan dan diberikan ruang untuk dapat berbahagia. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Foti, F. L., Karner-Huţuleac, A., & Maftei, A. (2023). The value of motherhood and psychological distress among infertile women: The mediating role of coping strategies. Frontiers in Public Health, 11, 1024438.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ibu, infertilitas, luka, PDG, value of motherhood

Memahami Peran LH dalam Stimulasi Ovarium: Lebih dari Sekadar Hormon Pendukung

May 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini, kita mungkin mengenal LH (luteinizing hormone) sebagai hormon yang “datang belakangan” untuk memicu ovulasi. Pada kasus infertilitas kehadiran LH sangat penting terutama dalam proses stimulasi ovarium (ovarian stimulation/OS) yang dijalani oleh banyak perempuan dalam program bayi tabung (IVF).

Bisakah LH Gantikan FSH?

Model klasik ‘dua sel-dua gonadotropin’ sudah lama menjadi dasar pemahaman kita soal folikulogenesis. Dalam model ini, LH bekerja di sel teka untuk memicu produksi androgen, sementara FSH (follicle stimulating hormone) bekerja di sel granulosa untuk mengubah androgen menjadi estrogen lewat enzim aromatase.

Tapi, kini kita tahu LH tidak hanya aktif di sel teka. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa LH juga punya efek di sel granulosa, bahkan bisa meniru efek FSH seperti mengaktifkan enzim aromatase dan mendukung pertumbuhan folikel.

Beberapa studi bahkan turut menunjukkan bahwa di tahap akhir stimulasi ovarium, LH saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan folikel besar, bahkan tanpa FSH! Salah satu studi menunjukkan bahwa pemberian LH (dalam bentuk hCG dosis rendah) mampu menghasilkan kadar estradiol dan jumlah folikel matang yang setara dengan pemberian FSH. Lebih dari itu, LH juga mengurangi jumlah folikel kecil, sehingga seleksi folikel jadi lebih efisien.

Formulasi LH rekombinan saat ini dirancang lebih murni dan memiliki efek anti-apoptotik yang lebih kuat dibanding hCG. Ini penting, karena LH ternyata juga berperan dalam menjaga sel dari kematian akibat kemoterapi dan mendukung kelangsungan kesuburan.

Selain itu, kerja sama antara FSH dan LH juga meningkatkan produksi faktor-faktor parakrin penting seperti IGF (insulin-like growth factor) dan inhibin B yang turut mendukung proses pematangan folikel.

LH Hadir Sebagai Hormon Ovulasi dan Implantasi

LH punya peran utama dalam proses ovulasi, termasuk pematangan oosit dan pelepasan sel telur. Setelah ovulasi, LH juga mendorong luteinisasi, yaitu proses pembentukan korpus luteum yang menghasilkan progesteron untuk menjaga lapisan endometrium tetap optimal bagi implantasi.

Uniknya lagi, reseptor LH juga ditemukan di jaringan endometrium dan beberapa jaringan non-gonad lainnya. Meski masih banyak perdebatan soal pentingnya peran LH di luar sistem reproduksi, penemuan ini membuka peluang baru dalam memahami fungsi hormon ini secara menyeluruh.

 

Lalu siapa yang Membutuhkan Suplementasi LH

Salah satu perdebatan besar dalam dunia reproduksi berbantuan adalah soal perlu tidaknya suplementasi LH saat OS. Terutama karena obat-obatan yang digunakan untuk mencegah ovulasi prematur (seperti agonis atau antagonis GnRH) bisa menekan produksi LH endogen secara temporer.

Namun, banyak wanita tetap menunjukkan respons baik terhadap stimulasi dengan FSH saja. Ini artinya, kadar LH sisa yang beredar masih cukup untuk mendukung aktivitas LHCGR (reseptor LH/CG) di folikel.

Jadi pada intinya tetap bergantung dengan kondisi tubuh yaa sister! apalagi kebutuhan LF dan FSH. Karena pada kasus pejuang dua garis terutama yang memiliki kondisi spesifik atau respons buruk terhadap OS, bisa mendapatkan manfaat dari tambahan LH. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris ya!

Referensi

  • Alviggi, C., Vigilante, L., Cariati, F., Conforti, A., & Humaidan, P. (2025). The role of recombinant LH in ovarian stimulation: what’s new?. Reproductive Biology and Endocrinology, 23(Suppl 1), 38.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, ibu, infertilitas, laki-laki, LH, pejuang dua garis, perempuan

Mengapa Terjadi Keguguran berulang? dan Bagaimana cara Mengatasinya?

February 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pernahkah sister mengalami kasus keguguran, pada kasus keguguran berulang dapat disebut keguguran berulang jika telah terjadi sebanyak 2 kali berturut-turut atau lebih. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari gaya hidup hingga masalah kesehatan tertentu. MDG akan mencoba menjelaskan beberapa hal yang memungkinkan menjadi salah satu faktor keguguran berulang. 

4 Penyebab dari Keguguran Berulang 

Banyak yang menjadi penyebab dari keguguran berulang, diantaranya adalah kromosom abnormal. Kromosom adalah blok DNA yang berisi instruksi untuk perkembangan bayi Anda. Penyebab paling umum dari keguguran berulang adalah bayi Anda berkembang dengan jumlah kromosom yang salah (terlalu banyak atau tidak cukup).

Penyebab lainnya bisa jadi Gangguan pembekuan darah Beberapa gangguan pembekuan darah, seperti  systemic lupus erythematosus (SLE) dan antiphospholipid syndrome  (APS) dapat menyebabkan keguguran berulang. Gangguan ini menyebabkan ‘darah lengket’, yang mempengaruhi aliran darah ke plasenta dan dapat menyebabkan pembekuan di plasenta. Jika plasenta tidak berfungsi dengan baik, oksigen dan nutrisi tidak dapat mencapai pada bayi.

Keguguran juga bisa berasal dari kelemahan serviks, serviks disebut juga cincin otot di dasar rahim (uterus) yang menghubungkannya ke vagina. Selama persalinan, serviks memendek dan terbuka untuk memungkinkan bayi melewatinya dan lahir. Terkadang serviks memendek dan terbuka sebelum waktunya (pada trimester kedua atau ketiga). Ini disebut kelemahan serviks (kadang-kadang disebut inkompetensi serviks atau insufisiensi serviks) dan dapat menyebabkan keguguran pada trimester kedua (keguguran lanjut).

Faktor keguguran juga dapat disebabkan oleh diabetes. Jika sister menderita diabetes dan tidak dikelola dengan baik, maka akan mungkin memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami keguguran berulang. Diabetes tidak akan meningkatkan peluang untuk mengalami keguguran jika sister dapat mengelolanya dengan cara yang direkomendasikan oleh dokter. 

Cara menghindari Keguguran Berulang 

Sister untuk menghindari kasus ini setidaknya dapat melakukan tes darah. Hasil tes darah digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan, seperti APS dan kelainan kromosom. 

Sementara itu, pada kasus keguguran berulang yang dicurigai disebabkan oleh kelainan genetik, dokter akan menyarankan sister untuk menjalani pemeriksaan DNA atau tes genetik.

Sedangkan pada pencegahan preventif, sister juga dapat mengupayakan konsumsi makanan bernutrisi selama hamil, dengan memasukkan buah dan sayuran ke dalam menu makan sehari-hari. Sister juga dianjurkan untuk selalu menjaga berat badan ideal sebelum dan selama hamil guna mencegah risiko komplikasi kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • https://www.tommys.org/baby-loss-support/miscarriage-information-and-support/recurrent-miscarriage
  • https://www.alodokter.com/ini-penyebab-keguguran-berulang-dan-cara-menghindarinya

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: bayi, hamil, ibu, Keguguran

Bagaimana jika Selama Hamil terjadi Peningkatan pada Hormon Tiroid?

January 24, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Tahukah sister jika selama kehamilan,  tubuh akan mengalami peningkatan metabolisme  tubuh  dan  peningkatan  sekresi hormon-hormon demi memenuhi kebutuhan janin  intrauterin, dan salah  satu  hormon  yang meningkat adalah hormon tiroid. Bagaimana jika hormon ini meningkat berlebih apakah akan berdampak pada kehamilan, MDG akan menjabarkan lebih lanjut. Baca sampai habis ya!

Memahami Hormon Tiroid dan hipotiroid

Selama kehamilan terjadi peningkatan metabolisme tubuh dan peningkatan sekresi   hormon   untuk   memenuhi   kebutuhan   intrauterine  dimana  salah  satu  hormon  tersebut  adalah hormon tiroid. Tentu hormon ini memiliki fungsi, salah satunya adalah untuk perkembangan normal otak dan sistem saraf bayi. Dimana selama trimester pertama, janin bergantung pada suplai hormon tiroid ibu. Kemudian pada sekitar 12 minggu, kelenjar tiroid janin mulai bekerja sendiri, tetapi kelenjar tiroid belum menghasilkan hormon tiroid yang cukup pada 18 hingga 20 minggu kehamilan. 

Sedangkan hipertiroid pada kehamilan didefinisikan sebagai peningkatan kadar hormon tiroid yaitu T4 bebas (fT4) atau T4 dan penurunan kadar thyroid stimulating hormone (TSH), tanpa disertai  peningkatan  serum  autoimunitas  tiroid  (TRab). Hipotiroid hadir sebagai sebuah kelainan yang membuat metabolisme tubuh melambat. 

Berdasarkan    guideline American  Thyroid  Association,  kehamilan  dapat  mempengaruhi hormon tiroid dan disfungsi tiroid yang  tidak  terobati  (hipertiroid  atau  hipotiroid)  hal ini berhubungan   dengan   peningkatan   komplikasi   dan luaran yang buruk.

Fakta Ibu Hamil dan Hormon Tiroid

Sedikitnya   2–3%   wanita   mengalami  gangguan  fungsi  tiroid  dan  sekitar  10%    mengalami    penyakit    tiroid    autoimun    walaupun  eutiroid.  Penelitian  lain  menunjukan  bahwa hipertiroid terjadi pada 2–17 dalam 1000 kelahiran   dan   1–3%   diantaranya   merupakan   kasus    hipertiroid.    Selama    masa    kehamilan,    akan    terjadi    pembesaran    ukuran    kelenjar    tiroid   sebesar   10–40%   dan   sekresi   thyroxine   (T4)    dan    triiodothyronine    (T3)    meningkat    sebesar  50%. 

Sebelum mengetahui itu semua maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, American Thyroid Association (ATA) merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan TSH, FT4 beserta dengan penanda tiroid autoimun seperti anti-TPO pada ibu hamil terutama pada trimester pertama, guna mendeteksi gangguan fungsi tiroid pada ibu sedini mungkin. Terdeteksinya gangguan tiroid yang disertai dengan hasil anti-TPO positif pada ibu hamil  perlu menerima pengobatan salah satunya dengan terapi levothyroxine.

Bagaimana sister yang sedang hamil, apakah akan membayangkan untuk melakukan tes tersebut? iya dan tidaknya tetap membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut ya! hal ini dapat dikonsultasikan melalui dokter sister dan paksu. Untuk informasi menarik lainnya soster dan paksu dapat follow Instagram @menujudagaris.id

Referensi

  • Suparman, E. (2021). Hipertiroid dalam Kehamilan. e-CliniC, 9(2), 479-485.
  • Anggraeni, R., & EM, T. A. (2022). Manajemen Hipertiroid pada Kehamilan. Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia, 5(2), 127-34.
  • https://prodia.co.id/id/artikel-detail/hipotiroid-pada-ibu-hamil-dapat-berakibat-fZ5bvA

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ayah, hormon, ibu, kehamilan, tiroid

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Apa yang Terjadi di Ovarium Hari demi Hari: Memahami Perjalanan Sel Telur Sebelum Ovulasi
  • Sindrom Kallmann: Ketika Gangguan Penciuman Berkaitan dengan Kesuburan Mengenal Sindrom Kallmann
  • Mengapa Cadangan Ovarium Bisa Menurun Lebih Cepat?
  • Bagaimana Peran DNA dalam Infertilitas Perempuan
  • Apakah Operasi Ovarium Bisa Memengaruhi Pertumbuhan Folikel?

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.