• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

depresi

Depresi Bisa Bikin Sulit Hamil? Ini Penjelasan Ilmiahnya, Sister!

April 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pejuang dua garis seringkali dihadapkan dengan banyak tekanan, tidak lain adalah tekanan sosial baik dari lingkup sekitar atau bahkan dari keluarga. Hal ini jika ini berlarut-larut maka akan berdampak pada depresi. MDG akan membahas bagaimana hubungannya depresi dengan kasus infertilitas, baca sampai habis ya!

Depresi dan Hubungannya dengan Infertilitas

Depresi dan masalah sulit hamil ternyata nggak cuma berdampak pada kesehatan fisik atau mental aja, tapi bisa saling berkaitan juga, lho. Kaitanya tidak lain adalah kasus infertilitas. Apa sebenarnya yang menghubungkan keduanya?

Nah, salah satu hal yang menarik untuk dibahas adalah soal lemak darah. Bukan cuma soal kolesterol tinggi ya, tapi lebih spesifik lagi: rasio Non-HDL cholesterol to HDL cholesterol ratio (NHHR), yaitu perbandingan antara kolesterol jahat (non-HDL) dan kolesterol baik (HDL). Bagaimana ini dipahami?

Saat seseorang mengalami stres atau depresi dalam jangka panjang, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti kortisol yang bisa mengganggu keseimbangan lemak dalam darah. Akibatnya, kadar kolesterol jahat bisa naik dan kolesterol baik bisa turun, yang ditunjukkan lewat rasio NHHR. Nah, rasio ini bisa jadi penanda bahwa tubuh sedang dalam kondisi tidak sehat. Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa mempengaruhi hormon, aliran darah ke organ reproduksi, bahkan menyebabkan peradangan, yang semuanya bisa berujung pada gangguan kesuburan.

Bahkan ada sebuah temuan yang melibatkan lebih dari 2.600 perempuan usia 18–45 tahun di Amerika Serikat. Para peneliti menganalisis data dari survei kesehatan nasional (NHANES) dan mendapatkan temuan Perempuan yang mengalami infertilitas cenderung punya tingkat depresi yang lebih tinggi. Mereka juga punya rasio NHHR yang lebih tinggi. Depresi sedang sampai berat bikin risiko infertilitas jadi makin besar. Rasio NHHR ikut berperan memperkuat hubungan antara depresi dan infertilitas.

Artinya, ketika seseorang mengalami depresi, kadar kolesterol “jahat” di tubuh bisa meningkat, rasio NHHR ikut naik, dan ini bisa berdampak ke fungsi reproduksi.

Walaupun NHHR cuma memediasi sebagian kecil hubungan ini (sekitar 6,57%), tapi tetap menunjukkan bahwa kesehatan mental dan metabolisme tubuh bisa saling memengaruhi, termasuk dalam hal kesuburan.

Jadi, Apa yang Bisa sister dan paksu Pelajari?

Kesehatan mental itu penting banget, bagaimana ini ternyata dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk kesuburan. Jangan anggap remeh stres berkepanjangan atau depresi yang nggak ditangani.

Kalau sister dan paksu, juga orang terdekat mengalami gejala depresi, nggak ada salahnya buat cari bantuan. Selain itu, menjaga pola makan, olahraga rutin, dan memantau kesehatan metabolik (seperti kolesterol) juga bisa jadi bagian dari ikhtiar menjaga peluang kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Yang, Q., Tao, J., Xin, X., Zhang, J., & Fan, Z. (2024). Association between depression and infertility risk among American women aged 18–45 years: the mediating effect of the NHHR. Lipids in Health and Disease, 23(1), 178.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: depresi, hamil, infertilitas, pejuang dua garis

Weight-Adjusted Waist Index (WWI), Depresi, dan Infertilitas Sekunder, Apa Hubungannya?

April 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Tahukah kamu, sister? Obesitas dan depresi ternyata bukan cuma berdampak pada kesehatan fisik dan mental saja. Keduanya juga punya peran penting dalam gangguan kesuburan, khususnya pada infertilitas dengan jenis sekunder. MDG akan membahas lebih detail baca sampai habis ya!

WWI, Infertilitas Sekunder dan Depresi 

Infertilitas sekunder sendiri merupakan kondisi saat seorang wanita pernah hamil sebelumnya, tapi kini tidak bisa hamil lagi setelah 12 bulan berhubungan seksual tanpa kontrasepsi. Sedangkan obesitas memang sudah lama diidentifikasi sebagai musuh kesuburan. Tapi bukan cuma soal berat badan atau BMI ya, sister. Yang lebih berbahaya adalah obesitas sentral lemak yang menumpuk di perut.

Nah, untuk mengukurnya, kini ada indikator yang lebih akurat dibanding BMI: Weight-Adjusted Waist Index (WWI). WWI dihitung dari lingkar pinggang dibagi dengan kuadrat berat badan, dan ternyata lebih sensitif dalam mendeteksi lemak perut yang berkaitan langsung dengan gangguan hormon dan ovulasi. Lalu apa hubungannya jika sudah ada lemak dalam perut ditambah dengan depresi?

Kita juga nggak bisa mengabaikan depresi, sister. Studi terbaru menunjukkan bahwa WWI yang tinggi berkorelasi dengan depresi, dan depresi itu sendiri bisa jadi penyebab maupun akibat dari infertilitas.

Bagaimana dampaknya pada Kesuburan?

Sebuah studi menunjukkan bahwa wanita dengan indeks pinggang berbasis berat badan (WWI) yang lebih tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar mengalami infertilitas sekunder. Nggak cuma itu, gejala depresi juga ditemukan berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan infertilitas. Menariknya lagi, depresi ternyata ikut berperan sebagai jembatan yang memperkuat hubungan antara obesitas sentral (yang diukur dengan WWI) dan infertilitas sekunder. Artinya, faktor fisik dan psikologis saling terhubung dan nggak bisa dipisahkan begitu saja dalam isu kesuburan perempuan.

Artinya, meski angka mediasinya kecil, depresi memainkan peran psikologis yang signifikan dalam memperburuk kondisi infertilitas sekunder pada wanita dengan obesitas sentral.

Apa Artinya Ini Buat Pejuang Dua Garis

Dari fakta tersebut menunjukkan bahwa pendekatan terhadap infertilitas sekunder nggak bisa hanya fokus pada fisik seperti berat badan atau hormon saja. Faktor psikologis, terutama depresi, perlu ditangani secara serius. Dengan begitu, intervensi medis dan gaya hidup yang menyasar obesitas bisa berjalan lebih efektif.

WWI menunjukkan kemampuan prediksi yang lebih baik dibanding indikator obesitas lainnya, bahkan dalam kelompok dengan BMI normal. Jadi, wanita dengan berat badan “normal” tapi punya WWI tinggi juga tetap berisiko mengalami infertilitas sekunder.

Infertilitas sekunder ternyata punya hubungan yang kompleks antara tubuh dan pikiran. WWI bisa menjadi alarm awal tentang risiko infertilitas, tapi menjaga kesehatan mental terutama mengelola depresi juga sama pentingnya, sister.

Kalau sister sedang menghadapi masalah ini, atau merasa stuck di tengah prosesnya, yuk jangan ragu untuk mulai evaluasi pola hidup, lingkar pinggang, dan kondisi emosional kamu juga. Karena ternyata, semuanya saling berkaitan. Tentu saja ini bisa banget dengan bantuan profesional seperti dokter ya sister! untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa folllow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Sun, F., Liu, M., Hu, S., Xie, R., Chen, H., Sun, Z., & Bi, H. (2024). Associations of weight-adjusted-waist index and depression with secondary infertility. Frontiers in endocrinology, 15, 1330206.
  • https://www.alodokter.com/obesitas#:~:text=Pengertian%20Obesitas,jantung%2C%20hipertensi%2C%20hingga%20diabetes.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: depresi, infertilitas, Weight-Adjusted Waist Index

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.