• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

embrio

Mengapa Kualitas DNA Sperma Penting untuk Perkembangan Embrio?

March 9, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam proses pembuahan, salah satu hal terpenting adalah memastikan bahwa materi genetik dari sperma sampai ke sel telur dalam kondisi utuh. Materi genetik ini nantinya akan menjadi dasar pembentukan embrio dan perkembangan calon bayi.

Secara alami, sperma memiliki sistem perlindungan yang cukup kuat. Saat proses pembentukan sperma berlangsung, struktur DNA di dalamnya dibuat sangat padat sehingga lebih terlindungi dari kerusakan. Namun dalam beberapa kondisi, DNA sperma tetap bisa mengalami kerusakan, misalnya akibat stres oksidatif, radikal bebas, atau faktor lingkungan.

Masalahnya, berbeda dengan sel tubuh lain, sperma tidak memiliki kemampuan memperbaiki DNA yang rusak. Artinya, jika terjadi kerusakan pada DNA sperma, perbaikan hanya bisa dilakukan oleh sel telur setelah proses pembuahan terjadi. Di sinilah kualitas sel telur menjadi sangat penting.

Peran Sel Telur dalam Memperbaiki DNA Sperma

Sel telur memiliki kemampuan untuk memperbaiki sebagian kerusakan DNA yang berasal dari sperma setelah pembuahan terjadi. Namun kemampuan ini tidak selalu sama pada setiap sel telur.

Sel telur dari perempuan yang lebih muda atau dengan kualitas yang baik biasanya memiliki kemampuan perbaikan yang lebih baik. Sebaliknya, jika kualitas sel telur kurang optimal, kemampuan untuk memperbaiki kerusakan DNA tersebut bisa menjadi terbatas.

Hal ini membuat hubungan antara kualitas sperma dan kualitas sel telur menjadi sangat penting dalam keberhasilan pembuahan.

Apa yang Terjadi pada Program ICSI?

Dalam teknologi reproduksi berbantu seperti ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection), satu sperma dipilih dan langsung disuntikkan ke dalam sel telur. Teknik ini sering digunakan untuk membantu pasangan dengan masalah kesuburan, terutama yang berkaitan dengan faktor sperma.

Namun para peneliti ingin mengetahui satu hal penting: Apakah kerusakan DNA pada sperma masih berpengaruh terhadap perkembangan embrio setelah dilakukan ICSI?

Untuk menjawab pertanyaan ini, dilakukan pengamatan pada dua kondisi berbeda:

  1. Siklus yang menggunakan sperma donor dan sel telur donor dari perempuan muda yang sehat
  2. Siklus yang menggunakan sperma donor tetapi sel telur berasal dari pasien infertil

Dengan cara ini, peneliti dapat melihat apakah kualitas sel telur dapat mempengaruhi dampak kerusakan DNA sperma. Ketika sperma dengan kerusakan DNA digunakan bersama sel telur donor yang sehat dan muda, kerusakan DNA tersebut ternyata berhubungan dengan beberapa hal, seperti:

  • tingkat pembuahan yang lebih rendah
  • jumlah embrio yang berkembang menjadi blastokista lebih sedikit
  • proses pembelahan embrio yang berjalan lebih lambat

Artinya, ketika kualitas sel telur sangat baik, pengaruh dari kerusakan DNA sperma menjadi lebih terlihat. Namun hasil yang berbeda muncul ketika sel telur berasal dari pasien infertil. Pada kondisi ini, hubungan antara kerusakan DNA sperma dengan keberhasilan pembuahan tidak terlalu terlihat.

Apa Artinya bagi Program Kehamilan?

Integritas DNA sperma tetap memiliki peran dalam perkembangan embrio, bahkan pada teknologi reproduksi seperti ICSI. Meskipun ICSI dapat membantu proses pembuahan, kualitas genetik sperma tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kerusakan DNA pada sperma dapat mempengaruhi proses awal perkembangan embrio, termasuk kecepatan pembelahan sel dan kemungkinan embrio berkembang dengan baik. Karena itu, dalam evaluasi kesuburan modern, dokter tidak hanya melihat jumlah atau bentuk sperma saja, tetapi juga mulai mempertimbangkan kualitas DNA sperma sebagai salah satu faktor penting.

Pada akhirnya, keberhasilan kehamilan tetap merupakan hasil dari banyak faktor yang saling berinteraksi mulai dari kualitas sperma, kualitas sel telur, kondisi rahim, hingga faktor genetik embrio itu sendiri.

Referensi

  • Ribas-Maynou, J., Novo, S., Torres, M., Salas-Huetos, A., Rovira, S., Antich, M., & Yeste, M. (2022). Sperm DNA integrity does play a crucial role for embryo development after ICSI, notably when good-quality oocytes from young donors are used. Biological Research, 55(1), 41.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: DNA, embrio, sperma

Ketika Stres Oksidatif Ayah Diam-Diam Membentuk Masa Depan Embrio

January 15, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Selama ini, ketika bicara soal infertilitas, fokus sering tertuju pada hasil spermiogram: jumlah, bentuk, dan pergerakan sperma. Padahal, dibalik angka-angka yang tampak “baik-baik saja”, ada proses biologis yang jauh lebih kompleks dan sering luput dibahas yaitu kondisi molekuler sperma.

Faktanya, infertilitas faktor pria menyumbang hampir setengah dari seluruh kasus infertilitas. Salah satu penyebab utamanya adalah stres oksidatif, kondisi ketika tubuh menghasilkan radikal bebas lebih banyak daripada kemampuan sistem antioksidannya untuk menetralkan.

Radikal Bebas dan Luka Kecil di DNA Sperma

Stres oksidatif pada sperma tidak hanya membuat sperma “lelah” atau kurang bergerak. Ia dapat meninggalkan luka nyata pada DNA sperma. Salah satu penanda paling penting dari luka ini adalah molekul bernama 8-hydroxy-2’-deoxyguanosine (8-OHdG).

8-OHdG bukan sekadar tanda kerusakan DNA. Ia adalah titik temu antara kerusakan genetik dan perubahan epigenetik dua hal yang sangat menentukan keberhasilan pembuahan dan perkembangan embrio.

Ketika kerusakan ini tidak diperbaiki dengan baik, sperma tetap bisa membuahi sel telur, tetapi membawa “pesan biologis” yang sudah berubah.

Epigenetik: Bukan Mengubah Gen, Tapi Cara Gen Bekerja

Di sinilah epigenetik berperan. Epigenetik tidak mengubah urutan gen, melainkan mengatur gen mana yang aktif dan kapan harus aktif. Kerusakan oksidatif seperti 8-OHdG terbukti dapat mengganggu:

  • pola DNA methylation pada sperma
  • modifikasi histon yang mengatur pembukaan DNA
  • muatan small non-coding RNA yang penting untuk embrio awal

Akibatnya, proses reprogramming genetik setelah pembuahan bisa berjalan tidak optimal, meskipun fertilisasi tetap terjadi.

Dampaknya Tidak Berhenti di Pembuahan

Yang sering tidak disadari, efek ini tidak berhenti di laboratorium atau di hari-hari awal kehamilan. Perubahan epigenetik akibat stres oksidatif pada sperma dapat memengaruhi:

  • kualitas perkembangan embrio
  • keberhasilan implantasi
  • bahkan kesehatan anak di kemudian hari

Dalam beberapa kondisi, perubahan ini berpotensi bersifat transgenerational, artinya dampaknya bisa “terbawa” ke generasi berikutnya.

Usia Ayah dan “Perfect Storm” Biologis

Risiko ini semakin meningkat seiring bertambahnya usia, baik pada pihak ayah maupun ibu.
Penuaan alami membuat sistem perbaikan DNA dan kontrol epigenetik menjadi kurang efisien. Ketika usia dan stres oksidatif bertemu, terciptalah apa yang oleh peneliti disebut sebagai “perfect storm” kondisi yang meningkatkan risiko kesalahan genetik dan epigenetik secara bersamaan.

Inilah alasan mengapa usia ayah kini semakin diperhitungkan dalam promil modern.

Apakah Antioksidan Selalu Jadi Jawaban?

Banyak yang langsung berpikir: kalau masalahnya radikal bebas, berarti solusinya antioksidan? Jawabannya: bisa iya, tapi tidak selalu sesederhana itu.

Penelitian menunjukkan bahwa suplementasi antioksidan dapat membantu pria dengan stres oksidatif tinggi. Namun, penggunaan tanpa evaluasi yang tepat justru berisiko menimbulkan kondisi sebaliknya, yang disebut reductive stress, dan ini juga dapat mengganggu keseimbangan epigenetik sperma.

Karena itu, pendekatan personal dan berbasis pemeriksaan tetap menjadi kunci.

Mengapa Ini Penting dalam Promil Modern?

Penelitian ini menegaskan satu hal penting:
sperma tidak hanya membawa DNA, tetapi juga membawa informasi epigenetik yang membentuk masa depan embrio.

Memahami peran stres oksidatif dan epigenetik membantu kita melihat infertilitas pria bukan sebagai “kurang subur atau tidak”, melainkan sebagai spektrum kualitas biologis yang perlu dikelola dengan cermat.

Promil modern bukan lagi soal cepat atau lambat, tetapi soal menyiapkan kualitas terbaik sejak level sel demi kehamilan yang sehat dan generasi yang lebih kuat. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Moazamian, A., Saez, F., Drevet, J. R., Aitken, R. J., & Gharagozloo, P. (2025). Redox-Driven Epigenetic Modifications in Sperm: Unraveling Paternal Influences on Embryo Development and Transgenerational Health. Antioxidants, 14(5), 570.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, Masa Depan, Stres Oksidatif

Ketika Satu Embrio Tidak Selalu Lebih Baik: Meninjau Ulang Praktik Transfer Satu Embrio dalam Program IVF

January 7, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Dalam dua dekade terakhir, dunia fertilitas mengalami banyak perubahan. Salah satu yang paling berpengaruh namun jarang dipertanyakan ulang adalah praktik elective single embryo transfer (eSET), atau transfer satu embrio saja dalam program IVF.

Kebijakan ini pertama kali diperkenalkan pada akhir 1990-an dengan niat baik: mengurangi kehamilan kembar dan risiko komplikasi kehamilan. Namun, seiring waktu, eSET berkembang dari sebuah opsi menjadi standar praktik di banyak klinik IVF di seluruh dunia. Pertanyaannya kini:

Apakah satu embrio benar-benar selalu pilihan terbaik untuk semua pasien? Pahami lebih lanjut yuk sister!

Bagaimana Kata Temuan?

Dalam dunia medis, setiap tindakan seharusnya didasarkan pada keseimbangan antara manfaat dan risiko. Pada eSET justru memperpanjang waktu untuk hamil dan menurunkan peluang kelahiran hidup, terutama pada siklus IVF segar non-donor.

Meski begitu banyak yang beredar, disaat eSET dipromosikan sebagai praktik yang “lebih aman”, data global justru menunjukkan penurunan signifikan angka kehamilan dan kelahiran hidup selama periode adopsi luas kebijakan ini.

Artinya, yang dikorbankan bukan hanya angka statistik, tetapi juga waktu, energi emosional, dan biaya yang harus ditanggung pasien.

IVF dan Hak Pasien untuk Menentukan Pilihan

Untuk itu dalam segala proses, semuanya harus disesuaikan dengan hak pasien untuk menentukan pilihan. Bagi banyak perempuan infertil, terutama yang usianya tidak lagi muda atau telah menjalani banyak siklus IVF gagal, tujuan utama bukan sekadar menghindari kehamilan kembar tetapi hamil secepat mungkin dengan peluang terbaik.

Namun dalam praktiknya, eSET seringkali dipaksakan sebagai “pilihan paling benar”, tanpa ruang diskusi yang seimbang. Preferensi pasien termasuk keinginan memiliki anak kembar kerap dianggap sebagai sesuatu yang keliru, padahal itu adalah bagian dari hak reproduksi dan otonomi tubuh.

Dalam artikel ini bumin mengingatkan bahwa kehamilan kembar tidak bisa serta-merta dicap sebagai “hasil buruk”, tanpa melihat konteks klinis dan nilai yang dianut pasien.

Meski begitu tentu saja eSET tidak harus ditinggalkan sepenuhnya. Pada kelompok pasien tertentu dengan prognosis sangat baik, eSET memang dapat menjadi pilihan yang masuk akal. Yang bermasalah disini adalah menjadikannya aturan umum untuk semua pasien adalah masalah besar.

Setiap perempuan datang ke klinik fertilitas dengan cerita biologis, emosional, dan sosial yang berbeda. Pendekatan “satu protokol untuk semua” tidak hanya mengabaikan kompleksitas tubuh perempuan, tetapi juga berisiko menurunkan peluang keberhasilan yang sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Pada artikel ini bumin mengajak sister dan paksu untuk bersikap lebih kritis terhadap praktik yang sudah telanjur dianggap “standar”. Dalam dunia IVF, lebih sedikit intervensi tidak selalu berarti lebih baik, dan lebih aman tidak selalu berarti lebih efektif.

Transfer satu embrio mungkin tepat untuk sebagian pasien, tetapi transfer lebih dari satu embrio masih dapat dibenarkan pada banyak pasien lainnya, selama dilakukan dengan pertimbangan medis yang matang dan diskusi terbuka dengan pasien.

Pada akhirnya, tujuan utama program hamil bukan hanya mengikuti tren praktik global, tetapi membantu perempuan dan pasangan mencapai kehamilan dengan cara yang paling masuk akal, manusiawi, dan sesuai dengan kondisi mereka. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya

Referensi

  • Gleicher, N., & Orvieto, R. (2022). Transferring more than one embryo simultaneously is justifiable in most patients. Reproductive BioMedicine Online, 44(1), 1-4.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, IVF, transfer

Rahim Kelebihan Cairan Bisa Bikin Embrio Gagal Nempel, Sister!

November 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister, kadang kita terlalu fokus ke telur dan sperma padahal lingkungan tempat embrio nempel itu sama pentingnya. Endometrial cavity fluid (ECF) atau cairan berlebih di rongga rahim adalah gangguan yang bisa menghalangi implantasi, baik pada program IVF maupun kehamilan alami.

Definisi & penyebab ECF

ECF sendiri merupakan akumulasi cairan dalam rongga endometrium. Penyebab umum:

  • Hydrosalpinx (tuba falopi berisi cairan yang bocor ke rahim karena sumbatan/pasca-infeksi).
  • Peradangan/infeksi endometrium (chronic endometritis) → produksi cairan abnormal.
  • Gangguan hormon atau respon endometrium yang abnormal.
  • Adhesi atau kelainan anatomi serviks.

Efek Endometrial Cavity Fluid (ECF) terhadap Hasil IVF/ICSI

Dalam sebuah studi retrospektif besar yang menggunakan metode propensity score matching, peneliti membandingkan hasil program IVF/ICSI antara dua kelompok pasien mereka yang mengalami endometrial cavity fluid (ECF) dan yang tidak.

Hasilnya menunjukkan bahwa keberadaan ECF berhubungan dengan penurunan peluang keberhasilan reproduksi. Angka kehamilan klinis pada kelompok dengan ECF tercatat lebih rendah (57%) dibanding kelompok tanpa ECF (63,5%). Demikian pula, angka kelahiran hidup (live birth rate) menurun dari 55,5% menjadi 48,4%, dan tingkat implantasi embrio juga lebih rendah (40,1% vs 44,4%).

Selain itu, penelitian ini menemukan adanya peningkatan kejadian diabetes gestasional pada kelompok dengan ECF. Meski begitu, tidak terdapat perbedaan signifikan dalam hal usia kehamilan saat persalinan maupun berat lahir bayi antara kedua kelompok tersebut.

Temuan ini menegaskan bahwa keberadaan ECF dapat berdampak negatif terhadap hasil akhir program IVF/ICSI, terutama dalam hal keberhasilan implantasi dan angka kelahiran hidup, meskipun tidak selalu memengaruhi kondisi janin setelah kehamilan berhasil terbentuk.

Meski studi berfokus pada IVF, mekanisme yang merusak implantasi berlaku pada kehamilan alami juga. Mekanisme yang mungkin Pengenceran sinyal molekuler: cairan dapat mengganggu konsentrasi sitokin dan faktor adhesi yang diperlukan embrio-endometrium cross-talk. Efek mekanis: embrio dapat “terapung” atau terdorong keluar sebelum melekat. Lingkungan inflamasi: ECF yang berkaitan dengan infeksi/peradangan menciptakan milieu yang tidak mendukung implantasi.

Evaluasi & manajemen

  • Diagnostik: USG transvaginal dapat mendeteksi ECF; HSG/hysteroscopy dan kultur endometrium diperlukan untuk mengevaluasi hydrosalpinx atau chronic endometritis.
  • Intervensi medis/bedah: untuk hydrosalpinx sering direkomendasikan salpingectomy (pengangkatan tuba) sebelum embryo transfer; untuk chronic endometritis terapi antibiotik khusus dapat meningkatkan outcome implantasi.
  • Pada kehamilan alami: fokus pada diagnosis dan eliminasi sumber peradangan/infeksi; pengaturan hormonal bila perlu.

Rekomendasi praktis untuk promil alami

  • Jika mengalami kegagalan implantasi berulang atau kehamilan berulang yang gagal, minta pemeriksaan USG untuk melihat adanya ECF.
  • Cegah/atasi infeksi genital bawah: jaga kebersihan, hindari praktik yang meningkatkan risiko infeksi, konsultasi saat ada keputihan abnormal.
  • Diet anti-inflamasi (buah, sayur, omega-3), manajemen stres, dan tidur cukup untuk membantu menurunkan peradangan sistemik.
  • Diskusikan opsi medis/bedah dengan dokter jika ECF persisten (terutama jika ada riwayat tuba bermasalah).

Lingkungan rahim yang “siap tanam” sama pentingnya dengan kualitas embrio. ECF adalah faktor tersembunyi yang bisa menjelaskan kegagalan implantasi baik pada IVF maupun kehamilan alami. Diagnosis tepat dan penatalaksanaan yang sesuai meningkatkan peluang kehamilan yang bertahan.

Referensi utama

  • Zhang W-X., dkk. (2021). Endometrial cavity fluid is associated with deleterious pregnancy outcomes in patients undergoing IVF/ICSI: a retrospective cohort study. Ann Transl Med. 2021;9(4):309.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Cairan, embrio, rahim

Peran Telur vs Sperma dalam Perkembangan Embrio – Apa Kata Dokter?

July 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Channel Take Over bareng dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER

Pertanyaan dari PDG:

Dok, apakah benar day 1–3 itu hanya peran telur, dan day 4–5 hanya peran sperma?

Lalu, apakah ada perbedaan besar antara embrio yang berkembang menjadi blastosis di day 5 dan day 6?

Jawaban dari dr. Maitra:

Tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak 100% benar.

Tahapan perkembangan embrio hingga fase 8 sel (sekitar day 3) memang masih sangat bergantung pada “energi” atau faktor dari sel telur. Oleh karena itu, kondisi embrio pada hari ke-3 bisa menjadi gambaran kualitas telur.

Setelah itu, memasuki fase Embryonic Genome Activation (EGA)—yang pada manusia terjadi setelah hari ke-3—embrio mulai mandiri. Artinya, ia mulai menggunakan materi genetiknya sendiri dan mengambil nutrisi dari lingkungan sekitarnya.

Nah, disinilah peran sperma mulai lebih tampak. Jika embrio day 3 terlihat bagus, tapi di day 5 kualitasnya menurun (misalnya tidak berkembang menjadi blastokista yang optimal), maka besar kemungkinan penyebabnya berasal dari faktor sperma, bukan telur.

Jadi, blastokista yang terbentuk di day 5 atau day 6 sama-sama bisa digunakan, tapi perbedaan waktu ini juga bisa menjadi indikator tambahan dalam menilai kualitas sperma dan embrio secara keseluruhan.

Dijawab Oleh: dr. Maitra Djiang Wen, ApAnd-KFER

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: analisa sperma, embrio, sperma, Telur

Pahami Personalisasi Transfer Embrio untuk Hasil Kehamilan yang Lebih Baik

May 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Repeated Implantation Failure (RIF) atau disebut kegagalan berulang turut menjadi masalah yang sering dihadapi dalam dunia fertilisasi in-vitro (IVF). Meskipun IVF telah membantu banyak pasangan untuk memiliki anak, kegagalan implantasi tetap menjadi tantangan besar, terutama bagi mereka yang mengalami kegagalan berulang. 

Jadi kira-kira ada tidak ya? pendekatan untuk bisa membantu masalah ini? MDG akan menjelaskan bagaimana temuan yaitu melalui personalisasi transfer embrio. Baca lebih lanjut ya sister!

Mengapa Personalisasi Itu Penting?

Salah satu metode terbaru yang terbukti efektif dalam mengatasi kegagalan implantasi adalah penggunaan Endometrial Receptivity Array (ERA). ERA adalah teknologi yang digunakan untuk menilai kondisi endometrium (lapisan dalam rahim) dan menentukan kapan waktu terbaik untuk melakukan transfer embrio. Dengan mempersonalisasi jadwal transfer embrio berdasarkan hasil dari ERA, kemungkinan untuk berhasil hamil menjadi lebih tinggi.

Bagaimana ini dapat dipahami? jadi setiap wanita memiliki “jendela implantasi” yang berbeda-beda, yaitu waktu ketika rahim paling siap untuk menerima embrio yang telah dibuahi. Jika embrio ditransfer terlalu awal atau terlambat, meskipun kualitas embrionya baik, implantasi bisa gagal. Dengan menggunakan ERA, dokter dapat mengetahui kapan endometrium berada dalam kondisi terbaik untuk menerima embrio, sehingga waktu transfer embrio bisa disesuaikan secara tepat.

Selain itu, teknologi pengujian genetik pra-implantasi (PGT-A) juga dapat digunakan untuk memastikan bahwa embrio yang dipilih untuk transfer bebas dari gangguan genetik. Ini sangat penting karena embrio dengan kromosom yang tidak lengkap atau abnormal dapat menyebabkan kegagalan implantasi atau keguguran.

Hasil yang Lebih Baik dengan Pengujian Genetik

Dengan menggabungkan ERA dan PGT-A, banyak pasangan yang sebelumnya mengalami kegagalan implantasi berulang kini mendapatkan kesempatan lebih besar untuk berhasil hamil. Pengujian genetik membantu memilih embrio yang sehat, sementara ERA memastikan embrio tersebut ditransfer pada waktu yang tepat.

Bahkan temuan dari peneliti menunjukkan bahwa pasien yang menjalani transfer embrio yang dipersonalisasi setelah tes ERA, serta pengujian genetik untuk memastikan kualitas embrio, memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional.

Melalui pendekatan ini, pasangan yang menjalani IVF memiliki peluang lebih besar untuk hamil dan melahirkan anak yang sehat. Dengan menyesuaikan transfer embrio berdasarkan data yang diperoleh melalui ERA dan memastikan kualitas embrio dengan PGT-A, prosedur IVF menjadi lebih terarah dan hasilnya lebih dapat diprediksi.

Bagi pasangan yang telah lama berjuang untuk memiliki anak, personalisasi transfer embrio ini memberi harapan baru. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam dunia reproduksi berbantu, yang tidak hanya mengoptimalkan peluang kehamilan tetapi juga mengurangi risiko keguguran akibat masalah genetik atau waktu transfer yang tidak tepat. Meski begitu sister dan paksu jangan gegabah menggunakan prosedur ini ya! karena harus disesuaikan dengan saran dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Amin Sr, J., Patel, R., JayeshAmin, G., Gomedhikam, J., Surakala, S., Kota, M., & Gomedhikam, J. (2022). Personalized embryo transfer outcomes in recurrent implantation failure patients following endometrial receptivity array with pre-implantation genetic testing. Cureus, 14(6).

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, kehamilan, transfer

  • Page 1
  • Page 2
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.