• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

transfer

Ketika Satu Embrio Tidak Selalu Lebih Baik: Meninjau Ulang Praktik Transfer Satu Embrio dalam Program IVF

January 7, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Dalam dua dekade terakhir, dunia fertilitas mengalami banyak perubahan. Salah satu yang paling berpengaruh namun jarang dipertanyakan ulang adalah praktik elective single embryo transfer (eSET), atau transfer satu embrio saja dalam program IVF.

Kebijakan ini pertama kali diperkenalkan pada akhir 1990-an dengan niat baik: mengurangi kehamilan kembar dan risiko komplikasi kehamilan. Namun, seiring waktu, eSET berkembang dari sebuah opsi menjadi standar praktik di banyak klinik IVF di seluruh dunia. Pertanyaannya kini:

Apakah satu embrio benar-benar selalu pilihan terbaik untuk semua pasien? Pahami lebih lanjut yuk sister!

Bagaimana Kata Temuan?

Dalam dunia medis, setiap tindakan seharusnya didasarkan pada keseimbangan antara manfaat dan risiko. Pada eSET justru memperpanjang waktu untuk hamil dan menurunkan peluang kelahiran hidup, terutama pada siklus IVF segar non-donor.

Meski begitu banyak yang beredar, disaat eSET dipromosikan sebagai praktik yang “lebih aman”, data global justru menunjukkan penurunan signifikan angka kehamilan dan kelahiran hidup selama periode adopsi luas kebijakan ini.

Artinya, yang dikorbankan bukan hanya angka statistik, tetapi juga waktu, energi emosional, dan biaya yang harus ditanggung pasien.

IVF dan Hak Pasien untuk Menentukan Pilihan

Untuk itu dalam segala proses, semuanya harus disesuaikan dengan hak pasien untuk menentukan pilihan. Bagi banyak perempuan infertil, terutama yang usianya tidak lagi muda atau telah menjalani banyak siklus IVF gagal, tujuan utama bukan sekadar menghindari kehamilan kembar tetapi hamil secepat mungkin dengan peluang terbaik.

Namun dalam praktiknya, eSET seringkali dipaksakan sebagai “pilihan paling benar”, tanpa ruang diskusi yang seimbang. Preferensi pasien termasuk keinginan memiliki anak kembar kerap dianggap sebagai sesuatu yang keliru, padahal itu adalah bagian dari hak reproduksi dan otonomi tubuh.

Dalam artikel ini bumin mengingatkan bahwa kehamilan kembar tidak bisa serta-merta dicap sebagai “hasil buruk”, tanpa melihat konteks klinis dan nilai yang dianut pasien.

Meski begitu tentu saja eSET tidak harus ditinggalkan sepenuhnya. Pada kelompok pasien tertentu dengan prognosis sangat baik, eSET memang dapat menjadi pilihan yang masuk akal. Yang bermasalah disini adalah menjadikannya aturan umum untuk semua pasien adalah masalah besar.

Setiap perempuan datang ke klinik fertilitas dengan cerita biologis, emosional, dan sosial yang berbeda. Pendekatan “satu protokol untuk semua” tidak hanya mengabaikan kompleksitas tubuh perempuan, tetapi juga berisiko menurunkan peluang keberhasilan yang sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Pada artikel ini bumin mengajak sister dan paksu untuk bersikap lebih kritis terhadap praktik yang sudah telanjur dianggap “standar”. Dalam dunia IVF, lebih sedikit intervensi tidak selalu berarti lebih baik, dan lebih aman tidak selalu berarti lebih efektif.

Transfer satu embrio mungkin tepat untuk sebagian pasien, tetapi transfer lebih dari satu embrio masih dapat dibenarkan pada banyak pasien lainnya, selama dilakukan dengan pertimbangan medis yang matang dan diskusi terbuka dengan pasien.

Pada akhirnya, tujuan utama program hamil bukan hanya mengikuti tren praktik global, tetapi membantu perempuan dan pasangan mencapai kehamilan dengan cara yang paling masuk akal, manusiawi, dan sesuai dengan kondisi mereka. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya

Referensi

  • Gleicher, N., & Orvieto, R. (2022). Transferring more than one embryo simultaneously is justifiable in most patients. Reproductive BioMedicine Online, 44(1), 1-4.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, IVF, transfer

Pahami Personalisasi Transfer Embrio untuk Hasil Kehamilan yang Lebih Baik

May 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Repeated Implantation Failure (RIF) atau disebut kegagalan berulang turut menjadi masalah yang sering dihadapi dalam dunia fertilisasi in-vitro (IVF). Meskipun IVF telah membantu banyak pasangan untuk memiliki anak, kegagalan implantasi tetap menjadi tantangan besar, terutama bagi mereka yang mengalami kegagalan berulang. 

Jadi kira-kira ada tidak ya? pendekatan untuk bisa membantu masalah ini? MDG akan menjelaskan bagaimana temuan yaitu melalui personalisasi transfer embrio. Baca lebih lanjut ya sister!

Mengapa Personalisasi Itu Penting?

Salah satu metode terbaru yang terbukti efektif dalam mengatasi kegagalan implantasi adalah penggunaan Endometrial Receptivity Array (ERA). ERA adalah teknologi yang digunakan untuk menilai kondisi endometrium (lapisan dalam rahim) dan menentukan kapan waktu terbaik untuk melakukan transfer embrio. Dengan mempersonalisasi jadwal transfer embrio berdasarkan hasil dari ERA, kemungkinan untuk berhasil hamil menjadi lebih tinggi.

Bagaimana ini dapat dipahami? jadi setiap wanita memiliki “jendela implantasi” yang berbeda-beda, yaitu waktu ketika rahim paling siap untuk menerima embrio yang telah dibuahi. Jika embrio ditransfer terlalu awal atau terlambat, meskipun kualitas embrionya baik, implantasi bisa gagal. Dengan menggunakan ERA, dokter dapat mengetahui kapan endometrium berada dalam kondisi terbaik untuk menerima embrio, sehingga waktu transfer embrio bisa disesuaikan secara tepat.

Selain itu, teknologi pengujian genetik pra-implantasi (PGT-A) juga dapat digunakan untuk memastikan bahwa embrio yang dipilih untuk transfer bebas dari gangguan genetik. Ini sangat penting karena embrio dengan kromosom yang tidak lengkap atau abnormal dapat menyebabkan kegagalan implantasi atau keguguran.

Hasil yang Lebih Baik dengan Pengujian Genetik

Dengan menggabungkan ERA dan PGT-A, banyak pasangan yang sebelumnya mengalami kegagalan implantasi berulang kini mendapatkan kesempatan lebih besar untuk berhasil hamil. Pengujian genetik membantu memilih embrio yang sehat, sementara ERA memastikan embrio tersebut ditransfer pada waktu yang tepat.

Bahkan temuan dari peneliti menunjukkan bahwa pasien yang menjalani transfer embrio yang dipersonalisasi setelah tes ERA, serta pengujian genetik untuk memastikan kualitas embrio, memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional.

Melalui pendekatan ini, pasangan yang menjalani IVF memiliki peluang lebih besar untuk hamil dan melahirkan anak yang sehat. Dengan menyesuaikan transfer embrio berdasarkan data yang diperoleh melalui ERA dan memastikan kualitas embrio dengan PGT-A, prosedur IVF menjadi lebih terarah dan hasilnya lebih dapat diprediksi.

Bagi pasangan yang telah lama berjuang untuk memiliki anak, personalisasi transfer embrio ini memberi harapan baru. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam dunia reproduksi berbantu, yang tidak hanya mengoptimalkan peluang kehamilan tetapi juga mengurangi risiko keguguran akibat masalah genetik atau waktu transfer yang tidak tepat. Meski begitu sister dan paksu jangan gegabah menggunakan prosedur ini ya! karena harus disesuaikan dengan saran dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Amin Sr, J., Patel, R., JayeshAmin, G., Gomedhikam, J., Surakala, S., Kota, M., & Gomedhikam, J. (2022). Personalized embryo transfer outcomes in recurrent implantation failure patients following endometrial receptivity array with pre-implantation genetic testing. Cureus, 14(6).

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, kehamilan, transfer

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.